Regita, Guru di Pelosok Jombang, Bertahan Hidup dengan Les Murah dan Jajanan Pasar
Tim Redaksi
JOMBANG, KOMPAS.com
– Suara motor Honda Supra tua memecah kesunyian pagi. Jarum jam baru menunjukkan pukul 05.00 WIB, namun Regita telah bersiap memulai hari.
Motor bekas sang ayah, menjadi tunggangan yang suaranya bersahutan dengan kokok ayam jantan dari pekarangan tetangga.
Regita Wahyuning Tyas, demikian nama lengkap perempuan berkacamata yang amat dikenal oleh siswa SDN 3 Pojokklitih, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Sejak tiga tahun terakhir, ia mengabdikan diri sebagai guru honorer di sekolah dasar yang berada di pelosok desa.
Baru kini -di tahun ke empat, ia tergabung dalam Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu di sekolah yang sama.
“Saya mulai mengajar di SDN 3 Pojokklitih sejak lulus kuliah tahun 2022. Alhamdulillah sampai sekarang masih bertahan dan sudah diangkat menjadi PPPK paruh waktu,” ujar Regita, kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.
Pilihan itu bukan tanpa pertimbangan. Regita memahami betul medan yang akan dihadapi, mulai dari jarak, akses jalan, hingga kesejahteraan yang serba terbatas.
Namun dia mengaku, keinginan untuk ikut menghadirkan pemerataan pendidikan, khususnya di wilayah pedalaman, membuatnya tetap bertahan.
Saat menjadi guru honorer Regita menerima gaji Rp 300 ribu per bulan,
plus
insentif sebesar Rp 500 ribu yang dicairkan setiap tiga bulan sekali.
Namun, ketika diangkat sebagai PPPK paruh waktu sejak Oktober 2025 lalu, Regita belum menerima honor yang dijanjikan akan diberikan per triwulan.
Jika dihitung secara cermat, penghasilan tersebut tentu jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama biaya operasional menuju sekolah.
Jarak dari rumah menuju sekolah hampir 15 kilometer. Setiap hari, Regita menempuh sekitar 30 kilometer pulang-pergi.
Dalam sehari, motor tuanya menghabiskan sekitar satu liter bahan bakar, pengeluaran yang terasa signifikan jika dibandingkan dengan penghasilannya.
Tantangan tak berhenti pada jarak. Saat musim hujan tiba, akses menuju sekolah kerap terputus oleh aliran sungai yang meluap.
Dalam kondisi tersebut, Regita harus memutar lebih jauh melalui wilayah Kabupaten Nganjuk agar tetap bisa sampai ke sekolah.
Perjalanan panjang itu membuatnya terbiasa berangkat sebelum fajar datang. Lebih dari satu jam ia habiskan di perjalanan, rutinitas yang dijalani dengan kesabaran sejak awal pengabdiannya.
Regita tinggal serumah bersama keluarganya. Sang ayah yang telah pensiun dari dinas di TNI Angkatan Darat, dan ibunya yang berprofesi sebagai guru taman kanak-kanak memiliki penghasilan yang juga terbatas.
Sebagai anak perempuan pertama, Regita turut membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk biaya pendidikan adiknya.
Kondisi tersebut membuat penghasilannya sebagai guru PPPK paruh waktu kian terasa tak mencukupi. Namun Regita memilih mencari siasat, alih-alih mengeluh.
Lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu kemudian memanfaatkan kemampuan dan ruang yang ada untuk menambah pemasukan, sekecil apa pun hasilnya.
Salah satunya dengan membuka les rumahan. Bukan les privat berbiaya tinggi, melainkan bimbingan belajar sederhana yang disesuaikan dengan kemampuan ekonomi warga desa.
Ruang tamu rumahnya disulap menjadi ruang belajar sementara. Meja seadanya, papan tulis kecil, dan buku-buku pelajaran menjadi penanda kesungguhan Regita berbagi pengetahuan.
“Pulang mengajar di sekolah biasanya sekitar pukul 14.00 WIB. Setelah itu lanjut mengajar les, itung-itung untuk tambahan. Hasilnya tidak banyak, tapi cukup membantu,” kata dia.
Tarif yang dipasang pun sangat terjangkau, Rp 2.000 untuk satu kali pertemuan. Dalam sehari, Regita hanya mampu menampung sekitar 15 siswa. Alasannya, agar proses belajar tetap berjalan efektif.
Jika seluruh murid hadir, ia bisa mengantongi sekitar Rp 30.000 per hari. Nominal yang mungkin terkesan kecil, namun bagi Regita, itu adalah bagian dari upaya menjaga keberlangsungan hidup.
“Berapa pun yang saya terima, yang penting halal. Bisa membantu kebutuhan dan bermanfaat untuk pendidikan anak-anak,” ujar dia.
Upaya Regita tak berhenti di situ. Saat malam tiba, di sela-sela tumpukan tugas sebagai guru sekaligus wali kelas, ia masih mencuri-curi waktu di dapur.
Mengolah aneka jajanan sederhana, mulai dari donat, pentol bakar, hingga martabak manis dan asin. Keesokan paginya, jajanan itu ia titipkan di kantin sekolah.
“Malam hari saya siapkan adonan. Besok paginya tinggal digoreng atau dibakar, lalu saya bawa ke sekolah,” tutur dia.
Di sekolah tempatnya mengajar, jumlah murid yang ia dampingi hanya dua orang. Namun kondisi tersebut tak menyurutkan langkahnya.
Bagi Regita, keberadaan satu atau dua murid tetap berarti, dan hak mereka atas pendidikan harus tetap terpenuhi.
Ke depan, Regita berharap akses menuju sekolah dapat diperbaiki agar perjalanan guru dan siswa tidak lagi terhambat, terutama saat musim hujan.
Ia juga berharap kesejahteraan guru honorer maupun PPPK bisa lebih diperhatikan. Agar pengabdian di wilayah terpencil tak selalu dibayar dengan pengorbanan pribadi, namun juga dengan upah yang layak.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Regita, Guru di Pelosok Jombang, Bertahan Hidup dengan Les Murah dan Jajanan Pasar Surabaya 8 Januari 2026
/data/photo/2026/01/08/695f44fdcc860.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)