Kasus: pembunuhan

  • Teriakan Subuh dan Jejak Darah di Kamar

    Teriakan Subuh dan Jejak Darah di Kamar

    Liputan6.com, Jakarta – Warga digegerkan dengan penemuan mayat seorang janda bersimbah darah di Perumahan Kedamaian Asri Mandiri, Kecamatan Tanjung Karang Timur, Kota Bandar Lampung, Sabtu (1/11/2025) pagi.

    Kejadian itu diduga peristiwa pembunuhan yang dialami salah satu tetangganya berinsial TF (31) yang ditemukan di dalam kamar tidurnya dalam kondisi tanpa busana dan bersimbah darah.

    Polisi dari Polsek Tanjung Karang Timur dan Tim Inafis Satreskrim Polresta Bandar Lampung telah mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

    Menurut salah satu warga, Faisal, peristiwa terjadi pada sekira pukul 04.30 WIB. Saat itu, terdengar suara gaduh dari dalam rumah korban yang disusul suara terikan meminta tolong.

    Warga yang curiga dengan teriakan tersebut, mencari sumber suara karena khawatir dengan keselamatan korban yang diketahui tinggal seorang diri.

    Tetangga kemudian menghubungi petugas keamanan setempat yang langsung diteruskan oleh kepolisian.

    “Kalau setahu kami di sini, korban memang tinggal sendiri, jadi kami dengar ada suara ribut-ribut dari dalam rumah, suara minta tolong gitu sekitar habis salat subuh tadi,” kata Faisal, ditemui di lokasi kejadian, Sabtu (1/11).

     

  • Beredar Kabar AS Akan Serang Venezuela, Trump Bilang Gini

    Beredar Kabar AS Akan Serang Venezuela, Trump Bilang Gini

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa dirinya tidak sedang mempertimbangkan serangan terhadap Venezuela. Ini disampaikan Trump di tengah kekhawatiran Venezuela bahwa peningkatan kekuatan militer AS yang besar di wilayah itu bertujuan untuk mengubah rezim negara tersebut.

    Dilansir kantor berita AFP, Sabtu (1/11/2025), Amerika Serikat telah mengerahkan delapan kapal Angkatan Laut AS ke Karibia dan mengirim pesawat tempur siluman F-35 ke Puerto Riko. Sebuah gugus tugas tempur kapal induk AS bahkan sedang dalam perjalanan ke wilayah tersebut, sebuah kekuatan militer besar yang ditegaskan Washington bertujuan untuk mengendalikan perdagangan narkoba.

    “Tidak,” jawab Trump ketika ditanya oleh seorang jurnalis di atas pesawat kepresidenan Air Force One tentang laporan media bahwa ia sedang mempertimbangkan serangan semacam itu.

    Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan pesan yang sama, saat ia menanggapi sebuah artikel di Miami Herald yang menyebutkan bahwa pasukan AS siap untuk menyerang Venezuela.

    “‘Sumber’ Anda yang mengaku ‘mengetahui situasi ini’ telah menipu Anda untuk menulis berita palsu,” tulis Rubio dalam sebuah unggahan di media sosial X.

    Amerika Serikat telah memulai kampanye serangan yang menargetkan kapal-kapal yang diduga penyelundup narkoba di Karibia dan Pasifik timur pada awal September lalu. Serangan militer AS itu telah menewaskan sedikitnya 62 orang dan menghancurkan 14 kapal serta sebuah kapal semi-selam.

    Pemerintahan Trump menganggap kapal-kapal kecil tersebut sebagai ancaman bagi keamanan nasional AS karena narkoba yang diduga mereka bawa. Namun, para ahli mengatakan serangan tersebut merupakan pembunuhan, bahkan jika mereka menargetkan para pengedar narkoba.

    Selain aset militer yang dikerahkan di wilayah tersebut, Washington telah melakukan beberapa unjuk kekuatan dengan pesawat pengebom B-52 dan B-1B yang melakukan serangan mendadak di dekat pantai Venezuela. Serangan terbaru terjadi pada hari Senin lalu.

    Ketegangan regional meningkat akibat serangan dan peningkatan kekuatan militer AS tersebut. Pemerintah Venezuela mengatakan Amerika Serikat berencana menggulingkan Presiden Nicolas Maduro dengan kampanye militernya tersebut.

    Halaman 2 dari 2

    (ita/ita)

  • Emosi karena Hotspot Dimatikan, Padahal Sudah ‘Berikan’ Istri, Warga Siak Habisi Rekan Sendiri

    Emosi karena Hotspot Dimatikan, Padahal Sudah ‘Berikan’ Istri, Warga Siak Habisi Rekan Sendiri

    GELORA.CO –   Seorang istri menangis dan memberontak saat dipaksa suaminya sendiri, Ihsan (44) untuk melayani temannya, Novrianto (39). 

    Peristiwa tragis itu bermula pada Sabtu (25/10/2025) malam saat Ihsan dan Novrianto meminum miras di rumah pelaku. Keduanya memang sudah dua kali minum bersama setelah pertemuan pertama pada 11 Oktober.

    “Malam itu pelaku dan korban sama-sama minum tuak,” kata Kapolres Siak AKBP Eka Ariandi Putra, dikutip dari TribunPekanbaru, Jumat (31/10/2025). 

    Sekitar pukul 03.00 WIB, Minggu (26/10/2025), Ihsan menarik paksa istrinya yang sedang tidur di kamar belakang dan membawanya ke ruang tamu. Di sana, ia memaksa istrinya untuk melayani Novrianto.

    “Saat itu terjadi, istrinya meronta dan menangis, namun pelaku memaksa. Ini pelaku benar-benar membantu melakukannya,” ujar Kapolres. 

    Usai kejadian, pelaku dan korban kembali duduk dan meminum tuak seolah tak terjadi apa-apa. Pukul 04.30 WIB, sang istri mandi sambil menangis, lalu berangkat ke pasar untuk berjualan.

    Novrianto Dibunuh

    Sekitar 30 menit kemudian, pelaku meminta hotspot ke korban untuk menggunakan ponsel. Namun, beberapa saat kemudian korban mematikan hotspot dengan alasan baterai lemah dan kuota hampir habis. 

    “Korban mengatakan kuotanya tinggal 200 mb,” ujar Kapolres. 

    Namun demikian, ternyata korban masih menonton video asusila. Melihat itu, pelaku merasa tersinggung. Ia merasa korban menghitung-hitung soal hotspot, sementara ia rela memberikan istrinya kepada korban tanpa pamrih.

    “Ya, pelaku mengaku kesal karena korban hitung-hitungan sementara dia merasa sudah memberikan segalanya, termasuk istrinya,” katanya.

    Rasa sakit hati itu berubah menjadi amarah. Sekitar pukul 05.25 WIB, Ihsan mengambil sebilah parang bergagang hijau dari ember dekat pintu rumah dan mengayunkannya ke kepala korban yang sedang bermain ponsel. 

    Korban sempat berteriak dan melawan, namun pelaku terus menyerang hingga korban terjatuh dan bersimbah darah. Setelah memastikan korban tak bernyawa, Ihsan mencuci parang dan menggulung kasur serta kain berlumur darah.

    Ia menutupi jasad korban dengan terpal biru dan daun kering, lalu menggali lubang sedalam satu meter di sisi rumahnya untuk mengubur jasad itu.

    Pagi harinya, saat istrinya pulang, pelaku berpura-pura tidak tahu apa-apa.

    “Bahkan sang istri bertanya, tumben rajin, mana si gatal itu, Pa? Ihsan menjawab santai, sudah dijemput kawannya,” cerita Kapolres. 

    Pelaku kemudian melarikan diri pada Senin (27/10/2025) sore. Sebelum akhirnya berhasil ditangkap tim Satreskrim Polres Siak di Pekanbaru, Kamis (30/10/2025).

    Sementara Jasad Novrianto ditemukan warga dikubur di kebun warga di Kampung Perawang Barat, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak.

    Dari hasil penyelidikan, polisi menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya sebilah parang bergagang hijau, terpal biru, kain bercak darah, cangkul, hingga televisi dan kipas angin dengan bercak darah.

    Pelaku dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana subsider Pasal 338 KUHP, dengan ancaman hukuman seumur hidup atau 20 tahun penjara.

  • 3 Warga Australia di Bali yang Dituduh Membunuh Mulai Disidang

    3 Warga Australia di Bali yang Dituduh Membunuh Mulai Disidang

    Anda sedang menyimak laporan Dunia Hari Ini edisi Jumat, 31 Oktober 2025.

    Berita utama kami hadirkan dari Bali.

    Pria Australia yang diduga membunuh di Bali mulai disidang

    Sidang untuk tiga pria Australia yang dituduh membunuh seorang pria asal Melbourne dalam dugaan pembunuhan berencana sudah dimulai di Bali.

    Polisi menduga dua pria, Mevlut Coskun dan Paea I Middlemore Tupou, mendobrak sebuah vila di Bali, di utara Canggu, tak lama setelah tengah malam pada 13 Juni dan menembak dua warga Australia.

    Zivan Radmanovic, yang berusia 32 tahun tewas dalam serangan itu, sementara Sanar Ghanim selamat.

    Pria lain, Darcy Jenson, diduga merencanakan aksi tersebut dan menyediakan kendaraan dan palu godam bagi para pelaku penembakan.

    Ketiga terdakwa mengenakan topeng dan diborgol saat mereka tiba di pengadilan Kamis pagi, tanpa mengatakan apa pun kepada wartawan.

    Gelar Pangeran Andrew dicabut

    Raja Charles akan mencabut gelar kerajaan Pangeran Andrew dan mengeluarkannya dari Royal Lodge.

    Ia kini akan dikenal sebagai Andrew Mountbatten Windsor, bukan sebagai seorang pangeran.

    Keluarga Virginia Roberts Giuffre telah mengeluarkan pernyataan yang menyatakan keputusan ini sebagai “kemenangan.”

    Andrew kembali mendapat tekanan dalam beberapa pekan terakhir terkait hubungannya dengan mendiang pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein.

    Ini terjadi di tengah dirilisnya memoar anumerta Giuffre, yang merinci tiga dugaan hubungan seksual dengan Andrew.

    Ratusan tewas di Brasil dalam penggerebekan narkoba

    Setidaknya 120 orang tewas di Rio de Janeiro setelah ribuan polisi dan tentara Brasil melancarkan penggerebekan terhadap geng pengedar narkoba pada hari Selasa.

    Sekitar 2.500 polisi dan tentara yang dilengkapi dengan helikopter dan kendaraan lapis baja melancarkan penggerebekan terhadap geng Komando Merah.

    Mereka memicu tembakan, yang memicu pembalasan dari anggota geng, yang diduga kemudian menargetkan polisi dengan setidaknya satu pesawat tanpa awak.

    “Kami melihat orang-orang dieksekusi: ditembak di punggung, ditembak di kepala, luka tusuk, orang-orang diikat,” kata seorang aktivis lokal, Raull Santiago.

    “Tidak ada cara lain untuk menggambarkannya selain sebagai pembantaian.”

    Latvia menarik diri dari perjanjian yang melindungi perempuan

    Parlemen Latvia memberikan suara untuk keluar dari perjanjian internasional yang bertujuan memerangi kekerasan terhadap perempuan.

    Ini terjadi setelah seorang mitra konservatif dalam koalisi yang berkuasa membelot untuk mendukung langkah tersebut, yang menentang perdana menteri dan presiden.

    Konvensi Istanbul, yang dibentuk oleh Dewan Eropa dan ditandatangani oleh puluhan negara anggota, mendefinisikan kekerasan terhadap perempuan sebagai pelanggaran hak asasi manusia dan membahas berbagai bentuk kekerasan berbasis gender.

    Namun, para penentang Latvia terhadap perjanjian tersebut berpendapat perjanjian tersebut memperkenalkan definisi gender yang melampaui jenis kelamin biologis.

  • Pembantaian Massal Gelagat Munculnya Genosida Baru di Sudan?

    Pembantaian Massal Gelagat Munculnya Genosida Baru di Sudan?

    Jakarta

    Laporan bahwa “korban sakit dan terluka dieksekusi secara kejam,” ditulis Koordinasi Komite Perlawanan Sudan (Sudanese Coordination of Resistance Committees), sebuah organisasi nonpemerintah, dua hari setelah Pasukan Dukungan Cepat atau Rapid Support Forces (RSF) menguasai El-Fasher, ibu kota Darfur Utara, Sudan.

    Menurut organisasi tersebut, para milisi RSF telah membunuh hampir semua orang atau membiarkan mereka mati di Rumah Sakit Al Saudi di kota itu.

    Citra satelit yang dianalisis Humanitarian Research Lab, Yale School of Public Health, mengonfirmasi bahwa sejak akhir pekan lalu muncul “kumpulan objek yang konsisten dengan ukuran tubuh manusia dan perubahan warna tanah kemerahan” di luar rumah sakit-rumah sakit di El-Fasher.

    Beberapa sumber menyebut hingga 2.000 warga sipil telah tewas dalam tiga hari terakhir. Laporan dari lapangan masih sulit diperoleh karena RSF mematikan komunikasi satelit bagi penduduk.

    Seorang perempuan yang berhasil melarikan diri dari El-Fasher kepada DW pada hari Rabu (29/10) mengatakan, “RSF mengambil semua yang kami miliki, mereka bahkan menggeledah pakaian dalam kami dan meninggalkan kami tanpa apa-apa — tanpa uang, tanpa ponsel.”

    “Mereka melakukan uji coba militer terhadap orang-orang, dan jika mengetahui seseorang memiliki pengetahuan atau keterkaitan dengan urusan militer, mereka langsung dieksekusi,” tambahnya.

    Konflik Sudan: Apa yang perlu diketahui

    Pembunuhan massal terbaru ini merupakan eskalasi terbaru dari konflik Sudan yang meletus pada April 2023. Saat itu, Angkatan Bersenjata Sudan (Sudanese Armed Forces/SAF) di bawah komando Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, dan RSF, pimpinan Mohamed Hamdan Dagalo alias Hemeti, berselisih terkait integrasi milisi ke dalam angkatan nasional.

    Setelah merebut El-Fasher, kendali wilayah RSF kini mencakup Darfur dan sebagian selatan, sementara SAF menguasai ibu kota Khartoum serta wilayah utara dan tengah negara itu.

    Apa kata RSF?

    Organisasi kemanusiaan internasional menuntut RSF membuka koridor kemanusiaan bagi sekitar 177.000 orang yang tak bisa meninggalkan kota.

    “Dengan SAF mundur, terutama warga sipil yang mendukung SAF kini mencoba melarikan diri, RSF memiliki kepentingan untuk menghina SAF dengan melampiaskan kekerasan pada warga sipil,” ujar Hager Ali, peneliti di GIGA Institute for Global and Area Studies, Jerman, kepada DW. “RSF juga berusaha menakut-nakuti warga sipil agar patuh di wilayah yang mereka kuasai.”

    Pada Maret lalu, RSF dan kelompok bersenjata lain membentuk Sudan Founding Alliance (TASIS), dengan mandat membentuk “Pemerintahan Perdamaian dan Persatuan” untuk Darfur dan sebagian selatan. TASIS menegaskan di X (Twitter):

    “Kami menegaskan posisi kami mengecam segala pelanggaran dan bekerja terus-menerus untuk menghentikannya. Namun perlu diluruskan: banyak video pelanggaran di media sosial adalah rekayasa dari media gerakan Islam, tentara bayaran dari pasukan gabungan, dan lainnya.”

    Namun menurut Leena Badri, peneliti kebijakan Sudan, pernyataan itu tak lebih dari upaya TASIS “mendapat legitimasi politik untuk mendirikan struktur pemerintahan paralel mereka.”

    RSF: Akar kekerasan dan genosida

    Kedua belah pihak dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia(HAM) sepanjang konflik. Pemerintahan AS di bawah Presiden Joe Biden menjatuhkan sanksi kepada kedua jenderal. RSF dituduh melakukan genosida dan pelanggaran HAM berat, sementara SAF dituduh menyerang warga sipil dan menghambat transisi demokratis.

    “RSF tidak lebih brutal daripada kekuatan lain di dunia. Namun perbedaannya adalah kebijakan mereka bersifat sistematis dan genosidial,” ujar Shayna Lewis, spesialis Sudan dan penasihat senior PAEMA, sebuah LSM di AS yang fokus pencegahan kekejaman.

    “Pembunuhan tanpa batas pasien dan staf medis di rumah sakit adalah modus operandi RSF,” tambahnya. RSF berkembang dari milisi Janjaweed yang terkenal dengan kekerasan ekstrem di Darfur antara 2003–2005, membunuh sekitar 300.000 warga sipil yang dianggap bukan Arab, melainkan Afrika.

    Posisi dunia Arab dan peran emas

    Para pengamat menekankan bahwa sekutu internasional dari pihak yang bertikai menentukan apakah perang Sudan berakhir atau berlanjut. RSF diduga mendapat dukungan senjata dari Uni Emirat Arab (UEA) melalui Chad. SAF mendapat dukungan Mesir dan Qatar, sementara Arab Saudi menyatakan netral.

    Darfur menjadi prioritas RSF, tidak hanya karena ini wilayah asal mereka, tetapi juga karena sumber daya penting seperti emas. Emas dibutuhkan untuk menghindari sanksi dan membeli senjata. Kedekatan Darfur dengan perbatasan Libya dan Chad memungkinkan RSF mengendalikan populasi sipil untuk mempermudah pengadaan senjata dan amunisi.

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

    Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

    Editor: Rizki Nugraha

    Lihat juga Video: Serangan Bom-Penembakan di Sudan Tewaskan 127 Orang

    (ita/ita)

  • Geger Kelompok Penyembah Setan 764, Ancaman Online Paling Berbahaya

    Geger Kelompok Penyembah Setan 764, Ancaman Online Paling Berbahaya

    Jakarta

    Seorang remaja perempuan terjerumus ke dalam kelompok penyembah setan bernama 764, menurut ibunya.

    Ketika seorang remaja perempuan berusia 14 tahun mulai berbincang dengan remaja lain secara daring, ibunya tidak begitu khawatir.

    Namun, dalam hitungan minggu, Christina (bukan nama sebenarnya) mendapati perilaku sang putri berubah drastis dan menjadi tak terkendali.

    Ia kemudian mengetahui putrinya terjerumus ke dalam kelompok penyembah setan bernama 764. Sebagian besar anggota kelompok itu berisi remaja dan pria muda yang sengaja menyasar anak-anak perempuan.

    Empat remaja Inggris setidaknya telah ditangkap terkait aktivitas kelompok internasional tersebut, termasuk Cameron Finnigan, salah seorang anggota 764 asal Horsham, West Sussex. Ia dijatuhi hukuman enam tahun penjara pada Januari lalu.

    Peringatan: Artikel ini memuat konten yang dapat mengganggu pembaca

    Christina menduga putrinya menjadi target kelompok 764 setelah mengunjungi grup obrolan daring tempat mereka mendiskusikan tindakan melukai diri sendiri.

    Kelompok itu disebut meyakinkan para korban untuk melakukan tindakan seksual, menyakiti diri sendiri, bahkan percobaan bunuh diri. Adapun para anggotanya menonton kegiatan tersebut secara daring.

    Menurut Christina, salah satu anggota 764 berhasil mendapatkan kepercayaan putrinya, lalu memanipulasi dan memaksanya.

    Ia mengatakan, “Saya menyaksikan ibu saya didiagnosis kanker payudara stadium empat dan berjuang untuk hidup, tapi itu tidak seberat melihat putri saya hancur seperti ini.”

    “Ia memburuk lebih cepat dan lebih parah dibanding melihat seseorang yang sekarat karena kanker.”

    Christina mengaku upaya melepaskan sang putri dari cengkeraman kelompok 764 sangat sulit.

    “Saya terus mengatakan, ‘blokir saja mereka, berhenti bicara dengan mereka’, tapi saya tidak menyadari seberapa besar pengaruh dan ketakutan yang sudah ditanamkan kepadanya,” katanya.

    “Mereka betul-betul menghancurkan mentalnya, sampai ia merasa dirinya bukan siapa-siapa, baik saat bersama mereka maupun tanpa mereka.”

    Kini, Christina dan putrinya telah membangun kembali kehidupan mereka secara bertahap. Ia pun berharap orang tua lain memahami betapa berbahayanya kelompok semacam itu.

    “Putri saya berhenti tidur, ia berhenti makan,” tuturnya.

    “Sebagai seorang ibu, saya merasa sendirian. Saya ketakutan, tak berdaya, dan putus asa.”

    Badan Kejahatan Nasional Inggris (National Crime Agency/NCA) menganggap kelompok seperti 764 sebagai salah satu “ancaman online paling serius dan berbahaya” yang ditemui saat ini.

    Wakil kepala bidang yang menangani ancaman kejahatan seksual online terhadap anak, Rob Richardson, mengatakan anggota kelompok itu semakin hari kian muda, sementara di sisi lain kejahatan mereka kerap tidak dilaporkan.

    “Dari sudut padangan penegakan hukum, berbicara dengan para korban seringkali menjadi tantangan besar,” kata Richardson.

    “Para korban sering kali tidak menyadari bahwa mereka adalah korban, dan itu membuat penanganannya semakin sulit. Gadis-gadis muda sangat rentan.”

    Oleh karena itu, Richardson menyarankan para orang tua untuk lebih terlibat dalam aktivitas anak-anak mereka di ranah maya.

    “Saran kami kepada orang tua adalah tunjukkan ketertarikan pada apa yang mereka lakukan di dunia maya, gunakan kontrol orang tua, dan jika memungkinkan lakukan percakapan tanpa menghakimi,” katanya.

    Molly Rose Foundation, yayasan yang didirikan untuk mengenang Molly Russell, seorang remaja 14 tahun yang meninggal karena bunuh diri setelah terpapar konten berbahaya di internet menyuarakan keprihatinan atas “pertumbuhan pesat” kelompok-kelompok seperti 764.

    “Kami tahu kelompok-kelompok ini beroperasi secara terbuka di platform besar yang digunakan hampir semua anak setiap hari,” kata Andy Burrows, CEO yayasan tersebut.

    “Kelompok-kelompok seperti ini [764] berada di garis depan untuk ancaman bunuh diri dan perilaku melukai diri sendiri yang dihadapi para remaja.”

    Jaringan 764 didirikan pada tahun 2020 oleh seorang remaja asal Amerika Serikat bernama Bradley Cadenhead, yang kala itu masih berusia 15 tahun. Nama kelompok ini dipercaya berasal dari sebagian kode pos kampung halamannya di Texas.

    Menurut kepolisian, 764 merupakan bagian dari jaringan internasional kelompok ekstremis sayap kanan yang menganut “ideologi akselerasionis militan”.

    Dalam percakapan secara daring, Cameron Finnigan yang bergabung dengan 764 setelah putri Christina menjadi korban membual kepada sesama anggota tentang upayanya membuat anak-anak menyakiti diri sendiri.

    Setelah ditangkap pada usia 18 tahun, Finnigan mengaku kepada polisi bahwa kelompok itu “memeras orang berdasarkan ras, kondisi mental, atau kerentanan mereka agar bisa dimanfaatkan.”

    Ia belakangan mengaku bersalah atas tuduhan mendorong tindakan bunuh diri, memiliki panduan terorisme, serta menyimpan gambar tidak senonoh anak di bawah umur.

    Hakim Jay dalam putusannya menyatakan bahwa Finnigan “berisiko tinggi dan sangat bahaya bagi masyarakat.”

    Polisi antiteror juga memperingatkan bahwa kelompok 764 merupakan “ancaman besar”.

    Sejak 2009, Counter Terrorism Policing South East bertanggung jawab mengoordinasikan penanggulangan terorisme di wilayah Hampshire, Kent, Surrey, Sussex, dan Thames Valley.

    Detektif Kepala Inspektur Claire Finlay yang menjabat kepala divisi di badan tersebut mengatakan kasus Finnigan “membuka tabir soal betapa kuatnya cengkeraman kelompok daring semacam ini terhadap anak muda.”

    “Sebagian upaya kami adalah meningkatkan kesadaran para orang tua dan wali tentang ancaman ini dan apa yang menarik anak-anak muda ke dalamnya,” ujarnya.

    Tahun lalu, FBI juga mengeluarkan peringatan luar biasa mengenai kelompok 764, yang disebut menggunakan “ancaman, pemerasan, dan manipulasi untuk memaksa korban merekam atau menyiarkan langsung tindakan melukai diri sendiri, aktivitas seksual eksplisit, bahkan bunuh diri.”

    FBI menyatakan telah membuka 250 penyelidikan terhadap individu yang terafiliasi dengan 764 serta jaringan kelompok kejahatan online lainnya.

    Rangkaian penangkapan anggota kelompok ini telah dilakukan di setidaknya delapan negara termasuk Inggris, dengan tuduhan kekerasan terhadap anak, penculikan, dan pembunuhan.

    Dalam podcast BBC terbaru Assume Nothing: Creation of a Teenage Satanist yang menelusuri jaringan 764, penyidik utama kasus Finnigan menyampaikan kekhawatirannya perihal semakin banyak anak muda dapat terpengaruh untuk melakukan kejahatan kekerasan.

    “Semakin banyak orang yang awalnya bergabung [dengan 764] hanya untuk lucu-lucuan, guna mengeksploitasi orang rentan atau membuat ancaman bom palsu, tapi akhirnya mereka justru menjadi radikalis dalam kelompok tersebut,” pungkasnya.

    Tonton juga Video: Modus Santet, Pria Serahkan Istri ke Dukun untuk Ritual Seks

    (ita/ita)

  • Polisi Kantongi Identitas Terduga Pembunuh Pria Terkubur di Siak

    Polisi Kantongi Identitas Terduga Pembunuh Pria Terkubur di Siak

    Siak

    Penyelidikan kasus pembunuhan pria bernama Novrianto (39) di Kampung Perawang Barat, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, mulai menemui titik terang. Polisi saat ini telah mengantongi identitas terduga pelaku.

    “Untuk terduga pelaku sudah kita kantongi identitasnya,” ujar Kapolres Siak AKBP Eka Ariandy Putra, kepada wartawan, Kamis (30/10/2025).

    Eka belum mengungkap secara detail soal sosok terduga pelaku ini. Ia mengatakan saat ini Tim Satreskrim Polres Siak tengah melakukan perburuan terhadap pelaku.

    “Mohon waktu, kami masih melakukan pengejaran,” imbuhnya.

    Novrianto ditemukan tewas tanpa busana pada Selasa siang, 28 Oktober 2025. Jasadnya ditemukan terkubur dan ditutup terpal di kebun milik warga di Jalan Meradan, Kampung Perawang Barat, Kecamatan Tualang.

    Jasad Novrianto ditemukan setelah saksi, seorang wanita berinisial A (34) mencium bau amis dari kebun miliknya. Karena penasaran, A lantas mencari tahu sumber bau itu hingga menemukan gundukan tanah baru mirip kuburan di kebunnya.

    Melihat hal itu, A lantas menghubungi Polsek Tualang. Polisi pun datang dan membongkar kuburan tersebut bersama warga.

    “Kemudian anggota Polsek Tualang datang ke lokasi dan menggali kuburan itu bersama masyarakat dan ternyata ada tubuh manusia di dalamnya,” jelasnya.

    Hasil Autopsi

    Kapolres menyampaikan dugaan awal bahwa mayat pria yang dikubur tersebut adalah korban pembunuhan. Hasil autopsi mengungkap korban tewas akibat kekerasan benda tajam.

    “Hasil autopsi menyatakan penyebab kematian korban akibat kekerasan tajam yang jamak (multiple trauma) pada leher dan kepala,” kata Kapolres Siak AKBP Eka Ariandy Putra, dalam keterangannya, Kamis (30/10/2025).

    Hasil autopsi mengungkap mayat korban dalam kondisi membusuk lanjut. Selanjutnya ditemukan patah tulang kepala, tulang rahang atas-bawah, tulang leher, belikat, punggung tangan kiri.

    “Kemudian ada luka terbuka pada kepala, wajah, leher, punggung, dada dan kedua anggota gerak atas. Terpotongnya pembuluh darah besar leher sisi kiri, otot leher sisi kiri, lidah, dan robeknya selaput keras otak akibat kekerasan tajam,” jelasnya.

    Kapolres menambahkan korban diperkirakan tewas 48-72 jam sebelum pemeriksaan jenazah.

    (mea/dhn)

  • 132 Orang Tewas dalam Operasi Narkoba di Rio de Janeiro

    132 Orang Tewas dalam Operasi Narkoba di Rio de Janeiro

    Rio de Janeiro

    Operasi pemberantasan narkoba berskala besar terhadap sindikat kejahatan Comando Vermelho atau Red Command di Rio de Janeiro menyebabkan 132 tersangka tewas, 81 orang ditangkap, dan empat polisi gugur, menurut pejabat setempat pada Rabu (29/10).

    Gubernur Rio de Janeiro Claudio Castro mengatakan bahwa dalam operasi yang digelar pada Selasa (28/10), sedikitnya 64 orang tewas. Namun, warga di sekitar lokasi melaporkan jumlah korban yang lebih banyak, bahkan sempat membaringkan puluhan jenazah di jalan sebagai bentuk protes dan bukti bahwa korban sebenarnya lebih banyak dari data resmi.

    “Kami akan terus tegas menghadapi narkoterorisme,” tulis Castro di media sosial saat mengumumkan operasi tersebut.

    Ia menambahkan, sekitar 2.500 personel keamanan dikerahkan di wilayah kumuh padat penduduk di kompleks favela Alemao dan Penha, yang terletak di pinggiran kota Rio dekat bandara internasional.

    “Sayangnya, sejumlah anggota kepolisian juga menjadi korban jiwa,” ujar Gubernur Castro.

    Pihak kepolisian negara bagian menyebut, salah satu tersangka yang berhasil ditangkap merupakan orang kepercayaan dari salah satu pimpinan utama kelompok Comando Vermelho.

    Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia menyatakan “terkejut dan prihatin” atas operasi kepolisian yang masih berlangsung di Rio de Janeiro.

    Operasi besar menjelang KTT Iklim COP30

    Operasi yang dijuluki Operation Containment itu digelar hanya beberapa hari sebelum dua acara besar berlangsung di Rio de Janeiro menjelang KTT Iklim COP30 yang akan diadakan di kota Belem pada 10 November mendatang.

    Sebagai kota terbesar kedua di Brasil, Rio akan menjadi tuan rumah dua ajang pemanasan: KTT C40, yang mempertemukan lebih dari 100 wali kota dunia, serta Earthshot Prize milik Pangeran William yang setiap tahun memberikan penghargaan kepada lima inisiatif lingkungan terbaik. Acara tersebut juga akan dihadiri sejumlah selebritas, termasuk penyanyi Kylie Minogue dan juara dunia F1 asal Jerman, Sebastian Vettel.

    Rio dikenal sering melakukan operasi keamanan berskala besar menjelang acara internasional. Aksi serupa pernah digelar menjelang Piala Dunia 2014, Olimpiade 2016, KTT G20 tahun lalu, dan KTT BRICS awal tahun ini.

    Pada Februari 2018, pemerintah pusat bahkan menempatkan polisi militer untuk memimpin keamanan di kota itu dengan alasan situasi yang terus memburuk.

    Awal bulan ini, organisasi hak asasi manusia Human Rights Watch (HRW) menyerukan kepada Gubernur Claudio Castro agar memveto rancangan undang-undang yang telah disetujui parlemen negara bagian. Aturan itu memberikan bonus besar bagi polisi yang berhasil “menetralisir” tersangka, sesuatu yang dinilai berpotensi meningkatkan jumlah pembunuhan oleh aparat.

    “Memberi imbalan kepada polisi karena membunuh bukan hanya tindakan brutal, tetapi juga melemahkan keamanan publik karena menciptakan insentif finansial untuk menembak alih-alih menangkap tersangka,” kata Cesar Munoz, Direktur HRW untuk Brasil.

    Operasi terbesar melawan sindikat Comando Vermelho

    Pemerintah negara bagian Rio menyebut operasi ini sebagai yang terbesar sepanjang sejarah dalam upaya memberantas kelompok Comando Vermelho. Aparat menargetkan 250 surat perintah penggeledahan dan penangkapan, dengan dukungan dua helikopter, 32 kendaraan lapis baja, serta 12 kendaraan penghancur untuk merobohkan barikade yang dibangun para pengedar narkoba.

    Gubernur Claudio Castro mengunggah video di media sosial yang menunjukkan sebuah drone melepaskan proyektil. Ia mengatakan video itu memperlihatkan betapa besarnya ancaman yang dihadapi aparat penegak hukum.

    “Beginilah cara polisi Rio diserang oleh para kriminal: dengan bom yang dijatuhkan dari drone. Inilah skala tantangan yang kami hadapi. Ini bukan kejahatan biasa, melainkan narkoterorisme,” ujarnya.

    Catatan redaksi: Jumlah korban dalam laporan ini telah diperbarui dari 20 menjadi 64 dan kini mencapai 132 orang tewas, sesuai data terakhir yang dirilis pihak berwenang.

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

    Diadaptasi oleh Ausirio Sangga Ndolu

    Editor: Melisa Lolindu

    (nvc/nvc)

  • Pelaku penganiayaan di Jaktim residivis kasus narkoba

    Pelaku penganiayaan di Jaktim residivis kasus narkoba

    Jakarta (ANTARA) – Terduga pelaku penganiayaan, AAS (37) terhadap rekannya sendiri hingga tewas di kawasan Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur (Jaktim) ternyata residivis kasus narkoba.

    “Pelaku adalah seorang residivis karena sebelumnya pernah menjalani hukuman atas perkara penyalahgunaan narkotika sabu-sabu pada 2020 selama empat tahun enam bulan penjara dan bebas Juni 2025,” jelas Kapolsek Jatinegara Kompol Samsono saat konferensi pers di Mapolsek Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu.

    Namun, lanjutnya, pelaku kembali melakukan tindak pidana berupa penganiayaan kepada rekannya.

    Bahkan, pelaku juga positif menggunakan narkoba, termasuk ketika penganiayaan itu terjadi pada Sabtu (25/10 malam.

    Peristiwa itu terjadi saat pelaku yang tengah berada di kontrakan bersama calon istrinya yakni E dan seorang temannya inisial G, tiba-tiba tersulut emosi setelah diberitahu bahwa orang yang dianggap musuhnya sedang melintas di depan rumah.

    “Pelaku spontan mengambil sebilah kerambit dari lemari, lalu menyusul korban yang berjarak dua rumah dari kontrakan itu,” ujar Samsono.

    Setibanya di lokasi, pelaku menuduh korban sebagai orang yang telah menjerumuskan adiknya dan membohongi dalam urusan membeli narkoba.

    Pelaku kemudian melakukan penganiayaan hingga korban terluka pada bagian leher dan akhirnya meninggal dunia di lokasi kejadian.

    Baik AAS (37) dan korban yakni HJ (42), keduanya sempat memakai narkotika jenis sabu bersama-sama.

    “Pelaku dan korban ini sama-sama pengguna narkoba. Mereka sudah tiga kali menggunakan sabu bersama dan sebelum kejadian pun masih sempat memakai bareng,” kata Samsono.

    Menurut Samsono, hubungan antara pelaku dan korban sebenarnya cukup dekat karena sama-sama pengguna. Namun, hubungan itu memburuk setelah pelaku merasa dibohongi korban dalam urusan pembelian sabu.

    AAS lalu mencoba melarikan diri menggunakan sepeda motor. Namun, karena situasi di lokasi semakin ramai dan banyak warga yang berusaha menghadang, pelaku akhirnya meninggalkan motornya dan melarikan diri ke arah Manggarai.

    “Pelaku sempat kabur, tapi kami berhasil menangkapnya dalam waktu kurang dari enam jam setelah kejadian. Penangkapan dilakukan oleh tim gabungan Polsek Jatinegara dan Polres Metro Jakarta Timur,” ujar Samsono.

    Dari lokasi kejadian, petugas menyita sejumlah barang bukti, antara lain sebilah pisau kerambit dan pakaian korban yang berlumuran darah.

    Atas perbuatannya, AAS dijerat dengan Pasal 351 ayat (3) KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian atau Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

    Pewarta: Siti Nurhaliza
    Editor: Edy Sujatmiko
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Pelaku dan korban penganiayaan tewas di Jaktim pakai sabu bareng

    Pelaku dan korban penganiayaan tewas di Jaktim pakai sabu bareng

    Jakarta (ANTARA) – Kepolisian mengungkapkan, pelaku berinisial AAS (37) yang menganiaya rekannya sendiri hingga tewas berinisial HJ (42) di kawasan Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur, pada Sabtu (25/10) sempat memakai narkotika jenis sabu bersama-sama.

    “Pelaku dan korban ini sama-sama pengguna narkoba. Mereka sudah tiga kali menggunakan sabu bersama, dan sebelum kejadian pun masih sempat memakai bareng,” kata Kapolsek Jatinegara Kompol Samsono saat konferensi pers di Mapolsek Jatinegara, Rabu.

    Menurut dia, hubungan antara pelaku dan korban sebenarnya cukup dekat karena sama-sama pengguna. Namun, hubungan itu memburuk setelah pelaku merasa dibohongi korban dalam urusan pembelian sabu.

    “Pelaku merasa kesal karena beberapa kali korban berbohong soal pembelian sabu. Tiga kali beli bersama, dua kali mereka pakai bersama-sama, dan yang sekali beli dibohongi, korban bilang barangnya tidak ada, tapi ternyata digunakan sendiri. Dari situ pelaku marah dan timbul niat untuk menyerang,” jelas Samsono.

    Dia menegaskan, kasus ini menunjukkan betapa berbahayanya penyalahgunaan narkotika yang bisa memicu tindakan kekerasan.

    “Awalnya hanya masalah pribadi, tapi karena keduanya pengguna narkoba, emosi tidak terkendali dan berujung pada kematian,” katanya.

    Peristiwa bermula ketika pelaku berinisial AAS (37) sedang duduk di rumah kontrakannya di kawasan Perumahan Polonia bersama calon istrinya berinisial E dan temannya G.

    Sekitar pukul 18.30 WIB, korban berinisial HJ (42) melintas di depan rumah kontrakan pelaku.

    “Calon istrinya sempat berkata kepada pelaku bahwa ‘itu musuhmu lewat’. Mendengar itu, pelaku spontan bangkit, mengambil senjata tajam jenis karambit dari lemari, lalu mengejar korban ke rumahnya yang jaraknya hanya dua rumah dari tempat kontrakannya,” ujar Samsono.

    Setibanya di depan rumah korban, pelaku langsung menegur korban dengan nada tinggi dan menuduhnya telah menjerumuskan adiknya.

    Korban yang saat itu sedang berjongkok sempat membantah tuduhan tersebut. Namun, pelaku sudah dikuasai emosi dan memukul kepala korban sambil mengayunkan karambit ke arah lehernya.

    “Akibat sabetan senjata itu, korban terluka di bagian leher kiri. Dia sempat berjalan keluar rumah sambil menahan luka, tapi tak lama kemudian terjatuh di luar rumah dalam kondisi tertelungkup,” ucapnya.

    Melihat korban tersungkur, pelaku sempat melangkahi tubuh korban dan kembali ke kontrakannya untuk menyimpan senjata.

    Tak lama setelah itu, warga sekitar datang dan berusaha menolong korban yang sudah bersimbah darah.

    Ketika melihat warga mulai ramai, pelaku AAS mencoba melarikan diri menggunakan sepeda motor.

    Namun, karena situasi di lokasi semakin ramai dan banyak warga yang berusaha menghadang, pelaku akhirnya meninggalkan motornya dan melarikan diri ke arah Manggarai.

    “Pelaku sempat kabur, tapi kami berhasil menangkapnya dalam waktu kurang dari enam jam setelah kejadian. Penangkapan dilakukan oleh tim gabungan Polsek Jatinegara dan Polres Metro Jakarta Timur,” ujar Samsono.

    Dari lokasi kejadian, petugas menyita sejumlah barang bukti, antara lain sebilah pisau karambit yang digunakan pelaku, serta pakaian korban yang berlumuran darah.

    Barang bukti tersebut kini telah diamankan untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut.

    Atas perbuatannya, AAS dijerat dengan Pasal 351 ayat (3) KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian atau Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

    Pewarta: Siti Nurhaliza
    Editor: Syaiful Hakim
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.