Pimpinan Ponpes di Lombok Tengah Cabuli Ustazah Sejak Masih Santriwati

Pimpinan Ponpes di Lombok Tengah Cabuli Ustazah Sejak Masih Santriwati

 

Liputan6.com, Lombok Tengah – Kekerasan seksual di dunia pendidikan masih saja terjadi. Terakhir pimpinan pompes di Kabupaten Lombok Tengah NTB diduda melakukan rudapaksa terhadap seorang ustazah, bahkan perbuatan bejat itu dilakukan saat korban masih berstatus santriwati.

Ketua Badan Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH) Universitas Mataram (Unram), Joko Jumadi, Kamis (15/1/2026) mengatakan, pihaknya sudah memegang bukti dugaan rudapaksa tersebut dalam bentuk rekaman audio.

“Rekaman itu berisi pengakuan ustazah tentang perbuatan terduga pelaku. Rekaman itu ada dan sudah beredar,” katanya.

Ia menyampaikan, modus terduga pelaku pimpinan pondok pesantren bergelar tuan guru tersebut agar perbuatannya tidak terbongkar, korban dipaksa untuk bersumpah ‘nyatok’, meminta korban meminum air campur tanah dari makam yang dikeramatkan.

Joko mengungkapkan, dari hasil tindak lanjut penanganan BKBH Unram, jumlah korban melebihi satu orang. Hal itu terungkap dari keterangan lima santriwati yang mendatangi pihak BKBH Unram, Selasa (13/1/2026).

Salah seorang santriwati kepada pihak BKBH Unram mengaku bahwa terduga pelaku sempat memberikan handphone miliknya agar korban memotret salah satu bagian vital tubuhnya.

“Modusnya supaya dikasih doa khusus dari terduga pelaku. Untungnya, korban yang usia anak ini menolak,” ujarnya.

Ada juga terduga korban lain dari kalangan santriwati yang mengaku sempat dicium oknum pimpinan pondok tersebut.

Menurut hasil kajian BKBH Unram, perilaku pimpinan pondok pesantren ini sudah jauh menyimpang dengan mempengaruhi psikologis korban yang berstatus di bawah umur.