TRIBUNNEWS.COM – Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menegaskan bahwa hubungan antara China dan Rusia adalah persahabatan yang abadi dan tidak pernah bermusuhan.
Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan kantor berita Rusia, RIA Novosti, selama kunjungan tiga harinya ke Moskow.
Wang Yi menyatakan, “Prinsip teman selamanya tidak pernah musuh berfungsi sebagai dasar hukum yang kuat untuk memajukan kerja sama strategis pada tingkat yang lebih tinggi.”
Pernyataan ini muncul di tengah upaya Presiden AS Donald Trump untuk menengahi pembicaraan perdamaian antara Rusia dan Ukraina.
Normalisasi Hubungan AS-Rusia
Dalam wawancaranya, Wang Yi juga menyambut baik tanda-tanda normalisasi hubungan antara Amerika Serikat dan Rusia.
Ia menekankan pentingnya kekuatan besar dalam bertindak sebagai faktor stabilisasi di dunia saat ini.
“Sangat menggembirakan bahwa Rusia dan Amerika Serikat telah bergerak untuk memperbaiki hubungan,” ujarnya.
Perundingan Gencatan Senjata Ukraina
Wang Yi menyoroti bahwa perundingan gencatan senjata terbaru di Ukraina telah menunjukkan hasil yang positif.
Ia menekankan perlunya melanjutkan dialog meskipun ada perbedaan pandangan dan tantangan di medan perang.
“Langkah menuju perdamaian, meskipun tidak begitu besar, bersifat konstruktif. Ada baiknya untuk terus membangunnya,” tambahnya.
Wang Yi juga menegaskan bahwa China siap memainkan peran dalam menyelesaikan konflik di Ukraina.
Ia mengusulkan pemberantasan penyebab krisis melalui dialog dan negosiasi untuk mencapai perjanjian damai yang adil, jangka panjang, dan mengikat bagi semua pihak.
“Dengan perdamaian, tidak ada rasa sakit dan tidak ada hasil. Anda perlu bekerja keras untuk mencapainya,” ujarnya.
Sebelumnya, Kremlin mengumumkan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, akan menerima kunjungan Wang Yi, yang juga dijadwalkan untuk mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov.
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).