Kepala BGN Sebut Dana MBG Rp 2 Triliun Berputar di Kebumen, Omzet Petani Disebut Naik Regional 13 Januari 2026

Kepala BGN Sebut Dana MBG Rp 2 Triliun Berputar di Kebumen, Omzet Petani Disebut Naik
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        13 Januari 2026

Kepala BGN Sebut Dana MBG Rp 2 Triliun Berputar di Kebumen, Omzet Petani Disebut Naik
Tim Redaksi
KEBUMEN, KOMPAS.com
– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kebumen diproyeksikan memutar dana sekitar Rp 2 triliun setiap tahunnya, memberikan dampak signifikan pada peningkatan kualitas gizi dan perekonomian daerah.
Hal ini terungkap saat kunjungan kerja Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana ke Kebumen pada Senin (12/1/2026).
Dadan Hindayana menyatakan bahwa Kebumen menjadi salah satu daerah dengan progres tercepat dalam menyiapkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Dari target 190 unit SPPG, 142 unit telah beroperasi dan 48 unit masih dalam tahap pembangunan.
“Satu SPPG mengelola dana sekitar Rp 10 sampai Rp 11 miliar per tahun. Artinya, jika seluruh target terpenuhi, maka pada 2026
perputaran dana
BGN di Kebumen hampir mencapai Rp2 triliun,” ujar Dadan.
Ia menambahkan, sekitar 70 persen dari dana tersebut, atau setara Rp 1,4 triliun, dialokasikan untuk belanja bahan baku pangan.
Jika sebagian besar kebutuhan dipenuhi dari produk lokal, dampaknya terhadap perekonomian daerah akan sangat signifikan.
“Secara nasional, perputaran uang MBG mencapai Rp855 miliar per hari. Potensi sebesar ini harus dimanfaatkan untuk menghidupkan ekonomi lokal melalui kolaborasi dengan koperasi, UMKM, dan BUMDes,” tegasnya.
Pemerintah daerah mendorong para SPPG untuk berbelanja di pasar tradisional.
“Kami mendorong dapur-dapur MBG untuk mengutamakan belanja bahan pangan dari pasar rakyat dan petani Kebumen. Komoditas lokal seperti kacang panjang, terong, mentimun, semangka, dan kelengkeng harus menjadi prioritas,” kata Lilis.
Dampak positif program ini mulai dirasakan pelaku usaha, dengan banyak pedagang merasakan berkah dari program MBG.
Susi, seorang pedagang sayur di Pasar Tumenggungan, mengaku omzetnya meningkat sejak menjadi pemasok dapur MBG.
“Dari satu yayasan saja omzet saya bisa mencapai Rp7 juta per minggu. Ini sangat membantu pedagang kecil seperti kami,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Ketua Kelompok Tani Tani Mulyo, Mochamad Imam Mursyid.
Ia menyebut omzet petani meningkat hingga 20 persen karena kini dapat memasok langsung ke SPPG tanpa melalui perantara.
“Dulu sayuran lokal sering tidak laku dan harganya jatuh. Sekarang harga lebih stabil dan kami bisa mendapat keuntungan yang layak,” ujarnya.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.