Kekacauan Imbas Banjir Mega Bekasi: Dagangan Terendam, Mobil-mobil Rusak
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Berbagai kerusakan terjadi akibat banjir yang melanda
Mega Bekasi Hypermall
pada Selasa (4/3/2025) pagi.
Air kecokelatan yang masuk dari tembok belakang mal itu, selaun merendam mobil yang terparkir di lahan parkir terbuka, juga merendam berbagai bahan dagangan orang.
Setidaknya ada tujuh mobil yang terendam atas kejadian itu.
Beberapa mobil terendam hingga hanya menyisakan atapnya. Sementara sisanya, terendam sepenuhnya.
Kondisi mobil-mobil itu tidak kalah kacau. Lumpur kecokelatan menjadi pelapis utama setelah banjir sedikit surut.
Bahkan, beberapa mobil kacanya pecah.
Beberapa pemilik mobil mengeluhkan biaya perbaikan mobil yang ditaksir mencapai puluhan juta setelah mobil mereka terendam banjir, Selasa (4/3/2025) pagi.
Evan (32), pemilik mobil Expander yang terendam banjir, menaksir biaya perbaikan mobilnya mencapai Rp 50 juta.
Pasalnya, mobil Evan sendiri terendam hampir sepenuhnya, hanya menyisakan atap mobil yang kering dari air.
Seluruh mesinnya basah dan kaca kirinya pecah karena tekanan air.
“Kondisinya sih parah ya. Itu kaca mobilnya juga pecah dan kita enggak tahu juga kondisi nanti di bengkel harus ganti
part
apa saja. Cuma kalau diestimasikan sih bisa Rp 50 jutaan untuk semua (perbaikan),” kata dia, Rabu (5/3/2025).
Belum lagi, mobil miliknya baru saja dibeli enam tahun yang lalu seharga sekitar Rp 300 juta.
Dia mengaku dilema antara menjual barang itu dengan harga murah atau tetap menggunakannya dengan kondisi mesin yang tidak maksimal.
“Lihat lagi lah ke depannya bakal gimana. Intinya sih perbaikan dulu ya,” tambah dia.
Senada, Robin (39) juga menaksir uang yang harus dia keluarkan untuk memperbaiki mobilnya usai banjir mencapai Rp 30 juta.
Kata dia, angka itu bisa saja lebih tinggi jika nantinya mekanik menemukan banyak bagian kendaraannya yang rusak.
“Kalau perbaikan resmi enggak berat minimal Rp 30 juta. Kalau berat, bisa di atas itu. Tapi kalau bengkel biasa Rp 20 juta an,” kata dia, Rabu.
Kondisi mobil Robin bahkan terendam banjir sepenuhnya. Terlebih lagi, kacanya turut pecah karena rendaman air semalam.
Kini, dia sendiri mengaku bakal menjual mobilnya yang menjadi korban banjir itu.
Dia mengaku takut, jika tetap menggunakan mobil tersebut, kondisi mesin dari mobil itu tidak akan baik-baik saja.
Dia bahkan berencana mengajukan kredit untuk mobil baru.
“Mau gimana? Mau diperbaiki terus dijual atau dikredit ganti mobil baru, ditukar tambah itu sudah paling gampang. Kalau dipakai sendiri itu, ke depannya bakal ada potensi kerusakan yang enggak jelas,” tutup dia.
Barang dagangan para pemilik lapak juga menjadi sasaran banjir tersebut.
Hingga Rabu (5/3/2025) para pemilik lapak masih berbondong-bondong masuk ke dalam mal untuk mengevakuasi sisa barang mereka.
Beberapa kembali ke luar membawa ember berisi pakaian yang telah basah. Pakaian-pakaian itu mereka kumpulkan di sebuah truk.
Kondisi Mega Bekasi Hypermall di sisi timur terlihat sibuk oleh orang lalu-lalang masuk ke dalam mal untuk menyelamatkan sisa barang mereka.
Beberapa pemilik lapak di lantai dasar Mega Bekasi Hypermall menyesalkan sikap manajemen mal yang tidak memberikan peringatan dini terkait banjir yang melanda mal tersebut.
Adi (37), pemilik lapak yang telah berdagang sejak tahun 2013 di mal tersebut mengatakan, manajemen mal sempat mengimbau para pedagang untuk tidak mengevakuasi barang dagangan mereka sebelum tanggung jebol.
“Debat dulu nih. Dibilang aman lah, dibilang manajemennya tanggung jawab lah. Tahu-tahu jebol. Baru dah (manajemen) teriak (untuk evakuasi),” kata dia saat ditemui di Mega Bekasi Hypermall, Rabu.
Jebolnya tembok pembatas antara mal dengan kali yang meluap itu terjadi sekitar pukul 09.00 WIB.
Saat itu, tidak ada banyak waktu bagi Adi untuk mengevakuasi barang-barangnya.
Belum lagi, air naaiik dengan cepat ke lantai dasar tempatnya berjualan.
Hanya butuh waktu sekitar satu jam untuk air memenuhi seisi ruangan setinggi sekitar 150 sentimeter.
“Jadi tenaganya (untuk evakuasi) enggak bakalan keuber. Dia (manajemen) enggak nyangka juga kali, soalnya dinding air jebol. Jadi masuk air sudah kayak tsunami,” tambah dia.
Senada, Ari (32) juga mengatakan bahwa pihak manajemen mal sempat melarang para pedagang untuk mengevakuasi barang mereka ketika sebelum tembok air jebol.
Padahal, Ari sudah berupaya untuk mengevakuasi barang-barang dagangannya agar terhindar dari terjangan banjir.
Tidak lama kemudian, tanggul menjadi jebol dan tidak banyak barangnya yang bisa dia selamatkan.
“Satu lagi, dari manajemen enggak ngeizinin juga. Enggak diizinin naikin (barang), bilangnya aman-aman,” kata dia.
Alhasil, dia harus menelan kerugian sejumlah Rp 100 juta akibat banjir yang melanda barang dagangannya.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Kekacauan Imbas Banjir Mega Bekasi: Dagangan Terendam, Mobil-mobil Rusak Megapolitan 6 Maret 2025
/data/photo/2025/03/05/67c82ad30f028.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)