provinsi: Sumatera Utara

  • 5 Berita Terpopuler: Sherina Munaf Hilangkan Jejak Suami di Medsos hingga Penyebab Kebakaran Glodok Plaza

    5 Berita Terpopuler: Sherina Munaf Hilangkan Jejak Suami di Medsos hingga Penyebab Kebakaran Glodok Plaza

    Jakarta, Beritasatu.com – Tak hanya menghapus foto kebersamaan di akun Instagram pribadinya, Sherina Munaf juga menghapus jejak sang suami Baskara Mahendra Putra di media social (medsos). Semua video di channel YouTube @SherinaandBaskara juga dihapus.

    Selain itu, Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Mabes Polri dikerahkan untuk menyelidiki penyebab pasti kebakaran Glodok Plaza. Dua berita di atas merupakan lima berita terpopuler di Beritasatu.com, Minggu (19/1/2025).

    1. Sherina Munaf Hilangkan Jejak Suami di Medsos: Foto Instagram dan Video YouTube Dihapus
    Berdasarkan pantauan Beritasatu.com pada Sabtu (18/1/2025), semua video yang sebelumnya menunjukkan momen kebersamaan pasangan ini telah dihapus. Di channel tersebut kini hanya tertulis, “Tidak ada playlist (video) dalam channel ini.”

    Channel YouTube yang dibuat pada 6 Juni 2021 itu sebelumnya memiliki 74.500 subscriber. Namun, penghapusan video ini menuai kekecewaan dari sejumlah netizen yang mengungkapkan pendapat mereka di kolom komunitas channel tersebut.

    “Kak, video-videonya boleh enggak usah dihapus? Buat kenangan,” tulis salah satu netizen.

    Sebelumnya, Sherina Munaf resmi menggugat cerai Baskara Mahendra di Pengadilan Agama Jakarta Selatan pada 16 Januari 2025.

    2. Kasus Penipuan Skema Ponzi Modus Arisan, Polda Metro: Pelaku Ibu Muda
    Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya mengungkap kasus penipuan investasi dengan skema ponzi yang dilakukan melalui modus arisan. Pelaku, seorang ibu rumah tangga berinisial SFM (21), menjalankan aksinya sejak September 2024.

    “Tersangka SFM menggunakan grup WhatsApp bernama ‘GU ARISAN BYBIYU’ untuk mempromosikan investasi dengan janji keuntungan besar,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, Sabtu (18/1/2025), seperti dilansir Antara.

    Dalam grup yang beranggotakan 425 orang tersebut, tersangka menawarkan investasi dengan istilah Dana Pinjaman (Dapin). Setiap slot investasi senilai Rp 1 juta dijanjikan keuntungan hingga Rp 1,4 juta dalam 10 hari.

    “Awalnya beberapa korban mendapatkan keuntungan, tetapi selanjutnya mereka mengalami kerugian karena uang mereka digunakan untuk keperluan pribadi tersangka dan menutup keuntungan investor sebelumnya,” jelas Ade Ary.

    3.  Gus Miftah Bimbing Warga Korea Selatan Mualaf dan Bantu Ucapkan 2 Kalimat Syahadat secara Virtual
    Viral video yang memperlihatkan Gus Miftah membantu seorang pria asal Korea Selatan untuk mualaf dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Proses mualaf warga Korea Selatan yang ingin menikah itu dilakukan secara virtual.

    Dalam video yang diunggah akun Instagram @dunia_hiburan2018, Gus Miftah menyapa pria Korea Selatan yang bernama Cha Jae Yoon tersebut.

    “Halo assalamualaikum, siapa nama kamu?” tanya Gus Miftah, seperti dikutip Beritasatu.com, Sabtu (19/1/2025).

    “Nama saya Cha Jae Yoon,” timpal pria Korea Selatan itu.

    Gus Miftah juga memastikan bahwa Cha Jae Yoon itu benar ingin menjadi Muslim dan tanpa ada paksaan.

    4. Sungai Bahilang Meluap, Ratusan Rumah di Tebingtinggi Terendam Banjir
    Ratusan rumah warga yang tinggal di bantaran Sungai Bahilang di Kecamatan Tebingtinggi Kota, Kota Tebingtinggi Sumatera Utara, terendam banjir, Sabtu (18/1/2025). Banjir disebabkan luapan Sungai Bahilang saat terjadi hujan deras yang mengguyur Kota Tebingtinggi sejak Jumat kemarin hingga kini.

    Ketinggian banjir di daerah titik terendah bantaran Sungai Bahilang ini sekitar satu meter atau sepinggang orang dewasa. Adapun air yang masuk ke dalam rumah warga mengapai 30 cm sampai dengan 50 cm atau selutut orang dewasa. Banjir membuat aktivitas warga lumpuh karena kendaraan warga tidak bisa melintas akibat banjir tersebut.

    Selain merendam ratusan rumah warga, banjir juga merendam akses jalan dan sejumlah sekolah yang ada di Kecamatan Tebingtinggi Kota.

    5. Puslabfor Polri Selidiki Penyebab Kebakaran Glodok Plaza
    Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Mabes Polri dikerahkan untuk menyelidiki penyebab pasti kebakaran Glodok Plaza, Taman Sari, Jakarta Barat pada Rabu (15/1/2025).

    Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi mengatakan Tim Puslapfor Polri segera mengolah tempat kejadian perkara (TKP) kebakaran Glodok Plaza.

    “Tim Puslabfor Mabes Polri akan melakukan olah TKP untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran Glodok Plaza,” kata Ade Ary di Jakarta, Sabtu (18/1/2025).

    Pemadaman kebakaran Glodok Plaza sudah selesai dilakukan dan sekarang masih dalam proses pendinginan.
     

  • Tingkatkan Konektivitas Udara, Maskapai Penerbangan Pelat Merah Tambah Armada hingga Buka Rute Baru

    Tingkatkan Konektivitas Udara, Maskapai Penerbangan Pelat Merah Tambah Armada hingga Buka Rute Baru

    Jakarta, Beritasatu.com – Maskapai penerbangan anak perusahaan Pertamina, Pelita Air, akan menambah enam pesawat sekaligus membuka akses rute penerbangan baru pada tahun 2025. Langkah ini diambil untuk meningkatkan konektivitas udara dan mendukung pariwisata di Indonesia.

    “Pada tahun ini, kami akan menambah enam pesawat baru. Dengan demikian, total armada kami akan mencapai 38 unit dengan berbagai tipe. Penambahan armada ini bertujuan untuk melayani rute dengan lalu lintas yang tinggi,” ujar Direktur Utama Pelita Air Dendy Kurniawan, Sabtu (18/1/2025).

    Penambahan armada dan rute baru maskapai penerbangan milik negara ini bertepatan dengan hari jadi Pelita Air yang ke-55 pada 24 Januari mendatang. Dalam rangka perayaan tersebut, Pelita Air akan menggelar berbagai kegiatan yang melibatkan penumpang.

    “Menjelang ulang tahun Pelita Air, kami akan mengadakan berbagai kuis dan diskon untuk penumpang. Selain itu, kami juga berkomitmen meningkatkan pelayanan, baik melalui aplikasi maupun aspek lainnya,” tambah Dendy.

    Sebagai bagian dari perayaan hari jadinya, Pelita Air menawarkan diskon khusus sebesar 55% untuk penumpang, membagikan tiket gratis melalui media sosial, memberikan kejutan berupa merchandise di rute tertentu, serta menghadirkan berbagai aktivitas menarik lainnya.

    Saat ini, Pelita Air melayani penerbangan ke sejumlah kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bali, Yogyakarta, Surabaya, Balikpapan, Padang, Palembang, Pekanbaru, Pontianak, Banjarmasin, Sorong, Aceh, Kendari, Lombok, dan Medan.

    Selama dua tahun menjalankan bisnis penerbangan komersial berjadwal, Pelita Air terus mempertahankan performa ketepatan waktu on-time performance (OTP) di atas 90% berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (DJPU) sepanjang 2024.

    “Ke depan, kami berharap Pelita Air dapat terus mempertahankan dan meningkatkan pelayanan maksimal kepada penumpang,” tutup Dendy dalam menanggapi maskapai penerbangan pelat merah yang tambah armada dan rute baru di Tanah Air.

  • 2 WNI yang Disekap hingga Disika di Myanmar Berhasil Pulang

    2 WNI yang Disekap hingga Disika di Myanmar Berhasil Pulang

    Jakarta

    Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abdul Kadir Karding menjemput dua Warga Negara Indonesia (WNI) Pekerja Migran Indonesia yang disekap dan disiksa di Myanmar. Dua orang itu adalah korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan dijadikan scammer atau operator judi online.

    dua orang WNI itu adalah berinisial AB dan R. Masing-masing dari meraka berasal dari Semarang, Jawa Tengah (Jateng); dan Langkat, Sumatera Utara (Sumut). Mereka dijemput oleh menteri Karding di Terminal II F Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (18/1/2025) dini hari.

    Menteri Karding menyebutkan bahwa sejak awal kedua orang tersebut ditangani oleh Kementerian Luar Negeri, dan untuk proses kepulangannya ke Indonesia, bekerja sama dengan Kementerian P2MI.

    “Alhamdulillah, dini hari ini mereka sudah kita terima di Bandara Soekarno-Hatta. Dua WNI ini bagian dari enam orang yang ada dan saat ini masih tersisa empat orang di Myanmar termasuk Robiin,” ujar Karding.

    Diketahui, Robiin adalah salah satu korban penyekapan yang juga mantan anggota DPRD Indramayu, Jawa Barat periode 2014-2019 dari Partai Nasdem. Dalam sebuah video yang viral, Robiin mengaku menjadi korban penyekapan di Myanmar bersama tiga rekan lainnya.

    Menurut cerita dari R dan AB, mereka mendapatkan siksaan yang luar biasa oleh perusahaan di Myanmar. Macam-macam bentuk siksaan itu seperti disetrum, dipukul, dan banyak penyiksaan lainnya.

    Kemudian, ungkap Karding, setelah itu akan diproses pendokumentasian proses-prosesnya, sehingga diharapkan mereka nanti memberikan petunjuk yang dapat membuka ruang untuk membebaskan WNI yang lain.

    “Itu yang saya akan lakukan setelah ini. Kita akan serahkan ke Kementerian Sosial untuk rehabilitasi dan seterusnya kita pastikan yang bersangkutan akan sampai ke rumah masing-masing dan berkumpul bersama keluarganya,” kata Karding

    (aik/aik)

  • Rumah di Asrama TNI Medan Digerebek Terkait Narkoba, 11 Orang Ditangkap
                
                    
                        
                            Medan
                        
                        18 Januari 2025

    Rumah di Asrama TNI Medan Digerebek Terkait Narkoba, 11 Orang Ditangkap Medan 18 Januari 2025

    Rumah di Asrama TNI Medan Digerebek Terkait Narkoba, 11 Orang Ditangkap
    Tim Redaksi
    MEDAN, KOMPAS.com

    Pomdam I Bukit Barisan
    menggerebek rumah yang dijadikan tempat peredaran narkoba di kawasan Asrama TNI Glugur Hong di Jalan Pelita V, Kecamatan Medan Perjuangan, Kota Medan.
    Penggerebekan itu dilakukan pada Jumat (17/1/2025) sore.
    Hasilnya, ada 11 orang yang ditangkap dan diserahkan ke Satnarkoba Polrestabes Medan untuk diproses hukum lebih lanjut.
    Kepala Polrestabes Medan Kombes Gidion Arif Setyawan mengatakan, dari 11 orang itu, ada 9 orang direkomendasikan untuk rehabilitasi karena berperan sebagai pencandu narkoba jenis sabu.
     
    “Sedangkan 2 orang lagi, ML dan RS, sebagai pemilik dan penjual (sabu),” kata Gidion saat diwawancarai di Polrestabes Medan pada Sabtu (18/1/2025).
    “ML ini residivis kasus narkoba juga dan sudah pernah dipenjara tahun 2019 sampai 2023,” sambungnya.
    Gidion pun menerangkan, kedua pelaku ini menjual sabu di dalam satu rumah.
    Lalu, pemakai datang membeli dan memakai sabu di rumah tersebut.
    “Ya satu rumah itu tempat transaksi. Itu rumah dari saudara ML. Jadi ML ini cucu dari pemilik rumah,” sebut Gidion.
    Ia menyampaikan, barang bukti yang diamankan ada 18 klip plastik berbagai ukuran berisi sabu dengan berat bersih 20,28 gram.
    Selain itu, ada uang Rp 2 jutaan serta timbangan digital dua unit serta peralatan untuk nyabu. “Kami sudah melakukan penyelidikan, sehingga ML dan RS ditahan untuk didalami lebih lanjut jaringannya,” tutup Gidion.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Sosok Farida Felix, Ibunda Abraham Michael, sang Anak Tersangka Pembunuhan Satpam di Bogor – Halaman all

    Sosok Farida Felix, Ibunda Abraham Michael, sang Anak Tersangka Pembunuhan Satpam di Bogor – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Abraham Michael, anak majikan yang tega membunuh satpam di rumahnya, Septian (37), resmi ditetapkan sebagai tersangka.

    Abraham membunuh korban di rumah mewahnya yang terletak di Lawang Gintung, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (17/1/2025).

    Terkait hal ini, ibunda Abraham Michael, Farida Felix, turut menjadi sorotan.

    Saat anaknya dibawa ke kepolisian, Farida Felix ikut mendampinginya dalam satu mobil.

    Farida Felix terlihat mengenakan dress dan menenteng tas branded.

    Lantas, siapa Farida Felix? Berikut sosoknya.

    Farida Felix merupakan pengacara dan juga pengusaha.

    Wanita asal Medan, Sumatra Utara itu adalah lulusan Universitas Indonesia.

    Farida Felix mendirikan firma hukum bernama Law Firm Berlin Felix & Partner.

    Rumah yang merupakan tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan itu juga sebagai kantor Farida Felix.

    Selain itu, rupanya keluarga Abraham Michael membuka bisnis rental bernama PT La Dipta Duta di rumah tersebut.

    Kronologi dan Motif Pembunuhan

    Septian ditemukan tewas setelah dibunuh oleh Abraham pada Jumat (17/1/2025) sekitar pukul 04.30 WIB, di rumah mewah tersangka di Lawang Gintung, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.

    Korban tewas akibat adanya luka di dada dan kepalanya. Setelah kejadian tersebut, keluarga korban langsung melaporkannya ke polisi.

    “Tadi (kemarin) ada kejadian tindak pidana diduga pembunuhan yang terjadi di Bogor selatan kurang lebih 4.30 WIB.”

    “Tadi pagi ada dari pihak keluarga korban ke polsek dan dari polsek langsung cek TKP,” kata Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Eko Prasetyo, Jumat.

    Sesaat setelah kejadian, ada gelagat aneh dari Abraham setelah membunuh Septian.

    Abraham justru meminta para asisten rumah tangga (ART) untuk pulang kampung.

    “Jadi di rumah itu ada ibunya, dua ART, dan driver-nya. ART-nya malah disuruh pulang ke Jawa oleh si majikan yang diduga membunuh satpam itu,” kata Kapolsek Bogor Selatan, Kompol Maman Firmansyah, Jumat.

    Meski demikian, Abraham juga tidak melarikan diri. Ia kemudian diantar ibunya untuk diserahkan langsung ke pihak kepolisian.

    “Terduga pelakunya itu inisialnya A. Dia tidak kabur. Malah dia diantar oleh ibunya ke luar rumah untuk diserahkan ke kami (polisi). Saat ini sudah di Polresta sedang dimintai keterangan,” ujar Maman.

    Terkait insiden pembunuhan, Maman mengatakan, seluruh orang yang berada di dalam rumah mewah tersebut tidak melihatnya secara langsung.

    Mereka, kata Maman, hanya mendengar suara benturan saja. Maman menuturkan seluruh orang di rumah tersebut hanya tahu bahwa jasad korban berada di ruang satpam.

    “Mereka tahu korban (satpam) sudah tewas di ruangan satpamnya,” ungkapnya.

    Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, Kompol Aji Riznaldi Nugroho, mengungkapkan motif pembunuhan terhadap Septian.

    Abraham nekat membunuh korban karena tersangka kesal korban melapor ke ibunya, Farida Felix terkait kerap pulang malam.

    Korban, kata Aji, memiliki tugas untuk mencatat siapa saja yang keluar masuk rumah majikannya.

    Adapun laporan tersebut lantas diberitahukan ke Farida Felix, ibu tersangka.

    Ternyata, berdasarkan catatan tersebut, Abraham dalam dua malam terakhir kerap pulang larut malam. Akhirnya, Abraham pun kena omelan dari ibunya.

    “Abraham kena omel ibunya. Ditegurlah dia karena sering pulang malam,” kata Aji, Sabtu (18/1/2025), dikutip dari Tribun Bogor.

    Aji mengungkapkan Abraham merasa aneh karena ibunya bisa tahu dirinya kerap pulang larut malam.

    Kemudian, Abraham pun mengetahui Septian-lah sosok yang melaporkan kepada ibunya.

    “Ia (Abraham merasa) aneh ibunya tahu. Ternyata dia dilaporkan satpam (ke ibu tersangka),” tutur Aji.

    Setelah mengetahui hal tersebut, Abraham langsung mengumpulkan sopir, asisten rumah tangga (ART), dan satpam.

    Pada momen tersebut, Aji mengatakan dua ART yang bekerja di rumahnya disuruh pulang ke kampung halaman.

    Lalu, pada Jumat malam, Abraham dan Septian pun akhirnya saling cekcok yang berujung terjadinya pembunuhan.

    “Saat subuh si tersangka membunuh Septian,” ucapnya.

    Dalam pembunuhan tersebut, Abraham menikam Septian dengan pisau ke arah perut korban.

    Atas kasus ini, Abraham resmi ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pembunuhan terhadap Septian.

    “Statusnya sudah naik tersangka,” kata Kapolresta Bogor, Kombes Pol Eko Prasetyo, Sabtu.

    Pasca-ditetapkan menjadi tersangka, Abraham dijerat Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan.

    Terpisah, Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, Kompol Aji Riznaldi Nugroho mengatakan Abraham terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara.

    “Atau Pasal 351 ayat 3 yang mengatur tentang penganiayaan yang mengakibatkan kematian,” ujarnya.

    Bahkan, kata Aji, Abraham juga terancam hukuman lebih berat karena saat ini masih berlangsung penyelidikan terkait ada atau tidaknya pembunuhan berencana terhadap Septian.

    “Untuk itu (pembunuhan berencana) kita masih lakukan pendalaman. Sementara ini kita tetapkan sebagai tersangka dulu dan dijerat Pasal 338 KUHP,” jelasnya.

    (Tribunnews.com/Falza/Yohanes Liestyo Poerwoto)(Tribun Bogor/Sanjaya Ardhi/Rahmat Hidayat)

  • Nasib Guru Haryati Kini Dilaporkan ke Polisi, Orang Tua Siswa SD Tak Mau Damai, Pihak Yayasan Pasrah

    Nasib Guru Haryati Kini Dilaporkan ke Polisi, Orang Tua Siswa SD Tak Mau Damai, Pihak Yayasan Pasrah

    TRIBUNJATIM.COM – Wali murid kini tegas melaporkan guru Haryati ke polisi atas dugaan kekerasan terhadap anak.

    Guru SD Abdi Sukma Kota Medan tersebut kini harus menghadapi permasalahan hukum.

    Ia dilaporkan buntut menghuku siswanya duduk di lantai lantaran menunggak uang SPP.

     

    Pihak Yayasan SD Abdi Sukma sendiri hanya bisa pasrah dan tak bisa mencegah tindakan pelaporan tersebut.

    “Hak dia (orang tua siswa melaporkan) dan saya tidak akan menanggapinya,” kata Ketua Yayasan Abdi Sukma, Ahmad Parlindungan, dilansir dari Tribunnews.com, Jumat (17/1/2025).

    “Biarlah waktu yang menjawab (kebenaran persoalan ini),” ujarnya.

    Diketahui, siswa berinisial MI (10) dihukum duduk di lantai karena menunggak pembayaran SPP selama tiga bulan.

    Ahmad Parlindungan mengaku tidak ingin mencampuri permasalahan hukum antara wali murid dengan guru meski mediasi sudah dilakukan.

    Pihaknya lebih fokus mengembalikan semangat para guru yang mendapat tekanan setelah video siswa dihukum viral.

    “Terkait dengan persoalan itu, biarlah waktu yang menjawabnya,” ungkapnya.

    “Saya hanya lebih fokus untuk mengembalikan semangat guru-guru. Sejak video itu viral, mereka mendapat teror bahasa di media sosial,” lanjutnya.

    Haryati guru SD Abdi Sukma Kota Medan kini dilaporkan wali murid imbas beri sanksi duduk di lantai gegara nunggak SPP (Tribun Medan)

    Ia menerangkan, sekolah yang berdiri sejak tahun 1963 ini sudah banyak membantu masyarakat kurang mampu.

    Para guru, termasuk Haryati yang kini dilaporkan, mendapat gaji rendah selama mengajar.

    Ahmad menyatakan, tindakan Haryati salah karena membuat hukuman yang tak sesuai dengan kebijakan sekolah.

    “Ini sekolah amal untuk kepentingan sosial. Uang sekolah saja enam bulan gratis, gaji guru hanya Rp380 ribu sampai Rp600 ribu.”

    “Tiba-tiba kondisi seperti ini terjadi, apa lagi mau saya bilang. Biarkan waktu yang menjawab,” katanya pasrah.

     

    Sebelumnya ia mengatakan, hukuman duduk di lantai merupakan inisiatif dari wali kelas bernama Haryati.

    Kini Haryati mendapat hukuman larangan mengajar untuk sementara waktu.

    “Kami yayasan akan memberikan pembebasan tidak mengajar atau skorsing sampai waktu yang ditentukan kemudian,” ungkap Ahmad.

    Menurutnya, pihak yayasan dan sekolah tak pernah membuat aturan tersebut.

    “Semua siswa yang ada, mau bayar atau tidak harus ikut belajar mengajar,” jelasnya.

    “Kami sangat kecewa dengan kondisi ini yang menjadi viral seluruh Indonesia karena tidak ada aturan tertulis,” imbuhnya.

    Ia menjelaskan, adik kandung korban yang duduk di bangku kelas 1 SD, juga belum membayar SPP selama tiga bulan.

    Namun wali kelasnya memperbolehkan mengikuti pelajaran seperti para siswa lain.

    Ahmad menambahkan, Haryati yang berstatus wali kelas tak memiliki masalah pribadi dengan orang tua korban.

    Pihak sekolah sudah meminta maaf ke keluarga korban atas kesalahan ini.

    “Mediasi sudah. Sudah meminta maaf. Anaknya ada dua di sini, yang kelas 4 dan kelas 1 SD.”

    “Nah, yang kelas 1 ini tidak ada masalah. Sama-sama tidak membayar uang sekolah,” jelasnya.

    Kamelia (38) ibu dari siswa SD kelas IV di Medan yang viral disuruh gurunya belajar di lantai, menangis saat diwawancarai di rumahnya, Jumat (10/1/2025). (Kompas.com/Rahmat Utomo)

    Sementara itu Kapolrestabes Medan, Kombes Gidion Arif Setyawan menyatakan laporan dengan nomor LP/B/132/I/2025/SPKT/Polrestabes Medan/Polda Sumut, diterima petugas pada Selasa (14/1/2025).

    “Laporannya terkait dugaan kekerasan terhadap anak. Terlapor guru yang menghukum korban duduk di lantai,” ucapnya, Rabu (15/1/2025).

    Dalam laporan tersebut, Kamelia selaku wali murid MI menjelaskan, korban enggan berangkat sekolah pada Rabu (8/1/2025), karena dua hari sebelumnya dihukum duduk di lantai kelas.

    Kamelia meminta anaknya untuk tetap berangkat sekolah dan anak menghampiri guru yang memberi hukuman.

    Setiba di sekolah, Kamelia melihat langsung anaknya duduk di lantai saat pelajaran berlangsung.

    Kamelia juga menanyakan alasan Haryati menghukum anaknya.

    “Kami masih mendalami laporannya,” tandas Gidion.

     

    Wali Kota Medan, Bobby Nasution, turut memberikan tanggapan terkait viral siswa kelas 4 SD Dihukum duduk di lantai kelas lantaran nunggak bayar SPP.

    Adapun Gubernur Sumatera Utara terpilih ini meminta Dinas Pendidikan untuk ambil tindakan dengan menegur Kepala SD Abdi Sukma.

    “Ini kan masalah kemanusiaan, (jadi kami) memberikan teguran ke sekolahnya, walaupun administrasinya, karena ini sekolah swasta,” ucap Bobby Nasution, Selasa (14/1/2024).

    Bobby Nasution meminta orang tua siswa yang mengalami masalah pembiayaan sekolah untuk menghubungi Pemkot Medan.

    “Bukan kita lepas tangan, tapi memang dari awal (kita) telah mengimbau orang tua atau siswa siswi di SD maupun SMP.”

    “Bagi yang mengalami masalah pembiayaan, dari kami Pemkot Medan memberikan solusi untuk pindah ke sekolah negeri,” tukasnya.

    Menurutnya, pembiayaan siswa di sekolah negeri akan ditanggung Pemkot Medan sehingga siswa dapat belajar dengan tenang.

    “Kami langsung menerima di sekolah negeri, langsung kami terima di sekolah negeri, tanpa ada biaya apa pun,” tegasnya.

    Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

  • Digaji Rp200 Ribu Sebulan, Guru Supandi Jalan Kaki 11 Km Tiap Hari ke Sekolah, Sudah Ngajar 14 Tahun

    Digaji Rp200 Ribu Sebulan, Guru Supandi Jalan Kaki 11 Km Tiap Hari ke Sekolah, Sudah Ngajar 14 Tahun

    TRIBUNJATIM.COM – Inilah sosok guru Supandi yang tiap bulan digaji Rp 200 ribu.

    Perjuangannya untuk berangkat mengajar ke sekolah menjadi viral di media sosial.

    Tiap hari guru Supandi yang masih honorer jalan kaki 11 km ke sekolah.

    Diketahui ia sudah mengajar selama 14 tahun.

    Kisah guru Supandi viral setelah dibagikan akun Instagram @sukabumitoday dan @kitabuku.id.

    Dari unggahan tersebut, guru Supandi diketahui tinggal di Kampung Ciguha, Desa Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, melansir dari TribunJabar, Sabtu (18/1/2025).

    Ia mengajar di sebuah MTs bernama Thoriqul Hidayah.

    Momen Supandi jalan kaki 11 kilometer dari rumahnya ke sekolah itu dibagikan dalam video tersebut.

    Pak Supandi bersiap setelah subuh untuk menuju ke sekolah.

    Ia mengenakan kemeja putih, celana panjang dan jaket hitam.

    Supandi juga menggendong sebuah tas ransel di punggungnya.

    Saat tiba di sekolah, rasa lelah Supandi setelah menempuh perjalanan bak terobati saat disambut para muridnya di kelas.

    Satu per satu muridnya menyalaminya saat tiba di sekolah.

    Dalam video yang beredar itu juga Supandi mengurai kisah perjuangannya tersebut.

    Supandi mengaku untuk pergi mengajar ia memang sering dibantu warga sekitar untuk bisa sampai ke skeolah menggunakan kendaraan.

    Ia pun berterima kasih kepada para warga dan pengendara yang membantunya.

    Namun ternyata bantuan warga itu pun tidak menentu setiap hari diterimanya.

    Jika tak ada bantuan warga, ia tetap berjalan kaki sendirian menuju sekolah demi mengajar.

    “Bapak jalan? berapa kilo?” tanya warga.

    “Jalan, dari Bojongopang 3 km, dari bojongopang ke bojongtipar 8 km,” ujar Supandi alias Pak Empan.

    “Kalau udah kenal mah, orang mah kasihan lihat saya jalan kaki,” sambungnya.

    Meski penuh perjuangan, Supandi tetap tegar menjalani profesinya tersebut.

    Bagi Supandi, menjadi guru adalah panggilan hati, bukan semata-mata pekerjaan.

    Diketahui Supandi sudah mengajar sejak tahun 2011 silam.

    Ini artinya ia sudah mengabdikan dirinya sebagai guru selama 14 tahun.

    Meski begitu, ternyata hingga kini ia masih berstatus sebagai guru honorer.

    Bahkan gaji yang diterima Supandi cukup miris.

    Ia mengaku menerima gaji tak sampai Rp 200 ribu per bulannya.

    “Rata-rata per bulan dapat Rp192 ribu. Kalau honorer kan setidaknya, saya bukan cari final seperti itu kan, cuma untuk menyumbangkan yang saya bisa,” ungkapnya.

    Terkait pendapatannya sebagai guru honorer tersebut, Supandi tak punya banyak pilihan, selain bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT.

    “Itu rezeki dari Allah. Saya selalu memberikan prinsip kepada anak, kalau punya ilmu dikembangkan. Jangan dulu mencari finansial, tapi pengalaman. Rezeki itu ada dari mana saja. Contoh saya dari 2011 sampai sekarang, kalau yang mengaturnya Tuhan, ada saja. Kadang berkebun di sawah, peninggalan orang tua (jika libur),” paparnya.

    Supandi sendiri tidak menutup diri jika ada bantuan yang dapat mempermudah dirinya dalam perjalanan ke sekolah, supaya tidak terlalu lama karena berjalan kaki.

    Dikutip dari TirbunBogor, diketahui, Supandi guru honorer ini hanyalah lulusan STM di tahun 1993.

    Lantaran cuma lulusan sekolah menengah, karena itulah Supandi tidak bisa mendaftar menjadi guru PPPK atau PPG.

    Kendati demikian, Supandi punya kemampuan yang mumpuni dalam mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris di sekolah.

    Kini, kisah pilu Supandi atau Pak Empan guru honorer di Sukabumi yang digaji kurang dari Rp 200 ribu per bulan hingga harus jalan kaki 11 kilometer itu viral dan menyita perhatian publik.

    Tak sedikit warganet yang prihatin dan miris dengan perjuangan guru honorer tersebut.

    Sejumlah warganet pun mendoakan guru honorer tersebut agar mendapatkan rezeki melimpah.

    Sementara itu juga viral di media sosial murid SD terlantar karena semua guru bolos 1 bulan.

    Peristiwa miris ini terjadi di SDN No 078481 Uluna’ai Hiligo’o Laowo Hilimbaruzo Idanogawo, Kabupaten Nias, Sumatera Utara.

    Dalam video yang dibagikan akun TikTok @Risman_lase_, terlihat seorang siswa SD merekam suasana di SDN tersebut, melansir dari TribunBogor, Jumat (17/1/2025).

    Sekolah yang masih beralaskan tanah itu terlihat hanya dihuni beberapa murid saja.

    Diungkap sang murid, para guru sudah lama tidak datang ke sekolah.

    “Halo bapak ibu, ini sekolah, ini keadaan gurunya, tidak ada, gurunya sama sekali tidak ada,” ungkap sang siswa SD perekam.

    Bergerak ke arah ruangan sebelah ruang kelas, sang siswa memperlihatkan kondisi ruang guru.

    Dalam rekaman tersebut tampak ruang guru tidak ada siapapun.

    Di ruang guru tersebut hanya terdapat berkas usang yang diletakkan di lemari.

    “Ini kantor, gurunya tidak ada sama sekali, satu orang pun,” ujar sang siswa.

    Sambil merekam, siswa SD tersebut bertanya ke rekannya terkait kondisi sekolah.

    Siswa SD itu lantas curhat soal keadaan miris kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut yang bak mati suri.

    Sebab diakui sang murid, para guru sama sekali tidak pernah datang ke sekolah hampir satu bulan.

    “Gimana keadaan guru kalian?” tanya siswa SD.

    “Keadaan guru kami tidak ada satu pun, cuma sering-sering tidak ada mereka pun, satu hari aja pun tidak ada, satu pun guru tidak ada,” ujar murid yang lainnya.

    Tak hanya itu, sang siswa juga mengurai kebobrokan sang guru.

    Yakni para guru hanya datang ke sekolah untuk membunyikan lonceng saja lalu pergi lagi.

    Hal tersebut seolah memberi harapan palsu bagi para murid yang semangat bersekolah.

    “Kalau datang guru kan, dipukul lonceng, padahal saya enggak dikasih pelajaran, cuma dipukul lonceng, udah pergi mereka. Udah satu bulan aja enggak ada mereka. Senin, Selasa, Rabu tidak ada. Sedikit lagi satu bulan, tidak ada mereka. Seperti itu sekolah kami,” kata siswa SD.

    Melalui video singkat itu, sang murid juga membagikan kondisi ruang kelas yang berantakan.

    Tak seperti sekolah negeri lain di kota-kota besar, SD tersebut tampak dipenuhi debu dengan fasilitas sederhana. 

    Bahkan papan tulis di sekolah tersebut juga masih menggunakan papan tulis kapur.

    Kendati demikian, sekolah tersebut berdiri kokoh dengan atap dan bangunan yang utuh.

    “Ini gais, ini anak sekolah. Ini anak sekolahnya tidak ada, karena malas guru,” ujar sang siswa SD.

    Melihat video miris yang dibagikan siswa SD di Nias tersebut, netizen ramai berkomentar.

    Publik ikut prihatin dan miris dengan kondisi para siswa tersebut.

    Meski demikian pihak sekolah belum angkat bicara mengenai masalah ini.

    Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

  • Hasil IBL 2025: Pacific Caesar Surabaya Dipermalukan Hangtuah Jakarta

    Hasil IBL 2025: Pacific Caesar Surabaya Dipermalukan Hangtuah Jakarta

    Laporan Wartawan Tribun Jatim Netwok, Khairul Amin

    TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Pacific Caesar Surabaya harus tumbang 54-89 dari tamunya, Hangtuah Jakarta pada lanjutan Indonesian Basketball League (IBL) 2025 yang berlangsung di GOR Pacific Caesar Surabaya, Sabtu (18/1/2025).

    Pelatih Pacific Caesar Surabaya, Dhimas Aniz menyebut kekalahan skuad asuhannya dengan selisih poin cukup telak karena faktor terburu-buru.

    “Masalahnya adalah dari awal kami yang terburu-buru, sangat terburu-buru. Jadi momennya itu hilang ketika kami belum sampai jalan di 20 detik itu sudah di-shoot dan tidak masuk, akhirnya lawan dapat transisi, mereka dapat keuntungan untuk fast break,” kata Dhimas Aniz setelah pertandingan.

    Ungkapan itu setidaknya tergambarkan dari statistik pertandingan, dimana Hangtuah Jakarta mendapat poin yang didapat dari fast break mencapai 29.

    Berbanding jauh dengan Pacific Caesar yang hanya mendapat 9 poin dari fast break.

    “Dan kami juga harus mengakui lawan cukup prepare untuk antisipasi tim kami,” tambah Dhimas Aniz.

    Situasi ini diperparah oleh penurunan performa dua pemain asing Pacific Caesar di pertandingan ini, Mguel Mranda dan Chishon Briggs yang hanya sama-sama menyumbang 9 poin.

    Satu pemain asing lainnya, Alioune Tew tampil lebih baik, berhasil menciptakan 19 poin.

    “Hari ini mereka memang bad shoot selection, jadi penempatan pengambilan keputusan untuk shoot atau eksekusi itu mereka kurang bagus,” kata Dhimas Aniz.

    “Jadi di detik-detik awal mereka sudah ambil keputusan shoot untuk skor, dan bolanya gak masuk, lawan bisa ambil buat skor, itu penekanan PR kami,” tambahnya.

    Ia menolak pemain kerena faktor fisik yang menurun meski kuarter 3 dan 4 tertinggal poin cukup jauh dari lawan. Masalahnya tetep sama karena terburu-buru.

    “Kalau kelelahan saya rasa tidak, cuman anak-anak belum terbiasa dengan jarak yang jauh, tadi sampai 14-15 poin. Masih belum konfiden untuk mengembalikan,” jelasnya.

    Padahal Dhimas Aniz menyebut saat pertandingan tidak henti mengingatkan pemainnya untuk lebih sabar.

    “Sampai benar-benar saya teriak pada mereka untuk tidak terburu-buru, itu PR banget. Dari half time kalau kami main lebih pelan dan sabar, sebenernya kami bisa nyusul , tapi mereka terburu-buru,” pungkasnya.

    Pemain Pacific Caesar Surabaya, Daffa Dhoifullah menyampaikan hal sama, ia mengakui permainan tim laga ini tidak maksimal.

    “Kami gak melakukan apa yang sudah diinstruksikan oleh pelatih, kami sudah ada plan untuk antisipasi, kami tidak melakukan itu, itu di luar kendali. Kayak main sendiri-sendiri,” kata Daffa Dhoifullah.

    Kekalahan dari Hangtuah Jakarta menjadi kekalahan kedua Pacific Caesar di IBL 2025, setelah sebelumnya di tempat sama takluk 81-82 dari Prawira Bandung (15/1/2025).

    Pertandingan pertama yang berlangsung di GOR Unimed Medan, Minggu (12/1/2025), Pacific Caesar menang 62-76 atas Rajawali Medan

  • Guru Cuma Bunyikan Lonceng, Siswa SD Curhat Semangat ke Sekolah Meski Tak ada yang Mengajar: Palsu

    Guru Cuma Bunyikan Lonceng, Siswa SD Curhat Semangat ke Sekolah Meski Tak ada yang Mengajar: Palsu

    TRIBUNJATIM.COM – Viral aksi siswa SD di Nias, Sumatera Utara curhat sekolah tapi tak ada yang mengajar.

    Curhatan ini datang dari siswa SD yang merekam kegiatannya selama di sekolah.

    Menurut mereka, guru bahkan tak datang selama satu bulan.

    Siswa SD itu juga menyebut guru hanya memberi janji palsu.

    Dalam video yang dibagikan oleh akun TikTok @risman_lase_, seorang siswa SD merekam suasana di SDN No 078481 Ulunaai Hiligoo Laowo Hilimbaruzo Idanogawo, Kabupaten Nias. 

    Dalam rekaman tersebut, para siswa terlihat mengungkapkan kondisi sekolah mereka yang memprihatinkan karena tidak ada kegiatan belajar mengajar akibat ketidakhadiran guru.

    Sekolah yang berlokasi di wilayah tersebut terlihat sepi dan hanya dihuni beberapa murid yang mengenakan seragam merah putih. 

    Para siswa tersebut terlihat sedih namun tetap semangat untuk pergi ke sekolah meski tidak ada guru yang mengajar. 

    “Halo bapak, ibu, ini sekolah, ini keadaan gurunya, tidak ada, gurunya sama sekali tidak ada,” ungka perekam mengutip TribunJatim. 

    Sang siswa kemudian memperlihatkan ruang guru yang kosong, hanya dipenuhi berkas-berkas usang di lemari. 

    Selain itu, video tersebut juga memperlihatkan kondisi ruang kelas yang berantakan dan berdebu, dengan fasilitas yang sangat sederhana, termasuk papan tulis kapur. 

    Meskipun begitu, bangunan sekolah tersebut masih tampak kokoh dan utuh. 

    Para siswa juga mengungkapkan bahwa meski tidak ada guru, mereka tetap datang ke sekolah dengan semangat.

    “Ini kantor, gurunya tidak ada sama sekali, satu orang pun,” ujar sang siswa.

    Sambil merekam, siswa SD tersebut bertanya ke rekannya terkait kondisi sekolah.

    “Gimana keadaan guru kalian?” tanya siswa SD.

    “Keadaan guru kami tidak ada satu pun, cuma sering-sering tidak ada mereka pun.”

    “Satu hari aja pun tidak ada, satu pun guru tidak ada,” ujar murid yang lainnya.

    Menurut siswa tersebut para guru hanya datang ke sekolah untuk membunyikan lonceng saja lalu pergi lagi.

    “Kalau datang guru kan, dipukul lonceng, padahal saya enggak dikasih pelajaran, cuma dipukul lonceng, udah pergi mereka.”

    “Udah satu bulan aja enggak ada mereka. Senin, Selasa, Rabu tidak ada.”

    “Sedikit lagi satu bulan, tidak ada mereka. Seperti itu sekolah kami,” kata siswa SD.

    “Guru kami tidak ada satu pun, mereka cuma datang untuk bunyikan lonceng dan langsung pergi,” ungkap salah satu siswa. 

    Menurut mereka, guru hanya datang ke sekolah untuk memberi harapan palsu kepada murid, tanpa memberikan pelajaran sama sekali.

    Melihat kondisi tersebut, publik di media sosial ramai memberikan komentar prihatin. 

    Banyak netizen yang berharap agar pemerintah dan pihak terkait lebih memperhatikan kondisi pendidikan di wilayah Nias. 

    “Inilah keluhan anak SD Nias semoga Bapa presiden kita lebih memperhatikan pulau nias. Lg kasihan pak mereka pengen belajar ,anak Nias jg anak bangsa indonesia”

    “Yaahowu de,,, secara pribadi sy ikut prihatin. Semoga guru2nya menyadari akan tgs dan tanggungjawabnya kpd peserta didik. Semangat trs ya”

    “Anak pintar. Semoga pemerintah memperhatikan anak didik di sekolah ini”

    Kondisi sekolah yang viral ini menjadi sorotan, menggugah perhatian banyak pihak untuk memperbaiki sistem pendidikan di daerah-daerah terpencil seperti Nias.

  • Asmurlaini Kehilangan Rp 70 Juta usai Turuti Pria Ngaku Tukarkan Uang Dollar, Cuma Sisa Rp 300 Ribu

    Asmurlaini Kehilangan Rp 70 Juta usai Turuti Pria Ngaku Tukarkan Uang Dollar, Cuma Sisa Rp 300 Ribu

    TRIBUNJATIM.COM – Seorang ibu menjadi korban pemerasan oleh komplotan orang yang tidak dikenal (OTK) dengan modus tukar uang dollar.

    Wanita di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara ini bernama Asmurlaini (65).

    Asmurlani rugi Rp 70 juta karena ulah pelaku.

    Kronologi kejadian pun terungkap.

    Asmurlaini mengatakan, pertemuannya dengan para pelaku terjadi di Jalan Sangnawaluh, Komplek Megaland, pada Selasa (14/1/2025) sekitar pukul 10.00 WIB.

    Saat itu, Asmurlaini baru saja pulang dari kantor Samsat dan menunggu angkot menuju kediamannya di Jalan Pangururan, Kecamatan Siantar Barat.

    “Awalnya salah satu pelaku mengaku kesasar dan menanyakan angkot jurusan Tanah Jawa. Pelaku memohon bantuan,” ujar Asmurlaini didampingi anaknya, Yunda, kepada wartawan saat ditemui, Jumat (17/1/2025), melansir dari Kompas.com.

    Kemudian, pelaku meminta uang sebesar Rp 8 juta dan berjanji akan dikembalikan setelah uang dollar milik pelaku ditukar ke rupiah.

    Masih kata Asmurlaini, pelaku lainnya mengiming-imingi korban mendapat persen setelah uang yang diminta diserahkan.

    Ia pun setuju kemudian masuk ke dalam mobil Avanza putih menuju Bank Sumut untuk menarik uang sebesar Rp 8 juta dan menyerahkan perhiasan emas yang dikenakannya kepada pelaku.

    “Setelah pelaku mengambil semuanya, kemudian saya diajak masuk lagi ke dalam mobil dan dibawa ke Ramayana (pusat perbelanjaan). Saya seperti dihipnotis,” ucapnya.

    Di pusat perbelanjaan itu, korban diberikan uang Rp 300.000 oleh salah seorang pelaku untuk membelikan buah, lalu para pelaku pergi meninggalkannya.

    Sementara itu, Yunda mengatakan, kasus yang dialami ibunya telah dilaporkan ke Mako Polres Pematangsiantar.

    Yunda memperkirakan kerugian yang dialami ibunya mencapai Rp 70 juta, termasuk perhiasan.

    “Kami meminta polisi memeriksa CCTV yang berada di Ramayana dan Bank Sumut serta menangkap para pelaku,” kata Yunda.

    Hingga saat ini, polisi Polres Pematangsiantar sedang menyelidiki kasus ini.

    Sementara itu, Polsek Babat Polres Lamongan sedang ramai jadi perbincangan.

    Oknum polisi Polsek Babat diduga melakukan pemerasan terhadap 4 tahanan kasus narkotika. 

    Keempat pelaku itu  harus  menyerahkan uang masing-masing sebesar Rp 25 juta untuk penyelesaikan masalah yang sedang hadapinya.

    Satu di antara keluarga pelaku terpaksa menyerahkan sertifikat tanah sebagai jaminan karena tidak mempunyai uang seperti ketiga rekannya.

    Kasus dugaan pemerasan terhadap empat pelaku itu, bermula saat para pelaku diamankan polisi di sebuah angkringan di wilayah hukum Polsek Babat.

    Keempatnya dicurigai sebagai pengedar pil dobel L.

    Para pelaku kemudian diamankan di mapolsek  untuk penyelidikan. Namun kasus penyelidikannya jalan di tempat  lantaran ada kompensasi sesuai kesepakatan.

    Uang tersebut telah diberikan kepada oknum polisi melalui masing-masing kepala desa dari empat pelaku yang telah ditahan. Setelah menerima uang empat pelaku kemudian dibebaskan.

    Kasus dugaan pemerasan yang melibatkan oknum polisi tersebut juga sempat ramai di media sosial. Namun selang beberapa waktu kemudian akun tersebut sudah hilang. 

    Sedang empat pelaku yang diamankan tersebut berinisial D, A, A dan A, dua asal Tuban dan dua lainnya dari Lamongan.

    Kasi Humas Polres Lamongan,  Ipda M. Hamzaid saat dikonfirmasi wartawan mengaku belum mendengar informasi tersebut. 

    Meski begitu, karena ada informasi, kata Hamzaid, Propam Polres Lamongan akan mendalami  informasi tersebut.

    “Terima kasih kepada rekan media atas informasinya, Propam Polres Lamongan langsung kita terjunkan untuk mendalami informasi itu,” pungkasnya.

    Kasus Lain

    Kasus pemerasan yang melibatkan oknum pegawai Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Malang, telah memasuki agenda sidang pembacaan tuntutan.

    Diketahui, sidang tersebut digelar di Pengadilan Tipikor Surabaya pada Rabu (20/9/2023) lalu. 

    Sementara kedua terdakwa, yaitu oknum pegawai BPN Kabupaten Malang bernama Witono alias W (45) asal Desa Tirtomoyo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, serta Dwi Ari alias DA (31) asal Desa Pakisaji, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, yang memiliki peran sebagai biro jasa (calo/makelar), mengikuti jalannya sidang secara daring dari Lapas Kelas I Malang.

    Dalam tuntutan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Malang, M Fahmi Abdillah, kedua terdakwa dituntut dengan hukuman dua tahun penjara dan denda Rp 50 juta.

    Apabila denda itu tidak dibayarkan, maka akan diganti dengan pidana kurungan satu bulan.

    Kasi Intel Kejari Kota Malang, Eko Budisusanto membenarkan hal tersebut.

    “Keduanya terbukti telah melanggar Pasal 11 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Tuntutan inipun sesuai dengan dakwaan ketiga JPU,” ujarnya saat dikonfirmasi oleh TribunJatim.com, Kamis (21/9/2023).

    Eko Budisusanto juga menambahkan, selanjutnya persidangan akan kembali dilanjutkan pada Rabu (27/9/2023) mendatang dengan agenda pledoi.

    “Sidang mendatang, beragendakan mendengar nota pembelaan (pledoi) dari kedua terdakwa. Mereka selama persidangan juga telah mengakui perbuatan, dan menyesali perbuatannya,” pungkasnya.

    Seperti diberitakan sebelumnya, kedua terdakwa terlibat pemerasan dalam perkara pengurusan Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB).

    Salah satunya yang menjadi korban, adalah PT BOS (Bumi Omega Sejahtera) yang berujung pada laporan polisi.

    Dari laporan tersebut, Satreskrim Polresta Malang Kota melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Kantor BPN Kabupaten Malang pada Senin (20/2/2023).

    Sebagai informasi, pihak kepolisian melakukan OTT saat penyerahan uang senilai Rp 40 juta.

    Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com