Lampung, Beritasatu.com – Ratusan pelajar di Desa Kali Pasir, Kecamatan Way Bungur, Kabupaten Lampung Timur, harus menyeberangi Sungai Way Bungur menggunakan perahu kayu setiap hari untuk menuju sekolah. Kondisi ini telah berlangsung puluhan tahun akibat tidak adanya jembatan penghubung antar desa, sementara proyek pembangunan jembatan yang dimulai pada 2021 mangkrak dan terbengkalai sejak empat tahun terakhir.
Dalam rekaman video yang viral di media sosial, terlihat para pelajar yang sebelumnya mengendarai sepeda motor harus turun di tepi sungai untuk menaiki perahu kayu yang mengangkut mereka menyeberangi sungai. Meski harus menghadapi risiko dengan arus sungai yang cukup deras dan kedalaman yang dalam, para pelajar terpaksa menjalani aktivitas ini setiap hari demi mencapai sekolah mereka.
Para pelajar SMA di Desa Kali Pasir harus berebut untuk menaiki perahu kecil setiap pagi agar bisa tepat waktu sampai di SMAN 1 Way Bungur yang terletak di Desa Tanjung Tirto. Tidak jarang mereka terlambat karena harus menunggu giliran perahu yang lebih dulu mengangkut penumpang lainnya.
Kondisi ini sudah berlangsung puluhan tahun akibat tidak adanya jembatan penghubung, sementara proyek pembangunan jembatan di lokasi ini mangkrak sejak empat tahun terakhir. Hanya tiang penyangga dan bagian awal pembangunan yang terlihat di lokasi proyek tersebut. Meskipun pelajar tidak dikenakan biaya untuk menyeberang, masyarakat umum dikenakan biaya sebesar Rp 5.000 sekali perjalanan.
Praja, seorang pelajar SMA dari Desa Kali Pasir, mengatakan meskipun sering terlambat sampai di sekolah, pihak sekolah memberikan toleransi agar ia tetap bisa mengikuti pelajaran.
“Kondisi ini sudah lama, hampir setiap hari saya telat, tapi sekolah memberikan toleransi,” ujar Praja.
Pelajar lainnya berharap proyek pembangunan jembatan yang terhenti dapat segera dilanjutkan.
“Harapannya jembatannya cepat selesai agar akses ke sekolah lebih mudah,” ucap Praja.
Wakil Kepala SMAN 1 Way Bungur, Ahmad Saiful, mengatakan pihak sekolah memberikan dispensasi kepada siswa yang terlambat akibat kesulitan akses menuju sekolah.
“Kebijakan kami adalah memberikan dispensasi kepada siswa yang terlambat karena jaraknya yang cukup jauh dan sulit,” jelas Ahmad Saiful.
Untuk mengantisipasi keterlambatan saat ujian, pihak sekolah menyarankan siswa untuk menginap di rumah kerabat atau teman yang lokasinya lebih dekat dengan sekolah.
Proyek pembangunan jembatan penghubung Desa Kali Pasir dan Desa Tanjung Tirto dimulai pada 2021, namun terkendala banjir dan belum selesai hingga kini. Ratusan pelajar dan masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Lampung Timur segera menyelesaikan proyek tersebut agar akses antar desa menjadi lebih mudah dan perekonomian masyarakat semakin berkembang.