Negara: Jalur Gaza

  • Hamas Siap untuk Gencatan Senjata di Gaza

    Hamas Siap untuk Gencatan Senjata di Gaza

    Gaza City

    Kelompok Hamas menyatakan siap untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza, setelah kesepakatan penghentian pertempuran berhasil terwujud antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Hamas melontarkan pujian untuk gencatan senjata di Lebanon.

    Dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Rabu (27/11/2024), Hamas yang menguasai Jalur Gaza ini mengungkapkan pihaknya telah menyatakan kesiapannya itu kepada para mediator kesepakatan gencatan senjata.

    “Kami telah memberitahu para mediator di Mesir, Qatar dan Turki bahwa Hamas siap untuk perjanjian gencatan senjata dan kesepakatan serius untuk pertukaran tahanan,” ucap seorang pejabat senior Hamas, yang tidak disebut namanya, saat berbicara kepada AFP.

    Pejabat Hamas itu menuduh Israel selama ini menghalangi tercapainya perjanjian semacam itu di Jalur Gaza.

    Para pejabat dari Amerika Serikat (AS) dan Israel telah menyampaikan harapan ketika gencatan senjata di Lebanon mulai terbentuk, dengan hilangnya dukungan militer Hizbullah akan membantu mendorong Hamas untuk menuntut perdamaian.

    Hamas telah sejak lama menyatakan keinginan untuk gencatan senjata di Jalur Gaza, namun menurut Tel Aviv, kelompok itu enggan memenuhi tuntutan Israel soal pembebasan sandera.

    Sementara menurut mediator internasional, keengganan Israel untuk menarik pasukannya meninggalkan dari Jalur Gaza juga menjadi hambatan dalam perundingan. Para mediator menyebut kedua belah pihak bertanggung jawab atas kebuntuan yang terjadi.

    Tonton video: Pernyataan Presiden Palestina: Minta Gencatan Senjata di Gaza-Gabung BRICS

  • Parah! Menteri Israel Serukan Kurangi Separuh Populasi Gaza

    Parah! Menteri Israel Serukan Kurangi Separuh Populasi Gaza

    Tel Aviv

    Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, yang kontroversial mencetuskan negaranya harus menduduki Jalur Gaza dan mengurangi separuh populasi daerah kantong Palestina tersebut dengan mendorong “emigrasi sukarela”.

    “Kita bisa dan harus menaklukkan Jalur Gaza, kita tidak perlu takut dengan kata tersebut,” cetus Smotrich dalam pernyataan terbarunya, seperti dilansir AFP dan Al Arabiya, Rabu (27/11/2024).

    Pernyataan itu disampaikan Smotrich ketika menghadiri acara yang digelar oleh Dewan Yesha, kelompok payung yang mewakili para pemukim Israel di Tepi Barat.

    “Tidak ada keraguan bahwa di Gaza — dengan dorongan emigrasi sukarela — menurut pendapat saya, ada peluang unik yang terbuka dengan pemerintahan baru,” sebut Smotrich, merujuk pada pemerintahan baru Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden terpilih Donald Trump nantinya.

    “Kita bisa menciptakan situasi di mana, dalam dua tahun, populasi Gaza akan berkurang separuhnya,” ucapnya.

    Smotrich, yang memimpin Partai Religius Zionisme yang beraliran ultranasionalis ini, gemar menuai kontroversi dengan komentar-komentarnya dalam beberapa bulan terakhir.

    Pada Agustus lalu, dia memicu kemarahan internasional dengan menyatakan dibenarkan untuk membuat dua juta warga Gaza kelaparan, demi membebaskan sandera-sandera Israel yang ditahan di wilayah Palestina.

  • Netanyahu Pastikan Gencatan Senjata di Lebanon Diterapkan

    Netanyahu Pastikan Gencatan Senjata di Lebanon Diterapkan

    Tel Aviv

    Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dirinya siap memberlakukan dan menegakkan perjanjian gencatan senjata dengan Lebanon, yang baru saja disepakati. Namun Netanyahu juga menegaskan Tel Aviv akan merespons dengan tegas setiap pelanggaran gencatan senjata oleh Hizbullah.

    “Kami akan menegakkan perjanjian (gencatan senjata) dan merespons dengan tegas setiap pelanggaran. Bersama, kita akan melanjutkannya hingga kemenangan,” tegas Netanyahu dalam pernyataannya, seperti dilansir Reuters dan Al Arabiya, Rabu (27/11/2024).

    Gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah, yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) dan Prancis, baru saja disepakati. Presiden Joe Biden mengumumkan bahwa gencatan senjata mulai diberlakukan pada Rabu (27/11) waktu setempat, dengan pertempuran diharapkan berhenti sejak pukul 04.00 waktu setempat.

    Pengumuman itu disampaikan Biden setelah kabinet keamanan pada pemerintahan Netanyahu menyetujui kesepakatan gencatan senjata itu dengan 10 suara mendukung dan hanya satu suara yang menolak.

    Netanyahu, dalam pernyataannya, menyebut gencatan senjata akan memungkinkan Israel untuk fokus pada ancaman Iran, mengisi kembali pasokan senjata yang menipis dan memberikan waktu istirahat kepada tentaranya, serta untuk mengisolasi Hamas yang bertempur melawan Tel Aviv di Jalur Gaza.

    “Dalam koordinasi penuh dengan Amerika Serikat, kita akan mempertahankan kebebasan aksi militer sepenuhnya. Jika Hizbullah melanggar perjanjian atau berypaya mempersenjatai kembali (para petempurnya), kita akan menyerang dengan tegas,” cetusnya.

    Netanyahu mengklaim Hizbullah, yang merupakan sekutu Hamas, kini jauh lebih lemah dibandingkan pada awal konflik.

  • Gencatan Senjata dengan Hizbullah Kesalahan Besar!

    Gencatan Senjata dengan Hizbullah Kesalahan Besar!

    Lebih lanjut, dia menyerukan Netanyahu untuk terus bertempur melawan Hizbullah hingga mendapatkan “kemenangan mutlak”.

    Sentimen serupa juga dimiliki oleh para pemimpin politik sayap kanan lainnya di Israel terkait perang melawan Hamas di Jalur Gaza yang berkecamuk sejak Oktober tahun lalu.

    Peringatan Ben Gvir itu disampaikan ketika laporan media lokal Israel pada Senin (25/11) menyebut Netanyahu kemungkinan akan menyetujui proposal gencatan senjata dengan Hizbullah, yang diajukan AS, meskipun ada keberatan dari menteri-menterinya.

    Ada juga kekhawatiran atas diskusi mengenai keterlibatan Prancis dalam kemungkinan penegakan gencatan senjata di Lebanon nantinya. Paris diketahui mendukung upaya-upaya Washington untuk mewujudkan gencatan senjata di Lebanon.

    Laporan situs berita AS, Axios, yang mengutip seorang pejabat senior AS yang tidak disebutkan namanya, seperti dilansir Reuters menyebutkan bahwa Israel dan Lebanon telah menyetujui persyaratan untuk kesepakatan gencatan senjata.

    Secara terpisah, seorang pejabat senior Israel menuturkan kepada Reuters bahwa kabinet Israel akan menggelar rapat pada Selasa (26/11) waktu setempat untuk menyetujui kesepakatan gencatan senjata dengan Hizbullah. Kantor Netanyahu menolak untuk mengomentari laporan tersebut.

    Bou Saab menyebut proposal AS itu akan mengatur penarikan pasukan militer Israel dari wilayah Lebanon bagian selatan dan penempatan pasukan reguler Lebanon di wilayah perbatasan, yang merupakan markas Hizbullah, dalam waktu 60 hari.

    Dia mengatakan masalah mengenai siapa yang akan memantau kepatuhan terhadap gencatan senjata telah diselesaikan dalam 24 jam terakhir, dengan kesepakatan untuk membentuk komite lima negara, yang mencakup Prancis dan diketuai AS.

    (nvc/ita)

  • Update Perang: Hizbullah Serang 340 Rudal ke Israel-Gaza Cuaca Buruk

    Update Perang: Hizbullah Serang 340 Rudal ke Israel-Gaza Cuaca Buruk

    Jakarta, CNBC Indonesia – Perang di Timur Tengah belum juga usai. Terbaru, Badan pengungsi Palestina PBB mengatakan setengah juta orang terancam banjir limbah di tengah musim hujan di Gaza, serta dampak suhu dingin bagi ribuan orang yang kekurangan gizi.

    Sementara laporan Radio Angkatan Darat Israel menyebut kelompok Hizbullah menembakkan 340 rudal dan pesawat nirawak ke Israel. Serangan ini melukai 11 orang dan menyebabkan “kerusakan parah” di Tel Aviv, sementara Israel terus membom Beirut.

    Berikut update terkait situasi di wilayah Timur Tengah saat ini, sebagaimana dihimpun dari berbagai sumber oleh CNBC Indonesia pada Senin (25/11/2024).

    Hizbullah Hujani Israel 340 Rudal

    Hizbullah menyatakan bahwa mereka untuk pertama kalinya menyerang pangkalan laut Ashdod di Israel selatan, dengan mengeklaim melakukan operasi terhadap “target militer” di Tel Aviv menggunakan rudal canggih dan drone serang.

    Tentara Israel melaporkan sirene serangan udara terdengar di wilayah pusat dan utara, termasuk pinggiran Tel Aviv, serta menyatakan telah mencegat sejumlah proyektil dari Lebanon.

    Dalam serangan tersebut, Hizbullah meluncurkan lebih dari 340 rudal dari Lebanon, menurut laporan radio tentara Israel. Serangan ini melukai setidaknya 11 orang, termasuk seorang pria dalam kondisi “sedang hingga serius,” berdasarkan laporan lembaga medis.

    Serangan Baru di Lebanon

    Sehari sebelumnya Hizbullah mengirim ratusan drone, Israel melancarkan serangan di Beirut tengah yang menewaskan sedikitnya 29 orang dan melukai 66 lainnya, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.

    Tentara Lebanon melaporkan bahwa serangan Israel di al-Amriyeh menewaskan seorang tentara dan melukai 18 lainnya. Israel menyatakan bahwa serangan terhadap tentara Lebanon sebelumnya adalah insiden tidak sengaja.

    Di Lebanon, lebih dari 3.500 orang tewas akibat serangan Israel, sementara sekitar 1,2 juta orang telah mengungsi. Di Israel, sekitar 90 tentara dan hampir 50 warga sipil tewas akibat pertempuran di utara dan invasi darat sejak awal Oktober.

    Lebih dari 60.000 warga Israel di utara negara itu juga telah mengungsi sejak konflik memuncak.

    Konflik ini terus menimbulkan kerusakan luas dan menambah jumlah korban, dengan kedua pihak masih melakukan serangan balasan meskipun ada tekanan internasional untuk mencapai gencatan senjata.

    Penderitaan Warga Gaza Saat Musim Dingin

    Musim dingin memperburuk krisis kesehatan bagi warga Palestina di Gaza: pejabat UNRWA Dalam komentarnya kepada surat kabar Inggris Financial Times, Louise Wateridge, juru bicara badan pengungsi Palestina PBB atau UNRWA, mengatakan sekitar setengah juta orang di Gaza dapat kebanjiran limbah begitu hujan musim dingin mulai turun.

    “Saat hujan, limbah akan menumpuk di daerah [ketinggian] yang lebih rendah,” katanya kepada surat kabar itu.

    Semua orang yang mengungsi “menggunakan semacam toilet darurat dan pada dasarnya berusaha membuang limbah dari tempat tinggal mereka. Namun, itu tidak berarti sampah tidak menumpuk di dekat orang lain atau di jalan.”

    Serangan Israel telah menghancurkan infrastruktur di Jalur Gaza, sehingga warga Palestina di sana harus berimprovisasi.

    Di musim dingin, kata Wateridge, orang-orang yang kekurangan gizi “akan semakin sakit karena semua itu berdampak buruk pada kesehatan dan kesejahteraan mereka”.

    Israel masih mempersulit pengiriman bantuan ke Jalur Gaza, lanjutnya, dengan mengatakan 33 truk berisi kasur telah diparkir di persimpangan Rafah antara Mesir dan Gaza selama enam bulan karena pembatasan pengiriman bantuan.

    “Dengan tingkat bantuan yang masuk saat ini, akan butuh waktu dua tahun untuk mengirimkannya ke semua orang, sehingga mereka semua dapat memiliki barang-barang dasar seperti kasur, selimut, tenda dan terpal tahan air,” katanya.

    Sementara dalam sebuah posting di X, UNRWA juga telah memperingatkan bahwa setengah juta orang di seluruh daerah kantong yang terkepung itu berisiko terkena banjir.

    Laporan Al Jazeera menyebut bahwa cuaca dingin dan hujan semakin memperburuk penderitaan warga Palestina yang mengungsi di Gaza, di mana air pasang yang membanjiri dan menghanyutkan tenda-tenda darurat di pantai.

    Iran Diam-diam Siapkan Serangan Baru ke Israel

    Iran mengisyaratkan akan memberikan balasan terhadap Israel, setelah seorang penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Larijani, menyatakan bahwa Teheran “sedang mempersiapkan respons.”

    Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara yang diterbitkan oleh kantor berita Tasnim pada Minggu (24/11/2024), merespons serangkaian serangan udara Israel terhadap target militer Iran.

    Adapun pada 26 Oktober, jet tempur Israel melancarkan tiga gelombang serangan udara terhadap sasaran militer Iran, hanya beberapa minggu setelah Iran meluncurkan sekitar 200 rudal balistik ke arah Israel.

    Serangan ini menjadi bagian dari eskalasi konflik yang sudah berlangsung lama antara kedua negara, di mana Iran sering mendukung kelompok-kelompok militan di wilayah tersebut yang dianggap mengancam keamanan Israel.

    Iran sebelumnya telah berulang kali bersumpah untuk membalas serangan Israel. Pernyataan Larijani memperkuat indikasi bahwa respons dari Iran kini hanya menunggu waktu.

    Serangan-serangan udara Israel terhadap fasilitas militer Iran menjadi bagian dari strategi yang lebih luas untuk melemahkan pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah. Israel menuduh Iran menggunakan Suriah dan Lebanon sebagai pangkalan untuk menyerang wilayahnya.

    Koran Tertua Israel Diboikot Netanyahu

    Pemerintah Israel dilaporkan akan menjatuhkan hukuman kepada surat kabar terkemuka berhaluan kiri di negara itu, Haaretz. Hal ini disampaikan langsung dalam situs Kementerian Komunikasi Israel, Minggu (24/11/2024).

    Dalam pernyataannya, Menteri Komunikasi Shlomo Karhi mengatakan pihak pemerintah akan memerintahkan pemboikotan penerbitan oleh pejabat pemerintah atau siapa pun yang menggunakan anggaran pemerintah untuk menghentikan semua iklan di laman Haaretz. Usulan ini telah disetujui dengan suara bulat oleh menteri lainnya.

    “Kami tidak akan membiarkan kenyataan di mana penerbit surat kabar resmi di negara Israel akan menyerukan pengenaan sanksi terhadapnya dan akan mendukung musuh-musuh negara di tengah perang dan akan dibiayai olehnya,” kata pernyataan itu dikutip The Guardian.

    Karhi kemudian menyoroti bagaimana penerbit Haaretz, Amos Schocken, sempat memberikan komentar keras soal Israel yang menurutnya telah melakukan rezim apartheid di Palestina. Ia kemudian mengklarifikasi pernyataannya, dengan mengatakan bahwa ia tidak bermaksud merujuk pada Hamas.

    “Kami menganjurkan kebebasan pers dan kebebasan berekspresi, tetapi juga kebebasan pemerintah untuk memutuskan untuk tidak mendanai hasutan terhadap negara Israel,” tambahnya.

    Menanggapi hal ini, Haaretz menuduh Netanyahu berusaha untuk ‘membongkar demokrasi Israel’. Kantor berita itu mengatakan resolusi untuk memboikot surat kabar tersebut bersifat ‘oportunis’ dan telah disahkan oleh para menteri tanpa tinjauan hukum apa pun.

    Haaretz, yang merupakan surat kabar tertua di Israel dan sangat dihormati secara internasional atas pelaporan dan analisisnya, telah menjadi kritikus keras perdana menteri, Benjamin Netanyahu, dan pemerintahan koalisinya saat ini.

    (pgr/pgr)

  • Ribuan Tentara Israel ‘Kena Mental’, Alami PTSD Imbas Serangan ke Gaza-Lebanon

    Ribuan Tentara Israel ‘Kena Mental’, Alami PTSD Imbas Serangan ke Gaza-Lebanon

    Jakarta

    CATATAN: Informasi ini tidak untuk menginspirasi siapapun bunuh diri. Jika Anda memiliki pikiran untuk bunuh diri, segera mencari bantuan dengan menghubungi psikolog atau psikiater terdekat. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami tanda peringatan bunuh diri, segera hubungi Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes 021-500-454 atau hotline lain yang bisa diakses selama 24 jam di D’Patens 24 (Dukungan Psikososial Antisipasi melalui Hotline Service 24 jam) pada nomor 0811 979 10000

    Setidaknya enam tentara Israel dilaporkan bunuh diri dalam beberapa bulan terakhir menurut laporan media setempat Yedioth Ahronoth.

    DIduga mereka melakukan bunuh diri gegara tekanan psikologis perang di Gaza dan Lebanon Selatan.

    Penyelidikan menunjukkan jumlah kasus bunuh diri tentara Israel kemungkinan lebih tinggi. Namun militer Israel belum merilis angka resmi, meski ada janji untuk mengungkapkannya pada akhir tahun ini.

    Laporan tersebut juga menyoroti krisis kesehatan mental di dalam militer Israel. Dikutip dari Anadolu Agency, ribuan tentara telah mencari bantuan dari klinik kesehatan mental militer atau psikolog lapangan.

    Sekitar sepertiga dari mereka yang terkena dampak menunjukkan gejala stres pasca trauma atau post traumatic stress disorder (PTSD).

    Berdasarkan investigasi, jumlah tentara yang mengalami trauma psikologi kemungkinan lebih besar dibandingkan yang cedera fisik saat perang.

    Media Israel juga mengutip pernyataan pakar yang menyebutkan bahwa krisis kesehatan mental ini akan menjadi jelas setelah operasi militer selesai dan pasukannya kembali ke kehidupan normal.

    Sebelumnya pada bulan Maret, Kepala Departemen Kesehatan Mental Militer Israel Lucian Tatsa-Laur menyebut sekitar 1.700 tentara telah menerima perawatan psikoologis.

    Sejak itu, muncul sejumlah laporan yang menunjukkan bahwa ribuan tentara mengalami masalah kesehatan mental akibat penempatan yang diperpanjang di Gaza dan Lebanon selatan.

    Ketegangan regional meningkat karena serangan brutal Israel di Jalur Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 44.000 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak, sejak serangan Hamas tahun lalu.

    (suc/suc)

  • Pemimpin Tertinggi Iran Serukan Netanyahu Dihukum Mati!

    Pemimpin Tertinggi Iran Serukan Netanyahu Dihukum Mati!

    Teheran

    Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyerukan hukuman mati terhadap Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu. Seruan ini disampaikan setelah Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pekan lalu merilis surat perintah penangkapan untuk Netanyahu atas tuduhan kejahatan perang.

    ICC, pada Kamis (21/11) pekan lalu, merilis surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan (Menhan) Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, yang dilakukan sejak 8 Oktober 2023 hingga setidaknya 20 Mei 2024.

    Surat perintah penangkapan ICC juga dirilis untuk petinggi Hamas bernama Ibrahim Al-Masir alias Mohammed Deif atas tuduhan yang sama.

    “Perintah penangkapan (ICC) telah dikeluarkan, itu tidak cukup, hukuman mati harus dijatuhkan kepada para pemimpin kriminal tersebut,” cetus Khamenei merujuk pada para pemimpin Israel dalam pernyataan terbarunya, seperti dilansir Reuters dan media lokal Iran, Press TV, Senin (25/11/2024).

    Dalam keputusannya, para hakim ICC menyatakan ada alasan masuk akal untuk meyakini Netanyahu dan Gallant memikul “tanggung jawab secara pidana” atas kejahatan perang berupa kelaparan sebagai metode perang di Jalur Gaza dan kejahatan terhadap kemanusiaan berupa pembunuhan, penganiayaan dan tindakan tidak manusiawi lainnya terhadap warga Palestina.

    Untuk Deif, ICC juga mencantumkan dakwaan pembunuhan massal terkait serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, yang memicu perang Gaza, termasuk pemerkosaan dan penyanderaan.

    Tel Aviv sebelumnya mengklaim Deif tewas dalam serangannya di Jalur Gaza pada Juli lalu, namun Hamas tidak pernah membenarkan atau membantahnya. Jaksa ICC mengindikasikan pihaknya akan terus mengumpulkan informasi terkait laporan kematian Deif tersebut.

  • Erdogan Dukung Perintah ICC soal Tangkap Netanyahu: Keputusan Berani

    Erdogan Dukung Perintah ICC soal Tangkap Netanyahu: Keputusan Berani

    Jakarta

    Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendukung langkah dari Mahkamah Pidana Internasional atau ICC dalam mengeluarkan surat penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Erdogan memuji hal itu sebagai keputusan berani.

    “Kami mendukung surat perintah penangkapan,” kata Erdogan dalam pidatonya di Istanbul, Turki, dilansir AFP, Sabtu (23/11/2024).

    Selain Netanyahu, ICC juga diketahui mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant. Erdogan memandang keputusan dari ICC sebagai momentum untuk mengembalikan kepercayaan publik atas sistem internasional yang seakan tidak digubris Israel selama invasi di Gaza.

    “Kami menganggap penting bahwa keputusan berani ini dilaksanakan oleh semua negara anggota perjanjian untuk memperbarui kepercayaan umat manusia terhadap sistem internasional,” katanya.

    ICC mengeluarkan surat perintah terhadap para pemimpin Israel dan panglima militer Hamas Mohammed Deif pada hari Kamis (21/11) atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang dalam konflik Gaza. Erdogan mendorong kebijakan itu bisa segera terwujud.

    “Sangat penting bagi negara-negara Barat – yang selama bertahun-tahun telah memberikan pelajaran kepada dunia mengenai hukum, keadilan dan hak asasi manusia – menepati janji mereka pada tahap ini,” tambah Erdogan.

    Para hakim ICC, dalam keputusannya mengabulkan perintah penangkapan itu, menyatakan ada alasan masuk akal untuk meyakini Netanyahu dan Gallant memikul “tanggung jawab secara pidana” atas kejahatan perang berupa kelaparan sebagai metode perang di Jalur Gaza dan kejahatan terhadap kemanusiaan berupa pembunuhan, penganiayaan dan tindakan tidak manusiawi lainnya terhadap warga Palestina.

    (ygs/taa)

  • 5 Update Perang Gaza, 120 Orang Terbunuh-Hizbullah Klaim Serang Israel

    5 Update Perang Gaza, 120 Orang Terbunuh-Hizbullah Klaim Serang Israel

    Daftar Isi

    Jakarta, CNBC Indonesia – Situasi di Timur Tengah masih memanas, Israel masih terus melakukan serangan Lebanon. Terbaru Israel serangan di kawasan Beirut Tengah.

    Serangan udara Israel juga menargetkan daerah Hadath dan Choueifat di pinggiran selatan Beirut. Di tempat lain di London dua nelayan tewas dalam serangan pesawat tak berawak di Israel di pantai kota Tirus.

    Selain itu Israel juga masih melakukan penyerangan di Gaza, Palestina. Dari 48 jam terakhir setidaknya sudah ada 120 orang yang terbunuh

    Berikut update terkait situasi di wilayah Timur Tengah, seperti dihimpun dari Aljazeera, Sabtu (23/11/2024):

    1. 11 Orang Meninggal dari Serangan Di Pusat Kota Beirut

    Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, total ada 63 orang yang terluka dari serangan Israel itu yang menghantam bangunan di pusat kota di Basta, Beirut.

    Reporter melaporkan setidaknya ada 11 orang yang terkonfirmasi tewas sejauh ini.

    “Sejumlah besar bagian tubuh sedang diidentifikasi,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan. “Korban tewas terakhir akan ditentukan setelah tes DNA dilakukan.”

    Serangan udara Israel juga menargetkan daerah Hadath dan Choueifat di pinggiran selatan Beirut.

    2. Hizbullah Klaim Serangan Ke Israel

    Serangkaian serangan terhadap Israel diklaim kelompok bersenjata Lebanon. Mereka mengatakan meluncurkan roket ke pemukiman Avivim di Israel Utara.

    Hizbullah juga mengklaim telah menyerang tentara Israel di kota Deir Mimas dan Khiam di Lebanon Selatan dengan roket dan rudal dalam tiga serangan terpisah.

    3. Pengamat Sebut Israel Ingin Akhiri Perang Di Lebanon

    Analis politik Israel Akiva Elder memperkirakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ingin mengakhiri perang di Lebanon.

    Ini akan menjadi cara untuk mengatasi kelelahan masyarakat Israel akibat perang dan juga mengubah narasi media internasional setelah Pengadilan Kriminal Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadapnya, kata Elder kepada Al Jazeera.

    Mengakhiri perang juga akan memberi Netanyahu lebih banyak niat baik dari Amerika Serikat, terutama dari Presiden baru Donald Trump yang telah berhubungan dengannya, kata Elder.

    “Mengakhiri perang di Gaza dan Lebanon adalah sesuatu yang akan dihargai oleh Biden dan Trump, dan mereka akan bersedia membayarnya,” katanya.

    4. 120 Orang Palestina Meninggal 48 Jam Terakhir Di Gaza

    Penyerangan Israel di Gaza juga masih berlanjut. Setidaknya kini korban tewas bertambah 120 orang, dan 205 luka-luka, menurut Kementerian Kesehatan.

    Jumlah korban jiwa tersebut menjadikan total korban tewas perang di Gaza menjadi 44.176 orang, dan 104.473 orang lainnya terluka.

    5. Situasi Di Jalur Gaza Utara Makin Memburuk

    Aljazeera juga melaporkan situasi di jalur Gaza Utara menjadi semakin memburuk, ketika pasukan Israel menyerang Rumah Sakit Kamal Adwan. Itu merupakan satu-satunya fasilitas kesehatan yang beroperasi.

    Telah terjadi pengepungan ketat di daerah ini selama lebih dari sebulan, tanpa makanan, air, atau bantuan yang dikirimkan, sementara pasukan Israel terus menyerang rumah sakit. Pintu masuknya telah dihantam, begitu pula atap, tangki air, dan bahkan sistem oksigen.

    Yang menambah situasi yang mengerikan ini adalah kenyataan tidak ada tim pertahanan sipil dan masih ada orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan setelah pasukan Israel menghantam seluruh bangunan pemukiman.

    Menurut OCHA, setidaknya masih ada 60.000 warga Palestina di wilayah tersebut; beberapa dari mereka berlindung di sekolah-sekolah, yang lainnya di rumah-rumah yang masih berdiri. Namun pasukan Israel telah menyerbu daerah tersebut dan memaksa warga Palestina untuk pergi.

    Jadi warga Palestina menghadapi kelaparan dan pengungsian paksa, namun hal ini tidak hanya terjadi di bagian utara Jalur Gaza.

    Kota Gaza juga telah dilanda beberapa kali dalam seminggu terakhir, termasuk sekolah-sekolah yang menampung warga Palestina.

    (dce)

  • Israel Kembali Gempur Gaza, 19 Orang Tewas Termasuk Anak-anak

    Israel Kembali Gempur Gaza, 19 Orang Tewas Termasuk Anak-anak

    Gaza City

    Otoritas pertahanan sipil di Jalur Gaza melaporkan sedikitnya 19 orang tewas akibat serangan udara dan tembakan tank Israel pada Sabtu (23/11) waktu setempat. Terdapat enam anak-anak di antara korban tewas dalam serangan mematikan tersebut.

    Rentetan serangan terbaru Israel itu, seperti dilansir AFP, Sabtu (23/11/2024), menghantam wilayah Jalur Gaza bagian utara, terutama Gaza City, sedangkan serangkaian tembakan tank militer Tel Aviv melanda area Rafah di Jalur Gaza bagian selatan.

    “Sedikitnya 19 orang tewas dan lebih dari 40 orang lainnya mengalami luka-luka dalam tiga pembantaian yang dipicu oleh serangan udara Israel di Jalur Gaza antara tengah malam hingga pagi ini,” tutur juru bicara Badan Pertahanan Sipil Gaza, Mahmud Bassal, saat berbicara kepada AFP.

    Salah satu serangan Israel dilaporkan menghantam sebuah rumah di area Zeitun, Gaza City, hingga menewaskan sedikitnya tujuh orang, dengan tiga di antaranya masih anak-anak. Sekitar 10 orang lainnya mengalami luka-luka.

    “Apa yang dilakukan orang-orang ini? Mereka tidur di rumah mereka — mereka adalah warga sipil yang tidak ada hubungannya dengan Hamas atau perlawanan,” tanya salah satu warga yang rumahnya hancur, Abdullah Shaldan.

    Rekaman video yang dipublikasikan AFPTV menunjukkan warga setempat memeriksa reruntuhan bangunan dengan menggunakan obor dan sorot lampu ponsel dalam kegelapan, sedangkan seorang anak laki-laki dengan putus asa berteriak “papa”.

    Serangan udara Tel Aviv lainnya melanda kota utama Khan Younis. Sedikitnya enam orang, termasuk tiga anak-anak, tewas, dan sekitar 26 orang lainnya mengalami luka-luka. Bassal menyebut para korban luka merupakan pengungsi yang tinggal di tenda-tenda pengungsian di dekat rumah yang dihantam serangan.

    “Seluruh hidup kami penuh kesengsaraan. Biarkan mereka membunuh kami semuanya sehingga kami bisa terbebas dari penderitaan ini,” ujarnya.