Guru Dikeroyok Siswa di Jambi Mengaku Acungkan Celurit Bukan Niat Melukai, tetapi Bela Diri
Tim Redaksi
JAMBI, KOMPAS.com
– Guru bahasa Inggris di Jambi, Agus Saputra, selaku korban pengeroyokan siswa, mengaku mengacungkan celurit ke arah siswa tidak berniat ingin melukai, tetapi hanya menggertak untuk membela diri.
Klarifikasi Agus merespons video viral pasca-pengeroyokan terhadap dirinya.
Dalam video itu, Agus tampak berdiri di tengah lapangan rumput hijau sembari memegang celurit, lalu mengacungkan ke siswa sembari mengejar beberapa langkah.
Tak jauh darinya, terlihat beberapa siswa sekolah yang bersuara penuh amarah, dengan teriakan makian dan ancaman akan mengadang saat dia pulang dari sekolah.
Upayanya membawa celurit dalam video yang beredar berbalas dengan lemparan batu ke arah Agus.
“Saya tidak ada niat mau melukai, saya bawa celurit untuk menggertak dan membela diri agar kejadian pengeroyokan tak kembali berulang,” kata Agus di kantor Dinas Pendidikan Provinsi
Jambi
, Rabu (14/1/2026).
Gertakan Agus tak mempan, siswa membalasnya dengan makian, ancaman, dan lemparan batu.
Dengan membawa celurit ini, kata Agus, bukan untuk membalas serangan siswa, melainkan untuk membela diri agar peristiwa pengeroyokan tidak kembali terjadi.
“Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Saya mana berani,
mikir
10 kali saya kalau mau melukai siswa,” kata guru yang telah mengabdi lebih dari 15 tahun itu.
Celurit yang ditenteng Agus bukan sengaja dibawa dari rumah, melainkan memang peralatan praktik di sekolah pertanian.
Karena itu, tidak hanya celurit, tetapi ada juga cangkul tersimpan rapi di kantor sekolah.
Ia berharap seluruh pihak memandang perselisihan antara dirinya dengan para siswa yang berujung pengeroyokan ini secara obyektif dan tidak menarik kesimpulan dini setelah menyaksikan video yang viral.
Terkait tudingan penghinaan terhadap status ekonomi siswa, Agus membantah narasi “siswa miskin” yang beredar.
Ia menjelaskan bahwa konteks pembicaraannya saat itu adalah memberikan motivasi umum agar siswa mematuhi aturan sekolah demi masa depan mereka, bukan bertujuan menyerang individu tertentu secara spesifik.
“Tak ada niat mau mengejek atau menghina. Konteksnya mendorong siswa mematuhi aturan, sebagai motivasi umum, tidak spesifik ke individu siswa,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, seorang guru di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, bernama Agus Saputra, mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jambi untuk memberikan klarifikasi terkait insiden pengeroyokan yang menimpanya.
Agus merasa perlu memberikan penjelasan objektif agar publik tidak tergesa-gesa menyimpulkan peristiwa yang sebenarnya terjadi di lapangan sekolah tersebut.
“Awalnya saya dipanggil dengan kata-kata kasar oleh siswa. Saya datangi, lalu saya tampar sebagai bentuk pembelajaran,” kata Agus di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Rabu (14/1/2026).
Insiden ini bermula pada Selasa pagi (13/1/2026). Saat itu, Agus yang sedang berjalan di lingkungan sekolah merasa dilecehkan secara verbal oleh salah seorang siswa.
Ia mendengar kata-kata yang dianggap sangat tidak sopan dan merendahkan martabatnya sebagai tenaga pendidik.
Agus kemudian menghampiri kelas sumber suara tersebut untuk mencari tahu siapa pelakunya.
Ketika seorang siswa mengakui perbuatannya dengan gestur yang menantang, Agus mengaku refleks melakukan tindakan fisik satu kali sebagai bentuk teguran spontan.
“Itu refleks, satu kali tamparan. Itu awal kejadiannya,” kata Agus menceritakan awal mula ketegangan.
Setelah kejadian tersebut, suasana sekolah menjadi tidak kondusif. Para siswa dilaporkan terus menantang Agus hingga waktu pulang sekolah.
Meski sempat dilakukan mediasi di ruangan yang dilengkapi CCTV, situasi justru berakhir ricuh saat Agus dikeroyok oleh massa siswa dari berbagai angkatan.
“Di situ saya dikeroyok. Videonya viral. Banyak siswa mulai dari kelas 1, 2 dan 3,” kata Agus lagi.
Meski menjadi korban kekerasan fisik, Agus mengaku masih menimbang untuk menempuh jalur hukum.
Ia merasa berat hati jika harus melaporkan anak didiknya sendiri ke pihak kepolisian karena mempertimbangkan masa depan dan kondisi psikologis para siswa.
“Saya merinding kalau harus melapor ke polisi. Mereka ini anak didik saya, masih sekolah dan secara psikologis butuh bimbingan,” kata dia menutup pembicaraan.
Kepala Sekolah, Ranto M, membenarkan adanya insiden tersebut tetapi memastikan bahwa pihak sekolah telah mengambil langkah mediasi yang melibatkan unsur Forkopimcam, kepolisian, dan Babinsa.
Saat ini, situasi sekolah dilaporkan sudah kembali kondusif dan kegiatan belajar mengajar berjalan seperti biasa.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Guru Dikeroyok Siswa di Jambi Mengaku Acungkan Celurit Bukan Niat Melukai, tetapi Bela Diri Regional 15 Januari 2026
/data/photo/2025/02/11/67aab099302e7.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)