Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha
TRIBUNNEWS.COM – Di tengah riuh Pasar Gede Hardjonagoro Solo, ada satu sudut yang tak pernah sepi dari antrean.
Orang-orang berjejer rapi, wajah mereka berbinar menanti semangkuk kesegaran yang sudah melegenda bernama Es Dawet Bu Dermi.
Pasar Gede sendiri adalah salah satu ikon Solo, sebuah pasar tradisional yang tidak hanya menjadi pusat jual beli kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menyimpan jejak sejarah yang kuat.
Bangunannya yang masih mempertahankan gaya kolonial dengan pilar-pilar kokoh dan atap tinggi menjadi saksi bisu perjalanan waktu.
Aroma rempah, wangi bunga dagangan, dan sahut menyahut suara pedagang berpadu menjadi harmoni khas pasar tradisional.
Hiruk-pikuk pembeli, suara celoteh ibu-ibu yang menawar harga, serta derai tawa anak-anak kecil yang menemani orang tuanya, menjadikan suasana pasar ini begitu hidup.
Dari suasana yang tergambar, lapak Es Dawet Bu Dermi menjadi oasis bagi para pengunjung.
Saat matahari mulai naik dan panas mulai menyengat, banyak orang yang memilih berhenti sejenak untuk menyeruput kesegaran es dawet yang sudah dikenal turun-temurun ini.
Antrean pelanggan mengular, menunggu giliran untuk menikmati semangkuk es dawet yang konon memiliki cita rasa yang tak tergantikan.
Bagi warga Solo, es dawet Bu Dermi bukan sekadar kuliner, tapi nostalgia. Seperti yang dirasakan Evi Nuryanti (60), yang sejak kecil hingga kini tetap setia menikmati kelezatannya.
“Sejak kecil saya sudah terbiasa datang ke sini. Rasa es dawetnya tak pernah berubah, tetap otentik seperti dulu. Bahkan sekarang ada tambahan durian, makin nikmat!” ujar Evi ketika berbincang pada Sabtu (29/3/2025).
Tak hanya Evi, banyak pelanggan yang datang dari berbagai kota, hanya untuk merasakan kembali manisnya cendol hijau yang berpadu dengan gurihnya jenang sumsum, serta kesegaran selasih dan ketan hitam.
Kini, dengan tambahan tape ketan dan durian, es dawet Bu Dermi semakin menggoda selera.
Adapun setiap harinya, tak kurang dari 250 mangkuk es dawet terjual.
Dengan harga Rp 12.000 per porsi, serta tambahan Rp 8.000 jika ingin menambahkan durian, siapa pun bisa menikmati segarnya es dawet legendaris ini.
Resep Warisan yang Tetap Dijaga
Seporsi Es Dawet Bu Dermi di Pasar Gede Solo (Tribunnews.com/Chrysnha)
Ruth Tulus Subekti, karib disapa Uti, generasi ketiga penerus resep es dawet Bu Dermi, tak hanya menjaga resep asli sang nenek, tetapi juga berinovasi.
“Dulu isinya hanya cendol, selasih, ketan hitam, dan jenang sumsum. Sekarang kami tambahkan tape ketan dan durian kalau sedang musim,” ungkapnya.
Inovasi ini terbukti sukses. Tak hanya pelanggan lama yang kembali, anak-anak muda pun mulai jatuh hati pada kelezatan es dawet Bu Dermi.
Es dawet ini bahkan pernah menjadi langganan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau Jokowi saat masih menjabat Wali Kota Solo.
Meski kini ia lebih jarang datang langsung, tetap saja, ada kalanya es dawet Bu Dermi dibawa ke istana melalui ajudan presiden.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin maju, Es Dawet Bu Dermi juga mengikuti arus modernisasi dengan menyediakan metode pembayaran digital melalui QRIS.
Pelanggan tak perlu lagi repot membawa uang tunai, cukup dengan satu kali pindai, pembayaran langsung terselesaikan.
Penggunaan QRIS ini semakin diminati oleh pelanggan, terutama generasi muda dan wisatawan dari luar kota.
Menurut Uti, sistem pembayaran digital ini memberikan kemudahan bagi semua pihak, baik pembeli maupun penjual.
“Awalnya kami ragu apakah pelanggan mau beralih ke pembayaran digital. Tapi ternyata banyak yang justru lebih nyaman pakai QRIS,” tuturnya.
Tak hanya memberikan kemudahan bagi pelanggan, sistem QRIS juga membantu pedagang dalam mengelola keuangan usaha.
“Dengan QRIS, semua transaksi tercatat dengan rapi. Kami jadi lebih mudah menghitung pemasukan harian tanpa harus repot menghitung uang tunai,” tambahnya.
Banyak pelanggan yang mengapresiasi inovasi ini.
Salah satunya adalah Dimas Brian Setio (27), seorang wisatawan dari Jakarta yang berkunjung ke Solo.
“Saya jarang bawa uang tunai kalau bepergian. Pas tahu di sini bisa bayar pakai QRIS, rasanya lebih praktis dan cepat,” ujarnya.
Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan transaksi digital, jumlah pelanggan yang menggunakan QRIS untuk pembayaran semakin bertambah.
Hampir setengah dari total transaksi harian es dawet Bu Dermi dilakukan secara cashless.
Ini menjadi bukti bahwa kuliner tradisional pun bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Tantangan Berdigital
Keberadaan becak di depan Pasar Gede Hardjonagoro atau Pasar Gede Solo. (Ist)
Sementara itu Founder Creative Space Solo, Joko Purwono menyoroti perkembangan digital di bidang UMKM kota Solo.
Menurutnya, kesadaran para pedagang juga pelaku UMKM semakin hari semakin meningkat.
Namun, ia menggaris bawahi tindak lanjut perbankan dan dinas terkait agar melakukan pendampingan kepada pedagang terkait pemberlakuan transaksi digital.
“Di shelter, di pasar-pasar memang sudah banyak pakai QRIS, tapi masih ditemukan yang belum bahkan enggan pakai QRIS. Kan ada juga (pedagang) yang sepuh lalu sudah lanjut usia tak tahu caranya, jadi kita harap ada pendampingan lanjut,” pesannya diwawancarai pada Selasa (4/3/2025).
Kepala Dinas Perdagangan Kota Solo, Agus Santoso dihubungi terpisah mengaku telah berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menyukseskan digitalisasi UMKM dan pedagang.
Begitu juga bekerja sama dengan pengelola pasar dan perbankan.
Dirinya mengatakan, pendampingan terhadap pedagang untuk mengantisipasi halangan digitalisasi sangat penting dilakukan.
Hal ini untuk menyelaraskan slogan Go Digital di bidang perdagangan dan usaha di Solo.
“Saya tentu sudah menjalin komunikasi juga dengan pengelola masing-masing pasar untuk mengawasi dan mendampingi pedagang yang mungkin kesulitan untuk menerapkan digitalisasi seperti soal transaksi QRIS hingga e-Retribusi,” terangnya.
” Jadi bersama juga dengan perbankan tak hanya sosialisasi dan pendaftaran, pendampingan juga perlu karena banyak yang pedagang sepuh,” imbuh Agus.
Terkait dengan digitalisasi, Dinas Perdagangan Kota Solo juga sudah menerapkan penarikan pajak dengan e-Retribusi.
Tak hanya dengan satu bank pelat merah, e-Retribusi diterapkan juga dengan kolaborasi beberapa bank BUMN di pasar-pasar di Kota Bengawan.
“Ini berkat kolaborasi dan sinergi Pemkot Surakarta, perbankan dan masyarakat. Sudah melek digital dan mau untuk maju mengikuti perkembangan teknologi,” urai dia.
Sebagai upaya pengembangan ekonomi berbasis digital, perbankan kini mendorong penggunaan transaksi QRIS.
Transaksi ini mengalami pertumbuhan pesat, yaitu mencapai 209,61 persen (yoy), dengan jumlah pengguna mencapai 53,3 juta dan jumlah merchant 34,23 juta.
Penerapan Merchant Discount Rate (MDR) QRIS 0 persen untuk transaksi sampai dengan Rp500.000 pada merchant Usaha Mikro (UMI), yang berlaku efektif mulai 1 Desember 2024 guna menopang daya beli masyarakat kelas menengah bawah.
BRI pun berkomitmen penuh dalam mendukung pengembangan ekonomi berbasis digital, khususnya bagi para pelaku usaha mikro.
Dengan memberikan MDR 0 persen atau bebas biaya MDR, BRI tidak hanya meringankan beban operasional merchant, tetapi juga mendorong inklusi keuangan yang lebih luas.
Program ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing pelaku usaha mikro di era digital, sekaligus memperluas adopsi QRIS sebagai solusi pembayaran nontunai yang efisien.
(*)