Kisah Tenaga Medis di Aceh Tamiang yang Rumahnya Hancur Tersapu Banjir: Kami Tetap Bekerja Regional 6 Januari 2026

Kisah Tenaga Medis di Aceh Tamiang yang Rumahnya Hancur Tersapu Banjir: Kami Tetap Bekerja
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        6 Januari 2026

Kisah Tenaga Medis di Aceh Tamiang yang Rumahnya Hancur Tersapu Banjir: Kami Tetap Bekerja
Tim Redaksi
ACEH TAMIANG, KOMPAS.com
– Di tengah lumpur yang masih menyelimuti sebagian besar wilayah Aceh Tamiang pascabanjir bandang, para tenaga medis tak hentinya berjuang merawat dan memberikan pelayanan bagi korban banjir yang mengalami sakit.
Salah satunya Cendra (32), salah seorang dokter lokal yang bekerja sebagai tenaga medis kontrak di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muda Sedia, Kabupaten
Aceh Tamiang
.
Sebagai seorang dokter, ia memikul tanggung jawab besar, yaitu menyelamatkan nyawa warga di satu-satunya rumah sakit yang masih beroperasi di wilayah tersebut.
Namun, di balik dedikasinya, Cendra juga merupakan korban. Rumah dan tempat usahanya hancur diterjang banjir, sama seperti pasien-pasien yang ia rawat.
“Kondisinya sebenarnya kami juga sangat prihatin untuk diri kami sendiri. Rumah, usaha, itu semua hancur semuanya, terendam semuanya,” ujar Cendra saat ditemui
Kompas.com
di lokasi, Selasa (6/1/2026).
Meski demikian, jiwa kemanusiaan dan sumpah profesi yang ia emban memaksanya untuk bisa bangkit lebih cepat.
Ia tak punya pilihan selain mengesampingkan ego dan kesedihan pribadinya demi melayani masyarakat yang membutuhkan.
“Nah, kondisinya sebenarnya kami juga sangat prihatin ya untuk diri kami sendiri. Rumah, usaha, itu semua hancur semuanya, terendam semuanya,” ucapnya.
“Kami juga memikirkan kemanusiaan, kami juga tetap bekerja untuk melayani masyarakat. Walaupun dengan hati, mental terpukul, kami ikhlas kok,” sambungnya.
Cendra menyebut bahwa RSUD Muda Sedia sempat mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang yang menerjang Aceh Tamiang.
Bekerja di tengah bencana pun bukan hal mudah, apalagi ketika fasilitas kesehatan tempatnya mengabdi dinyatakan lumpuh total.
“Rumah sakit kita di sini itu emang benar-benar lumpuh total. Fasilitas emang habis-habisan. Apalagi ini satu-satunya yang beroperasi,” kata dia.
Situasi ini diperparah dengan ekspektasi masyarakat yang berharap pelayanan rumah sakit tetap sempurna.
“Masyarakat masih beranggapan bahwasanya rumah sakit tuh sudah sempurna, sudah bisa dilayani, tapi kenyataan enggak seperti itu, berat semua kondisinya,” ungkap Cendra.
Ia mengaku, kedatangan banyak relawan medis ke Aceh Tamiang sangat membantu warga yang menjadi korban ataupun tenaga medis seperti dirinya yang masih berduka.
Jika ada relawan dokter umum yang masuk pagi atau siang, Cendra dan rekan-rekannya bisa mengambil alih sif malam.
“Dengan ada relawan yang datang ke sini, baik TNI, masyarakat, Polri, terus maupun relawan yang pribadi ya, mereka juga datang membantu kami. Jujur itu sangat membantu buat kami,” ujarnya.
Namun, relawan pun tak bisa selamanya melayani pasien di Aceh Tamiang dan harus kembali ke tempat asalnya.
Akibatnya, tenaga medis di lokasi bencana pun berkurang hingga saat ini dan ia harus terus bersiaga, meski kondisi kekuarganya juga belum pulih.
“Tapi untuk saat ini relawan sudah mulai berkurang yang datang ke Aceh Tamiang, khususnya dokter umum. Mereka kan paling hanya bisa dua minggu, mereka mau pulang juga kan rata-rata,” ujarnya.
“Jadi ya, jujur saya pribadi belum sanggup (menangani pasien). Karena fasilitas masih sangat berkurang, mental kami juga terpukul,” ungkapnya.
Selain beban mental dan fisik, Cendra juga menyuarakan kegelisahannya dan kegelisahan rekan-rekannya sebagai tenaga medis kontrak.
Cendra menyebut, dokter kontrak seperti dirinya digaji berdasarkan jumlah klaim asuransi BPJS Kesehatan yang ditangani.
“Tapi kan di kondisi gini, mau gimana awak? Semuanya kan jadi tidak jelas untuk status kontrak seperti kami ini,” katanya.
Usaha sampingan yang diandalkan untuk menopang hidup pun kini mati total akibat banjir.
“Mohon maaf, bukan berarti kami sangat matre, ya. Tapi saat ini usaha kami tidak berjalan. Terus kalau kami kontrak tidak ada uang gaji, anak dan istri kami mau makan apa?” ucap Cendra.
Ia pun berharap ada perhatian khusus dari pemerintah terhadap nasib tenaga medis lokal yang menjadi garda terdepan, namun juga berstatus sebagai korban terdampak.
“Kami tidak baik-baik saja. Kami juga butuh diperhatikan, bukan kami lemah ataupun cengeng. Buktinya kami tidak lari dari daerah ini, kami tetap bertahan, tapi tolong perhatikan kami,” tegasnya.
Cendra juga menyoroti kebutuhan operasional yang sangat mendesak, yakni ambulans dan tenaga dokter umum untuk Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Saat ini, RSUD Muda Sedia disebut hanya memiliki dua unit ambulans yang beroperasi.
Padahal, rujukan pasien ke rumah sakit di Medan atau Banda Aceh bisa mencapai lima kali sehari dengan jarak tempuh yang jauh.
“Kalau dua kan enggak cukup, sedangkan lima (pasien) harus bergonta-ganti. Kadang rujuknya ke Medan, lumayan jarak tempuhnya. Terus kalau satu hari lima cuma dua (ambulans) bolak-balik, kan sangat-sangat tidak efektif,” jelas Cendra.
Ia memohon adanya bantuan peminjaman unit ambulans untuk memperlancar proses rujukan pasien kritis.
Selain itu, ia juga menekankan bahwa RSUD Muda Sedia kini menjadi tumpuan tunggal, mengingat Rumah Sakit Pertamina Rantau yang ada di wilayah tersebut masih belum beroperasi akibat dampak banjir.
Cendra pun berharap bantuan yang datang tidak berhenti pada masa tanggap darurat saja.
Ia mengingatkan bahwa fase pemulihan pascabencana adalah masa yang paling berat, terutama bagi masyarakat desa yang kehilangan mata pencaharian.
“Harapan kami ke depan ya semoga banyak orang yang memperhatikan kami bukan hanya sampai tanggap darurat ya, tapi untuk
recovery
itu sangat membutuhkan,” tuturnya.
Bagi Cendra dan tenaga medis lainnya di Aceh Tamiang, perjuangan masih belum usai.
Mereka masih berdiri tegak di atas reruntuhan, merawat yang sakit, sembari perlahan menata kembali hidup mereka sendiri yang juga masih dilanda trauma akibat bencana.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.