Category: Tribunnews.com Metropolitan

  • Jajanan Favorit Peziarah, Pedagang Kue Cubit di TPU Tanah Kusir Raih Untung Berlipat saat Lebaran – Halaman all

    Jajanan Favorit Peziarah, Pedagang Kue Cubit di TPU Tanah Kusir Raih Untung Berlipat saat Lebaran – Halaman all

    TRIBUNNEWS, JAKARTA – Aroma manis kue cubit yang dipanggang dengan arang menguar di sekitar TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Selasa (1/4/2025)

    Di balik gerobak sederhana, Asep (44), seorang pedagang kue cubit, tengah sibuk melayani pembeli yang memadati lapaknya. 

    Momen Lebaran membawa berkah tersendiri bagi Asep, yang meraup keuntungan berlipat ganda dibandingkan hari-hari biasa.

    “Kalau lebaran ada lah (sejuta), tergantung bawanya kemaren kan bawanya 9 kilo, hari ini 7 kilo,” ungkap Asep, yang telah berjualan kue cubit sejak 1997.

    Keuntungan ini jauh berbeda dibandingkan hari biasa, di mana Asep hanya mengantongi sekitar Rp 500 ribu dengan 3-4 kilogram adonan.

    “Kalau hari hari biasa bawanya paling 3 kg 4 kg kalau lagi masuk sekolah itu sama kampus. (Hari biasa) 500 rban ada ya, alhamdulillah yang penting dapur ngebul,” ungkapnya.

    Asep telah menjadi pedagang kue cubit sejak tahun 1997.

    “Dari 97 dari jamannya masih di pinggul dulu,” kenangnya.

    Asep kemudian bercerita kisahnya sebagai pedagang kue cubit bermula sejak ia lulus dari SMP. 

    Ia tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dan lebih memilih mengikuti jejak sang ayah untuk mencari rezeki sebagai pedagang kue cubit.

    “Ikut bapak, udah tua kasian tadinya mau pesantren tapi udah begitu yaudah,” katanya.

    Hal ini ia lakukan untuk menghidupi keluarga kecilnya yang tinggal di Garut.

    Dengan penghasilannya, Asep berhasil menyekolahkan anaknya di jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV).

    “Ya mau gimana, alhamdulillah buat sekolah anak juga. Ini dia lagi libur sekolahnya. Anak masih SMK jurusannya DKV (Desain Komunikasi Visual)” imbuh Asep.

    Dari pantauan Tribunnews, Asep dengan cekatan memasak dan membungkus kue cubit, sesekali melemparkan senyum kepada pembeli. 

    Semangatnya terlihat tak pernah padam.

    Keberadaannya memberikan warna tersendiri di TPU Tanah Kusir, di mana aroma kue cubit menjadi pengiring para peziarah yang datang untuk mendoakan sanak saudara. (Grace Sanny Vania)

  • Cerita Pamdal TPU Karet Bivak, Lihat Pocong dan Kuntilanak Sudah Biasa, Anggap Sebagai Teman Saja – Halaman all

    Cerita Pamdal TPU Karet Bivak, Lihat Pocong dan Kuntilanak Sudah Biasa, Anggap Sebagai Teman Saja – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Bekerja di Tempat Pemakaman Umum (TPU) tentu menjadi hal yang menakutkan bagi sebagian orang. 

    Namun tidak bagi Prayitno (47), seorang petugas pengamanan dalam (Pamdal) di TPU Karet Bivak, Tanah Abang, Jakarta.

    Prayitno mengaku sudah terbiasa melihat makhluk gaib selama bekerja di pemakaman. 

    Baginya, keberadaan makhluk gaib ity bukanlah sesuatu yang mengganggu, melainkan hal yang biasa ditemui dalam kesehariannya.

    “Sebenarnya sih maaf-maaf saja bukan diganggu, kita memang namanya kerja di pemakaman yah di kuburan lah kata orang Betawi mah, kerja di kuburan mah hal yang sudah terbiasa (lihat setan),” kata Prayitno saat ditemui di lokasi pada Selasa (1/4/2025).

    Prayitno mengaku bekerja sebagai Pamdal sejak 2013. 

    Tak hanya berjaga di TPU, dia terkadang juga berjaga di taman-taman.

    Prayitno lalu mengungkapkan jenis-jenis setan seperti sosok putih melayang hingga makhluk yang kerap dikaitkan dengan cerita mistis masyarakat.

    “Ya yang namanya jenis-jenisnya yang putih-putih terbang, ya kayak model kayak orang bilang itu pocong, kuntilanak itu hal yang sudah biasa lah. Namanya kita sebagai pengamanan, anggap sebagai teman saja,” ujarnya.

    Terpenting, menurutnya, setan tak boleh diganggu. 

    Baginya, makhluk halus memiliki kesamaan dengan manusia, yang bisa merasa terganggu jika diperlakukan dengan tidak hormat.

    “Kita mah biasa saja nyikapin (menyikapinya), yang penting jangan diganggu. Sama kayak manusia saja. Manusia kalau diganggu juga sama, marah-marah juga gitu,” ucap Prayitno.

    TPU Karet Bivak pada hari kedua Lebaran 2025 ini ramai dikunjungi para peziarah.

    Dari pantauan Tribunnews, para peziarah terus berdatangan ke TPU di kawasan Jakarta Pusat itu meski hujan tengah mengguyur kawasan tersebut.

    Warga dari berbagai wilayah berdatangan untuk berziarah ke makam keluarga mereka.

    Sebagian dari mereka terlihat mengenakan jas hujan atau membawa payung saat berdoa di depan pusara. 

    Iwan (57) mengatakan, setiap tahun dirinya bersama keluarga rutin mendatangi TPU Karet Bivak untuk berziarah ke makam kakak dari ibunya.

    “Kunjungi makam kakaknya ibu saya. Ini kita sekeluarga, entar datang lagi keluarga yang lain,” kata Iwan.

    Erni (59), seorang peziarah lainnya datang bersama anaknya. Dia mendatangi makam dari kedua orangtuanya.

    “Kebetulan waktunya apa, bisanya cuma Lebaran. Mungkin kalau hari-hari lain banyak kesibukan-kesibukan juga. Jadi pada belum bisa ke sini lah,” ujarnya.

    Erni mengaku sangat berkesan dengan sosok kedua orangtuanya. 

    Sebab, orang tuanya disebut selalu mengajarkan keakraban bagi seluruh anak-anaknya.

    “Ya kedua orang tua saya sih ngajarinnya supaya anak-anak tuh satu sama lain saling akur, saling membantu. Dan mengikat silaturahmi terus, jangan sampai putus,” ucapnya.

  • Gubernur Pramono Anung: Pendatang Baru di Jakarta Harus Punya Identitas – Halaman all

    Gubernur Pramono Anung: Pendatang Baru di Jakarta Harus Punya Identitas – Halaman all

    Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menanggapi kemungkinan adanya pendatang baru di Jakarta setelah Hari Raya Idul Fitri 2025.

    Tayang: Selasa, 1 April 2025 20:16 WIB

    Tribunnews.com/ Fransiskus Adhiyuda

    PENDATANG BARU JAKARTA – Gubernur Jakarta yang juga kader PDIP, Pramono Anung usia berlebaran di rumah Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta, Senin (31/3/2025). (Fransiskus Adhiyuda/ Tribunnews.com). Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menanggapi kemungkinan adanya pendatang baru di Jakarta setelah Hari Raya Idul Fitri 2025. 

    TRIBUNNEWS.COM – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menanggapi kemungkinan adanya pendatang baru di Jakarta setelah Hari Raya Idul Fitri 2025.

    Menurutnya, baik dirinya maupun Wakil Gubernur Rano Karno tidak mempermasalahkan kedatangan pendatang yang mayoritas mencari lapangan pekerjaan.

    Pramono mengakui bahwa banyak daerah di luar Jakarta yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran.

    Dalam konteks ini, Pramono memastikan Jakarta akan mempersiapkan diri untuk menerima pendatang baru.

    “Ini memang problem yang pasti akan dihadapi Jakarta dalam kondisi yang seperti ini. Tanpa menutup mata, beberapa daerah melakukan PHK. Untuk itu, Jakarta pasti mempersiapkan diri,” ungkap Pramono, dilansir dari Kompas TV.

    Kebijakan Identitas Pendatang

    Lebih lanjut, Pramono menegaskan bahwa ia dan Rano Karno telah sepakat untuk tidak melakukan Operasi Yustisi kependudukan.

    Namun, semua pendatang yang ingin tinggal dan bekerja di Jakarta harus memiliki identitas resmi.

    “Siapapun yang datang ke Jakarta harus ada identitasnya. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) akan melakukan pengecekan administrasi. Kalau dia mau cari kerja di Jakarta, silakan. Asalkan dia mau ikut pelatihan dan paling penting punya identitas,” jelas Pramono.

    Pramono juga menggarisbawahi pentingnya pelatihan kerja bagi pendatang baru.

    Ia mendorong mereka untuk mengasah keterampilan melalui program yang ada.

    “Saya dan Bang Doel sudah berdiskusi. Kami tidak akan melakukan Operasi Yustisi. Yang kita lakukan lebih kepada kemanusiaan,” tambah Pramono.

    Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

    “);
    $(“#latestul”).append(“”);
    $(“.loading”).show();
    var newlast = getLast;
    $.getJSON(“https://api.tribunnews.com/ajax/latest_section/?callback=?”, {start: newlast,section:’2′,img:’thumb2′}, function(data) {
    $.each(data.posts, function(key, val) {
    if(val.title){
    newlast = newlast + 1;
    if(val.video) {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = ” “;
    }
    else
    {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = “”;
    }
    if(val.thumb) {
    var img = “”+vthumb+””;
    var milatest = “mr140”;
    }
    else {
    var img = “”;
    var milatest = “”;
    }
    if(val.subtitle) subtitle = “”+val.subtitle+””;
    else subtitle=””;
    if(val.c_url) cat = “”+val.c_title+””;
    else cat=””;

    $(“#latestul”).append(“”+img+””);
    }
    else{
    $(“#latestul”).append(‘Tampilkan lainnya’);
    $(“#test3”).val(“Done”);
    return false;
    }
    });
    $(“.loading”).remove();
    });
    }
    else if (getLast > 150) {
    if ($(“#ltldmr”).length == 0){
    $(“#latestul”).append(‘Tampilkan lainnya’);
    }
    }
    }
    });
    });

    function loadmore(){
    if ($(“#ltldmr”).length > 0) $(“#ltldmr”).remove();
    var getLast = parseInt($(“#latestul > li:last-child”).attr(“data-sort”));
    $(“#latestul”).append(“”);
    $(“.loading”).show();
    var newlast = getLast ;
    if($(“#test3”).val() == ‘Done’){
    newlast=0;
    $.getJSON(“https://api.tribunnews.com/ajax/latest”, function(data) {
    $.each(data.posts, function(key, val) {
    if(val.title){
    newlast = newlast + 1;
    if(val.video) {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = ” “;
    }
    else
    {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = “”;
    }
    if(val.thumb) {
    var img = “”+vthumb+””;
    var milatest = “mr140”;
    }
    else {
    var img = “”;
    var milatest = “”;
    }
    if(val.subtitle) subtitle = “”+val.subtitle+””;
    else subtitle=””;
    if(val.c_url) cat = “”+val.c_title+””;
    else cat=””;
    $(“#latestul”).append(“”+img+””);
    }else{
    return false;
    }
    });
    $(“.loading”).remove();
    });
    }
    else{
    $.getJSON(“https://api.tribunnews.com/ajax/latest_section/?callback=?”, {start: newlast,section:sectionid,img:’thumb2′,total:’40’}, function(data) {
    $.each(data.posts, function(key, val) {
    if(val.title){
    newlast = newlast+1;
    if(val.video) {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = ” “;
    }
    else
    {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = “”;
    }
    if(val.thumb) {
    var img = “”+vthumb+””;
    var milatest = “mr140”;
    }
    else {
    var img = “”;
    var milatest = “”;
    }
    if(val.subtitle) subtitle = “”+val.subtitle+””;
    else subtitle=””;

    $(“#latestul”).append(“”+img+””);
    }else{
    return false;
    }
    });
    $(“.loading”).remove();
    });
    }
    }

    Berita Terkini

  • Kisah Danu Kenang Sang Kakek di TPU Tanah Kusir Jakarta, Rutin Ziarah Setiap Lebaran Idulfitri – Halaman all

    Kisah Danu Kenang Sang Kakek di TPU Tanah Kusir Jakarta, Rutin Ziarah Setiap Lebaran Idulfitri – Halaman all

    TRIBUNNEWS, JAKARTA – Setiap tahun, khususnya saat momen Lebaran  Idulfitri, tradisi ziarah kubur menjadi momen penting bagi banyak masyarakat di Indonesia. 

    Dari pantauan Tribunnews.com ratusan peziarah tampak memadati area TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, untuk mendoakan sanak saudara yang telah berpulang. 

    Satu kisah menyentuh hati datang dari Danu (20), seorang pemuda yang mengunjungi makam kakek tercintanya setiap tahun, saat menjelang Ramadan dan Idulfitri.

    Bagi Danu, ziarah kubur adalah cara untuk mengenang dan mendoakan kakeknya yang telah tiada.

    “Kakek saya sudah meninggal jadi saya ingin mendoakan yang terbaik buat kakek saya, terutama karena saya sayang juga gitu sama kakek saya. Jadi saya pengen berdoa buat kakek saya, tiap tahun sebelum puasa sama Lebaran ke sini,” kata dia kepada Tribunnews.com di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Selasa (1/4/2025).

    Selain mengirimkan doa, ziarah kubur bagi Danu menjadi perjalanan emosional untuk menghidupkan kembali kenangan indah bersama kakeknya. 

    Ia mengenang masa kecilnya yang sering dihabiskan di rumah sang kakek.

    “Kenangan yang saya ingat itu waktu saya kecil, saya tuh sering banget ke rumah kakek saya gitu ya, saya sering main gitu,” kenangnya.

    Namun, kenangan indah itu diwarnai dengan kesedihan mendalam saat kakeknya meninggal dunia akibat kecelakaan pada tahun 2012.

    Kala itu Danu masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

    “Kakek saya kecelakaan, saya tuh ngerasa sedih gitu, waktu tahun 2012, pas saya masih SD akhir itu,” katanya.

    Setiap kali mengunjungi makam kakeknya, Danu selalu merasa sedih.

    Ia terus mengingat memori masa lalu bersama kakeknya.

    “Sejujurnya ya tetap sedih sih mbak. Mengingat kembali gitu kan kayak flashback gitu sih. Setiap kali ke kuburan tuh pasti ke flashback terus,” katanya.

    Ia juga bercerita, nenek dan ibunya sempat sangat terpukul kala kehilangan kakek.

    Namun seiring berjalannya waktu mereka mulai ikhlas menerima ketiadaan sang kakek.

    Meski kesedihan menyelimuti Danu, ia tetap menjalankan tradisi ziarah kubur dengan khidmat.

    Ia berharap doa-doanya dapat memberikan ketenangan bagi sang kakek di alam sana. (Tribunnews.com/ Grace Sanny Vania)

  • Melihat Aksi Petugas Menenangkan Anak yang Terpisah dari Orang Tuanya di Taman Margasatwa Ragunan – Halaman all

    Melihat Aksi Petugas Menenangkan Anak yang Terpisah dari Orang Tuanya di Taman Margasatwa Ragunan – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pada H+1 Idulfitri, Taman Margasatwa Ragunan Jakarta didapati oleh puluhan ribu pengunjung.

    Tak jarang, Pusat Informasi Taman Margasatwa Ragunan menginformasikan berita anak hilang.

    Pada Selasa (1/4/2025) pukul 13.00 WIB, terdapat tiga anak hilang atau terpisah dari orangtua mereka.

    Salah satu anak, Fajar (3) harus terpisah dari orangtuanya saat berlibur di lokasi tersebut. Salah seorang anak laki-laki lainnya bahkan menangis mencari keberadaan orangtuanya.

    Petugas keamanan beserta petugas jaga Pusat Informasi pun berusaha membuat para anak-anak itu tetap tenang dan aman. 

    Sementara, petugas lainnya menginformasikan peristiwa ditemukannya anak tanpa orangtua di kawasan Taman Margasatwa Ragunan.

    Para petugas pun tampak sabar dan tenang meladeni para anak-anak yang terus menjerit ketakutan karena terpisah dari orangtua.

    Bahkan, petugas harus sampai menggendong berkeliling sambil memastikan kepada anak yang hilang, orangtua mereka akan segera menjemput.

    Petugas juga secara sabar menanyakan nama anak tersebut, dan nama orangtua mereka.

    Sementara, Fajar tampak tenang duduk menunggu orangtuanya tiba di Pusat Informasi tersebut.

    Tak berselang lama, para orangtua mereka pun tampak menjepur anak-anak tersebut.

    Humas Taman Margasatwa Ragunan, Wahyudi Bambang Prihantoro mengungkapkan pihaknya telah menyiagakan petugas untuk membantu jika ada peristiwa yang terjadi, termasuk anak hilang.

    Dia pun menyebut, anak-anak itu juga telah dijemput oleh orangtua meraka. 

    “Tadi ada tiga anak yang terpisah, tapo Alhamdulillah sudah kembali ke orangtuanya,” kata Bambang kepada Tribunnews.com, Selasa.

    Bambang pun mengimbau kepada pengunjung untuk terus memperhatikan rombongan agar tidak terpisah ketika berkeliling Taman Margasatwa Ragunan.

    Sebagai informasi, selama libur Lebaran tahun 2025, pihak Taman Margasatwa Ragunan mulai buka pada pukul 06.00 – 16.00 WIB.

    Selain itu, terhadap 20 kantung parkir yang ditambah untuk mengantisipasi kepadatan pengunjung yang menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil maupun motor.

    Dimana, kantung parkir bisa menampung 5.700 hingga 6.000 kendaraan roda empat dan 20 ribu kendaraan roda dua.

    Untuk tiket masuk, pengunjung harus memiliki kartu Jakcard Bank DKI yang bisa dibeli di loket masuk.

    Kartu ini nantinya bisa digunakan untuk banyak orang dengan tiket masuk perorangnya sebesar Rp 4.000 untuk dewasa, Rp 3.000 untuk anak-anak.

  • Tips War Tiket Puncak Monas untuk Libur Lebaran 2025, Biar Tidak Kehabisan – Halaman all

    Tips War Tiket Puncak Monas untuk Libur Lebaran 2025, Biar Tidak Kehabisan – Halaman all

    Tips War Tiket Puncak Monas untuk Libur Lebaran 2025, Biar Gak Kehabisan

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Bagi anda yang ingin berwisata ke Monas, Jakarta dan naik ke puncaknya, maka anda harus mempunyai cara war tiket agar tidak kehabisan.

    Monas atau Monumen Nasional merupakan salah satu tempat wisata yang buka pada hari Libur Lebaran 2025.

    Monas termasuk tempat wisata yang murah meriah.

    Untuk masuk ke kawasan Monas maka tidak dipungut biaya.

    Namun jika pengunjung ingin ke area Tugu Monas maka dikenakan tarif masuk.  

    Per 1 Juni 2024, bagi wisatawan yang ingin masuk ke Monas bisa menggunakan kartu JakCard. 

    Bagi yang belum punya bisa beli di loket dengan harga Rp 50.000 dengan saldo Rp 20.000. 

    Satu kartu bisa untuk lebih dari satu orang. 

    JAM OPERASIONAL MONAS – Masyarakat berwisata di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Selasa (28/1/2025). Pengelola Monas memperpanjang jadwal operasional dari pukul 16.00 WIB pada hari biasa menjadi pukul 22.00 WIB hingga 29 Januari 2025 dalam rangka memeriahkan libur Isra Mikraj dan Imlek. (Warta Kota/Yulianto) (/Warta Kota/Yulianto)

    Tips War Tiket Puncak Monas

    Tribunnews.com menyarankan untuk datang lebih pagi.

    Hal ini, karena tiket tidak bisa dibeli dari jauh hari dan hanya bisa dibeli di loket.

    Pembayaran tiket dilakukan dengan kartu Jakcard milik Bank DKI. 

    Pembelian kartu JakCard bisa dilakukan di loket. 

    Pengunjung hanya bisa membayar menggunakan Qris atau uang tunai/cash.  

    Khusus untuk rombongan min 30 orang, akan mendapatkan diskon 25 persen. 

    Tiket masuk Tugu Monas, hanya dapat dibeli secara langsung di loket Monas (Offline atau on the spot)

    Jadwal Monas saat Libur Lebaran 2025:

    1-3 April 2025

    06.00 WIB-22.00 WIB

    7 April 2025

    06.00 WIB-22.00 WIB

    Tugu Monas

    08.00-22.00 WIB

    Loket Tutup 

    21.00 WIB

    Sejarah Monas

    Monumen Nasional tidak hanya menjadi simbol penting bagi Jakarta, tetapi juga sebagai tempat untuk mengenang perjuangan seluruh rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan. 

    Monas menjadi salah satu destinasi wisata paling terkenal di Jakarta yang dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

    Monumen Nasional, yang lebih dikenal dengan sebutan Monas atau Tugu Monas, adalah sebuah monumen peringatan yang berdiri megah setinggi 132 meter (433 kaki) di pusat Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. 

    Monas dibangun untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari penjajahan Belanda. 

    Pembangunan Monas dimulai pada 17 Agustus 1961 di bawah perintah Presiden Soekarno dan diresmikan pada 12 Juli 1975 oleh Presiden Soeharto.

    Monas memiliki bentuk yang sangat khas, dengan puncaknya dihiasi lidah api yang dilapisi lembaran emas, melambangkan semangat juang rakyat Indonesia yang tak pernah padam. 

    Tugu Monas memiliki makna mendalam sebagai simbol perlawanan dan semangat kemerdekaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

    Monumen ini bukan hanya sekadar bangunan, tetapi juga sebuah karya yang membawa pesan patriotisme yang terus menginspirasi rakyat Indonesia.

    Ide awal pendirian Monumen Nasional berasal dari seorang warga biasa Jakarta, Sarwoko Martokoesoemo. Setelah Jakarta kembali menjadi ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 1950, ide untuk mendirikan monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel pun mengemuka. 

    Monas bertujuan untuk mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia selama masa revolusi kemerdekaan 1945.

  • Kisah Perawat Makam Tanah Kusir, Berkah Lebaran hingga Tantangan Pekerjaan – Halaman all

    Kisah Perawat Makam Tanah Kusir, Berkah Lebaran hingga Tantangan Pekerjaan – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Suasana haru dan khidmat menyelimuti Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan, saat momen Lebaran tiba.

    Dari pantauan Tribunnews.com ratusan peziarah dari berbagai penjuru memadati area pemakaman untuk mendoakan dan mengenang sanak saudara yang telah berpulang.

    Di tengah ramainya peziarah, para perawat makam seperti Dodi (51) dan Ilik (48) yang sehari-hari bertugas merawat dan membersihkan makam, ikut merasakan berkah dari peningkatan kunjungan tersebut.

    “Ya lumayan lah peningkatannya. Namanya kita cari rezeki. Kalau peziarah banyak kan dapat rezeki,” kata Dodi di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Senin (1/4/2025).

    Dodi mengaku telah melakoni pekerjaan sebagai perawat makam selama 10 tahun, sementara Ilik berkisar sekitar 5 tahunan.

    Lonjakan kunjungan peziarah di TPU Tanah Kusir bukan hanya terjadi saat Lebaran, tetapi juga pada hari-hari besar keagamaan lainnya, seperti Natal dan Imlek.

    “Di bulan 12 tanggal 25 Natal tuh rame terus Tahun Baru Imlek. Kalau sekarang kan lagi Islam kan, bulan Ramadhan Lebaran itu rame,” jelasnya.

    Para perawat makam memiliki tugas yang beragam, mulai dari membersihkan kuburan setelah digali, merawat rumput dan keramik makam, tak jarang mereka juga membantu peziarah menemukan lokasi makam yang dicari.

    “Ya kalau ada yang mau dikuburin, ya nguburin. Kalau nggak ada, ya ngebersihin. Kita disini ada bagian-bagiannya. Ada bagian penggalian, ada bagian pembersihan, ada bagian rawat. Kalau bagian rawat, ya dia merawat aja. Misal rumput itu dijagain biar ga panjang, kalau ada tanahnya yang nggak bagus, dibagusin. Atau disuruh pasang batu atau keramik. Tergantung ahli warisnya maunya apa,” kata Dodi.

    “Ada yang datang (peziarah) misalnya dia nggak tahu tempatnya di mana. Bingung kan dia terus nanya Pak yang namanya ini di mana? Siapa yang merawatnya? Ya terus kita cariin. Kalau memang ada rezeki dikasih sama dia. Kita nggak minta, seikhlas dia, nggak paksa,” lanjutnya.

    Ilik dan Dodi memaparkan tantangan para perawat makam dalam melakoni pekerjaan ini adalah mereka bekerja tanpa gaji yang pasti dan tetap.

    Para perawat makam sepenuhnya mengandalkan pendapatan dari para peziarah atau ahli waris yang mempercayakan perawatan makam keluarga mereka.

    “Ahli waris misalnya percayain saya nih, kalau ngerawatin misalnya sebulannya 100 ribu, ya nggak semua 100 ribu ada yang 50 ribu, ada yang 150 ribu. Tergantung kebaikan hati ahli waris aja. Kalau ahli warisnya orangnya baik ya dilebihin. Kan ada juga yang enggak. Ya macem-macem. Tapi kalau dari TPU nggak ada,” katanya.

    Selain ketidakpastian pendapatan, para perawat makam juga menghadapi tantangan lain, seperti komplain dari ahli waris yang kurang puas dengan perawatan makam.

    “Kadang-kadang kita ngurus (makam) ditanggungjawabin, kadang-kadang kita lupa, tau-tau dia (peziarah) datang, keadaan posisinya makam itu kayak kotor, dia marah-marah sama kita, kan sakit juga. Saya pernah diomelin sama om-om gitu, sampe gimana gitu, marahnya sampe kelewat. Kayak gitu kan masih membekas lama,” katanya.

    Persaingan antar perawat makam juga menjadi masalah tersendiri.

    Mereka saling berebut untuk mendapatkan kepercayaan dari ahli waris makam.

    Bahkan Ilik mengaku pernah mengalami ‘gesekan’ dengan rekannya ketika mencari konsumen.

    “Kalau kita punya rawatan kita nggak ada, nih. Ada temen yang ngebet, kita di jelekin. Itu kan nanti sakit juga. Jadi ntar itu orang itu (ahli waris) kita pindah ke orang lain gitu,” ungkapnya.

    Meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan, para perawat makam di TPU Tanah Kusir tetap menemukan kebahagiaan dan rasa syukur dalam pekerjaan mereka.

    Mereka merasa bahagia dapat membantu para peziarah dan mendapatkan rezeki dari pekerjaan ini.

    “Ya pekerjaannya bebas, enggak terikat waktu. Kalau sudah beres ngebersihin ya bisa langsung pulang ke rumah. Senang juga banyak teman di sini kayak nongkrong aja kerjanya,” ungkap Dodi.

    Di balik kebahagiaan itu, tersimpan harapan besar.

    Para perawat makam berharap pekerjaan mereka lebih dihargai dan diperhatikan oleh masyarakat.(Grace Sanny Vania)

  • Libur Lebaran, Warga Cikarang dan Bekasi Pilih Kunjungi ke Kebun Binatang Ragunan – Halaman all

    Libur Lebaran, Warga Cikarang dan Bekasi Pilih Kunjungi ke Kebun Binatang Ragunan – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Siti, warga Cikarang beserta keluarganya memilih berlibur Lebaran di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (1/4/2025).

    Siti, bersama suami dan kedua anaknya tengah terhibur melihat Gajah Sumatera yang ada di kawasan Taman Margasatwa Ragunan. 

    Di sesekali menjelaskan kepada kedua anaknya tentang hewan Gajah dan kebiasaannya.

    Tak hanya Gajah, Siti juga mengajak kedua putranya mengelan hewan satwa lainnya. Jerapah pun menjadi favorit anaknya.

    “Ini ajak anak-anak karena libur,” ujar Siti kepada Tribunnews, Senin.

    Dia pun mengatakan, kerap mengajak keluarga untuk berlibur ke tempat-tempat wisata.

    Tak hanya mengenali satwa, Siti meyakini dengan mengajak anak-anaknya ke Taman Margasatwa Ragunan, bisa memberikan edukasi tentang hewan.

    “Jadi rekreasi edukasi juga buat anak-anak,” tambahnya.

    Hal yang sama turut diungkapkan Septri, warga Pamulang. Dia mengaku senang mengajak anak-anak dan keluarga berlibur ke Taman Margasatwa Ragunan. 

    Selain murah, berwisata di Taman Margasatwa Ragunan bisa menjadi sarana dirinya memberikan edukasi kepada anak.

    “Ini kan murah ya disini. anak-anak suka lihat Jerapah. Kami ajak kesini sekalian nanti mampir ke rumah saudara,” ungkapnya.

    Sementara, Arya warga Bekasi mengaku memilih wisata ke Taman Margasatwa Ragunan karena mudah diakses dari tempat tinggalnya.

    Arya yang turut mengajak saudara serta kakek neneknya ini, berharap bisa berlibur kembali bersama keluarga saat libur sekolah.

    “Ramai banget disini, tapi senang bisa ajak saudara,” kata dia.

    Humas Taman Margasatwa Ragunan, Wahyudi Bambang Prihantoro mengatakan pada H+1 Idulfitri hari ini, kurang lebih tercatat sebanyak 48 ribu pengunjung memadati kawasan Ragunan.

    Dia pun memprediksi bahwa puncak kunjungan wisata ke Taman Margasatwa Ragunan akan terjadi pada besok (2/4/2025).

    “Menurut kami belum mencapai puncak ya. Kalau dari pengalaman yang sudah sudah biasanya puncak itu di H+2 ya, itu besok. Artinya kita bukanya kan baru hari ini baru hari pertama dibuka, hari kedua setelah buka itu biasanya akan terjadi puncak pengunjung tertinggi. Bisa lebih dari 100 ribu orang, kita liat besok,” jelasnya.

    Sebagai informasi, selama libur Lebaran tahun 2025, pihak Taman Margasatwa Ragunan mulai buka pada pukul 06.00 sampai 16.00 WIB.

    Selain itu, terhadap 20 kantung parkir yang ditambah untuk mengantisipasi kepadatan pengunjung yang menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil maupun motor.

    Dimana, kantung parkir bisa menampung 5.700 hingga 6.000 kendaraan roda empat dan 20 ribu kendaraan roda dua.

    Untuk tiket masuk, pengunjung harus memiliki kartu Jakcard Bank DKI yang bisa dibeli di loket masuk.

    Kartu ini nantinya bisa digunakan untuk banyak orang dengan tiket masuk perorangnya sebesar Rp 4.000 untuk dewasa, Rp 3.000 untuk anak-anak.

  • Cerita Warga Jakarta Ajak Anak dan Tetangga Liburan ke Ancol Usai Lebaran, Hujan Sempat Mengguyur – Halaman all

    Cerita Warga Jakarta Ajak Anak dan Tetangga Liburan ke Ancol Usai Lebaran, Hujan Sempat Mengguyur – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ika (38), tampak sedang duduk di sisi jalan yang mengarah ke pintu masuk destinasi wisata SeaWorld, Ancol, Jakarta Utara, Selasa (1/4/2025) atau H+1 Lebaran Idulfitri 1446 Hijriah.

    Dia duduk bersama dua orang tetangganya di Jakarta Selatan.

    Saat ditemui, ketiga ibu-ibu itu sedang beristirahat di sela-sela mengajak anak mereka liburan.

    “Ada sembilan orang sama anak-anak. Ini Tetanggaan semua,” kata Ika, kepada Tribunnews.com, Selasa.

    Ika menyebut, liburan ini telah direncanakan bersama lantaran anak-anak mereka menyukai ikan.

    Terlebih, katanya, aktivitas silaturahmi lebaran telah selesai dilakukannya pada hari H Lebaran 2025, yakni Senin (31/3/2025) kemarin.

    “Kemarin sudah keliling (lebaran) seharian. Ini ajak anak-anak karena mereka suka ikan aja,” jelasnya.

    Sementara itu, Ika mengungkapkan, dia bersama tetangganya berangkat ke Ancol menggunakan mobil yang dipesan dari aplikasi ojek online ternama.

    Ia mengaku senang bisa berlibur bersama tetangganya sekaligus mengajak anak-anak bermain.

    Namun, ia mengungkapkan, liburannya di kawasan wisata Ancol sempat terjeda lantaran hujan lebat yang mengguyur wilayah sekitar pesisir Jakarta Utara itu.

    Karena hal itu, Ika dan kedua tetangganya sempat berteduh sejenak.

    “Pas masuk hujannya lebat. Tadi datang pukul 11.00 WIB,” ucapnya.

    Lebih lanjut, kata Ika, ini bukan kali pertamanya berwisata ke Ancol.

    Namun, dia mengaku tetap merasa senang bisa berlibur bersama para tetangganya.

    “Senang. Senang, tapi tadi hujan gede,” tutur Ika.

    Sebelumnya, keramaian tampak terjadi di kawasan wisata Ancol, Jakarta Utara, pada Selasa (1/4/2025) atau H+1 Lebaran Idulfitri 1446 Hijriah.

    Pantauan Tribunnews.com sekira pukul 12.30 WIB, tampak antrean panjang kendaraan roda dua dan roda empat di Gerbang Timur pintu masuk ke kawasan Ancol.

    Antrean yang mengular didominasi mobil.

    Lima loket yang dibuka untuk akses masuk kendaraan roda empat sempat ditambah menjadi enam loket.

    Sedangkan, dua loket dibuka untuk wisatawan yang menggunakan motor. 

    Antrean kendaraan roda dua itu berada di sisi paling kiri dari Gerbang Timur.

    Selain itu, arus lalu lintas yang cukup padat juga terjadi di dalam kawasan wisata Ancol.

    Hampir di setiap destinasi di kawasan Ancol ramai pengunjung. Terutama pantai, Dufan, dan SeaWorld.

    Selain itu, hujan mulai turun di kawasan wisata Ancol pada pukul 11.21 WIB dengan intensitas sedang, kemudian semakin deras pada pukul 11.48 WIB. 

    Di gerbang timur, para pengunjung tampak bergegas mencari tempat berteduh, seperti halte dan sejumlah bangunan lainnya.

    PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk mencatat sebanyak 30.600 pengunjung telah mengunjungi kawasan wisata Ancol, Jakarta Utara, pada Selasa ini.

    “Update pengunjung Lebaran (1 April 2025) Update pukul 12.00 WIB: 30.600,” kata Corporate Communication PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Daniel Windriatmoko, kepada Tribunnews.com, Selasa (1/4/2025).

    Ia menargetkan jumlah pengunjung kawasan wisata Ancol selama libur Lebaran tahun ini mencapai total 660 ribu orang.

    “Target pengunjung selama libur Lebaran (31 Maret sampai dengan 13 April 2025) sebanyak 660 ribu orang,” ucapnya.

    Selanjutnya, Daniel mengingatkan para pengunjung agar tidak berenang di pantai selama hujan deras berlangsung. 

    Life guard atau penjaga pantai akan terus mengimbau pengunjung untuk menjaga keselamatan.

    “Life guard selalu mengimbau kepada pengunjung setiap saat,” ucap Daniel.

    Ia juga meminta para orang tua untuk mengawasi anak-anak mereka selama berada di kawasan wisata.

    Menurutnya, terdapat beberapa titik wisata di Ancol yang tetap dapat dikunjungi saat hujan, seperti SeaWorld, Ocean Dream Samudra, dan Birdland.

    “Di sana karena indoor atau ruang tertutup, jadi banyak sekali wahana yang bisa dinikmati di cuaca seperti ini,” tuturnya.

  • Rekam Jejak Moncer Tessy Haryati, Srikandi Damkar Depok Pecat Sandi Butar Butar, Jabatannya Penting – Halaman all

    Rekam Jejak Moncer Tessy Haryati, Srikandi Damkar Depok Pecat Sandi Butar Butar, Jabatannya Penting – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Sosok Tessy Haryati, srikandi Damkar Kota Depok yang memecat Sandi Butar Butar yang baru kembali masuk kerja kini sedang menjadi sorotan publik.

    Tessy Haryati adalah perempuan pemadam kebaran yang memiliki jabatan strategis di Dinas Damkar Kota Depok.

    Di sana, Tessy Haryati menjabat sebagai Plt Kepala Bidang Pengendalian Operasional Kebakaran dan Penyelamatan Dinas Damkar Depok.

    Tessy Haryati juga merupakan sosok yang menandatangani surat pemecatan alias pemutusan kontrak kerja Sandi Butar Butar.

    Surat bernomor 800/201-PO.Damkar perihal pemutusan perjanjian kerja yang ditandatangani Tessy Haryati itu diterbitkan pada 27 Maret 2025.

    Berdasarkan isi surat, pemutusan kontrak kerja ini dilakukan setelah mengkaji berita acara pemeriksaan dan/atau permintaan keterangan pada 25 Maret 2025 terkait beberapa pelanggaran yang dilakukan Sandi saat bekerja.

    “Bahwa berdasarkan hal tersebut di atas, maka dengan ini disampaikan kepada nama Sandi Butar Butar, dilakukan Pemutusan Perjanjian atau Hubungan Kerja sebagaimana dituangkan dalam Surat Perjanjian Kerja 800/184/PO tentang Kontrak Kerja Pelaksana Kegiatan Tidak Tetap Tahun Anggaran 2025 per tanggal surat ini dikeluarkan,” bunyi isi surat tersebut, seperti dikutip dari Kompas.com.

    Pada surat tertulis pihak kesatu, yaitu Dinas Damkar Depok diperbolehkan memutus perjanjian sepihak berdasarkan ketentuan pada Pasal 7 ayat (1) huruf f Perjanjian Kerja 800/184/PO tentang Kontrak Kerja Pelaksana Kegiatan Tidak Tetap Tahun Anggaran 2025.

    “Pihak Kesatu berhak: Memutus perjanjian sepihak, apabila Pihak Kedua tidak dapat menjalankan tugas dan kewajibannya dan/atau terbukti melanggar ketentuan yang ditetapkan Pihak Kesatu dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku,” demikian bunyi isi surat tersebut.

    Tessy Haryati memiliki rekam jejak yang panjang sebagai srikandi Damkar Depok.

    Ia mengaku merupakan perempuan terlama di Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) tersebut. 

    Perempuan berhijab ini memiliki tugas vital di bidang penyelamatan.

    Ia memiliki tanggung jawab untuk menjaga kondisi psikologis korban kebakaran saat masih di lokasi kejadian.

    Saat bertugas, Tessy pernah menyelamatkan seorang anak perempuan berumur 13 tahun yang tertimpa beton PDAM.

    Sebagian kepala anak itu sudah hampir masuk ke beton dan tangannya tertinggal di dalam.

    Beruntung, anak itu masih bisa bernapas dengan lancar.

    “Ketika yang menjadi korban adalah perempuan dan anak-anak, kita harus bisa menenangkan,” ujar Tessy kepada Kompas.com, Jumat (16/9/2022). 

    Tessy memiliki cara sendiri saat bertugas, yakni ketka betonnya diangkat, ia berusaha menenangkan dan mengalihkan perhatian sang anak.

    Ia berusaha merekayasa bahwa peristiwa yang menimpa anak itu hanya seperti jatuh dari sepeda.

    Anak itu akhirnya bisa tenang.

    Anak tersebut berhasil diselamatkan dengan hanya luka kecil di punggung tangannya.

    “Dari situ kita bisa melihat bahwa memang dibutuhkan peran perempuan,” tutur dia.

    Di posisinya sekarang, Tessy mengakui tidak mudah.

    Selain keberanian yang besar, persiapan mental juga diperlukan.

    Pasalnya, menurut Tessy, ia tidak bisa menebak seperti apa kejadian lapangan yang menantinya di depan nanti.

    “Ketika kita melaksanakan tugas seberat apa pun, kalau demi kebaikan, saya yakin 1.000 malaikat pasti tolong. Walaupun seunik, seaneh, harus kita berjibaku dengan apa pun itu, dengan risiko tinggi, insya Allah pasti bisa. Yakin bisa aja dulu,” tuturnya.

    Pada September 2022, Tessy Haryati juga pernah turut berjibaku memadamkan api dalam kebakaran Gudang JNE di Depok.

    Tessy sempat membuat video laporan situasi saat pemadaman masih berlangsung.

    “Kondisi terakhir seperti ini. Sudah terkendali, tinggal beberapa titik, memang menunggu suplai air,” kata dia.

    Kala itu, srikandi Damkar Kota Depok ini memperlihatkan kondisi gedung yang sudah hangus dan dipenuhi asap tebal.

    Selain itu, Tessy juga menginstruksi pada pemadam kebakaran lain yang sedang memegang selang air besar.

    Namun, Tessy mengaku tak tahu tentang videonya yang viral di media sosial.

    Ia hanya mengirimkan video tersebut kepada atasannya.

    “Kalau masalah itu (viral), tadi saya enggak tahu,” ucap dia.

    “Saya itu cuma punya kepentingan memberitahukan kepada audiens, kepada masyarakat bahwa kita punya risiko tinggi (di lapangan),” tandasnya.

    4 alasan Sandi Butar Butar dipecat

    Sandi Butar Butar dipecat setelah ia mendapat 4 kali surat peringatan (SP) setelah kembali bekerja di instansi tersebut dengan status sebagai PPPK.

    1. SP pertama yang terbit pada 13 Maret 2025 menyatakan bahwa Sandi dianggap melanggar aturan karena tidak masuk kerja pada hari piketnya pada 12 Maret 2025.

    2. SP kedua yang terbit pada 17 Maret 2025 menyebutkan bahwa Sandi telah lalai dan tidak mengikuti apel pagi.

    3. Lalu, SP ketiga yang terbit pada 18 Maret 2025 bernomor 800/30-BJS menyatakan bahwa Sandi melanggar dalam pemakaian fasilitas Dinas Damkar tanpa izin berupa pengoperasian unit tempur milik mako kembang.

    4. Sementara itu, SP keempat yang terbit pada 20 Maret 2025 dengan nomor surat 800/31-BJS menjelaskan bahwa Sandi Butar Butar melakukan pelanggaran berupa pemberian informasi yang berkaitan dengan tugas dan kewajiban kedinasan kepada pihak luar tanpa adanya izin atasan.

    Terkait dengan SP pertama, Sandi menjelaskan bahwa absen hari itu telah ia laporkan kepada Tesy dan komandan regu (danru)-nya karena ada urusan keluarga.

    Sandi menjanjikan untuk kembali masuk pada waktu piket berikutnya, yaitu Jumat (14/3/2025).

    Perihal SP kedua, Sandi berdalih, sebelum terbitnya SP tersebut, ia sudah mencoba mengomunikasikan kondisinya yang tidak memiliki motor kepada Dinas Damkar terkait penempatan kerjanya di UPT Bojongsari.

    “Mereka sudah saya coba komunikasikan kalau jauh saya siap, tapi saya enggak ada kendaraan, dan mereka bilang iya,” ujarnya.

    “Saya enggak tahu. Saya bebas, mereka mau melakukan apa saja ke saya, saya enggak takut selama benar, bukan cari pembenaran.”

    “Tapi kalau orang lain jadi saya, gimana? Melawan atau tidak. Padahal sudah diam, baik, tapi dicari kesalahan,” tandasnya.

    Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Jadi Damkar Perempuan Terlama di Depok, Tessy Haryati: Kalau demi Kebaikan, 1.000 Malaikat Pasti Tolong dan Ini Isi Surat Pemecatan Sandi Butar Butar dari Damkar Depok

    (Tribunnews.com/Rakli) (Kompas.com/Retno Ayuningrum/Dinda Aulia Ramadhanty)