Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha
TRIBUNNEWS.COM, SUKOHARJO – Di Desa Ngrombo, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, dentingan gitar bukan sekadar melodi.
Ia adalah suara kerja keras, ketekunan, dan tangan-tangan yang saling menggenggam dalam ekosistem sosial dan ekonomi yang berkelindan erat.
Sebuah ekosistem mikro yang hidup dari satu kayu menjadi nada, dari satu mimpi menjadi warisan.
Desa Ngrombo terletak di Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Lokasinya tak jauh dari pusat Kota Solo, berjarak sekitar 10 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 25 menit jika mengendarai sepeda motor.
Meski kecil, desa ini memiliki identitas yang kuat sebagai sentra industri gitar yang telah bertahan selama lebih dari setengah abad.
Tugu gitar yang berdiri kokoh di kompleks Kantor Desa Ngrombo bukan sekadar simbol, melainkan bukti sejarah panjang yang mengakar di tanah ini.
Sejak 1960-an, warga Ngrombo mulai menekuni industri pembuatan gitar.
Bermula dari tangan-tangan terampil beberapa orang pengrajin, keterampilan ini berkembang menjadi industri rumahan yang diwariskan turun-temurun.
Keahlian mereka bukan sekadar warisan keluarga, tetapi juga bagian dari identitas desa yang kini dikenal sebagai salah satu klaster ekonomi unggulan di Sukoharjo.
Pada 2016, Desa Ngrombo resmi ditetapkan sebagai Desa Wisata Gitar.
Status ini semakin mengukuhkan posisinya dalam industri alat musik di Indonesia.
Produk-produk buatan pengrajin Ngrombo bahkan telah melanglang buana ke berbagai negara, seperti Filipina dan Yunani, membuktikan bahwa karya anak bangsa ini memiliki daya saing di pasar global.
Satu Gitar, Banyak Tangan
Sebuah gitar yang utuh adalah hasil kerja kolektif yang tak terhitung.
Dimulai dari tukang potong kayu yang memilih bahan terbaik, pengrajin yang membentuk tubuhnya dengan telaten, pengecat yang memberi warna dan karakter, hingga perakit yang menyatukan senar dengan ketelitian seorang seniman.
Proses ini tidak terjadi di satu tempat, melainkan tersebar di berbagai rumah produksi kecil yang saling terhubung, seperti kepingan puzzle yang membentuk sebuah mahakarya.
Sistem kerja kolaboratif ini telah berlangsung sejak 1960-an, diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, kini, bayangan suram mulai menggelayut. Menemukan penerus yang mau menekuni kerajinan ini semakin sulit.
“Anak-anak muda lebih tertarik pada pekerjaan lain, sementara membuat gitar butuh kesabaran dan ketekunan,” keluh Sumardi, Ketua Paguyuban Klaster Gitar Amanah.
Saat ini, sekitar 225 pengrajin masih bertahan di Desa Ngrombo.
Mereka memproduksi ribuan gitar setiap bulannya, dengan variasi harga yang berkisar dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung pada jenis dan kualitasnya.
Namun, di tengah tantangan zaman, keberlanjutan industri ini semakin dipertaruhkan.
Relasi Sosial & Ekonomi: Bukan Sekadar Bisnis
Industri gitar di Ngrombo tidak sekadar urusan jual beli.
Ia berdiri di atas jalinan relasi sosial yang erat.
Paguyuban hadir bukan hanya sebagai wadah organisasi, tetapi juga sebagai rumah tempat para pengrajin bersandar.
Saat pesanan sepi, paguyuban menjadi tempat berbagi solusi.
Saat harga pasaran anjlok akibat persaingan di dunia digital, mereka berdiskusi untuk mencari jalan keluar.
Di tengah rantai produksi yang panjang, ada peran-peran informal yang tak kalah penting.
Salah satunya adalah Sumardi yang menjadi jembatan antara bank dan para pengrajin.
Ia membantu warga mendapatkan akses modal, memastikan roda produksi tetap berputar meski menghadapi badai ekonomi.
Lebih dari sekadar industri, komunitas pengrajin gitar Ngrombo adalah jaringan sosial yang saling menopang.
Saat salah satu pengrajin kesulitan membayar cicilan karena order menurun, yang lain bersedia menalangi sementara.
Sebuah solidaritas yang membuat mereka tetap bertahan meski tantangan semakin besar.
Di sisi lain, hubungan baik juga masih terjalin antara para pengrajin gitar Desa Ngrombo dengan BRI.
Pendampingan dan pembinaan pun beberapa kali telah dilakukan bersama. Seperti halnya berupa workshop digitalisasi hingga pemasaran.
BRI mensosialisasikan pentingnya digitalisasi dalam kegiatan perdagangan, dalam hal ini perihal transaksi pembayaran mulai merambah pada transaksi nontunai berupa pembayaran QRIS.
BRI juga hadir membersamai para pengrajin yang merupakan pelaku UMKM yang kesulitan dalam permodalan atau ingin mengembangkan usaha.
Layanan Kredit Usaha Rakyat alias KUR pun menjadi program terdepan untuk pengrajin gitar yang sudah menjadi satu klaster tersendiri.
Ketahanan Ekonomi Lokal Lewat Kemandirian
Sebagai salah satu klaster ekonomi utama di Kabupaten Sukoharjo, Desa Ngrombo pernah merasakan kejayaan.
Ribuan gitar dikirim ke berbagai penjuru dunia—Filipina, Yunani, dan negara-negara lainnya.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, digitalisasi menghadirkan tantangan baru.
Persaingan harga di media sosial membuat gitar-gitar lokal kesulitan bersaing.
Harga yang anjlok bukan satu-satunya tantangan. Ketergantungan pada order luar negeri membuat ekonomi lokal rentan guncangan.
Namun, di tengah tantangan ini, para pengrajin tetap bertahan dengan modal sendiri, mengandalkan kreativitas dan kepercayaan dari pelanggan setia.
Di sisi lain, digitalisasi juga membawa peluang baru.
Beberapa pengrajin mulai memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar.
Meski belum sepenuhnya optimal, langkah ini menjadi sinyal positif bahwa industri gitar Ngrombo bisa bertahan di tengah arus perubahan.
“Kami harus terus beradaptasi. Media sosial bisa jadi ancaman, tapi juga bisa jadi peluang. Yang penting, kualitas harus tetap dijaga,” kata Sumardi dengan nada optimis.
(*)