Yogyakarta, Beritasatu.com – Gunung Merapi, yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanis. Berdasarkan laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), pada periode pengamatan 2 April 2025 pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, Gunung Merapi tercatat 12 kali memuntahkan guguran lava pijar.
“Teramati 12 kali guguran lava Gunung Merapi ke arah barat daya, yakni ke Kali Krasak dan Bebeng, dengan jarak luncur maksimum 1.700 meter,” ujar Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso dalam keterangan resminya, Rabu (2/4/2025).
Laporan kegempaan menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanis, di antaranya 41 kali gempa guguran dengan amplitudo 2 mm hingga 6 mm (durasi 38,31 detik hingga 169,27 detik), 48 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 2 mm hingga 8 mm (durasi 8,94 detik hingga 13,82 detik), dan dua kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 2 mm hingga 6 mm (durasi 32,68 detik hingga 93,28 detik).
Saat ini, status Gunung Merapi masih berada di level III atau siaga. BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas dalam zona berbahaya, yang mencakup sektor selatan-barat daya (Sungai Boyong radius maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh 7 km), dan sektor tenggara (Sungai Woro maksimal 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km).
Selain guguran lava, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi awan panas guguran (APG) dan lahar, terutama saat terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi. Dampak abu vulkanis juga perlu diantisipasi. Jika terjadi perubahan signifikan dalam aktivitas vulkanis, BPPTKG akan segera mengevaluasi kembali status Merapi.