JAKARTA – Hakim Federal Ona T Wang resmi mencabut perintah kontroversial yang mewajibkan OpenAI untuk menyimpan seluruh data percakapan pengguna di ChatGPT tanpa batas waktu.
Melalui dokumen pengadilan tertanggal 9 Oktober 2025, yang dilansir dari Engadget, hakim membebaskan OpenAI dari kewajiban untuk menyimpan dan memisahkan semua data log output yang seharusnya dihapus ke depannya.
Dengan demikian, perusahaan tidak lagi wajib mempertahankan seluruh catatan interaksi pengguna ChatGPT yang sebelumnya diwajibkan dalam perintah pengadilan pada Mei lalu.
Kasus ini bermula pada akhir 2023 ketika The New York Times menggugat OpenAI dengan tuduhan OpenAI melatih model AI-nya menggunakan artikel milik mereka tanpa izin maupun kompensasi yang layak.
Sebagai bagian dari proses hukum, pengadilan sempat memerintahkan OpenAI untuk menyimpan seluruh log percakapan agar The New York Times dapat menelusuri dugaan pelanggaran tersebut.
OpenAI kemudian mengajukan banding atas perintah tersebut, dan menilai kebijakan penyimpanan data berskala besar itu terlalu jauh dan berpotensi mengancam privasi pengguna.
Dalam pernyataan resminya pada bulan Juni, OpenAI menegaskan bahwa langkah The New York Times tersebut justru bisa membahayakan hak privasi pengguna.
“Kami sangat yakin ini merupakan tindakan berlebihan dari New York Times. Kami akan terus mengajukan banding atas putusan ini agar kami dapat terus mengutamakan kepercayaan dan privasi Anda,” ujar Brad Lightcap, COO, OpenAI, pada Juni lalu.
Dengan keputusan terbaru ini, OpenAI tidak lagi diwajibkan menyimpan log percakapan sejak 26 September 2025, kecuali untuk sebagian data yang masih relevan.
Hakim Wang menyebut, log yang telah disimpan berdasarkan perintah sebelumnya tetap dapat diakses, dan OpenAI tetap harus mempertahankan data terkait akun ChatGPT yang telah ditandai oleh The New York Times.









