Jenis Media: Kesehatan

  • BGN Akan Bentuk Lembaga Independen Urus Sertifikasi Keamanan Pangan MBG

    BGN Akan Bentuk Lembaga Independen Urus Sertifikasi Keamanan Pangan MBG

    Jakarta

    Badan Gizi Nasional (BGN) akan membentuk lembaga independen dalam mengeluarkan sertifikasi keamanan pangan. Ini untuk menjamin bahwa pangan di program Makan Bergizi Gratis (MBG) aman dikonsumsi anak-anak.

    “Dan ini dalam proses persiapan untuk menentukan lembaga independen yang tersertifikasi, yang mampu melakukan sertifikasi keamanan pangan,” kata Dadan di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (1/10/2025).

    SPPG Wajib Punya Dua Sertifikasi

    Maraknya kasus keracunan di program MBG, pemerintah mewajibkan para Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memiliki setidaknya dua sertifikat.

    Pertama, Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari Kementerian Kesehatan atau Dinas Kesehatan dan sertifikasi HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point) dari lembaga independen untuk keamanan pangan.

    Tak hanya itu, BGN juga akan melibatkan Puskesmas dan UKS untuk ‘turun gunung’ dalam hal mitigasi dan penanganan darurat.

    Pembatasan Kuota Penerima MBG

    Nantinya, setiap SPPG akan dibatasi terkait jumlah penerima manfaatnya. Aturan ini akan berlaku pada SPPG yang masih memiliki kemampuan terbatas, serta mereka harus mendapatkan pendampingan dari ahli masak terlatih.

    “Untuk beberapa SPPG yang masih kemampuannya terbatas, kita akan menerapkan pembatasan penerima manfaat maksimal 2.500,” ucapnya.

    Selain itu, Dadan mengatakan ia akan mengadakan pelatihan berulang yang rutin dilakukan setiap dua bulan sekali.

    Halaman 2 dari 2

    (dpy/kna)

  • Dear Ortu, Paksaan Saat Makan Bisa Picu Trauma, Ganggu Anak Tumbuh Maksimal

    Dear Ortu, Paksaan Saat Makan Bisa Picu Trauma, Ganggu Anak Tumbuh Maksimal

    Jakarta

    Banyak orang tua menghadapi tantangan saat anak sulit makan. Tak jarang, cara cepat yang diambil adalah dengan memaksa anak agar mau menelan makanan.

    Padahal, menurut Prof Dr dr Damayanti, SpA(K), pakar nutrisi dan penyakit metabolik anak, paksaan justru bisa memicu trauma makan yang berdampak panjang pada tumbuh kembang anak. Sudah dijelaskan di atas

    “Kalau dia sudah tidak mau makan, ya sudah stop. Minimal, maksimal lamanya makan itu hanya setengah jam. Sesudah itu stop. Kenapa? Biar anaknya belajar bahwa waktu makan itu nggak sepanjang mau dia, ada waktunya,” ujarnya dalam wawancara dengan detikcom, Kamis (17/9/2025).

    Prof Damayanti menjelaskan, konsep feeding rules perlu diterapkan sejak dini. Anak diberi kesempatan untuk belajar mengenali rasa lapar dan kenyang sendiri, tanpa intervensi atau tekanan berlebihan dari orang tua. Dengan begitu, anak akan terbiasa makan sesuai jadwal dan lebih mandiri dalam menentukan kapan dirinya sudah cukup makan.

    Trauma makan berbeda dengan GTM

    Menurut Prof Damayanti, banyak orang tua sering keliru mengartikan gerakan tutup mulut (GTM) sebagai masalah serius. Padahal, GTM bisa jadi hanya fase normal ketika anak sudah merasa kenyang atau tidak ingin makan.

    Trauma makan berbeda, karena terbentuk akibat pengalaman negatif berulang, seperti dipaksa makan atau dimarahi setiap kali menolak makanan.

    “Menerapkan feeding rules mengajari anak bertanggung jawab dengan kecukupan jumlah makanannya dalam waktu 30 menit. Jika dia hanya makan sedikit pengasuhnya tidak akan memberikan diluar jam makan, meskipun dia memaksa dengan tantrum cukup diberitahu jadwal makan berikutnya tanpa harus marah-marah,” ucap Prof Damayanti.

    Dengan pola makan yang konsisten dan penuh responsivitas, anak akan belajar disiplin tanpa merasa tertekan. Sebaliknya, paksaan justru berisiko menimbulkan trauma yang membuat anak semakin sulit makan, bahkan menolak makanan tertentu di kemudian hari.

    Waktu emas pertumbuhan Si Kecil hanya terjadi sekali, & tak bisa terulang kembali. Jangan biarkan Gerakan Tutup Mulut (GTM) menghalangi tumbuh kembangnya. Setiap pilihan apapun, kapanpun – terasa seperti momen penentu yang akan membentuk masa depan Si Kecil. Morigro – inovasi terbaru Morinaga memahami kekhawatiran Ibu, memberikan solusi & menjadi partner setia mengubah kekhawatiran menjadi harapan, mengubah Gerakan Tutup Mulut (GTM) menjadi Gerakan Tumbuh Maximal.

    Pilihan terbaik Bunda hari ini, menentukan masa depan Si Kecil esok hari.

    Kini GTM bukan lagi drama, tapi #GerakanTumbuhMaximal bersama Morinaga Morigro #KarenaWaktuTakBisaKembali!

    (kna/kna)

  • Nggak Habis Pikir, Dokter Keluarkan Dumbell Gym 2 Kg dari Anus Pasien

    Nggak Habis Pikir, Dokter Keluarkan Dumbell Gym 2 Kg dari Anus Pasien

    Jakarta

    Dokter di Pennsylvania, Amerika Serikat menemukan dumbell gym di anus seorang pasien pria berusia 50 tahun. Apa yang sebenarnya terjadi?

    Kisahnya berawal ketika pasien tersebut datang ke unit gawat darurat rumah sakit dengan keluhan nyeri perut bagian bawah. Ia juga merasakan tidak nyaman di perutnya selama 4 jam setelah melakukan praktik seksual nyeleneh.

    Keluhan tersebut disebabkan oleh tertahannya dumbell seberat 5 pon (2,2 kg) di dalam rektumnya. Riwayat medis pasien tidak menunjukkan kelainan berarti.

    Tertulis dalam studi kasus yang diterbitkan jurnal Cureus, pemeriksaan abdomen menunjukkan nyeri tekan ringan pada kuadran bawah kiri.

    “Pemeriksaan rektal menemukan adanya benda logam keras, tidak ditemukan darah pada sarung tangan pemeriksa,” kata penulis studi.

    “Radiografi abdomen biplanar memperlihatkan adanya bayangan benda asing radiodense di garis tengah panggul yang konsisten dengan riwayat adanya dumbell lima pon. Tim bedah kemudian dikonsultasikan,” sambungnya.

    Prosedur pengeluaran benda tersebut dilakukan menggunakan obat penenang ringan pada pasien agar tetap sadar tapi rileks. Pengeluaran dumbell dilakukan secara langsung tanpa pembedahan.

    Dengan bantuan dokter yang menekan perut pasien untuk mendorong dumbell, akhirnya benda itu berhasil dikeluarkan.

    Setelah itu, pemeriksaan menunjukkan otot dubur pasien masih berfungsi dengan baik, meski ada sedikit darah. Pasien kemudian dipantau di ruang gawat darurat selama enam jam.

    “Pasien dipantau di unit gawat darurat selama kurang lebih enam jam. Ia tidak lagi mengalami nyeri perut, dapat menerima makanan per oral, dan buang air kecil tanpa kesulitan. Setelah itu, pasien dipulangkan ke rumah,” tandasnya.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/avk)

  • 10 Tebak-tebakan Cerdas buat yang Ngerasa IQ-nya Tinggi, Kamu Termasuk Nggak Nih?

    10 Tebak-tebakan Cerdas buat yang Ngerasa IQ-nya Tinggi, Kamu Termasuk Nggak Nih?

    Jakarta

    Merasa butuh tantangan kecil untuk otak di sela-sela aktivitas? Salah satu cara yang sederhana tapi menyenangkan adalah mencoba tebak-tebakan asah otak.

    Permainan ini bisa menghibur sekaligus mengasah logika. Terkadang, tebak-tebakan memiliki jawaban yang tidak terduga, jadi membuat siapa pun penasaran. Ingin mencoba?

    Tebak-tebakan Asah Otak

    Siap menghadapi tantangan tebak-tebakan asah otak? Coba jawab dengan cepat!

    1. Benda apa yang akan semakin berharga setelah dirusak
    2. Benda kecil apa yang bisa mengeluarkan orang dari dalam rumah?
    3. Kereta KRL sedang melaju ke arah timur. Asapnya ke arah mana ya?
    4. Putar aku sekali, maka orang yang ada di luar tidak bisa masuk.
    5. Aku tidak hidup tapi bisa membesar. Aku tidak tidak punya paru-paru tapi butuh oksigen. Aku bisa mati kalau tersiram air.

    6. Siapakah aku? Punya 13 hati tetapi tidak punya organ lain

    7. Saya adalah sebuah bola yang bisa berputar. Tapi, saya tidak bisa memantul atau dilempar. Siapakah saya?
    8. Seorang pria menghabiskan waktunya untuk mencukur rambut seharian. Tapi rambutnya bisa tetap tebal dan lebat. Kenapa ya?
    9. Dalam sebuah keluarga, ada 7 orang anak. Usia setiap anak berjarak 2 tahun. Jika anak termuda berusia 7 tahun, berapa usia anak tertua?
    10. Pria kuning tinggal di gedung kuning, pria hijau tinggal di gedung hijau, pria biru tinggal di gedung biru. Siapa yang tinggal di gedung putih

    Jawaban

    Yakin dengan semua jawabanmu? Coba cocokkan dengan jawaban berikut.

    1. Celengan, dipecah dapat uang
    2. Bel rumah
    3. Tidak ada asap. Sebab, KRL tidak mengeluarkan asap
    4. Anak kunci. Diputar untuk mengunci pintu
    5. Api, terus tumbuh jika ada bahan bakar dan oksigen dan mati kalau disiram air.

    6. Kartu remi

    7. Saya adalah bola mata
    8. Pria tersebut adalah tukang cukur
    9. Anak tertua dalam keluarga tersebut berusia 19 tahun.
    10. Orang yang tinggal di gedung putih adalah presiden Amerika Serikat

    Halaman 2 dari 4

    (elk/suc)

  • Cegah Salmonella dan E. Coli, Begini Cara Aman Mencuci dan Mengolah Daging

    Cegah Salmonella dan E. Coli, Begini Cara Aman Mencuci dan Mengolah Daging

    Jakarta

    Pencucian wadah yang digunakan untuk mengolah ayam dan daging begitu penting untuk mencegah kontaminasi bakeri Salmonella dan Ecolli. Hal ini dikatakan oleh Kepala Sub Instalasi Perencanaan Produksi dan Distribusi Makanan RSCM, Khaerani Angela, S.Gz, RD, CHNP.

    Menurut Khaerani, air bisa menjadi sumber kontaminan terbesar dalam makanan. Sehingga proses pencucian wadah dan alat perlu diperhatikan dengan baik.

    “Pada proses pencucian wadah atau alat makan tahapan akhir menjadi ujung tombak untuk menghilangkan bakteri yaitu dengan cara membilas dengan air panas (suhu lebih dari 70⁰C),” ujar Khaerani, dikutip dari Antara, Kamis (2/10/2025).

    Dia mengatakan, proses pencucian bahan mentah yang akan disimpan tidaklah disarankan. Tak hanya itu, kontaminasi bakteri juga bisa berasal dari pisau dan talenan yang digunakan. Jadi, penting juga untuk memisahkan talenan dan pisau yang digunakan untuk bahan mentah dan matang.

    Disarankan pula untuk menggunakan kain lap untuk mengeringkan alat wadah makanan serta lebih direkomendasikan untuk menggunakan tisu dapur dalam mengeringkan alat dan wadah makanan.

    Perlu diketahui, bakteri Salmonella dan E. coli bisa berasal dari daging yang tidak dimasak secara matang sempurna, kotoran hewan, serta air yang tercemar.

    Tak hanya dalam proses pemasakan, dalam proses pengolahan makanan, Khaerani juga menyarankan proses penyimpanan, persiapan, sampai dengan proses distribusi atau penyajian makanan.

    “Pada proses penyimpanan, pastikan bahan makanan disimpan pada suhu yang sesuai standar. Jika bahan baku (seperti ayam, daging dan ikan) akan disimpan dalam waktu singkat 1-3 hari, maka makanan dapat disimpan dengan suhu -5⁰C – 0⁰C , tetapi jika makanan akan disimpan dalam waktu lama lebih dari minggu maka dapat disimpan di suhu

    Dalam proses memasak, terdapat dua hal yang perlu diperhatikan untuk menghilangkan bakeri, yaitu suhu dan juga waktu pengolahan. Ada standar suhu yang harus dicapai dalam setiap pengolahan makanan.Makanan Kukus : >90 °CMasakan Rebus : >95°CMasakan Bertumis : ≥ 80° CMasakan Goreng : >130°CMasakan Panggang : ≥120° C

    Sementara, waktu pemasakan tergantung pada bahan baku yang diolah. Khaerani menambahkan, tahap proses pendistribusian menjadi critical point.

    “Pada tahap ini tidak ada lagi proses pemanasan yang dapat membunuh bakteri sehingga suhu makanan matang harus dipertahankan minimal 60° C dan makanan matang dapat aman disimpan dalam waktu 4-6 jam pada suhu ruang (

    Halaman 2 dari 2

    (elk/elk)

  • Hampir 100 Ribu Warga Jepang Berusia 100, Usia Centenarian Didominasi Wanita

    Hampir 100 Ribu Warga Jepang Berusia 100, Usia Centenarian Didominasi Wanita

    Jakarta

    Per 1 September 2025, hampir 100 ribu warga di Jepang mencapai usia 100 Tahun ke atas atau centenarian. Disebutkan ada 99.763 centenarian di Jepang.

    Bahkan, sebagian besar atau sekitar 88 persen dari angka tersebut adalah wanita. Saat ini, anita tertua di Jepang adalah Shigeko Kagawa yang merupakan pensiunan dokter berusia 114 tahun.

    Sementara pria tertua di Jepang saat ini adalah Kiyota Mizuno, yang berusia 111 tahun. Tetapi, di balik pencapaian luar biasa ini tersembunyi pertanyaan, apa yang membuat mereka panjang umur?

    Dikutip dari Times of India, jumlah centenarian di Jepang terus meningkat dari tahun ke tahun. Ada beberapa hal yang menjadi faktor kunci yang diyakini para ahli berkontribusi pada umur panjang orang di Jepang.

    1. Pola Makan yang Seimbang

    Kebiasaan sehat yang dipraktikkan orang Jepang adalah kebiasaan makan yang seimbang. Mereka mengutamakan ikan, sayuran, produk kedelai (tahu dan miso), rumput laut, jamur, dengan jumlah daging merah dan makanan olahan yang relatif sedikit.

    Masakan tradisional menekankan kesegaran, porsi kecil, dan variasi. Di Okinawa, mereka mempraktikkan hara hachi bu, sebuah kebiasaan makan di mana seseorang terus makan hingga sekitar 80 persen kenyang daripada kekenyangan.

    2. Tingkat Penyakit Fatal yang Rendah

    Jepang memiliki angka kematian akibat kanker tertentu (payudara dan prostat) serta penyakit jantung yang relatif lebih rendah. Gaya hidup mereka yang lebih banyak mengonsumsi ikan kaya asam lemak omega-3, rendah lemak jenuh, dan asupan garam yang cermat membantu melindungi jantung serta pembuluh darah.

    3. Ikatan dan Tujuan Sosial yang Kuat

    Studi umur panjang, terutama di Okinawa, menunjukkan bahwa memiliki tujuan atau Ikigai, aktivitas mental dan fisik yang berkelanjutan, dan jaringan sosial yang erat sangatlah berpengaruh.

    Para lansia di Jepang seringkali tetap terlibat dalam pekerjaan, hobi, keluarga, atau komunitas hingga usia lanjut.

    4. Tetap Aktif

    Aktivitas fisik tertanam dalam kehidupan sehari-hari. Berjalan kaki, berkebun, olahraga ringan, menggunakan transportasi umum, dan melakukan pekerjaan rumah tangga dapat membantu menjaga mobilitas dan mencegah kerapuhan.

    5. Perawatan Kesehatan yang Baik dan Lingkungan Bersih

    Jepang memiliki infrastruktur medis yang kuat, pemeriksaan kesehatan rutin, kebersihan lingkungan publik yang baik, dan tradisi panjang perawatan pencegahan. Air bersih, sistem kesehatan publik yang baik, gaya hidup rendah polusi di banyak tempat, dan perhatian terhadap pengelolaan sampah, semuanya berkontribusi.

    Studi di Okinawa juga menunjukkan bahwa para centenarian seringkali terhindar dari atau menunda banyak penyakit terkait usia.

    6. Genetika dan Epigenetika

    Terdapat sifat-sifat bawaan atau varian gen yang membantu beberapa orang melawan efek penuaan, penyakit peradangan, dan mempertahankan metabolisme yang efisien. Penelitian terhadap saudara kandung seorang centenarian di Okinawa menunjukkan keunggulan dalam bertahan hidup.

    Studi epigenetika, perubahan ekspresi gen tanpa mengubah DNA, juga menunjukkan bahwa peradangan yang rendah di antara penanda lainnya memprediksi penuaan yang sukses pada usia ekstrem.

    7. Pola Pikir dan Budaya

    Menghormati orang yang lebih tua, pengakuan komunitas, sikap positif terhadap penuaan, dan kesejahteraan psikologis ternyata sangat penting. Banyak centenarian yang masih merasa berguna, terhubung, dan tenang.

    Konsep-konsep seperti tujuan (ikigai), kesadaran penuh, dan aktif secara sosial semuanya membantu mendukung kesehatan mental.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video Analisa Pengamat soal Pemerintah Tetap Lanjutkan MBG”
    [Gambas:Video 20detik]
    (sao/kna)

  • Semangat Kembar Siam Dewi-Putri asal Garut, Buktikan Tak Ada Batasan Meski Tubuh Menyatu

    Semangat Kembar Siam Dewi-Putri asal Garut, Buktikan Tak Ada Batasan Meski Tubuh Menyatu

    Jakarta

    Al Dewi Putri Ningsih dan Al Putri Anugrah (12), kembar siam asal Garut, Jawa Barat, menjalani hidup dengan penuh semangat. Terlahir dengan kondisi tubuh menyatu dari perut hingga ke bawah, keduanya tetap bersekolah, bermain, dan menekuni berbagai hobi seperti anak-anak lainnya.

    Saat ditemui detikcom, Rabu (1/10/2025), Dewi dan Putri mengaku tak ingin kondisi fisiknya membatasi semangat mereka. Keduanya masih bisa beraktivitas seperti biasa, mulai dari belajar di sekolah hingga bermain dengan teman sebaya.

    “Aku sekolah dianterin ayah, ngerjain tugas bareng-bareng, terus main sama temen-temen juga,” kata Putri.

    Selain aktif di sekolah, Dewi dan Putri juga memiliki berbagai hobi. Mereka gemar bermain badminton, bernyanyi, hingga melukis.

    “Main badminton aku suka banget, nyanyi juga, banyak deh hobi kita,” tambah Dewi.

    Menariknya, meski selalu bersama, keduanya punya cita-cita berbeda. Putri bercita-cita menjadi artis seperti idolanya, sementara Dewi ingin menjadi ilmuwan untuk mempelajari luar angkasa.

    “Kita cita-citanya beda sih. Aku (Putri) pengen jadi artis, terkenal. Kalau aku (Dewi) pengen jadi saintis, belajar tentang benda-benda langit kayak meteor,” ungkap mereka.

    Namun, sang ayah, Iwan (44), menjelaskan bahwa tetap ada tantangan yang dialami. Walaupun si kembar aktif dan semangat, ia masih harus menyesuaikan kebutuhan anaknya yang berbeda, baik dari segi makanan, aktivitas, maupun kondisi kesehatan.

    “Terkadang mereka juga merasa sedih dengan keadaan yang dialami. Tapi saya selalu bilang, mereka itu spesial. Tuhan kasih mereka kelebihan, bukan hanya kekurangan,” ujar Iwan.

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)

  • Temuan Awal KLH soal Cengkeh RI yang Terkontaminasi Radioaktif Cs-137

    Temuan Awal KLH soal Cengkeh RI yang Terkontaminasi Radioaktif Cs-137

    Jakarta

    Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menyebut temuan sementara dari pemeriksaan perusahaan ekspor cengkeh yang diduga tercemar radioaktif Cesium-137 (Cs-137) menunjukkan lokasi tersebut memiliki tingkat radiasi yang normal. Cengkeh yang diduga tercemar zat radioaktif Cesium-137 tersebut masih dalam proses pengembalian ke Indonesia.

    “Barang re-impor belum datang. Jadi kita cek di perusahaannya. Di perusahaan ini kok angkanya beda dengan Cikande, kalau di Cikande kan sampai ketemu angka 1.000 mikrosievert per jam. Itu di sana rata-rata 0,07, 0,04. Itu nilai paparannya dari kondisi background alam,” jelasnya dikutip dari ANTARA.

    Hasil sementara itu didapat dari kunjungan yang dilakukan dari tim gabungan. Selain KLH terdapat pula petugas dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Tim Gegana Polri.

    Meski hasil pemeriksaan tim memperlihatkan tingkat radiasi yang normal, Hanif mengatakan akan tetap melakukan peninjauan langsung untuk memastikan kondisinya.

    Sebelumnya, FDA melaporkan temuan dugaan cemaran radioaktif Cesium-137 pada produk cengkeh asal Indonesia yang diekspor oleh PT NJS. Sebagai respons, FDA kemudian memblokir seluruh ekspor rempah dari perusahaan tersebut ke AS.

    Dikutip dari laman US Food and Drug Administration (FDA), pihaknya memblokir impor semua rempah-rempah dari PT NJS di Indonesia setelah inspektur federal mendeteksi Cesium-137 dalam kiriman cengkeh yang dikirim ke California.

    Penemuan ini menyusul peringatan impor yang diberlakukan pada Agustus terhadap perusahaan PT Bahari Makmuri Sejati (BMS foods), yang mengirimkan jutaan kilogram udang ke AS setiap tahun.

    Saat ini, masih belum jelas apakah ada sumber kontaminasi yang sama untuk udang dan rempah-rempah tersebut. FDA dan CBP mengatakan penyelidikan mereka terus berlanjut, terutama karena kedua fasilitas pengolahan tersebut berjarak sekitar 800 kilometer di Indonesia.

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)

  • Apa Itu Cesium-137? Ditemukan FDA di Udang dan Cengkeh Asal Indonesia

    Apa Itu Cesium-137? Ditemukan FDA di Udang dan Cengkeh Asal Indonesia

    Jakarta

    Food and Drug Administration (FDA) atau badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat baru-baru ini memblokir impor semua rempah-rempah dari PT Natural Java Spice minggu lalu. Ini dilakukan setelah mendeteksi adanya zat Cesium-137 dalam pengiriman cengkeh ke California.

    Apa Itu Cesium-137?

    Cesium merupakan unsur kimia golongan logam alkali yang pertama kali ditemukan oleh ilmuwan Jerman Robert Bunsen dan Gustav Kirchhoff pada 1860. Dikutip dari laman Britannica, Cesium berasal dari bahasa Latin ‘caesius’ yang berarti ‘biru langit’, karena garis spektrum biru yang unik saat unsur tersebut diamati secara stetoskopi.

    Dalam bentuk alaminya, Cesium adalah logam berwarna perak keemasan, sangat reaktif, dan meleleh pada suhu hanya 28,4 derajat Celsius, yang hampir setara dengan suhu ruangan. Tetapi, dalam temuan di udang, cengkeh, dan di daerah Cikande, Banten, bukan cesium stabil, melainkan radioaktif seperti Cesium-137.

    Cesium-137 adalah isotop radioaktif yang dihasilkan sebagai produk sampingan dari reaksi nuklir, termasuk bom nuklir, pengujian, operasi reaktor, dan kecelakaan. Isotop ini memancarkan radiasi beta dan gamma, dan digunakan dalam pengobatan medis serta alat ukur industri.

    Cesium tersebar luas di seluruh dunia, dengan jumlah jejak yang ditemukan di lingkungan, termasuk tanah, makanan, dan udara. Tetapi, bisa berbahaya jika tertelan karena menumpuk di jaringan lunak.

    Apa Saja Risiko dari Paparan Cesium-137?

    “Tidak ada makanan yang memicu peringatan atau hasil tes positif yang telah dirilis untuk dijual di AS,” kata pejabat FDA, dikutip dari Independent UK.

    “Namun, ratusan ribu kemasan udang beku impor yang dijual di Kroger dan toko kelontong lainnya di seluruh AS ditarik karena mungkin diproduksi dalam kondisi yang memungkinkan kontaminasi,” sambung badan tersebut.

    Meskipun risikonya tampak kecil, makanan tersebut dapat menimbulkan potensi masalah kesehatan. Terutama bagi orang yang terpapar Cesium-137 tingkat rendah dalam jangka panjang.

    Tingkat kontaminasi yang terdeteksi jauh di bawah tingkat yang dapat memicu perlunya perlindungan kesehatan. Tetapi, paparan jangka panjang dapat meningkatkan risiko kanker tertentu.

    Selain itu, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama juga menyoroti dampak dari paparan radioaktif Cesium-137 (Cs-137). Dampak buruk dari paparan jangka panjang dan berulang dari Cs-137 mungkin akan meningkatkan risiko terjadinya kanker melalui mekanisme kerusakan DNA dalam sel hidup tubuh manusia.

    “Dalam hal ini, perlu disampaikan bahwa memang masih diperlukan penelitian yang lebih mendalam untuk mengetahui kejelasan dampak yang mungkin terjadi,” terang Prof Tjandra dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Kamis (2/10/2025).

    Apa yang Ditemukan FDA?

    Petugas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS mendeteksi cesium 137 dalam kontainer pengiriman udang yang dikirim oleh PT Bahari Makmuri Sejati ke beberapa pelabuhan AS.

    Petugas CBP melaporkan potensi kontaminasi tersebut pada FDA, yang kemudian menguji sampel udang dan mendeteksi Cesium-137 dalam satu sampel udang yang dilapisi tepung roti. FDA kembali mendeteksi paparan Cesium-137 dalam satu sampel cengkeh yang diekspor oleh PT Natural Java Spice, yang mengirimkan rempah-rempah ke AS dan negara-negara lain.

    Dari Mana Asal Kontaminasi Itu?

    Sampai saat ini, masih belum jelas apakah sumber kontaminasi yang sama pada udang dan rempah-rempah tersebut. Pejabat FDA dan CBP mengatakan penyelidikan mereka masih berlanjut.

    Kedua fasilitas pemrosesan tersebut tampaknya berjarak sekitar 800 kilometer di Indonesia.

    “Besi tua yang terkontaminasi atau logam cair di lokasi industri dekat pabrik pengolahan udang di Indonesia kemungkinan merupakan sumber bahan radioaktif,” menurut Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).

    Sejauh ini, Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI Murti Utami memastikan seluruh pasien yang tercemar zat radioaktif cesium-137 (Cs-137) diarahkan menjalani perawatan di rumah sakit vertikal.

    “9 orang itu kita kirim ke rumah sakit Fatmawati,” beber dia saat ditemui di Gedung Kemenkes RI, Kamis (2/10/2025).

    Pasien diberi pill prussian blue untuk membantu meluruhkan cemaran zat radioaktif cesium-137, meski belum bisa dipastikan apakah zat tersebut sepenuhnya luruh 100 persen.

    Namun, pihaknya memastikan akan terus memantau kondisi pasien hingga dinyatakan sehat.

    Ia berpesan untuk masyarakat di daerah zona merah segera melakukan pemeriksaan untuk melihat kemungkinan ikut terpapar zat radioaktif serupa. Kini, sudah dipetakan area berdasarkan zonanya.

    “Yang penting mereka pemeriksaan dulu karena kan di area situ (Cikande, Banten) sama Bapeten sudah dipetakan mana area merah kuning hijau,” pungkasnya.

    Halaman 2 dari 3

    (sao/kna)

  • Video: Influenza dan ISPA Marak di RI, IDAI Tekankan Pentingnya PHBS

    Video: Influenza dan ISPA Marak di RI, IDAI Tekankan Pentingnya PHBS

    Video: Influenza dan ISPA Marak di RI, IDAI Tekankan Pentingnya PHBS