Kasus: teror

  • Negara yang Tak Sadar Penegak Hukumnya Disasar

    Negara yang Tak Sadar Penegak Hukumnya Disasar

    MEDAN – Menko Polhukam Mahfud MD mengklaim tak ada kecolongan dalam peristiwa bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumatera Utara. Polisi pun mengaku begitu. Segala klaim boleh saja dikatakan. Masalah kecolongan atau tidak, sebaiknya kita nilai sendiri berdasar kronologi dan analisis terhadap peristiwa.

    Ditemui wartawan di Sentul International Convention Center (SICC), Mahfud mengatakan, pemerintah telah melakukan upaya pencegahan semaksimal mungkin. Mahfud juga menolak istilah kecolongan yang banyak digunakan untuk menggambarkan peristiwa ini.

    “Pencegahan sudah kita lakukan. Ada intelijen, informasi. Kalau tak ada pencegahan, makin banyak kayak gini,” kata Mahfud.

    Seperti Mahfud, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, personel kepolisian di Mapolrestabes Medan telah melakukan penjagaan sesuai prosedur tetap (protap). Namun, kenyataannya pelaku tetap berhasil menyusup.

    Pernyataan Dedi sendiri yang menggambarkan proses penyusupan oleh pelaku peledakan bom. Menurut Dedi, pelaku memanfaatkan keramaian di Mapolrestabes Medan yang tengah menerima banyak permohonan penerbitan SKCK.

    “Sudah dilakukan pemeriksaan semuanya. Termasuk barang-barang yang dibawa, sudah dicek,” kata Dedi kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu, 13 November.

    “Kebetulan saat itu ada beberapa kegiatan kepolisian dan masyarakat yang akan buat SKCK yang bersama-sama masuk (ke Mapolrestabes). Momen itu dimanfaatkan pelaku untuk menyusup,” tambah Dedi.

    Peledakan bom di Mapolrestabes Medan (Istimewa)

    Pelaku diketahui meledakkan diri ketika para personel kepolisian baru saja menyelesaikan apel pagi sekitar pukul 08.45 WIB. Pelaku masuk melalui pintu depan Mapolrestabes Medan.

    Ia berjalan sejauh 30 hingga 50 meter menuju Kantor Bagian Operasi Polrestabes Medan untuk kemudian meledakkan diri.

    Pengamat terorisme, Harits Abu Ulya mempertegas narasi yang menyebut negara, khususnya kepolisian telah kecolongan.

    “Kali ini publik bisa saja mengkritisi aparat kecolongan. Alasannya cukup rasional. Sudah banyak yang ditangkap dalam beberapa bulan terakhir, tapi masih juga ada aksi teror,” kata Harits, dihubungi VOI, Rabu, 13 November.

    Penangkapan berujung dendam

    Lebih lanjut, Mahfud juga mengatakan kepolisian telah melakukan upaya maksimal mencegah tindak terorisme. Memang, sejak penusukan mantan Menko Polhukam Wiranto, polisi terus menangkap sejumlah terduga teroris.

    Terakhir, kemarin, Selasa, 12 November, polisi menangkap seorang terduga teroris berinisial WJ alias Patria alias Dwi satu hari sebelum ledakan. WJ ditangkap di wilayah Bekasi, Jawa Barat.

    Sosok terduga teroris itu disebut-sebut merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Bahkan, pria itu merupakan angkatan pertama dalam pelatihan perang dalam kelompok terorisme tersebut.

    WJ juga diketahui memiliki kemampuan merakit bom. Ia pernah mengikuti perang di Suriah bersama Doktor Azahari tujuh tahun silam. “Pada tahun 2012 (WJ) mengikuti perang di Suriah bersama Azahari dan kemudian menjalin hubungan juga dengan FSA atau Free Syria Army,” kata Dedi.

    Kemudian, WJ juga disebut pernah melakukan perjalanan ke beberapa negara. Mulai dari Filipina, Uni Emirat Arab, Sri Lanka dan Hong Kong. Dalam penangkapan, beberapa barang butki berupa beberapa anak panah, alat-alat elektronik dan alat komunikasi disita.

    “Alat komunikasi ini masih didalami apakah akan digunakan juga untuk rangkaian untuk merakit bom masih kita dalami juga,” terang Dedi.

    Di satu sisi, perlu barangkali mengapresiasi upaya pencegahan lewat penangkapan-penangkapan ini. Namun, di sisi lain, berbagai penangkapan ini juga yang memperkuat fakta bahwa polisi kecolongan.

    Tak sadar mereka disasar

    Pertimbangannya sederhana. Polisi telah lama jadi musuh sekaligus sasaran utama teroris. Dan penangkapan-penangkapan yang kian masif, secara otomatis meningkatkan risiko serangan bagi Korps Bhayangkara. Polisi seharusnya tahu itu.

    Menurut Harits Abu Ulya, bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan memiliki pola yang sama secara motif: dendam. Namun, Harits tak dapat berspekulasi soal asal-usul pelaku teror.

    “Mungkin terkait dengan tindakan polisi sebelumnya terhadap kawanan mereka. Dianggap menjadi penghalang tujuan dan misi mereka atau dianggap telah berbuat tidak manusiawi terhadap kawan mereka yang tertangkap,” kata Harits.

    Peledakan bom di Mapolrestabes Medan (Istimewa)

    Polisi nampaknya perlu meningkatkan kesadaran bahwa mereka adalah sasaran utama aksi terorisme. Berbagai peristiwa seakan melegitimasi pandangan ini.

    “Dendam telah menjelma menjadi ideologi yang menstimulasi aksi teror dari beberapa person atau entitas. Dendam menjadi determinasi, plus dibumbui dengan doktrin teologi yang beku, bersenyawa untuk menghasilkan legitimasi aksi nekat teror,” Harits.

    Pengamat terorisme lainnya, Al Chaidar menuturkan pandangan yang sama. Menurutnya, polisi sebagai penegak hukum wajib sadar diri bahwa mereka adalah musuh kriminalisme. Jangankan untuk teroris.

    Bagi pelaku kejahatan jalanan dan narkoba saja, polisi adalah musuh terbesar. “Jadi, memang harusnya polisi lebih sigap lagi. Dan lebih kencang lagi melakukan penindakan dan penangkapan,” kata Chaidar dihubungi VOI.

  • Program Deradikalisasi yang Katanya Perlu Dievaluasi

    Program Deradikalisasi yang Katanya Perlu Dievaluasi

    JAKARTA – Markas Polrestabes Medan, Sumatera Utara diserang pelaku teror bom pagi ini. Satu orang pelaku yang membawa bom, tewas dalam serangan tersebut. Sementara, enam orang yang ada di lokasi kejadian, luka-luka. Para korban sedang dirawat di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Medan.

    Aksi ini dianggap Ketua DPR Puan Maharani sebagai gagalnya program deradikalisasi. “Deradikalisasi ini harus kita evaluasi. Ini sudah masuk ke individu,” kata Puan di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 13 November 2019.

    Politikus PDI Perjuangan ini meminta BNPT, Polisi, dan TNI membenahi ini dengan cara meningkatkan sistem keamanan dan peran aparat penegak hukum. Selain itu, masyarakat juga dia minta untuk meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah teror seperti ini terjadi lagi.

    Puan juga minta, kasus ini diusut tuntas dan dilakukan antisipasi serta mitigasi ke depannya karena pelaku menggunakan seragam ojek online. “Semuanya, sekarang juga masyarakat melakukan itu (menggunakan jasa ojek online). Jadi kita menganggap itu biasa ada yang mau mengantar barang atau mengirim barang, tapi ternyata punya tujuan tertentu yang membahayakan,” ujarnya.

    Menteri Agama Fachrul Razi mengatakan, program deradikalisasi masih dijalankan secara intensif. Dia tak mau menyatakan ini efektif atau patut dievaluasi. Karena, buat Fachrul hal itu relatif tergantung sudut pandangnya.

    “Yang jelas upaya itu dilakukan intensif. semua orang sadar (radikalisme) itu sangat berbahaya,” kata Fachrul di sela kegiatan Rakornas Forkopimda di SICC, Bogor.

    Dia menambahkan, di era digital 4.0 ini, media sosial memberikan banyak dampak bagi penggunannya, termasuk memberikan paparan radikalisme. Karenanya, kata dia, pemerintah menyerahkan kepada masyarakat untuk bijak memilih media sosial yang mereka suka.

    “Medsos memberikan banyak pilihan dan umat tinggal memilih saja,” ujar dia.

    Sementara, untuk mencegah radikalisme di ranah aparatur sipil negara, Fachrul membuat aturan larangan menggunakan cadar dan bercelana cingkrang. Aturan ini, nanti akan disepakati oleh 8 menteri.

    “Untuk ASN kita keluarkan putusan bersama 8 menteri nanti dilihat. Semua sama-sama 8 menteri itu,” kata dia.

    Ilustrasi (Ilham Amin/VOI)

    Sementara itu, di tempat yang sama, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD meminta semua pihak dewasa dan tak menyalahkan pemerintah dalam menanggapi peristiwa teror seperti ini.

    “Kepada masyarakat jangan selalu nyinyir, kalau pemerintah bertindak lalu dikatakan melanggar HAM, kalau tidak bertindak dibilang kecolongan, kita sama-sama dewasa menjaga negara ini,” kata Mahfud. 

    Sebab, kata dia, pemerintah melakukan upaya optimal untuk mencegah aksi teror bom dan radikal lainnya di Tanah Air. “Kalau tidak berupaya mati-matian, bisa lebih banyak lagi (korban dan kejadian). Oleh sebab itu jangan selalu menyudutkan aparat kalau mengambil tindakan, dikontrol saja secara proporsional, benar atau tidak,” ujarnya.

    Dari segi data, Mahfud mengatakan, angka kejadian teror di 2019 turun ketimbang tahun 2017 dan 2018. “Dari sudut kuantitatif turun, karena pencegahannya sudah lebih baik, bahwa masih ada satu dua itu tidak bisa dihindari,” ucapnya.

    Mahfud ditanya lagi soal ini ketika datang ke DPR pada sore hari. Dia ke DPR untuk rapat dengan Badan Legislatif.

    Di DPR Mahfud mengatakan, program deradikalisasi sudah cukup bagus. Dia masih menyebut kalau secara kuantitatif, antisipasi deradikalisasi membaik untuk tahun 2019. Tapi, dia tak memaparkan datanya secara komprehensif.

    “Tingkat antisipasi sudah oke. Tapi sekarang terjadi perluasan subjek,” kata dia sambil menambahkan perluasan subjek yang dimaksud adalah kalau dulu pelaku teror adalah laki-laki dewasa, kini meluas ke perempuan dan anak.

    “Tapi kualitasnya menurun. Berarti tingkat antisipasi dari keamanan dan intelijen sudah cukup. Ya perlu ditingkatkan,” tuturnya.

    Yang pasti, tegas Mahfud, upaya deradikalisasi yang sifatnya fisik merupakan kewenangan Polri, sedangkan yang sifatnya mental jadi ranah Majelis Ulama Indonesia. Sementara, kementerian lain punya cara sendiri-sendiri untuk menangani deradikalisasi ini.

    “Saya kira Polri juga sering melakukan deradikalisasi itu melalui penataran-penataran, kunjungan ke pesantren, MUI juga, Kementerian Agama juga harus, Kemendikbud juga, semuanya lah deradikalisasi itu,” katanya.

  • Mohammad Shaheen Tewas di Lebanon, Israel Koar-koar Tender 1.000 Pemukiman di Tepi Barat – Halaman all

    Mohammad Shaheen Tewas di Lebanon, Israel Koar-koar Tender 1.000 Pemukiman di Tepi Barat – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Serangan pesawat nirawak Israel di Lebanon selatan pada hari Senin (17/2/2025) menewaskan kepala operasi militer Hamas di negara itu, kata militer Israel.

    Serangan itu terjadi menjelang batas waktu penarikan penuh Israel dari Lebanon selatan berdasarkan perjanjian gencatan senjata yang mengakhiri perang 14 bulan antara Israel dan Hizbullah.

    Militer Israel mengatakan telah menewaskan Mohammad Shaheen, kepala departemen operasi Hamas di Lebanon.

    Militer menuduh Shaheen “baru-baru ini merencanakan serangan teror, yang diarahkan dan didanai oleh Iran, dari wilayah Lebanon terhadap warga negara Israel.”

    Hamas mengonfirmasi kematian Shaheen tetapi menggambarkannya sebagai seorang komandan militer, dikutip dari Outlook India.

    Rekaman menunjukkan sebuah mobil dilalap api setelah serangan di dekat pos pemeriksaan militer Lebanon dan stadion olahraga kota Sidon.

    Batas waktu penarikan pasukan semula adalah akhir Januari, tetapi karena tekanan dari Israel, Lebanon setuju untuk memperpanjangnya hingga 18 Februari.

    Masih belum jelas apakah pasukan Israel akan menyelesaikan penarikan pasukan mereka pada hari Selasa.

    Sejak gencatan senjata, Israel terus melancarkan serangan udara di Lebanon selatan dan timur, dengan mengatakan bahwa serangan itu menargetkan lokasi militer yang berisi rudal dan peralatan tempur.

    Israel dan Lebanon saling menuduh telah melanggar perjanjian gencatan senjata.

    Tender Pemukiman Tepi Barat

    Israel telah mengeluarkan tender untuk pembangunan hampir 1.000 rumah pemukim tambahan di Tepi Barat yang diduduki, kata pengawas anti-pemukiman hari ini.

    Peringatan itu datang pada hari ke-500 perang Israel di Gaza dan saat kabinet keamanan Israel bersiap membahas fase berikutnya dari perjanjian gencatan senjata dengan Hamas.

    Peace Now mengatakan bahwa rencana pembangunan 974 unit rumah baru di pemukiman Efrat akan menyebabkan perluasan pemukiman sebesar 40 persen dan semakin menghambat pembangunan kota Palestina di dekatnya, Bethlehem.

    Hagit Ofran, kepala pemantauan permukiman kelompok tersebut, mengatakan konstruksi dapat dimulai setelah proses kontrak dan persetujuan izin, yang dapat memakan waktu setidaknya satu tahun.

    Pemukiman di Tepi Barat adalah ilegal menurut hukum internasional, namun Israel telah membangun lebih dari 100 pemukiman, mulai dari pos terdepan di puncak bukit hingga komunitas pinggiran kota yang sudah berkembang penuh dengan infrastruktur yang seringkali tidak dapat diakses oleh warga Palestina.

    Lebih dari 500.000 pemukim tinggal di Tepi Barat yang diduduki, yang merupakan rumah bagi sekitar tiga juta warga Palestina yang hidup di bawah kekuasaan militer sementara para pemukim memegang kewarganegaraan Israel.

    Peace Now menuduh pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memprioritaskan pembangunan permukiman sementara puluhan sandera yang ditangkap Hamas pada 7 Oktober 2023 masih ditawan di Gaza.

    “Sementara rakyat Israel mengarahkan perhatian mereka pada pembebasan para sandera dan diakhirinya perang, pemerintah Netanyahu bertindak ‘dengan sangat agresif’ untuk menetapkan fakta-fakta di lapangan yang akan menghancurkan peluang terciptanya perdamaian dan kompromi,” katanya dalam sebuah pernyataan, diberitakan Morning Star.

    “Sekarang jelas bahwa tindakan militer saja tidak akan membawa solusi bagi konflik atau keamanan bagi Israel, dan bahwa pada akhirnya kita harus mencapai kesepakatan dengan Palestina.

    “Pemerintah Netanyahu merugikan kepentingan Israel dan menghancurkan satu-satunya solusi yang dapat mendatangkan keamanan dan perdamaian bagi kita.”

    Peringatan itu muncul beberapa jam setelah pemukim Israel menyerang rumah dan properti Palestina pada malam hari di kota dan desa Duma, Aqraba dan Jurish di provinsi Nablus.

    Menurut kantor berita Wafa, pemukim menyerang penduduk, mencuri ternak dan menghancurkan peternakan unggas.

    Sebelumnya pasukan Israel melukai sedikitnya 13 warga Palestina dalam serangan ke Nablus.

    Warga Israel menggelar unjuk rasa di seluruh negeri hari ini menuntut agar gencatan senjata diperpanjang sehingga lebih banyak sandera dapat dibebaskan.

    Di Tel Aviv, para pengunjuk rasa memblokir persimpangan utama, sementara yang lain berencana untuk berpuasa selama 500 menit sebagai bentuk solidaritas dengan mereka yang masih ditahan di Gaza.

    Hamas akan melanjutkan pembebasan bertahap 33 sandera selama fase gencatan senjata saat ini dengan imbalan ratusan tahanan Palestina.

    Israel mengatakan pasukannya telah mundur dari sebagian besar wilayah Gaza dan mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan, tetapi perang selama 15 bulan telah menghancurkan 70 persen bangunan di Gaza, dan sebagian besar keluarga tidak memiliki tempat tinggal.

    Dan Israel telah mencegah masuknya tempat perlindungan yang dijanjikan sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata, meninggalkan puluhan ribu rumah mobil terjebak di penyeberangan Rafah sambil menunggu persetujuan.

    Dari 60.000 rumah mobil dan 200.000 tenda yang disetujui berdasarkan kesepakatan tersebut, sejauh ini hanya 20.000 tenda yang diizinkan masuk.

    Laporan juga menunjukkan bahwa serangan Israel di Gaza terus berlanjut meskipun ada gencatan senjata.

    Media lokal melaporkan dua kematian warga Palestina lagi hari ini akibat luka-luka yang diderita beberapa hari sebelumnya — satu akibat peluru tajam di Rafah dan satu lagi akibat serangan udara di Khan Younis.

    Investigasi oleh media Israel The Hottest Place in Hell menemukan bahwa militer Israel memaksa seorang pria Palestina berusia 80 tahun untuk bertindak sebagai perisai manusia di Gaza, mengikatkan kabel peledak di lehernya dan mengancam akan meledakkannya jika dia tidak menurut.

    Pria itu dilaporkan dipaksa mencari rumah tentara sebelum akhirnya diperintahkan melarikan diri bersama istrinya.

    Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Mediterania juga melaporkan penganiayaan berat terhadap tahanan Palestina yang dibebaskan berdasarkan gencatan senjata, dengan menyatakan bahwa banyak dari mereka menjadi sasaran penyiksaan, kelaparan, dan kurungan isolasi.

    Sementara itu, Israel dan Hamas belum merundingkan fase kedua gencatan senjata, yang diperkirakan melibatkan pembebasan lebih dari 70 sandera yang tersisa, setengahnya diyakini telah tewas, sebagai imbalan atas penarikan penuh pasukan Israel dan gencatan senjata yang langgeng.

    (*)

  • TNI: Motif OPM Bakar Sekolah di Papua untuk Menciptakan Ketakutan di Masyarakat

    TNI: Motif OPM Bakar Sekolah di Papua untuk Menciptakan Ketakutan di Masyarakat

    TNI: Motif OPM Bakar Sekolah di Papua untuk Menciptakan Ketakutan di Masyarakat
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com

    TNI
    menyatakan bahwa motif dari aksi
    pembakaran sekolah
    menengah pertama (SMP) di Distrik Agandugume, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah pada 14 Februari lalu oleh Organisasi Papua Merdeka (
    OPM
    ) murni untuk menciptakan ketakutan di masyarakat.
    Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen Hariyanto, belum melihat apakah motif aksi pembakaran tersebut berkaitan dengan adanya penolakan makan bergizi gratis yang belakangan disuarakan aliansi pelajar Papua.
    “Apa motif dari aksi pembakaran ini, aksi ini merupakan bentuk gangguan keamanan yang sering dilakukan OPM untuk menciptakan ketakutan di masyarakat,” kata Hariyanto, kepada Kompas.com, Senin (17/2/2025) malam.
    Hariyanto menegaskan, TNI terus berupaya menjaga stabilitas dan melindungi warga dari tindakan kriminal OPM.
    Dia menerangkan bahwa TNI bersama Polri telah bergerak cepat melakukan pengejaran terhadap pelaku pembakaran sekolah itu.
    “TNI bersama Polri telah bergerak cepat melakukan pengejaran terhadap kelompok OPM yang bertanggung jawab atas aksi pembakaran ini. Kami juga meningkatkan patroli keamanan di wilayah tersebut untuk mencegah kejadian serupa,” ujar Kapuspen.
    Ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian pembakaran sekolah tersebut.
    Kendati begitu, lanjut dia, ada dua ruang bangunan SMP Agandugume yang hangus terbakar akibat peristiwa ini.
    Ia juga menjelaskan bagaimana kondisi sekolah sebelum pembakaran terjadi.
    “Berdasarkan laporan, sekolah tersebut memang tidak ada aktivitas belajar sebelum kejadian. Namun, pembakaran ini tetap disayangkan, apalagi saat pemerintah sedang menjalankan program makan bergizi bagi pelajar di Papua,” ucap dia.
    Untuk pengamanan setelah kejadian, TNI terus melakukan evaluasi sesuai dinamika di lapangan.
    Saat ini, pasukan TNI dan Polri sudah melakukan langkah-langkah strategis untuk memastikan keamanan di wilayah tersebut.
    “Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh tindakan kelompok OPM. TNI akan terus hadir untuk menjaga keamanan dan mendukung pemerintah dalam membangun Papua yang lebih maju dan sejahtera,” pesan Kapuspen.
    Sebelumnya, dikutip dari Tribun Papua, OPM kembali melakukan aksi teror di Kabupaten Puncak, Papua Tengah, pada Jumat (14/2/2025).
    Kali ini, sasaran OPM tersebut adalah membakar sebuah bangunan SMP di Distrik Agandugume, Kabupaten Puncak.
    Berdasarkan info yang diperoleh, peristiwa ini terjadi sekitar pukul 20.16 WIT.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Perang Baru Arab di Depan Mata, Israel Ancam Negara Ini Bakal Tamat

    Perang Baru Arab di Depan Mata, Israel Ancam Negara Ini Bakal Tamat

    Jakarta, CNBC Indonesia – Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu kembali memberikan pernyataan keras terhadap rival regionalnya, Iran. Hal ini terjadi saat kunjungan Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS), Marco Rubio ke negara itu, Minggu (16/2/2025).

    Dalam pernyataannya, Netanyahu berjanji untuk “menyelesaikan pekerjaan” melawan Iran dengan dukungan Presiden AS Donald Trump. Ia menyebut Iran telah menjadi sponsor teror nomor satu terhadap Israel.

    “Selama 16 bulan terakhir, Israel telah memberikan pukulan telak terhadap poros teror Iran. Di bawah kepemimpinan kuat Presiden Trump… Saya tidak ragu bahwa kita dapat dan akan menyelesaikan pekerjaan itu,” kata Netanyahu dikutip CNN International.

    Senada dengan Netanyahu, Rubio mengatakan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Pasalnya, Teheran telah menjadi biang ancaman terhadap Tel Aviv, sehingga kepemilikan negara itu terhadap senjata nuklir merupakan sesuati yang bahaya.

    “Penting untuk selalu menekankan bahwa baik kita berbicara tentang Hamas atau Hizbullah, kita berbicara tentang kekerasan di Tepi Barat, atau kita berbicara tentang destabilisasi di Suriah, atau kita berbicara tentang masalah-masalah milisi di Irak, semuanya memiliki satu tema umum di baliknya, Iran,” tambah Rubio.

    Sebelumnya diketahui, Iran merupakan rival terbesar dengan Israel. Teheran berulang kali memberikan dukungan persenjataan bagi milisi-milisi di Timur Tengah yang menjadi lawan dari Tel Aviv seperti Hizbullah, Houthi, dan Hamas.

    Selain itu, Negeri Persia itu dilaporkan tengah mengembangkan sebuah sistem persenjataan nuklir. Meski klaim ini berulang kali ditolak Iran, sejumlah laporan menyoroti kemampuan Teheran memurnikan nuklir hingga 60%.

    Di sisi lain, Trump sendiri telah mengambil langkah tekanan maksimum terhadap Negeri Persia. Hal ini ditargetkan untuk menghalangi jalan Teheran untuk mengembangkan persenjataan nuklir.

    Meski begitu, Trump juga membuka kesempatan untuk membuat kesepakatan dengan Iran. Walau begitu, sejauh ini Mullah Iran Ayatollah Khomeini masih menolak untuk membuat kesepakatan baru dengan Presiden AS dari Partai Republik itu.

    Rencana Serangan ke Iran

    Sementara itu, pernyataan Netanyahu ini terjadi sesaat muncul laporan intelijen terkait rencana Israel untuk menyerang Iran. Dalam laporan tersebut, Israel dikatakan akan menyerang fasilitas nuklir Iran dalam beberapa bulan mendatang.

    Niatan ini juga telah diketahui Amerika Serikat (AS), yang telah memiliki gambaran serangan Tel Aviv ini sejak malam Tahun Baru lalu.

    “Direktorat Intelijen Kepala Staf Gabungan dan Badan Intelijen Pertahanan telah menyimpulkan bahwa situs nuklir Fordow dan Natanz Iran dapat menjadi sasaran dalam enam bulan pertama tahun 2025,” ujar keterangan beberapa sumber dalam laporan Wall Street Journal (WSJ) yang juga dimuat Russia Today itu.

    Israel sendiri dilaporkan yakin bahwa pertahanan udara Republik Islam tersebut terdegradasi oleh serangan pada akhir Oktober. Sumber itu menyebut bahwa Teheran lebih rentan karena kesulitan ekonomi terkait sanksi.

    Menurut WSJ, badan intelijen AS saat ini sedang membayangkan dua skenario yakni bahwa Israel dapat meluncurkan rudal balistik dari luar wilayah udara Iran atau menjatuhkan bom penghancur bunker dari pesawat tempur yang terbang di atas target.

    “Kedua skenario tersebut mungkin akan membutuhkan dukungan Amerika dalam bentuk pengisian bahan bakar udara serta intelijen, pengawasan, dan pengintaian,” tambahnya.

    (sef/sef)

  • Netanyahu Yakin Gagalkan Ambisi Nuklir Iran, Teheran Bilang Gini

    Netanyahu Yakin Gagalkan Ambisi Nuklir Iran, Teheran Bilang Gini

    Teheran

    Pemerintah Iran mengecam pernyataan terbaru Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu yang meyakini akan “menuntaskan pekerjaan” dalam melawan Teheran. Otoritas Iran menilai pernyataan Netanyahu itu sebagai “ancaman” dan menyebutnya telah melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

    “Mengancam pihak lain merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan Piagam PBB,” sebut juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, saat berbicara kepada wartawan, seperti dilansir AFP, Senin (17/2/2025).

    Baqaei menyebut Tel Aviv “tidak dapat melakukan apa pun” terhadap Teheran.

    Pernyataan Iran itu dirilis menanggapi komentar terbaru Netanyahu dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Marco Rubio di Yerusalem pada Minggu (16/2) waktu setempat.

    Netanyahu mengatakan dengan dukungan AS, Israel akan mampu menggagalkan ambisi nuklir Iran dan mengakhiri “agresi” Teheran di kawasan Timur Tengah.

    “Israel dan Amerika bahu-membahu dalam melawan ancaman Iran,” ucap Netanyahu dalam konferensi pers bersama Rubio. “Kami sepakat bahwa para ayatollah tidak boleh memiliki senjata nuklir dan juga sepakat bahwa agresi Iran di kawasan harus dihentikan,” ujarnya.

    Netanyahu menyebut Israel telah memberikan “pukulan hebat kepada poros teror Iran” sejak dimulainya perang di Jalur Gaza pada Oktober 2023. Dia juga mengatakan bahwa dengan dukungan Presiden AS Donald Trump, Israel akan mampu “menuntaskan pekerjaan” dalam melawan Iran.

    “Saya tidak meragukan bahwa kita bisa dan akan menuntaskan pekerjaan ini,” tegas Netanyahu dalam pernyataannya.

    Permusuhan Israel dan Iran berlangsung selama beberapa dekade melintasi sejarah perang diam-diam dan diwarnai serangan darat, laut, udara, bahkan dunia maya.

    Teheran yang mengklaim pihaknya memperkaya uranium untuk tujuan damai, juga mendukung kelompok-kelompok di Timur Tengah yang menggambarkan diri mereka sebagai “Poros Perlawanan” terhadap pengaruh Israel dan AS di kawasan tersebut.

    Poros Perlawanan itu tidak hanya mencakup Hamas yang berperang melawan Israel di Jalur Gaza, namun juga kelompok Hizbullah di Lebanon, kelompok Houthi di Yaman dan berbagai milisi bersenjata Syiah di wilayah Irak dan Suriah.

    Selama 16 bulan perang berkecamuk di Jalur Gaza yang juga diwarnai konflik dengan Hizbullah dan Houthi, Israel telah menewaskan para pemimpin tertinggi Hamas dan Hizbullah. Tel Aviv dan Teheran juga terlibat aksi saling serang beberapa waktu terakhir.

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • BNPT Gandeng MUI Lindungi Perempuan-Anak dari Paham Radikal Terorisme

    BNPT Gandeng MUI Lindungi Perempuan-Anak dari Paham Radikal Terorisme

    Jakarta

    Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sempat menyambangi Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam kesempatan itu, BNPT menjalin komitmen dengan MUI untuk meningkatkan sinergi dan kolaborasi dalam melindungi perempuan dan anak dari pengaruh paham radikal terorisme.

    Kepala BNPT Komjen Eddy Hartono mengatakan perkembangan globalisasi memudahkan kelompok teror untuk menyebarkan ideologi radikal di ruang siber, yang dapat mempengaruhi semua kalangan termasuk perempuan dan anak-anak. Karena itu, menurutnya, penting memberikan perlindungan kepada mereka sebagai kelompok rentan terhadap pengaruh paham radikal terorisme.

    “Kita ketahui bersama bahwa pengaruh globalisasi menjadi tantangan kita termasuk penyebaran paham radikal terorisme terutama di ruang siber. Inilah yang kita harus kita lindungi terutama perempuan dan anak karena mereka generasi penerus jangan sampai mereka terpapar oleh paham radikal terorisme”, kata Eddy dalam keterangannya, Minggu (16/2/2025).

    Eddy juga berharap dukungan dari MUI dalam memberikan pembinaan terhadap perempuan dan anak agar mereka tidak menjadi korban maupun pelaku terorisme.

    “Kami dari BNPT memohon dukungan dari MUI dalam pembinaan terhadap perempuan dan anak, agar mereka tidak menjadi korban, maupun pelaku. Hasil penelitian dari kami bahwa perempuan dan anak ini menjadi tameng ada beberapa kejadian perempuan dan anak menjadi istilahnya menjadi martir,” tambahnya.

    Sementara itu, Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar menyatakan MUI siap meningkatkan sinergi dengan BNPT dalam melindungi masyarakat termasuk perempuan dan anak-anak dari pengaruh paham radikal terorisme. Hal ini menunjukkan komitmen bersama untuk melindungi generasi penerus bangsa dari ancaman yang dapat merusak tatanan sosial, budaya, dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    “Kita juga punya ketua bidang perempuan remaja dan keluarga yang dapat bersama BNPT memberikan wawasan tentang bagaimana perempuan dan keluarga dan anak jangan sampai terpapar hal yang tidak benar, dan MUI siap bersama-sama demi keselamatan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jelasnya.

    (maa/maa)

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • 5
                    
                        Warga Kebumen Diteror OTK, Mobil dan Gudang Mesin Dibakar, Keranda Diceburkan ke Sumur
                        Regional

    5 Warga Kebumen Diteror OTK, Mobil dan Gudang Mesin Dibakar, Keranda Diceburkan ke Sumur Regional

    Warga Kebumen Diteror OTK, Mobil dan Gudang Mesin Dibakar, Keranda Diceburkan ke Sumur
    Tim Redaksi
    KEBUMEN, KOMPAS.com
    – Warga Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten
    Kebumen
    , Jawa Tengah, tengah dilanda keresahan akibat aksi teror yang dilakukan oleh orang tak dikenal (OTK) dalam beberapa minggu terakhir.
    Terbaru, sebuah gudang penyimpanan mesin pompa air menjadi sasaran pembakaran pada Jumat (14/2/2025) dini hari.
    Kapolsek Kuwarasan, AKP Kholil, menyatakan bahwa polisi masih melakukan penyelidikan terkait serangkaian kejadian yang meresahkan warga. Untuk mengantisipasi aksi serupa, patroli diintensifkan.
    “Kami sedang pendalaman. Di sekitar kejadian terdekat ada CCTV, kami cek dengan tim polres untuk identifikasi,” ujar AKP Kholil dalam keterangannya, Minggu (16/2/2025).
    Serangkaian Aksi Pembakaran
    Salah satu kejadian yang menjadi perhatian adalah pembakaran gudang penyimpanan mesin pompa air di RT 02/02 Desa Tambaksari.
    Kebakaran terjadi sekitar pukul 02.30, menghanguskan gudang yang juga digunakan untuk menyimpan pupuk. Kerugian akibat insiden ini diperkirakan mencapai Rp 10 juta.
    Pemilik gudang, Sigit Purwanto (42), hanya bisa pasrah melihat asetnya terbakar. Ia berharap pelaku segera ditangkap agar kejadian serupa tidak terulang.
    “Tidak tahu, ini niatnya cuma mau buat ontran-ontran apa gimana. Soalnya bukan cuma sekali,” kata Sigit.
    Sigit menduga aksi ini dilakukan secara sengaja dan bukan ulah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), mengingat pola kejadian yang hampir selalu terjadi pada waktu yang sama.
    “Herannya tahu waktu. Kalau orang gila beneran kan bisa kapan saja,” tambahnya.
    Sebelum kejadian ini, insiden serupa juga terjadi di Desa Tambaksari. Sebuah tempat penyimpanan kayu milik warga dibakar oleh OTK, bahkan pohon di sekitar lokasi turut menjadi sasaran pembakaran.
    Kepala Desa Tambaksari, Rasipan, mengaku sudah mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan dengan mengaktifkan ronda malam.
    “Sangat meresahkan. Kami sudah imbau ke warga untuk ronda rutin. Jangan lengah,” jelas Rasipan.
    Aksi teror juga terjadi di Desa Maduresa, Kecamatan Kuwarasan. Hingga pertengahan Februari ini, sudah ada dua peristiwa pembakaran yang diduga disengaja.
    Insiden terakhir terjadi pada Kamis dini hari, saat sebuah mobil pikap terbakar sekitar pukul 02.30.
    Selain pembakaran, warga juga melaporkan kejadian janggal lainnya, seperti keranda yang diceburkan ke sumur dan diletakkan di tengah jalan desa.
    Hingga saat ini, kepolisian masih terus mengusut kasus ini dan mengimbau masyarakat untuk tetap waspada serta segera melapor jika melihat aktivitas mencurigakan.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Penghinaan, Israel Bebaskan Pejuang Palestina dengan Seragam Berlogo Bintang Daud

    Penghinaan, Israel Bebaskan Pejuang Palestina dengan Seragam Berlogo Bintang Daud

    GELORA.CO – Sebanyak 369 tahanan keamanan Palestina dibebaskan dari penjara Israel dengan imbalan sandera Sagui Dekel Chen, Alexander Sasha Troufanov, dan Iair Horn pada Sabtu. Pembebasan ini masuk dalam gelombang keenam dari fase pertama kesepakatan penyanderaan antara Israel dan Hamas.

    Di antara 369 orang tersebut terdapat tokoh pejuang Palestina  dan menjalani hukuman seumur hidup. Secara keseluruhan, 36 tahanan yang dibebaskan menjalani hukuman seumur hidup. Demikian menurut radio militer Israel.

    Semua tahanan diberi dan dipaksa mengenakan kaus oleh Dinas Penjara Israel (IPS) yang bertuliskan pesan dalam bahasa Arab, “Kami tidak akan melupakan atau memaafkan,” ditambah simbol Bintang Daud.

    Seorang sumber yang terlibat dalam masalah ini mengkritik IPS karena meminta mereka mengenakan kaus tersebut. Eselon politik disebut tidak diberitahu tentang keputusan tersebut.

    Sumber tersebut mengatakan bahwa mendandani narapidana dengan kaus tersebut bermasalah, karena Israel mencoba mengeksploitasi cara Hamas menangani pembebasan sandera.

    “Setelah foto-foto tersebut disebarkan, IPS mengatakan bahwa keputusan tersebut dibuat oleh Komisaris IPS Kobi Yaakovi,” KAN melaporkan dilansir Jerusalem Post.

    Hamas mengutuk keputusan tersebut, dengan mengatakan bahwa pesan-pesan tersebut adalah ‘slogan-slogan rasis di punggung tahanan heroik Palestina’.

    Hamas menyebut Israel telah memperlakukan mereka dengan kekejaman dan kekerasan. Israel dinilai telah melakukan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum dan norma-norma kemanusiaan dalam memperlakukan tahanan musuh.

    Siapa saja yang dibebaskan?

    Salah satu tahanan adalah Ahmed Barghouti, ajudan dekat dan sepupu terpidana Marwan Barghouti. Ia dijatuhi hukuman 13 hukuman seumur hidup setelah dinyatakan bersalah terlibat langsung dalam serangkaian serangan yang menewaskan 12 warga Israel.

    Pejuang lain yang akan dibebaskan adalah Fatah Mazen al-Qadi, yang dihukum karena membantu melakukan serangan teror di restoran pasar makanan laut di Tel Aviv pada tahun 2002 yang menewaskan 3 warga Israel.

    Ia menjalani tiga hukuman seumur hidup dan 20 tahun penjara atas perannya dalam serangan tersebut. Ia juga dituding Israel memiliki hubungan dengan lima sipir penjara wanita wajib militer di Penjara Ramon pada 2023.

    Pejuang Fatah lain yang dipenjara selama Intifada Kedua yang akan dibebaskan adalah Mantzur Sharim. Berasal dari Tulkarm, ia bertanggung jawab atas serangkaian serangan yang menewaskan banyak warga Israel, termasuk penembakan massal di gedung perjamuan di Hadera yang menewaskan 6 warga Israel dan melukai 26 orang.

    Ia juga dituduh bertanggung jawab atas pembunuhan seorang tentara dan seorang warga sipil pada tahun 2001. Ia dijatuhi hukuman 14 hukuman seumur hidup dan tambahan 50 tahun penjara.

    Selain anggota Fatah, pejuang Hamas juga termasuk di antara 369 orang yang akan dibebaskan, termasuk Nael Obeid, yang terlibat dalam pengeboman di Cafe Hillel di Yerusalem pada 2003, yang menewaskan tujuh warga Israel dan melukai 57 orang.

    Kemudian Muhammad Mezlah, yang terlibat dalam hukuman gantung massal di Ramallah tahun 2000 yang menewaskan dua tentara cadangan IDF.

    Selanjutnya ada pejabat senior dari Brigade Syuhada Al-Aqsa, termasuk Ahmed Abu Hader, Muhammad Naifa, dan Wadah al-Bazara.  Hader merencanakan serangan di Pusat Medis Sheba dan dijatuhi 11 hukuman seumur hidup dan tambahan 50 tahun penjara.

    Komandan Brigade Al-Aqsa Abd al-Karim Awis dan Amjad Takatka, juga akan dibebaskan. Keduanya dipenjara karena terkait dengan serangan di pasar Mahane Yehuda di Yerusalem pada 2002. Enam warga sipil dilaporkan terbunuh.

  • Kenapa Ghana Jadi Sasaran Jihadis Afrika Barat?

    Kenapa Ghana Jadi Sasaran Jihadis Afrika Barat?

    Accra

    Ghana tetap menjadi salah satu dari sedikit negara di Afrika Barat yang belum menjadi sasaran serangan jihadis, meski berbatasan langsung dengan Burkina Faso yang masih dihantui terorisme. Namun, para analis memperingatkan bahwa warga Ghana semakin berisiko direkrut oleh kelompok ekstremis untuk dikirim ke medan perang di negara jiran.

    Burkina Faso sejak lama menghadapi ancaman dari kelompok jihadis seperti Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin, JNIM, Negara Islam-Provinsi Sahel, ISGS, dan afiliasinya. Menurut Abdul Salifu Zanya, peneliti keamanan di Sahel, kemungkinan besar sudah ada warga Ghana yang bergabung dengan kelompok teror.

    Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

    “Saya berbicara dengan beberapa pemuda pengangguran di Accra pada 2023, dan mereka menyatakan minat untuk bergabung dengan kelompok jihad,” ungkap Zanya kepada DW.

    Koresponden DW Maxwell Suuk, yang meliput di utara Ghana, menjelaskan bahwa banyak warga lokal direkrut melalui hubungan keluarga di Burkina Faso.

    “Ada individu yang memiliki kerabat di Burkina Faso, lalu pergi ke sana, terlibat dalam aktivitas tertentu, dan kembali lagi,” ujarnya.

    Ia juga mengungkapkan bahwa baru-baru ini seorang pria ditangkap di wilayah perbatasan dan diketahui memiliki garis keturunan campuran Ghana-Burkina Faso—menunjukkan semakin eratnya hubungan lintas batas dalam jaringan perekrutan ini.

    Marjinalisasi dan kemiskinan

    Perekrutan demi jihad di Ghana semakin mengkhawatirkan, terutama di wilayah perbatasan. Mutaru Mumuni Muktar dari Pusat Kontra Ekstremisme Afrika Barat mengatakan bahwa perasaan terpinggirkan menjadi pemicu utama bagi sebagian warga Ghana untuk bergabung dengan kelompok ekstremis.

    “Ancaman ini kini semakin nyata, terutama karena adanya perasaan marginalisasi berbasis etnis. Hal ini mendorong individu-individu tertentu untuk bergabung dengan kelompok jihadis sebagai bentuk balas dendam terhadap negara maupun komunitas lokal,” ujar Muktar kepada DW.

    Peneliti keamanan Abdul Salifu Zanya menambahkan bahwa laporan mengenai warga Ghana yang bergabung dengan kelompok jihad tidak boleh diabaikan. Menurutnya, kemiskinan dan minimnya kesempatan kerja di Ghana utara membuat anak muda lebih rentan direkrut.

    “Mereka percaya bahwa dengan bergabung, mereka bisa mendapatkan uang untuk menghidupi keluarga,” kata Zanya.

    Statistik Ghana menunjukkan bahwa pada tahun 2024, hampir satu juta orang di Wilayah Utara Ghana hidup dalam kemiskinan multidimensi. Koresponden DW Maxwell Suuk menyoroti bahwa ketimpangan ekonomi, pengangguran, dan marjinalisasi menjadi faktor utama yang dimanfaatkan oleh kelompok jihad untuk menarik anggota baru.

    “Geng-geng kriminal ini lebih dulu memanfaatkan internet untuk menargetkan kaum muda dibandingkan pemerintah,” kata Suuk.

    Lemahnya penjagaan perbatasan juga menjadi celah bagi para perekrut. Sebuah laporan dari Clingendael, Institut Hubungan Internasional Belanda, pada 2024 menyebutkan bahwa kelompok jihadis menggunakan Ghana sebagai jalur logistik.

    “Tidak adanya serangan langsung di wilayah Ghana tampaknya merupakan keputusan strategis JNIM untuk menjaga jalur pasokan dan tempat peristirahatan mereka, serta menghindari konfrontasi dengan pasukan keamanan yang relatif kuat,” demikian bunyi laporan itu.

    Muktar, yang sejak lama memantau situasi di Ghana utara, mengonfirmasi temuan ini.

    “Kami telah mendengar dari penduduk setempat bahwa para jihadis mungkin datang ke sini untuk membeli perbekalan dan logistik. Mereka berasal dari seberang perbatasan dan memiliki latar belakang etnis yang sama dengan komunitas di sini,” ujarnya.

    Konflik di Ghana dimanfaatkan oleh kaum jihadis?

    Konflik suku yang berkepanjangan di Ghana utara dapat meningkatkan kerentanan negara terhadap perekrutan oleh kelompok jihadis, menurut sejumlah analis.

    Dr. Naazia Ibrahim, peneliti resolusi konflik di University of Development Studies, Tamale, menekankan bahwa stabilitas internal sangat penting agar Ghana tidak menjadi sasaran kelompok teroris.

    “Jika konflik di komunitas perbatasan, terutama yang berbatasan dengan Burkina Faso, tidak segera diselesaikan, risiko bagi Ghana akan semakin besar,” katanya kepada DW.

    Ia juga menyoroti dampak dari pertikaian yang tak kunjung usai. “Saat pertempuran berlangsung lama, semua pihak bisa mengalami kelelahan. Namun, pemerintah harus mengambil langkah tegas untuk menyelesaikannya,” tambahnya.

    Presiden Mahama cegah ancaman ekstremisme

    Presiden Ghana, John Mahama, baru-baru ini melakukan perjalanan ke Bawku, kota di wilayah timur yang selama beberapa dekade dilanda konflik suku dan sering kali berujung pada kekerasan serta pertikaian.

    Pemerintah menegaskan bahwa penyelesaian konflik di Bawku menjadi prioritas utama untuk mencegah kelompok jihad mendapatkan pijakan di Ghana.

    Selain itu, Presiden Mahama juga memperkuat hubungan diplomatik dengan negara-negara Sahel, kawasan yang masih menghadapi ancaman terorisme. Bulan lalu, dia menunjuk Kolonel Larry Gbevlo-Lartey sebagai perwakilan utama Ghana di Aliansi Negara-Negara Sahel, AoSS. Lembaga baru ini bertugas membantu Ghana mengatasi potensi penyebaran ekstremisme dari wilayah tersebut.

    “Situasi ini serius. Kami harus bertindak cepat dan memberikan dukungan penuh kepada Burkina Faso, Mali, dan Niger dalam menghadapi krisis ini,” kata Mahama kepada DW, beberapa hari setelah memenangkan pemilu tahun lalu.

    Sementara itu, Abdul Salifu Zanya, peneliti keamanan Ghana, menyoroti pentingnya kebijakan sosial untuk mengatasi akar masalah yang membuat pemuda rentan terhadap rekrutmen oleh kelompok teroris.

    “Tingkat pengangguran terus meningkat, dan pemerintah harus menemukan cara untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja agar kaum muda tidak mudah dieksploitasi,” ujarnya.

    Diadaptasi dari artikel DW berbahasa Inggris

    (nvc/nvc)

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu