Gertanam Jaga Suplai MBG, Bupati Bandung: Jangan sampai Bahan Baku Langka dan Picu Inflasi Bandung 18 Januari 2026

Gertanam Jaga Suplai MBG, Bupati Bandung: Jangan sampai Bahan Baku Langka dan Picu Inflasi
                
                    
                        
                            Bandung
                        
                        18 Januari 2026

Gertanam Jaga Suplai MBG, Bupati Bandung: Jangan sampai Bahan Baku Langka dan Picu Inflasi
Editor
KABUPATEN BANDUNG, KOMPAS.com
– Bupati Bandung Dadang Supriatna menargetkan Gerakan Tanami Halaman (Gertanam) dapat menjadi kunci bagi Pemerintah Kabupaten Bandung dalam menjamin ketersediaan bahan baku Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus menekan kemungkinan inflasi akibat lonjakan kebutuhan pangan.
Dengan jumlah penduduk mencapai 3,8 juta jiwa dan luas wilayah pertanian sekitar 174.000 hektare, Kabupaten Bandung saat ini menjadi salah satu daerah dengan penerima manfaat
MBG
tergolong besar, yakni mencapai 1.253.000 jiwa.
“Anggaran MBG per tahun dari Rp 5,4 triliun. Nah, untuk bahan bakunya, ini harus ada kurang lebih di angka Rp 3,7 triliun. Nah, sehingga apa saja
supply
untuk memenuhi kebutuhan MBG, ya ada beberapa tanaman yang tentunya ini perlu kita dorong, sehingga nanti tidak ada lagi keterlambatan, kekurangan, ataupun namanya langka,” kata Dadang dalam kunjungannya ke Kantor
Kompas.com
di Jakarta awal Januari. 
Untuk melayani jumlah penerima tersebut, idealnya Kabupaten Bandung memiliki 375 dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Hingga kini, sebanyak 295 dapur telah beroperasi dan ditargetkan semua dapur dapat aktif paling lambat Februari agar seluruh sasaran terlayani.
Menurut Dadang, tanpa penguatan produksi pangan lokal, kebutuhan MBG berisiko mengalami keterlambatan pasokan, kelangkaan, hingga berdampak pada inflasi.
Karena itu,
Gertanam
diluncurkan sebagai solusi berbasis rumah tangga.
“Kalau bahan baku langka, pasti berimbas ke inflasi. Gertanam ini salah satu ikhtiar agar suplai pangan tetap aman,” katanya.
Gertanam yang diluncurkan pada Desember 2025 ini ditargetkan melibatkan kurang lebih 1.700 kader PKK.
Dengan rata-rata pemanfaatan halaman rumah seluas 5 x 10 meter, total lahan produktif yang tercipta mencapai sekitar 8,5 hektare.
Dengan estimasi produksi lima ton per hektare, potensi hasil panen mencapai sekitar 40 ton.
“Itu baru dari 1.700 kader. Kalau seluruh Kabupaten Bandung, kader PKK ada sekitar 28.000 orang. Bisa dibayangkan berapa ratus hektare lahan produktif yang bisa dihasilkan,” ujarnya.
Dadang menekankan, manfaat Gertanam tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga mendorong kemandirian dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Hasil panen yang surplus dapat disalurkan melalui Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) atau Koperasi Kelurahan Merah Putih yang memang disiapkan sebagai jalur suplai MBG.
“KDMP ini sengaja dibentuk sebagai salah satu pemasok MBG. Jadi rantai pasoknya jelas dan dari masyarakat sendiri,” kata dia. 
Meski Kabupaten Bandung dinilai siap memenuhi kebutuhan komoditas seperti padi, sayuran, hingga cabai, Dadang mengakui masih ada kekurangan pada sektor ayam petelur.
Untuk itu, mulai Januari, pemerintah daerah akan membangun minimal lima dapur yang terintegrasi dengan kandang ayam petelur guna menutup kebutuhan tersebut.
Di sisi lain, Dadang menyoroti tantangan pelaksanaan MBG, mulai dari komitmen mitra agar tidak mengurangi anggaran bahan baku Rp10.000 per porsi, hingga persoalan standar sanitasi, pelatihan penjamah makanan, serta kualitas air.
“Pemerintah Kabupaten Bandung sudah membentuk satgas MBG untuk mengawasi dan mengawal pelaksanaan program ini supaya berjalan baik dan sukses,” kata dia. 
Ia berharap, Gertanam dapat menjadi gerakan berkelanjutan yang tidak hanya mendukung MBG, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah berbasis masyarakat.
“Pada akhirnya, Gertanam ini adalah salah satu kunci agar MBG di Kabupaten Bandung bisa disuplai dari daerah sendiri,” kata Dadang.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.