Jakarta (ANTARA) – Suku Dinas (Sudin) Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Timur bersama dengan jajaran TNI/Polri memperkuat sinergi untuk memitigasi kebakaran melalui pembagian alat pemadam api ringan (APAR) di Matraman.
“Kami membagikan empat alat pemadam api ringan (APAR) ukuran empat kilogram ke Polsek dan Koramil Matraman. Penyerahan dilakukan di halaman kantor kecamatan,” kata Kepala Suku Dinas Gulkarmat Jakarta Timur Muchtar Zakaria di Jakarta, Jumat.
Pemberian bantuan APAR itu bertujuan mendukung program gerakan masyarakat punya APAR (GEMPAR).
Dia pun berharap dengan adanya APAR tersebut, jajaran TNI/Polri dapat membantu pencegahan dan penanggulangan kebakaran untuk meminimalisir kerugian.
“Pemberian bantuan APAR ini untuk mendukung program GEMPAR, sehingga semua lapisan masyarakat dan jajaran bisa berperan menanggulangi kebakaran,” ujar Muchtar.
Penyerahan APAR tersebut dilakukan oleh perwakilan dari Sudin Gulkarmat ke Kecamatan Matraman, lalu Camat Matraman Husnul Muhammad Fauji, Kepala Polsubsektor Kebon Sereh (perwakilan Polsek Matraman) Iptu Bambang Zaenudin, Babinsa Utan Kayu Utara (UKU) Serda Candra Endo Putra, dan perwakilan Koramil Matraman.
Sementara itu, Camat Matraman Muhammad Husnul Fauji mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi bantuan empat APAR tersebut.
Menurut dia, bantuan itu membantu dalam program GEMPAR di wilayahnya, sehingga bukan hanya masyarakat yang memiliki APAR, tetapi juga kantor TNI/Polri.
“Diharapkan dengan adanya bantuan APAR ini dapat meminimalisir terjadinya kasus kebakaran di wilayah Matraman,” tutur Fauji.
Berdasarkan data Dinas Gulkarmat DKI Jakarta, sekitar 922 kasus kebakaran terjadi di Jakarta sejak Januari hingga pertengahan Juli 2025.
Jakarta Barat menjadi wilayah dengan jumlah kebakaran tertinggi, yakni mencapai 260 kasus. Kemudian, disusul wilayah Jakarta Timur dengan 242 kasus.
Objek terbakar dengan intensitas paling tinggi, yaitu bangunan perumahan (345 kejadian), bangunan umum dan perdagangan (197 kejadian), dan kendaraan (42 kejadian).
Sebanyak 61 persen kebakaran diduga terjadi akibat masalah listrik, baik komponen listrik yang tidak sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), pemasangan yang kurang memenuhi standar operasi maupun kelalaian masyarakat dalam mengelola listrik saat di rumah atau kantor.
Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
