Negara: Palestina

  • Perlawanan di Tepi Barat Gunakan Sejumlah Peledak Rakitan Melawan Agresi Israel di Jenin dan Nablus – Halaman all

    Perlawanan di Tepi Barat Gunakan Sejumlah Peledak Rakitan Melawan Agresi Israel di Jenin dan Nablus – Halaman all

    Perlawanan di Tepi Barat Gunakan Sejumlah Peledak Rakitan Melawan Agresi Israel di Jenin dan Nablus

    TRIBUNNEWS.COM- Perlawanan Palestina di Tepi Barat terus mempertahankan kota dan rakyatnya melawan agresi Israel.

    Brigade Silat al-Harithiya Jenin, yang beroperasi di bawah Brigade al-Quds, mengumumkan konfrontasi sengit dengan pasukan pendudukan Israel di berbagai sumbu tempur di Silat al-Harithiya, di mana para pejuangnya menghujani pasukan infanteri dan kendaraan militer Israel dengan peluru yang mengenai sasaran secara langsung. 

    Para pejuang Perlawanan juga berhasil meledakkan alat peledak rakitan (IED) Sijjil di dalam kendaraan militer yang sedang dalam perjalanan untuk mendukung pasukan Israel lainnya yang mengepung sebuah rumah, dan berhasil mengenai sasaran secara langsung. 

    Mereka juga menanam beberapa ranjau Sijjil dan KJ37 ​​di rute yang mengarah ke pintu masuk kota, yang dilalui oleh kendaraan Israel.

    Brigade Syuhada al-Aqsa, pada bagiannya, menargetkan IOF dengan rentetan tembakan selama serangan mereka di kota Nablus di Tepi Barat.  

    Brigade tersebut juga mengumumkan bahwa para pejuang mereka menyergap sebuah unit infanteri pendudukan Israel di dalam kamp Fara’a pada hari Minggu, dan berhasil meledakkan alat peledak berkekuatan tinggi, menargetkan unit tersebut sambil melepaskan rentetan tembakan ke arah mereka.

    Hal ini terjadi di tengah serangkaian penggerebekan dan serangan yang dilakukan oleh IOF terhadap sejumlah kota dan kamp di Tepi Barat, termasuk penyerbuan wilayah barat Nablus dari pos pemeriksaan Deir Sharaf, wilayah sekitar Kamp al-Ain di sebelah barat Nablus, dan desa Kafr Malik di timur laut Ramallah.

    Agresi terhadap Tuba terus berlanjut

    Sementara itu, pasukan pendudukan Israel melanjutkan agresi militer dan pengepungan terhadap kamp Fara’a dan kota Tammoun, selatan Tubas, untuk hari kedua berturut-turut.  

    Sejak awal penyerbuan, pasukan pendudukan telah menghancurkan jalan dan infrastruktur menuju kamp Fara’a, menutup semua pintu masuknya dengan gundukan tanah, menyerbu rumah-rumah di sekitar kamp, ​​memaksa penduduk untuk mengungsi, dan mengubah tempat tersebut menjadi pos-pos militer.

    Pasukan pendudukan juga menyerbu rumah-rumah di pinggiran kota Tammoun, memaksa penduduk untuk mengungsi dan memberi tahu mereka bahwa mereka tidak diizinkan kembali selama 10 hari. 

    Selain itu, buldoser Israel menghancurkan jaringan pipa air yang menghubungkan Tamoun ke desa Atouf dan memblokir jalan antara kedua daerah tersebut dengan gundukan tanah.  

    Sementara itu, Kamal Bani Odeh, direktur Masyarakat Tahanan di Tubas, melaporkan bahwa pasukan pendudukan menahan 10 warga Palestina dari kamp Tammoun dan Fara’a.

    Ledakan dahsyat guncang Kamp Pengungsi Jenin

    Pasukan Israel telah menghancurkan 100 bangunan di Jenin , menurut laporan dari media Israel pada hari Minggu. 

    Penghancuran skala besar tersebut merupakan bagian dari operasi militer yang sedang berlangsung di Tepi Barat yang diduduki, yang telah mengakibatkan kerusakan parah pada infrastruktur dan pengungsian massal.

    Laporan-laporan Israel menggambarkan kampanye pembongkaran di Jenin sebagai “yang pertama dari jenisnya”, dengan mencatat bahwa operasi itu dilakukan di bawah arahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Keamanan Israel Katz.

    Media Palestina melaporkan Pasukan Pendudukan Israel (IDF) meledakkan beberapa bangunan di kamp pengungsi Jenin pada hari Minggu. 

    Menurut sumber-sumber lokal, sekitar 20 bangunan di bagian timur kamp tersebut dipasangi bahan peledak dan diledakkan secara bersamaan, dengan ledakan keras yang terdengar di seluruh kota dan daerah sekitarnya.

     

     

    SUMBER: AL MAYADEEN

  • Warga Gaza pada Dasarnya Jahat dan Tidak Layak Diberi Ampun

    Warga Gaza pada Dasarnya Jahat dan Tidak Layak Diberi Ampun

    PIKIRAN RAKYAT – Seorang anggota dewan yang ditunjuk Trump untuk United States Holocaust Memorial Council melancarkan serangan pedas terhadap warga Palestina di Gaza, dengan mengatakan bahwa mereka pada dasarnya jahat dan tidak layak untuk diberi ampun.

    Dalam tajuk rencana di surat kabar The Jerusalem Post, Martin Oliner, yang terpilih menjadi anggota dewan beberapa hari sebelum kerusuhan 6 Januari, membela pernyataan presiden AS baru-baru ini yang menyerukan pembersihan etnis warga Palestina dari Gaza hingga negara-negara Arab seperti Mesir dan Yordania.

    Oliner, yang menjabat sebagai ketua Religious Zionists of America, presiden Culture for Peace Institute, dan juga sering menjadi kolumnis di The Jerusalem Post, mengatakan bahwa mereka yang peduli dengan penderitaan rakyat Palestina seharusnya memberikan pujian yang melimpah kepada Trump karena cukup peduli untuk menemukan solusi positif bagi masalah mereka saat ini.

    “Dan mereka seperti saya yang tidak percaya bahwa warga Gaza layak mendapatkan belas kasihan juga seharusnya menyambutnya. Jangan berbasa-basi di sini. Rakyat Gaza bersalah secara kolektif,” tulisnya.

    “Tindakan rakyat Gaza membuktikan bahwa mereka membutuhkan pendidikan detoksifikasi sebelum rekonstruksi dapat dimulai. Mereka pada dasarnya jahat, dan mereka harus membayar harga atas tindakan mereka,” ia menambahkan.

    Pandangan Rasis dan Penuh Kebencian

    Pernyataan Oliner menuai kritik keras dari Dewan Hubungan Amerika-Islam (Cair), yang meminta Trump untuk segera mencopotnya dari jabatannya di Dewan Peringatan Holocaust Amerika Serikat.

    “Tidak dapat diterima bagi siapa pun yang percaya bahwa semua anak dan setiap orang lain dalam suatu populasi ‘pada dasarnya jahat’ dan tidak layak mendapatkan ‘belas kasihan’ untuk memegang jabatan di organisasi mana pun, baik entitas swasta maupun publik,” kata Cair.

    “Pandangan rasis dan penuh kebencian seperti inilah yang mengarah pada kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk genosida di Gaza,” jelasnya.

    Pengusiran Rakyat Palestina

    Minggu lalu, beberapa hari setelah gencatan senjata diberlakukan di Gaza, yang mengakhiri perang selama 15 bulan, Trump menggambarkan Gaza sebagai lokasi pembongkaran dan mengatakan akan lebih baik jika dibersihkan semuanya.

    “Saya ingin Mesir menerima orang. Anda berbicara tentang sekitar satu setengah juta orang, dan kita bersihkan saja semuanya dan berkata: ‘Anda tahu, ini sudah berakhir’,” kata Trump saat itu.

    Mesir dan Yordania, sekutu utama AS di kawasan tersebut, telah berulang kali menolak usulan Trump, dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi mengatakan warga Mesir akan turun ke jalan untuk menyatakan ketidaksetujuan mereka.

    “Pengusiran rakyat Palestina dari tanah mereka adalah ketidakadilan yang tidak dapat kami lakukan,” kata Sisi.

    Pada hari Sabtu, menteri luar negeri dan pejabat dari Mesir, Yordania, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Otoritas Palestina, dan Liga Arab mengatakan usulan Trump akan mengancam stabilitas di kawasan tersebut, menyebarkan konflik, dan merusak prospek perdamaian.

    “Kami menegaskan penolakan kami terhadap setiap upaya untuk mengkompromikan hak-hak Palestina yang tidak dapat dicabut, baik melalui kegiatan permukiman, atau penggusuran atau pencaplokan tanah atau melalui pengosongan tanah dari pemiliknya,” kata mereka dalam pernyataan bersama.***

    Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News

  • 70 Orang Tewas Akibat Serangan Israel di Tepi Barat Sejak Awal 2025

    70 Orang Tewas Akibat Serangan Israel di Tepi Barat Sejak Awal 2025

    Jakarta

    Israel terus melancarkan serangan ke Tepi Barat. Total sudah 70 orang tewas sejak Israel menyerang Tepi Barat awal tahun 2025.

    Dikutip AFP, Selasa (4/2/2025), Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan pasukan Israel telah menyerang Tepi Barat dan mengakibatkan 70 orang tewas. Jumlah itu terhitung sejak awal tahun 2025.

    “Tujuh puluh martir di Tepi Barat sejak awal tahun ini,” kata Kementerian Kesehatan.

    Kementerian Kesehatan Palestina menerangkan dari 70 orang itu, 10 di antaranya anak-anak, satu wanita, dan dua lansia. Kementerian Kesehatan menyebut mereka tewas akibat serangan Israel.

    “Dibunuh oleh pendudukan Israel,” kata Kementerian tersebut.

    (whn/whn)

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Hamas Siap Negosiasi Gencatan Senjata Tahap 2 di Gaza

    Hamas Siap Negosiasi Gencatan Senjata Tahap 2 di Gaza

    Jakarta

    Hamas siap memulai pembicaraan tentang rincian tahap kedua gencatan senjata di Gaza. Hamas telah melakukan komunikasi dengan para mediator.

    “Hamas telah memberi tahu para mediator, selama komunikasi dan pertemuan yang sedang berlangsung dengan para mediator Mesir minggu lalu di Kairo, bahwa kami siap untuk memulai negosiasi untuk tahap kedua. Kami meminta para mediator untuk memastikan agar mematuhi perjanjian dan tidak menunda,” kata seorang pejabat Hamas, dikutip AFP, Senin (3/2/2025).

    Berdasarkan ketentuan perjanjian gencatan senjata tahap pertama yang dimulai 19 Januari, tahap pertama berlangsung pembebasan 33 sandera Israel dengan imbalan sekitar 1.900 tahanan, sebagian besar warga Palestina, yang ditahan di penjara Israel.

    Tahap kedua diharapkan mencakup pembebasan sandera yang tersisa dan mencakup diskusi tentang akhir perang yang permanen.

    Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan akan memulai diskusi tentang tahap kedua dengan utusan Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff.

    Perdana Menteri Israel saat ini berada di Washington dan dijadwalkan bertemu Trump pada hari Selasa.

    (idn/whn)

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Perlawanan di Tepi Barat Gunakan Sejumlah Peledak Rakitan Melawan Agresi Israel di Jenin dan Nablus – Halaman all

    Operasi Militer IDF di Tepi Barat Cuma Kedok, Israel Mau Caplok Seluruh Wilayah Palestina – Halaman all

    Operasi Militer IDF di Tepi Barat Cuma Kedok, Israel Mau Caplok Seluruh Wilayah Palestina

    TRIBUNNEWS.COM – Pasukan pendudukan Israel (IDF) dilaporkan melanjutkan agresi militer mereka terhadap provinsi Jenin dan Tulkarm di Tepi Barat.

    Operasi militer IDF tersebut bahkan meluas pada Minggu (2/2/2025) hingga mencapai provinsi Tubas di Tepi Barat utara.

    IDF mengklaim, agresi besar-besaran ini untuk menumpas gerakan perlawanan Palestina yang terus tumbuh dan membesar.

    Namun, sejumlah indikator di lapangan menunjukkan kalau Israel tidak sekadar mau memberangus perlawanan, namun juga secara penuh menganeksasi alias mencaplok seluruh Tepi Barat. 

    Menurut banyak kesaksian dari penduduk Palestina di daerah ini, operasi militer IDF yang sedang berlangsung ini adalah yang terbesar dan paling kriminal dalam beberapa tahun terakhir di wilayah Palestina tersebut. 

    “Seorang penduduk kamp Jenin, yang hidup pada masa invasi “Tembok Pertahanan” pada 2002 lalu, membenarkan bahwa pendudukan saat ini lebih parah penduduk dan telah menyebabkan kerusakan yang lebih besar pada kamp Jenin dan fasilitas kota,” tulis laporan Khaberni, dikutip Senin (3/2/2025).

    Sebagai informasi, agresi militer Israel kali ini di Tepi Barat dinamakan “Operasi Tembok Besi”.

    Tentara pendudukan Israel memulai agresinya terhadap kota Jenin pertama 13 hari yang lalu.

    Agresi IDF tersebut kemudian meluas ke kota Tulkarem dan kamp-kampnya 7 hari lalu.

    “Minggu pagi, agresi tersebut mencapai provinsi Tubas, di mana pasukan pendudukan Israel menyerbu Kamp Far’a dan kota Tamoun,” kata laporan Khaberni. 

    Segera setelah penyerbuan, tentara pendudukan mengusir banyak keluarga dari rumah mereka di Al-Far’ah dan Tamoun dan mengubahnya menjadi barak militer.

    Agresi Militer Cuma Kedok, Israel Luaskan Wilayah Pendudukan

    Terkait agresi dan tujuan pendudukan Israel dalam operasi militer ini, analis dan pakar urusan Israel, Suleiman Basharat, mengatakan kepada Quds News Network kalau indikator operasi militer pendudukan di Tepi Barat utara yang diduduki mengkonfirmasi perluasan geografisnya wilayah pendudukan secara bertahap.

    “Pihak Israel tidak menyembunyikan (membantah) hal ini baik di tingkat militer maupun dalam tataran politik. Ini dikonfirmasi setelah perluasan operasi militer itu dari Jenin ke Tulkarem dan kemudian Tubas dalam waktu kurang dari dua minggu.

    Satu di antara indikator itu juga diungkapkan Relawan kemanusiaan dalam organisasi Doctors Without Borders (Dokter Lintas Batas).

    Mereka mengungkapkan, pada Senin (3/2/2025) kalau tentara pendudukan Israel menggusur 20.000 warga Palestina di Jenin, dan 6.000 warga di Tulkarm.

    Organisasi itu mengatakan kalau ada sekitar 150 hingga 180 rumah rusak di kedua kota tersebut akibat agresi Israel yang terus berlanjut.

    Adapun Basharat menekankan kalau waktu dan lingkungan operasi menunjukkan bahwa pendudukan memiliki tujuan politik yang ditutupi dengan kedok keamanan militer.

    “Hal ini sesuai dengan visi politik Israel yang bertujuan untuk mencaplok Tepi Barat sepenuhnya, terutama karena pemerintah pendudukan melihat bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk melaksanakan rencana aneksasi dan mengendalikan lahan seluas-luasnya, dan kembali membentuk geografi dan demografi, serta menggambar ulang lanskapnya,” kata dia.

    AGRESI – Kendaraan militer Pasukan Pendudukan Israel (IDF) saat agresi militer di Hebron, Tepi Barat. Menjelang gencatan senjata di Jalur Gaza, pasukan Israel mengintensifkan pengamanan di semua wilayah Tepi Barat. (khaberni/tangkap layar)

    Proyek AS-Israel

    Ia menambahkan, satu di antara tujuan operasi militer IDF ini adalah untuk menghapus sistem politik Palestina dan mengubah keberadaan Palestina di Tepi Barat menjadi “pusat-pusat populasi terisolasi yang dikelilingi oleh penghalang, pos pemeriksaan militer, dan permukiman tanpa perwakilan politik Palestina.”

    Ia menjelaskan, dimulainya operasi agresif oleh IDF segera setelah berakhirnya perang genosida di Jalur Gaza mencerminkan adanya proyek politik Israel-Amerika Serikat.

    AS memang berkontribusi dalam mencapai gencatan senjata di Gaza dan melaksanakan kesepakatan pertukaran tahanan yang dianggap banyak entitas Israel sebagai sebuah kesalahan.

    Pertukaran sandera dan tahanan dalam konteks gencatan senjata ini dianggap Hamas jua sebagai klaim kemenangan perlawanan Palestina atas agresi militer Israel di Gaza.

    Namun, sebagai gantinya dari ‘kekalahan’ Israel di Jalur Gaza tersebut, AS dia nilai memberikan keleluasaan bagi pendudukan Israel untuk menguasai Tepi Barat.

    Basharat menegaskan, operasi militer dan intensifikasi agresi terhadap kamp-kamp Palestina bersamaan dengan penghentian kerja Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) oleh Israel.

    “Ini mencerminkan tujuan Israel untuk menghilangkan pihak-pihak yang lantang menyuarakan masalah pengungsi Palestina dan memberi lebih banyak tekanan pada mereka,” kata dia.

    Ia menekankan bahwa aturan militer Israel kini resmi berlaku di Tepi Barat, melalui pos-pos pemeriksaan dan pemisahan provinsi-provinsi Palestina.

    Israel juga mengendalikan semua aspek kehidupan dan menghancurkan infrastruktur, dalam rangka menggambar ulang peta populasi dan distribusi geografis. di Tepi Barat dan menghapus identitas yang dimiliki oleh provinsi-provinsi tersebut.

    Terkait serangan para pemukim Yahudi Israel yang menyertai agresi militer IDF, Basharat mengatakan bahwa tidak mungkin memisahkan praktik kekerasan oleh para pemukim dan tentara IDF. 

    “Sumber dari praktik-praktik ini adalah bersifat kelembagaan yang menjadi dasar pendudukan Israel, sementara peran antara tentara pendudukan Israel dan milisi pemukim diintegrasikan untuk mencapai tujuan aneksasi dan kontrol atas Tepi Barat,” katanya.

    PENGEBOMAN JENIN – Asap hitam membumbung setelah pesawat pendudukan Israel mengebom sejumlah bangunan di Jenin, Tepi Barat, Minggu (2/2/2025). Israel dilaporkan memperluas agresi militer mereka di Tepi Barat yang mengindikasikan perluasan daerah aneksasi dari wilayah Palestina.

    Unjuk Kekuatan Seusai Kalah di Gaza

    Di sisi lain, peneliti dan penulis, Sari Arabi mengatakan kalau IDF berusaha menampilkan kekuatannya di Tepi Barat setelah cenderung tidak berhasil menuntaskan target dalam perang Gaza.

    “Negara pendudukan berusaha menunjukkan dirinya sebagai negara yang kuat dan proaktif secara militer di hadapan dunia, di hadapan pemerintahan Amerika, dan di hadapan pemukim, dengan menjadikan agresi di Tepi Barat utara sebagai bagian integral dari perang pemusnahan di Jalur Gaza, dengan menunjukkan kekuatannya,” kata dia dilansir Khaberni.

    Dia menunjukkan, ada kesepahaman dalam koalisi pemerintah Israel mengenai penghentian perang pemusnahan di Jalur Gaza, yang dipenuhi dengan operasi skala besar di Tepi Barat.

    “Terkait kesepemahaman itu, Dinas Keamanan Umum Israel “Shabak” menyetujui perlunya meluncurkan operasi militer di Tepi Barat utara, dan Kepala Staf IDF menyetujuinya, dengan cara yang mencerminkan koordinasi antara tingkat keamanan dan militer pendudukan,” kata analis tersebut.

    Terkait dimensi operasi, Arabi mengatakan ada beberapa tujuan dimensi politik, militer, dan keamanan, antara lain memperketat kontrol militer di Tepi Barat, mencapai aneksasi, menyita lahan seluas-luasnya untuk perluasan pemukiman, serta mengakhiri dan membubarkan perlawanan di wilayah Tepi Barat.

    Pencaplokan yang Butuh Restu AS

    Dalam wawancara lain, analis politik Mohammed Al-Qiq mengatakan bahwa apa yang terjadi di Tepi Barat adalah proses aneksasi resmi yang memerlukan persetujuan resmi dari pemerintah AS setelah pertemuan antara Perdana Menteri pendudukan Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump.

    “Jika persetujuan ini tercapai, agresi pendudukan akan meluas. Agresi ini meluas hingga mencakup seluruh wilayah Tepi Barat, termasuk kota Yerusalem yang diduduki,” kata dia.

    Al-Qiq menjelaskan kalau tentara pendudukan Israel berusaha untuk mengembalikan citra setelah kekalahan telak yang dideritanya di Jalur Gaza di tangan perlawanan Palestina.

    Kejahatan yang Sedang Berlangsung

    Kementerian Kesehatan Palestina mengumumkan tewasnya Walid Muhammad Ali Lahlouh, 73 tahun, pada Minggu, oleh peluru pasukan pendudukan di kamp Jenin.

    Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan dalam pernyataan singkat bahwa krunya mengangkut seorang martir dari pintu masuk kamp Jenin, dan ia dipindahkan ke rumah sakit.

    Hal ini bertepatan dengan berlanjutnya agresi Israel terhadap kota dan kamp Jenin sejak 21 Januari yang mengakibatkan tewasnya 25 warga Palestina, puluhan orang luka-luka, selain itu juga mengakibatkan kerusakan besar-besaran pada jalan, infrastruktur dan rumah, serta ratusan orang mengungsi. keluarga.

    Kampanye pembunuhan yang dilancarkan tentara Israel di Tepi Barat meningkat.

    Sebanyak 7 warga Palestina tewas dalam hitungan jam di Jenin dan Tulkarm, sementara pejuang perlawanan bentrok dengan pasukan penyerang di beberapa garis depan.

    Pada Sabtu, pesawat tak berawak pendudukan melancarkan dua serangan terhadap kota Jenin, sebelah utara Tepi Barat, yang mengakibatkan tewasnya 4 warga Palestina.

    Serangan pertama menargetkan sebuah sepeda motor, menewaskan seorang warga Palestina, dan serangan lainnya menewaskan sekelompok pemuda di wilayah timur kota, menewaskan 3 warga Palestina – termasuk seorang anak – dan seorang perawat, serta melukai beberapa orang lainnya.

     

    (oln/khbrn/*)

     

  • Menhan Israel Ancam Zakaria Zubeidi: Satu Kesalahan, Anda akan Kumpul Lagi dengan Teman Lama – Halaman all

    Menhan Israel Ancam Zakaria Zubeidi: Satu Kesalahan, Anda akan Kumpul Lagi dengan Teman Lama – Halaman all

    Menhan Israel Ancam Zakaria Zubeidi: Satu Kesalahan, Anda akan Kumpul Lagi dengan Teman Lama

    TRIBUNNEWS.COM – Menteri Pertahanan (Menhan) Pendudukan Israel, Israel Katz, mengomentari pembebasan tahanan Zakaria Zubeidi, dengan menulis di X, Minggu (2/2/2025):

    “Zakaria Zubeidi, Anda dibebaskan berdasarkan kesepakatan pembebasan sandera Israel.”

    Ia lalu memperingatkan, “Satu kesalahan, dan Anda akan bertemu kembali dengan teman-teman lama.”

    Israel Katz jelas menjadi satu di antara banyak orang Israel yang cemas atas pembebasan Zakaria Zubeidi hingga harus memberikan ancaman langsung terhadap yang bersangkutan.

    Meski mendekam di penjara Israel, perjuangan Zubeidi nyatanya mengilhami banyak warga Palestina di Tepi Barat, khususnya Jenin, untuk melawan pendudukan Israel. 

    “Di Ramallah, Tepi Barat, kerumunan besar berkumpul untuk merayakan kembalinya Zubeidi, bergabung dalam kegembiraan yang meluas menyusul pembebasan 110 tahanan pada tahap ketiga kesepakatan pertukaran,” tulis laporan RNTV, dikutip Selasa (3/2/2025).

    Saat tiba, kata-kata pertama Zubeidi adalah: “Semoga Tuhan mengasihani para martir kami, menyembuhkan yang terluka di Gaza, dan mengembalikan penduduknya dengan selamat ke rumah mereka. Semoga Dia mengasihani kamp Jenin dan penduduknya.”

    Ia melanjutkan, “Apa yang Anda saksikan hari ini adalah sebuah pernyataan kepercayaan publik terhadap perlawanan. Terima kasih kepada semua orang yang mendukung rakyat Palestina dalam krisis ini.”

     Zubeidi mengakhiri dengan pesan yang menantang: “Naga itu milik daratan, dan pemburu harus pergi.”

    Saatnya Pendudukan Israel Diakhiri

    Zakaria Al-Zubaidi, mengatakan bahwa sudah saatnya pendudukan Israel di Tepi Barat diakhiri agar warga Palestina dapat memiliki negara mereka sendiri.

    Al-Zubaidi adalah seorang komandan Brigade Syuhada Al-Aqsa, yang merupakan sayap militer dari gerakan Fatah.

    Mengutip The New Arab, Al-Zubaidi dipandang sebagai ikon perjuangan Palestina, yang telah menghabiskan bertahun-tahun hidupnya keluar masuk penjara Israel.

    Al-Zubaidi juga menyerukan agar semua tahanan Palestina yang tersisa segera dibebaskan.

    Al-Zubaidi termasuk di antara 110 tahanan yang dibebaskan pada Kamis (30/1/2025) sebagai pertukaran dengan dua tahanan Israel dan lima tahanan Thailand yang ditahan oleh Hamas di Gaza.

    Gencatan senjata mulai berlaku di Gaza sejak 19 Januari setelah 15 bulan serangan Israel yang menewaskan lebih dari 47.000 orang.

    Berbicara kepada wartawan dan pendukung yang datang untuk menyambutnya di kota Al-Bireh, Tepi Barat yang diduduki, pada Jumat (31/1/2025), Al-Zubaidi mengatakan bahwa ia dipenjara demi rakyat Palestina.

    Namun, ia menegaskan bahwa kebebasannya tidak lengkap jika Palestina belum mendapatkan kemerdekaannya.

    Setelah banyak pengorbanan, sudah saatnya mendirikan negara Palestina yang berdaulat dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya, tambahnya.

    “Jika tidak ada persatuan nasional, kita tidak akan pernah memperoleh kebebasan,” kata anggota Fatah tersebut.

    Fatah, yang memimpin Otoritas Palestina (PA) di Tepi Barat, merupakan pesaing lama Hamas yang menguasai Gaza.

    Kondisi Menyedihkan di Penjara Israel

    Al-Zubaidi, yang kehilangan ibu, saudara laki-laki, dan putranya dalam serangan Israel, adalah salah satu dari lima tahanan Palestina yang berhasil melarikan diri dari penjara Gilboa pada September 2021.

    Namun, mereka ditangkap kembali beberapa hari kemudian.

    Ketika ditanya oleh situs saudara The New Arab, Al-Araby Al-Jadeed, tentang pengalamannya di penjara, Al-Zubaidi tidak banyak bercerita.

    Ia hanya mengatakan bahwa kondisi di sana sangat buruk, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

    “Pendudukan Israel membalas dendam kepada seluruh rakyat Palestina,” katanya.

    “Kami memohon kepada Tuhan agar bermurah hati kepada rakyat kami di Jalur Gaza, mengembalikan mereka dengan selamat ke rumah mereka, dan agar mengasihani kamp Jenin serta Tepi Barat, karena seluruh rakyat Palestina sedang diserang.”

    Israel telah melakukan operasi militer brutal di kamp Jenin sejak bulan lalu, yang telah menewaskan dan melukai puluhan warga Palestina.

    Kamp Jenin, tempat Al-Zubaidi dilahirkan, telah lama menjadi sasaran serangan tentara Israel.

    Meskipun tidak banyak berbicara tentang pengalamannya sendiri, Al-Zubaidi berbicara secara umum tentang kondisi tahanan Palestina.

    Ia menyatakan bahwa para tahanan menjadi sasaran perlakuan brutal oleh penjaga penjara.

    “Situasinya sangat, sangat buruk, dan kami berharap semua pihak yang peduli dengan isu-isu kebebasan dan kemanusiaan akan memperhatikan tahanan kami, karena situasinya sangat sulit dalam segala aspek,” katanya.

    “Jatah makanan yang sedikit, kondisi sel yang buruk, tidak ada akses membaca, tidak ada komunikasi, tidak ada televisi, dan tidak ada berita.”

    “Mereka benar-benar diisolasi dari dunia luar.”

    Pesan untuk Komunitas Internasional

    Al-Zubaidi kemudian menyampaikan pesan kepada masyarakat internasional.

    “Dunia yang memberi pendudukan ini hak atas tanah saya harus memberi saya kebebasan.”

    “Hidup saya tanpa kebebasan tidak ada artinya, dan mereka yang merampas kebebasan saya serta anak-anak saya harus mengembalikannya,” katanya, terutama menyebut Inggris, Prancis, dan AS sebagai sekutu Israel.

    “Mereka harus memikirkan kesalahan mereka, dan memperbaiki kesalahan yang telah mereka lakukan terhadap saya dan anak-anak saya.”

    Meskipun secara terbuka mendukung solusi dua negara, ketiga negara tersebut memberikan dukungan kepada Israel, baik secara diplomatik maupun melalui bantuan militer, khususnya AS.

    Pemerintah garis keras Israel saat ini sepenuhnya menolak status negara Palestina.

    Israel terus memperluas permukiman ilegal di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, dua wilayah yang diharapkan banyak warga Palestina sebagai bagian dari negara masa depan mereka, serta Jalur Gaza yang telah hancur akibat perang.

    Arab Saudi, yang selama bertahun-tahun didesak oleh AS untuk ikut serta dalam kesepakatan normalisasi dengan Israel, menyatakan hanya akan menyetujui kesepakatan tersebut setelah Palestina diberikan status kenegaraan.

     

    (oln/rntv/tribunnews/*)

  • Klaim Kemenangan atas Hamas, Netanyahu Temui Trump di AS Bahas Tahap Kedua Gencatan Senjata Gaza – Halaman all

    Klaim Kemenangan atas Hamas, Netanyahu Temui Trump di AS Bahas Tahap Kedua Gencatan Senjata Gaza – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berada di Amerika Serikat (AS) untuk menemui Presiden AS Donald Trump.

    Perjalanan ini dilakukan Benjamin Netanyahu untuk memulai pembicaraan mengenai gencatan senjata tahap kedua dengan Hamas.

    Pada Minggu (2/2/2025), sebelum menaiki pesawatnya di Tel Aviv, Netanyahu mengatakan bahwa ia akan membahas “kemenangan atas Hamas”, melawan Iran, dan membebaskan semua tawanan ketika ia bertemu dengan Donald Trump pada Selasa (4/2/2025).

    Ini akan menjadi pertemuan pertama Donald Trump dengan pemimpin asing sejak kembali ke Gedung Putih dua minggu lalu, sebuah prioritas yang digambarkan Netanyahu sebagai “berarti”.

    “Saya pikir ini adalah bukti kekuatan aliansi Israel-Amerika,” kata Netanyahu kepada wartawan, Minggu, dilansir Al Jazeera.

    Netanyahu mengatakan keputusan Israel di masa perang telah mengubah Timur Tengah dan bahwa dengan dukungan Trump, hal ini dapat berjalan lebih jauh lagi.

    “Saya yakin bahwa dengan bekerja sama erat dengan Presiden Trump, kita dapat mengubahnya lebih jauh lagi dan menjadi lebih baik,” jelasnya.

    Diberitakan AP News, pertemuan tersebut terjadi saat mediator AS dan Arab memulai pekerjaan berat untuk menengahi tahap berikutnya dari perjanjian gencatan senjata guna mengakhiri perang selama 15 bulan di Gaza.

    Hamas, yang telah menegaskan kembali kendali atas Gaza sejak gencatan senjata dimulai bulan lalu, mengatakan pihaknya tidak akan membebaskan sandera pada tahap kedua tanpa berakhirnya perang dan penarikan penuh pasukan Israel.

    Netanyahu mendapat tekanan yang meningkat dari mitra pemerintahan sayap kanan untuk melanjutkan perang setelah fase pertama berakhir pada awal Maret.

    Ia mengatakan Israel berkomitmen untuk meraih kemenangan atas Hamas dan memulangkan semua sandera yang ditangkap dalam serangan militan pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang.

    Sementara itu, tidak jelas di mana posisi Trump.

    Trump merupakan pendukung setia Israel, tetapi juga berjanji untuk mengakhiri perang di Timur Tengah dan mengaku berjasa membantu menjadi penengah perjanjian gencatan senjata.

    Kesepakatan tersebut telah menghasilkan pembebasan 18 sandera serta ratusan warga Palestina yang dipenjara oleh Israel.

    Serangan udara Israel terhadap sebuah kendaraan di Gaza tengah melukai lima orang pada hari Minggu, termasuk seorang anak yang berada dalam kondisi kritis, menurut Rumah Sakit Al-Awda.

    Militer Israel mengatakan bahwa mereka menembaki kendaraan tersebut karena kendaraan tersebut melewati pos pemeriksaan saat menuju utara yang melanggar perjanjian gencatan senjata.

    Perkembangan Terkini Konflik Palestina Vs Israel

    Lebih banyak pengungsi medis akan meninggalkan Jalur Gaza, sementara pembicaraan untuk memperpanjang kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas akan segera dimulai.

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan memulai diskusi mengenai gencatan senjata tahap kedua saat ia mengunjungi Washington, DC untuk melakukan pembicaraan dengan pejabat AS dan Presiden Donald Trump.

    Iran mengecam usulan Trump untuk merelokasi warga Palestina dari Gaza, dan memperingatkan bahwa hal itu akan menjadi “pembersihan etnis”.

    Perang Israel di Gaza telah menewaskan sebanyak 47.498 warga Palestina dan melukai 111.592 orang sejak 7 Oktober 2023, menurut Kementerian Kesehatan.

    Kantor Media Pemerintah Gaza telah memberikan jumlah korban tewas sebanyak 61.709 orang, dengan mengatakan ribuan orang yang hilang kini diduga tewas.

    Sebanyak 1.139 orang tewas di Israel selama serangan yang dipimpin Hamas hari itu dan lebih dari 200 orang ditawan.

    (Tribunnews.com/Nuryanti)

    Berita lain terkait Konflik Palestina Vs Israel

  • Video Sandera asal Israel Beri Sepucuk Surat ke Hamas Imbas Diperlakukan Baik selama Ditahan – Halaman all

    Video Sandera asal Israel Beri Sepucuk Surat ke Hamas Imbas Diperlakukan Baik selama Ditahan – Halaman all

    Sandera asal Israel bernama Keith Siegel memberikan sepucuk surat kepada militan Hamas, Palestina. Surat tersebut berisi ungkapan terima kasih.

    Tayang: Senin, 3 Februari 2025 21:12 WIB

    TRIBUNNEWS.COM – Sandera asal Israel bernama Keith Siegel memberikan sepucuk surat kepada militan Hamas, Palestina.

    Surat tersebut berisi ungkapan terima kasih karena dirinya telah dirawat dengan baik selama ditahan di Gaza.

    Siegel menulis surat tersebut pada pertengahan Januari 2025 lalu.

    Namun, baru diserahkan kepada Hamas pada Sabtu (1/2/2025) di tepi laut Kota Gaza.

    (*)

    Berita selengkapnya simak video di atas.

    “);
    $(“#latestul”).append(“”);
    $(“.loading”).show();
    var newlast = getLast;
    $.getJSON(“https://api.tribunnews.com/ajax/latest_section/?callback=?”, {start: newlast,section:’15’,img:’thumb2′}, function(data) {
    $.each(data.posts, function(key, val) {
    if(val.title){
    newlast = newlast + 1;
    if(val.video) {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = ” “;
    }
    else
    {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = “”;
    }
    if(val.thumb) {
    var img = “”+vthumb+””;
    var milatest = “mr140”;
    }
    else {
    var img = “”;
    var milatest = “”;
    }
    if(val.subtitle) subtitle = “”+val.subtitle+””;
    else subtitle=””;
    if(val.c_url) cat = “”+val.c_title+””;
    else cat=””;

    $(“#latestul”).append(“”+img+””);
    }
    else{
    $(“#latestul”).append(‘Tampilkan lainnya’);
    $(“#test3”).val(“Done”);
    return false;
    }
    });
    $(“.loading”).remove();
    });
    }
    else if (getLast > 150) {
    if ($(“#ltldmr”).length == 0){
    $(“#latestul”).append(‘Tampilkan lainnya’);
    }
    }
    }
    });
    });

    function loadmore(){
    if ($(“#ltldmr”).length > 0) $(“#ltldmr”).remove();
    var getLast = parseInt($(“#latestul > li:last-child”).attr(“data-sort”));
    $(“#latestul”).append(“”);
    $(“.loading”).show();
    var newlast = getLast ;
    if($(“#test3”).val() == ‘Done’){
    newlast=0;
    $.getJSON(“https://api.tribunnews.com/ajax/latest”, function(data) {
    $.each(data.posts, function(key, val) {
    if(val.title){
    newlast = newlast + 1;
    if(val.video) {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = ” “;
    }
    else
    {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = “”;
    }
    if(val.thumb) {
    var img = “”+vthumb+””;
    var milatest = “mr140”;
    }
    else {
    var img = “”;
    var milatest = “”;
    }
    if(val.subtitle) subtitle = “”+val.subtitle+””;
    else subtitle=””;
    if(val.c_url) cat = “”+val.c_title+””;
    else cat=””;
    $(“#latestul”).append(“”+img+””);
    }else{
    return false;
    }
    });
    $(“.loading”).remove();
    });
    }
    else{
    $.getJSON(“https://api.tribunnews.com/ajax/latest_section/?callback=?”, {start: newlast,section:sectionid,img:’thumb2′,total:’40’}, function(data) {
    $.each(data.posts, function(key, val) {
    if(val.title){
    newlast = newlast+1;
    if(val.video) {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = ” “;
    }
    else
    {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = “”;
    }
    if(val.thumb) {
    var img = “”+vthumb+””;
    var milatest = “mr140”;
    }
    else {
    var img = “”;
    var milatest = “”;
    }
    if(val.subtitle) subtitle = “”+val.subtitle+””;
    else subtitle=””;

    $(“#latestul”).append(“”+img+””);
    }else{
    return false;
    }
    });
    $(“.loading”).remove();
    });
    }
    }

    Berita Terkini

  • Buntut Larangan Israel, UNRWA Terus Beroperasi di Tepi Barat, tapi Situasinya Sangat Tidak Pasti – Halaman all

    Buntut Larangan Israel, UNRWA Terus Beroperasi di Tepi Barat, tapi Situasinya Sangat Tidak Pasti – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Klinik dan sekolah yang dikelola oleh badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) terus beroperasi di Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, tetapi situasinya masih ‘sangat tidak pasti’.

    Hal ini karena dua Undang-undang Israel yang secara efektif melarang UNRWA.

    “Undang-undang pertama melarang operasi UNRWA di wilayah yang dianggap Israel sebagai wilayah kedaulatannya – di sini kita berbicara tentang Yerusalem Timur yang tentu saja di mata hukum internasional, Mahkamah Internasional, dan sebagainya sebenarnya adalah wilayah pendudukan,” kata Juru bicara UNRWA, Jonathan Fowler kepada Al Jazeera, Senin (3/2/2025).

    Fowler menambahkan, Undang-undang kedua melarang semua kontak antara pejabat Israel dan UNRWA.

    “Hal ini menimbulkan potensi masalah yang sangat besar,” tambahnya.

    Ia lantas menyebutkan pembongkaran blok perumahan di Jenin oleh tentara Israel sebagai contoh.

    “Biasanya, kami akan tahu bahwa operasi militer akan datang dan kami akan dapat memastikan bahwa anak-anak sekolah aman, tetapi kami tidak memiliki kemungkinan untuk berkoordinasi.”

    “Kami tidak diberitahu sebelumnya, jadi selalu ada risiko bagi penduduk dan populasi yang kami layani – baik itu pasien maupun anak sekolah,” papar Fowler.

    Di Yerusalem Timur, UNRWA menyediakan perawatan kesehatan untuk 70.000 orang yang termasuk anggota masyarakat paling rentan.

    “Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki alternatif layanan kesehatan yang terjangkau,” imbuhnya.

    Israel Dituduh Lakukan ‘Pembersihan Etnis’ di Tepi Barat

    Sementara itu, kantor presiden Palestina Mahmoud Abbas pada hari Senin mengecam operasi militer Israel yang sedang berlangsung di Tepi Barat yang diduduki sebagai “pembersihan etnis” dan mendesak Amerika Serikat untuk campur tangan.

    Dalam sebuah pernyataan, juru bicara Nabil Abu Rudeineh mengatakan kepresidenan “mengecam perluasan perang menyeluruh oleh otoritas pendudukan terhadap rakyat Palestina di Tepi Barat untuk melaksanakan rencana mereka yang bertujuan menggusur warga dan pembersihan etnis.”

    Dilansir Arab News, militer Israel meledakkan beberapa bangunan di Tepi Barat yang diduduki pada Minggu (2/2/2025) dalam serangkaian ledakan simultan yang menurut kantor berita negara Palestina telah meratakan sekitar 20 bangunan di kamp pengungsi Jenin.

    Awan tebal terlihat naik dari kota Palestina tempat pasukan Israel telah melakukan operasi besar-besaran selama hampir dua minggu yang menurut militer Israel ditujukan pada militan lokal, termasuk menyita persediaan senjata.

    Ketika ditanya tentang pembongkaran bangunan di Jenin secara serentak, seorang juru bicara militer mengatakan “beberapa bangunan yang digunakan sebagai infrastruktur teroris” telah dibongkar.

    “Keterangan lebih rinci akan dirilis kemudian,” kata orang tersebut.

    Perkembangan Terkini Konflik Palestina Vs Israel

    Lebih banyak pengungsi medis akan meninggalkan Jalur Gaza, sementara pembicaraan untuk memperpanjang kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas akan segera dimulai.

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan memulai diskusi mengenai gencatan senjata tahap kedua saat ia mengunjungi Washington, DC untuk melakukan pembicaraan dengan pejabat AS dan Presiden Donald Trump.

    Iran mengecam usulan Trump untuk merelokasi warga Palestina dari Gaza, dan memperingatkan bahwa hal itu akan menjadi “pembersihan etnis”.

    Perang Israel di Gaza telah menewaskan sebanyak 47.498 warga Palestina dan melukai 111.592 orang sejak 7 Oktober 2023, menurut Kementerian Kesehatan.

    Kantor Media Pemerintah Gaza telah memberikan jumlah korban tewas sebanyak 61.709 orang, dengan mengatakan ribuan orang yang hilang kini diduga tewas.

    Sebanyak 1.139 orang tewas di Israel selama serangan yang dipimpin Hamas hari itu dan lebih dari 200 orang ditawan.

    (Tribunnews.com/Nuryanti)

    Berita lain terkait Konflik Palestina Vs Israel

  • Selamatkan Anak Korban Perang Demi Masa Depan Peradaban Dunia  

    Selamatkan Anak Korban Perang Demi Masa Depan Peradaban Dunia  

    JAKARTA – Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, menegaskan bahwa semua pihak memiliki tanggung jawab untuk melindungi masa depan anak-anak di seluruh dunia, termasuk mereka yang menjadi korban perang di Palestina dan Ukraina. Menurutnya, upaya ini sangat penting demi keberlangsungan peradaban dunia.  

    Pernyataan tersebut disampaikan Megawati dalam sambutannya pada pertemuan Unbroken 5P Kids Alliance di Museum San Salvatore in Lauro, Roma, pada Minggu malam. Acara ini dihadiri oleh sejumlah menteri, duta besar, pejuang kemanusiaan, aktivis The Unbroken Kids Alliance, serta anak-anak korban perang dari Palestina dan Ukraina.  

    “Saya merasa sangat bangga dan terhormat berada dalam forum luar biasa ini. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga masa depan anak-anak, di mana pun mereka berada, karena mereka adalah harapan bagi peradaban dunia,” ujar Megawati, dikutip dari ANTARA, Senin (3/2).  

    Ia mengapresiasi inisiatif Unbroken Kids Alliance, yang dianggapnya sebagai misi kemanusiaan mulia dalam menyelamatkan anak-anak korban perang.  

    “Upaya ini bukan hanya menyelamatkan anak-anak, tetapi juga menjaga masa depan peradaban dunia,” tambahnya.  

    Megawati juga menyampaikan penghargaan kepada para pejuang kemanusiaan yang telah berkontribusi dalam menyelamatkan generasi penerus.  

    “Kami dari Indonesia memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pejuang kemanusiaan. Kalian semua telah berperan besar dalam menyelamatkan dunia. Anak-anak korban perang adalah permata bagi masa depan yang lebih baik. Mereka akan melanjutkan misi kita untuk membangun dunia yang lebih damai dan berkeadilan,” katanya.  

    Pertemuan ini merupakan bagian dari rangkaian acara World Leaders Summit on Children’s Rights yang digelar di Vatikan pada Senin (3/2). Forum ini akan dibuka oleh Pemimpin Umat Katolik Dunia, Paus Fransiskus.  

    Hadir pula dalam acara tersebut pendiri 5P Global Movement, Arsjad Rasjid, yang turut memberikan sambutan.  

    Gerakan 5P Global Movement berfokus pada lima pilar utama, yaitu: Peace (Perdamaian), Prosperity (Kesejahteraan), People (Manusia), Planet (Lingkungan), dan Partnership (Kemitraan).