Perusahaan: Reuters

  • Paus Fransiskus Dijenguk PM Italia di RS, Sarapan Pagi hingga Terima Telepon

    Paus Fransiskus Dijenguk PM Italia di RS, Sarapan Pagi hingga Terima Telepon

    JAKARTA – Paus Fransiskus, yang menghabiskan hari ketujuh di rumah sakit saat ia berjuang melawan pneumonia.

    Paus bangun dari tempat tidurnya dan sarapan pada Kamis pagi, kata Vatikan.

    Paus berusia 88 tahun itu menjalani perawatan di rumah sakit Gemelli Roma sejak 14 Februari setelah mengalami kesulitan bernapas selama beberapa hari.

    Juru bicara Vatikan Matteo Bruni mengatakan Paus tidur nyenyak dan sarapan sambil duduk di kursi berlengan.

    Kondisi Paus stabil dan menunjukkan “sedikit perbaikan” dalam hasil tes darahnya baru-baru ini, kata Vatikan dilansir Reuters, Kamis, 20 Februari.

    Paus Fransiskus menderita pneumonia ganda, infeksi serius yang dapat meradang dan melukai kedua paru-paru serta membuat sulit bernapas.

    Dua uskup senior Katolik menyatakan harapannya untuk kesembuhan Paus.

    “Saya pikir ada harapan, dan dia akan berhasil melewatinya, terima kasih Tuhan,” kata Kardinal Spanyol Juan Jose Omella. Uskup Agung Italia Giuseppe Satriano menyebut Paus sebagai “pejuang” dan mengatakan, “Dia akan memenangkan pertempuran ini.”

    Vatikan mengatakan sebelumnya Paus menderita infeksi polimikroba, yang terjadi ketika dua atau lebih mikroorganisme terlibat.

    Paus Fransiskus akan dirawat di rumah sakit selama diperlukan untuk mengatasi “situasi klinis yang kompleks”.

    Paus dapat beraktivitas di sekitar kamar rumah sakitnya, menerima beberapa panggilan telepon dan terus mengerjakan beberapa dokumen.

    Gelombang pesan dukungan terhadap Paus Fransiskus datang dari seluruh dunia, lapor media resmi Vatikan.

    Adele Cucinotta, warga Roma, berada di luar rumah sakit Gemelli pada hari Kamis dan mengatakan dia bersyukur mendengar kondisinya membaik.

    “Saya sangat senang dia sedikit lebih baik,” katanya.

    Paus Fransiskus menerima kunjungan pada Rabu dari Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, pengunjung VIP pertamanya yang diketahui di rumah sakit.

    Paus bercanda dengan Meloni tentang beberapa orang yang bertaruh pada kematiannya, surat kabar Italia Corriere della Sera melaporkan pada Kamis.

    “Dia tidak kehilangan selera humornya,” kata Meloni.

    Penyakit terbaru Paus ini merupakan penyakit terbaru dalam sejarah panjang masalah kesehatan yang dideritanya selama bertahun-tahun.

  • Harga Emas Dunia Emas Kembali Cetak Rekor setelah Meningkatnya Minat terhadap Aset Safe Haven

    Harga Emas Dunia Emas Kembali Cetak Rekor setelah Meningkatnya Minat terhadap Aset Safe Haven

    Jakarta, Beritasatu.com – Harga emas dunia kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Kamis (20/2/2025). Hal itu menandai pencapaian tertinggi untuk ke-10 sepanjang 2025. Lonjakan harga emas ini didorong oleh permintaan yang meningkat terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global, khususnya akibat kebijakan tarif yang diterapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

    Melansir Reuters, Jumat (21/2/2025), harga emas spot tercatat naik 0,1% menjadi US$ 2.936,38 per ons, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi di angka US$ 2.954,69 per ons. Sebelumnya, harga emas mencatat rekor tertinggi di angka US$ 2.946,85 per ons pada Rabu (19/2/2025).

    Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup dengan kenaikan 0,7%, mencapai US$ 2.956,1 per ons. Sepanjang 2025, emas telah mengalami kenaikan sekitar 12% sejak awal tahun.

    Petinggi dan analis senior Logam Zaner Metals Peter Grant mengatakan, ketegangan perdagangan yang terus berlanjut menimbulkan kekhawatiran terhadap inflasi dan perlambatan ekonomi. Hal ini semakin memperkuat daya tarik emas sebagai aset safe haven hingga harga emas dunia cetak rekor.

    Pada Rabu (19/2/2025), Trump mengumumkan rencana penerapan tarif baru dalam waktu satu bulan terhadap berbagai komoditas, seperti kayu, mobil, semikonduktor, dan farmasi. Sejak resmi menjabat pada 20 Januari 2025, Trump telah mengenakan tarif 10% pada impor dari China, serta tarif 25% untuk baja dan aluminium.

    Selain kebijakan tarif, meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral juga turut mendukung lonjakan harga emas sepanjang tahun ini.

    “Kami terus mengamati adanya pembelian emas oleh bank sentral sepanjang tahun. Selain itu, aliran dana ke exchange-traded funds (ETF) emas juga mengalami peningkatan selama tiga hari berturut-turut,” ungkap Kepala Strategi Pasar Blue Line Futures Phillip Streible.

    Dalam perkembangan geopolitik, Trump kembali menjadi sorotan setelah menyebut Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, sebagai seorang diktator dan mendesaknya untuk segera mencapai kesepakatan damai guna menghindari ketidakstabilan lebih lanjut.

    Grant menilai bahwa kemungkinan tercapainya kesepakatan damai dapat mengurangi ketegangan geopolitik dalam jangka pendek, yang mungkin sedikit menekan harga emas.

    “Namun, harga emas dunia yang mencapai rekor tertinggi kemungkinan akan bertahan selama beberapa minggu ke depan, dengan tren kenaikan yang masih berlanjut karena faktor fundamental yang mendukung,” katanya.

    Sementara itu, risalah pertemuan kebijakan The Fed yang dirilis pada Rabu mengungkapkan bahwa kebijakan awal Trump meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi, sehingga bank sentral memilih untuk menunda pemangkasan suku bunga lebih lanjut.

    Selain emas dunia yang menguat, harga logam mulia lainnya juga mengalami penguatan. Harga perak spot naik 0,6% menjadi US$ 32,92 per ons, platinum naik 0,7% ke US$ 978,05 per ons, dan paladium menguat 1% menjadi US$ 978,02 per ons.
     

  • The Fed Wanti-Wanti Kebijakan Trump Bisa Hambat Penurunan Inflasi AS

    The Fed Wanti-Wanti Kebijakan Trump Bisa Hambat Penurunan Inflasi AS

    Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah pejabat The Federal Reserve (The Fed) menyebut ketidakpastian dari dampak beragam kebijakan Presiden Donald Trump berisiko menghambat upaya penurunan inflasi yang diperlukan bank sentral untuk melakukan pemangkasan suku bunga lebih lanjut.

    Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic mengatakan ekspektasi dasarnya adalah The Fed masih dapat melakukan penurunan suku bunga sebanyak dua kali masing-masing sebesar 25 basis poin pada akhir tahun ini. 

    “Namun ketidakpastian mengenai hal ini (kebijakan-kebijakan Trump) cukup signifikan. Ada banyak hal yang dapat terjadi yang dapat mempengaruhi kedua arah tersebut,” katanya dikutip dari Reuters, Jumat (21/2/2025).

    Bostic, yang bukan anggota komite penetapan suku bunga The Fed tahun ini, mengatakan perekonomian AS tidak sedang menghadapi ledakan inflasi baru. Dia juga mencatat bahwa tingkat pengangguran yang masih rendah sebesar 4% menunjukkan pasar tenaga kerja dalam keadaan sehat. 

    Namun, lanjutnya, ada antusiasme dan kekhawatiran luas di kalangan dunia usaha mengenai bagaimana pajak impor baru, peraturan imigrasi, dan perubahan peraturan akan mempengaruhi prospeknya.

    Sejak menjabat pada 20 Januari 2025, Trump telah melakukan serangkaian tindakan – atau ancaman terhadap tindakan tersebut – untuk mengenakan tarif terhadap barang-barang dari mitra dagang utama AS, termasuk China, Meksiko, dan Kanada.

    “Singkatnya, para pelaku usaha khawatir bahwa tarif dapat meningkatkan biaya. Banyak yang merasa yakin bahwa jika hal itu terjadi, maka mereka dapat menanggung biaya yang lebih tinggi dalam harga mereka,” kata Bostic.

    Adapun, upaya menurunkan inflasi menuju target The Fed sebesar 2% terbukti lebih sulit dibandingkan perkiraan banyak orang. Indeks harga konsumen tercatat meningkat 3% dari secara year on year (yoy) pada Januari lalu, laju tercepat sejak Juni 2024.

    Sementara itu, Presiden Fed St. Louis Alberto Musalem melihat perubahan kebijakan ke depan akan meningkatkan risiko bahwa inflasi akan terhenti di atas target bank sentral sebesar 2%, atau bergerak lebih tinggi. Hal ini akan mengharuskan bank sentral untuk menahan inflasi lebih lama. 

    Selain itu, dalam skenario terburuk jika pasar kerja juga melemah, mereka akan terpaksa memilih antara melawan inflasi dengan tingkat suku bunga yang lebih tinggi atau melindungi perekonomian dengan kebijakan yang lebih longgar.

    Musalem, yang berbicara kepada Economic Club of New York, tidak memberikan ekspektasi dasar mengenai jumlah penurunan suku bunga yang mungkin dilakukan pada tahun ini, meskipun dia mengatakan bahwa kebijakan suku bunga harus diturunkan setelah konvergensi inflasi ke target 2% The Fed sudah terjamin.

    “Pasar dan beberapa survei menunjukkan bahwa ekspektasi inflasi jangka pendek telah meningkat selama tiga bulan terakhir,” kata Musalem.

    Dia menambahkan, jika inflasi terjebak pada tingkat di atas target saat ini atau ekspektasi meningkat, jalur kebijakan moneter yang lebih ketat dibandingkan dengan jalur kebijakan moneter dasar (baseline) mungkin merupakan pilihan yang tepat.

    Sementara itu, Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee, yang biasanya merupakan salah satu pengambil kebijakan bank sentral yang lebih dovish, mengatakan sebelum kebijakan baru-baru ini dan ketidakpastian geopolitik, inflasi secara keseluruhan terlihat cukup baik dan turun secara substansial dari puncaknya pada pertengahan 2022. 

    Tarif yang diberlakukan Trump pada masa jabatan pertamanya tidak memiliki dampak material terhadap inflasi, kata Goolsbee, sebagian karena tarif tersebut lebih sempit dan mencakup cukup pengecualian sehingga jaringan pasokan tidak terpengaruh.

    Namun jika melihat rencana kebijakan tarif Trump yang lebih luas dan lebih tinggi, hal ini tergantung pada berapa banyak negara yang akan menerapkan tarif tersebut dan seberapa besar tarif yang akan diterapkan.

    “Dan semakin besar dampaknya terhadap dampak Covid-19, maka Anda akan semakin merasa gugup mengenai hal tersebut,” ujarnya.

    The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25%-4,50% pada pertemuan kebijakan bulan lalu. 

    Bank sentral AS diperkirakan akan kembali menahan suku bunga pada pertemuan 18-19 Maret mendatang karena para pejabat menunggu kejelasan lebih lanjut tentang bagaimana kebijakan baru pemerintah mempengaruhi perekonomian. Pasar keuangan sekarang memperkirakan hanya satu kali penurunan suku bunga Fed tahun ini.

  • Sebutan ‘Diktator’ dari Trump Bikin Zelensky Keki

    Sebutan ‘Diktator’ dari Trump Bikin Zelensky Keki

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sebagai ‘diktator tanpa pemilu’. Komentar ini disampaikan Trump beberapa jam setelah Zelensky mengkritik dirinya hidup diselimuti gelombang ‘disinformasi’ Rusia.

    Sebelumnya Zelensky menyampaikan Trump keliru menuduh Ukraina memulai perang dengan Rusia. Oleh sebab itu Trump menyebut Zelensky dengan istilah ‘diktator’.

    “Seorang Diktator tanpa Pemilu, Zelensky sebaiknya bergerak cepat atau negaranya tidak akan tersisa,” sebut Trump via media sosial Truth Social, Rabu (19/2/2024).

    Berbicara kepada wartawan di Kyiv, seperti dilansir AFP dan CNN, Kamis (20/2/2025), Zelensky membantah beberapa klaim tidak berdasar yang dilontarkan Trump. Dia pun memperkuat posisi Ukraina, bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang memerlukan keterlibatan langsung negaranya.

    Zelensky mengatakan justru dirinya menginginkan jaminan keamanan dari sekutu-sekutu Barat yang memungkinkan berakhirnya perang Ukraina tahun ini.

    Zelensky Kecewa dengan Sikap Trump

    Foto: Momen pertemuan pejabat AS-Rusia di Riyadh membahas perang Ukraina. (dok. Reuters)

    Zelensky mengaku dirinya menghormati sosok Trump. Oleh sebab itu dia menyayangkan sikap Trump pada dirinya.

    “Sangat disayangkan, Presiden Trump — saya sangat menghormatinya sebagai pemimpin negara yang sangat kami hormati, rakyat Amerika yang selalu mendukung kami — sayangnya (Trump) hidup di dalam ruang disinformasi ini,” sebut Zelensky, yang menuduh Rusia telah menyesatkan Trump.

    Trump melontarkan klaim keliru soal Ukraina memulai perang — klaim yang sejak lama digaungkan Kremlin dan para pendukungnya. Klaim ini disampaikan Trump, saat menanggapi keluhan Zelensky soal dirinya tidak diundang dalam pertemuan delegasi AS-Rusia di Arab Saudi.

    “Hari ini saya mendengar, ‘Oh baiklah, kami tidak diundang.’ Ya, Anda sudah di sana selama tiga tahun. Anda seharusnya mengakhirinya setelah tiga tahun. Anda seharusnya tidak pernah memulainya. Anda bisa saja membuat kesepakatan,” ujar Trump dalam komentarnya merujuk pada Zelensky.

    Trump pun mempertanyakan legitimasi Zelensky sebagai Presiden Ukraina. Dia menyerukan pemilu di Ukraina, yang dilarang dalam keadaan darurat militer.

    Trump bahkan mengklaim bahwa tingkat dukungan publik Ukraina terhadap Zelensky hanya mencapai ’empat persen’. Zelensky, dalam tanggapannya, menyebut isu perolehan diukungan keci berasal dari Rusia.

    Halaman 2 dari 2

    (aud/aud)

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Harga Emas Mencetak Rekor Tertinggi di Tengah Kekhawatiran Perang Dagang

    Harga Emas Mencetak Rekor Tertinggi di Tengah Kekhawatiran Perang Dagang

    Jakarta, Beritasatu.com – Harga emas dunia melonjak dan mencetak rekor tertinggi pada Kamis (20/2/2025), didorong oleh meningkatnya permintaan aset safe haven akibat ketidakpastian ekonomi global. Ancaman tarif baru dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memicu kekhawatiran perang dagang yang mendorong investor beralih ke emas.

    Dilansir dari Reuters, harga emas spot pada Kamis sempat mencapai level US$ 2.954,69, menandai rekor tertinggi ke-10 sepanjang tahun ini. Sementara itu, harga emas berjangka AS naik 0,7% menjadi US$ 2.956,10. Harga emas telah menguat sekitar 12% sepanjang tahun ini.

    Menurut analis senior logam di Zaner Peter Grant, ketegangan perdagangan yang berkelanjutan terus memicu kekhawatiran inflasi dan pertumbuhan ekonomi, sehingga meningkatkan minat terhadap emas sebagai aset safe haven dan membuat harga emas mencetak rekor tertinggi.

    Sebelumnya pada Rabu (19/2/2025), Trump menyatakan akan mengumumkan tarif baru untuk sektor kayu, otomotif, semikonduktor, dan farmasi dalam satu bulan ke depan atau lebih cepat. Sejak menjabat pada 20 Januari 2025, Trump telah memberlakukan tarif 10% untuk impor China serta 25% untuk baja dan aluminium.

    Kepala strategi pasar di Blue Line Futures Phillip Streible menambahkan, pembelian emas oleh bank sentral terus berlanjut sepanjang tahun.

    “Itu adalah salah satu faktor utama yang menopang harga emas. Selain itu, aliran dana ke ETF emas juga meningkat selama tiga hari berturut-turut, mencerminkan minat investor terhadap logam mulia ini,” ujarnya.

    Selain perang dagang, faktor geopolitik juga berkontribusi terhadap lonjakan harga emas. Trump pada Rabu menyebut Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy sebagai diktator dan mendesaknya untuk segera mencapai kesepakatan damai guna menghindari risiko kehilangan kendali atas negaranya.

    Peter Grant menilai potensi kesepakatan damai dapat meredakan ketegangan geopolitik dalam waktu sementara dan berpotensi menekan harga emas dalam jangka pendek. Namun, rekor tertinggi harga emas ini kemungkinan bertahan selama beberapa minggu.

    “Tren kenaikan masih akan berlanjut karena faktor fundamental yang tetap kuat,” katanya.

    Sejalan dengan harga emas dunia yang mencetak rekor tertinggi, harga emas Antam pada Kamis juga mencatat rekor setelah naik sebesar Rp 17.000 menjadi Rp 1,708 juta per gram.

  • Tanpa AS, Menlu Negara G20 Bertemu di Afsel di tengah Ancaman Perang Dagang

    Tanpa AS, Menlu Negara G20 Bertemu di Afsel di tengah Ancaman Perang Dagang

    JAKARTA – Para menteri luar negeri dari negara-negara ekonomi utama G20 bertemu di Afrika Selatan pada Kamis.

    Pertemuan terjadi di tengah ketegangan antara anggota mengenai perang Ukraina, perselisihan perdagangan dan diplomat utama AS yang menjauh karena perselisihan dengan tuan rumah.

    Negara-negara G20 yang mewakili sekitar 85% PDB global dan tiga-perempat perdagangan, seringkali kesulitan untuk mencapai kesepakatan.

    Namun keretakan geopolitik sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022 telah menjadikannya lebih terpecah dibandingkan sebelumnya.

    Perselisihan ini meningkat sejak Presiden Donald Trump menjabat sebulan lalu dan menerapkan perubahan cepat dalam kebijakan perdagangan dan luar negeri Washington.

    “Ketegangan geopolitik dan meningkatnya intoleransi, konflik dan peran mengancam hidup berdampingan secara global yang sudah rapuh,” kata Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, yang memegang jabatan presiden bergilir kelompok tersebut, dalam pidato pembukaan pertemuan dilansir Reuters, Kamis, 20 Februar.

    Afrika Selatan menilai pertemuan G20 yang pertama di benua ini sebagai peluang untuk mengajak negara-negara kaya agar memperhatikan kekhawatiran negara-negara miskin – memburuknya kesenjangan, tidak memadainya tindakan negara-negara kaya terhadap perubahan iklim, dan sistem keuangan yang lebih memihak bank investasi dibandingkan debitur negara miskin.

    “Mereka yang paling bertanggung jawab atas perubahan iklim, Anda mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk mendukung mereka yang paling tidak bertanggung jawab,” kata Ramaphosa.

    Dia juga menyerukan “keberlanjutan utang bagi negara-negara berpenghasilan rendah.”

    Amerika Serikat tidak hadir. Menteri Luar Negeri Marco Rubio awal bulan ini menolak agenda “keberagaman, kesetaraan dan inklusi” yang telah disepakati sebelumnya dengan alasan “sangat buruk”.

    Kemudian Trump menghentikan bantuan AS ke Afrika Selatan karena perselisihan ideologis dengan upaya Afrika Selatan untuk memperbaiki ketidakadilan rasial yang bersejarah dalam kepemilikan tanah – dan atas kasus genosida terhadap sekutu AS, Israel, di Mahkamah Internasional.

    Pertemuan tersebut terjadi ketika Trump telah mengubah kebijakan solidaritas AS dengan Ukraina ketika ia berupaya menjadi perantara perdamaian dalam perangnya dengan Rusia.

    Dia menyalahkan Presiden Volodymyr Zelenskiy atas konflik tersebut, dan mengesampingkan sekutu NATO dalam mengakhiri kampanye untuk mengisolasi Rusia.

    “Sebagai G20 kita harus terus mengadvokasi solusi diplomatik terhadap konflik,” sambung Ramaphosa yang menolak tekanan untuk mengisolasi Rusia atas invasi tersebut.

    Absennya AS merupakan peluang bagi China, yang merupakan negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, untuk memperluas pengaruhnya.

    Upaya-upaya yang dilakukan Beijing biasanya terfokus pada negara-negara Selatan, namun Tiongkok dengan cepat berupaya memanfaatkan celah yang ada dalam aliansi transatlantik tersebut.

    Kementerian luar negeri Tiongkok mengatakan pada hari Senin hubungan Tiongkok-Uni Eropa yang “sehat dan stabil” sangat dibutuhkan saat ini dibandingkan sebelumnya.

  • Politikus AS Akui Rusia Sudah Menangkan Ronde Pertama Melawan Trump – Halaman all

    Politikus AS Akui Rusia Sudah Menangkan Ronde Pertama Melawan Trump – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Seorang politikus Partai Demokrat di Amerika Serikat (AS) mengklaim Rusia telah memenangkan ronde pertama dalam pertarungan melawan Presiden AS Donald Trump.

    Jake Auchinos, nama politikus tersebut, mengatakan hal itu setelah Trump dalam beberapa hari belakangan berupaya mengakhiri perang Ukraina-Rusia.

    “Rusia telah memenangkan ronde pertama melawan Trump. Kremlin telah dinormalisasi dalam diplomasi bilateral tanpa menyertakan Ukraina dan NATO, dan Rusia tidak menyerahkan apa pun sebagai imbalannya,” kata Auchinos dalam tulisannya di media sosial X hari Kamis, (20/2/2025).

    Trump dan pemerintahannya menimbulkan kegemparan di Barat lantaran membahas upaya mengakhiri perang tanpa mengundang Ukraina dan NATO untuk ikut berbicara.

    Emma Ashford, seorang peneliti di lembaga kajian bernama Stimson Center di Washington, mengatakan tindakan pemerintahan Trump yang melakukan pembicaraan secara terbatas mungkin saat ini bisa dibenarkan.

    “Bahwa Ukraina tidak berada di dalam ruangan [pembicaraan] tentunya bukan hal yang ideal. Meski demikian, saya meyakini kelak Ukraina akan ikut dalam pembicaraan itu,” kata Ashford dikutip dari Reuters.

    “Namun, pemerintahan Trump barangkali benar karena menyertakan berbagai rekan Eropa di ruang pembicaraan mungkin bisa memunculkan terlalu banyak suara dan susah mencapai kemajuan apa pun.”

    Beberapa waktu lalu Trump menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin. Lalu, awal pekan ini para pejabat senior Rusia dan AS bertemu di Arab Saudi guna berembuk tentang upaya memperbaiki hubungan Rusia-AS yang memburuk saat Biden berkuasa.

    Trump memuji peran Arab Saudi dalam memfasilitasi pertemuan itu dan menyebutnya sangat sukses. Lalu, dia menekankan kembali upaya pemerintahannya untuk mengakhiri krisis Ukraina.

    Di sisi lain, pertemuan itu memicu ketegangan antara Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Zelensky berkata perundingan itu seharusnya tidak dilakukan tanpa keterlibatan Ukraina.

    Pernyataan Zelensky kemudian dikritik oleh Trump. Tak hanya itu, Trump menyebut Zelensky sebagai “diktator tanpa pemilu” yang menguras sumber daya AS dan tidak berusaha mencari solusi diplomatik dengan Rusia.

    Trump mengklaim Zelensky ingin “terus mendapat uang banyak dengan usaha kecil”.

    Zelensky tak bungkam saja atas kritik Trump. Sebelumnya, dia pernah menuding Trump menyebarkan “disinformasi dari Rusia” perihal angka kepuasan terhadap Zelensky yang kecil di Ukraina.

    Sementara itu, tiga pejabat intelijen Barat menyebut tidak ada bukti yang menunjukkan tujuan Putin telah berubah. 

    Ketiganya mengatakan Putin tetap ingin mempertahankan wilayah Ukraina yang sudah dicaplok Rusia. Lalu, Putin juga masih punya tujuan jangka panjangnya, yakni memperpanjang cengkeramannya di Eropa.

    “Putin tidak akan berhenti di Ukraina,” kata Darius Jauniskis, Direktur Departemen Keamanan Negara.

    Pakar: Rusia sudah menang lawan Barat

    Seorang sejarawan dan pakar politik internasional asal Jerman bernama Tarik Cyril Amar mengklaim Rusia telah menang melawan Barat setelah Trump menelepon Putin.

    “Itu jelas kabar baik bagi dunia karena AS akhirnya mengakhiri kebijakan buruk antidiplomasi terhadap Rusia, negara besar lainnya dengan banyak senjata nuklir,” kata Amar dikutip dari Russia Today.

    “Poin terpenting dari perbincangan telepon kemarin adalah bahwa Rusia sudah menang dalam perang melawan Barat.”

    Amar mengatakan perang di Ukraina adalah perang setengah proksi. Barat melawan Rusia secara tidak langsung, dan sering dengan setengah hati.

    Menurut dia, kekalahan Barat ini sebenarnya bisa dengan mudah dihindari jika Barat bersedia berkompromi dengan Rusia atau tetap menjauh dari perang antara Rusia dan Ukraina.

    “Sekaranga realitas terbarunya adalah bahwa Barat bisa dihentikan dan dipaksa untuk berunding dengan syarat-syarat dari musuhnya (Rusia), dan seluruh dunia mengetahui ini sebagai fakta yang telah teruji, empiris.”

    “Ini titik balik yang bersejarah dan kabar baik bagi kemanusiaan. Gaungnya akan terdengar selama puluhan tahun.”

    Amar berkata perang di Ukraina adalah tragedi yang begitu besar dan sebenarnya tidak diperlukan.

    Lalu, dia mengatakan apa yang bakal terjadi antara AS dan Rusia belum bisa diprediksi. Meski demikian, dia menyebut hubungan buruk antara AS dan Rusia bisa jadi akan mereda.

    Trump: Mengatasi konflik di Timteng dan Ukraina jadi tujuan utama

    Trump mengatakan mengatasi konflik di Timur Tengah dan Ukraina adalah tujuan utama kebijakan luar negeri AS saat ini.

    Politikus Partai Republik itu menegaskan kembali keinginannya untuk dikenang sebagai seorang “pencipta perdamaian” dan sosok pemersatu.

    Lalu dia, Trump mengklaim kemenangannya dalam Pilpres AS 2024 sangatlah penting demi mencegah pecahnya Perang Dunia Ketiga.

    Trump berujar jika lawannya saat itu, Kamala Harris, menang pilpres, perang berskala dunia bisa muncul hanya dalam waktu setahun.

    “Tak ada keuntungan apa pun bagi seseorang yang terlibat dalam Perang Dunia Ketiga, dan kalian tidak jauh-jauh amat dari perang itu,” ucap Trump dalam acara di Miami Beach hari Rabu, (20/2/2025), dikutip dari Sputnik.

    “Jika pemerintahan ini (Joe Biden) berlanjut hingga tahun berikutnya, kalian akan masuk ke dalam Perang Dunia Ketiga, dan sekarang perang ini tak akan terjadi.”

    Adapun dalam pidato perpisahan di Kementerian Luar Negeri bulan lalu, Joe Biden yang saat itu masih menjadi presiden berkata bahwa tujuan terbesarnya ialah “menyatukan dunia dan membela Ukraina” dan “mencegah perang di antara dua negara nuklir.”

    Trump mengkritik Biden dan para anak buahnya yang menurut Trump tak becus sekali. Dia kerap berujar bahwa berkat kepemimpinannya, ketegangan akibat Ukraina tidak akan memburuk menjadi konflik bersenjata.

    (*)

  • 7 Fakta Baru Good Bye Perang Rusia: Putin Buka Suara-Ukraina Kritis

    7 Fakta Baru Good Bye Perang Rusia: Putin Buka Suara-Ukraina Kritis

    Jakarta, CNBC Indonesia – Perang antara Rusia dan Ukraina masih terus terjadi hingga hari ini. Meski Moskow sudah bertemu delegasi dari Amerika Serikat (AS), yang merupakan sekutu dan penyokong utama Kyiv, belum ada tanda-tanda yang jelas kapan peperangan tersebut akan berhenti.

    Sebelumnya, Rusia melancarkan serangan skala besar terhadap Ukraina Timur atau Donbass pada 24 Februari 2024. Moskow berupaya merebut wilayah itu dengan alasan diskriminasi rezim Kyiv terhadap wilayah itu, yang mayoritas dihuni etnis Rusia, serta niatan Ukraina untuk bergabung bersama aliansi pertahanan Barat, NATO.

    Hingga saat ini, peperangan masih terus terjadi. Berikut perkembangan terbarunya sebagaimana dirangkum dari berbagai sumber oleh CNBC Indonesia, Kamis (19/2/2025):

    1. Putin Buka Suara soal Pertemuan AS-Rusia

    Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan diskusi itu sebagai awalan perdamaian yang baik. Meski belum menghasilkan perjanjian konkret, Putin menyebut pertemuan keduanya membuka kembali keran kerja sama AS-Rusia di berbagai konflik seperti Ukraina dan Timur Tengah.

    “Saya mengidentifikasi beberapa bidang yang berpotensi menjadi kepentingan bersama bagi Moskow dan Washington, termasuk kerja sama di Timur Tengah, khususnya mengenai konflik Israel-Palestina dan situasi di Suriah, serta kolaborasi ekonomi, upaya bersama di pasar energi internasional, dan eksplorasi ruang angkasa. Namun konflik yang sedang berlangsung di Ukraina tetap menjadi fokus utama bagi kedua negara,” ujarnya dikutip Russia Today (RT).

    Putin juga mengalamatkan pernyataan keras kepada sejumlah negara Eropa dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang merasa terganggu karena tidak dilibatkan dalam pembicaraan terkait perang Moskow dan Kyiv. Menurutnya, pembicaraan itu hanya membahas hubungan AS dan Rusia.

    “Apakah ada yang ingin bertindak sebagai perantara antara Rusia dan AS? Tuntutan seperti itu berlebihan. Membangun kembali kepercayaan antara Rusia dan AS sangat penting untuk mengatasi sejumlah masalah mendesak, termasuk menyelesaikan konflik Ukraina,” tambahnya.

    2. Trump Sebut Zelensky Diktator

    Sindiran keras juga dialamatkan Presiden AS Donald Trump. Presiden yang baru dilantik 20 Januari lalu itu bahkan menyebut Zelensky sebagai seorang diktator karena Zelensky tidak dipilih secara demokratis kembali untuk menjadi presiden. Diketahui, pemilihan umum di Ukraina ditunda karena perang.

    “Zelensky membujuk AS untuk menghabiskan US$ 350 miliar dolar, untuk terlibat dalam perang yang tidak dapat dimenangkan. Zelensky menolak untuk menyelenggarakan pemilu, posisinya sangat rendah dalam jajak pendapat Ukraina. Seorang diktator tanpa pemilu, Zelensky sebaiknya bergerak cepat atau dia tidak akan memiliki negara lagi,” kata Trump memperingatkan presiden Ukraina itu di akun X resminya.

    Di kesempatan yang berbeda, Trump juga mengatakan bahwa para pemimpin Ukraina itu seharusnya tidak pernah membiarkan konflik dimulai, yang mengindikasikan bahwa Kyiv seharusnya bersedia memberikan konsesi kepada Rusia sebelum mengirim pasukan ke Ukraina pada tahun 2022.

    “Hari ini saya mendengar, ‘Oh, baiklah, kami tidak diundang.’ Ya, Anda sudah berada di sana selama tiga tahun. Anda seharusnya mengakhirinya tiga tahun lalu,” kata Trump kepada wartawan di kediamannya di Florida. “Anda seharusnya tidak pernah memulainya. Anda bisa membuat kesepakatan.”

    3. Ukraina Kritis

    Kemajuan di medan perang kembali didapatkan oleh Rusia. Putin mengatakan Rusia telah memasuki Wilayah Sumy di timur laut Ukraina untuk pertama kalinya sejak 2022.

    Berbicara singkat tentang situasi medan perang dengan wartawan di St. Petersburg, Putin menyebut pada Rabu dini hari, para prajurit dari Brigade Infanteri Angkatan Laut ke-810 “melintasi perbatasan antara Federasi Rusia dan Ukraina dan memasuki wilayah musuh.”

    “Pasukan kami melakukan serangan di semua bagian garis depan,” tambahnya, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

    Kementerian Pertahanan Rusia kemudian mengunggah video rudal balistik Iskander yang menghantam posisi artileri Ukraina di Wilayah Sumy. Selain itu, ada juga rekaman prajurit infanteri Angkatan Laut Rusia yang menerbangkan pesawat nirawak kamikaze ke parit yang diisi tentara Kyiv.

    4. Trump Sebut Dirinya ‘Juru Selamat’ PD 3

    Presiden AS Donald Trump berpendapat bahwa kemenangan elektoralnya sangat penting dalam mencegah Perang Dunia III (PD3). Ia mengklaim bahwa jika mantan Wakil Presiden Kamala Harris terpilih November lalu, konflik global akan muncul dalam waktu satu tahun.

    Trump menegaskan kembali keinginannya untuk dikenang sebagai pembawa perdamaian dan pemersatu. Ia mengatakan bahwa menyelesaikan konflik di Timur Tengah dan Ukraina adalah tujuan utama kebijakan luar negerinya.

    “Tidak ada keuntungan bagi siapa pun dalam Perang Dunia III, dan Anda tidak begitu jauh darinya,” kata Trump kepada hadirin. “Jika kita memiliki pemerintahan ini selama satu tahun lagi, Anda akan berada dalam Perang Dunia III, dan sekarang itu tidak akan terjadi.”

    5. Zelensky Tuding Trump

    Presiden Ukraina Zelensky mengungkapkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah melempar kampanye disinformasi terhadapnya. Hal ini terjadi setelah Trump mengklaim tingkat penerimaan terhadap Zelensky sangat rendah, hingga 4%.

    Dalam pernyataannya, Zelensky mengutip jajak pendapat Ukraina sebagai bukti yang bertentangan dengan skeptisisme Trump tentang tingkat dukungan publik yang dinikmatinya.

    “Pejabat Ukraina menyadari disinformasi ini dan menyadari bahwa itu berasal dari Rusia. Saya menekankan jika ada yang ingin menggantikan saya sekarang, itu tidak akan terjadi,” ujarnya.

    6. Kremlin Bahas Pertemuan Trump-Putin

    Presiden Rusia Vladimir Putin dan mitranya dari AS, Donald Trump, dapat bertemu pada akhir Februari. Hal ini dikatakan Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov. Dalam pernyataannya, ia menyebut masih ada kendala yang harus diselesaikan mengenai pengaturan pertemuan, yang mungkin memakan waktu lebih lama.

    “Kedua pemimpin itu bisa bertemu bulan ini. Mungkin diperlukan lebih banyak waktu untuk mengatur pertemuan tatap muka pertama antara presiden Rusia dan AS sejak 2021, mungkin. Atau mungkin tidak,” kata Peskov.

    7. Warga Eropa Teriak

    Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengecilkan pengaruhnya dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) membuat warga di negara anggota aliansi itu resah. Keresahan dirasakan warga di negara NATO yang berbatasan dengan Rusia, yang bersitegang dengan aliansi itu setelah Moskow menyerang Ukraina.

    Mengutip Reuters, langkah-langkah Trump terhadap Ukraina, Rusia, dan pertahanan Eropa dalam beberapa hari terakhir telah menjungkirbalikkan keyakinan lama bahwa Washington akan bertindak sebagai penjamin keamanan benua itu.

    Dan dengan Trump yang tampaknya menyalahkan Kyiv karena memulai konflik dan pada saat yang sama mencairkan hubungan dengan Moskow, beberapa warga Polandia khawatir bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin akan merasa berani untuk menyerang lebih banyak negara, termasuk sejumlah negara NATO yang berbatasan dengannya.

    “Kebijakan luar negeri AS sangat menakutkan saya. Saya merasakan stabilitas ini, dan setelah Polandia bergabung dengan NATO, setelah bergabung dengan Uni Eropa, saya pikir kita memiliki momen perdamaian ini, tetapi ternyata itu hanya sesaat,” kata seorang warga Polandia bernama Katarzyna Paprota.

    Pensiunan Latvia bernama Silvija Spriedniece, 84 tahun, juga khawatir tentang kemungkinan agresi Rusia. Menurutnya, dengan kebijakan Trump yang sedikit melepaskan tangannya untuk Eropa, Putin dapat menjelma menjadi agresor.

    “Saya bukan politisi, tetapi saya mengerti bahwa Trump ini bukan pertanda baik bagi kita. Putin sudah menjadi agresor seperti Stalin, Hitler, dan yang lainnya. Kita tidak bisa mengharapkan sesuatu yang baik di sana,” tandasnya

    (sef/sef)

  • Macron Jadi Penjamin, Beberkan Isi Pertemuan Darurat Dedengkot Uni Eropa soal Perdamaian Ukraina – Halaman all

    Macron Jadi Penjamin, Beberkan Isi Pertemuan Darurat Dedengkot Uni Eropa soal Perdamaian Ukraina – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Negara-negara di Eropa yang bermitra dengan Ukraina menjalin persatuan dalam situasi perang dengan Rusia.

    Mereka menyatakan akan terus mendukung Ukraina dan memikul tanggung jawab atas perdamaian dan keamanan di Eropa.

    Demikian dikatakan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron setelah pertemuan darurat dengan mitranya di Uni Eropa dan Kanada, Islandia, serta Norwegia.

    “Kami mendukung Ukraina dan akan bertanggung jawab penuh untuk memastikan perdamaian dan keamanan di Eropa. Ini adalah kepentingan mendasar Prancis dan saya adalah penjaminnya,” tulis Presiden Prancis di  X pada Kamis (20/2/2025) pagi.

    Ia menekankan, Prancis dan mitra-mitranya memiliki pandangan yang sama dengan Presiden AS Donald Trump dalam mengakhiri perang yang dilancarkan Rusia terhadap Ukraina.

    Dalam upaya mereka untuk mencapai perdamaian, mitra Eropa akan terus mematuhi prinsip-prinsip berikut:

    Ukraina harus selalu diikutsertakan, dan hak-haknya harus dihormati.
    Perdamaian harus abadi dan disertai dengan jaminan yang kuat dan dapat dipercaya.
    Kekhawatiran keamanan orang Eropa harus diperhitungkan.

    “Kami yakin akan perlunya meningkatkan anggaran dan kemampuan pertahanan dan keamanan kami untuk Eropa dan masing-masing negara kami. Keputusan akan diambil dalam beberapa hari dan minggu mendatang,” tambahnya.

    Macron mengadakan pertemuan setelah utusan khusus Presiden AS untuk Rusia dan Ukraina, Keith Kellogg, menyatakan, AS tidak menganggap Eropa sebagai mitra di meja perundingan  untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina.

    Sebelumnya, pada Senin (17/2/2025), Presiden Prancis mengadakan pertemuan darurat yang dihadiri oleh para pemimpin negara-negara utama Uni Eropa dan Inggris – totalnya delapan negara – bersama dengan Sekretaris Jenderal NATO dan pejabat senior Uni Eropa.

    Menlu AS Membantah

    Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, pada hari Minggu (16/2/2025), menegaskan Uni Eropa akan ikut serta menjadi bagian dari setiap “perundingan nyata” untuk mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina.

    Pernyataan ini, dikemukakan Rubio guna menjawab sejumlah tudingan yang keluar setelah munculnya kabar AS bakal menggelar pertemuan minggu ini dengan Rusia.

    Rubio membantah tudingan yang menyebut, Uni Eropa tak akan dilibatkan dalam negosiasi damai di Ukraina setelah Rusia dan Amerika Serikat menggelar pertemuan di Arab Saudi dalam beberapa hari mendatang.

    Dikutip dari wawancaranya dengan CBS, Rubio mengatakan, proses perundingan belum dimulai secara serius kala kedua negara bertemu di Saudi pekan ini.

    Diplomat Amerika tersebut, mengaku Uni Eropa baru dilibatkan jika pembicaraan terkait negosiasi damai berkembang.

    Rubio memastikan, Ukraina dan negara-negara Eropa lainnya akan dilibatkan dalam setiap perundingan yang bermakna.

    “Pada akhirnya, kita harus menunggu hingga mencapai titik di mana pertemuan ini (dengan Rusia) menghasilkan sebuah perundingan nyata, dan kita belum sampai di sana” ungkap Rubio dalam acara “Meet the Press” di CBS.

    “Akan tetapi, jika kesepakatan itu terjadi, Ukraina harus dilibatkan karena mereka negara yang diserang, dan Eropa harus dilibatkan karena mereka juga memberlakukan sanksi terhadap Putin dan Rusia,” lanjut Rubio.

    “Tapi terus terang, Kita belum sampai di tahapan sana,” pungkas mantan senator Florida tersebut.

    Sebelumnya pada hari Minggu, Reuters melaporkan pejabat AS telah memberikan kuesioner kepada pejabat Eropa, antara lain menanyakan berapa banyak pasukan yang dapat mereka sumbangkan untuk menegakkan kesepakatan damai antara Ukraina dan Rusia.

    “Presiden Trump berbicara dengan Vladimir Putin minggu lalu, dan dalam percakapan itu, Vladimir Putin menyatakan minatnya pada perdamaian, dan presiden menyampaikan keinginannya untuk melihat konflik ini berakhir dengan cara yang tahan lama serta melindungi kedaulatan Ukraina,” kata Rubio.

    “Sekarang, jelas itu harus diikuti dengan tindakan, jadi beberapa minggu dan hari ke depan akan menentukan apakah ini serius atau tidak. Pada akhirnya, satu panggilan telepon belum bisa menciptakan perdamaian.” sambung Rubio

    Rubio mengatkan, pertemuan di Arab Saudi bukanlah hal yang mendadakan karena dirinya sebelumnya sudah dijadwalkan untuk melakukan kunjungan resmi jauh hari sebelum dialog dengan Rusia diumumkan.

    Ia juga mengaku, komposisi delegasi Rusia yang akan ditemuinya masih belum final.

    Ketika ditanya apakah ia telah membahas pencabutan sanksi terhadap Rusia selama panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada hari Sabtu (15/2/2025), Rubio menolak memberikan konfirmasi.

    Rubio hanya mengatakan, mereka tidak membahas detail pembicaraan apa pun untuk saat ini.

    Di lain pihak, Moskow menyatakan, kedua belah pihak telah membahas penghapusan “hambatan sepihak” yang diberlakukan oleh pemerintahan AS sebelumnya dalam hubungan dengan Rusia.

    Rubio mengatakan, ia memang membahas kondisi operasional “yang sulit” dari kedutaan AS di Moskow dengan Lavrov.

    Jika ada kemajuan dalam upaya perdamaian di Ukraina, baik Rusia maupun AS membutuhkan kedutaan yang berfungsi dengan baik di negara masing-masing, tambahnya.

    Kekhawatiran Uni Eropa

    EMMANUEL MACRON – Tangkapan layar YouTube Al Jazeera English pada Jumat (14/2/2025) yang menampilkan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Emmanuel Macron menghelat KTT darurat Uni Eropa pada hari Senin (17/2/2025) terkait perang di Ukraina. (Tangkap layar YouTube Al Jazeera English)

    Prasangka buruk terhadap pertemuan antara AS dan Rusia ini secara terang-terangan disampaikan oleh sejumlah pemimpin di negara-negara Uni Eropa.

    Hal ini terlihat dari upaya Presiden Prancis, Emmanuel Macron yang menghelat KTT darurat Uni Eropa pada hari Senin (17/2/2025) terkait perang di Ukraina.

    KTT darurat tersebut, digelar karena banyak pejabat di Uni Eropa yang mengaku terkejut dan “terguncang” oleh langkah-langkah administrasi Trump terkait Ukraina, Rusia, dan pertahanan Eropa dalam beberapa hari terakhir.

    Kekhawatiran utama mereka adalah, mereka tidak lagi dapat mengandalkan perlindungan militer AS.

    Selain itu, sejumlah petinggi Uni Eropa menilai Trump akan berusaha menandatangani kesepakatan damai dengan Putin secara sepihak tanpa mengikutsertakan masukan dari Uni Eropa di dalamnya.

    Upaya tersebut, diyakini Uni Eropa dilakukan Trump dan Putin untuk melemahkan Kyiv dan keamanan kontinental Eropa secara keseluruhan.

    Adapun pembicaraan yang direncanakan di Arab Saudi pada minggu ini, juga bertepatan dengan upaya AS untuk mencapai kesepakatan dengan Kyiv guna menguasai kekayaan sumber daya alam Ukraina.

    Dalam wawancara dengan NBC yang disiarkan pada hari Minggu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mempertanyakan apakah mineral di wilayah yang dikuasai Rusia akan diberikan kepada Putin.

    Trump, yang melakukan panggilan dengan Putin pada hari Rabu (12/2/2025) menyatakan bahwa pemimpin Rusia itu menginginkan perdamaian.

    Ia juga mengatakan pada hari Minggu, Putin tidak akan berusaha menguasai seluruh wilayah Ukraina.

    “Itu akan menjadi masalah besar bagi saya, karena Anda tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Saya pikir dia ingin mengakhirinya,” kata Trump kepada wartawan di West Palm Beach, Florida.

    Trump menambahkan, Zelenskyy akan dilibatkan dalam pembicaraan untuk mengakhiri konflik tersebut.

    (Tribunnews.com/ Chrysnha, Bobby)

    Artikel Lain Terkait Donald Trump dan Konflik Rusia vs Ukraina

  • TikTok Luntang-lantung, Trump Bicara Langsung ke China

    TikTok Luntang-lantung, Trump Bicara Langsung ke China

    Jakarta, CNBC Indonesia – Nasib TikTok di Amerika Serikat (AS) hingga kini masih luntang-lantung. Aplikasi di bawah naungan ByteDance asal China tersebut sempat tutup selama beberapa jam pada 19 Januari 2025.

    Namun, Presiden AS Donald Trump yang kala itu baru dilantik langsung mengeluarkan perintah eksekutif untuk menunda pemblokiran permanen TikTok hingga 90 hari untuk melakukan negosiasi lebih lanjut.

    Artinya, nasib TikTok di AS belum 100% aman. Dalam beberapa kesempatan, Trump memang mengisyaratkan keinginannya agar TikTok tetap beroperasi di AS.

    Kendati demikian, perlu dibuat kesepakatan yang menjadi solusi terbaik bagi semua pihak. Trump ingin agar kepemilikan TikTok di AS dibagi 50% untuk investor AS.

    Bahkan, Trump meluncurkan sovereign wealth fund (SWF) atau dana abadi yang disebut salah satunya bisa untuk membeli operasi TikTok di AS.

    Terbaru, Reuters melaporkan Trump mengaku sudah berbicara dengan China terkait nasib TikTok. Hal itu diungkap Trump ke para wartawan di Air Force One pada Rabu (19/2) waktu setempat, dikutip Kamis (20/2/2025).

    Trump mengisyaratkan bahwa pemerintah AS berupaya menjadi perantara penjualan aplikasi TikTok. Namun, belum banyak yang diungkap ke publik terkait diskusi Trump dengan China.

    Beberapa perusahaan sudah menyiratkan ketertarikan untuk memegang operasional TikTok di AS. Menurut sumber dalam, Oracle, Amazon, dan Microsoft, adalah beberapa nama yang tertarik.

    Sementara itu, TikTok dan para pendukungnya mendorong solusi lain. Dikutip dari The Wall Street Journal, pada awal Februari lalu, CEO TikTok Shou Chew bertemu dengan pejabat senior Gedung Putih dan memberikan proposal baru.

    Proposal itu berisi dorongan untuk membentuk usaha patungan atau joint venture dengan investor AS. Joint venture itu akan bermarkas di AS dan mengawasi keamanan data, menurut sumber yang familiar dengan proposal tersebut.

    Adapun manajemen akan sepenuhnya berbasis di AS. Sementara dewan direksi mayoritas akan berisi orang-orang AS. Apakah investor-investor yang dimaksud termasuk pemerintah AS masih menjadi pertanyaan besar.

    Kita tunggu saja bagaimana kesepakatan akhir antara pemerintah AS dengan TikTok dan ByteDance demi mempertahankan aplikasi populer tersebut di negeri Paman Sam.

    (fab/fab)