Asah Otak
Aida Adha Siregar – detikHealth
Senin, 29 Sep 2025 15:03 WIB
Jakarta – Suka tantangan seru? Cuma si jeli yang bisa temukan kunci, antar air ke gelas, dan sampai ke pizza. Bisa selesaikan semuanya?

Asah Otak
Aida Adha Siregar – detikHealth
Senin, 29 Sep 2025 15:03 WIB
Jakarta – Suka tantangan seru? Cuma si jeli yang bisa temukan kunci, antar air ke gelas, dan sampai ke pizza. Bisa selesaikan semuanya?

Jakarta –
Kasus keracunan makan bergizi gratis terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Ribuan siswa terpaksa harus menjalani perawatan imbas insiden tersebut.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang menegaskan telah bergerak cepat dalam menginvestigasi dan evaluasi SPPG yang terkait di insiden keamanan pangan ini. Buntut dari insiden tersebut, BGN juga telah mengevakuasi dan pengecekan kondisi penerima manfaat secepat mungkin untuk menghindari hal-hal yang diinginkan.
Bahkan, BGN menyebut bahwa pasien kejadian luar biasa (KLB) dari keracunan makanan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah.
“Kami sampaikan bahwa penerima manfaat program MBG yang terdampak akibat insiden keamanan pangan dan dirawat di rumah sakit tidak mengeluarkan biaya apapun. Keseluruhan biaya perawatan akan ditanggung oleh pemerintah,” jelas Nanik dalam keterangan yang diterima detikcom, Senin (29/09/2025).
“Ini semua sudah diatur secara jelas dalam undang-undang, bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah bertanggung jawab menyelenggarakan kegiatan kewaspadaan KLB atau wabah, penanggulangan KLB atau wabah, dan pasca-KLB atau wabah Bisa dicek di UU Nomor 17 tahun 2023,” tambahnya.
Dalam pernyataannya, Nanik menyebut program MBG sangat mengedepankan keamanan dan kesehatan seluruh penerima manfaat. Maka dari itu, penanganan gangguan kesehatan yang terjadi dalam pelaksanaan program ini menjadi salah satu fokus utama BGN.
“Kami berharap hal ini bisa meringankan beban semua penerima manfaat terdampak, bahwa pemerintah akan selalu hadir dan bertanggung jawab pada kesehatan anak-anak kita,” beber Nanik.
Sementara itu, Kepala Biro Hukum dan Humas BGN Khairul Hidayati menekankan bahwa pemerintah akan turut mendampingi penerima manfaat MBG yang terdampak akibat insiden keamanan pangan yang terjadi.
Bahkan, pihaknya merasa sangat prihatin dengan insiden keracunan pangan yang terjadi di beberapa wilayah yang menjadi fokus MBG.
“Tentu pemerintah akan mendampingi penanganan penerima manfaat terdampak yang membutuhkan perawatan kesehatan. Semoga anak-anak kita segera pulih dan selalu dalam keadaan sehat,” tutup Hida.
Halaman 2 dari 2
(sao/kna)
Gaduh Keracunan MBG
18 Konten
Ribuan anak sekolah dilaporkan mengalami keracunan usai menerima Makan Bergizi Gratis (MBG). Apa saja kemungkinan penyebabnya, dan bagaimana mencegahnya di kemudian hari?
Konten Selanjutnya
Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya

Jakarta –
Seorang pria di Inggris bernama Jez, yang didiagnosis diabetes tipe 2 pada usia 25 tahun, berhasil remisi setelah menjalani perubahan gaya hidup secara konsisten. Ia pertama kali menerima diagnosis pada 2012, setelah sebelumnya tidak menyadari adanya kenaikan berat badan karena tubuhnya yang besar dan tertutup pakaian longgar.
“Dengan tinggi 190 cm dan tubuh yang secara alami besar, saya tidak menyadari berat badan saya bertambah. Saya selalu mengenakan pakaian longgar dan baru sekarang ketika saya melihat kembali foto-foto, saya dapat melihatnya,” ucapnya dikutip dari Diabetes UK, Senin (29/9/2025).
Secara medis, istilah sembuh total dari diabetes tipe 2 tidak digunakan. Kondisi yang dialami Jez disebut remisi, yaitu keadaan ketika kadar gula darah berada dalam batas normal tanpa bantuan obat dalam jangka waktu tertentu. Meski demikian, risiko kambuh tetap ada jika gaya hidup tidak dijaga.
Lebih lanjut, Jez juga diketahui memiliki riwayat keluarga yang juga mengidap diabetes. Sang kakek meninggal akibat komplikasi diabetes yang tidak terdiagnosis, sementara sang nenek juga hidup dengan diabetes tipe 2. Selama lima tahun pasca diagnosis, Jez mengalami kesulitan dalam mengendalikan gula darah dan merasa kewalahan dengan jumlah obat yang dikonsumsi.
“Setelah berjuang untuk mengelola kondisi saya selama lima tahun, saya berada di tempat yang buruk. Saya tidak ingin diresepkan begitu banyak obat dan saya tidak tahu bagaimana menangani diabetes. Saya memiliki banyak kesalahpahaman tentang kondisi tersebut, dan rasanya seperti saya tersandung dalam kegelapan,” katanya lagi.
Kebiasaan Olahraga
Perubahan signifikan dimulai ketika seorang teman mengajaknya untuk berlatih di pusat kebugaran. Dari situ, Jez mulai disiplin berolahraga, memperbaiki pola makan, bahkan mengikuti marathon. Ia berlatih serius bersama pelatih lari hingga mampu menyelesaikan tantangan besar tersebut.
“Saya membangun diri saya ke titik di mana mungkin seminggu sekali saya berkomitmen 20 persen dari hari saya, mungkin sedikit lebih, untuk berlatih. Tidak ada motivasi yang lebih besar daripada mengetahui Anda melakukan sesuatu yang Anda tetapkan untuk dilakukan,” katanya lagi.
Perjuangan Jez membuahkan hasil. Menjelang akhir 2017 hingga awal 2018, ia berhasil mencapai remisi. Berat badannya turun lebih dari 50 kilogram dan seluruh obat diabetes bisa dihentikan. Bagi Jez, pencapaian ini bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga bentuk penghormatan untuk mendiang kakeknya yang dulu berjuang melawan diabetes. Ia belajar bahwa perubahan nyata hanya mungkin terjadi dengan tekad dan langkah konsisten, sekecil apa pun.
Keberhasilan Jez bahkan memengaruhi penilaian medis resminya. Lisensi medisnya yang sempat ditangguhkan oleh otoritas transportasi akhirnya dikembalikan, setelah dokter menyaksikan langsung peningkatan besar dalam kesehatannya. Hal ini semakin memotivasi Jez untuk terus menjaga remisi.
“Dokter saya berpandangan bahwa seseorang dengan diabetes tipe 2 tidak akan pernah sembuh darinya dan orang tidak berubah. Namun, itu sangat bergantung pada pola pikir orang tersebut dan saya telah berubah dalam hal pendekatan saya terhadap diabetes saya, jadi hanya sebagai hasil dari DVLA yang meminta pemeriksaan kesehatan, dokter dapat melihat perubahan haluan saya,” imbuh Jez.
“Saya yakin saya adalah salah satu dari sedikit orang yang lisensi tinjauan medisnya dicabut dan lisensi lama saya dikembalikan kepada saya. Ini membuat saya tetap pada jalur dan termotivasi dan menunjukkan bahwa Anda dapat membuat perubahan permanen jangka panjang,” lanjutnya.
Kini, Jez merasa lebih selaras dengan tubuhnya. Masa pandemi COVID-19 sempat menjadi tantangan karena keterbatasan aktivitas fisik, tetapi ia mampu beradaptasi dengan tetap mempertahankan rutinitas kebugaran. Hidup tanpa obat diabetes merupakan motivasi terbesar baginya untuk terus menjaga kesehatan. Saat ini Jez aktif berbagi pengalaman dan memberikan motivasi bagi orang lain yang ingin mencapai perubahan serupa.
(suc/suc)

Jakarta –
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) melaporkan data pemantauan terbaru jumlah anak yang keracunan makan bergizi gratis. Hingga Sabtu (27/9/2025), tercatat sebanyak 8.649 anak yang dilaporkan mengalami keracunan, 3.289 di antaranya terjadi ‘hanya’ dalam dua pekan terakhir.
Pada September, jumlah korban keracunan per minggu dilaporkan JPPI selalu meningkat. Penambahan Jumlah korban terbanyak terjadi pada satu pekan lalu yakni periode 22 hingga 27 September 2025, korban mencapai 2.197 anak.
Ubaid Matraji, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyesalkan tindak lanjut pemerintah yang hanya menutup Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), bila terdapat kasus keracunan.
Menurut dia, ada persoalan di SPPG lain yang juga dikhawatirkan bisa memicu risiko yang sama. Belum lagi, akar masalah menu makanan bergizi gratis yang dinilai tak sepenuhnya tersentuh dalam nilai gizi.
“Keracunan hanyalah puncak gunung es. Masalah MBG lebih dalam dari itu. Kami menemukan praktik menu di bawah standar, pengurangan harga per porsi, konflik kepentingan, hingga pembungkaman suara kritis di sekolah. Karena itu, kami menuntut untuk evaluasi dan pembenahan total,” beber Ubaid, dalam keterangan resminya yang diterima detikcom Senin (29/9/2025).
JPPI lebih jauh meminta pemerintah untuk memperbaiki pemahaman gizi dan pangan yang dinilai masih buruk. Terlihat dari penyajian menu yang tidak mengutamakan kualitas gizi, penyeragaman menu juga kerap kali tidak melibatkan sumber daya lokal.
“Hal ini justru bertentangan dengan jargon swasembada pangan pemerintah,” sorot dia.
Struktur kepemimpinan yang belakangan juga ramai disorot tidak didominasi pakar gizi dinilai JPPI ikut menjadi persoalan.
“Badan Gizi Nasional (BGN) yang seharusnya dikelola oleh pakar gizi, ahli pangan, dan tenaga kesehatan, justru didominasi oleh purnawirawan militer,” kata dia.
Berdasarkan sederet temuan tersebut, JPPI meminta reformasi besar-besaran BGN dengan memastikan kepemimpinan diisi oleh tenaga profesional dan pakar di bidangnya.
“Membangun mekanisme akuntabilitas dan partisipasi publik yang transparan dalam setiap tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan program MBG,” pungkasnya.
(naf/kna)

Jakarta –
Sebuah kasus di dunia medis menggegerkan publik. Seorang dokter di rumah sakit yang berada di Hapur, India, berhasil mengeluarkan benda asing dari tubuhnya.
Diberitakan Times of India, dari perut pasien berusia 40 itu, dokter mengeluarkan 29 sendok baja, 19 sikat gigi, dan dua pena tajam. Operasi darurat ini dipimpin oleh Dr Shyam Kumar pada 17 September 2025.
Dr Kumar mengatakan pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan. Puluhan benda sehari-hari bersarang di dalam tubuh seseorang.
Pasien tersebut dirawat di pusat deadiksi di Ghaziabad. Sebulan sebelumnya, ia mengeluhkan sakit perut yang parah sampai akhirnya dilarikan ke rumah sakit.
Operasi itu sangat rumit sekaligus langka. Pemindaian ultrasonografi mengungkapkan benda logam di dalam perut pria itu, yang membuat dokter tidak punya pilihan selain segera mengoperasinya.
Tim dokter dengan hati-hati mengeluarkan benda-benda itu satu per satu untuk mencegah cedera pada organ vital pasien. Dr Kumar menggambarkan momen itu sangat mengejutkan karena banyaknya benda.
Namun, terlepas dari risikonya, operasi itu berhasil. Pasien sudah diperbolehkan pulang dan sedang dalam masa pemulihan.
Kondisinya juga dilaporkan stabil, meski kasus yang dialaminya sangat berat.
Para dokter menjelaskan bahwa perilaku tersebut terkait dengan kondisi psikologis, di mana seseorang secara impulsif menelan benda-benda non-makanan. Dalam kasus ini, pria tersebut menceritakan sendiri kisah menyakitan pascaoperasi.
Ia merasa diperlakukan secara tidak adil dan diberi makan di pusat pemulihan kecanduan, yang membuatnya marah dan tidak berdaya. Dalam kegelisahannya, ia mulai menelan benda-benda untuk melukai dirinya sendiri.
Tindakan yang dilakukan pria itu bukan sekadar perilaku ‘aneh’, tetapi merupakan tanda tekanan psikologis yang mendalam. Para ahli medis menyebut kondisi ini sebagai bentuk pica atau gangguan pengendalian impuls, yang dapat dipicu oleh stres berat, trauma, atau penyakit mental.
Halaman 2 dari 2
Simak Video “Waspadai Anak Telan Benda Asing, Berikut Gejalanya!”
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)

Jakarta –
Kanker merupakan salah satu penyakit yang harus segera ditangani. Tetapi, pengobatannya yang memakan waktu lama, bahkan tak jarang pergi ke luar negeri untuk berobat.
Namun, hal itu menimbulkan kelelahan, baik secara fisik hingga beban ekonomi karena biaya pengobatan yang tinggi. Tantangan ini yang kerap membuat keluarga pasien memilih pulang dan melanjutkan pengobatan di Indonesia.
“Kanker memerlukan waktu pengobatan yang cukup lama, tidak bisa selesai hanya dalam waktu satu atau dua minggu,” terang spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi-onkologi medik, dr Ronald Alexander Hukom, SpPD, KHOM, di Jakarta Pusat, Sabtu (27/9/2025).
“Sehingga yang berobat ke luar negeri yang keberatan dan akhirnya kembali ke Indonesia,” sambungnya.
Beban ekonomi yang tinggi menjadi salah satu alasan pasien akhirnya kembali berobat di Indonesia. Bahkan, pasien tersebut yang memilih melanjutkan pengobatan kanker dengan biaya BPJS Kesehatan.
Menurut dr Ronald, walaupun pengobatan kanker sudah semakin maju, tetapi deteksi dini tetap harus diutamakan.
“Harapan untuk sembuh pada penyakit kanker sangat ditentukan oleh tingkat stadium saat mulai berobat,” tutur dr Ronald.
“Kalau kankernya ditemukan di stadium 3 atau 4, tentu durasi pengobatannya menjadi lebih panjang dan harapan kesembuhannya lebih sedikit,” pungkasnya.
(sao/kna)