Merangkum Semua Peristiwa
Indeks

Houthi Pantau Serangan Israel di Lebanon, Janji Tak akan Tinggal Diam: Yaman Siap Intervensi – Halaman all

Houthi Pantau Serangan Israel di Lebanon, Janji Tak akan Tinggal Diam: Yaman Siap Intervensi – Halaman all

TRIBUNNEWS.COM – Pemimpin gerakan Ansar Allah (Houthi), Abdul-Malik al-Houthi, mengatakan ia memantau serangan Israel di berbagai wilayah di Lebanon.

Ia menekankan serangan tersebut adalah serangan yang tidak dapat dibenarkan.

“Kami menegaskan posisi Yaman yang tegas dan berprinsip untuk mendukung Hizbullah dan rakyat Lebanon dalam setiap perkembangan besar atau eskalasi Zionis (Israel) yang komprehensif,” kata Abdul-Malik al-Houthi dalam pidatonya, Minggu (23/3/2025).

“Kami tidak akan tinggal diam sementara serangan Zionis terhadap Lebanon terus berlanjut,” lanjutnya.

Dalam pidatonya, ia juga menyapa Hizbullah dan rakyat Lebanon, dengan mengatakan, “Kalian tidak sendirian, dan kami berdiri di pihak kalian dalam agresi apa pun.”

“Yaman siap, dalam kondisi apa pun, untuk melakukan intervensi bersama saudara-saudara kami di Hizbullah dan rakyat Lebanon,” ujarnya, seperti diberitakan Al Mayadeen.

Pernyataan pemimpin Houthi muncul setelah pendudukan Israel melancarkan gelombang serangan udara di Selatan dan Lembah Bekaa pada hari Sabtu (22/3/2025), dalam pelanggaran gencatan senjata yang terus berlanjut, yang mengakibatkan kematian dan cedera. 

Hizbullah Bantah Luncurkan Roket

Sebelumnya, Israel menuduh Hizbullah Lebanon meluncurkan serangan ke perbatasannya.

Pada hari Sabtu (22/3/2025), Hizbullah membantah klaim tersebut.

“Tuduhan pendudukan Israel hanyalah dalih untuk serangan berkelanjutannya terhadap Lebanon, yang belum berhenti sejak gencatan senjata diumumkan,” kata departemen hubungan media Hizbullah pada hari Sabtu.

Hizbullah mengatakan mereka berkomitmen terhadap pelaksanaan perjanjian gencatan senjata yang disepakati dengan Israel mulai 27 November 2024.

“Kami menegaskan kembali komitmen kami terhadap perjanjian gencatan senjata yang dicapai pada 27 November 2024,” kata Hizbullah, seperti diberitakan Al Jazeera.

“Kami mendukung negara Lebanon dalam mengatasi eskalasi Zionis yang berbahaya ini terhadap Lebanon,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri meminta Angkatan Darat Lebanon, otoritas kehakiman dan keamanan, serta komite pemantau gencatan senjata untuk segera mengungkap keadaan terkait apa yang terjadi di Lebanon selatan.

Ia mencatat Israel telah melakukan 1.500 pelanggaran, termasuk pelanggaran terhadap Resolusi 1701.

Hizbullah sebelumnya terlibat dalam pertempuran melawan Israel setelah menyatakan solidaritas untuk rakyat Palestina pada 8 Oktober 2023.

Setelah pertempuran di perbatasan selatan selama lebih dari satu tahun, Hizbullah dan Israel menyepakati perjanjian gencatan senjata pada 27 November 2024.

Perjanjian tersebut menuntut Israel untuk menarik pasukannya dari Lebanon selatan, namun Israel bersikeras untuk mempertahankan pasukannya di wilayah tersebut hingga terjadi pelanggaran terhadap perjanjian yang disepakati sebelumnya.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Berita lain terkait Konflik Palestina vs Israel

Merangkum Semua Peristiwa