KontraS Surabaya Sebut Keluarga Temukan Kejanggalan di Kematian Alfarisi
Tim Redaksi
SURABAYA, KOMPAS.com
– KontraS mengatakan, pihak keluarga menemukan sejumlah kejanggalan kematian Alfarisi bin Rikosen (21), tahanan aksi demonstasi di Rutan Klas I Surabaya, Medaeng, Sidoarjo.
Kepala Biro Kampanye Hak Asasi Manusia
KontraS Surabaya
, Zaldi Maulana mengatakan, pihak keluarga menemukan luka di jenazah Alfarisi ketika memandikannya.
“Pihak keluarga saat pemandian jenazah itu melihat ada beberapa kejanggalan. Pertama itu, kedua telinga Alfarisi berwarna merah,” kata Zaldi, saat dikonfirmasi, Kamis (8/1/2025).
“Terus kemudian yang kedua ada luka lebam merah kebiruan di dada sebelah kanan sampai melingkar ke punggung belakang,” tambahnya.
Kemudian, kata Zaldi, Alfarisi juga diduga mengalami tindakan kekerasan saat ditahan di Mapolrestabes Surabaya.
Hal tersebut membuatnya mengalami gejala stroke hingga sesak.
“Keluarga Alfarisi pernah bercerita kalau dia sempat mendapati kekerasan pada saat ditahan di Polrestabes. Pemukulan, ditendang, lain-lain di bagian dada hingga dia sesak,” ucapnya.
Selain itu, lanjut Zaldi, berat badan pemuda asal Sampang, Madura, tersebut juga menurun 30 sampai 40 dalam 4 bulan.
Namun, Alfarisi tak pernah mendapat perawatan medis yang layak.
“Sejauh ini kita tidak mendapatkan informasi Alfarisi pernah dirawat atau ditangani tim medis. Justru yang memberikan pertolongan pertama itu kawannya sesama tahanan,” jelasnya.
Terkait rekam medis, pihak keluarga merasa dipojokkan ketika berada di Rutan Medaeng.
Mereka diminta tanda tangan dokumen berisi tidak melakukan tuntutan hukum soal kematian alfarisi.
“Pihak keluarga tidak diberi keterangan terkait penyebab kematian Alfarisi. Justru pihak rutan Medaeng melemparkan tanggung jawab itu terhadap sesama tahanan satu blok dengan Alfarisi,” ujarnya.
“Kemudian di sana pihak keluarga juga dimintai tanda tangan empat berkas, intinya surat pernyataan pihak keluarga tidak akan menuntut atas kematian Alfarisi. Itu tanda tangan di atas materai,” imbuhnya.
Zaldi sendiri tengah berkoordinasi dengan keluarga Alfarizy untuk menentukan langkah hukum selanjutnya.
Namun, dia menuntut ada penyelidikan independen terkait kematian kliennya itu.
“Keluarga masih belum puas dengan pernyataan Alfarisi meninggal karena kegagalan nafas. Keluarga menginginkan pemerintah segera melakukan penyelidikan independen terkait penyebab kematian Alfarisi,” tutupnya.
Diberitakan sebelumnya, Kepala Rutan Kelas I Surabaya Tristiantoro Adi Wibowo mengeklaim tidak ada praktik kekerasan atau penganiayaan terhadap tahanan di dalam rutan yang dikaitkan dengan kematian terdakwa kasus demonstrasi Agustus,
Alfarisi bin Rikosen
.
Tristiantoro memastikan, seluruh proses penanganan tahanan berjalan sesuai prosedur dan membantah tudingan bahwa Alfarisi meninggal akibat kekerasan di dalam tahanan.
Alfarisi bin Rikosen (21) merupakan tahanan yang ditangkap Unit Resmob Polrestabes Surabaya terkait aksi demonstrasi pada Agustus 2025 di Surabaya.
Ia meninggal dunia di Rutan Kelas I Surabaya, Kecamatan Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, pada Selasa (30/12/2025), saat masih berstatus terdakwa dan belum memperoleh putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.
Tristiantoro menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Alfarisi meninggal karena gagal pernapasan setelah sempat mengalami kejang-kejang di dalam tahanan, dan bukan karena tindak kekerasan.
“Kami tegaskan bahwa tidak ada tindak kekerasan atau penganiayaan di dalam tahanan yang menyebabkan kematian almarhum Alfarisi,” ujar Tristiantoro, Rabu (7/1/2026).
Ia juga menyampaikan bahwa selama menjalani masa tahanan, kondisi kesehatan Alfarisi sering menurun.
Almarhum beberapa kali dikabarkan mengalami sakit dan kejang.
Riwayat penyakit kejang yang diderita Alfarisi tersebut juga dibenarkan oleh kakaknya.
“Berdasarkan pengakuan teman sekamarnya, Alfarisi memang sering kejang. Pihak keluarga juga mengakui riwayat penyakit yang diderita almarhum sejak kecil,” jelasnya.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
KontraS Surabaya Sebut Keluarga Temukan Kejanggalan di Kematian Alfarisi Surabaya 9 Januari 2026
/data/photo/2026/01/08/695fba2c25d30.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)