Pengelola Monas Pastikan Chairlift Gratis untuk Lansia dan Penyandang Disabilitas Megapolitan 9 Januari 2026

Pengelola Monas Pastikan Chairlift Gratis untuk Lansia dan Penyandang Disabilitas
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        9 Januari 2026

Pengelola Monas Pastikan Chairlift Gratis untuk Lansia dan Penyandang Disabilitas
Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com –
Pengelola kawasan Monumen Nasional (Monas) memastikan fasilitas
chairlift
atau kursi angkat di dalam area Tugu Monas dapat digunakan secara gratis bagi pengunjung yang membutuhkan, khususnya lansia dan penyandang disabilitas.
Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Monas, Muhammad Isa Sarnuri, menjelaskan bahwa fasilitas tersebut disediakan untuk membantu pengunjung dengan keterbatasan mobilitas agar tetap dapat menikmati seluruh area Monas, termasuk ruang diorama dan pelataran cawan.
“(Bisa dimanfaatkan) Gratis,” ujar Isa saat dikonfirmasi
Kompas.com
pada Jumat (9/1/2025).
Namun, Isa menegaskan, penggunaan
chairlift
diperuntukkan bagi lansia, penyandang disabilitas, serta pengunjung lain yang memiliki kendala fisik tertentu, bukan untuk penggunaan umum tanpa kebutuhan khusus.
Isa menjelaskan, pengadaan
chairlift
di kawasan Monas telah dilakukan secara bertahap sejak 2020 dengan sumber anggaran dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf).
Realisasi tahap awal dilakukan di dekat pintu masuk Museum Monas. Selanjutnya,
chairlift
dipasang pada rute dari ruang diorama menuju tangga tengah yang mengarah ke pelataran cawan Monas.
Pada 2025, fasilitas serupa kembali ditambahkan di titik pintu keluar Museum Monas yang terhubung dengan ruang diorama.

Chairlift
digunakan untuk membantu lansia dan penyandang disabilitas untuk dapat berkunjung ke ruang diorama dan puncak Tugu Monas,” jelas Isa.
Ke depan, pengelola Monas juga berencana menambah satu rute
chairlift
baru. Yakni dari ruang tengah ke pelataran Utara.
“Insya Allah
di anggaran tahun ini. Sehingga nanti bisa digunakan di dua sisi (dekat pelataran selatan dan utara),” lanjutnya.
Di lapangan, masih banyak pengunjung lansia yang belum mengetahui bahwa fasilitas
chairlift
dapat digunakan secara gratis.
Salah satunya adalah Eli Nursari (59), wisatawan asal Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, yang ditemui Kompas.com pada Jumat. Ia memanfaatkan
chairlift
karena kondisi kakinya sudah tidak lagi prima akibat faktor usia dan pernah mengalami kecelakaan.
“Kalau naik tangga sebenarnya masih kuat. Asalkan pelan-pelan. Kalau turun tangga itu saya yang sulit. Kaki bagian bawah sakit jika tertekuk kan,” kata Eli.
“Saat ditawari petugas buat naik ini saya langsung iyakan. Sekaligus mencoba. Jadi cepat naik-turun tangganya. Buat lansia kayak saya naik turun itu satu demi satu tangga lho,” jelasnya.
Eli menilai, fasilitas tersebut perlu disosialisasikan lebih luas agar pengunjung memahami fungsi dan status gratisnya.
“Tadi soalnya saya sempat bertanya ini gratis apa bayar? Karena kan kursinya bagus ya,” tuturnya.
Hal serupa juga dirasakan Lukita (64), pengunjung Monas lainnya. Ia mengaku awalnya mengira
chairlift
merupakan fasilitas berbayar sehingga sempat ragu menggunakannya.
“Kalau saya sebenarnya masih kuat naik dan turun tangga ya. Apalagi kalau bareng cucu-cucu begini, malu kalau naik itu kan. Tapi infonya saya mau kasih tahu ke teman-teman,” kata Lukita.
Ia menilai keberadaan
chairlift
merupakan bentuk fasilitas publik yang penting di kawasan wisata.
“Fasilitasnya bagus. Memang kalau tempat wisata sebaiknya ada fasilitas seperti ini untuk membantu yang kesulitan mobilitas,” tuturnya.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.