Kakek Korban Longsor Sukabumi Tinggal di Gubuk Hutan, Bertahan Hidup dari Ubi
Editor
SUKABUMI, KOMPAS.com
— Uloh, warga lanjut usia asal Kampung Babakan, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menjalani hidup dalam kondisi memprihatinkan setelah rumahnya lenyap tertimbun longsor sekitar sembilan bulan lalu.
Tragedi tersebut juga merenggut nyawa istrinya.
Kini, di usia lebih dari 70 tahun, Uloh tinggal seorang diri di sebuah gubuk reyot di kebun yang berada di tengah kawasan hutan.
Setiap malam ia berjuang melawan dingin dan hujan hanya beralaskan sarung sebagai selimut, sementara bara api dari kayu bakar menjadi satu-satunya penghangat tubuhnya.
Untuk bertahan hidup, Uloh mengandalkan
ubi
dan tanaman tebu telur atau turubuk dari kebunnya sebagai sumber pangan. Namun, kebun tersebut kini rusak akibat serangan babi hutan.
Persediaan beras yang sebelumnya ia peroleh dari pos pengungsian korban banjir bandang pun tak luput diacak-acak monyet.
Dalam keterbatasan fisik dan pendengaran yang mulai menurun, Uloh tetap berusaha menjalani hari tanpa meminta belas kasihan.
”
Tos 9 sasih ti tos lebaran tahun kamari. Katuangan ari nyondong bantuan nya nyondong
(udah 9 bulan di gubuk dari habis lebaran tahun kemarin. Kalau makanan ya ada kalau ada yang ngasih bantuan),” ujar Uloh dikutip dari Tribun Jabar, Jumat (9/1/2026).
Ia juga menyampaikan kondisi hidupnya yang kian berat.
”
Nyalira
(tinggal sendiri),
kebon seep ku monyet, ku babi
(kebun habis sama monyet dan babi). Bantal selimut
teu aya, bumi ku
longsor rusak (bantal selimut gak ada, rumah rusak oleh longsor), muhun (istri meninggal tertimbun),” ucapnya.
”
Upami nyondong bantuan bade ka saderek, bade ka murangkalih
ngontrak (kalau ada bantuan mau ke saudara, ke anak, ngontrak),” lirih Uloh.
Pantauan di lokasi, Uloh tidur beralaskan bilah bambu tanpa kasur maupun bantal. Kebutuhan air minum, mandi, dan memasak ia peroleh dari selang yang ditampung ke dalam baskom.
Kondisi ini membuatnya sangat rentan terserang penyakit.
Tak hanya Uloh, puluhan warga korban banjir bandang Sungai Cidadap di Kampung Babakan Cisarua, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, juga masih hidup dalam penderitaan.
Sejak 2024, wilayah tersebut dilanda tiga kali bencana, dengan dampak terparah terjadi pada Desember 2025.
Hempasan banjir bandang menimbun rumah-rumah warga dengan pasir setinggi satu hingga dua meter.
Sekitar delapan rumah kini tak lagi terlihat dari permukaan tanah, sementara puluhan lainnya roboh dan rusak berat.
Ironisnya, banyak keluarga korban bencana mengaku tidak menerima bantuan Rp 10 juta untuk biaya kontrakan dari Gubernur
Jawa Barat
,
Dedi Mulyadi
.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, bantuan tersebut hanya diberikan kepada 23 kepala keluarga di Kampung Sawah Tengah yang baru sekali terdampak bencana pada 2025.
Seorang warga bernama Wulan menyampaikan kekecewaan warga Kampung Babakan Cisarua.
“Di sini kami para warga Kampung Babakan Cisarua ingin menyampaikan keluhan-keluhan tentang isi hati mereka yang merasa disepelekan oleh pemerintah. Karena tepatnya di sini itu telah terjadi bencana yang begitu besar, khususnya di Kedusunan Kawungluwuk, bencana paling besar itu terletak di Kampung Babakan Cisarua, di kampung ini udah tiga kali terjadi banjir, tiga kali bencana,” ujar Wulan.
Ia menjelaskan, bencana pertama terjadi Desember 2024, disusul Maret 2025, dan puncaknya Desember 2025 yang membuat kampung mereka nyaris hilang dari peta.
“Tapi sampai saat ini warga mengeluh karena belum ada juga relokasi atau juga biaya pengontrakan… kenapa pak KDM bilang yang kena bencana sekarang teh bakal direlokasi sama bakal ada uang buat kontrakan,” tambah Wulan.
Hingga kini, warga Kampung Babakan Cisarua masih menunggu kepastian relokasi dan bantuan yang dijanjikan pemerintah.
Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Nasib Korban Banjir Cidadap Sukabumi Tragis, Menangis Tak Terima Bantuan Rp10 Juta dari KDM
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Kakek Korban Longsor Sukabumi Tinggal di Gubuk Hutan, Bertahan Hidup dari Ubi Bandung 9 Januari 2026
/data/photo/2026/01/09/69604ba1517ed.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)