Pedagang Cangcimen Jakarta Terus Bertahan di Celah Kota yang Semakin Tertata Megapolitan 13 Januari 2026

Pedagang Cangcimen Jakarta Terus Bertahan di Celah Kota yang Semakin Tertata
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        13 Januari 2026

Pedagang Cangcimen Jakarta Terus Bertahan di Celah Kota yang Semakin Tertata
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
 Di tengah kota yang terus bergerak menuju wajah yang lebih rapi, tertib, dan modern, masih ada denyut kehidupan ekonomi yang bertahan di jalur-jalur sempit, trotoar, dan ruang-ruang abu-abu yang luput dari perencanaan.
Pedagang kacang, kuaci, permen (cangcimen) atau asongan menjadi bagian dari lanskap tersebut, hadir tanpa etalase, papan nama, maupun kepastian ruang.
Mereka berjalan kaki dari satu titik ke titik lain, menawarkan kebutuhan kecil yang sering kali tidak direncanakan, tetapi terasa dibutuhkan ketika muncul di hadapan mata.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar bayangan nostalgia, melainkan aktor ekonomi yang terus beradaptasi dengan perubahan zaman.
Pedagang cangcimen tidak beroperasi di ruang yang sepenuhnya legal, tetapi juga tidak bisa disebut ilegal secara tegas.
Mereka berada di wilayah abu-abu regulasi, memanfaatkan celah aturan yang tidak secara eksplisit melarang keberadaan mereka di banyak ruang publik.
Pengamat sosial Rissalwan Habdy Lubis menilai, keberadaan pedagang cangcimen merupakan bentuk mekanisme bertahan hidup yang berkembang di kalangan masyarakat kelas bawah perkotaan.
Ia menilai, aktivitas ini bukan sekadar pilihan ekonomi, tetapi juga inovasi sosial yang lahir dari keterbatasan ruang dan kesempatan.
“Ini memang salah satu strategi atau
coping mechanism.
 Jadi, mekanisme bertahan yang bisa kita sebut sebagai suatu inovasi sosial bagi masyarakat kelas menengah bawah agar mereka itu bisa bertahan dengan cara menjadi penyedia kebutuhan,” kata Rissalwan saat dihubungi, Senin (12/1/2026).
Ia menjelaskan, pedagang cangcimen memahami betul bahwa pasar yang mereka hadapi semakin kecil dan risiko penertiban selalu mengintai.
Namun, selama aturan tidak diterapkan secara tegas dan seragam, ruang untuk bertahan masih terbuka.
“Jadi mereka tahu nih, mereka bertahan di situ pasarnya kecil, kemudian mungkin bisa dikejar-kejar sama Satpol PP. Tapi sekali lagi itu kan aturannya juga tidak pernah di eksplisit, tidak pernah tegas di tempat-tempat tertentu, mungkin beda dengan misalnya di kereta di KRL,” ungkapnya.
Keputusan pedagang cangcimen untuk tetap bertahan bukan semata-mata didorong oleh kebutuhan ekonomi, tetapi juga oleh kombinasi antara peluang dan harapan.
Rissalwan menilai, rasa belas kasihan masyarakat menjadi salah satu faktor penting yang membuat aktivitas ini tetap berjalan.
Di sisi lain, para pedagang menyimpan harapan sederhana agar dagangan tersebut cukup untuk menopang kehidupan sehari-hari di kota besar.
“Jadi mereka bertahan ini karena memang ada dua hal, pertama itu karena ada peluang, kemudian yang kedua karena ada harapan ya. Jadi peluang itu dari faktor dari luar si pelakunya, tapi peluang yang kedua itu adalah rasa atau belas kasihan orang,” ujarnya.
Dalam pandangan Rissalwan, pedagang cangcimen menjalankan aktivitas ekonomi yang sangat pragmatis dan transaksional.
Mereka tidak membangun ikatan jangka panjang dengan pelanggan, tidak menetap di satu lokasi dan tidak menggantungkan hidup pada loyalitas konsumen tertentu. Mobilitas justru menjadi kunci utama untuk bertahan.
“Saya kira memang murni ekonomi ya, ini sifatnya transaksional dan karena ini kan pedagang keseluruhan ini kan
mobile
ya, dan dia tidak di satu tempat,” kata dia.
Seiring kemajuan kota, ruang bagi pedagang cangcimen semakin menyempit. Penataan trotoar, terminal, halte, dan kawasan bisnis membuat pedagang kecil kerap tersingkir lebih dulu.
Namun, Rissalwan menilai, kemajuan kota selalu diikuti oleh konsekuensi sosial yang harus dihadapi bersama.
“Ya tentunya, semakin besar kota, semakin maju kota kan inginnya lebih tertib, lebih teratur, jadi konsekuensi logis dari kemajuan kota adalah tanda kutip ancaman bagi pedagang-
pedagang asongan
, cangcimen ini itu akan semakin besar,” katanya.
Ia menekankan bahwa selama permintaan terhadap kebutuhan instan masih ada, pedagang cangcimen akan terus muncul di celah-celah kota yang belum sepenuhnya tertutup regulasi.
“Jadi apalagi ya ini kaitannya dengan
demand
-nya ada, bukan
demand
-nya tidak ada. Jadi kalau seandainya
demand
-nya tidak ada, mereka ini akan hilang gitu, tapi demand-nya ada, karena tadi faktor peluang tidak diatur secara tegas,” ujar dia.
Berbeda dengan budaya jajan di gerai ritel modern, cangcimen hadir sebagai penyedia kebutuhan instan yang sering kali tidak direncanakan.
Rissalwan menilai, cangcimen bukan bagian dari budaya jajan modern, melainkan respons atas kebutuhan spontan masyarakat.
“Tapi, cangcimen ini bukan belanja, cangcimen ini adalah penyedia kebutuhan instan, tisu, minuman kopi yang sebetulnya, kita enggak berencana tuh, tapi begitu kelihatan langsung dibeli gitu,” kata dia.
Pada akhirnya, Rissalwan melihat pedagang cangcimen sebagai bagian dari ekosistem kota yang tidak bisa hilang sepenuhnya.
“Dan itu adalah ekosistem, bagian dari ekosistem perkotaan, yang akan ada terus tidak akan bisa dihilangkan sama sekali,” katanya.
Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Jakarta, masih ada pedagang cangcimen yang bertahan di sudut-sudut jalan.
Salah satunya Hidayat (52), pedagang asal Tasikmalaya yang hampir setiap hari menghabiskan waktu dari pagi hingga sore di sekitar Halte Matraman, Jakarta Timur.
Di lokasi itu, ia menggantungkan hidup dengan menawarkan dagangan kepada penumpang dan warga yang melintas perlahan.
Bagi Hidayat, kehidupan sebagai pedagang asongan bukanlah hal baru. Ia telah menjalani pekerjaan itu selama bertahun-tahun.
“Iya, asongan udah lama, udah sempat balik kampung balik lagi sekarang. Udah Puluhan tahun lah,” kata Hidayat saat ditemui di Matraman, Jakarta Timur, Senin (12/1/2026).
Ia mengingat masa ketika halte dan terminal masih menjadi ruang yang relatif terbuka bagi pedagang kecil.
Bus dan angkutan umum berhenti lebih lama, memberi kesempatan bagi pedagang asongan masuk dan menawarkan barang dagangan berupa permen atau makanan ringan.
Namun, seiring perubahan aturan dan percepatan sistem transportasi, ruang gerak itu kian menyempit dan pedagang kecil terdorong ke pinggir.
Kondisi tersebut juga dirasakan Hidayat. Kini, ia tak lagi bisa masuk ke dalam bus seperti dulu dan hanya mengandalkan penumpang atau warga yang lewat.
“Iya, benar dulu mah enak bisa masuk bis, sekarang enggak bisa. Kalau sekarang kayak gini angkutan yang lewat atau kayak warga lewat,” katanya.
Rutinitas Hidayat dimulai sejak dini hari. Ia datang ketika aktivitas kota belum sepenuhnya berjalan dan bertahan hingga petang. Jam kerja panjang itu dijalani demi memperbesar peluang dagangan terjual.
“Biasa setiap hari di sini dari jam 06.00 WIB pagi sampai sore saya sampai jam 18.00 WIB lah,” kata dia.
Penghasilan yang didapat pun tidak menentu. Tidak ada kepastian berapa dagangan yang terjual dalam sehari.
Kadang dagangan sepi, kadang habis lebih cepat. Namun secara umum, hasil yang diperoleh hanya berkisar puluhan ribu rupiah.
“Kalau sehari bisa dapat Rp. 40.000, Rp.50.000 itu dibagi lagi buat makan Rp 10.000 sisanya dikirim ke kampung,” ujar dia.
Dengan pendapatan yang terbatas, Hidayat tidak mampu menyewa kos atau kontrakan. Untuk beristirahat, ia memilih bermalam di musala.
Tempat itu menjadi ruang singgah sekaligus tempat memulihkan tenaga sebelum kembali berdagang keesokan hari.
“Saya tidur masih di musala. Kalau ngonrtak kan enggak mampu, mahal. Enggak kayak dulu. Tapi di musala itu pasti hari-hari saya tidur di musala,” kata dia.
Cerita serupa juga datang dari Arman, pedagang cangcimen lain yang masih bertahan di Matraman.
Lebih dari dua dekade ia menjalani pekerjaan yang sama, dengan jenis dagangan yang nyaris tak berubah dari waktu ke waktu.
Perjalanan Arman sebagai pedagang dimulai dengan mengikuti saudaranya yang lebih dulu berjualan. Jalanan menjadi ruang belajar sekaligus tempat ia memahami ritme kehidupan kota.
“Dulu mah modal nekat. Awalnya ikut abang sepupu, dia duluan jualan. Saya diajarin beli barang di grosir. Pertama mah muter di sekitar pasar sama terminal,” kata Arman saat ditemui di Matraman, Senin.
Arman terus bertahan bukan karena nostalgia, melainkan karena keterbatasan pilihan dan kebiasaan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Meski pembeli tak seramai dulu, ia memilih tetap berjualan.
“Ya ini yang bisa saya lakuin. Udah kebiasa. Lagian masih ada aja yang beli, walau enggak rame kayak dulu,” kata dia.
Di tengah perubahan wajah kota dan tekanan penertiban, harapan pedagang cangcimen seperti Arman terbilang sederhana.
Mereka tidak menuntut banyak, hanya berharap diberi ruang untuk tetap mencari nafkah.
“Pengennya jangan diusir terus. Dikasih tempat dikit aja. Kita juga cuma nyari makan, Bang,” kata Arman berharap.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.