kab/kota: Washington

  • Presiden Iran Pezeshkian Tolak Negosiasi dengan Trump: Lakukan Apa pun yang Anda Inginkan – Halaman all

    Presiden Iran Pezeshkian Tolak Negosiasi dengan Trump: Lakukan Apa pun yang Anda Inginkan – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dengan tegas menolak perundingan soal nuklir dengan Presiden AS, Donald Trump.

    Menurut Pezeshkian, apa yang dilakukan Trump saat ini adalah mengancam agar Iran mau berunding dengannya.

    Namun, justru ancaman Trump tak membuat Pezeshkian mengubah keputusannya untuk bernegosiasi dengan Presiden AS.

    Pezeshkian mengatakan dirinya tak akan peduli dengan apa yang dilakukan Trump terhadap Iran.

    “Jika Anda mengancam saya, saya tidak akan bernegosiasi, lakukan apa pun yang Anda inginkan,” kata Pezeshkian dalam sebuah acara di Teheran pada hari Selasa (11/3/2025), dikutip dari Anadolu Anjansi.

    Sebelumnya, Trump mengklaim telah mengirimkan surat kepada pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada hari Jumat (7/3/2025).

    Trump mengumumkan dalam wawancara dengan Fox Business Network, dirinya telah mengirimkan surat kepada Khamenei.

    Dalam surat tersebut, Trump mengatakan menawarkan pembicaraan menuju kesepakatan mengenai program nuklir.

    Menurutnya, negosiasi ini akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik daripada intervensi yang selama ini iya lakukan.

    “Saya telah menulis surat, saya harap Anda akan bernegosiasi karena jika kita harus melakukan intervensi militer, itu akan menjadi hal yang mengerikan bagi mereka,” kata Trump dalam segmen wawancara yang disiarkan pada hari Jumat, dikutip dari Iran International.

    Trump mengklaim, dengan mengajukan kesepakatan ini tidak akan menyakiti Iran.

    “Ada dua cara untuk menangani Iran, secara militer atau membuat kesepakatan. Saya lebih suka membuat kesepakatan karena saya tidak ingin menyakiti Iran,” imbuh Trump.

    Presiden AS ini juga mengaku memiliki banyak kenalan di Iran.

    “Mereka orang-orang hebat. Saya kenal banyak orang Iran dari negara ini,” terangnya.

    Trump menambahkan dalam wawancaranya, kesepakatan nuklir akan menjadi kemenangan bagi Iran.

    “Saya pikir mereka ingin mendapatkan surat itu. Alternatif lainnya adalah kita harus melakukan sesuatu, karena kita tidak bisa membiarkan senjata nuklir lain,” katanya.

    Meski banyak orang yang tidak setuju dengan keputusannya, Trump yakin ini akan membawa kemenangan bagi Iran.

    “Saya tidak yakin semua orang setuju dengan saya. Namun, kita dapat membuat kesepakatan yang sama bagusnya seperti jika Anda menang secara militer,” tambah presiden AS.

    Namun, Iran membantah dan mengatakan hingga saat ini pihaknya tidak menerima surat apa pun dari Trump.

    “Kami belum menerima surat seperti itu sejauh ini,” kata jubir kedutaan Iran, dikutip dari Al Jazeera.

    Ini juga bukan pertama kalinya Trump mengirimkan pendekatan serupa.

    Pada 2019, surat Trump juga diabaikan oleh Khamenei. Menurut Khamenei, surat itu “tidak layak” dibalas.

    Sementara itu, Iran telah lama menegaskan programnya ditujukan untuk tujuan damai.

    Sejak Trump kembali ke menjabat sebagai Presiden AS, pemerintahannya secara konsisten mengatakan Iran harus dicegah memperoleh senjata nuklir. 

    Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat terjadi setelah tahun 2018, di bawah pemerintahan Donald Trump.

    Di mana saat itu Trump menarik diri dari perjanjian nuklir 2015 yang membatasi pengembangan nuklir Iran. 

    Perjanjian tersebut berisi tentang perjanjian Iran dan negara-negara besar dunia, termasuk Prancis, Inggris, dan Jerman untuk  mencapai kesepakatan yang meringankan sanksi internasional terhadap Teheran dengan imbalan pembatasan program nuklirnya.

    Teheran mematuhi kesepakatan tersebut hingga Washington menarik diri, tetapi kemudian mulai membatalkan komitmennya.

    (Tribunnews.com/Farrah)

    Artikel Lain Terkait Donald Trump dan Masoud Pezeshkian

  • Ramai-Ramai Sekutu AS Ngamuk ke Trump Ancam Balas Dendam

    Ramai-Ramai Sekutu AS Ngamuk ke Trump Ancam Balas Dendam

    Jakarta, CNBC Indonesia – Komisi Eropa mengatakan pada Rabu (12/3/2024) pihaknya akan mengambil tindakan balasan mulai 1 April. Langkah ini diambil sebagai tanggapan atas tarif dari Amerika Serikat (AS) sebesar 25% atas impor baja dan aluminium.

    “Kami sangat menyesalkan tindakan ini,” kata kepala Komisi Eropa Ursula von der Leyen dalam sebuah pernyataan tentang tarif AS, seperti dikutip AFP.

    Pernyataan Von der Leyen dikeluarkan saat Brussels mengumumkan akan “meluncurkan serangkaian tindakan balasan” sebagai tanggapan atas “pembatasan perdagangan yang tidak dapat dibenarkan”.

    “Tarif adalah pajak. Tarif buruk bagi bisnis, dan bahkan lebih buruk bagi konsumen. Tarif ini mengganggu rantai pasokan. Tarif membawa ketidakpastian bagi ekonomi,” katanya.

    Von der Leyen memperkirakan tarif AS bernilai US$28 miliar (Rp 460,8 triliun) dan tanggapan Uni Eropa akan memengaruhi jumlah produk AS yang sama.

    Namun berbeda dengan Komisi Eropa, Inggris mengatakan hanya “kecewa” atas tarif baja AS tetapi belum membeberkan apakah akan melakukan pembalasan serupa atau tidak.

    Bea masuk sebesar 25% yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump untuk impor baja dan aluminium mulai berlaku pada pukul 00:01 waktu setempat pada Rabu. Hal ini menandai babak baru dalam perang dagang antara AS dan mitra dagang utamanya.

    Washington telah membingkai langkah tersebut sebagai upaya untuk melindungi pekerja baja dan Amerika Serikat karena sektor tersebut menurun dan menghadapi persaingan luar negeri yang ketat, terutama dari Asia.

    Bea masuk terbaru akan berdampak pada Australia, Kanada, Uni Eropa, Jepang, dan China serta Brasil dan Meksiko meskipun ada upaya terakhir oleh beberapa pihak untuk mendapatkan pengecualian.

    Ini bukan pertama kalinya Trump mengenakan bea masuk pada logam tersebut.

    Selama masa jabatan pertamanya sebagai presiden, ia mengenakan bea masuk pada ekspor baja dan aluminium pada tahun 2018. Hal ini sempat memaksa Uni Eropa untuk menanggapi dengan bea masuk yang lebih tinggi yang dibekukan hingga akhir Maret.

    (haa/haa)

  • AS Mulai Dijauhi Sekutunya Uni Eropa Gara-gara Donald Trump – Halaman all

    AS Mulai Dijauhi Sekutunya Uni Eropa Gara-gara Donald Trump – Halaman all

     

    TRIBUNNEWS.COM, AS – Amerika Serikat (AS) mulai dijauhi oleh sekutu-sekutunya di Eropa setelah tidak diundang ke puncak pertemuan soal keamanan yang dihadiri lebih dari 30 negara di Prancis pada hari Selasa (11/3/2025).

    Begitu  kata seorang pejabat Prancis yang tidak disebutkan namanya kepada Associated Press .

    Sikap Uni Eropa itu terjadi sejak Donald Trump menjadi Presiden AS.

    Mengapa Hal Ini Penting

    KTT keamanan di Eropa muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai keterasingan negara-negara Eropa oleh Presiden Donald Trump.

    Hal ini terjadi  karena meningkatnya ketegangan AS dengan Ukraina terkait negosiasi perdamaian dengan Rusia.

    Tidak adanya undangan AS dapat menunjukkan bahwa Eropa dan sekutu Ukraina lainnya tidak lagi yakin bahwa Washington dapat secara efektif menengahi negosiasi dan mencapai perdamaian antara Rusia dan Ukraina.

    Apa yang Perlu Diketahui

    Pejabat militer dari hampir seluruh 32 negara anggota NATO  bertemu di Prancis untuk membahas pembentukan pasukan keamanan internasional untuk Ukraina pada  11 Maret.

    Hanya AS yang tidak diundang dalam pertemuan itu.

    Pasukan keamanan internasional untuk Ukraina yang digagas Uni Eropa akan dibentuk untuk mencegah Rusia melancarkan serangan lagi setelah gencatan senjata tercapai. 

    Ide pembentukan pasukan ini datang dari Prancis dan Inggris, yang telah mempelopori penyediaan bantuan militer dan keuangan untuk Ukraina sejak ketegangan dengan AS memburuk.

    Pejabat Prancis yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan Prancis dan Inggris bekerja sama menyusun rencana untuk pasukan yang dimaksudkan sebagai koalisi negara-negara yang “mampu dan bersedia” menjadi bagian dari upaya untuk menjaga Ukraina.

    Pasukan tersebut dapat mencakup persenjataan berat dan persediaan senjata yang dapat segera dikirim dalam hitungan jam atau hari untuk membantu pertahanan Ukraina jika terjadi serangan Rusia yang melanggar perjanjian gencatan senjata apa pun.

    Pejabat Prancis itu juga mengatakan bahwa pembicaraan di Paris akan terdiri dari dua bagian.

    Yakni bagian pertama adalah pemaparan cetak biru koalisi Prancis dan Inggris.

    Dan bagian kedua difokuskan pada diskusi “yang lebih tepat dan konkret” di mana negara-negara akan diundang untuk menyatakan apakah dan bagaimana militer mereka dapat berkontribusi.

    Pejabat Prancis yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan bahwa AS tidak diundang karena “negara-negara Eropa ingin menunjukkan bahwa mereka dapat bertanggung jawab atas sebagian besar kerangka keamanan pasca-gencatan senjata untuk Ukraina.”

    Negara yang perwakilannya hadir termasuk Irlandia, Siprus, Austria, Selandia Baru, Australia, Jepang, Korea Selatan, Ukraina, dan banyak lagi.

    Di balik pertemuan itu

    KTT itu diadakan setelah ketegangan antara AS dan Ukraina meningkat karena perundingan damai Washington dengan Rusia, dan pertemuan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang tidak stabil dengan Trump di Gedung Putih.

    AS dan Rusia mengadakan perundingan damai tanpa Ukraina di Arab Saudi pada tanggal 18 Februari.

    Uni  Eropa menuduh Washington mengesampingkan Ukraina dan menuduhnya telah memberikan konsesi kepada Presiden Rusia Vladimir Putin sebelum perundingan dimulai.

    Ketegangan antara Washington dan Kyiv memburuk ketika Trump dan Zelensky mulai beradu mulut.

    Saat presiden Amerika tersebut meminta Ukraina untuk menyelenggarakan pemilu dan menyebut Zelensky sebagai ” diktator tanpa pemilu .”

    Zelensky dan Trump kemudian bertemu di Ruang Oval pada tanggal 28 Februari untuk membahas kemungkinan gencatan senjata dan jaminan keamanan bagi Ukraina. Para pemimpin, bersama Wakil Presiden JD Vance , terlibat dalam perdebatan sengit di mana Trump menyebut Zelensky “tidak sopan” dan presiden Ukraina diminta untuk pergi dan hanya kembali ketika ia “siap untuk perdamaian.”

    Sekutu Eropa mengkritik perilaku Trump selama pertemuan dengan Zelensky dan menegaskan kembali dukungan mereka untuk Ukraina di media sosial.

    Setelah pertemuan itu, Trump menghentikan penyediaan semua bantuan militer dan pembagian informasi intelijen yang dihasilkan AS dengan Ukraina.

    Sumber: Newsweek

     

     

     

  • Elon Musk Terpuruk, Donald Trump Mati-matian Dukung

    Elon Musk Terpuruk, Donald Trump Mati-matian Dukung

    Washington

    Elon Musk, nakhoda X, Tesla, sampai SpaceX, sedang terpuruk, terutama terkait harga saham Tesla yang merosot drastis dan masalah lainnya. Untuk itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump langsung bertindak dengan cara membeli mobil Tesla untuk menunjukkan dukungan penuhnya pada Musk.

    Trump membeli Tesla Model S warna merah dan menunjukkannya di jalan masuk Gedung Putih. “Wow,” kata Trump saat masuk ke kursi pengemudi kendaraan itu. “Indah sekali.”

    Musk lalu masuk ke sisi penumpang. Orang terkaya dunia itu bercanda tentang membuat Secret Service serangan jantung saat mereka bicara tentang cara menyalakan kendaraan yang dapat mencapai 95 km per jam dalam beberapa detik itu.

    Trump menyebut ia akan menulis cek untuk mobil tersebut, yang dijual seharga sekitar USD 80.000, dan meninggalkannya di Gedung Putih sehingga stafnya dapat mengendarainya. Ia berharap pembeliannya akan memperbaiki nasib Tesla, yang sedang berjuang dengan turunnya penjualan dan harga saham.

    “Ini produk yang hebat. Kita harus merayakannya,” katanya seperti dikutip detikINET dari Associated Press.

    Trump menunjukkan kesetiaan kepada Musk, yang menghabiskan banyak uang untuk kampanyenya. Aksi itu membuat harga saham Tesla meningkat hampir 4% setelah turun hampir 48% sejak Trump menjabat bulan Januari.

    Presiden dari Partai Republik itu sebelumnya mengumumkan di media sosial akan membeli Tesla baru sebagai pertunjukan kepercayaan dan dukungan untuk Elon Musk, yang disebutnya seorang Amerika yang benar-benar hebat.

    “Elon Musk bertaruh untuk membantu Negara kita, dan ia melakukan PEKERJAAN LUAR BIASA! Namun Kaum Gila Kiri Radikal, seperti yang sering mereka lakukan, secara ilegal dan berkolusi coba memboikot Tesla, salah satu produsen mobil terbesar dunia dan ‘bayi’ Elon, untuk menyerang dan mencelakai Elon, dan semua yang diperjuangkannya,” tudingnya.

    Trump di Gedung Putih kemudian mengemukakan bahwa Musk tidak boleh dikorbankan atau harus menderita karena ia ingin membantu pemerintah.

    Selain Tesla, Musk juga menghadapi tantangan lain. Ia menyebut X menjadi sasaran serangan siber besar-besaran yang mengganggu platform media sosial itu. Kemudian, dua peluncuran uji coba terakhir roket Starship miliknya berakhir dengan ledakan.

    Trump menyebut selain membeli Tesla untuknya, dia juga telah membeli Cybertruck untuk cucunya.

    “Saya pikir (Musk) telah diperlakukan sangat tidak adil sekelompok kecil orang, dan saya hanya ingin orang tahu bahwa ia tidak dapat dihukum karena menjadi seorang patriot,” kata Trump, saat protes baik yang disertai kekerasan maupun tidak meningkat di seluruh negeri terhadap Tesla dan Musk.

    Ia mengaku akan membeli Tesla dengan harga penuh. “Saya tidak ingin diskon. (Musk) akan memberi saya diskon, tapi jika memberi diskon, mereka akan berkata, Oh, saya mendapat keuntungan,” cetusnya.

    Di sisi lain, ada ahli memperingatkan dukungan presiden yang tak biasa ke perusahaan swasta dapat jadi bumerang. “Tesla jadi simbol politik Trump dan DOGE, dan itu merupakan hal yang buruk bagi merek tersebut,” kata analis Wedbush Securities Dan Ives. “Anda pikir itu membantu, tapi sebenarnya merugikan.”

    (fyk/afr)

  • AS Lanjutkan Bantuan Militer ke Ukraina Usai Perundingan di Arab saudi

    AS Lanjutkan Bantuan Militer ke Ukraina Usai Perundingan di Arab saudi

    Riyadh

    Pemerintah Amerika Serikat (AS) memulihkan sepenuhnya aktivitas berbagi informasi intelijen dengan Ukraina usai perundingan yang digelar di Arab Saudi. Washington pun melanjutkan kembali pengiriman bantuan militer ke Kyiv, usai menghentikannya untuk sementara demi mendorong perundingan damai.

    Informasi terbaru itu, seperti dilansir Al Arabiya, Rabu (12/3/2025), diungkapkan oleh seorang pejabat senior pemerintahan Ukraina, yang enggan disebut namanya, saat berbicara kepada Reuters, dan seorang pejabat kepresidenan yang juga tidak disebut namanya.

    Langkah AS melanjutkan pengiriman bantuan militer dan memulihkan aktivitas berbagi informasi intelijen ini dilakukan setelah Presiden Volodymyr Zelensky mendukung usulan AS untuk gencatan senjata selama 30 hari di Ukraina. Zelensky meminta AS membujuk Rusia untuk menerima usulan itu.

    Usulan AS itu dibahas dalam pertemuan yang digelar di Saudi pada Selasa (11/3) waktu setempat, yang dilaporkan berlangsung selama delapan jam.

    Penasihat keamanan nasional AS, Mike Waltz, yang menghadiri pertemuan di Saudi tersebut, seperti dilansir Associated Press, mengatakan bahwa negosiator “membahas perincian substantif tentang bagaimana perang ini akan berakhir secara permanen”, termasuk jaminan keamanan jangka panjang.

    Waltz kemudian mengatakan bahwa Presiden Donald Trump setuju untuk segera mencabut penangguhan dalam penyediaan bantuan militer AS senilai miliaran dolar Amerika dan dalam aktivitas berbagi informasi intelijen.

    Simak berita selengkapnya di halaman selanjutnya.

    Pernyataan bersama AS-Ukraina yang dirilis usai pertemuan yang berlangsung selama delapan jam di Saudi menyatakan kesepakatan bahwa sudah waktunya untuk memulai proses menuju perdamaian abadi.

    “Delegasi Ukraina menegaskan kembali rasa terima kasih yang besar dari rakyat Ukraina kepada Presiden Trump, Kongres AS, dan rakyat Amerika Serikat karena telah memungkinkan kemajuan yang bermakna menuju perdamaian,” demikian pernyataan bersama AS-Ukraina.

    Untuk bagiannya, Ukraina menyatakan kesiapan dalam menerima usulan AS untuk memberlakukan gencatan senjata sementara selama 30 hari, “yang dapat diperpanjang dengan kesepakatan bersama para pihak terkait, dan yang bergantung pada penerimaan dan implementasi secara bersamaan oleh Federasi Rusia”.

    Disebutkan dalam pernyataan itu bahwa Washington akan mengkomunikasikan kepada Moskow soal timbal balik Rusia adalah kunci untuk mencapai perdamaian.

    AS menyatakan komitmen untuk membahas usulan perdamaian abadi yang memberikan keamanan jangka panjang bagi Ukraina dengan perwakilan dari Rusia, dan delegasi Ukraina menegaskan kembali bahwa mitra-mitra Eropa harus dilibatkan dalam proses perdamaian.

    “Terakhir, presiden kedua negara sepakat untuk menyimpulkan perjanjian komprehensif sesegera mungkin untuk mengembangkan sumber daya mineral penting Ukraina guna memperluas perekonomian Ukraina dan menjamin kemakmuran dan keamanan jangka panjang Ukraina,” sebut pernyataan bersama AS-Ukraina itu.

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Politikus AS Datangi Ukraina, Elon Musk Tuding Pengkhianat

    Politikus AS Datangi Ukraina, Elon Musk Tuding Pengkhianat

    Washington

    Elon Musk melabeli seorang senator Amerika Serikat dari Partai Demokrat lantaran mengunjungi Ukraina. Sang senator pun membalas tudingan tersebut.

    Mark Kelly, senator Demokrat untuk Arizona dan mantan pilot angkatan laut AS, berkunjung untuk ketiga kalinya ke Kyiv awal bulan ini. Dia bertemu dengan tentara yang terluka dan pejabat Ukraina.

    “Apa yang saya lihat membuktikan kepada saya bahwa kita tidak bisa menyerah pada rakyat Ukraina,” tulisnya di X setelah meninggalkan Ukraina.

    “Semua orang ingin perang ini berakhir, tapi perjanjian apa pun harus melindungi keamanan Ukraina dan tidak boleh menjadi hadiah bagi Putin,” tambahnya.

    Musk yang kini sekutu dekat Presiden Donald Trump dan memimpin Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE), membalas di X dengan menulis “Anda seorang pengkhianat.”

    Kelly pun membalasnya. “Pengkhianat? Elon, jika Anda tak mengerti bahwa membela kebebasan adalah prinsip dasar yang membuat Amerika hebat dan membuat kita aman, mungkin Anda harus menyerahkannya kepada kami yang mengerti,” serganya.

    Dia kemudian mengatakan kepada wartawan di AS bahwa orang terkaya di dunia itu jelas bukan orang yang serius. Tak lama kemudian, politisi Partai Republik Don Bacon dari Nebraska secara terbuka mendukung Kelly dan ikut mengkritik Musk.

    “Itu tidak pantas, itu tidak benar Saya tidak setuju dengan Senator Kelly dalam beberapa hal, tapi kami tidak saling menyebut pengkhianat dan saya pikir itu berdampak buruk pada Gedung Putih,” cetusnya,

    “Dia mewakili Gedung Putih saat mengatakan itu. Dan juga menyerang menteri luar negeri Polandia, menurut saya juga tak benar. Saya menghormati Elon dan semua yang telah dilakukannya, tapi (kelewatan) menyebut orang-orang sebagai pengkhianat dan menyebut nama-nama yang adalah pemimpin asing,” paparnya.

    Ia merujuk saat Musk menyerang Menlu Polandia Radoslaw Sikorski terkait penggunaan sistem satelit Starlink milik Musk di Ukraina. Sikorski mengatakan Polandia membayar Starlink di Ukraina dan akan mencari penyedia lain jika Starlink dimatikan. “Diamlah, orang kecil,” jawab Musk ke pejabat Polandia itu.

    “Mengapa seorang pejabat Gedung Putih, yang bahkan tidak dipilih, meremehkan menteri luar negeri Polandia? Itu tidak pantas. Itu tidak benar. Kita perlu lebih banyak disiplin di Gedung Putih,” demikian kritik Bacon.

    (fyk/afr)

  • Ukraina Setujui Gencatan Senjata, Bantuan Militer Kembali Mengalir, Bagaimana Rusia? – Halaman all

    Ukraina Setujui Gencatan Senjata, Bantuan Militer Kembali Mengalir, Bagaimana Rusia? – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Ukraina akhirnya menerima proposal kesepakatan gencatan senjata selama 30 hari dari Amerika Serikat (AS).

    Proposal tersebut diutarakan saat para delegasi AS dan Ukraina bertemu di Arab Saudi pada Selasa (11/3/2025) malam waktu setempat.

    Dengan disetujuinya proposal gencatan senjata tersebut, AS akan melanjutkan bantuan militernya kepada Ukraina.

    Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan saat ini semua keputusan di tangan Rusia, apakah menerima proposal tersebut atau tidak.

    “Harapan kami adalah Rusia akan menjawab ‘ya’ secepat mungkin, sehingga kami dapat memasuki fase kedua ini, yaitu negosiasi sesungguhnya,” kata Rubio, dikutip dari Reuters.

    Rubio mengatakan Washington menginginkan kesepakatan penuh dengan Rusia dan Ukraina “sesegera mungkin”.

    “Setiap hari yang berlalu, perang ini terus berlanjut, orang-orang tewas, orang-orang dibom, orang-orang terluka di kedua sisi konflik ini,” katanya.

    Sementara itu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengatakan selama gencatan senjata berlangsung, pihaknya menginginkan tiga poin utama.

    Pertama, kata Zelensky, selama gencatan senjata tidak ada rudal, bom atau pesawat nirawak jarak jauh yang memasuki wilayah Ukraina.

    Kemudian yang kedua, Zelensky juga mengatakan tidak akan ada serangan dari laut selama gencatan senjata terjadi.

    “Diam di udara – artinya tidak ada rudal, bom, atau pesawat nirawak jarak jauh – dan diam di laut,” kata Zelensky melalui saluran Telegramnya.

    Zelensky juga mengatakan dirinya juga ingin adanya pembebasan tahanan selama masa gencatan senjata berlangsung.

    “Langkah-langkah nyata untuk membangun kepercayaan dalam seluruh situasi ini, di mana diplomasi sedang berlangsung, yang berarti, terutama, pembebasan tahanan,” tegas Zelensky.

    Zelensky pun berharap agar AS dapat segera membujuk Rusia supaya dapat menerima proposal gencatan senjata tersebut.

    Ia pun menegaskan Ukraina selalu siap untuk menciptakan perdamaian di kawasan tersebut.

    “Amerika Serikat perlu meyakinkan Rusia untuk melakukannya.”

    “Ukraina siap untuk perdamaian. Rusia juga harus menunjukkan apakah mereka siap untuk mengakhiri perang – atau melanjutkannya,” ungkap Zelensky.

    “Saya berterima kasih kepada semua orang yang membantu Ukraina,” pungkasnya.

    Bisakah AS Membujuk Rusia?

    Penasihat keamanan nasional Presiden AS Donald Trump, Mike Waltz, akan bertemu dengan mitranya dari Rusia dalam beberapa hari mendatang.

    Sementara itu, utusan khusus Trump, Steve Witkoff, juga berencana akan mengunjungi Moskow dalam minggu ini untuk bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

    Pada hari Selasa, Trump mengatakan ia berharap gencatan senjata segera terjadi dan berpikir ia akan berbicara dengan Putin minggu ini.

    “Saya harap itu akan terjadi dalam beberapa hari ke depan,” katanya, dikutip dari CNN.

    Kesepakatan AS-Ukraina merupakan perubahan haluan tajam dari pertemuan sengit di Gedung Putih pada tanggal 28 Februari 2025 lalu antara Trump dan Zelensky.

    Dalam pernyataan bersama hari Selasa, kedua negara mengatakan mereka sepakat untuk segera menuntaskan perjanjian komprehensif untuk mengembangkan sumber daya mineral penting Ukraina, yang telah direncanakan namun terhenti akibat pertemuan itu.

    Setelah pertemuan itu, AS menghentikan pembagian informasi intelijen dan pengiriman senjata ke Ukraina, yang menggarisbawahi kesediaan Trump untuk menekan sekutu AS saat ia beralih ke pendekatan yang lebih damai terhadap Moskow.

    Trump mengatakan pada hari Selasa, ia akan mengundang Zelensky kembali ke Gedung Putih.

    Pejabat Ukraina mengatakan pada Selasa malam, bantuan militer AS dan pembagian intelijen telah dilanjutkan.

    (*)

  • Zelensky: AS Harus Yakinkan Rusia agar Setujui Gencatan Senjata 30 Hari dengan Ukraina – Halaman all

    Zelensky: AS Harus Yakinkan Rusia agar Setujui Gencatan Senjata 30 Hari dengan Ukraina – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky meminta pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk meyakinkan Rusia mengenai usulan AS untuk gencatan senjata selama 30 hari.

    “Washington harus meyakinkan Moskow untuk menerima usulan gencatan senjata selama 30 hari yang diajukan selama perundingan Ukraina-Amerika di Jeddah, Arab Saudi,” kata Zelensky dalam pidato hariannya di media sosial, Selasa (11/3/2025).

    “Kami siap mengambil langkat tersebut. Amerika Serikat harus meyakinkan Rusia untuk melakukan ini,” imbuh Zelensky.

    “Jika Rusia setuju, gencatan senjata akan berlaku pada saat itu juga,” lanjutnya.

    Zelensky mengatakan gencatan senjata selama 30 hari itu tidak hanya terkait rudal, pesawat nirawak, dan bom, serta tidak hanya di Laut Hitam tetapi juga di sepanjang garis depan.

    Ia mengatakan Ukraina memandang usulan gencatan senjata itu secara positif.

    “Ukraina siap untuk perdamaian. Rusia harus menunjukkan kesiapannya untuk mengakhiri perang atau melanjutkan perang,” ujar Zelensky, seperti dikutip dari Pravda.

    Zelensky mengatakan selama gencatan senjata tersebut Ukraina dan sekutunya akan mempersiapkan semua aspek untuk menjamin keamanan dan perdamaian abadi.

    Ia juga berterima kasih kepada semua orang yang terlibat dalam pertemuan itu dan mereka yang membantu Ukraina untuk mempertahankan kedaulatannya.

    Pernyataan Bersama AS dan Ukraina di Jeddah

    Tim Ukraina bertemu dengan tim AS di Jeddah kemarin untuk membicarakan upaya mengakhiri perang dengan Rusia.

    Setelah negosiasi yang berlangsung selama delapan jam, Ukraina setuju untuk gencatan senjata selama 30 hari dengan Rusia dan dapat diperpanjang tergantung dari komitmen Rusia dalam mengimplementasikannya.

    Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh tim Ukraina dan AS, Washington mengonfirmasi mereka akan mencabut penangguhan bantuan militer dan pembagian informasi intelijen terhadap Ukraina.

    AS dan Ukraina juga membahas perjanjian mineral yang sebelumnya gagal ditandatangani dalam pertemuan Zelensky dan Presiden AS Donald Trump yang berakhir dengan pertengkaran pada 28 Februari lalu.

    AS: Rusia Harus Segera Memutuskan

    Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan Rusia harus memutuskan apakah akan menerima gencatan senjata dengan Ukraina, yang menurutnya siap untuk dinegosiasikan.

    “Kami sekarang akan menyampaikan tawaran ini kepada Rusia dan berharap mereka akan menyetujui perdamaian. Sekarang keputusan ada di tangan mereka,” kata Rubio kepada wartawan di Jeddah, Selasa.

    Penasihat Keamanan Nasional AS, Mike Waltz, juga menyatakan harapannya agar perang di Ukraina berakhir setelah Ukraina menerima usulan gencatan senjata.

    “Kita telah beralih dari apakah perang akan berakhir menjadi bagaimana mengakhirinya,” kata Waltz kepada wartawan.

    “Presiden AS Donald Trump telah mengubah seluruh percakapan global,” lanjutnya.

    Ia juga mengatakan akan berbicara dengan mitranya dari Rusia.

    (Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

    Berita lain terkait Konflik Rusia VS Ukraina

  • Israel Bebasan 5 Tahanan Lebanon

    Israel Bebasan 5 Tahanan Lebanon

    JAKARTA – Israel mengonfirmasi pembebasan lima tahanan Lebanon yang ditahan militer Israel.

    Media Israel Axios sebelumnya melaporkan dengan mengutip seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, Israel dan Lebanon sepakat untuk membuka negosiasi guna menyelesaikan sengketa perbatasan darat antara kedua negara.

    Belum ada rincian mengenai proses pembebasan tahanan Lebanon termasuk identitas mereka.

    Sebelumnya Lebanon menganggap keberadaan pasukan Israel Defense Forces (IDF) setelah batas yang ditentukan sesuai kesepakatan gencatan senjata sebagai pendudukan. Lebanon pernah meminta bantuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk memastikan aturan main gencatan senjata dipatuhi.

    Juru bicara Kepresidenan Lebanon mengatakan, setiap keberadaan pasukan Israel yang tersisa di wilayahnya sebagai pendudukan dan berhak menggunakan segala cara untuk memastikan penarikannya.

    Setelah pertemuan antara Presiden Joseph Aoun, Perdana Menteri Nawaf Salam dan juru bicara Parlemen Nabih Berri, ketiga pemimpin tersebut mengatakan tentara Lebanon siap “untuk mengemban semua tugasnya di sepanjang perbatasan,” kata juru bicara kepresidenan Najat Charafeddine, melansir The Times of Israel 18 Februari.

    Lebanon juga akan meminta bantuan Dewan Keamanan PBB untuk “menangani pelanggaran Israel dan memaksa Israel untuk segera menarik pasukan.”

    Berdasarkan gencatan senjata yang ditengahi oleh Washington pada Bulan November 2023, pasukan Israel diberi waktu 60 hari untuk menarik diri dari Lebanon selatan tempat mereka melancarkan serangan darat terhadap pejuang dari Hizbullah yang didukung Iran sejak awal Oktober.

  • Mengapa Arab Saudi Menjadi Pihak Penting dalam Perundingan Damai Ukraina? – Halaman all

    Mengapa Arab Saudi Menjadi Pihak Penting dalam Perundingan Damai Ukraina? – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Upaya Ukraina untuk mengakhiri perang dengan Rusia semakin tidak menentu setelah perdebatan sengit antara Presiden Volodymyr Zelensky dan Presiden AS Donald Trump di Ruang Oval pada 28 Februari lalu.

    Kini, bukan lagi Amerika Serikat, melainkan Arab Saudi yang menjadi pihak penting dalam pembicaraan damai.

    Zelensky tiba di Jeddah pada Senin (10/3/2025) dan bertemu Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS), penguasa de facto Arab Saudi.

    Delegasi Ukraina dan AS dijadwalkan menggelar perundingan damai pada Selasa (11/3/2025).

    Saat berita ini ditulis, pembicaraan damai baru saja dimulai.

    Pembicaraan ini mempertemukan delegasi Ukraina yang mencakup Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiha, Kepala Staf Zelensky Andriy Yermak, dan Menteri Pertahanan Rustem Umerov.

    Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga hadir di Jeddah.

    Selain bertemu mitra dari Ukraina, Departemen Luar Negeri AS menyatakan, Rubio juga dijadwalkan bertemu putra mahkota Saudi.

    Dalam pernyataannya sebelum kunjungan tersebut, Zelensky menegaskan, upaya diplomatik akan menjadi fokus utama, dengan mengatakan bahwa timnya terus berkomunikasi dengan pemerintahan Trump di berbagai tingkatan.

    “Topiknya jelas: perdamaian sesegera mungkin dan keamanan yang semaksimal mungkin,” ujar Zelensky.

    “Ukraina berkomitmen penuh pada pendekatan yang konstruktif.”

    Menurut analisis dari RFE/RL, pernyataan ini menunjukkan upaya mendamaikan setelah pertemuan di Ruang Oval, yang sebelumnya menempatkan diplomasi Ukraina dalam posisi sulit.

    Setelah pertemuan tersebut, pemerintahan Trump sempat menghukum Ukraina dengan menghentikan aliran informasi intelijen yang penting serta menangguhkan sementara bantuan militer AS.

    Namun, Trump kemudian menunjukkan sikap lebih optimistis terhadap prospek perundingan damai.

    “Saya pikir pada akhirnya, meskipun mungkin tidak dalam waktu dekat, kita akan melihat hasil yang cukup baik dari Arab Saudi minggu ini,” kata Trump kepada wartawan di Air Force One.

    Hubungan Dekat Arab Saudi dengan Trump

    Peran Arab Saudi dalam perundingan perdamaian mulai tampak sejak Februari, ketika pejabat diplomatik AS dan Rusia mengadakan putaran pertama perundingan untuk mengakhiri perang di Ukraina.

    Hasil dari perundingan itu adalah komitmen untuk sedikit melonggarkan hubungan antara Washington dan Moskow, termasuk kesepakatan awal untuk mulai memulihkan hubungan diplomatik.

    Namun, Ukraina tidak diundang dalam perundingan tersebut, menimbulkan kekhawatiran di Kyiv dan ibu kota Eropa bahwa AS dan Rusia mungkin merundingkan kesepakatan tanpa melibatkan Ukraina.

    Perdebatan sengit di Ruang Oval menunjukkan bahwa bernegosiasi dengan Trump bukan hanya persoalan diplomasi formal, tetapi juga bersifat sangat pribadi.

    Putra mahkota Saudi memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Trump.

    Salah satu contohnya adalah MBS menjadi pemimpin asing pertama yang dihubungi Trump setelah dilantik pada Januari lalu.

    Dalam komunikasi tersebut, MBS menyampaikan rencananya untuk menginvestasikan 600 miliar dolar AS di Amerika Serikat dalam empat tahun ke depan.

    Selain itu, Trump juga telah mengumumkan rencana kunjungannya ke Arab Saudi dalam beberapa minggu mendatang.

    Di sisi lain, MBS juga memiliki hubungan erat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

    Selama beberapa tahun terakhir, Rusia dan Arab Saudi telah menjalin kemitraan strategis, khususnya dalam kesepakatan produksi minyak OPEC+.

    MBS bahkan pernah menjadi tamu kehormatan Putin, terutama saat diterima dalam pembukaan Piala Dunia 2018.

    Dengan latar belakang ini, peran Arab Saudi dalam perundingan damai Ukraina dapat dipahami sebagai langkah strategis yang cermat dari MBS.

    Sebagai negara dengan pengaruh diplomatik yang besar, Arab Saudi dapat menyediakan forum negosiasi yang lebih tertutup dari sorotan media internasional.

    Pada akhirnya, keterlibatan Arab Saudi dalam perundingan ini dapat semakin memperkuat posisi MBS sebagai salah satu pialang kekuasaan utama di dunia internasional.

    Meski resolusi akhir dari konflik Ukraina-Rusia masih belum terlihat, pertemuan ini menegaskan betapa pentingnya peran Arab Saudi dalam dinamika geopolitik global.

    Ukraina Siap Melakukan Segalanya Demi Perdamaian

    Mengutip The Telegraph, Ukraina siap melakukan apa pun demi perdamaian, ujar negosiator utama utusan Volodymyr Zelensky menjelang perundingan dengan AS di Arab Saudi.

    “Tidak ada yang lebih menginginkan perdamaian selain rakyat Ukraina,” kata Andriy Yermak, Kepala Staf Volodymyr Zelensky, kepada wartawan.

    “Ukraina siap untuk mencapai tujuan ini, karena itulah yang paling diinginkan rakyat Ukraina setelah lebih dari tiga tahun menghadapi invasi besar-besaran Rusia.”

    Serangan Drone Besar-Besaran di Rusia

    Sementara itu, beberapa jam sebelum perundingan damai ini, Ukraina melancarkan serangan pesawat nirawak terbesarnya terhadap Rusia pada Selasa (11/3/2025) dini hari.

    Sekitar 337 pesawat nirawak diluncurkan oleh Ukraina ke berbagai wilayah di Rusia, termasuk hampir 100 ke Moskow.

    Serangan tersebut, menewaskan sedikitnya dua pekerja dan melukai 18 orang lainnya di sebuah gudang daging di ibu kota, menurut pejabat setempat.

    Serangan berskala besar ini juga menyebabkan penutupan sementara empat bandara utama di Moskow.

    Ukraina tidak secara langsung mengonfirmasi serangan itu, meskipun Rusia mengeklaim bahwa serangan ini menunjukkan Ukraina mulai terdesak di medan perang.

    (Tribunnews.com, Tiara Shelavie)