Kampung Ketandan, Ruang Hidup Sejarah di Tengah Hiruk Pikuk Kota Surabaya
Tim Redaksi
SURABAYA, KOMPAS.com
– Tepat di jantung Kota Surabaya, Jawa Timur, di antara hiruk-pikuk Jalan Tunjungan dan gedung pencakar langit, ada sebuah ruang yang tetap bertahan dengan keasliannya.
Kampung Ketandan
bukan sekadar permukiman, namun merupakan sebuah saksi hidup
sejarah
, tempat di mana jejak masa lalu bercampur dengan semangat masyarakat yang terus bergerak maju.
Kampung ini berada di RW 4 dengan anggota 12 RT yang sejak tahun 2016 mulai dibina sebagai
kampung wisata
oleh Dinas Pariwisata Kota
Surabaya
.
Keberadaannya kini mengundang banyak orang untuk “blusukan”, menyusuri lorong-lorong yang menyimpan kisah unik dan bangunan bersejarah.
Menurut Nia Kurniati, Ketua Pokdarwis Cak Markeso Ketandan, Kampung Ketandan memiliki nilai historis dan kultural yang penting untuk dilestarikan.
“Jadi orang-orang tahu kalau di Surabaya juga ada kampung legendaris yang menjadi kampung wisata,” katanya kepada Kompas.com, Sabtu (27/12/2025) siang.
Apalagi sejak peresmian Balai Budaya Cak Markeso pada tahun 2018 lalu, kawasan ini semakin dikenal.
Joglo yang dibangun di tengah kampung menjadi pusat kegiatan budaya, tempat warga dan pengunjung berkumpul, berdiskusi, sekaligus belajar tentang sejarah lokal.
Meski beberapa waktu dekat ini sempat mengalami tantangan ketika salah satu pohon beringin legendaris tumbang dan menimpa dua rumah warga serta atap joglo, semangat warga tidak luntur.
Evakuasi dilakukan selama tiga hari, jalan kampung sempat diblokir demi keselamatan, namun kini sebagian besar kawasan kembali ramai menyambut libur akhir tahun 2025 ini.
“Kemarin kan sekitar joglo sempat di blokir karena takutnya sebelum dievakuasi pohon beringinnya mrotol gitu lho,” kata perempuan yang biasa disapa Nia itu.
Kini aktivitas wisata tetap berjalan, bahkan menunjukkan tren positif terutama dari UMKM dan usaha lokal.
“Untuk cafe yang ada disini menurut ownernya pendapatannya stabil sedangkan untuk weekend mengalami kenaikan,” ujar Nia Kurniati.
UMKM setempat juga merasakan dampak positif dari geliat wisata akhir tahun ini. Meskipun tidak bisa dipastikan asumsinya ramai terus, peningkatan pengunjung cukup terlihat.
“Alhamdulilah selama liburan ini sedikit meningkat meskipun tidak ada jaminan rame terus tapi pengunjung kelihatan meningkat masuk, baik lokal dan mancanegara,” imbuhnya
Selain itu kampung Ketandan juga baru saja mendapat dukunganan sponsor dari Bank Indonesia berupa storyboard dan fasilitas lain yang sedang dipasang.
“Kita nyicil-nyicil untuk menambah fasilitas pengunjung. Kedepannya kita ingin semakin maju dan berkembang,” ujarnya lagi dengan optimis.
Seperti diketahui wisatawan yang datang ke Kampung Ketandan dapat melakukan berbagai aktivitas. Salah satu yang populer adalah walking tour, atau susur kampung, untuk menikmati suasana khas.
“Spot foto biasanya yang paling menarik disekitar joglo, pintu makam, rumah jengki, masjid An-Nur yang masih digunakan ibadah sampai sekarang termasuk pengunjung yang sedang jalan-jalan di Tunjungan,” tutur Nia Kurniati.
Selain itu, ada berbagai kafe lokal seperti Pusaka Bunda dan Arek Coffee & Eatery menjadi tempat singgah yang pas untuk menikmati kuliner dengan nuansa kampung.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Kampung Ketandan, Ruang Hidup Sejarah di Tengah Hiruk Pikuk Kota Surabaya Regional 27 Desember 2025
/data/photo/2025/12/27/694faca27ba24.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)