Di Setiap Lampu Merah Matraman, Pedagang Cangcimen Menyambung Hidup Megapolitan 13 Januari 2026

Di Setiap Lampu Merah Matraman, Pedagang Cangcimen Menyambung Hidup
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        13 Januari 2026

Di Setiap Lampu Merah Matraman, Pedagang Cangcimen Menyambung Hidup
Editor
JAKARTA, KOMPAS.com
– Sisa hujan masih membasahi aspal Jalan Matraman, Jakarta Timur. Lampu merah menyala, kendaraan berhenti berjejal, dan klakson saling bersahutan.
Di sela jeda itu, seorang pria berjalan pelan di tepi jalan.
Di pundaknya tergantung tas besar berisi kacang, kuaci, dan permen warna-warni atau cangcimen yang ia tawarkan tanpa suara lantang.
“Iya, asongan lah ini udah lama. Udah sempat balik kampung, balik lagi sekarang. Udah puluhan tahun lah,” kata Hidayat (52), pelan, saat ditemui di Matraman.
Hidayat sudah lama menjadikan jalanan Jakarta sebagai ruang hidup.
Duhulu, Halte dan terminal memberi ruang bagi pedagang kecil seperti dirinya.

Penumpang menunggu lebih lama, asongan bisa masuk, sekadar menawarkan permen atau kacang.
Kini, kota bergerak lebih cepat. Aturan kian ketat, halte kian steril.
Pedagang seperti Hidayat tak lagi naik ke dalam bus.
Ia menunggu di lampu merah, berharap kendaraan melambat dan ada yang menoleh.
Di bawah flyover Matraman, ia kerap berhenti sejenak.
Duduk di bangku plastik kecil, menghela napas, lalu kembali berdiri saat arus lalu lintas melambat.
Jaket tipis yang dikenakannya tak sepenuhnya menahan dingin sisa hujan, tapi ia tetap bertahan.
“Sekarang mah nggak bisa masuk bus. Paling ngandelinnya kendaraan lewat atau warga yang berhenti,” ujarnya.
Setiap hari, Hidayat datang sejak pagi.
Kadang dagangannya laku, kadang tasnya tetap berat saat pulang.
Tak ada target, tak ada jaminan. Yang ia pegang hanya harapan cukup untuk makan hari itu dan bisa kembali esok hari.
Di Matraman, Hidayat bukan siapa-siapa. Ia tak tercatat, kerap luput dari perhatian.
Namun langkahnya di setiap lampu merah menjadi potret kecil Jakarta yakni kota yang terus berlari, sementara sebagian warga Hidayat bertahan dengan cara paling sederhana.
Di antara bus, motor, dan klakson yang tak pernah benar-benar berhenti, Hidayat menyambung hidup.
Pelan, sunyi, dengan cangcimen yang kian sering disebut-sebut namanya.
(Reporter: Hafizh Wahyu Darmawan | Editor: Ambaranie Nadia Kemala Movanita)
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.