Kisah Taufiq, Peternak Bebek Kebumen yang Bangkit dari Nol hingga Produksi Ribuan Telur Asin Regional 9 Januari 2026

Kisah Taufiq, Peternak Bebek Kebumen yang Bangkit dari Nol hingga Produksi Ribuan Telur Asin
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        9 Januari 2026

Kisah Taufiq, Peternak Bebek Kebumen yang Bangkit dari Nol hingga Produksi Ribuan Telur Asin
Tim Redaksi
KEBUMEN, KOMPAS.com –
Di tengah tantangan ekonomi dan ketidakpastian hidup, sebagian orang memilih menyerah. Namun tidak dengan Taufiq (42), peternak bebek asal Dusun Pagebangan, Desa Bulurejo, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
Berbekal tekad kuat serta memanfaatkan limbah ikan dan potensi alam sekitar, Taufiq membuktikan bahwa perjuangan bertahan hidup dapat berbuah manis.
Dari usaha kecil, kini ia mampu memproduksi ratusan hingga ribuan
telur asin
setiap hari.
Perjalanan hidupnya dimulai pada 20 Agustus 2024, saat ia kehilangan pekerjaan dan harus mencari jalan baru untuk menghidupi keluarga.
Ketika banyak orang masih bimbang menentukan arah hidup, Taufiq justru mengambil keputusan besar dengan menekuni peternakan bebek, bidang yang sebelumnya sama sekali belum ia kuasai.
Alasannya sederhana. Di tengah sulitnya mencari pekerjaan, ia melihat kekayaan alam di sekitarnya, mulai dari enceng gondok yang tumbuh subur hingga limbah ikan yang melimpah, sebagai peluang untuk berinovasi.
“Waktu itu kami mendengar bahwa ke depan kita harus berusaha di sektor pangan, entah bertani, beternak, atau nelayan. Akhirnya kami memilih ternak karena alam di Kebumen sangat mendukung,” ujarnya pada Kamis (8/1/2026).
Dengan keterbatasan modal dan minimnya pengetahuan beternak, Taufiq tidak langsung memulai dalam skala besar.
Awalnya, ia hanya memelihara 10 ekor bebek. Seiring waktu dan pengalaman, jumlah tersebut meningkat menjadi 100 ekor.
Momen bersejarah terjadi saat hasil telur pertama bahkan sempat dinikmati langsung oleh Camat setempat kala itu.
Dalam kurun waktu 1 tahun 4 bulan, jumlah ternak berkembang pesat hingga hampir 1.000 ekor bebek.
Di balik pertumbuhan tersebut, terdapat perjuangan panjang dan strategi bertahan hidup yang tidak mudah.
Untuk menekan biaya produksi, Taufiq memanfaatkan enceng gondok dan dedak sebagai pakan utama.
Pakan pabrikan hanya digunakan pada masa awal pemeliharaan, yakni saat bebek berusia 1 hingga 21 hari.
“Setelah itu mutlak enceng gondok dan limbah kepala ikan yang banyak dibsekitar sini saja mas,” kata Taufiq.
Ketika bebek mulai memasuki masa bertelur, ia kembali menyesuaikan pola pakan.
Limbah udang dan ikan dari daerah pesisir dimanfaatkan sebagai tambahan pakan, dipadukan dengan konsentrat agar produktivitas telur tetap terjaga.
Pada awalnya, telur bebek dijual dalam kondisi mentah. Namun keuntungan yang diperoleh belum mampu mencukupi kebutuhan hidup.
Taufiq kemudian mengambil langkah berani dengan belajar memproduksi telur asin.
Ia berguru kepada seorang pelaku usaha telur asin di Soka, Kebumen. Sekitar lima bulan lalu, produksi telur asin pun dimulai, dan hasilnya jauh melampaui ekspektasi.
Hingga kini, total produksi telah menembus lebih dari 10.000 butir telur asin, dengan rata-rata 300 hingga 500 butir per hari, tergantung permintaan pasar.
Telur asin tersebut dijual secara grosir dengan harga berkisar Rp 2.500 hingga Rp 3.000 per butir.
Meski margin keuntungan tidak terlalu besar, perputaran usaha berjalan stabil dan berkelanjutan.
Permintaan telur asin meningkat tajam seiring hadirnya program Makan Bergizi dari pemerintah (MBG). Produk telur asin buatan Taufiq kini diburu dari berbagai daerah, mulai dari Purworejo, Kebumen, hingga Wonosobo.
“Sejak ada MBG, kami malah kewalahan. Permintaan sangat tinggi, sampai kadang kehabisan telur,” ungkapnya.
Dalam kondisi tertentu, Taufiq bahkan harus membeli telur dari peternak sekitar untuk memenuhi pesanan. Ia juga aktif mengajak warga sekitar serta anggota kelompok ternak kecil agar ikut berkembang bersama.
“Banyak tetangga yang awalnya hanya punya 10 sampai 100 ekor, sekarang ikut kami ambil telurnya. Ini juga sebagai pemberdayaan peternak yang belum besar,” tuturnya.
Saat musim liburan dan memasuki bulan Rajab, permintaan telur asin melonjak lebih tajam. Kondisi tersebut membuat Taufiq harus bekerja ekstra. Ia kerap dibantu rekan-rekan dari Ansor dan Banser untuk mencari enceng gondok atau memberi pakan saat dirinya berhalangan.
“Kalau saya pergi, tinggal telepon teman-teman Banser. Mereka bantu carikan enceng atau memberi pakan. Kami saling menopang,” katanya.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.