Pameran Foto Au Loim Fain di Surabaya, Ketika Anak-anak Pekerja Migran Jadi Cerita Tak Terucap
Tim Redaksi
SURABAYA, KOMPAS.com
– Di balik hiruk pikuk perayaan akhir tahun 2025, Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Jawa Timur menghadirkan ruang sunyi yang mengajak pengunjung berhenti sejenak.
Melalui
pameran foto
dokumenter bertajuk ”
Au Loim Fain
“, fotografer
Romi Perbawa
menampilkan potret kehidupan anak-anak
pekerja migran
, kelompok yang kerap berada di pinggir perhatian, tetapi menyimpan persoalan kemanusiaan yang mendalam.
Pameran ini digelar pada 18–22 Desember 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Imigran Internasional yang jatuh setiap tanggal 18 Desember dan Hari Ibu di tanggal 22 Desember.
Dua momentum yang secara simbolis merepresentasikan perjalanan, kehilangan, serta relasi anak dan orang tua dalam pusaran migrasi tenaga kerja.
Bagi Romi, “Au Loim Fain” menjadi pameran tunggal foto dokumenternya yang pertama di
Surabaya
.
Meskipun sebagian karyanya berasal dari buku foto yang juga pernah dipamerkan di ArtJog 2023.
“Daripada nganggur di rumah dan belum pernah pameran tunggal dokumenter di Surabaya, akhirnya pameran di sini,” kata Romi kepada jurnalis, termasuk
Kompas.com.
“Saya berharap dengan pameran ini bisa menginspirasi atau menumbuhkan kepedulian teman-teman semua terhadap permasalahan migran worker ini, terutama pada anak-anak. Karena di sini banyak sekali yang tidak muncul di permukaan terhadap permasalahan anak-anak yang perlu perhatian dari kita semua,” tutur dia.
Judul “Au Loim Fain” diambil dari bahasa Nusa Tenggara Timur yang memiliki arti “Aku Ingin Pulang”.
Ungkapan tersebut berasal dari kata-kata terakhir Adelina Sau, pekerja migran Indonesia yang meninggal akibat penyiksaan di Malaysia.
Kalimat tersebut merepresentasikan kerinduan, kehilangan, dan keterasingan yang dialami banyak pekerja migran dan anak-anak mereka.
“Au Loim Fain” adalah proyek dokumenter jangka panjang yang dimulai sejak tahun 2012.
Berawal dari pertemuannya dengan seorang
anak pekerja migran
yang memberikan ikatan emosional, membuat isu ini terus ditekuni.
“Saya mengetahui kehidupannya dan terpikir juga bagaimana anak-anak migran worker lainnya,” kata Romi Perbawa.
“Saya selalu punya idealisme bahwa untuk mengubah nasib bangsa ke arah yang lebih baik harus dimulai dengan didikan anak-anak karena ini sangat penting,” ucap dia.
Untuk itu, dalam riset di lapangan, ia menemukan berbagai persoalan serius yang dihadapi anak-anak pekerja migran, baik yang ditinggalkan di daerah asal maupun yang lahir di negara penempatan.
Seperti di Malaysia, khususnya wilayah Sabah, banyak anak pekerja migran Indonesia hidup tanpa status kewarganegaraan yang jelas.
Keadaan orangtua mereka yang ilegal berdampak pada kondisi mereka yang rentan dieksploitasi.
“Di beberapa foto tersebut, anak-anak yang orangtuanya lahir di Indonesia dan anaknya lahir di Malaysia, jadi selama ini statusnya abstain kecuali diadopsi orang Malaysia,” ujar fotografer dokumenter internasional itu.
“Anak-anak ini kalau orangtuanya ilegal ketika ada operasi dan ditangkap, mereka juga ikut dipenjara karena tidak ada sanak saudara, termasuk saat dideportasi juga ikut,” kata dia.
Kini, sekitar 20 karya dipamerkan dalam “Au Loim Fain”, termasuk sejumlah foto yang dicetak hitam putih di atas media akrilik dengan efek buram.
Foto-foto tersebut diambil saat ia mendokumentasikan kehidupan di Rumah Merah, pusat tahanan sementara di Sandakan.
“Mereka bukan hanya karena kriminal, tapi juga lahir dan besar di Malaysia. Mereka bukan penjahat dan pencuri, tapi menerima nasib seperti itu,” ucap Romi Perbawa.
“Ada yang hamil sampai melahirkan di dalam penjara. Saya memotret ratusan orang, itu pengalaman yang masih terngiang-ngiang sampai sekarang,” ujar dia.
Selain Malaysia, ia mendokumentasikan kehidupan pekerja migran di Hong Kong, dengan persoalan berbeda seperti status tidak berdokumen dan tekanan ekonomi.
Romi Perbawa mengakui proyek ini membawa banyak tantangan besar, baik teknis maupun mental.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya proses membangun kepercayaan dengan subyek foto.
“Kan kita kalau mengerjakan proyek itu tidak tahu dapat foto apa, tapi tahu permasalahannya dulu. Bagaimana yang saya foto bisa menerima sehingga keberadaan saya tidak mengganggu. Jadi itu proses juga,” kata fotografer yang pernah menerbitkan buku foto “The Riders of Destiny” (2014).
“Selanjutnya saya tidak mengerjakan proyek seperti ini lagi karena berat di psikologis,” ucap Romi.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Pameran Foto Au Loim Fain di Surabaya, Ketika Anak-anak Pekerja Migran Jadi Cerita Tak Terucap Surabaya 21 Desember 2025
/data/photo/2025/12/21/6947c7f76276c.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)