Muhammad Rusli, Ketua RT 2 Desa Sepaso Barat, mengakui memang hutan di kawasan Perdau tergerus oleh aktivitas pertambangan dan perkebunan. Di sisi kiri tempat tinggalnya saja, beberapa hektar kebun kelapa sawit, telah diakuisisi oleh perusahaan pertambangan batu bara.
“Kalau kita lewat di tepi jalan, memang kanan kirinya pepohonan. Tapi itu cuma beberapa meter dari tepi jalan, selebihnya sudah ditambang,” kata Rusli.
Kondisi itu membuat orang utan kesulitan mencari pakan. Rusli sering menerima laporan, bahkan melihat langsung, orang utan masuk ke pemukiman, berjalan di antara rumah, untuk mencari makan.
Dia pun meyakini, seringnya orang utan masuk ke perkampungan karena di situ pakan yang banyak tersedia. Ada perubahan sikap dari orang utan sehingga tak lagi menghindari jika ada manusia
“Orang utan sekarang sudah tidak takut kalau ketemu warga. Mungkin karena kelaparan jadi sudah berani bertaruh nyawa. Sama seperti kami, merantau ke sini cuma cari makan. Berani mati untuk makan,” kata Rusli.
Puluhan tahun tinggal di kawasan Perdau membuat Rusli memahami posisi orang utan. Habitat satwa itu kian terjepit. Hutan yang tersisa untuk mencari makan benar-benar terbatas.
“Di sini sudah terjepit. Sebelah sana sawit, sebelah sini tambang. Kehadiran orang utan kadang dibenci karena dianggap menggaggu, otomatis ada usaha untuk mengusir. Kalau (orang utan) diusir di sana, diusir di sini, mau ke mana lagi?” cerita Rusli.
Satwa lain juga mulai terlihat kasihan. Rusli menyebut kawanan monyet dan beruk yang semakin ganas memasuki perkampungan warga.
Beberapa monyet yang dilihatnya dalam kondisi mengenaskan. Meski terkadang mengganggu, rasa kasihan warga juga muncul melihat kawanan primata itu.
“Dulu kita susah cari monyet yang kempes perutnya. Sekarang, kempes-kempes kasihan perutnya. Berdiri (ke kami) seakan-akan kalau itu manusia mau bilang, kasih makanlah aku,” ujarnya.
Satwa, terutama orang utan, yang semakin mudah dilihat warga, mengindikasikan tak ada lagi hutan untuk mencari sumber makan. Hal ini ternyata dipahami oleh warga namun tidak bisa berbuat banyak.
“Dulu, saat masih banyak hutan, mereka jarang muncul. Sekarang, kalau tidak datang ke sini (pinggir jalan), ke tambang, ke kampung, tidak dapat makanan orang utan itu,” kata Rusli dengan nada prihatin.
Rusli pun mendukung upaya penyelamatan orang utan melihat habitatnya yang semakin sulit mencari pakan. Sebab warganya kadang merasa kasihan melihat kondisi orang utan yang kurus dan kekurangan makanan.
Di tengah deru mesin tambang, hamparan sawit, dan industri lainnya yang terus merenggut hutan, nasib orang utan Morio di kawasan Perdau menjadi cerminan perjuangan satwa di ambang kepunahan—bertahan hidup bersama manusia, namun tanpa kepastian masa depan.