Jenis Media: Kesehatan

  • Asah Otakmu! Cuma si Jeli yang Bisa Temukan Jalan dari Tebak-tebakan Ini

    Asah Otakmu! Cuma si Jeli yang Bisa Temukan Jalan dari Tebak-tebakan Ini

    Asah Otak

    Aida Adha Siregar – detikHealth

    Senin, 29 Sep 2025 15:03 WIB

    Jakarta – Suka tantangan seru? Cuma si jeli yang bisa temukan kunci, antar air ke gelas, dan sampai ke pizza. Bisa selesaikan semuanya?

  • BGN Pastikan Pemerintah Tanggung Biaya Perawatan Pasien Keracunan MBG

    BGN Pastikan Pemerintah Tanggung Biaya Perawatan Pasien Keracunan MBG

    Jakarta

    Kasus keracunan makan bergizi gratis terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Ribuan siswa terpaksa harus menjalani perawatan imbas insiden tersebut.

    Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang menegaskan telah bergerak cepat dalam menginvestigasi dan evaluasi SPPG yang terkait di insiden keamanan pangan ini. Buntut dari insiden tersebut, BGN juga telah mengevakuasi dan pengecekan kondisi penerima manfaat secepat mungkin untuk menghindari hal-hal yang diinginkan.

    Bahkan, BGN menyebut bahwa pasien kejadian luar biasa (KLB) dari keracunan makanan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah.

    “Kami sampaikan bahwa penerima manfaat program MBG yang terdampak akibat insiden keamanan pangan dan dirawat di rumah sakit tidak mengeluarkan biaya apapun. Keseluruhan biaya perawatan akan ditanggung oleh pemerintah,” jelas Nanik dalam keterangan yang diterima detikcom, Senin (29/09/2025).

    “Ini semua sudah diatur secara jelas dalam undang-undang, bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah bertanggung jawab menyelenggarakan kegiatan kewaspadaan KLB atau wabah, penanggulangan KLB atau wabah, dan pasca-KLB atau wabah Bisa dicek di UU Nomor 17 tahun 2023,” tambahnya.

    Dalam pernyataannya, Nanik menyebut program MBG sangat mengedepankan keamanan dan kesehatan seluruh penerima manfaat. Maka dari itu, penanganan gangguan kesehatan yang terjadi dalam pelaksanaan program ini menjadi salah satu fokus utama BGN.

    “Kami berharap hal ini bisa meringankan beban semua penerima manfaat terdampak, bahwa pemerintah akan selalu hadir dan bertanggung jawab pada kesehatan anak-anak kita,” beber Nanik.

    Sementara itu, Kepala Biro Hukum dan Humas BGN Khairul Hidayati menekankan bahwa pemerintah akan turut mendampingi penerima manfaat MBG yang terdampak akibat insiden keamanan pangan yang terjadi.

    Bahkan, pihaknya merasa sangat prihatin dengan insiden keracunan pangan yang terjadi di beberapa wilayah yang menjadi fokus MBG.

    “Tentu pemerintah akan mendampingi penanganan penerima manfaat terdampak yang membutuhkan perawatan kesehatan. Semoga anak-anak kita segera pulih dan selalu dalam keadaan sehat,” tutup Hida.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/kna)

    Gaduh Keracunan MBG

    18 Konten

    Ribuan anak sekolah dilaporkan mengalami keracunan usai menerima Makan Bergizi Gratis (MBG). Apa saja kemungkinan penyebabnya, dan bagaimana mencegahnya di kemudian hari?

    Konten Selanjutnya

    Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya

  • Kisah Pria Kena Diabetes di Usia 25, Berhasil ‘Sembuh’ dengan Kebiasaan Ini

    Kisah Pria Kena Diabetes di Usia 25, Berhasil ‘Sembuh’ dengan Kebiasaan Ini

    Jakarta

    Seorang pria di Inggris bernama Jez, yang didiagnosis diabetes tipe 2 pada usia 25 tahun, berhasil remisi setelah menjalani perubahan gaya hidup secara konsisten. Ia pertama kali menerima diagnosis pada 2012, setelah sebelumnya tidak menyadari adanya kenaikan berat badan karena tubuhnya yang besar dan tertutup pakaian longgar.

    “Dengan tinggi 190 cm dan tubuh yang secara alami besar, saya tidak menyadari berat badan saya bertambah. Saya selalu mengenakan pakaian longgar dan baru sekarang ketika saya melihat kembali foto-foto, saya dapat melihatnya,” ucapnya dikutip dari Diabetes UK, Senin (29/9/2025).

    Secara medis, istilah sembuh total dari diabetes tipe 2 tidak digunakan. Kondisi yang dialami Jez disebut remisi, yaitu keadaan ketika kadar gula darah berada dalam batas normal tanpa bantuan obat dalam jangka waktu tertentu. Meski demikian, risiko kambuh tetap ada jika gaya hidup tidak dijaga.

    Lebih lanjut, Jez juga diketahui memiliki riwayat keluarga yang juga mengidap diabetes. Sang kakek meninggal akibat komplikasi diabetes yang tidak terdiagnosis, sementara sang nenek juga hidup dengan diabetes tipe 2. Selama lima tahun pasca diagnosis, Jez mengalami kesulitan dalam mengendalikan gula darah dan merasa kewalahan dengan jumlah obat yang dikonsumsi.

    “Setelah berjuang untuk mengelola kondisi saya selama lima tahun, saya berada di tempat yang buruk. Saya tidak ingin diresepkan begitu banyak obat dan saya tidak tahu bagaimana menangani diabetes. Saya memiliki banyak kesalahpahaman tentang kondisi tersebut, dan rasanya seperti saya tersandung dalam kegelapan,” katanya lagi.

    Kebiasaan Olahraga

    Perubahan signifikan dimulai ketika seorang teman mengajaknya untuk berlatih di pusat kebugaran. Dari situ, Jez mulai disiplin berolahraga, memperbaiki pola makan, bahkan mengikuti marathon. Ia berlatih serius bersama pelatih lari hingga mampu menyelesaikan tantangan besar tersebut.

    “Saya membangun diri saya ke titik di mana mungkin seminggu sekali saya berkomitmen 20 persen dari hari saya, mungkin sedikit lebih, untuk berlatih. Tidak ada motivasi yang lebih besar daripada mengetahui Anda melakukan sesuatu yang Anda tetapkan untuk dilakukan,” katanya lagi.

    Perjuangan Jez membuahkan hasil. Menjelang akhir 2017 hingga awal 2018, ia berhasil mencapai remisi. Berat badannya turun lebih dari 50 kilogram dan seluruh obat diabetes bisa dihentikan. Bagi Jez, pencapaian ini bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga bentuk penghormatan untuk mendiang kakeknya yang dulu berjuang melawan diabetes. Ia belajar bahwa perubahan nyata hanya mungkin terjadi dengan tekad dan langkah konsisten, sekecil apa pun.

    Keberhasilan Jez bahkan memengaruhi penilaian medis resminya. Lisensi medisnya yang sempat ditangguhkan oleh otoritas transportasi akhirnya dikembalikan, setelah dokter menyaksikan langsung peningkatan besar dalam kesehatannya. Hal ini semakin memotivasi Jez untuk terus menjaga remisi.
    “Dokter saya berpandangan bahwa seseorang dengan diabetes tipe 2 tidak akan pernah sembuh darinya dan orang tidak berubah. Namun, itu sangat bergantung pada pola pikir orang tersebut dan saya telah berubah dalam hal pendekatan saya terhadap diabetes saya, jadi hanya sebagai hasil dari DVLA yang meminta pemeriksaan kesehatan, dokter dapat melihat perubahan haluan saya,” imbuh Jez.

    “Saya yakin saya adalah salah satu dari sedikit orang yang lisensi tinjauan medisnya dicabut dan lisensi lama saya dikembalikan kepada saya. Ini membuat saya tetap pada jalur dan termotivasi dan menunjukkan bahwa Anda dapat membuat perubahan permanen jangka panjang,” lanjutnya.

    Kini, Jez merasa lebih selaras dengan tubuhnya. Masa pandemi COVID-19 sempat menjadi tantangan karena keterbatasan aktivitas fisik, tetapi ia mampu beradaptasi dengan tetap mempertahankan rutinitas kebugaran. Hidup tanpa obat diabetes merupakan motivasi terbesar baginya untuk terus menjaga kesehatan. Saat ini Jez aktif berbagi pengalaman dan memberikan motivasi bagi orang lain yang ingin mencapai perubahan serupa.

    (suc/suc)

  • Keracunan MBG di Jabar Dipicu Salmonella, Dokter Beberkan Dampak Fatal di Pencernaan

    Keracunan MBG di Jabar Dipicu Salmonella, Dokter Beberkan Dampak Fatal di Pencernaan

    Jakarta

    Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Labkesda Dinas Kesehatan Jawa Barat dr Ryan Bayusantika Ristandi mengatakan bahwa bakteri Salmonella dan Bacillus cereus menjadi ‘biang kerok’ keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bandung Barat. Salah satu penyebab kontaminasi bakteri ke makanan adalah rentang waktu penyiapan hingga penyajian yang terlalu lama

    “(Bakteri) berasal dari komponen karbohidrat dalam makanan,” kata Ryan, dikutip dari Antara, Minggu (28/9/2025).

    Keracunan yang Bisa Memicu Kematian

    Spesialis penyakit dalam dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH mengatakan keracunan yang disebabkan oleh Salmonella dan Bacillus cereus tidak bisa dianggap sepele. Kondisi ini memerlukan tindakan tepat dan cepat untuk menghindari risiko fatal.

    “Yang berbahaya dari kondisi ini adalah keadaan dehidrasi berat, di mana tidak ada asupan cairan sama sekali akibat rasa mual muntah dan kondisi diare yg menyebabkan hilangnya cairan dari tubuh beserta garam2 tubuh. Ini semua bila tidak diatasi dengan segera akan menyebabkan kematian,” kata dr Aru saat dihubungi detikcom, Senin (29/9/2025).

    “Oleh sebab itu perawatan di rumah sakit dibutuhkan untuk mengembalikan cairan tubuh dan garam-garam tubuh yang hilang sekalian mengeradikasi kuman-kuman penyebab diare tersebut,” sambungnya.

    Dampak Infeksi Bakteri Salmonella dan Bacillus cereus

    dr Aru mengatakan bahwa infeksi dua bakteri ini dapat menyerang sistem pencernaan dan mengeluarkan toksin, sehingga berakibat pada gangguan saluran cerna.

    “Kuman-kuman tersebut akan bersarang di dalam saluran cerna dan menyebabkan gangguan seperti mual, muntah, kembung, sampai diare. Hal ini yang sering disebut keracunan makanan,” kata dr Aru.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: PM Israel Benjamin Netanyahu Keracunan Makanan Basi”
    [Gambas:Video 20detik]
    (dpy/up)

    Gaduh Keracunan MBG

    18 Konten

    Ribuan anak sekolah dilaporkan mengalami keracunan usai menerima Makan Bergizi Gratis (MBG). Apa saja kemungkinan penyebabnya, dan bagaimana mencegahnya di kemudian hari?

    Konten Selanjutnya

    Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya

  • Viral Narasi 11 Orang Meninggal di Jabar Akibat Keracunan MBG, BGN Pastikan Hoax

    Viral Narasi 11 Orang Meninggal di Jabar Akibat Keracunan MBG, BGN Pastikan Hoax

    Jakarta

    Media sosial dihebohkan dengan sebuah narasi yang mengatakan ada belasan anak-anak meninggal akibat keracunan makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bandung Barat, Jawa Barat.

    “MBG makan korban 11 orang meninggal,” tulis narasi pada video tersebut, dilihat detikcom, Senin (29/9/2025).

    “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, ampun ya Allah, ini terjadi di tempat kami di desa Sirnagalih, kecamatan Cipongkor. Mudah-mudahan ini yang terakhir kali kejadian seperti ini,” ujar seseorang dalam video viral tersebut.

    Badan Gizi Nasional (BGN) Sebut Hoax

    Saat ditanya mengenai kebenaran tersebut, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan bahwa narasi dalam video tersebut tidaklah benar atau hoaks.

    “Barusan, Bupati Bandung Barat (Jeje Ritchie Ismail) melaporkan tidak ada yang meninggal,” kata Dadan singkat saat dihubungi detikcom, Senin (29/9/2025).

    BGN Tanggung Jawab Penuh di Kasus Keracunan

    Terkait kasus keracunan, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang mengatakan bahwa pasien keracunan pada program MBG akan menjadi tanggung jawab penuh pemerintah.

    “Kami sampaikan bahwa penerima manfaat program MBG yang terdampak akibat insiden keamanan pangan dan dirawat di rumah sakit tidak mengeluarkan biaya apapun. Keseluruhan biaya perawatan akan ditanggung oleh pemerintah,” jelas Nanik dalam keterangan yang diterima detikcom, Senin (29/09/2025).

    “Ini semua sudah diatur secara jelas dalam undang-undang, bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah bertanggung jawab menyelenggarakan kegiatan kewaspadaan KLB atau wabah, penanggulangan KLB atau wabah, dan pasca-KLB atau wabah Bisa dicek di UU Nomor 17 tahun 2023,” tambahnya.

    Dalam pernyataannya, Nanik menyebut program MBG sangat mengedepankan keamanan dan kesehatan seluruh penerima manfaat. Maka dari itu, penanganan gangguan kesehatan yang terjadi dalam pelaksanaan program ini menjadi salah satu fokus utama BGN.

    “Kami berharap hal ini bisa meringankan beban semua penerima manfaat terdampak, bahwa pemerintah akan selalu hadir dan bertanggung jawab pada kesehatan anak-anak kita,” beber Nanik.

    Sementara itu, Kepala Biro Hukum dan Humas BGN Khairul Hidayati menekankan bahwa pemerintah akan turut mendampingi penerima manfaat MBG yang terdampak akibat insiden keamanan pangan yang terjadi.

    Bahkan, pihaknya merasa sangat prihatin dengan insiden keracunan pangan yang terjadi di beberapa wilayah yang menjadi fokus MBG.

    “Tentu pemerintah akan mendampingi penanganan penerima manfaat terdampak yang membutuhkan perawatan kesehatan. Semoga anak-anak kita segera pulih dan selalu dalam keadaan sehat,” tutup Hida.

    Halaman 2 dari 2

    (dpy/up)

    Gaduh Keracunan MBG

    18 Konten

    Ribuan anak sekolah dilaporkan mengalami keracunan usai menerima Makan Bergizi Gratis (MBG). Apa saja kemungkinan penyebabnya, dan bagaimana mencegahnya di kemudian hari?

    Konten Selanjutnya

    Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya

  • BGN Pastikan Pemerintah Tanggung Biaya Perawatan Pasien Keracunan MBG

    Begini Gejala Keracunan Massal MBG Akibat Kontaminasi Bakteri di Bandung Barat

    Jakarta

    Sebanyak 1.333 orang lebih menjadi korban keracunan akibat Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Keracunan tersebut terungkap disebabkan oleh bakteri salmonella dan bacillus cereus.

    Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Labkesda Dinas Kesehatan Jawa Barat dr Ryan Bayusantika Ristandi menyampaikan bahwa bakteri ditemukan dari sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperiksa tim laboratorium.

    “Hasil pemeriksaan kami menunjukkan adanya bakteri pembusuk, yakni Salmonella dan Bacillus cereus yang berasal dari komponen karbohidrat dalam makanan,” kata Ryan, dikutip Antara, Minggu (28/9/2025).

    Dikutip dari Mayo Clinic, infeksi Salmonella (salmonellosis) adalah penyakit bakteri yang umum menyerang saluran pencernaan. Bakteri Salmonella biasanya hidup di usus hewan dan manusia, lalu dikeluarkan melalui tinja. Manusia paling sering terinfeksi melalui makanan atau air yang terkontaminasi.

    Sebagian orang dengan infeksi Salmonella tidak mengalami gejala apa pun. Namun, kebanyakan akan mengalami diare, demam, dan kram perut dalam waktu 8 hingga 72 jam setelah terpapar. Pada orang yang sehat, kondisi ini biasanya membaik dalam beberapa hari hingga satu minggu tanpa perlu pengobatan khusus.

    Dalam beberapa kasus, diare dapat menyebabkan dehidrasi berat dan membutuhkan penanganan medis segera. Komplikasi yang mengancam jiwa juga bisa muncul bila infeksi menyebar ke luar usus.

    Sementara bacillus cereus (B. cereus) adalah organisme mikroskopis yang melepaskan racun berbahaya. Bakteri ini dapat menyebabkan keracunan makanan (B. cereus usus) atau gangguan kesehatan yang lebih serius (B. cereus non-usus). Dikutip dari Cleveland Clinic, sebagian besar kasus keracunan makanan pulih dalam 24 jam. Namun, risiko komplikasi lebih tinggi pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah atau terganggu.

    Bacillus cereus usus umumnya terjadi akibat konsumsi makanan yang dibiarkan pada suhu ruangan. Keracunan makanan tetap dapat terjadi meskipun makanan tersebut sudah dipanaskan kembali.

    B. cereus usus membentuk spora yang mampu melepaskan racun. Pada suhu ruangan, spora ini dapat berkembang biak. Ketika spora tersebut masuk ke dalam tubuh melalui makanan, racunnya dapat memicu muntah atau diare.

    Senada, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH juga mengatakan bakteri Salmonella sp memiliki masa inkubasi 12 hingga 24 jam atau kurang dari 48 jam.

    Bila tidak ditangani lebih lanjut, bakteri Salmonella sp bisa menyebabkan infeksi saluran cerna yang dikenal sebagai salmonellosis, dengan gejala diare, demam, mual, muntah, dan kram perut.

    Menurut Prof Ari, kontaminasi bisa terjadi sejak proses penanganan bahan baku, pengolahan, hingga distribusi makanan.

    Sementara bakteri bacillus cereus, umumnya ditemukan pada susu dan nasi goreng yang dibiarkan terlalu lama dalam suhu ruang, bakteri tersebut memiliki masa inkubasi satu hingga lima jam.

    “Pasien dengan keracunan kuman ini umumnya datang dengan muntah-muntah dan diare,” bebernya.

    Halaman 2 dari 2

    (suc/up)

    Gaduh Keracunan MBG

    18 Konten

    Ribuan anak sekolah dilaporkan mengalami keracunan usai menerima Makan Bergizi Gratis (MBG). Apa saja kemungkinan penyebabnya, dan bagaimana mencegahnya di kemudian hari?

    Konten Selanjutnya

    Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya

  • Korban Keracunan MBG Lampaui 8 Ribu Anak, Naik Terus dalam 2 Pekan Terakhir

    Korban Keracunan MBG Lampaui 8 Ribu Anak, Naik Terus dalam 2 Pekan Terakhir

    Jakarta

    Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) melaporkan data pemantauan terbaru jumlah anak yang keracunan makan bergizi gratis. Hingga Sabtu (27/9/2025), tercatat sebanyak 8.649 anak yang dilaporkan mengalami keracunan, 3.289 di antaranya terjadi ‘hanya’ dalam dua pekan terakhir.

    Pada September, jumlah korban keracunan per minggu dilaporkan JPPI selalu meningkat. Penambahan Jumlah korban terbanyak terjadi pada satu pekan lalu yakni periode 22 hingga 27 September 2025, korban mencapai 2.197 anak.

    Ubaid Matraji, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyesalkan tindak lanjut pemerintah yang hanya menutup Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), bila terdapat kasus keracunan.

    Menurut dia, ada persoalan di SPPG lain yang juga dikhawatirkan bisa memicu risiko yang sama. Belum lagi, akar masalah menu makanan bergizi gratis yang dinilai tak sepenuhnya tersentuh dalam nilai gizi.

    “Keracunan hanyalah puncak gunung es. Masalah MBG lebih dalam dari itu. Kami menemukan praktik menu di bawah standar, pengurangan harga per porsi, konflik kepentingan, hingga pembungkaman suara kritis di sekolah. Karena itu, kami menuntut untuk evaluasi dan pembenahan total,” beber Ubaid, dalam keterangan resminya yang diterima detikcom Senin (29/9/2025).

    JPPI lebih jauh meminta pemerintah untuk memperbaiki pemahaman gizi dan pangan yang dinilai masih buruk. Terlihat dari penyajian menu yang tidak mengutamakan kualitas gizi, penyeragaman menu juga kerap kali tidak melibatkan sumber daya lokal.

    “Hal ini justru bertentangan dengan jargon swasembada pangan pemerintah,” sorot dia.

    Struktur kepemimpinan yang belakangan juga ramai disorot tidak didominasi pakar gizi dinilai JPPI ikut menjadi persoalan.

    “Badan Gizi Nasional (BGN) yang seharusnya dikelola oleh pakar gizi, ahli pangan, dan tenaga kesehatan, justru didominasi oleh purnawirawan militer,” kata dia.

    Berdasarkan sederet temuan tersebut, JPPI meminta reformasi besar-besaran BGN dengan memastikan kepemimpinan diisi oleh tenaga profesional dan pakar di bidangnya.

    “Membangun mekanisme akuntabilitas dan partisipasi publik yang transparan dalam setiap tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan program MBG,” pungkasnya.

    (naf/kna)

  • Pria India Telan 50 Benda Asing, Dokter Temukan Sendok-Sikat Gigi di Perutnya

    Pria India Telan 50 Benda Asing, Dokter Temukan Sendok-Sikat Gigi di Perutnya

    Jakarta

    Sebuah kasus di dunia medis menggegerkan publik. Seorang dokter di rumah sakit yang berada di Hapur, India, berhasil mengeluarkan benda asing dari tubuhnya.

    Diberitakan Times of India, dari perut pasien berusia 40 itu, dokter mengeluarkan 29 sendok baja, 19 sikat gigi, dan dua pena tajam. Operasi darurat ini dipimpin oleh Dr Shyam Kumar pada 17 September 2025.

    Dr Kumar mengatakan pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan. Puluhan benda sehari-hari bersarang di dalam tubuh seseorang.

    Pasien tersebut dirawat di pusat deadiksi di Ghaziabad. Sebulan sebelumnya, ia mengeluhkan sakit perut yang parah sampai akhirnya dilarikan ke rumah sakit.

    Proses Pengangkatan 50 Benda Asing

    Operasi itu sangat rumit sekaligus langka. Pemindaian ultrasonografi mengungkapkan benda logam di dalam perut pria itu, yang membuat dokter tidak punya pilihan selain segera mengoperasinya.

    Tim dokter dengan hati-hati mengeluarkan benda-benda itu satu per satu untuk mencegah cedera pada organ vital pasien. Dr Kumar menggambarkan momen itu sangat mengejutkan karena banyaknya benda.

    Namun, terlepas dari risikonya, operasi itu berhasil. Pasien sudah diperbolehkan pulang dan sedang dalam masa pemulihan.

    Kondisinya juga dilaporkan stabil, meski kasus yang dialaminya sangat berat.

    Kenapa Orang Bisa Menelan Banyak Benda Asing?

    Para dokter menjelaskan bahwa perilaku tersebut terkait dengan kondisi psikologis, di mana seseorang secara impulsif menelan benda-benda non-makanan. Dalam kasus ini, pria tersebut menceritakan sendiri kisah menyakitan pascaoperasi.

    Ia merasa diperlakukan secara tidak adil dan diberi makan di pusat pemulihan kecanduan, yang membuatnya marah dan tidak berdaya. Dalam kegelisahannya, ia mulai menelan benda-benda untuk melukai dirinya sendiri.

    Tindakan yang dilakukan pria itu bukan sekadar perilaku ‘aneh’, tetapi merupakan tanda tekanan psikologis yang mendalam. Para ahli medis menyebut kondisi ini sebagai bentuk pica atau gangguan pengendalian impuls, yang dapat dipicu oleh stres berat, trauma, atau penyakit mental.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Waspadai Anak Telan Benda Asing, Berikut Gejalanya!”
    [Gambas:Video 20detik]
    (sao/kna)

  • Kata Dekan FK UI soal Bakteri ‘Biang Kerok’ Keracunan Massal MBG di Bandung Barat

    Kata Dekan FK UI soal Bakteri ‘Biang Kerok’ Keracunan Massal MBG di Bandung Barat

    Jakarta

    Kasus keracunan massal makan bergizi gratis di Bandung Barat menjadi insiden yang paling disorot lantaran jumlahnya mencapai ribuan siswa dalam kurang dari sepekan.

    Berdasarkan investigasi awal, bakteri Salmonella sp diduga menjadi penyebab utama anak-anak jatuh sakit. Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Labkesda Dinas Kesehatan Jawa Barat dr Ryan Bayusantika Ristandi mengungkap hasil pemeriksaan di laboratorium.

    “Hasil pemeriksaan kami menunjukkan adanya bakteri pembusuk, yakni Salmonella dan Bacillus cereus yang berasal dari komponen karbohidrat dalam makanan,” kata Ryan, dikutip dari Antara, Senin (29/9/2025).

    Menurutnya, salah satu penyebab utama kontaminasi, adalah rentang waktu penyiapan hingga penyajian makanan yang terlalu lama, sampai memungkinkan bakteri berkembang biak.

    “Jika makanan disimpan pada suhu ruang lebih dari enam jam, apalagi tanpa pengontrolan suhu yang tepat, risiko tumbuhnya bakteri sangat tinggi,” ujarnya.

    Dekan FK UI Soroti Bakteri

    Bakteri Salmonella sp termasuk salah satu dari sedikitnya tiga bakteri paling umum pemicu keracunan makanan, selain escherichia colo (E Coli), hingga campylobacter spp.

    “Pasien dengan keracunan kuman ini umumnya datang dengan muntah-muntah dan diare,” beber Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, dalam keterangannya, Minggu (28/9/2025).

    Menurutnya bakteri Salmonella sp memiliki masa inkubasi 12 hingga 24 jam atau kurang dari 48 jam.

    “Salmonella adalah bakteri yang umum ditemukan pada bahan pangan seperti telur dan daging unggas, terutama jika tidak dimasak dengan sempurna,” lanjut Prof Ari.

    Bila tidak ditangani lebih lanjut, bakteri Salmonella sp bisa menyebabkan infeksi saluran cerna yang dikenal sebagai salmonellosis, dengan gejala diare, demam, mual, muntah, dan kram perut.

    Menurut Prof Ari, kontaminasi bisa terjadi sejak proses penanganan bahan baku, pengolahan, hingga distribusi makanan.

    “Kalau telur atau ayam tidak dimasak sampai matang, maka bakterinya tidak mati. Ini sangat berisiko jika disajikan dalam jumlah besar,” jelasnya.

    Sementara bakteri bacillus cereus, umumnya ditemukan pada susu dan nasi goreng yang dibiarkan terlalu lama dalam suhu ruang, bakteri tersebut memiliki masa inkubasi satu hingga lima jam.

    Adapun bakteri lain yang perlu diwaspadai menurutnya terkait makanan adalah:

    Clostridium perfringens, biasa berada di daging sapi, unggas, kacang-kacangan, kuah daging, kepiting, kerang yang tidak dimasak atau dihangatkan kembali dengan benar.

    Clostridium botulinum umumnya ada pada makanan kaleng yang tidak diolah dan disimpan dengan benar.

    “Penyajian makanan yang seharusnya tetap dipertahankan di atas 65 derajat celcius, sementara untuk memanaskan makanan wajib berada di atas 85 derajat celcius,” pesan dia.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Terungkap Biang Kerok yang Bikin MBG Cepat Basi hingga Picu Keracunan”
    [Gambas:Video 20detik]
    (naf/kna)

  • Onkolog Ungkap Banyak Pasien Kanker yang Berobat di Luar Negeri Pilih Balik Lagi ke RI

    Onkolog Ungkap Banyak Pasien Kanker yang Berobat di Luar Negeri Pilih Balik Lagi ke RI

    Jakarta

    Kanker merupakan salah satu penyakit yang harus segera ditangani. Tetapi, pengobatannya yang memakan waktu lama, bahkan tak jarang pergi ke luar negeri untuk berobat.

    Namun, hal itu menimbulkan kelelahan, baik secara fisik hingga beban ekonomi karena biaya pengobatan yang tinggi. Tantangan ini yang kerap membuat keluarga pasien memilih pulang dan melanjutkan pengobatan di Indonesia.

    “Kanker memerlukan waktu pengobatan yang cukup lama, tidak bisa selesai hanya dalam waktu satu atau dua minggu,” terang spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi-onkologi medik, dr Ronald Alexander Hukom, SpPD, KHOM, di Jakarta Pusat, Sabtu (27/9/2025).

    “Sehingga yang berobat ke luar negeri yang keberatan dan akhirnya kembali ke Indonesia,” sambungnya.

    Beban ekonomi yang tinggi menjadi salah satu alasan pasien akhirnya kembali berobat di Indonesia. Bahkan, pasien tersebut yang memilih melanjutkan pengobatan kanker dengan biaya BPJS Kesehatan.

    Menurut dr Ronald, walaupun pengobatan kanker sudah semakin maju, tetapi deteksi dini tetap harus diutamakan.

    “Harapan untuk sembuh pada penyakit kanker sangat ditentukan oleh tingkat stadium saat mulai berobat,” tutur dr Ronald.

    “Kalau kankernya ditemukan di stadium 3 atau 4, tentu durasi pengobatannya menjadi lebih panjang dan harapan kesembuhannya lebih sedikit,” pungkasnya.

    (sao/kna)