Liputan6.com, Jakarta – Siang itu, Darusman Kepala Desa Braja Asri, Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur, baru saja menghadiri acara ulang tahun di desa tetangga. Suasana masih hangat, tawa warga masih terdengar. Tiba-tiba sebuah panggilan telepon berbunyi. Mengubah segalanya. Di seberang sana, kabar datang: gajah liar masuk ke wilayah perkebunan desa.
Tanpa banyak berpikir, Darusman bergegas. Seperti hari-hari sebelumnya, dia memilih turun langsung. Memimpin. Mendampingi. Melindungi warganya. Rabu (31/12/2025) sekitar pukul 11.10 WIB itu menjadi perjalanan terakhirnya.
Di perbatasan kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dengan kebun karet milik warga Desa Braja Asri, Darusman menghembuskan napas terakhir setelah diserang gajah liar yang tengah dihalau agar kembali ke habitatnya.
Kepergiannya menyisakan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi warga desa yang selama ini mengenalnya sebagai pemimpin yang tak pernah bersembunyi di balik meja.
Di rumah duka, kesedihan masih menggantung di udara. Kakak kandung almarhum, Khusnan, berkali-kali menarik napas panjang saat mencoba merangkai kata.
“Kami sebagai keluarga besar tentu sangat sedih dan terpukul. Kejadian ini benar-benar mengejutkan kami semua,” ujarnya lirih, Kamis (1/1/2026).
Namun di balik duka, ada kegelisahan yang lebih besar. Khusnan menegaskan, konflik antara manusia dan gajah liar di Lampung Timur bukanlah cerita baru.
“Kejadian seperti ini bukan sekali dua kali. Sudah berulang. Harusnya ini jadi perhatian serius pemerintah. Jangan sampai terus memakan korban jiwa,” tegasnya.
Gajah liar kerap turun ke kebun warga, kebun karet, ladang, hingga lahan yang menunggu panen. Dalam situasi genting itu, warga desa sering kali hanya mengandalkan keberanian, tanpa perlengkapan atau pengetahuan memadai.
“Masyarakat jelas tidak bisa menghalau gajah sepenuhnya. Hari ini harus jadi pelajaran besar,” ujarnya.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460386/original/097570800_1767248331-1000882626.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)