Kementrian Lembaga: BRIN

  • Fenomena Gerhana Bulan Total Terlama di RI, Ini Penjelasan BRIN

    Fenomena Gerhana Bulan Total Terlama di RI, Ini Penjelasan BRIN

    Jakarta, CNBC Indonesia – Fenomena Gerhana Bulan Total yang menghiasi langit Indonesia pada 7-8 September 2025 merupakan peristiwa astronomi langka. Banyak yang menyebutnya sebagai ‘Blood Moon’ alias Bulan Merah Darah.

    Fenomena ini terjadi ketika Bumi tepat sejajar di antara Matahari dan Bulan saat purnama. Alhasil, bayangan Bumi sepenuhnya menutupi permukaan purnama dan memunculkan rona merah yang dramatis.

    Dalam laman resminya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan femonena Gerhana Bulan Total yang baru terjadi berlangsung sekitar 82 menit menurut data ilmiah. Hal ini menandai durasi Gerhana Bulan Total terlama dalam dekade ini.

    Menurut Peneliti Utama BRIN bidang Astronomi dan Astrofisika, Prof. Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa fenomena Bulan Merah Darah disebabkan pembiasan cahaya Matahari melalui atmosfer Bumi, yang menyaring cahaya biru dan memungkinkan gelombang merah yang lebih panjang membias ke Bulan.

    “Alih-alih menjadi gelap saat Gerhana Bulan Total, purnama berubah warna menjadi memerah,” Thomas menjelaskan, dikutip dari BRIN, Senin (8/9/2025).

    “Hanya cahaya merah yang mencapai Bulan karena warna lain telah dihamburkan oleh atmosfer Bumi,” ia menambahkan.

    Gerhana tersebut dapat disaksikan secara langsung dari seluruh wilayah Indonesia. Thomas juga menyinggung soal fenomena tersebut yang bisa diamati tanpa alat bantu.

    “Gerhana ini bisa terlihat tanpa bantuan alat, hanya dengan mata telanjang kita sudah bisa menikmatinya. Tentu saja bila ada teleskop dan kamera akan lebih baik lagi untuk mengabadikannya,” ia menuturkan.

    Adapun fenomena Gerhana Bulan Total ini terbagi menjadi beberapa fase. Pertama, fase penumbral yang merupakan bayangan lembut dan tidak tampak jelas.

    Selanjutnya diikuti Gerhana sebagian, dan Gerhana Total. Lalu kembali ke fase Gerhana sebagian dan penumbral. Setiap tahapan menawarkan nuansa visual yang berbeda dan sangat memukau bagi pengamat langit.

    Selain keindahan visual, Gerhana Bulan Total juga memiliki dimensi edukatif. Thomas mendorong masyarakat untuk memanfaatkannya sebagai bahan belajar astronomi. Keteraturan orbit Bulan mengitari Bumi dan Bumi bersama Bulan mengitari Matahari yang memungkinkan prakiraan waktu kejadian gerhana.

    “Ini bukan sekadar tontonan, tetapi momentum untuk mengenal mekanika benda langit, orbit Bulan, dan konfigurasi Bumi-Matahari-Bulan,” tuturnya.

    Selain itu, kelengkungan bayangan Bumi di Bulan membuktikan Bumi yg bulat. Bukan datar. Sejumlah daerah di Asia, Australia, Afrika, dan Eropa menyaksikan Gerhana Bulan Total ini.

    Hanya Indonesia dan negara-negara di Asia tenggara dan timur yang dapat menyasikan secara penuh rangkaian Gerhana Bulan Total. Lainnya hanya menyaksikan Gerhana Bulan Total saat proses awal atau proses akhir. Sementara benua Amerika tidak dapat mengamatinya karena di benua Amerika saat itu siang hari.

    Dengan keindahan visual sekaligus kekayaan ilmiah yang dimilikinya, Gerhana Bulan Total 2025 adalah ajakan bagi masyarakat untuk melihat langit bukan sekadar untuk dilihat, tapi juga untuk dipahami.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Menyaksikan “blood moon” dari langit Jakarta

    Menyaksikan “blood moon” dari langit Jakarta

    Jakarta (ANTARA) – Langit Jakarta, utamanya kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), pada Minggu (7/9) malam hingga Senin (8/9) dini hari, cerah seperti prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

    Kondisi ini disambut gembira oleh para pemburu panorama gerhana bulan merah darah (blood moon). Mereka bisa menikmati fenomena gerhana bulan total dari berbagai penjuru kota, bahkan di wilayah penyangga Jakarta.

    Irena (25) asal Bogor, Jawa Barat, misalnya. Dia menatap langit dengan wajah semringah. Ada harapan blood moon dapat terpotret cantik melalui lensa kamera yang dia bawa.

    Selain Irena, masih ada ratusan orang lainnya yang ikut meramaikan kegiatan “Piknik Malam Bersama Gerhana Bulan Total 2025” yang diadakan di Taman Ismail Marzuki (TIM). Awalnya, peserta dibatasi hanya 300 orang saja. Namun karena peminat yang membeludak, maka dibuka kembali pendaftaran dengan kuota lebih banyak.

    Tikar hingga tenda pun berjejer di bagian depan Teater Jakarta, TIM. Anak-anak hingga dewasa duduk berkumpul untuk mengamati kejadian alam mahakarya Sang Pencipta.

    Cuaca cerah memungkinkan pengamatan gerhana bulan sepanjang malam dapat dilakukan dengan mata telanjang tanpa teleskop, demikian diungkapkan para pakar termasuk Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika dari Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin serta Ketua Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ), Muhammad Rezky.

    Jenis ponsel tertentu dapat memotret proses gerhana bulan dengan jelas. Namun, untuk melihat lebih jelas kondisi bulan beserta fitur-fitur permukaannya, maka teleskop tetap dibutuhkan.

    Kepala Sub Bagian Tata Usaha melalui Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (UP PKJ TIM), Eko Wibowo menyediakan delapan teleskop untuk digunakan secara bergantian oleh ratusan orang yang hadir malam itu.

    Dia mencatat, penyelenggara acara membuka kuota untuk sekitar 2.000 orang pendaftar dan semuanya terisi penuh.

    Sebagian orang bahkan bisa memasuki Planetarium, sementara sisanya menunggu gerhana bulan total sembari mendengarkan penjelasan pakar astronomi dari Tim Falakiyah Kementerian Agama, Cecep Nurwendaya.

    Masyarakat mengamati fase gerhana bulan di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat pada Minggu (7/9/2025) malam hingga Senin (8/9/2025) dini hari. (ANTARA/Lia Wanadriani Santosa)Peserta kegiatan “Piknik Malam Bersama Gerhana Bulan Total 2025” mengamati fase gerhana bulan di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat pada Minggu (7/9/2025) malam hingga Senin (8/9/2025) dini hari. (ANTARA/Lia Wanadriani Santosa)

    Fenomena gerhana bulan total terjadi ketika bulan berada di balik bayangan bumi. Bayangan ini dihasilkan cahaya matahari, sehingga saat bulan mulai masuk ke area bayangan, maka cahaya yang diterima, yang dipantulkan bulan dari matahari akan mulai berkurang secara perlahan.

    Proses ini dimulai sekitar pukul 22.28 WIB, atau disebut gerhana penumbra. Saat itu, bulan tampak mulai sedikit meredup namun masih tampak bulat.

    Lalu, sekitar pukul 23.27 WIB, gerhana parsial dimulai. Di sini ada perbedaan kontras. Warna bulan masih hitam dan putih. Warna bulan bisa sampai 500 kali lebih gelap daripada biasanya sehingga tampak sangat gelap. Fase ini semakin menguatkan pendapat bahwa bumi itu bulan

    Selanjutnya, pukul 00.31 WIB, awal fase gerhana bulan total dimulai, ditandai bulan mulai terlihat seperti bulan sabit.

    Pada fase ini sudah muncul warna merah pada bulan, namun tidak benar-benar tampak seperti blood moon karena ada pengaruh awan tipis.

    Menurut Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika dari Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, warna merah muncul karena ada cahaya merah yang dibiaskan bumi dan mengenai bulan.

    Karenanya, bulan tampak merah darah dan inilah sebabnya fenomena gerhana bulan total yang dilihat malam hari ini hingga dini hari berwarna merah darah atau blood moon.

    Fenomena gerhana bulan menarik untuk diamati. Kelengkungan bayangan bumi saat gerhana sebagian membuktikan bentuk bumi yang bulat.

    Puncak gerhana bulan total terjadi sekitar pukul 01.11 WIB. Saat itu, cahaya tidak betul-betul merata, dengan warna merah yang tampak tidak terlalu tajam.

    Sementara Cecep menambahkan, hal ini disebabkan kemampuan mata manusia dan ada awan tipis merata sebagai filter bulan yang sedang mengalami gerhana total.

    Lalu, pukul 01.54 WIB, merupakan akhir gerhana bulan total dan memasuki gerhana bulan parsial, ditandai langit sudah mulai cerah dan awan tipis semakin memudar.

    Sekitar pukul 02.56 WIB, gerhana parsial berakhir, dan hampir satu jam kemudian gerhana penumbra berakhir.

    Durasi seluruh proses gerhana berlangsung sekitar 5 jam 29 menit, sementara durasi totalitas gerhana bulan total berlangsung sekitar 1 jam 23 menit.

    Berbeda dengan gerhana matahari, fase gerhana bulan berlangsung lebih lama sehingga lebih leluasa untuk diamati dan dinikmati. Gerhana matahari pada tahun 2016 misalnya, totalitasnya hanya terjadi beberapa menit saja.

    Warga Jakarta dan mereka yang berada di Ibu Kota beruntung karena dapat menyaksikan gerhana bulan sejak awal hingga akhir. Negara di Eropa dan Afrika hanya dapat menyaksikan sebagian fase gerhana saja. Begitu juga dengan Jepang yang hanya dapat melihat gerhana di awal.

    Sementara negara di Amerika selain dari pantai timur Brasil dan Alaska, bahkan tidak melihat gerhana sama sekali.

    “Jadi untuk kali ini bisa dibilang giliran kita (Jakarta) yang bisa merasakan gerhana dari awal sampai akhir,” kata Rezky yang lulusan astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB).

    Adapun fenomena gerhana bulan total yang bisa disaksikan fase-fasenya secara utuh seperti 7-8 September ini diperkirakan akan terjadi kembali pada 31 Desember 2027.

    Sedangkan pada 3 Maret 2026, wilayah Indonesia diperkirakan hanya bisa melihat bagian akhir gerhana, yakni saat gerhana bulan total sudah terjadi.

    Editor: Slamet Hadi Purnomo
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Besok Ada Gerhana Bulan Total, Catat Jadwalnya

    Besok Ada Gerhana Bulan Total, Catat Jadwalnya

    Jakarta, CNBC Indonesia Fenomena Gerhana Bulan Total atau yang dikenal dengan sebutan Blood Moon diperkirakan akan menghiasi langit pada 7 hingga 8 September 2025. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan, masyarakat di seluruh wilayah Indonesia berkesempatan menyaksikan langsung peristiwa langit langka tersebut.

    Gerhana diperkirakan mulai terjadi pukul 23.27 WIB dan akan berlangsung hingga 02.56 WIB. Rinciannya adalah sebagai berikut:

    23.27 WIB – Awal gerhana sebagian

    00.31 WIB – Awal gerhana total

    01.53 WIB – Akhir gerhana total

    02.56 WIB – Akhir gerhana sebagian.

    Bukti Bumi Bulat

    BRIN menjelaskan, gerhana bulan terjadi saat Bumi berada sejajar dengan Matahari dan Bulan,. Namun tidak setiap purnama terjadi gerhana, karena orbit bulan miring terhadap bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari. Pada saat gerhana, bulan memasuki bayangan Bumi sehingga purnama tampak gelap.

    Saat memasuki bayangan penuh Bumi, fenomena ini disebut Gerhana Bulan Total. Kemudian bayangan Bumi mulai meninggalkan purnama, kembali ke fase gerhana sebagai yang menandai proses akhir gerhana.

    Menariknya, purnama tidak akan tampak gelap total. Ada cahaya merah yang dibiaskan atmosfer Bumi sehingga Bulan tampak berwarna merah darah. Karena itu, fenomena ini juga disebut “Blood Moon”.

    Prof. Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN mengatakan, gerhana bulan penting diamati karena kelengkungan bayangan Bumi saat gerhana membuktikan bentuk Bumi yang bulat.

    “Gerhana bulan menarik untuk diamati. Kelengkungan bayangan bumi saat gerhana sebagian membuktikan bentuk bumi yang bulat,” ujar Thomas.

    Pengamatan gerhana bisa dilakukan dengan mata telanjang tanpa teleskop. Bahkan, beberapa jenis ponsel dapat merekam proses gerhana dengan jelas.

    BRIN memastikan gerhana bulan total berikutnya setelah peristiwa ini akan terjadi pada 3 Maret 2026, meski wilayah Indonesia hanya bisa menyaksikan bagian akhir gerhana.

    Sementara menurut informasi dari BMKG, pengamatan gerhana bulan total dapat disaksikan untuk umum di Stasiun Meteorologi Komodo Labuan Bajo, Manggarai Barat. Selain itu ada di Lapangan dr. Murdhani, Banjarbaru pada 7 Sepmber 2025 pukul 19.00-21.30WIB.

    Masyarakat juga bisa memantau dari live streaming melalui ink beriktu https://gerhana.bmkg.go.id

    (hsy/hsy)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Jepang Sukses Tekan Korban Jiwa saat Tsunami, Ternyata Ini Rahasianya

    Jepang Sukses Tekan Korban Jiwa saat Tsunami, Ternyata Ini Rahasianya

    Jakarta, CNBC Indonesia – Jepang dikenal sebagai salah satu negara yang berhasil menekan jumlah korban jiwa saat tsunami. Kunci keberhasilan itu ternyata bukan semata pada kecanggihan teknologi peringatan dini, melainkan literasi masyarakat dalam melakukan evakuasi cepat.

    Makoto Takahashi dari Pascasarjana Ilmu Lingkungan Universitas Nagoya menegaskan, masalah utama bukan pada kurangnya informasi. Tapi, ketidakmauan masyarakat untuk segera bertindak saat peringatan diumumkan.

    “Japan Meteorological Agency (JMA) dapat mengeluarkan peringatan hanya tiga menit setelah gempa, tetapi banyak warga yang masih terlambat bereaksi. Pencegahan tsunami bukan melawan gelombang, melainkan kemampuan evakuasi cepat,” jelas Makoto dalam kuliah umum bertajuk “Menghubungkan Prediksi, Aksi Lokal, dan Literasi Bencana” yang digelar Pusat Riset Kependudukan (PRK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Nagoya di Kawasan Sains dan Teknologi Sarwono Prawirohardjo belum lama ini, dikutip laman resmi BRIS, Minggu (7/9/2025).

    Ia mencontohkan praktik Desa Nishiki di Jepang Tengah yang sukses membangun literasi bencana melalui tiga pilar utama, yaitu pembangunan jalur dan fasilitas evakuasi, pembentukan budaya sadar bencana lewat peringatan dan simulasi rutin, serta sistem peringatan berbasis komunitas. Strategi ini terbukti efektif menekan risiko korban jiwa.

    Selain itu, sejak 2003 pemerintah Nishiki sudah merelokasi penduduk ke wilayah lebih tinggi, khususnya karena jumlah lansia yang meningkat. Pendekatan kolaboratif pun ditempuh dengan melibatkan organisasi nelayan agar warga pesisir lebih siap menghadapi bencana.

    Foto: Gelombang besar terlihat mencapai garis pantai Hokkaido di Jepang pada hari Rabu (30 Juli) setelah gempa berkekuatan 8,8 melanda Semenanjung Kamchatka di Timur Jauh Rusia. (Tangkapan Layar Video Reuters/NNN/JAPAN)
    Gelombang besar terlihat mencapai garis pantai Hokkaido di Jepang pada hari Rabu (30 Juli) setelah gempa berkekuatan 8,8 melanda Semenanjung Kamchatka di Timur Jauh Rusia. (Tangkapan Layar Video Reuters/NNN/JAPAN)

    Sementara itu, Kenji Muroi dari Universitas Nagoya menyoroti pelajaran dari gempa dan tsunami Jepang Timur 2011. Pemerintah Jepang kemudian menaikkan asumsi risiko gempa Nankai Trough ke kategori “kelas maksimum”.

    Meski probabilitasnya rendah, kebijakan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat strategi pengurangan risiko. Namun Muroi mengingatkan, komunikasi risiko harus disampaikan secara bijak.

    “Prediksi ilmiah yang disampaikan tanpa hati-hati bisa memicu kekhawatiran, bahkan merugikan ekonomi seperti turunnya nilai properti. Karena itu, komunikasi pengetahuan harus sederhana, mudah dipahami, dan tidak menimbulkan ketakutan berlebih,” ujarnya.

    Sementara itu, Plt Kepala PRK BRIN, Ali Yansyah Abdurrahim, mengatakan kegiatan ini menjadi upaya memperkuat literasi kebencanaan di Indonesia sekaligus membuka peluang kerja sama lebih luas dengan Jepang.

    “Harapannya, wawasan ini tidak hanya memperkaya pemahaman akademik, tetapi juga membangun kolaborasi internasional yang lebih konkret,” kata Ali.

    Dari pengalaman Jepang yang terbukti efektif menekan korban jiwa saat tsunami, Indonesia diharapkan bisa mengadopsi praktik literasi bencana, simulasi, hingga sistem evakuasi yang lebih adaptif terhadap kondisi lokal.

    (wur)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Hore! Gerhana Bulan Total Bisa Disaksikan di Seluruh Langit Sultra, Cek Jadwalnya

    Hore! Gerhana Bulan Total Bisa Disaksikan di Seluruh Langit Sultra, Cek Jadwalnya

    Fenomena gerhana bulan berwarna merah darah atau blood moond diprediksi terjadi pada Minggu (07/09/2025), mulai pukul 23.27 WIB hingga 8 September 2025 pukul 02.56 WIB.

    “Ketika seluruh purnama masuk dalam bayangan bumi, itulah yang disebut gerhana bulan total. Kemudian bayangan bumi mulai meninggalkan purnama, kembali ke fase gerhana sebagian yang menandai proses akhir gerhana,” kata Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika dari Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin.

     Thomas melanjutkan, saat gerhana bulan total, purnama tidak gelap total. Ada cahaya merah yang dibiaskan atmosfer bumi yang mengenai bulan sehingga bulan tampak merah darah.

    “Itu sebabnya gerhana bulan total sering disebut blood moon (bulan merah darah),” paparnya.Thomas mengungkapkan gerhana bulan total yang terjadi pada 7-8 September 2025 dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia. Fenomena ini berlangsung dari pukul 23.27 sampai 02.56 WIB, dengan rincian:

    23.27 WIB – Awal gerhana sebagian

    00.31 WIB – Awal gerhana total

    01.53 WIB – Akhir gerhana total

    02.56 WIB – Akhir gerhana sebagian.

    Adapun gerhana bulan total berikutnya akan terjadi pada 3 Maret 2026. Tetapi wilayah Indonesia hanya bisa melihat bagian akhir gerhana. Saat purnama terbit, gerhana bulan total sudah terjadi.

    Sementara, pengamatan gerhana bulan bisa dilakukan dengan mata telanjang tanpa teleskop. Jenis ponsel tertentu dapat memotret proses gerhana bulan dengan jelas.

    “Gerhana bulan menarik untuk diamati. Kelengkungan bayangan bumi saat gerhana sebagian membuktikan bentuk bumi yang bulat,” tutur Thomas Djamaluddin.

  • Jadwal Gerhana Bulan Total Malam Ini, Cek Waktu Puncaknya

    Jadwal Gerhana Bulan Total Malam Ini, Cek Waktu Puncaknya

    Bisnis.com, JAKARTA – Penampakan gerhana bulan total alias Blood Moon akan terlihat pada 7-8 September 2025. Fenomena ini dapat disaksikan di langit Indonesia dengan mata telanjang alias tanpa teleskop.

    Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa gerhana bulan terjadi saat purnama, ketika matahari, bumi dan bulan berada dalam satu garis lurus.

    “Gerhana bulan menarik untuk diamati. Kelengkungan bayangan bumi saat gerhana sebagian membuktikan bentuk bumi yang bulat,” ujar Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin melalui akun Instagram @brin_indonesia dikutip Minggu (7/9/2025).

    Namun, tidak setiap purnama terjadi gerhana, karena orbit bulan miring terhadap bidang orbit bumi mengelilingi matahari. Pada saat gerhana, bulan memasuki bayangan bumi sehingga purnama tampak gelap.

    Saat bulan memasuki bayangan bumi, dimulai fase gerhana sebagian. Ketika seluruh purnama masuk dalam bayangan bumi, itulah yang disebut gerhana bulan total. 

    Kemudian, bayangan bumi mulai meninggalkan purnama, kembali ke fase gerhana sebagian yang menandai proses akhir gerhana.

    Adapun, saat gerhana bulan total, purnama tidak gelap total. Ada cahaya merah yang mengenai bulan sehingga bulan tampak merah darah. Itulah sebabnya, gerhana bulan total sering disebut Blood Moon atau bulan merah darah.

    Gerhana bulan total berikutnya akan terjadi pada 3 Maret 2026. Namun, wilayah Indonesia hanya bisa melihat bagian akhir gerhana. Saat purnama terbit, gerhana bulan total sudah terjadi.

    Selain bisa dilihat dengan mata telanjang alias tanpa bantuan teleskop, jenis ponsel tertentu juga dapat memotret fenomena gerhana bulan dengan jelas.

    Perlu dicatat, gerhana bulan total yang terjadi pada 7-8 September 2025 dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia, mulai pukul 23.27 WIB hingga 02.56 WIB.

    Berikut Jadwal Penampakan Gerhana Bulan Total:

    -23.27 WIB: Awal gerhana sebagian

    -00:31 WIB: Awal gerhana total

    -01.53 WIB: Akhir gerhana total

    -02.56 WIB: Akhir gerhana sebagian

  • Gerhana Bulan Bukti Bumi Bulat, Ini Link Streaming-Jadwal 7 September

    Gerhana Bulan Bukti Bumi Bulat, Ini Link Streaming-Jadwal 7 September

    Jakarta, CNBC Indonesia – Fenomena langit Gerhana Bulan Total atau Blood Moon akan kembali terjadi pada 7-8 September 2025. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyampaikan bahwa peristiwa langit ini bisa diamati dari seluruh wilayah Indonesia.

    Gerhana akan berlangsung mulai pukul 23.27 WIB hingga 02.56 WIB, dengan rincian:

    23.27 WIB – Awal gerhana sebagian

    00.31 WIB – Awal gerhana total

    01.53 WIB – Akhir gerhana total

    02.56 WIB – Akhir gerhana sebagian.

    Bukti Bumi Bulat

    BRIN menjelaskan, gerhana bulan terjadi saat Bumi berada sejajar dengan Matahari dan Bulan,. Namun tidak setiap purnama terjadi gerhana, karena orbit bulan miring terhadap bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari. Pada saat gerhana, bulan memasuki bayangan Bumi sehingga purnama tampak gelap.

    Saat memasuki bayangan penuh Bumi, fenomena ini disebut Gerhana Bulan Total. Kemudian bayangan Bumi mulai meninggalkan purnama, kembali ke fase gerhana sebagai yang menandai proses akhir gerhana.

    Menariknya, purnama tidak akan tampak gelap total. Ada cahaya merah yang dibiaskan atmosfer Bumi sehingga Bulan tampak berwarna merah darah. Karena itu, fenomena ini juga disebut “Blood Moon”.

    Prof. Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN mengatakan, gerhana bulan penting diamati karena kelengkungan bayangan Bumi saat gerhana membuktikan bentuk Bumi yang bulat.

    “Gerhana bulan menarik untuk diamati. Kelengkungan bayangan bumi saat gerhana sebagian membuktikan bentuk bumi yang bulat,” ujar Thomas.

    Pengamatan gerhana bisa dilakukan dengan mata telanjang tanpa teleskop. Bahkan, beberapa jenis ponsel dapat merekam proses gerhana dengan jelas.

    BRIN memastikan gerhana bulan total berikutnya setelah peristiwa ini akan terjadi pada 3 Maret 2026, meski wilayah Indonesia hanya bisa menyaksikan bagian akhir gerhana.

    Sementara menurut informasi dari BMKG, pengamatan gerhana bulan total dapat disaksikan untuk umum di Stasiun Meteorologi Komodo Labuan Bajo, Manggarai Barat. Selain itu ada di Lapangan dr. Murdhani, Banjarbaru pada 7 Sepmber 2025 pukul 19.00-21.30WIB.

    Masyarakat juga bisa memantau dari live streaming melalui ink beriktu https://gerhana.bmkg.go.id

    [Gambas:Instagram]

    (dce)

    [Gambas:Video CNBC]

  • DPR Disebut Berjanji Partisipatif, Terbuka, dan Mendengarkan Rakyat
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        5 September 2025

    DPR Disebut Berjanji Partisipatif, Terbuka, dan Mendengarkan Rakyat Nasional 5 September 2025

    DPR Disebut Berjanji Partisipatif, Terbuka, dan Mendengarkan Rakyat
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Peneliti Senior BRIN sekaligus pengurus Mujadalah Kiai Kampung, Siti Zuhro mengungkap janji pimpinan DPR yang akan terbuka dalam berkomunikasi dengan masyarakat.
    Hal tersebut disampaikan usai Majelis Mujadalah Kiai Kampung menggelar pertemuan tertutup dengan Ketua DPR Puan Maharani dan Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (4/9/2025).
    “Yang paling melegakan adalah DPR (berkomitmen) tidak boleh elitis lagi, tapi DPR yang betul-betul partisipatif yang mau mendengarkan dan membuka diri untuk terjadinya komunikasi dua arah dengan masyarakat luas,” ujar Siti Zuhro usai pertemuan, Kamis (5/9/2025).
    Pihaknya meminta DPR sebagai perwakilan rakyat untuk benar-benar menjalankan fungsinya sebagai representasi warga yang memilih mereka.
    Termasuk dalam menjalankan salah satu tugas utama DPR, yakni fungsi pengawasan terhadap jalannya pemerintahan.
    “Kita harapkan memang DPR melakukan fungsi representasi tadi itu perwakilan dengan sangat efektif. Kali ini kita tidak boleh missed,” ujar Siti.
    Di samping itu, Siti juga mengungkap bahwa DPR menghentikan tunjangan perumahan sebesar Rp 50 juta per bulan yang sebelumnya dikritisi publik.
    “Jadi uang untuk kompensasi rumah bagi anggota DPR tidak jadi diberikan, jadi diputus dan kunjungan ke luar negeri untuk anggota dewan tidak ada lagi, kecuali mungkin atas nama ketua, mewakili ketua DPR RI, itu masih dimungkinkan. Tapi yang lain tidak ada lagi,” ujar Siti.
    Sebelumnya, delapan fraksi yang ada di DPR sepakat untuk menghapus tunjangan perumahan sebesar Rp 50 juta per bulan.
    Kesepakatan tersebut diambil usai Ketua DPR Puan Maharani memimpin rapat bersama delapan pimpinan fraksi di parlemen.
    “Semua Ketua Fraksi sepakat menghentikan tunjangan perumahan bagi anggota, dan melakukan moratorium kunjungan kerja bagi anggota dan komisi-komisi DPR,” ujar Puan dalam siaran persnya, Kamis (4/9/2025).
    Rapat tersebut turut dihadiri oleh Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR Saan Mustofa, dan Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal.
    Selain menghapus tunjangan perumahan DPR, Puan mengatakan bahwa rapat tersebut juga membahas tuntutan masyarakat terhadap lembaga yang dipimpinnya.
    Puan memastikan bahwa DPR bakal berupaya melakukan reformasi kelembagaan agar bisa sesuai harapan masyarakat luas.
    “Saya sendiri yang akan memimpin reformasi DPR,” ujar politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu.
    “Prinsipnya kami DPR akan terus berbenah dan memperbaiki diri. Apa yang menjadi aspirasi masyarakat pasti akan kami jadikan masukan yang membangun,” sambungnya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Trump Kumpulkan Zuckerberg Sampai Bill Gates, Minus Elon Musk

    Trump Kumpulkan Zuckerberg Sampai Bill Gates, Minus Elon Musk

    Washington

    Presiden Donald Trump mengundang sejumlah tokoh penting dari kalangan elit dunia teknologi untuk makan malam di Gedung Putih. Namun Elon Musk, orang terkaya dunia pemilik Tesla dan SpaceX, tidak kelihatan batang hidungnya.

    Di antara mereka yang hadir dalam makan malam pada 4 September itu adalah pendiri Meta Mark Zuckerberg, pendiri Microsoft Bill Gates, CEO Apple Tim Cook, Sergey Brin dan Sundar Pichai dari Google, dan pendiri OpenAI Sam Altman.

    Dikutip detikINET dari USA Today, Elon Musk yang pernah menjadi sekutu terdekat Trump sebelum berselisih tidak datang. Di X, dia mengaku diundang, tetapi sayangnya tidak dapat hadir.

    Setelah hubungan yang dulunya dingin dengan Silicon Valley, Trump diterima oleh banyak pemimpin teknologi di masa jabatan keduanya. Dia mempromosikan mata uang kripto, memperingatkan negara-negara asing agar tidak meregulasi teknologi, dan mendorong dominasi Amerika dalam AI.

    Para tamu makan malam itu pun bergantian memuji Trump selama acara tersebut. Para pemimpin teknologi yang diundang ke Gedung Putih mewakili beberapa perusahaan AI terbesar di dunia. Zuckerberg duduk di sebelah presiden, sementara Gates duduk di sebelah ibu negara Melania Trump.

    Trump duduk bersama Mark Zuckerberg. Foto: REUTERS/Brian Snyder

    “Merupakan suatu kehormatan berada di sini bersama sekelompok orang ini, mereka memimpin revolusi dalam bisnis, kejeniusan, dan dalam setiap kata yang saya pikir dapat Anda bayangkan,” kata Trump saat membuka acara.

    Melania Trump menyelenggarakan acara Gedung Putih yang berfokus pada AI pada hari sebelumnya yang dihadiri Altman dan Pichai. “Robot sudah ada di sini. Masa depan kita bukan lagi fiksi ilmiah,” kata Melania Trump di acara tersebut.

    Perusahaan-perusahaan AS berlomba membangun dominasi AI atas China, dan Trump menjadi pendorong utama. Ia menunjuk kapitalis ventura David Sacks sebagai kepala AI dan kripto Gedung Putih. Sacks menguraikan upaya pemerintahan Trump untuk memastikan AS mendominasi AI dan berterima kasih ke para pemimpin teknologi yang hadir karena mengutamakan Amerika.

    Trump telah menerapkan program tarif agresif dan mendorong perusahaan untuk mengalihkan manufaktur ke Amerika Serikat, membuat banyak perusahaan untuk mengumumkan investasi baru di AS.

    Pemerintahan Trump merilis cetak biru kecerdasan buatan pada bulan Juni, bertujuan untuk melonggarkan aturan lingkungan dan memperluas ekspor AI ke negara-negara sekutu. Itu sebagai upaya mempertahankan keunggulan Amerika atas China dalam teknologi penting tersebut.

    Daftar undangan makan malam tersebut juga termasuk dua lusin tokoh teknologi terkemuka. Mereka antara lain CEO Figma, Dylan Field, Presiden Groq, Sunny Madra, pendiri Social Capital, Chamath Palihapitiya, pendiri Zynga, Mark Pincus, pendiri Ring, Jamie Siminoff, dan CEO Oracle, Safra Catz.

    Juga ada CEO Blue Origin, David Limp, CEO Micron Technology, Sanjay Mehrotra, Presiden OpenAI, Greg Brockman, CEO Microsoft, Satya Nadella, pendiri Tibco, Vivek Ranadive, dan Chief Technology Officer Palantir, Shyam Sankar.

    (fyk/fyk)

  • Ada Gerhana Bulan Total 7 September di RI, Awas Banjir di Lokasi Ini

    Ada Gerhana Bulan Total 7 September di RI, Awas Banjir di Lokasi Ini

    Jakarta, CNBC Indonesia – Fenomena langit bakal menyapa Indonesia akhir pekan ini. Pada 7 September 2025 malam, masyarakat Indonesia bakal bisa melihat Gerhana Bulan Total (GBT).

    Gerhana Bulan bisa diamati mulai pukul 23:27:02 WIB tanggal 7 September 2025 mendatang. Sementara fase total bakal terjadi antara tengah malam 8 September 2025.

    “GBT (Gerhana Bulan Total) bisa teramati di Indonesia pada 7 Sep 2025 malam sampai dini hari 8 Sep 2025, mulai pukul 23.27.02 WIB sampai pk 02.56.26 WIB,” kata Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin kepada CNBC Indonesia, Kamis (4/9/2025).

    “Fase total terjadi pukul 00.30.31 sampai 01.52.47,” dia menambahkan.

    Dia menjelaskan tidak perlu alat khusus untuk melihat Gerhana Bulan Total. Jadi masyarakat bisa mengamatinya secara langsung.

    GBT sendiri kerap disebut sebagai blood moon atau bulan merah darah. Ini karena Bulan menjadi gelap karena bayangan Bumi.

    “Gerhana bulan total (GBT) sering disebut sbg blood moon atau bulan merah darah. Hal tersebut terjadi karena bulan tergelapi bayangan bumi. Namun bulan tdk gelap total, karena ada pembiasan matahari oleh atmosfer bumi. Hanya cahaya merah yg diteruskan karena cahaya biru dihamburkan oleh atmosfer bumi,” jelasnya.

    Thomas mengatakan dampak fenomena ini sama seperti saat fase Bulan purnama, yakni bakal ada pasang maksimum air laut. Dampak tersebut bisa berpotensi menyebabkan banjir rob pada daerah pesisir.

    “Dampaknya sama dengan dampak purnama umumnya, yaitu pasang maksimum yang berpotensi banjir rob,” ungkap Thomas.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]