Liputan6.com, Jakarta – Lebih dari satu bulan berlalu, duka akibat banjir bandang yang menerjang Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara masih menyisakan trauma mendalam.
Dusun Tamansari di Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batang Toru, kini berubah menjadi “kampung mati” setelah ditinggalkan oleh seluruh penghuninya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, Sabtu (10/1/2026) siang, kondisi permukiman yang dulunya dihuni oleh 43 kepala keluarga ini tampak memprihatinkan. Material banjir berupa lumpur pekat dan tumpukan kayu gelondongan berukuran besar masih berserakan di antara puing-puing rumah warga.
Meski bencana telah berlalu selama 47 hari sejak 25 november 2025 lalu, belum ada upaya evakuasi material secara menyeluruh di kawasan tersebut.
Ketakutan akan banjir susulan dari luapan Sungai Batangtoru membuat warga enggan kembali. Mereka memilih meninggalkan rumah-rumah mereka yang hancur dan bertahan di pengungsian atau menumpang di rumah kerabat.
Beberapa warga sesekali tampak mendatangi lokasi hanya untuk mencari sisa harta benda yang mungkin masih bisa diselamatkan dari balik reruntuhan.
Sukiatman, seorang korban banjir, mengungkapkan kepasrahan warga Dusun Tamansari. Menurutnya, warga sudah sepakat untuk tidak lagi menempati lokasi tersebut demi keselamatan nyawa.
“Kami sudah trauma melihat air seperti itu. lihatlah kayu-kayu besar ini, kalau hanyut secara alami pasti ada akarnya, tapi ini tidak. kami sepakat lebih baik kampung ini jadi kampung mati daripada nyawa kami terancam. kami ikhlas, yang penting selamat,” ujar Sukiatman dengan nada getir.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469146/original/021352500_1768065797-Kampung_mati_akibat_banjir_bandang_di_Tapanuli_Selatan.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)