FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Upaya diversifikasi pangan nasional terus diperkuat melalui riset dan inovasi di lingkungan perguruan tinggi. Salah satu langkah strategis tersebut dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Sudirman Numba MS, peneliti Universitas Muslim Indonesia (UMI), yang secara konsisten memantapkan pengembangan kentang industri sebagai alternatif pangan non beras.
Penelitian ini dinilai relevan dalam menjawab tantangan ketahanan pangan nasional di tengah ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai pangan pokok utama.
Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia menghadapi tantangan serius dalam menjaga stabilitas pasokan pangan. Ketergantungan yang tinggi terhadap satu komoditas pangan pokok, yaitu beras, berpotensi menimbulkan kerentanan apabila terjadi gangguan produksi, perubahan iklim ekstrem, maupun tekanan global. Dalam konteks inilah, kentang dipandang sebagai salah satu komoditas strategis yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber karbohidrat alternatif.
Prof. Sudirman Numba menjelaskan bahwa kentang memiliki sejumlah keunggulan yang menjadikannya layak dikembangkan sebagai pangan non beras. Selain kandungan gizinya yang baik, kentang juga memiliki fleksibilitas tinggi dalam pengolahan, baik sebagai pangan segar maupun sebagai bahan baku industri pangan. “Kentang tidak hanya berfungsi sebagai komoditas hortikultura, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi pangan industri yang bernilai tambah tinggi,” ujarnya.
Penelitian yang dikembangkan oleh Prof. Sudirman dan tim berfokus pada penguatan aspek hulu, khususnya penyediaan benih kentang industri yang bermutu. Selama ini, salah satu kendala utama pengembangan kentang industri di Indonesia adalah keterbatasan benih berkualitas serta ketergantungan pada benih impor. Kondisi tersebut berdampak langsung pada tingginya biaya produksi dan rendahnya daya saing petani.
