Perkuat Sinergi dengan BNPB, ITB Dorong Penanganan Bencana Berbasis Riset dan Teknologi Bandung 12 Januari 2026

Perkuat Sinergi dengan BNPB, ITB Dorong Penanganan Bencana Berbasis Riset dan Teknologi
                
                    
                        
                            Bandung
                        
                        12 Januari 2026

Perkuat Sinergi dengan BNPB, ITB Dorong Penanganan Bencana Berbasis Riset dan Teknologi
Tim Redaksi
BANDUNG, KOMPAS.com
– Kolaborasi antara perguruan tinggi dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus diperkuat sebagai upaya strategis dalam menghadapi risiko kebencanaan di Indonesia.
Sinergi ini tak hanya di fokuskan pada penanganan darurat, tetapi juga pemulihan berkelanjutan, edukasi publik, serta pembangunan kesadaran kolektif masyarakat terhadap ancaman bencana.  
Rektor Institut Teknologi Bandung (
ITB
), Tatacipta Dirgantara mengatakan bahwa penanganan bencana tidak bisa diselesaikan oleh suatu pihak atau satu disiplin keilmuan.
Karenanya, pihak kampus mendorong kerja lintas institusi dengan
BNPB
dan pemangku kepentingan lain agar tidak bekerja terpisah.  
“Iya, jadi kita tahu bahwa bencana ini tuh gak bisa diselesaikan hanya oleh satu orang atau satu bidang saja. sinergi ini akan sangat penting buat Indonesia. Kampus mungkin gak punya cukup sumber daya, tapi untuk jangka panjang, mengurangi risiko mencegah kerugian dan korban, saya kira tugas kampus sangat strategis di situ gitu ya untuk berkoordinasi dengan BNPB,” ucap Tatcipta disela gelaran acara workshop dan Galeri Tanggap Bencana Abhinayra, di ITB, Kota Bandung, Senin (12/1/2026).
Ia menegaskan, peran kampus bersifat strategis dalam jangka panjang untuk pengurangan risiko, pencegahan kerugian, dan korban.
Melalui kolaborasi tersebut, perguruan tinggi berkontribusi pada edukasi publik, riset terapan serta dukungan teknis lapangan. 
Dalam penaganganan bencana di wilayah Sumatera, ITB telah menjalankan sejumlah program berbasis kolaborasi, terutama penyediaan air bersih berkapasitas 1.000 hingga 7.000 liter per jam yang telah terpasang di puluhan titik.
ITB juga bekerja sama dengan UIN Ar-Raniry, Universitas Syiah Kuala, Universitas Samudera dan Universitas Malikulsaleh untuk memperluas implementasi teknologi tersebut melalui workshop. 
Selain itu, tim ITB terlibat dalam pembersihan sumur terdampak lumpur menggunakan pompa submersible, pengeboran air tanah, pembersihan fasilitas umum dan sekolah, serta dukungan psikososial melalui jejaring alumni dan mitra kemanusiaan.
Pengelolaan donasi dilakukan bersama mitra agar lebih lincah secara administratif dengan pelaporan yang transparan. 
“Makanya kita kerja sama dengan alumni, kerja sama dengan Rumah Amal Salman. Dan itu kita laporkan secara transparan setiap hari, apa yang sudah dikerjakan, uang yang terkumpul berapa, uang yang dikeluarkan berapa,” ucapnya. 
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya jati mengapresiasi peran aktif perguruan tinggi, khususnya ITB dalam seluruh fase penanganan bencana, mulai dari masa darurat, transisi, hingga pemulihan.
Menurutnya, kontribusi akademis tidak hanya pada penyediaan barang atau teknologi, tetapi juga pada pendekatan yang berpusat pada masyarakat.  
“Ini menjadi penting untuk bagaimana pemulihan, tidak hanya infrastruktur, tapi ada sosial ekonomi dan juga psikosoial, dan tidak hanya short term, ini kita harus mulai melihat jangka pendek seperti apa, jangka menengah seperti apa, jangka panjang bagaimana sekarang harus kita perhatikan untuk membangun kembali lebih baik,” ucapnya. 
Raditya menegaskan bahwa kerjasama dengan perguruan tinggi ini telah berjalan melalui forum pengurangan risiko kebencanaan, namun perlu diperkuat agar lintas kampus dan lintas keilmuan dapat terintegrasi dengan agenda nasional, termasuk isu perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. 
“Jadi nggak bisa lagi kita sendiri-sendiri in silo, bahkan tidak hanya kampusnya, tapi juga keilmuannya, sektoralnya. Ada perubahan iklim, ada bencana, ada SDGs, semuanya punya target-target yang kita pastikan itu bisa terintegrated bersama,” tutunya.
Raditya menambahkan bahwa kampus memliki peran strategis dalam literasi dan edukasi kebencanaan untuk membangun budaya sadar bencana.
“Jadi harapannya dengan adanya (kolaborasi) kampus-kampus, tidak hanya pada saat tanggap darurat saja, tapi upaya mengurangi risikonya. Maksud tadi keahlian dalam pemetaan, membangun perencanaan bagaimana pemulihan, bagaimana membangun kapasitas. Kita bicara generasi 10-15 tahun kedepan, jadi kampus tempat melakukan literasi edukasi kebencanaan,” ucapnya.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.