Noble Academy, Oase Pendidikan untuk Anak Cerdas Istimewa yang Sempat Terasing Megapolitan 7 Oktober 2025

Noble Academy, Oase Pendidikan untuk Anak Cerdas Istimewa yang Sempat Terasing
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        7 Oktober 2025

Noble Academy, Oase Pendidikan untuk Anak Cerdas Istimewa yang Sempat Terasing
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Anak dengan kemampuan berpikir di atas rata-rata kerap menghadapi tantangan besar di sekolah reguler.
Bagi anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa (CIBI), potensi intelektual luar biasa sering muncul bersamaan dengan kerentanan emosional yang tinggi.
Fenomena inilah yang melatarbelakangi berdirinya Noble Academy, sebuah sekolah swasta di Jakarta yang dirancang khusus bagi anak-anak CIBI.
Mengusung slogan “
Gifted and Talented Education
”, sekolah ini hadir sebagai ruang aman bagi anak-anak dengan kecerdasan istimewa yang sering kali tak menemukan tempatnya di sistem pendidikan konvensional.
School Principal Noble Academy, Eunike Saliman (32), menjelaskan bahwa fokus pendidikan di sekolahnya bukan hanya mengasah otak, melainkan juga membangun fondasi sosial dan emosional yang kuat agar anak-anak CIBI tumbuh seimbang.
“Karena mereka ini memang unik, kan. Fundamentalnya,
big idea
-nya ada dua, diferensiasi kurikulum dan pembelajaran sosial emosional,” ujar Eunike kepada
Kompas.com,
Selasa (7/10/2025).
Menurut Eunika, anak-anak CIBI memerlukan sistem pendidikan yang fleksibel dan dapat menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak yang berbeda satu sama lain.
Sehingga, penyeragaman cara belajar pun tak akan efektif bagi anak-anak CIBI.
Eunike menjelaskan, anak-anak CIBI biasanya memiliki IQ tinggi dan kemampuan belajar cepat, bahkan dapat memahami pelajaran setara dengan anak beberapa tingkat di atasnya.
Karena itu, Noble Academy menerapkan diferensiasi kurikulum, yang menyesuaikan pelajaran dengan kemampuan dan minat masing-masing anak.
“Misalnya ada anak masih kelas 2 SD, tapi kemampuannya sudah bisa setara dengan kelas 5 SD. Kalau di sekolah biasa, dia kan ada
textbook
, enggak bisa lompat. Tapi kalau ikuti itu, nanti dia jenuh, bosan, potensinya malah enggak tergali,” kata Eunike.
Diferensiasi tersebut juga meliputi cara masing-masing anak mempelajari sebuah pelajaran. Sekolah akan mencoba menyesuaikan dengan minat dan bakat yang tersimpan di dalam diri masing-masing anak.
“Misalnya ada anak yang enggak suka tampil di video, nanti ditugaskannya bikin
podcast
yang ada suaranya saja. Jadi kita memberikan fleksibilitas,” ujarnya.
Namun, di balik kecerdasan luar biasa itu, anak-anak CIBI kerap menghadapi dilema emosional.
Mereka bisa berpikir setara anak yang lebih tua, tapi memiliki kematangan emosional jauh di bawah usia biologisnya.
“Perkembangan kognitifnya bisa setara dengan anak yang beberapa tahun lebih tua, tapi perkembangan emosinya justru bisa beberapa tahun di bawah usia biologisnya. Celah inilah yang membuat mereka sangat rentan,” papar Eunike.
Pada kondisi tertentu, anak CIBI justru bisa terpukul dan merasakan sakit hati yang berkali-kali lipat saat gagal dibanding anak lainnya. Pasalnya, mereka sangat sensitif terhadap stimulus dan cenderung kesulitan mengendalikan emosi yang dirasakan.
Menurut Eunike, anak-anak CIBI merasakan emosi secara lebih dalam dibanding anak-anak pada umumnya. Kompleksitas ini menjadi tantangan utama dalam mengembangkan potensi mereka.
“Persepsi orang kan kalau IQ-nya tinggi berarti pintar, encer otaknya. Itu tidak salah. Tetapi kondisi mereka tidak hanya sebatas itu. Ada dinamika emosi yang kompleks mereka rasakan,” jelasnya.
Masalah ini sering membuat anak-anak CIBI kesulitan berbaur di sekolah reguler dan dicap “aneh”.
“Menurut anak-anak CIBI ini, orang lain itu aneh. Tapi menurut orang lain, ya anak-anak ini yang aneh. Masalahnya berputar terus di situ. Makanya, mereka butuh belajar untuk mengendalikan emosi dan berempati dengan orang lain,” kata Eunike.
Untuk menjawab tantangan itu, Noble Academy mengembangkan pembelajaran sosial emosional (
Social Emotional Learning
/SEL) sebagai pilar utama kurikulumnya.
“Bagaimanapun sistem pembelajaran bagi anak, fondasi utamanya adalah SEL ini, karena tanpa kestabilan emosi, kecerdasan mereka sulit berkembang, termasuk berpengaruh juga ketika nanti mereka dewasa,” tambahnya.
Pendekatan SEL meliputi latihan mengatur emosi, menghadapi kegagalan, validasi perasaan, serta membangun empati—tujuannya agar anak-anak CIBI memiliki ketangguhan mental dalam kehidupan sosialnya.
Eunike mengakui, sebagian besar siswa Noble Academy merupakan murid pindahan dari sekolah reguler yang pernah menjadi korban
bullying
.
Untuk itu, sekolah berupaya memberikan pengalaman baru yang menyembuhkan trauma mereka, termasuk pengalaman pahitnya dengan teman ataupun guru di sekolah.
“Misalnya ada anak trauma karena gurunya tidak pernah memberikan apresiasi. Ya sudah, sekarang guru-guru kami sebisa mungkin memberikan apresiasi yang logis buat dia, sehingga dia
re-experience
itu dan pelan-pelan menghapus lukanya,” kata Eunike.
Noble Academy mencoba memastikan di sekolah barunya, anak-anak CIBI tidak akan mendapat perlakuan yang sama, sehingga persepsi mereka mengenai teman-teman di sekolah yang kerap dianggap “jahat” dapat berubah seiring perkembangannya.
Salah satu murid Noble Academy, Sky (12), berbagi kisah perubahannya setelah pindah dari sekolah reguler.
“Di sekolah lamaku dulu, apa pun yang aku lakukan, aku disebut
attention seeker
sama yang lain. Setelahnya, aku jadi pendiam, enggak berani bicara,” ujar Sky.
Sky mengaku tak mengerti mengapa teman-temannya menganggap dirinya sebagai anak aneh dan pencari perhatian, padahal dia hanya mencoba mengekspresikan diri sesuai dengan emosi yang tengah dirasakannya.
Menurut dia, teman-teman dan gurunya di sekolah lamanya tidak memperbolehkannya menjadi dirinya sendiri, dan memaksa dirinya melawan pikirannya sendiri.
Kendati demikian, ia mengaku kini merasa lebih bebas mengekspresikan diri dan belajar sesuai minatnya.
“Semenjak pindah ke Noble, aku jadi lebih aktif dan lebih bahagia. Aku udah enggak jadi anak yang pendiam lagi,” kata Sky tersenyum.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.