Category: Tribunnews.com Regional

  • Jual Kalender Seharga Rp1,5 Juta, Bupati Mamuju Tengah Ungkap Oknum LSM Hanya Minta Seikhlasnya – Halaman all

    Jual Kalender Seharga Rp1,5 Juta, Bupati Mamuju Tengah Ungkap Oknum LSM Hanya Minta Seikhlasnya – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Publik dihebohkan oleh dugaan pemerasan yang melibatkan oknum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Kabupaten Mamuju Tengah.

    Oknum tersebut diduga menjual kalender Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah dengan harga Rp1,5 juta per eksemplar.

    Oknum LSM yang mengatasnamakan Lembaga Pengawasan Birokrasi Politik Nusantara ini menawarkan kalender tahun 2025 dengan mendatangi langsung kantor-kantor Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

    Mereka tidak menerima pembayaran tunai, melainkan meminta transfer ke rekening pribadi.

    Bupati Mamuju Tengah, Arsal Aras, menanggapi isu ini dengan tegas.

    Ia menyatakan tidak pernah mengutus atau menyuruh oknum tersebut untuk menjual kalender.

    “Wah foto ini diambil di mana?” ungkap Arsal saat melihat fotonya dan Wakil Bupati Askary Anwar terpajang di kalender.

    Ia juga menyoroti harga kalender yang sangat tinggi.

    Arsal mengimbau kepada semua pihak untuk tidak melayani penjualan kalender atas namanya.

    “Saya imbau kepada semua pihak untuk berhati-hati dan jangan tertipu, sebab saya tidak pernah mengeluarkan imbauan itu,” tegasnya.

    Setelah berita ini beredar, oknum LSM yang bersangkutan akhirnya menemui Bupati Mamuju Tengah untuk meminta maaf.

    Hal ini diungkapkan Arsal saat dikonfirmasi oleh TribunSulbar.com pada Jumat, 11 April 2025.

    “Saat bertemu, oknum LSM tersebut membantah pernah menjual kalender seharga Rp1,5 juta. Ia hanya meminta seikhlasnya,” jelas Arsal.

    Ia juga meminta oknum tersebut untuk tidak mengulangi perbuatannya dan menyarankan agar jika ada hal serupa, sebaiknya melakukan konfirmasi lebih awal.

    (Tribunnews.com/Isti Prasetya)

    Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

  • Tragedi di RSUD Maumere: Ibu dan Janin Meninggal saat Hendak Lahiran, Imbas Tak Ada Dokter Anestesi – Halaman all

    Tragedi di RSUD Maumere: Ibu dan Janin Meninggal saat Hendak Lahiran, Imbas Tak Ada Dokter Anestesi – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Seorang ibu hamil bernama Maria Yunita (36) dan janin dalam kandungannya meninggal dunia di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Dr.

    TC Hiller Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu, 9 April 2025, sekitar pukul 23.00 WITA.

    Keluarga korban mengungkapkan bahwa nyawa Yunita dan janinnya tidak tertolong karena tidak tersedia dokter anestesi di rumah sakit tersebut.

    Yunita dirujuk dari Puskesmas Beru ke RSUD Maumere pada Rabu, sekitar pukul 15.00 WITA untuk persiapan melahirkan anak pertamanya.

    Setibanya di IGD, keluarga menerima informasi bahwa tidak ada dokter anestesi yang tersedia.

    Pihak RSUD kemudian berusaha menghubungi beberapa rumah sakit di luar Kabupaten Sikka untuk merujuk pasien, namun karena keterlambatan, Yunita dan janinnya meninggal dunia sebelum dapat dirujuk.

    Yanto Gonde, salah satu anggota keluarga korban, berharap agar Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur NTT memberikan perhatian serius terhadap kekurangan tenaga medis di RSUD Maumere.

    “Kami hanya berharap kepada Bapak Presiden dan Bapak Gubernur NTT untuk mendatangkan dokter anestesi agar tidak ada korban lainnya,” ungkap Yanto saat ditemui di rumah duka pada Kamis, 10 April 2025.

    Kepala Perwakilan Ombudsman NTT, Darius Beda Daton, juga menyatakan keprihatinannya terhadap insiden ini.

    Ia mengirim pesan kepada manajemen RSUD Maumere untuk meminta informasi tentang upaya pemerintah daerah dalam mendatangkan dokter anestesi.

    Darius menjelaskan bahwa berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan, RSUD Maumere, yang termasuk dalam kelas C, seharusnya memiliki dokter anestesi.

    “Sejak Januari 2025, RSUD Maumere tidak lagi memiliki dokter anestesi karena mengundurkan diri. Kami minta manajemen RSUD untuk memenuhi standar minimum jumlah dan kualifikasi SDM tenaga kesehatan,” tegas Darius.

    Setelah insiden tragis ini, DPRD Sikka menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan Sekretaris Daerah, Dinas Kesehatan, dan Direktur RSUD TC Hiller Maumere pada Kamis siang untuk membahas masalah ini lebih lanjut.

    Jenazah Maria Yunita dan janinnya saat ini disemayamkan di rumah duka di Kelurahan Nangameting, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, dan rencananya akan dimakamkan pada Jumat, 11 April 2025.

    (Tribunnews.com/Isti Prasetya)

    Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

  • Awal Mula Temuan Cacing dalam Perut Anak di Jember, Sudah Dioperasi dan Ditangani 4 Dokter – Halaman all

    Awal Mula Temuan Cacing dalam Perut Anak di Jember, Sudah Dioperasi dan Ditangani 4 Dokter – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Awal mula perut seorang anak laki-laki asal Kabupaten Jember, Jawa Timur, dipenuhi cacing. 

    Bocah berusia 3 tahun tersebut, bahkan harus menjalani operasi darurat di RSD dr Soebandi Jember.

    Tindakan operasi dilakukan setelah perutnya membesar dan tak bisa buang air besar selama satu minggu.

    Menurut Direktur RSD dr Soebandi, Dr dr I Nyoman Semita, pasien datang dalam kondisi darurat.

    Adapun gejala yang dirasakan bocah tersebut, yakni sakit perut hebat, muntah, dan kesulitan bernapas.

    “Dia datang ke IGD RSD dr Soebandi dalam keadaan gawat darurat,” kata Nyoman, Minggu (13/4/2025), dilansir Kompas.com.

    Ada Tiga Titik Sumbatan 

    Penanganan medis dilakukan oleh tim gabungan, terdiri dari empat dokter spesialis, yakni ahli bedah anak, dokter parasitologi klinik, dokter anak, dan dokter anestesi.

    Namun, Nyoman menjelaskan, tim gabungan terlebih dahulu melakukan diskusi mengingat kasus yang sangat langka ini.

    Hingga akhirnya disimpulkan ada proses emergency yang harus segera dilakukan operasi.

    “Saat operasi dilakukan, tim dokter menemukan adanya tiga titik sumbatan di usus, khususnya di bagian ileum terminal.”

    “Sumbatan di ileum terminal namanya, di 25 senti juga ada sumbatan, total ada tiga sumbatan, semuanya satu gumpal satu gumpal,” jelas Nyoman. 

    Selanjutnya, diketahui gumpalan tersebut, ternyata cacing yang menumpuk dan menutup saluran pencernaan.

    “Tim mengerjakan operasi, dibuka ususnya, ternyata lubang ususnya berisi penuh cacing dan dievakuasi keluar semuanya,” tambahnya.

    Sebelumnya, pasien dirawat di rumah sakit.

    Saat dirawat di dalam ruangan, pasien tersebut muntah mengeluarkan cacing. 

    Rupanya, cacing yang terdapat pada tubuh anak tersebut, mirip cacing tanah, yakni termasuk jenis cacing ascariasis.

    Dokter pun mengeluarkan cacing tersebut dan merawat usus pasien hingga sembuh. 

    “Kemudian diberi obat cacing agar sembuh sampai tuntas,” ungkapnya. 

    Kini, pasien kembali sehat dan pulang ke rumahnya.

    Nyoman menjelaskan, pasien datang ke RS sudah cukup lama, lebih sekitar enam bulan lalu.

    Cacing Mirip Cacing Tanah

    Lebih lanjut, Nyoman menjelaskan, cacing ascariasis hidup di alam terbuka.

    Cacing berpotensi masuk ke tubuh manusia jika tidak menjaga kebersihan tangan saat makan.

    “Ini pasti masuknya (cacing) lewat tangan, sehingga perilaku hidup sehat masih menjadi masalah,” ucapnya.
     
    Oleh sebab itu, perlu adanya edukasi berkesinambungan terkait pola hidup sehat. Contohnya, mencuci tangan sebelum makan, minum air masak, menjaga piring yang bersih, dan lain-lain. 

    Di sisi lain, Nyoman memaparkan, jika ada pasien yang kembung, tidak bisa buang air besar, hingga muntah, itu, bukan selalu karena tumor. 

    Namun, hal itu, bisa terjadi karena gumpalan yang dibentuk cacing dalam usus.

    (Tribunnews.com/Suci Bangun DS, Kompas.com)

  • Badan Anaknya Terbakar, Orang Tua di Cirebon Laporkan Teman Korban yang Siram Alkohol saat Bermain – Halaman all

    Badan Anaknya Terbakar, Orang Tua di Cirebon Laporkan Teman Korban yang Siram Alkohol saat Bermain – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Orang tua AE, seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun yang mengalami luka bakar serius, melaporkan delapan teman sepermainannya ke Polsek Mundu pada Selasa, 8 April 2025.

    Keluarga menuntut pertanggungjawaban atas insiden tragis yang menimpa anak mereka saat bermain api di Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon.

    Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu, 6 April 2025, ketika AE bermain di depan masjid dekat rumahnya.

    Insiden bermula saat salah satu temannya menyiramkan alkohol ke arah AE.

    Secara bersamaan, teman lainnya sedang bermain api, dan api tersebut langsung menyambar tubuh AE.

    Inka Damayanti, bibi korban, menjelaskan bahwa AE tiba-tiba disiram alkohol 90 persen dan langsung terbakar.

    “Dia lagi duduk, tiba-tiba disiram alkohol 90 persen, terus di sebelahnya ada temannya yang main api. Langsung nyamber ke badannya,” terangnya, Selasa (8/4/2025).

    Korban panik berguling-guling di tanah untuk memadamkan api sebelum berlari pulang.

    Keluarga AE segera membawa korban ke Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati, di mana dokter menyatakan bahwa AE mengalami luka bakar hingga 85 persen.

    Keluarga menduga ada unsur kesengajaan dalam tindakan teman-teman AE yang menyiramkan alkohol tersebut.

    “Sudah kami laporkan ke Polsek Mundu dan Unit PPA Polres Cirebon Kota. Ini bukan cuma minta maaf, tapi harus ada pertanggungjawaban,” tegas Inka.

    Kasat Reskrim Polres Cirebon Kota, AKP Fajri Ameli Putra, membenarkan laporan dari keluarga AE.

    “Kami sudah melakukan langkah awal penyelidikan dengan memeriksa beberapa saksi anak,” katanya.

    Kapolres Cirebon Kota, AKBP Eko Iskandar, juga mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah mendalami insiden ini.

    Namun, hingga saat ini, tidak ditemukan motif kesengajaan. 

    “Kronologinya saat korban bermain, salah satu saksi memainkan alkohol. Kami menemukan sejumlah jeriken berisi alkohol di lokasi,” jelas Eko.

    Kondisi AE saat ini stabil setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit.

    Polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait insiden ini dan memeriksa delapan saksi anak yang terlibat.

    Eko menambahkan bahwa alkohol yang digunakan berasal dari tempat penyimpanan milik promotor perusahaan farmasi yang tidak terkunci, sehingga anak-anak dapat mengambilnya tanpa memahami bahaya yang terkandung.

    Pihak kepolisian belum menemukan unsur ilegal terkait alkohol tersebut, dan penyelidikan masih terus berlanjut.

    (Tribunnews.com/Isti Prasetya)

    Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

  • Pelayanan Lamban di RSUD Bondowoso, Keluarga Pasien Kecelakaan Marah, Baru Ditangani setelah 2 Jam – Halaman all

    Pelayanan Lamban di RSUD Bondowoso, Keluarga Pasien Kecelakaan Marah, Baru Ditangani setelah 2 Jam – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Keluarga seorang pasien korban kecelakaan lalu lintas mengeluhkan pelayanan medis di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Koesnadi Bondowoso pada Sabtu, 5 April 2025.

    Molyadi, paman korban, menyatakan kekecewaannya terhadap penanganan medis yang dianggap lamban, meskipun kondisi keponakannya kritis akibat pendarahan hebat.

    Pasien yang tidak disebutkan namanya tersebut mengalami kesulitan bernapas dan pendarahan di bagian hidung.

    Molyadi mengungkapkan bahwa keponakannya masuk ke IGD sekitar pukul 17.00 WIB.

    Namun, meski dalam keadaan darurat, penanganan intensif baru dilakukan setelah dua jam, tepatnya pada pukul 22.15 WIB, setelah ia mengajukan protes keras kepada petugas.

    “Saya sudah tanya ke petugas karena pasien tak bisa napas dan terus keluar darah. Tapi katanya harus nunggu giliran karena belum kritis,” ungkap Molyadi dengan nada kecewa.

    Menanggapi keluhan tersebut, Direktur RSUD dr Koesnadi Bondowoso, Yus Priatna, memberikan penjelasan mengenai prosedur yang dijalankan.

    Menurutnya, seluruh langkah di IGD sudah sesuai dengan standar operasional.

    Yus menjelaskan bahwa proses pemeriksaan menjadi lebih lama karena kompleksitas kasus yang dialami pasien.

    “Pasien datang pada pukul 16.23 WIB dan langsung dilakukan pemasangan infus, pemeriksaan laboratorium, EKG, rontgen thorax, dan CT scan. Pada pukul 19.00 WIB, pasien mulai diberikan obat-obatan,” jelas Yus Priatna.

    Ia juga menyebutkan bahwa laporan kondisi pasien diteruskan kepada dokter penanggung jawab pasien (DPJP) dr Fahriansyah pada pukul 21.32 WIB.

    DPJP kemudian memberikan arahan untuk merujuk pasien ke RS Paru Jember karena keterbatasan fasilitas untuk tindakan rekonstruksi di RSUD dr Koesnadi.

    Proses komunikasi dengan RS Paru Jember dimulai pada pukul 21.46 WIB dan disetujui sekitar pukul 23.56 WIB.

    Menurut Yus Priatna, DPJP kemudian memberikan arahan agar pasien dirujuk ke RS Paru Jember karena di RSUD dr Koesnadi tidak tersedia fasilitas untuk tindakan rekonstruksi yang dibutuhkan pasien.

    “Proses komunikasi dengan RS Paru Jember dimulai pukul 21.46 WIB. Sekitar pukul 23.56 WIB, pihak RS Paru menyetujui rujukan tersebut,” tambahnya.

    (Tribunnews.com/Isti Prasetya)

    Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

  • Sopir Honda BRV Melaju Lawan Arah di Tol Trans Jawa Sejauh 13 Kilometer Tanpa Menyalakan Lampu – Halaman all

    Sopir Honda BRV Melaju Lawan Arah di Tol Trans Jawa Sejauh 13 Kilometer Tanpa Menyalakan Lampu – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM, PEKALONGAN –  Pengemudi mobil Honda BRV, Fauzi Ramdani (29) rupanya melaju melawan arah lalu lintas di Tol Trans Jawa sejauh 13 kilometer. Selama melaju contraflow tersebut, Fauzi mengemudikan kendaraannya tanpa menyalakan lampu penerangan sama sekali.

    “Setelah dia dari KM 319 terus mengudara, terus memacu kendaraannya, terus pakai lajur 2 sampai dengan KM 332. Berarti dia kurang lebih lawan arus sepanjang 13 kilometer,” kata Kasat Lantas Polres Pekalongan, AKP Ronny Hidayat, Minggu(13/4/2025). Di saat KM 332 itu dari arah Timur, ada bus yang melintas ke arah barat. 

    “Tidak tahunya begitu masuk dan laju itu lampu dimatikan,” ucap AKP Ronny.

    AKP Ronny menjelaskan mobil Honda BRV itu berisikan dua orang, satu pengemudi dan satu penumpang. Kendaraan itu melaju sangat kencang saat melawan arah. Sebelum melawan arah lalu lintas, Fauzi Ramdani sang sopir sempat mampir ke rest area.

    “Saya tadi cari informasi kepada pihak pengelola maupun security di situ, rupanya dia sempat 7 menit singgah di rest area KM 319 tidak turun dari mobil,” ucap Ronny.

    Mobil Honda BRV itu mengarah dari arah Semarang ke Jakarta.  Setelah singgah di rest area lalu meninggalkan rest area namun menggunakan akses pintu masuk.

    “Saat mengarah itu dia melintasi wilayah hukum kami, Polres Pekalongan, dan singgah di rest area mengarah ke Pemalang yaitu kilometer 319 jalur B (Jakarta) pukul 05.20 WIB,” ujar Ronny.

    Diketahui, bus PO Fransindo Trans W 7842 UO yang membawa suporter Persebaya Surabaya mengalami kecelakaan di Tol Trans Jawa. Bus bertabrakan dengan mobil Honda BRV dengan nomor polisi F 1859 MO yang melaju melawan arus lalu lintas di jalan tol.

    Fauzi Ramdani dan penumpangnya M Hardiansyah meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut. Keduanya adalah warga Bogor, Jawa Barat.

    Kecelakaan lalu lintas tersebut terjadi di Tol Trans Jawa KM 332+000 arah B atau dari arah Semarang ke Jakarta, tepatnya di Desa Babalan Kidul, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah Sabtu (12/4/2025). Sang sopir Fauzi Ramdani (29) diketahui membawa muatan ribuan rokok tanpa cukai, akhirnya menghembuskan napas terakhirnya setelah sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum (RSU) Aro Pekalongan.

    Kasat Lantas Polres Pekalongan, AKP Ronny Hidayat menyebut dari hasil investigasi sopir bus yang membawa suporter Persebaya Surabaya sudah melakukan pengereman saat kecelakaan terjadi. “Tadi sopir bus berdasarkan pemeriksaan kami sudah melaksanakan pengereman untuk menghindari kecelakaan, namun mobil BRV itu rupanya lampunya sudah dimatiin saat keluar dari di rest area itu masih nyala,” ucap Ronny.

    Kemudian, kaitannya dengan muatan rokok tanpa cukai yang ditemukan di dalam kendaraan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Satreskrim Polres Pekalongan.

    “Barang bukti ribuan rokok tanpa cukai masih berada di exit tol Bojong. Sopir bus juga masih kami mintai keterangan, di kantor Satlantas Polres Pekalongan untuk dimintai keterangan lebih lanjut,” imbuhnya.

    Saat ini, kata Ronny pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab mobil tersebut melawan arah hingga terjadi kecelakaan. “Kami menduga kalau menurut analisa kami itu ada yang nggak beres dengan sopir,” tuturnya.

    “Tes urine dan darah sudah kami lakukan setelah korban dilarikan ke rumah sakit,” tambah Ronny.

     

  • Polisi: Kondisi Sopir Honda BRV Tidak Beres, Tes Urine dan Darah Sudah Dilakukan – Halaman all

    Polisi: Kondisi Sopir Honda BRV Tidak Beres, Tes Urine dan Darah Sudah Dilakukan – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM, PEKALONGAN – Kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Tol Trans Jawa KM 332+000 arah B atau dari arah Semarang ke Jakarta, tepatnya di Desa Babalan Kidul, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah Sabtu (12/4/2025) berujung tragis.

    Sopir mobil Honda BR-V dengan nomor polisi F 1859 MO, bernama Fauzi Ramdani (29) yang diketahui membawa muatan ribuan rokok tanpa cukai, akhirnya menghembuskan napas terakhirnya setelah sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum (RSU) Aro Pekalongan. Penumpangnya yang bernama M Hardiansyah warga Cikaret, Bogor Selatan, Jawa Barat juga tewas.

    Korban dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu (12/4/2025) sekitar pukul 18.20 WIB. Sebelumnya, korban terlibat dalam kecelakaan dengan sebuah bus PO Fransindo Trans W 7842 UO yang membawa suporter Persebaya Surabaya. Usai kejadian, korban langsung dilarikan ke rumah sakit oleh petugas gabungan untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, nyawanya tidak tertolong akibat luka serius yang dideritanya.

    Tidak hanya itu, kecelakaan ini pun viral di sosial media karena mobil BR-V melaju melawan arah (contraflow). Bahkan, kendaraan yang dikemudikan korban kedapatan mengangkut ribuan rokok tanpa cukai.

    Kasat Lantas Polres Pekalongan, AKP Ronny Hidayat, menyebut informasi adanya razia terkait kecelakaan tersebut adalah tidak benar. Dia menegaskan tidak pernah ada razia kendaraan di dalam jalan tol. “Itu saya juga heran itu siapa yang memberikan statement seperti itu, siapa yang menggiring opini ada razia, razia apa? Kan kita nggak pernah razia di tol,” kata Ronny Minggu (13/4/2025).

    Saat ini, kata Ronny pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab mobil tersebut melawan arah hingga terjadi kecelakaan. “Kami menduga kalau menurut analisa kami itu ada yang nggak beres dengan sopir,” tuturnya.

    “Tes urine dan darah sudah kami lakukan setelah korban dilarikan ke rumah sakit,” tambah Ronny.

    Ronny Hidayat menuturkan dari hasil investigasi mobil BRV itu berisikan dua orang, satu pengemudi dan satu penumpang. Kendaraan itu melaju sangat kencang saat melawan arah. “Saya tadi cari informasi kepada pihak pengelola maupun security di situ, rupanya dia sempat 7 menit singgah di rest area KM 319 tidak turun dari mobil,” ucap Ronny.

    Mobil BRV itu mengarah dari arah Semarang ke Jakarta.  Setelah singgah di rest area lalu meninggalkan rest area namun menggunakan akses pintu masuk.

    “Saat mengarah itu dia melintasi wilayah hukum kami, Polres Pekalongan, dan singgah di rest area mengarah ke Pemalang yaitu kilometer 319 jalur B (Jakarta) pukul 05.20 WIB,” ungkapnya.

    Mobil BRV tersebut yang seharusnya ke arah barat, tetapi kembali ke jalur timur. Dengan menggunakan lajur 2 untuk kendaraan sangat cepat.  “Setelah dia dari KM 319 terus mengudara, terus memacu kendaraannya, terus pakai lajur 2 sampai dengan KM 332. Berarti dia kurang lebih lawan arus sepanjang 13 kilometer,” paparnya. Di saat KM 332 itu dari arah Timur, ada bus yang melintas ke arah barat.

    “Tadi sopir bus berdasarkan pemeriksaan kami sudah melaksanakan pengereman untuk menghindari kecelakaan, namun mobil BRV itu rupanya lampunya sudah dimatiin saat keluar dari di rest area itu masih nyala,” ucap Ronny.

    Polisi memperoleh keterangan saksi bahwa mobil BRV itu tidak memakai lampu penerangan. “Tidak tahunya begitu masuk laju itu lampu dimatikan,” ucapnya.

    Kemudian, kaitannya dengan muatan rokok tanpa cukai yang ditemukan di dalam kendaraan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Satreskrim Polres Pekalongan.

    “Barang bukti ribuan rokok tanpa cukai masih berada di exit tol Bojong. Sopir bus juga masih kami mintai keterangan, di kantor Satlantas Polres Pekalongan untuk dimintai keterangan lebih lanjut,” imbuhnya.

    Manajer Teknik dan Operasi PT Pemalang Batang Tol Road (PBTR), Yulian Fundra Kurnianto, mengatakan, bahwa Honda BR-V yang dikemudikan oleh Fauzi Ramdani (29), warga Sukajaya, Tamansari, Bogor, melaju melawan arah (contraflow) dari KM 319 B hingga KM 332 B di lajur 2 dengan kecepatan sekitar 60 km/jam.

    Saat tiba di KM 332, kendaraan tersebut bertabrakan dengan bus PO Fransindo Trans yang melaju dari Surabaya menuju Jakarta di lajur yang sama, dengan kecepatan sekitar 90 km/jam.

    “Benturan keras membuat Honda BR-V terpental ke bahu jalan tol luar dan menabrak guardrail, sedangkan bus berhenti di lajur satu dalam kondisi normal. Kedua kendaraan mengalami kerusakan parah pada bagian depan,” kata Manajer Teknik dan Operasi PT Pemalang Batang Tol Road (PBTR), Yulian Fundra Kurnianto.

    Aan panggilan akrabnya menjelaskan, bahwa kecelakaan disebabkan oleh pengemudi Honda BR-V yang melaju contraflow. Dalam peristiwa ini, Muhamad Hatdiansyah, warga Cikaret (29) Bogor Selatan, yang merupakan penumpang BR-V juga ikut meninggal dunia di tempat akibat luka berat di bagian dada dan patah pada kedua kaki.

    “Pengemudi bus, Daniel Setiya Pribadi (33), warga Gresik, dilaporkan selamat dan tidak mengalami luka serius. Kondisi jalan saat kejadian dalam keadaan baik, tidak ditemukan kerusakan maupun hambatan. Cuaca juga cerah dan arus lalu lintas landai. Kecelakaan murni akibat kesalahan pengemudi yang melanggar aturan lalu lintas dengan melawan arah,” jelasnya.

    Pihaknya menambahkan, bahwa pihak tol bersama kepolisian dan petugas terkait telah melakukan evakuasi cepat guna mencegah kemacetan dan risiko kecelakaan susulan. Aan juga mengimbau pengguna jalan tol untuk selalu mematuhi rambu lalu lintas demi keselamatan bersama.

    “Semua korban di bawa ke RSU Aro Pekalongan. Saat ini, kedua kendaraan telah diamankan di Gerbang Tol Bojong,” tambahnya.

     

  • Diduga Mabuk, 2 Pria Tabrak Tiang Listrik di Karawang, Ada Jasad Bayi Terbungkus Sarung di Mobil – Halaman all

    Diduga Mabuk, 2 Pria Tabrak Tiang Listrik di Karawang, Ada Jasad Bayi Terbungkus Sarung di Mobil – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Sebuah video yang merekam penemuan jasad bayi yang terbungkus kain sarung di jok belakang mobil yang mengalami kecelakaan tunggal di Kabupaten Karawang, Jawa Barat menjadi viral di media sosial. 

    Tampak beberapa warga terkejut saat melihat bungkusan sarung yang berisi jasad bayi perempuan.

    Mobil yang ditumpangi dua pria tersebut menabrak tiang listrik.

    Diduga seorang sopir dan penumpang itu dalam keadaan mabuk sebab ditemukan pula botol minuman keras dan paket narkotika.

    Video itu menjadi viral setelah diunggah oleh akun Instagram @infokrw_id pada Sabtu (12/4/2025).

    Kronologi

    Seorang perangkat desa yang juga saksi mata, Ade Ruhiyat (54) mengungkapkan kronologi peristiwa ini terjadi pada Kamis (10/4/2025).

    Pihaknya mendapatkan laporan dari warga melalui sambungan telepon.

    Ade pun segera ke lokasi yang jaraknya dekat dari kantor desa.

    Saat tiba, ia melihat kerumunan warga yang mencurigai dua pria, seorang sopir dan penumpang yang berada di sekitar mobil.

    Namun, kedua pria itu tampak tidak dalam kondisi yang prima lantaran melantur saat ditanya warga.

    “Saya langsung amankan dua orang itu, satu saya temui di dekat mobil, satu lagi di warung. Keterangan mereka tidak sinkron. Satu mengaku dari Tangerang menuju Purworejo, satunya lagi bilang ke Purwokerto,” kata Ade saat dikonfirmasi pada Minggu (13/4/2025).

    Kecurigaan warga semakin menjadi ketika salah satu dari pria itu diketahui membawa bungkusan mencurigakan dari dalam mobil.

    Ade kemudian memeriksa isi kendaraan dan menemukan jenazah bayi dalam kondisi terbungkus kain sarung.

    “Saya rekam saat memeriksa, ternyata benar jenazah bayi perempuan. Mereka mengaku bayi itu meninggal saat lahir di rumah sakit Tangerang,” tambah Ade.

    Selain itu, salah satu pria menunjukkan gelagat mencurigakan dan tampak di bawah pengaruh alkohol.

    “Saat saya tanya, dia mengaku tidak mabuk, tapi obrolannya ngawur. Saat saya periksa lebih jauh, saya temukan botol minuman keras dan beberapa obat-obatan terlarang di dalam tas mereka,” katanya.

    Sempat dibuang

    Warga juga menemukan bungkusan plastik berisi narkotika di tempat sampah warung yang sempat dibuang pelaku.

    Tak hanya itu, di bagasi belakang mobil ditemukan pula tas berisi perlengkapan perempuan dan seutas tali tambang oranye.

    “Saya langsung hubungi Polsek Purwasari, Unit Laka Polres Karawang, dan tim Inafis. Semua barang bukti dan kedua pria itu saya serahkan ke polisi,” kata Ade.

    Sementara itu, Kasi Humas Polres Karawang, Ipda Solikhin membenarkan kejadian tersebut. 

    Saat ini kedua pria itu telah dibawa ke polres untuk pemeriksaan. 

    Sedangkan jasad bayi dibawa ke RSUD Karawang untuk divisum.

    “Iya benar, sudah ditangani dan dalam pemeriksaan,” kata Ipda Solikhin.

    Sebagian artikel ini telah tayang di WartaKotalive.com dengan judul Minibus Tabrak Tiang Listrik di Karawang, Warga Temukan Jasad Bayi dan Narkotika. 

    (Tribunnews.com/Isti Prasetya, WartaKotaLive.com/Muhammad Azzam)

  • Komnas HAM Awasi Kasus Pembunuhan Juwita di Banjarbaru – Halaman all

    Komnas HAM Awasi Kasus Pembunuhan Juwita di Banjarbaru – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) memberikan perhatian serius terhadap kasus pembunuhan Juwita, seorang jurnalis yang ditemukan tewas di Banjarbaru.

    Uli Parulian, Komisioner Komnas HAM RI, mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini tengah melakukan pemantauan dan pengumpulan informasi terkait kasus tersebut.

    Komnas HAM telah meminta keterangan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kalimantan Selatan, pengacara keluarga korban, serta Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ).

    Rekomendasi untuk Penegakan Hukum

    Uli juga menekankan pentingnya penegakan hukum yang transparan dalam kasus ini.

    “Kami telah merekomendasikan kepada pihak yang menangani kasus ini agar penegakan hukum dilakukan secara adil dan transparan,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa metode ilmiah dalam penyelidikan, perlindungan saksi dan korban, serta pemulihan hak-hak korban dan keluarganya harus menjadi fokus utama.

    Pazri, kuasa hukum keluarga Juwita, mengungkapkan bahwa mereka telah mengirimkan sejumlah data dan temuan kepada Komnas HAM.

    “Data-data dan temuan yang kami dapat sudah kami sampaikan kepada Wakil Ketua Komnas HAM beserta tim investigasi,” jelas Pazri.

    Ia juga menekankan bahwa Komnas HAM memberikan perhatian yang besar terhadap kasus ini, dan berharap dapat mengungkap berbagai kejanggalan yang ada, termasuk kemungkinan adanya pelaku lain.

    Dengan perhatian dari Komnas HAM, diharapkan kasus pembunuhan Juwita dapat diungkap secara tuntas dan transparan, demi keadilan bagi korban dan keluarganya.

    Sebagian artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul Pembunuhan Juwita Jurnalis di Banjarbaru dalam Pantauan Serius Komnas HAM RI, Ini Rekomendasinya

    (Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)(BanjarmasinPost.co.id, Stanislaus Sene/Rizki Fadillah/Frans Rumbon)

    Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

  • Kemenkes Hentikan PPDS Anestesi di RSHS Bandung usai Kasus Rudapaksa – Halaman all

    Kemenkes Hentikan PPDS Anestesi di RSHS Bandung usai Kasus Rudapaksa – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Kasus rudapaksa yang melibatkan seorang dokter residen anestesi dari Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) bernama Priguna Anugerah, 31, memicu respons cepat dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

    Priguna diduga merudapaksa tiga orang perempuan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

    Kemenkes menginstruksikan RSHS untuk menghentikan sementara kegiatan PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unpad.

    Langkah ini diambil untuk melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap pengawasan serta tata kelola rumah sakit.

    Kemenkes juga meminta RSHS dan FK Unpad untuk bekerja sama dalam melakukan perbaikan.

    Hal ini diharapkan dapat mencegah terulangnya kasus serupa serta tindakan melanggar hukum di masa mendatang.

    Kasus ini menjadi sorotan serius dan diharapkan dapat mendorong perubahan positif dalam pengawasan di institusi pendidikan kedokteran dan fasilitas kesehatan di Indonesia.

    Sebelumnya, Kemenkes juga akan mewajibkan melakukan tes kejiwaan berkala bagi peserta PPDS di seluruh rumah sakit pendidikan Kemenkes.

    Tes berkala itu, dilakukan untuk menghindari manipulasi tes kejiwaan serta mengidentifikasi sejak dini kesehatan jiwa para peserta didik.

    “Kemenkes akan melakukan pemeriksaan mental juga untuk para peserta dokter spesialis sehingga peristiwa (Priguna Anugerah) tidak lagi terjadi,” tutur Wakil Menteri Kesehatan (wamenkes RI), Prof Dante Harbuwono, saat ditemui di Puskesmas Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (10/4/2025).

    Diketahui, Priguna Anugerah merudapaksa seorang anak pasien yang berusia 21 tahun pada pertengahan Maret 2025 di lantai tujuh gedung RSHS.

    Tak hanya itu, tersangka juga merudapaksa dua korban lainnya dalam rentang waktu satu minggu.

    Hal tersebut disampaikan oleh  Ditreskrimum Polda Jabar, Kombes Surawan.

    Kedua korban yang berusia 21 dan 31 tahun tersebut pun telah dilakukan pemeriksaan.

    “Benar bahwa ada dua korban ini ternyata telah menerima perlakuan yang sama dari tersangka dengan modus sama. Kejadiannya terjadi pada 10 Maret dan 16 Maret 2025 atau dengan kata lain sebelum kejadian yang menimpa FH (21),” katanya di Polda Jabar, Jumat (11/4/2025).

    Mengutip TribunJabar.id, Surawan mengatakan, tersangka beraksi dengan modus melakukan analisa anestesi dan uji alergi terhadap obat bius.

    “Korban-korbannya dibawa ke tempat yang sama, yakni Gedung MCHC lantai 7,”

    “Tapi, untuk yang dua korban tambahan ini merupakan pasien RSHS,” katanya.

    Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul UPDATE Kasus Dokter Cabul Unpad di RSHS: 2 Korban Tambahan Diperiksa, Priguna Pakai Modus yang Sama

    (Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto/Rina Ayu)(TribunJabar.id, Muhamad Nandri Prilatama)

    Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).