Ini Pesan Tersembunyi di Balik Kegiatan Open Trip Bantargebang
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Layanan
open trip
satu hari ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang menyimpan sebuah harapan dari komunitas terhadap pemerintah.
Perwakilan pengelola trip dari William Daendels, Sela menyampaikan, mereka berharap pemerintah untuk tidak pernah luput menyelesaikan permasalahan
sampah
, terutama di
Bantargebang
.
“Kita berharapnya untuk kedepannya, pemerintah lebih
aware
untuk menangani
sampah di Bantargebang
,” ucap Sela saat dihubungi Kompas.com, Jumat (21/11/2025).
Harapan itu dikemas Wiliam Daendels dalam bentuk
open trip
yang bertujuan membuka wawasan dan pola pikir peserta terkait kondisi sampah, terlebih di tempat utama pengolahan sampah Jakarta.
Kesediaan pengelola TPST yang rencananya menjadi
tour guide
pada
trip
ini juga bisa membuktikan adanya transparansi pemerintah soal sampah.
“Kita bisa lebih membuka mata soal sampah. Jadi kita lebih sedikit ada keterbukaan dari pemerintah, pola pikir kita juga jauh lebih terbuka,” ujar Sela.
Sela menceritakan, ide ini muncul dari keisengan belaka antar anggota yang penasaran dengan kondisi di Bantargebang.
Ternyata, keingintahuannya itu menjadi perhatian publik setelah mereka mengunggah poster
open trip
ke Bantargebang lewat Instagram @william.daendels.
Open trip
Bantargebang ini telah menerima 20 orang yang mendaftar dan rencananya akan berangkat pada Minggu (7/12/2025).
Perjalanan satu hari ini akan dimulai sekitar pukul 04.00 WIB dengan menjemput para peserta di tiga titik pertemuan, yaitu di Cawang, Serang, dan Bantargebang.
Peserta akan diajak sarapan sebelum mulai eksplor Bantargebang mulai pukul 08.00-12.00 WIB.
Berbagai rangkaian kegiatan, yaitu bakti sosial, menemui warga terdampak bau sampah, peserta nantinya juga mendapat edukasi dari pihak TPST Bantargebang soal pengelolaan sampah.
“Nanti kita ada edukasi dari tour guide sana (pihak Bantargebang) mengenai pengolahan sampah terus juga mengenai Bantargebang itu sendiri,” ujar Sela.
Setelahnya, peserta akan diajak ke dua destinasi wisata terdekat, yaitu Curug Parigi dan Situ Rawa Gede pada pukul 12.00-16.00 WIB.
“Jadi kita sekalian edukasi tentang Bantargebang, tapi juga sedikit kita eksplor wisata apa saja yang bisa dikunjungi di sana,” kata Sela.
Diperkirakan, estimasi total perjalanan trip berlangsung selama 12 jam.
Berikut detail harga
open trip
ke Bantargebang:
Harga tersebut telah termasuk transportasi pulang dan pergi,
guide
, retribusi wisata, makan satu kali,
snack
atau camilan, dokumentasi drone dan DSLR, dan air mineral.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
kab/kota: Cawang
-
/data/photo/2025/11/21/69203a051ba5e.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Ini Pesan Tersembunyi di Balik Kegiatan Open Trip Bantargebang Megapolitan 22 November 2025
-
/data/photo/2025/06/18/68525dc49013a.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
LRT Jabodebek Sempat Gangguan, Kini Layanan Kembali Normal Megapolitan 21 November 2025
LRT Jabodebek Sempat Gangguan, Kini Layanan Kembali Normal
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Layanan operasional LRT Jabodebek sempat mengalami gangguan sistem yang mengakibatkan rangkaian kereta tidak dapat berjalan otomatis pada Jumat (21/11/2025) pagi.
Manager Public Relations
LRT Jabodebek
Mahendro Trang Bawono menerangkan,
gangguan sistem
mulai diketahui sekitar pukul 06.45 WIB.
“Kendala operasional ini disebabkan oleh adanya indikasi gangguan pada sistem operasi terintegrasi LRT Jabodebek,” ucap Mahendro saat dikonfirmasi
Kompas.com
, Jumat.
Diketahui, LRT Jabodebek dioperasikan menggunakan sistem otomatis terintegrasi antara prasarana dan sarana.
Secara tepat, gangguan pagi tadi terjadi pada sistem terintegrasi tersebut.
Hal ini langsung mendapatkan penanganan petugas yang terselesaikan dalam kurun waktu 28 menit.
Namun, hal ini berdampak pada rangkaian kereta nomor trainset (TS) 29 relasi Dukuh Atas BNI-Harjamukti menjadi tidak dapat berjalan secara otomatis.
“Kendala tersebut berdampak pada kelambatan lima perjalanan LRT Jabodebek pada lintas Cawang-Harjamukti dengan kelambatan sembilan menit,” ujarnya.
Atas peristiwa ini,
PT KAI
memohon maaf atas ketidaknyamanan penumpang sekaligus berterima kasih untuk pengertian dan kesabaran pengguna selama proses perbaikan.
Dipastikan, layanan LRT Jabodebek berangsur normal kembali mulai pukul 07.13 WIB.
“KAI senantiasa berkomitmen untuk memperkuat keandalan layanan LRT Jabodebek melalui evaluasi berkelanjutan, peningkatan sistem, serta respons cepat terhadap setiap potensi gangguan demi memastikan mobilitas masyarakat tetap aman dan nyaman,” kata dia.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -

Warga dengar dentuman sebelum kebakaran melanda permukiman di Palmerah
Jakarta (ANTARA) – Warga mendengar dentuman besar sebelum kebakaran melanda permukiman di Jalan Tomang Banjir Kanal, Gang Pelita 08, Kelurahan Jati Pulo RW 04, Kecamatan Palmerah, Kota Jakarta Barat, pada Minggu sore.
“Ternyata itu asalnya dari kabel SUTET, transmisi yang putus di RT 6, di atas rumah warga. Putus, terus mengarah ke sini. Tiba-tiba asap membesar dari rumah warga di RT 9,” kata Ketua RW 04 Kelurahan Jati Pulo Maulana Sani kepada wartawan di Jakarta, Minggu.
Maulana menuturkan bahwa seketika itu kebakaran terjadi di sejumlah titik di lingkungan RW 04.
“Dari kabel, percikan apinya bikin kebakaran langsung di banyak titik,” kata dia.
“Makanya kita kebingungan juga nanganinnya, titiknya di mana-mana. Di sini dimatiin, di sana ada lagi,” ia menambahkan.
Karena menduga kebakaran terjadi akibat percikan api dari kabel Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET), Maulana segera menghubungi PLN agar aliran listrik di wilayah tersebut dimatikan.
“Saya juga sekarang udah ngehubungin PLN bagian transmisi. Yang ngurus SUTET itu dari Cawang dan Tebet, tolong pastiin kabel yang jatuh dan saat ini masih di atas rumah warga itu tidak ada aliran listriknya. Takutnya ada kebakaran susulan, makin parah nanti,” ia menjelaskan.
Maulana menyampaikan bahwa warga bersama petugas pemadam kebakaran untuk memadamkan api di lingkungan permukiman yang terdampak kebakaran.
“Kerugian kalau secara material, enggak ada yang terselamatkan. Kalau dari bawah satu-satu kan kita masih bisa ya selamatkan barang gitu. Ini enggak, langsung banyak dan gede,” katanya.
Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Sudin Gulkarmat) Jakarta Barat telah memadamkan kebakaran yang terjadi di Jalan Pelita VIII, Jati Pulo, Palmerah, Jakarta Barat.
Menurut Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Mohamad Yohan, kebakaran berdampak pada 50 rumah tinggal dan 100 keluarga di RT 07, 08, 09, dan 10 di daerah itu.
“Korban tercatat satu orang luka ringan karena tersetrum, saat ini sudah ditangani oleh PMI,” katanya.
Selain itu, kebakaran memaksa 350 warga mengungsi di Lapangan Taman Jati di lingkungan RT 11 RW 04 Kelurahan Jati Pulo, Palmerah, Jakarta Barat.
Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2025Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
-

LRT Jabodebek Uji Coba Tambah Perjalanan Kereta, Waktu Tunggu Jadi Lebih Cepat
Jakarta –
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI akan melakukan uji coba penambahan jadwal perjalanan LRT Jabodebek pada 11 hingga 30 November 2025. Uji coba ini dilakukan untuk meningkatkan frekuensi perjalanan LRT Jabodebek serta memperpendek waktu tunggu (headway) kereta.
Executive Vice President LRT Jabodebek mengungkapkan dengan uji coba ini, jumlah perjalanan LRT Jabodebek pada hari kerja meningkat dari sebelumnya 396 perjalanan menjadi 430 perjalanan. Selain itu juga rangkaian kereta (trainset) LRT Jabodebek bertambah menjadi 26 rangkaian dari sebelumnya hanya 24 rangkaian kereta .
“Bertambahnya jumlah perjalanan dan rangkaian kereta yang dioperasikan juga berpengaruh terhadap waktu tunggu (headway) kereta yang menjadi semakin singkat. Waktu tunggu kereta saat jam sibuk pada lintas Jatimulya / Harjamukti – Cawang (PP) akan menjadi 8 menit 15 detik. Sedangkan untuk lintas Cawang – Dukuh Atas BNI, waktu tunggu kereta akan menjadi 4 menit 7,5 detik,” katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (11/11/2025).
Purnomosidi mengatakan selama masa uji coba, tim dari KAI dan stakeholders terkait akan melakukan pemantauan real time terhadap performa setiap perjalanan untuk memastikan perjalanan LRT Jabodebek tetap aman, lancar, dan nyaman.
Hasil uji coba nantinya akan dievaluasi guna melihat dampaknya terhadap keandalan sistem, kestabilan jadwal perjalanan, serta kenyamanan penumpang. Evaluasi ini akan menjadi dasar bagi KAI dalam menetapkan pola operasi terbaik di masa yang akan datang.
“Kami terus berupaya menjaga keseimbangan antara peningkatan kapasitas layanan dan keselamatan operasional. Setiap perubahan kami pastikan melalui perhitungan dan evaluasi yang cermat agar pengguna merasakan peningkatan tanpa mengurangi faktor keamanan sedikit pun,” tambah Purnomosidi.
Sepanjang tahun 2025, KAI mencatat sebanyak 23,5 juta pengguna telah memanfaatkan layanan LRT Jabodebek. Pada bulan Oktober sendiri, ada sebanyak 2.779.904 pengguna, dengan rata-rata 105.056 pengguna pada hari kerja dan 45.453 pengguna pada akhir pekan yang menggunakan LRT Jabodebek.
Informasi mengenai jadwal perjalanan selama masa uji coba akan disampaikan melalui kanal resmi media sosial LRT Jabodebek.
“Langkah ini merupakan wujud komitmen KAI dalam menghadirkan transportasi publik yang modern, aman, andal, dan berkelanjutan bagi masyarakat khususnya di wilayah Jabodebek,” katanya.
Tonton juga video “Ini Penyebab LRT Jabodebek Gangguan-Buat Penumpang Jalan di Lintasan”
(acd/acd)
-

21 Tahun Stabil, Apakah Tarif TransJakarta Akan Naik? Ini Kata Gubernur DKI
Jakarta: Rencana kenaikan tarif layanan TransJakarta kembali mencuri perhatian publik. Namun hingga kini, Pemprov DKI Jakarta belum akan mengumumkan keputusan akhir, karena kajian mendalam masih terus dilakukan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan ia memang masih ragu untuk menaikkan tarif TransJakarta yang telah bertahan di Rp3.500 selama 21 tahun.
Hal ini ia sampaikan saat menghadiri acara penyerahan sertifikat program Women Empowerment: Pelatihan Mengemudi Khusus Perempuan di Cawang, Jakarta Timur.
Keraguan itu muncul karena ia harus mempertimbangkan kondisi masyarakat dan respons publik yang sangat beragam di media sosial.
“Cuma ini gubernurnya lagi bimbang (tarif naik atau tidak). Jadi saya terus terang saja, sejak mewacanakan apakah naik atau enggak (tarifnya), memang benar-benar di ruang publik itu terbelah,” kata Pramono dikutip dari Media Indonesia, Selasa, 11 November 2025.
Pengguna TransJakarta beri apresiasi, 21 tahun tarif tak pernah naik
Dalam kesempatan tersebut, Pramono berbincang dengan seorang pramudi wanita, Noviarina, yang memberikan apresiasi atas konsistensi tarif TransJakarta.“Saya mau bilang terima kasih telah menggunakan moda transportasi yang sudah dari tahun 2004 hingga 2025 masih tetap sama dengan harga Rp3.500,” ungkap Noviarina.
Menurutnya, stabilnya tarif ini membantu masyarakat memiliki akses transportasi publik yang terjangkau sekaligus membuka peluang pekerjaan seperti yang ia alami.
Respons publik terbelah
Sejak wacana kenaikan tarif beredar, Pramono menyebut ia terus mengamati pro dan kontra yang berkembang di media sosial. Perdebatan itu menjadi salah satu alasan mengapa Pemprov DKI belum mengambil keputusan final.Pemprov DKI memang menanggung subsidi lebih dari Rp9.000 per penumpang, termasuk menggratiskan layanan untuk 15 golongan masyarakat.
“Kalau bukan karena semangat teman-teman balai kota yang tetap memberikan ruang terbuka untuk ini, enggak mungkin (hal itu terwujud) sebenarnya,” jelas Pramono.
Pramono pun memastikan kajian kebijakan ini terus dilakukan dengan serius. Ia ingin keputusan yang keluar nantinya benar-benar adil dan bermanfaat bagi masyarakat Jakarta.
“Jadi karena itu, saya betul-betul mempertimbangkan. Nanti pada saatnya, saya akan memutuskan keputusan yang terbaik untuk kita semua,” tegas Pramono.
Jakarta: Rencana kenaikan tarif layanan TransJakarta kembali mencuri perhatian publik. Namun hingga kini, Pemprov DKI Jakarta belum akan mengumumkan keputusan akhir, karena kajian mendalam masih terus dilakukan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan ia memang masih ragu untuk menaikkan tarif TransJakarta yang telah bertahan di Rp3.500 selama 21 tahun.
Hal ini ia sampaikan saat menghadiri acara penyerahan sertifikat program Women Empowerment: Pelatihan Mengemudi Khusus Perempuan di Cawang, Jakarta Timur.Keraguan itu muncul karena ia harus mempertimbangkan kondisi masyarakat dan respons publik yang sangat beragam di media sosial.
“Cuma ini gubernurnya lagi bimbang (tarif naik atau tidak). Jadi saya terus terang saja, sejak mewacanakan apakah naik atau enggak (tarifnya), memang benar-benar di ruang publik itu terbelah,” kata Pramono dikutip dari Media Indonesia, Selasa, 11 November 2025.
Pengguna TransJakarta beri apresiasi, 21 tahun tarif tak pernah naik
Dalam kesempatan tersebut, Pramono berbincang dengan seorang pramudi wanita, Noviarina, yang memberikan apresiasi atas konsistensi tarif TransJakarta.
“Saya mau bilang terima kasih telah menggunakan moda transportasi yang sudah dari tahun 2004 hingga 2025 masih tetap sama dengan harga Rp3.500,” ungkap Noviarina.
Menurutnya, stabilnya tarif ini membantu masyarakat memiliki akses transportasi publik yang terjangkau sekaligus membuka peluang pekerjaan seperti yang ia alami.
Respons publik terbelah
Sejak wacana kenaikan tarif beredar, Pramono menyebut ia terus mengamati pro dan kontra yang berkembang di media sosial. Perdebatan itu menjadi salah satu alasan mengapa Pemprov DKI belum mengambil keputusan final.
Pemprov DKI memang menanggung subsidi lebih dari Rp9.000 per penumpang, termasuk menggratiskan layanan untuk 15 golongan masyarakat.
“Kalau bukan karena semangat teman-teman balai kota yang tetap memberikan ruang terbuka untuk ini, enggak mungkin (hal itu terwujud) sebenarnya,” jelas Pramono.
Pramono pun memastikan kajian kebijakan ini terus dilakukan dengan serius. Ia ingin keputusan yang keluar nantinya benar-benar adil dan bermanfaat bagi masyarakat Jakarta.
“Jadi karena itu, saya betul-betul mempertimbangkan. Nanti pada saatnya, saya akan memutuskan keputusan yang terbaik untuk kita semua,” tegas Pramono.
Cek Berita dan Artikel yang lain diGoogle News
Viral! 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id(ANN)
-
/data/photo/2025/11/07/690ddeaec60da.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
5 Menara Saidah, Bayangan Kemegahan yang Terbengkalai di Tengah Megaproyek Jakarta Megapolitan
Menara Saidah, Bayangan Kemegahan yang Terbengkalai di Tengah Megaproyek Jakarta
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Di antara hiruk-pikuk kendaraan di Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan, berdiri sebuah menara yang seolah berhenti dalam waktu.
Menara Saidah
, dengan tiang-tiang korintus dan fasad bergaya Romawi klasik, kini hanya menjadi bayangan kemegahan masa lalu yang perlahan memudar di tengah pesatnya pembangunan Ibu Kota.
Bangunan setinggi 28 lantai itu pernah menjadi simbol kemajuan kawasan bisnis Cawang pada awal 2000-an.
Namun, hampir dua dekade berlalu, ia menjelma menjadi monumen bisu menggambarkan rumitnya tata kelola ruang Kota Jakarta dan lemahnya penegakan hukum terhadap aset-aset terabaikan.
Penelusuran
Kompas.com
, Jumat (7/11/2025), menunjukkan bahwa Menara Saidah kini seperti artefak kota yang terlupakan.
Di depan gedung, pagar seng berwarna abu-abu kusam setinggi dua meter membentang sepanjang sisi jalan, dengan tulisan besar berwarna merah:
DILARANG MASUK
.
Setiap hari, orang-orang melintas hanya beberapa meter dari bangunan ini tanpa pernah benar-benar tahu apa yang tersisa di balik pagar itu.
Begitu pagar seng dibuka oleh petugas keamanan, suasana berubah drastis. Sunyi. Hanya terdengar dengung mesin kendaraan dari kejauhan dan lolongan anjing penjaga di bawah naungan pohon besar yang tumbuh liar di depan lobi.
Dua pos jaga kecil berdiri di sisi kanan dan kiri gerbang, terbuat dari kayu lapuk yang sebagian atapnya sudah bocor.
“Kami jaga empat orang, siang malam bergantian,” ujar Juliadi (40), salah satu penjaga yang sudah bekerja di sana sejak 2014.
“Tugasnya cuma jaga biar enggak ada yang masuk tanpa izin. Banyak anak muda penasaran, kadang nekat manjat pagar,” lanjutnya.
Di halaman depan, lantai marmer yang dulu berkilau kini tertutup debu, pecahan genteng, dan dedaunan kering.
Rumput liar tumbuh menembus sela ubin, membentuk lanskap alami yang menelan keanggunan desain arsitektur klasik Eropa yang dulu diagungkan.
Fasad bangunan menampilkan enam pilar besar berwarna hijau tua dengan ukiran emas yang kini memudar. Ornamen berbentuk bunga teratai di atas atap lobi menghitam akibat jamur dan cuaca.
Di bagian dalam lobi utama, dua patung klasik berwarna putih, satu berbentuk bust laki-laki dan satu lagi patung singa, duduk berdiri di tengah debu.
Kedua patung itu kotor, tertutup jelaga dan sarang laba-laba, tetapi masih menjaga aura kemewahan masa lalu.
Di langit-langit lobi, lukisan langit berwarna biru muda dengan awan putih masih tampak samar, diapit sisa ornamen emas di tepiannya.
Lift yang dulu menjadi penghubung antar lantai kini hanya menyisakan poros besi vertikal tanpa kabin. Kabel-kabel menjuntai dari langit-langit, berkarat, dan sebagian putus.
Dinding-dinding di sekitar tangga darurat mengelupas, menampakkan lapisan bata merah dan kerangka besi bangunan.
Tangga sempit menuju lantai dua dan seterusnya tak diterangi cahaya. Udara terasa lembap dan berbau besi tua.
Lantai atas tampak seperti ruang terbuka yang membisu. Beberapa ruangan kosong masih memiliki sisa meja, sebagian besar berdebu dan berkarat.
Di salah satu ruangan yang menghadap Jalan MT Haryono, kaca jendelanya sudah pecah, memberikan pemandangan Kota Jakarta yang terus bergerak di luar sana, di antaranya LRT melintas, mobil melaju, dan gedung-gedung baru tumbuh di sekitarnya.
Kontras itu terasa menyesakkan seolah Menara Saidah tidak hanya ditinggalkan secara fisik, tetapi juga secara makna. Ia berdiri tegak, tetapi tak lagi menjadi bagian dari kehidupan kota.
“Dulu pernah ada yang mau syuting, tapi itu udah lama banget,” kata Juliadi lagi.
“Pemerintah belum pernah datang lagi. Katanya mau direvitalisasi, tapi cuma rencana,” imbuhnya.
Sementara di sisi belakang gedung, pemandangan tak kalah miris. Dinding pembatas yang roboh memperlihatkan kontras antara kemegahan dan kesederhanaan permukiman padat warga Cikoko Timur yang hanya berjarak beberapa meter dari fondasi bangunan berlantai 28 itu.
Area parkir bawah juga bisa dilalui dengan tangga besi melingkar di sisi kanan gedung. Area parkir ini kosong dan gelap, hanya diiringi ilalang serta bunyi dedaunan yang bergesekan di sekitar bangunan.
Menara Saidah bukan sekadar bangunan kosong. Ia menyimpan riwayat panjang kepemilikan yang berlapis.
Bangunan ini awalnya dibangun oleh PT Hutama Karya pada 1998 atas pesanan Mooryati Soedibyo, pendiri Mustika Ratu, dengan nama Menara Gracindo.
Beberapa tahun kemudian, gedung itu dilelang dan berpindah tangan ke keluarga Saidah Abu Bakar Ibrahim, pemilik Merial Group.
Sang putra, Fajri Setiawan, melakukan renovasi besar-besaran, menambah jumlah lantai dari 18 menjadi 28 dan mengganti namanya menjadi Menara Saidah, mengabadikan nama sang ibu.
Pada awal 2000-an, gedung ini sempat digunakan oleh beberapa lembaga negara, termasuk Sekretariat Panitia Pemilu 1999 (kini KPU) dan Kementerian Pembangunan Kawasan Timur Indonesia.
Namun pada 2007, seluruh aktivitas perkantoran di dalam Menara Saidah berhenti. Beredar kabar bahwa gedung miring beberapa derajat.
Pihak pengelola, PT Gamlindo Nusa, membantah isu tersebut dan menegaskan bahwa pengosongan dilakukan hanya karena masa sewa habis. Namun, sejak saat itu pintu gedung ditutup rapat.
“Kalau bangunan sudah tidak dimanfaatkan, otomatis Sertifikat Laik Fungsi (SLF)-nya sudah tidak berlaku,” jelas Kartika Andam Dewi, Ketua Subkelompok Penggunaan Bangunan Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan (Citata) DKI Jakarta, saat dihubungi
Kompas.com
.
“Pengawasan kami bergilir, dan Menara Saidah belum termasuk daftar 2025. Mungkin baru masuk di jadwal 2026. Karena belum ada laporan aduan atau aktivitas di sana, kami belum melakukan pengawasan lanjutan,” sambungnya.
Andam menegaskan, Menara Saidah merupakan milik swasta, bukan aset Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Karena itu, pemerintah daerah tidak bisa serta-merta melakukan penindakan atau revitalisasi tanpa koordinasi dan izin pemilik.
“Kalau nanti ada laporan visual bahwa bangunan itu membahayakan, baru kami bisa melakukan survei insidental,” katanya.
Fakta ini menunjukkan kerumitan persoalan hukum dan administrasi yang membelit Menara Saidah.
Pemprov DKI tak punya kewenangan langsung, sedangkan pemilik tidak lagi menampakkan inisiatif untuk memanfaatkan aset yang nilainya bisa mencapai ratusan miliar rupiah itu.
Upaya menyelamatkan Menara Saidah sebenarnya pernah dibahas. Pada 2016, Pemprov DKI Jakarta sempat berencana mengambil alih pemanfaatan bangunan tersebut. Namun rencana itu urung terlaksana.
Tawaran dari Universitas Satyagama pada 2011 juga kandas karena pemilik tak bersedia menunjukkan gambar struktur gedung.
Warga sekitar mengaku sudah terbiasa melihat bangunan itu diam tanpa perubahan.
“Dulu waktu masih ramai, memang sempat katanya mau direnovasi gitu,” kata Siti (45), pedagang di Cikoko Timur belakang gedung Menara Saidah.
“Sayang banget ya, bangunan segede itu nganggur. Kalau bisa dimanfaatin buat kantor pemerintah atau pusat UMKM kan enak,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Puji (29), pengemudi ojek
online
yang sering melintas di sana.
“Kalau siang enggak apa-apa, tapi kalau malam sepi banget. Lihat aja catnya udah pudar, kaca banyak yang retak. Padahal di seberang udah banyak gedung baru, tapi yang ini kayak ditinggalin gitu aja,” tuturnya.
Menurut Puji, warga sering bertanya-tanya mengapa pemerintah membiarkan bangunan strategis di tengah kota itu terbengkalai begitu saja.
“Katanya punya swasta, tapi masa iya enggak bisa dibenerin bareng-bareng? Jadinya kayak simbol Jakarta yang setengah maju, setengah berantakan,” tambahnya.
Bagi sebagian warga, Menara Saidah telah kehilangan maknanya sebagai simbol kemajuan.
“Sekarang malah kalah dan kayak monumen gagalnya tata kota. Kan di kelilingi wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Timur juga, tapi jadi satu-satunya gedung yang tidak dihuni bertahun-tahun,” ujar Tio (41), pegawai kantoran di seberang Menara Saidah.
Pengamat infrastruktur dan tata kota, Yayat Supriatna, mengatakan, persoalan Menara Saidah bukan semata bangunan mangkrak, melainkan mencerminkan ketidaktegasan pemerintah dalam mengelola ruang kota.
“Kelayakan bangunan itu yang paling penting adalah aspek keselamatan dan keamanan penggunaan. Kalau aman dan
clear
dari sengketa hukum, sebenarnya Menara Saidah sangat strategis,” ujarnya kepada
Kompas.com
.
Ia menilai, posisi gedung yang dekat dengan LRT, KRL, dan TransJakarta semestinya menjadi keunggulan.
“Sangat cocok kalau dikembangkan jadi
mixed-use building
atau hunian
transit oriented development
(TOD),” katanya.
Namun, Yayat mengingatkan bahwa revitalisasi baru bisa dilakukan jika aspek hukum dan keselamatan sudah tuntas.
“Optimalisasi aset telantarnya harus
clear and clean
dulu. Kalau ada sengketa atau masalah struktur, itu harus diselesaikan dulu sebelum dibangkitkan kembali,” tegasnya.
Yayat bahkan menilai, jika dibongkar dan dibangun ulang sebagai rumah susun terjangkau, lokasinya akan sangat diminati generasi muda yang membutuhkan hunian dekat transportasi publik.
“Posisinya strategis banget. Dekat ke bandara, dekat ke Halim, dekat ke stasiun. Tapi ya, harus berani pemerintah turun tangan untuk memastikan kejelasan statusnya,” katanya.
Menara Saidah kini hanya menjadi latar diam bagi perjalanan ribuan orang yang melintas setiap hari.
Di bawahnya, bus TransJakarta melaju, LRT berderu di atas, dan KRL lewat di sampingnya, tanda Jakarta terus bergerak. Namun di tengah dinamika itu, satu bangunan dibiarkan membeku.
“Kami enggak tahu siapa pemiliknya, siapa yang tanggung jawab. Pemerintah juga enggak pernah datang bahas. Jadinya kayak dibiarkan
aja
begitu,” ujar Wati (50), warga Cikoko Timur yang tinggal di belakang gedung sejak sebelum pembangunan.
Bagi Wati, Menara Saidah bukan sekadar gedung kosong, melainkan simbol kota yang kehilangan arah dalam menata ruangnya.
“Kalau enggak bisa difungsikan lagi, ya paling tidak dirapikan. Jangan dibiarkan kumuh begitu. Bikin kesan Jakarta ini kayak kota yang enggak dirawat,” katanya menutup percakapan.
Menara Saidah, dengan segala kisah kemegahan dan kebisuannya, kini menjadi pengingat bahwa pembangunan fisik tanpa tata kelola dan kepastian hukum hanyalah ilusi kemajuan.
Ia berdiri tegak, tapi tanpa jiwa sebuah bayangan kemegahan yang terbengkalai di tengah megaproyek Jakarta yang terus berlari.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5339605/original/044975400_1757067529-bf92dc7b-4027-4ca2-bb4e-8e130708b984.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Transjakarta akan Bongkar Halte Tosari dan Cawang BNN
Liputan6.com, Jakarta – PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) akan membongkar dua halte yang sudah lama terbengkalai, yakni Halte Tosari lama dan Halte Cawang BNN.
Pembongkaran ini menjadi bagian dari program revitalisasi halte yang dijalankan untuk meningkatkan kualitas layanan transportasi bagi masyarakat.
Direktur Utama (Dirut) Transjakarta Welfizon Yuza menjelaskan, Halte Tosari lama sebelumnya berfungsi sebagai halte sementara saat proses pembangunan halte baru. Setelah halte baru beroperasi, fasilitas lama tidak lagi difungsikan dan kini akan dibongkar.
“Halte Tosari lama itu dulunya halte sementara. Setelah halte barunya beroperasi, halte lama sudah tidak digunakan dan saat ini dalam proses pembongkaran,” kata Welfizon di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (4/11/2025).
Ia menyatakan, kondisi serupa juga terjadi pada Halte Cawang BNN yang berada di atas trotoar. Halte tersebut dibangun sementara ketika proyek LRT Jabodebek masih berlangsung. Kini, setelah halte permanen rampung dan layanan berpindah, halte sementara itu akan segera dibongkar.
“Halte BNN 1 juga sudah tidak digunakan. Kami sudah bersurat dan dalam minggu ini rencananya akan mulai dilakukan pembongkaran,” katanya.

/data/photo/2025/11/09/691068c6773ce.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
