Israel Tambah Pasukan Besar-besaran ke Gaza dalam 48 Jam, Pakar: IDF Masih Buta Kemampuan Hamas
TRIBUNNEWS.COM – Tentara Israel (IDF) mengumumkan akan mengerahkan lebih banyak pasukan ke Gaza dalam waktu 48 jam untuk memperluas operasi militer baru di wilayah kantung Palestina yang sudah hancur tersebut .
“IDF mengatakan meskipun tentaranya sudah beroperasi di Gaza, Hamas memiliki kemampuan dan dapat meluncurkan roket ke Israel,” tulis laporan Khaberni, Minggu (23/3/2025) menyiratkan keterkejutan militer zionis akan masih adanya kemampuan perlawanan Palestina.
Seiring rencana tersebut, media Israel telah meliput meningkatnya rasa frustrasi di antara berbagai kalangan di Israel mengenai kompleksitas konfrontasi dengan Gerakan Perlawanan Hamas.
SAYAP MILITER – Foto file Khaberni yang diambil, Kamis (13/3/2025) yang menunjukkan personel Brigade Al Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Palestina, Hamas saat berkumpul dalam parade militer. Seorang analis dan penulis Israel, Gideon Levy meyakini kalau Hamas akan tetap eksis terlepas dari niat Israel melancarkan perang lagi di Gaza dengan kekuatan yang lebih besar dari agresi sebelumnya. (khaberni/tangkap layar)
Masih Buta Kekuatan Hamas
Analis dan mantan pejabat keamanan mengakui kalau Israel belum memahami secara utuh kemampuan gerakan tersebut meskipun perang di Jalur Gaza telah berlangsung lebih dari 16 bulan.
“Hal ini menunjukkan bahwa taruhan bahwa Hamas akan menyerah hanyalah ilusi,” tulis laporan media Israel mengutip pernyataan para analis Israel.
Alon Ben-David, analis urusan militer untuk Channel 13, mengatakan kalau Israel tengah menuju eskalasi terukur yang intensitasnya akan meningkat secara bertahap, tetapi intelijen Israel tidak melihat tanda-tanda perubahan dalam posisi Hamas, meskipun Menteri Pertahanan Yisrael Katz menyatakan sebaliknya.
Ia menambahkan bahwa lembaga keamanan mengakui kalau dampak operasi militer IDF sejauh ini terhadap gerakan tersebut masih terbatas.
Dalam konteks yang sama, Lior Ackerman, mantan perwira Shin Bet, menegaskan kalau Katz mungkin mempromosikan tuduhan kalau Hamas melemah untuk tujuan partisan.
“Siapa pun yang memahami doktrin Hamas menyadari bahwa hal itu tidak akan mengibarkan bendera putih dalam kondisi apa pun,” kata Ackerman.
Sementara itu, presenter media Kan 11 mempertanyakan efektivitas operasi darat dalam membawa Hamas kembali ke meja perundingan.
Pakar urusan Palestina Ronni Shaked menanggapi dengan tajam, dengan mengatakan, “Kita berbicara tentang memulangkan tentara yang diculik, bukan bernegosiasi dengan Hamas.”
Ia menambahkan kalau setelah 16 bulan bertempur, Israel belum memahami hakikat gerakan tersebut, karena terus membahas berbagai masalah secara internal tanpa benar-benar memahami realitas konfrontasi tersebut.
AGRESI GAZA – Pasukan Israel (IDF) memasuki wilayah Gaza Utara. Agresi baru IDF ke Jalur Gaza rupanya disertai penentangan dari kalangan internal militer Israel, terlebih IDF dilaporkan memiliki tujuan untuk menduduki Jalur Gaza dalam agresi kali ini. (IDF/Ynet)
Kurangnya Visi Politik
Mantan kepala Intelijen Militer, Amos Yadlin, menekankan perlunya menetapkan tujuan yang jelas untuk perang, yaitu melenyapkan Hamas dan membebaskan sandera di Gaza.
Namun, ia mengakui bahwa untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan strategi jangka panjang, bukan solusi langsung.
Ia mengkritik kurangnya visi politik yang jelas dari para pemimpin Israel untuk periode pascaperang.
Sementara itu, Dana Weiss, analis politik untuk Channel 12, mengungkapkan kebingungannya atas kurangnya kejelasan mengenai tujuan Israel dalam melanjutkan perang, dengan bertanya, “Apakah kita mencoba melenyapkan Hamas? Atau memaksakan kekuasaan militer? Apa rencana untuk masa depan?”
Ia menekankan bahwa pertanyaan-pertanyaan ini belum terjawab.
EVAKUASI – Tangkap layar Khaberni, Kamis (6/2/2025), petugas medis militer Israel mengevakuasi seorang prajurit militer Israel (IDF) yang terluka saat melakukan agresi di Jalur Gaza. Seorang letnan kolonel IDF dilaporkan tewas tertimpa derek di Gaza Utara, Kamis. (khaberni/tangkap layar)
Harga Mahal yang Harus Ditebus Israel
Senada dengan itu, Nimrod Sheffer, mantan kepala divisi perencanaan militer Israel, memperingatkan kalau Israel akan kembali ke titik awal setelah seluruh perang ini, tetapi dengan harga yang mahal.
Harga-harga mahal yang harus dibayar Israel itu antara lain termasuk meningkatnya jumlah korban tewas, meningkatnya penolakan para prajurit cadangan untuk bertugas, dan berkurangnya peluang untuk menyelamatkan tawanan yang ditangkap hidup-hidup.
Ronen Manelis, mantan juru bicara militer Israel, membenarkan kalau Israel seperti berjudi kalau tekanan militer yang terus berlanjut akan mendorong Hamas untuk membuat konsesi.
Akan tetapi, ia mengakui bahwa strategi ini belum mencapai keberhasilan apa pun selama 16 bulan terakhir, karena Israel tidak mampu melenyapkan gerakan tersebut atau memaksanya untuk mengubah posisinya.
Sementara itu, jurnalis Channel 12 Menachem Horowitz menyoroti kemampuan Hamas untuk melancarkan serangan meskipun operasi militer intensif, dan mencatat bahwa tembakan roket dari Gaza dan ancaman Houthi di Laut Merah telah mengirim jutaan warga Israel ke tempat perlindungan, yang mencerminkan kegagalan rencana untuk membongkar kemampuan gerakan tersebut.
(oln/khbrn/*)