kab/kota: Magetan

  • Pria Asal Ngawi Babak Belur Dihakimi Warga di Magetan, Curi Rokok Terekam CCTV

    Pria Asal Ngawi Babak Belur Dihakimi Warga di Magetan, Curi Rokok Terekam CCTV

    Magetan (beritajatim.com) – Seorang pria asal Ngawi menjadi bulan-bulanan warga setelah wajahnya dikenali oleh penjaga toko di Magetan, Jawa Timur. Sebelumnya, pria tersebut terekam kamera CCTV saat mencuri sejumlah rokok dari etalase toko.

    Dalam sebuah video yang beredar, terlihat seorang pencuri babak belur dihajar warga di pinggir Jalan Raya Desa Blaran, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, pada Sabtu, 26 April 2025, sekitar pukul 10.45 WIB. Pelaku berhasil dihadang warga saat mencoba kabur dengan meninggalkan sepeda motornya. Warga yang marah pun langsung menghajarnya.

    Beruntung, polisi segera tiba di lokasi untuk mengamankan pelaku dari amuk massa. Pelaku diketahui bernama Ramelan (62 tahun), warga Desa Bendo, Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi. Oleh polisi, pelaku bersama sepeda motornya langsung dibawa ke Kantor Polsek Barat untuk pemeriksaan lebih lanjut.

    Kejadian bermula dari pengakuan penjaga toko yang mengenali wajah Ramelan. Pelaku datang kembali ke toko tersebut diduga untuk mencuri rokok lagi. Sebelumnya, pada Senin, 21 April 2025 pagi, Ramelan sudah terekam kamera CCTV mencuri rokok senilai Rp1 juta. Saat hendak diklarifikasi oleh penjaga toko, pelaku justru kabur meninggalkan sepeda motornya, hingga akhirnya berhasil ditangkap dan dihajar warga.

    Eko Murdani, penjaga toko yang mengenali pelaku, mengatakan, “Dia lari, saya suruh berhenti, terus dibantu warga tertangkap, dipukuli karena emosi warga. Sebelumnya mencuri rokok dan datang kembali untuk mencuri.”

    Wakapolres Magetan, Kompol Dodik Wibowo, menambahkan, “Kita datang dengan cepat amankan terduga pelaku dari amuk warga. Kita bawa ke polsek. Sebelumnya sudah mencuri rokok senilai 1 juta dan ini tadi datang lagi, tapi belum sempat mencuri.”

    Polisi juga mengamankan sepeda motor milik pelaku. Hingga kini, Ramelan masih menjalani pemeriksaan di Kantor Polsek Barat untuk proses hukum lebih lanjut. [fiq/ian]

  • Cerah dan Panas! Begini Cuaca di Ngawi, Magetan, dan Ponorogo pada 26 April 2025

    Cerah dan Panas! Begini Cuaca di Ngawi, Magetan, dan Ponorogo pada 26 April 2025

    Surabaya (beritajatim.com) – Cuaca di wilayah Ngawi, Magetan, dan Ponorogo pada Sabtu, 26 April 2025 diperkirakan akan cerah sepanjang hari, meskipun ada sedikit perubahan cuaca yang mungkin terjadi pada beberapa jam tertentu. Berdasarkan prakiraan cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG Juanda, masing-masing daerah tersebut memiliki kondisi cuaca yang cukup stabil namun dengan perbedaan suhu dan kelembaban yang bervariasi.

    Di Ngawi, pagi hari akan dimulai dengan langit cerah pada pukul 06.00 WIB. Meskipun sempat berawan pada pukul 09.00 WIB, cuaca cerah akan kembali hadir pada pukul 12.00 WIB dan bertahan hingga malam hari sekitar pukul 21.00 WIB. Suhu di Ngawi diperkirakan berkisar antara 24 hingga 31 derajat Celcius, dengan kelembaban udara antara 63 hingga 95 persen.

    “Meski ada sedikit awan pada pagi hari, cuaca cerah akan kembali, memungkinkan aktivitas luar ruangan berlangsung dengan lancar,” ujar Oky Sukma Hakim, prakirawan BMKG Juanda.

    Sementara itu, di Magetan, cuaca pada pagi hari juga akan cerah pada pukul 06.00 WIB. Pada pukul 09.00 WIB, langit akan berubah menjadi cerah berawan, namun pada siang hari sekitar pukul 12.00 WIB, sinar matahari akan kembali muncul hingga malam hari.

    Suhu di Magetan diperkirakan berkisar antara 23 hingga 28 derajat Celcius, dengan kelembaban udara yang lebih tinggi dibandingkan Ngawi, yaitu antara 71 hingga 87 persen. Kecepatan angin diperkirakan sekitar 7,4 km/jam dari arah Barat Daya.

    Berbeda dengan kedua daerah lainnya, cuaca di Ponorogo diperkirakan akan lebih stabil dengan matahari yang terik sepanjang hari. Sejak pukul 06.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB, langit akan tetap cerah tanpa banyak perubahan.

    Suhu di Ponorogo akan berkisar antara 23 hingga 31 derajat Celcius, dengan kecepatan angin sekitar 9 km/jam dari arah Tenggara. Kelembaban udara di Ponorogo diperkirakan antara 56 hingga 96 persen.

    “Ponorogo akan merasakan cuaca cerah sepanjang hari, yang mendukung berbagai aktivitas luar ruangan seperti wisata dan olahraga,” tambah Oky Sukma Hakim.

    Secara keseluruhan, cuaca di ketiga wilayah tersebut pada Sabtu, 26 April 2025 diperkirakan cukup cerah dan stabil, meskipun suhu udara bisa terasa cukup panas, terutama di Ponorogo. Masyarakat di daerah-daerah ini diharapkan tetap menjaga hidrasi dan perlindungan dari paparan sinar matahari saat beraktivitas di luar ruangan. (mnd/ian)

  • Pengendara Motor Terseret Tanah Longsor di Jalan Tawangmangu-Plaosan Magetan

    Pengendara Motor Terseret Tanah Longsor di Jalan Tawangmangu-Plaosan Magetan

    Magetan (beritajatim.com) – Saluran irigasi sawah di Jalan Tawangmangu-Plaosan, tepatnya di sebelah barat Mbah Djoe Resort, Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan,.Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mengalami longsor pada Jumat (25/4/2025) sore. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 18.20 WIB dan sempat menutup sekitar 70% akses jalan utama menuju kawasan wisata Sarangan. Bahkan, seorang pengendara motor juga menjadi korban luka imbas kejadian itu.

    Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Magetan, Eka Wahyudi menyampaikan laporan resmi terkait kejadian tersebut. “Material longsor berasal dari tebing dengan tinggi kurang lebih 10 meter dan lebar sekitar 5 meter yang ambruk akibat saluran irigasi persawahan di atasnya jebol. Dampaknya, tanah dan batuan menutupi sebagian besar badan jalan dan menghambat lalu lintas kendaraan. Seorang pengendara motor juga mengalami luka karena terseret material longsor,” kata Eka.

    Pengendara motor itu adalah Udin (36), warga Lingkungan Singolangu, Kelurahan Sarangan. Dia terseret material longsor saat sedang mengendarai sepeda motor Yamaha N-Max dari arah timur menuju tempat kerjanya di Kawasan Wisata Lawu Green Forest (LGF). Beruntung, Udin hanya mengalami luka lecet di kaki kanan dan telah dibawa pulang setelah mendapatkan pertolongan. Kendaraan yang dikendarainya juga mengalami kerusakan ringan.

    Tim gabungan BPBD Magetan, TNI, POLRI, Damkar Magetan, Perhutani, Lifeguard Disbudpar, Pemerintah Kecamatan Plaosan, Pemerintah Kelurahan Sarangan, PMI, Hanom Hancala, Senkom Mitra Polri, serta masyarakat sekitar melakukan penanganan material longsor. Proses evakuasi material longsor berlangsung hingga pukul 20.48 WIB dan saat ini jalur sudah dapat dilalui kembali dengan aman.

    Pembersihan sisa material dilakukan menggunakan mobil tangki Damkar untuk mengurangi risiko licin yang bisa membahayakan pengendara. “BPBD Kabupaten Magetan menghimbau kepada masyarakat Kabupaten Magetan, agar lebih waspada dan berhati-hati apabila melintas di jalan yang berada di tebing yang tinggi. Apabila terdapat kejadian serupa ataupun bencana lainnya dapat menghubungi nomor pelayanan BPBD Kabupaten Magetan,” pungkas Eka Wahyudi. [fiq/ian]

  • Ketum PSI harap Surabaya tetap jadi kota percontohan di Indonesia

    Ketum PSI harap Surabaya tetap jadi kota percontohan di Indonesia

    Surabaya (ANTARA) – Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep berharap Surabaya, Jawa Timur, tetap menjadi kota percontohan di Indonesia di bawah kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi pada periode kedua ini.

    “Surabaya semoga semakin baik, apalagi kalau di bawah kepemimpinan Pak Eri Cahyadi, Insyaallah semua beres,” kata Kaesang saat ditemui wartawan setelah melakukan pertemuan tertutup di rumah dinas Wali Kota Surabaya, Jalan Wali Kota Mustajab, Surabaya, Jawa Timur, Jumat.

    Dia mencontohkan, kasus penahanan ijazah di salah satu perusahaan di Surabaya juga sudah langsung ditangani dengan baik oleh pemerintah kota.

    Dia berharap agar anak-anak muda di Surabaya dapat mengikuti jejak Eri Cahyadi yang sudah berbuat banyak untuk membuat Kota Pahlawan semakin baik.

    Ia juga menyebut, kedatangannya di beberapa daerah di Jawa Timur hanya sebatas silaturahim dengan para kepala daerah sebagai Ketua Umum PSI.

    “Tidak ada agenda lain, hanya sebatas silaturahim, apapun partainya, masing-masing kepala daerah,” kata Kaesang.

    Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengaku senang bisa dikunjungi oleh Ketum PSI Kaesang Pangarep terlebih saat Pilkada Kota Surabaya 2024, partai yang dipimpin Kaesang telah mendukungnya.

    “Mumpung juga masih Syawal, ini silaturahim yang baik, kemarin saat pilwali semua partai juga mendukung saya, salah satunya PSI, artinya tetap menjalin erat tali silaturahim,” ujarnya.

    Eri mengatakan dalam pertemuan, Kaesang yang juga merupakan putra bungsu dari Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo itu juga berharap agar Surabaya terus menjadi kota yang baik, kota yang toleran dan sebagainya.

    Sebelum ke Surabaya, Kaesang terlebih dahulu mengunjungi Magetan dan bertemu kepala daerah terpilih Nanik Endang Rusmiarti dan Suyatni Priasmoro. Selanjutnya ke Ponorogo bertemu dengan Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko, kemudian ke Kabupaten Madiun untuk bertemu dengan Bupati Madiun Hari Wuryanto.

    Selanjutnya, berkunjung ke Kota Madiun untuk bertemu Wali Kota Maidi, lalu ke Kabupaten Tulungagung menemui Bupati Gatut Sunu Wibowo, dan ke Kota Kediri bertemu Wali Kota Vinanda Prameswati, kemudian ke Kota Malang menemui Wali Kota Wahyu Hidayat.

    Pewarta: Indra Setiawan/Naufal Ammar Imaduddin
    Editor: Rangga Pandu Asmara Jingga
    Copyright © ANTARA 2025

  • Mbok Yem Idap Pneumonia Sebelum Meninggal, Waspadai Gejala Khas pada Lansia

    Mbok Yem Idap Pneumonia Sebelum Meninggal, Waspadai Gejala Khas pada Lansia

    Jakarta

    Pneumonia adalah infeksi yang terjadi ketika kantung udara kecil di paru-paru (alveoli) meradang. Hal ini dapat menyebabkan gejala seperti batuk dan sesak napas.

    Pneumonia bisa menjadi masalah serius bagi beberapa kelompok, salah satunya orang dewasa yang lebih tua.

    Kondisi ini juga dialami Wakiyem atau akrab dipanggil Mbok Yem. Legenda pemilik warung di Gunung Waru, Mbok Yem, yang tutup usia pada Rabu (23/4/2025).

    Ia meninggal di tempat tinggalnya dusun Dagung, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Magetan, Jawa Timur. Maret lalu, Mbok Yem sempat mengidap pneumonia yang membuat ia perlu turun gunung untuk mendapatkan perawatan medis di RSI Aisyah Ponorogo, Jawa Timur.

    Humas RSU Aisyiyah Ponorogo, Muh Arbain, mengatakan bahwa Mbok Yem pada awalnya mengeluhkan sakit gigi dan gigi taring yang goyang.

    Hal tersebut membuatnya enggan makan hingga tubuhnya melemah dan sempat jatuh tiga kali.

    Dikutip dari Healthline, orang dewasa yang lebih tua, lebih mungkin memiliki kondisi kesehatan kronis, seperti gangguan paru obstruktif kronik (PPOK) atau penyakit jantung, yang dapat meningkatkan risiko mereka terkena pneumonia.

    Apa saja gejala pneumonia pada orang dewasa yang lebih tua?

    Gejala pneumonia pada orang yang lebih tua dapat berbeda dengan gejala pada kelompok usia lain.

    Lansia yang mengidap pneumonia lebih mungkin mengalami:

    lemah atau tidak stabil, yang dapat meningkatkan risiko terjatuhtidak mengalami demam atau suhu tubuh lebih rendah dari biasanyamengalami kebingungan atau deliriummengalami perubahan status fungsional, yaitu kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-harimengalami inkontinensia urinetidak nafsu makanmengalami kondisi kesehatan yang memburuk

    Karena gejala pada lansia sering kali lebih samar dan dapat berbeda dari gejala pneumonia klasik, pneumonia dapat lebih sulit dikenali pada populasi ini. Hal ini berpotensi mengakibatkan keterlambatan diagnosis dan pengobatan.

    Lantas apa gejala klasik pneumonia pada lansia?

    Meskipun lansia sering kali memiliki gejala pneumonia yang berbeda, mereka juga dapat mengalami beberapa gejala pneumonia yang lebih klasik. Gejala ini dapat meliputi:

    batuk yang dapat mengeluarkan dahakdemam dan menggigilnyeri dada yang memburuk saat menarik napas dalam atau batukkelelahansesak napasnapas cepat

    Satu ulasan pada 2014 menemukan jenis kuman berikut lebih sering menjadi pemicu pneumonia pada orang dewasa, yang berusia 65 tahun ke atas:

    Streptococcus pneumoniae, jenis bakteriHaemophilus influenzae, jenis bakteri lainnyavirus pernapasan, yang dapat mencakup virus yang menyebabkan pilek, flu, dan (yang terbaru) COVID-19

    (naf/kna)

  • Patok Tarif Rp540 Juta, Mahasiswi Asal NTT di Magetan Mengaku Bisa Pindahkan Janin – Halaman all

    Patok Tarif Rp540 Juta, Mahasiswi Asal NTT di Magetan Mengaku Bisa Pindahkan Janin – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM, MAGETAN –  Polisi menangkap NY (29), seorang mahasiswi asal Nusa Tenggara Timur (NTT) kasus penipuan di Magetan, Jawa Timur.

    Mahasiswi perguruan tinggi di Solo itu mengaku dukun dan bisa memindahkan janin.

    “Korban ini anak sekolah yang hamil, sementara pelaku ini mengaku dukun yang bisa memindahkan janin,” kata Kasat Reskrim Polres Magetan, AKP Joko Santoso di Polres Magetan, Kamis (24/4/2025).

    Pelaku yang bermukim di Kabupaten Karanganyar tersebut mematok tarif Rp540 juta.

    Alih-alih berhasil memindahkan janin, siswi tersebut tetap hamil dan melahirkan anak. Hingga waktu berjalan ditunggu, ternyata tidak berhasil hingga putrinya melahirkan. Lalu orangtua korban meminta kembali uangnya. Lalu penipuan berlanjut,” imbuh Joko Santosa.

    Pelaku mengaku menyanggupi pengembalian uang sebesar Rp540 juta, namun ada sejumlah persyaratan dan ritual yang harus dilakukan agar uang tersebut bisa dikembalikan.

    Korban lagi-lagi teperdaya hingga mengeluarkan uang hingga Rp535 juta.

    “Karena tidak bisa mengembalikan uang, korban akhirnya melaporkan kejadian tersebut,” ucap Joko.

    Dari hasil pemeriksaan kepolisian, uang dengan total lebih dari Rp1 miliar tersebut digunakan oleh tersangka membeli mobil dan motor, membayar utang, uang kuliah, serta memenuhi kehidupan sehari-hari.

    Kepolisian Resor Magetan mengaku masih mendalami kasus tersebut.

    “Kasusnya masih kita dalami,” pungkas Joko. (*)

     

  • Mengaku Bisa Pindahkan Janin, Mahasiswi Ini Tipu Siswi Hamil di Luar Nikah hingga Rp 1 Miliar
                
                    
                        
                            Surabaya
                        
                        25 April 2025

    Mengaku Bisa Pindahkan Janin, Mahasiswi Ini Tipu Siswi Hamil di Luar Nikah hingga Rp 1 Miliar Surabaya 25 April 2025

    Mengaku Bisa Pindahkan Janin, Mahasiswi Ini Tipu Siswi Hamil di Luar Nikah hingga Rp 1 Miliar
    Tim Redaksi
    MAGETAN, KOMPAS.com
    – NY (29), seorang mahasiswi asal NTT, diamankan pihak Kepolisian Resor Magetan atas laporan kasus penipuan.
    Kasat Reskrim Polres Magetan
    , AKP Joko Santoso, mengatakan, mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Solo yang bermukim di Kabupaten Karanganyar tersebut mengaku dukun yang bisa memindahkan janin.
    “Korban ini anak sekolah yang hamil, sementara pelaku ini mengaku dukun yang bisa memindahkan janin,” ujarnya di Polres Magetan, Kamis (24/4/2025).
    Untuk bisa memindahkan janin pada siswi yang hamil di luar nikah tersebut, pelaku mengaku membutuhkan biaya hingga Rp 540 juta.
    Alih-alih berhasil memindahkan janin, siswi tersebut tetap hamil dan melahirkan anak.
    “Hingga waktu berjalan ditunggu, ternyata tidak berhasil hingga putrinya melahirkan. Lalu orangtua korban meminta kembali uangnya. Lalu penipuan berlanjut,” imbuh Joko Santosa.
    Pelaku mengaku menyanggupi pengembalian uang sebesar Rp 540 juta, namun ada sejumlah persyaratan dan ritual yang harus dilakukan agar uang tersebut bisa dikembalikan.
    Korban lagi-lagi teperdaya hingga mengeluarkan uang hingga Rp 535 juta.
    “Karena tidak bisa mengembalikan uang, korban akhirnya melaporkan kejadian tersebut,” ucap Joko.
    Dari hasil pemeriksaan kepolisian, uang dengan total lebih dari Rp 1 miliar tersebut digunakan oleh tersangka untuk membeli mobil dan motor, membayar utang, uang kuliah, serta memenuhi kehidupan sehari-hari.
    Kepolisian Resor Magetan mengaku masih mendalami kasus tersebut.
    “Kasusnya masih kita dalami,” pungkas Joko.
     
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Tabungan Tak Bisa Cair, Puluhan Emak-emak Geruduk Koperasi di Magetan

    Tabungan Tak Bisa Cair, Puluhan Emak-emak Geruduk Koperasi di Magetan

    Magetan (beritajatim.com) — Sebuah video yang memperlihatkan puluhan emak-emak membawa paksa Ketua Pengurus Koperasi ke kantor polisi di Magetan, Jawa Timur, viral di media sosial. Dalam video tersebut, Ketua Koperasi Mitra Sejahtera Indonesia (MSI), Wawan Wandoyo (50), terlihat sempoyongan dan diduga berpura-pura sakit saat digiring keluar dari kantor koperasi di Desa Driyorejo, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan.

    Peristiwa ini terjadi pada Rabu (23/4/2025) sekitar pukul 10.30 WIB. Emak-emak yang merupakan para nasabah koperasi mengaku geram karena uang tabungan mereka tak kunjung dicairkan sesuai perjanjian. Mereka memaksa Wawan keluar dari kantor dan membawanya ke kantor Polsek Nguntoronadi dengan menggunakan sepeda motor secara boncengan tiga.

    Dari rekaman video, terlihat Wawan tengah duduk di kursi sebelum diminta keluar oleh puluhan emak-emak yang marah. Para nasabah kesal lantaran dana tabungan mereka, yang seharusnya bisa dicairkan satu tahun sekali sejak Februari 2025, tidak kunjung dibayarkan. Jumlah dana tabungan yang diduga digelapkan pun tidak sedikit, mulai dari tiga juta, lima juta, bahkan hingga ratusan juta rupiah.

    “Karena uang nasabah itu ndak cair-cair, ditahan sama Pak Wawan. Itu harusnya cair sejak Februari lalu hingga sekarang tidak cair. Akhirnya emak-emak datang marah-marah dan bawa paksa ketua koperasi ke polisi. Dia sampai sempoyongan, berpura-pura sakit,” ujar Zulailah, salah satu nasabah koperasi MSI.

    Senada dengan itu, Septiana Inran Pandini menambahkan, “Awalnya kita suruh nabung selama satu tahun dan bisa dicairkan setahun sekali. Tapi hingga kini tidak cair, sedang pengurus tidak bisa ngasih solusi. Akhirnya kita gruduk kantor pusat dan tetap tidak ada solusi.”

    Menurut Kapolsek Nguntoronadi, AKP Mahfud Sidiq, pihaknya telah melakukan mediasi antara nasabah dan pengurus koperasi. “Ya, ketua pengurus terdesak hingga harus ke polisi, dibawa paksa warga ke kantor Polsek. Kita lakukan mediasi, selanjutnya perkara kita limpahkan ke Polres,” jelasnya.

    Meski telah dilakukan mediasi, para nasabah tetap memilih menempuh jalur hukum dan melaporkan kasus ini ke Polres Magetan. Saat ini, Kantor Koperasi MSI masih diduduki para nasabah dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Total nasabah yang tercatat sebanyak 2.200 orang, dengan jumlah tabungan yang diperkirakan mencapai Rp7 miliar. Dugaan penggelapan dana nasabah tersebut kini dalam penanganan Polres Magetan. [fiq/but]

    .

  • Cerita Mbok Yem sebelum Meninggal, Kesaksian sang Cucu: Nafsu Makan Hilang hingga Minta Mandi – Halaman all

    Cerita Mbok Yem sebelum Meninggal, Kesaksian sang Cucu: Nafsu Makan Hilang hingga Minta Mandi – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM, Magetan – Masyarakat Kabupaten Magetan berduka atas meninggalnya Mbok Yem, sosok legendaris yang telah menjadi penjaga setia Puncak Gunung Lawu selama puluhan tahun.

    Mbok Yem, yang juga dikenal dengan nama Wakiyem, menghembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 23 April 2025, di kediamannya di Dusun Dagung, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan.

    Kondisi Kesehatan yang Memburuk

    Cucu Mbok Yem, Saiful Bachri, menjelaskan bahwa kondisi kesehatan neneknya semakin memburuk dalam tiga hari terakhir.

    “Nafsu makan beliau hilang dan hanya bisa bertahan dengan beberapa teguk susu. Seharusnya hari Jumat, 25 April 2025, beliau kontrol ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan,” ungkap Saiful.

    Di hari kepergiannya, Mbok Yem sempat meminta untuk mandi sebelum beristirahat.

    Setelah mandi, almarhumah tidur dan tidak bangun lagi.

    Pernyataan Kepala Dusun

    Kepala Dusun Dagung, Slamet, mengonfirmasi kabar duka tersebut.

    Ia menyebutkan bahwa Mbok Yem menghembuskan napas terakhirnya sekitar pukul 14.00 WIB.

    “Beliau memang tengah mengalami komplikasi yang cukup parah. Setelah dirawat hampir tiga pekan di RS Siti Aisyiyah Ponorogo, beliau pulang untuk dirawat di rumah oleh keluarga. Meski sempat membaik, kesehatannya kembali menurun dalam beberapa hari terakhir,” jelas Slamet.

    Slamet menambahkan bahwa meskipun Mbok Yem menghabiskan sebagian besar hidupnya di ketinggian Hargo Dumilah, ia tetap dekat dengan masyarakat kampung halamannya.

     “Setiap tahun, Mbok Yem hanya turun gunung sekali saat Lebaran, namun kehadirannya selalu dinanti dan dirindukan,” katanya.

    “Mbok Yem orangnya sangat baik dan suka membantu siapa pun. Tetangga di sini semua mengenalnya dengan rasa hormat dan kasih sayang,” kenang Slamet.

    Jenazah Mbok Yem dimakamkan pada Kamis malam, di dekat makam suaminya, Kamsir, yang berlokasi sekitar satu kilometer dari rumahnya.

    (TribunJatim.com/Febrianto Ramadani)

    Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

  • 10
                    
                        Awal Mula Mbok Yem Buka Warung di Puncak Gunung Lawu, Tolong Pendaki Kehabisan Bekal
                        Surabaya

    10 Awal Mula Mbok Yem Buka Warung di Puncak Gunung Lawu, Tolong Pendaki Kehabisan Bekal Surabaya

    Awal Mula Mbok Yem Buka Warung di Puncak Gunung Lawu, Tolong Pendaki Kehabisan Bekal
    Tim Redaksi
    MAGETAN, KOMPAS.com
    – Siapa sangka, Wakiyem (82) atau dikenal dengan
    Mbok Yem
    membuka warung di puncak
    Gunung Lawu
    berawal dari ketidaksengajaan.
    Inspirasi untuk mendirikan warung di ketinggian itu berawal ketika Mbok Yem menolong para
    pendaki
    yang melaksanakan ritual dan kehabisan bekal sekitar tahun 1980-an.
    Warung itu akhirnya bertahan hingga saat ini dan menjadi jujukan para pendaki hingga melegenda di puncak
    Gunung Lawu

    Cerita tersebut disampaikan Mbok Yem saat
    Kompas.com
    berkunjung ke rumahnya pada hari Jumat, 5 Juni 2020, saat ia memiliki hajatan menikahkan cucunya.
    “Awalnya tidak tahu ada yang memanggil-manggil saat kita membuat api unggun. Ternyata ada pendaki yang melakukan ritual kehabisan bekal,” ujarnya kala itu.
    Mbok Yem mengaku sempat dikira bukan bangsa manusia oleh pendaki ritual yang kehabisan bekal karena di tahun 1980-an jarang sekali perempuan mendaki.
    “Awalnya ditanya apakah saya orang, ya saya jawab orang. Dikiranya saya bangsa lelembut,” katanya.
    Sejak saat itu, Mbok Yem mengaku diminta berjualan oleh salah satu petugas pemangku kawasan hutan Gunung Lawu.
    “Ya, diminta untuk jualan di Gunung Lawu,” ujar Mbok Yem.
    Syaiful Gimbal, cucu Mbok Yem, mengaku sempat merasakan betapa beratnya pekerjaan Mbok Yem saat masih mencari tumbuhan jamu herbal di Hutan Gunung Lawu sebelum membuka warung di dekat
    puncak Gunung Lawu
    .
    Dia mengaku saat masih kelas 5 sempat menyusul Mbok Yem dan sempat bermalam di tengah hutan Gunung Lawu.
    “Kalau bermalam di Gunung Lawu dulu, Mbok Yem tidurnya gali sisi bukit, gali tanah seperti di dalam galian biar hangat. Kalau di luar dingin sekali. Saya pernah ikut sekali saat kelas 5 SD,” kenangnya.
    Awalnya membuka warung adalah ketika ada pendaki yang membutuhkan makanan karena tak membawa bekal.
    “Ya, awalnya itu kan ada pendaki yang butuh makanan karena tidak membawa bekal. Kemudian Mbok Yem akhirnya mencoba berjualan dari bekal yang dia bawa untuk mencari jamu,” imbuhnya.
    Saelan, salah satu anak Mbok Yem, mengaku untuk memasok bahan makanan seperti beras, minyak goreng, dan sejumlah kebutuhan warung, ia bisa mengantar 3 kali naik turun Gunung Lawu setiap minggu.
    “Minimal itu bawa 35 kilogram beban, ya beras, minyak, semua kebutuhan untuk warung. Awalnya itu minimal 3 kali mengirim,” ucapnya.
    Saelan mengaku butuh waktu 5 hingga 6 jam untuk mengantarkan sembako untuk jualan ibunya.
    Di awal jualan, Mbok Yem kondisi jalur pendakian ke
    Puncak Gunung Lawu
    tidak semudah saat ini.
    “Dulu jalan setapak ya licin kalau hujan. Barang yang dibawa beratnya minimal 35 kilogram sampai 40 kilogram. Kalau tidak hujan ya 5 jam sampai puncak, kalau hujan bisa sampai 6 jam,” imbuhnya.
    Di awal tahun 2019, Mbok Yem mengaku mendapat bantuan panel tenaga surya dari pendaki Jakarta untuk penerangan dan membantu pendaki yang membutuhkan cas HP.
    Saat itu, pendaki tersebut memberikan panel surya, 3 buah aki untuk menampung listrik, dan 4 buah bola lampu.
    “Yang bantu pendaki dari Jakarta membawakan itu listrik matahari sama 3 buah aki dan 4 lampu,” cerita Mbok Yem kala itu.
    Dengan memiliki panel surya, jika malam hari Mbok Yem tak lagi mengalami kegelapan atau mengandalkan lampu minyak.
    Mbok Yem juga memahami kebutuhan para pendaki untuk mengecas HP yang mereka bawa.
    “Boleh cas HP tapi saya batasi sampai jam 4 sore, kalau siang mau bisa ngisi akinya, kalau malam untuk penerangan kita sendiri,” ucap Mbok Yem.
    Mbok Yem mengaku mengutip biaya cas Rp 5.000 setiap HP untuk biaya perawatan peralatan panel surya miliknya.

    Yo tak tarik limangewu sak HP
    (Ditarik Rp 5.000 per HP). Lha kok enak betul kalau tidak ditarik.
    Ngunu kuwi yo enek sing ora mbayar
    (Meski begitu masih ada yang tidak bayar),” katanya sambil tertawa.
    Meski sulit membawa bahan makanan untuk jualan di warungnya, Mbok Yem tidak mematok harga mahal untuk menu nasi pecel andalannya.
    Satu porsi nasi pecel dia jual Rp 13.000, sementara nasi soto atau rawon dijual dengan harga Rp 15.000.
    Untuk minuman seperti kopi, teh, dan minuman lainnya, rata-rata dijual dengan harga Rp 5.000.
    Tak terasa lebih dari 35 tahun Mbok Yem telah membuka warung di Puncak Gunung Lawu.
    Sudah ribuan pendaki yang merasa tertolong dengan keberadaan warung Mbok Yem di Puncak Gunung Lawu.
    Setelah pulang dari perawatan di RSU Aisyiyah Ponorogo karena sakit pneumonia, rencananya Mbok Yem akan istirahat berjualan dan akan menunggu cucunya.
    Sayangnya, keinginan Mbok Yem belum kesampaian.
    Mbok Yem meninggal pada Rabu siang sekitar pukul 13:30 WIB.
    “Kalau ditotal dari mencari jamu sampai buka warung ya 40 tahun lebih. Rencananya memang mau istirahat mau nunggu cucunya kalau sudah pulih. Kalau soal warung mau dibicarakan nanti karena kita fokus bagaimana Mbok Yem sembuh dulu,” ucap Syaiful Gimbal.
    Legenda Gunung Lawu Wakiyem (82) atau lebih dikenal Mbok Yem, meninggal dunia Rabu siang sekitar pukul 13:30 WIB di kediamannya di Dusun Dagung, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Magetan, Jawa Timur.
    Mbok Yem sempat dirawat di RSU Aisyiyah selama lebih dari 2 minggu karena menderita pneumonia.
     
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.