Category: Medcom.id News

  • Perjalanan Reflektif Menuju Identitas dan Inovasi

    Perjalanan Reflektif Menuju Identitas dan Inovasi

    Jakarta: Diplomat Success Challenge (DSC) memasuki musim ke-16. Pada musim ini DSC mengusung tema “Wujud Sinergi Kolaborasi”.

    Program Initiator Diplomat Success Challenge, Edric Chandra mengungkap latar belakang dan tujuan mengusung tema “Wujud Sinergi Kolaborasi” pada DSC musim ke-16. Edric menjelaskan di tengah lanskap ekonomi yang dipenuhi kecemasan, gelombang PHK hingga resesi ini perlu berhenti sejenak.

    Bukan untuk menyerah, tapi untuk bercermin. Dan tema DSC musim ke-16 “Wujud Sinergi Kolaborasi” merupakan cermin dari kondisi zaman. Ia menyebutnya sebagai reflective action atau respon sadar terhadap tantangan nyata, sekaligus undangan untuk bergerak bersama.

    “Kami percaya, perubahan besar tidak bisa lahir dari ego sektoral. Ia hanya mungkin terjadi saat lintas generasi, lintas sektor, dan lintas nilai bertemu dalam satu ruang yang aman dan konkret,” kata Edric di Jakarta.

    “DSC ingin menjadi ruang itu. Bukan hanya tempat pitching ide bisnis, tapi ekosistem tempat kita bisa saling menguatkan, berkolaborasi, dan menciptakan nilai bersama”.
    Kolaborasi Bukan Sekadar Kata
    Seringkali, kata “kolaborasi” kehilangan makna karena terlalu sering diucapkan, terlalu jarang dijalankan. Maka, kami di DSC memilih untuk menunjukkan, bukan sekadar menyebut.

    “Tahun ini, kami mengikat sinergi strategis dengan Food Startup Indonesia, APINDO, dan komunitas budaya yang akan segera kami umumkan. Lebih dari 100 kolaborator—termasuk para alumni DSC yang tergabung dalam Diplomat Entrepreneur Network (DEN)—telah aktif menjadi bagian dari gerakan ini,” katanya.

    Salah satu inisiatif nyatanya adalah lahirnya koperasi Detak Ekonomi Nusantara, yang menjadi ruang usaha bersama sekaligus entitas bisnis independen. Ini bukan sekadar aktivitas. Ini adalah proses membangun ekosistem yang hidup. Yang tidak hanya menunggu komando dari pusat, tapi bisa saling men-trigger perubahan dari berbagai penjuru.
     

     

    Mencari Identitas di Tengah Gelombang Inovasi
    Lebih lanjut ia mengajak untuk menggali lebih jauh arti inovasi. Menurutnya penting untuk tetap menjaga identitas Indonesia terus mengakar di tengah inovasi yang terus berkembang pesat.

    “Di era teknologi—dengan AI, blockchain, bioteknologi, dan segala perangkat canggih lainnya, tantangan kita bukan hanya soal mengejar. Tapi soal mengakar. Budaya Indonesia punya semua bahan baku untuk jadi kekuatan global. Tapi apakah kita cukup mengenal diri untuk menciptakan sesuatu yang otentik? Atau justru hanya meniru dunia, lupa bahwa kita punya identitas sendiri?,” ungkapnya.

    Edric percaya bahwa budaya adalah  fondasi inovasi paling kokoh. Menurutnya ketika tradisi bertemu teknologi dan ketika identitas bertemu percepatan maka bukan hanya menghasilkan produk tapi juga membangun masa depan yang bermakna.

    “Itulah mengapa kami terus mendorong kolaborasi antara pelaku budaya dan pelaku usaha, antara pasar lokal dan peluang global,” jelasnya.
    Kewirausahaan adalah Kompas, Mental Pengusaha adalah Detak Jantung
    Edric menyebut di DSC kewirausahaan dilihat sebagai kompas, sebagai penunjuk arah. Tapi yang menjaga semangat tetap hidup adalah mentalitas wirausahanya.

    “Wirausaha bukan soal cetak biru. Ia soal passion, resiliensi, dan visi. Maka tugas kami bukan sekadar menyiapkan model bisnis, tapi membentuk manusia yang tahu ke mana ia ingin melangkah, dan dengan siapa ia ingin berjalan,” bebernya.

    “Kita tidak mengubah definisi perusahaan. Tapi kita merekonstruksi maknanya agar selaras dengan generasi baru. Lebih inklusif, lebih relevan, lebih membumi. Kita tidak menuntut mereka langsung dewasa, tapi kita memberi mereka alat dan ruang untuk bertumbuh”.
    Menjadi Gerakan, Bukan Sekadar Program
    Edric menegaskan DSC tidak pernah dimaksudkan menjadi panggung satu arah, tapi menjadi gerakan. Tempat di mana kolaborasi bukan hanya slogan, tapi sistem hidup yang saling mendukung. 

    “Tempat di mana inovasi tak harus lahir dari Silicon Valley, tapi bisa berakar dari warung kecil, pasar tradisional, atau galeri seni di pelosok negeri,” jelasnya.

    Dari semua itu yang paling penting adalah di DSC percaya bahwa masa depan tidak hanya dibangun oleh teknologi, tapi oleh manusia yang mengerti siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan untuk apa ia berinovasi.

    “Perjalanan reflektif menuju identitas dan inovasi ini bukan akhir—ini adalah awal dari generasi wirausahawan Indonesia yang tak hanya mampu bersaing, tapi juga berakar, berkarakter, dan berdaya cipta,” tegasnya.

    Jakarta: Diplomat Success Challenge (DSC) memasuki musim ke-16. Pada musim ini DSC mengusung tema “Wujud Sinergi Kolaborasi”.
     
    Program Initiator Diplomat Success Challenge, Edric Chandra mengungkap latar belakang dan tujuan mengusung tema “Wujud Sinergi Kolaborasi” pada DSC musim ke-16. Edric menjelaskan di tengah lanskap ekonomi yang dipenuhi kecemasan, gelombang PHK hingga resesi ini perlu berhenti sejenak.
     
    Bukan untuk menyerah, tapi untuk bercermin. Dan tema DSC musim ke-16 “Wujud Sinergi Kolaborasi” merupakan cermin dari kondisi zaman. Ia menyebutnya sebagai reflective action atau respon sadar terhadap tantangan nyata, sekaligus undangan untuk bergerak bersama.

    “Kami percaya, perubahan besar tidak bisa lahir dari ego sektoral. Ia hanya mungkin terjadi saat lintas generasi, lintas sektor, dan lintas nilai bertemu dalam satu ruang yang aman dan konkret,” kata Edric di Jakarta.
     
    “DSC ingin menjadi ruang itu. Bukan hanya tempat pitching ide bisnis, tapi ekosistem tempat kita bisa saling menguatkan, berkolaborasi, dan menciptakan nilai bersama”.

    Kolaborasi Bukan Sekadar Kata
    Seringkali, kata “kolaborasi” kehilangan makna karena terlalu sering diucapkan, terlalu jarang dijalankan. Maka, kami di DSC memilih untuk menunjukkan, bukan sekadar menyebut.
     
    “Tahun ini, kami mengikat sinergi strategis dengan Food Startup Indonesia, APINDO, dan komunitas budaya yang akan segera kami umumkan. Lebih dari 100 kolaborator—termasuk para alumni DSC yang tergabung dalam Diplomat Entrepreneur Network (DEN)—telah aktif menjadi bagian dari gerakan ini,” katanya.
     
    Salah satu inisiatif nyatanya adalah lahirnya koperasi Detak Ekonomi Nusantara, yang menjadi ruang usaha bersama sekaligus entitas bisnis independen. Ini bukan sekadar aktivitas. Ini adalah proses membangun ekosistem yang hidup. Yang tidak hanya menunggu komando dari pusat, tapi bisa saling men-trigger perubahan dari berbagai penjuru.
     

     

    Mencari Identitas di Tengah Gelombang Inovasi
    Lebih lanjut ia mengajak untuk menggali lebih jauh arti inovasi. Menurutnya penting untuk tetap menjaga identitas Indonesia terus mengakar di tengah inovasi yang terus berkembang pesat.
     
    “Di era teknologi—dengan AI, blockchain, bioteknologi, dan segala perangkat canggih lainnya, tantangan kita bukan hanya soal mengejar. Tapi soal mengakar. Budaya Indonesia punya semua bahan baku untuk jadi kekuatan global. Tapi apakah kita cukup mengenal diri untuk menciptakan sesuatu yang otentik? Atau justru hanya meniru dunia, lupa bahwa kita punya identitas sendiri?,” ungkapnya.
     
    Edric percaya bahwa budaya adalah  fondasi inovasi paling kokoh. Menurutnya ketika tradisi bertemu teknologi dan ketika identitas bertemu percepatan maka bukan hanya menghasilkan produk tapi juga membangun masa depan yang bermakna.
     
    “Itulah mengapa kami terus mendorong kolaborasi antara pelaku budaya dan pelaku usaha, antara pasar lokal dan peluang global,” jelasnya.
    Kewirausahaan adalah Kompas, Mental Pengusaha adalah Detak Jantung
    Edric menyebut di DSC kewirausahaan dilihat sebagai kompas, sebagai penunjuk arah. Tapi yang menjaga semangat tetap hidup adalah mentalitas wirausahanya.
     
    “Wirausaha bukan soal cetak biru. Ia soal passion, resiliensi, dan visi. Maka tugas kami bukan sekadar menyiapkan model bisnis, tapi membentuk manusia yang tahu ke mana ia ingin melangkah, dan dengan siapa ia ingin berjalan,” bebernya.
     
    “Kita tidak mengubah definisi perusahaan. Tapi kita merekonstruksi maknanya agar selaras dengan generasi baru. Lebih inklusif, lebih relevan, lebih membumi. Kita tidak menuntut mereka langsung dewasa, tapi kita memberi mereka alat dan ruang untuk bertumbuh”.
    Menjadi Gerakan, Bukan Sekadar Program
    Edric menegaskan DSC tidak pernah dimaksudkan menjadi panggung satu arah, tapi menjadi gerakan. Tempat di mana kolaborasi bukan hanya slogan, tapi sistem hidup yang saling mendukung. 
     
    “Tempat di mana inovasi tak harus lahir dari Silicon Valley, tapi bisa berakar dari warung kecil, pasar tradisional, atau galeri seni di pelosok negeri,” jelasnya.
     
    Dari semua itu yang paling penting adalah di DSC percaya bahwa masa depan tidak hanya dibangun oleh teknologi, tapi oleh manusia yang mengerti siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan untuk apa ia berinovasi.
     
    “Perjalanan reflektif menuju identitas dan inovasi ini bukan akhir—ini adalah awal dari generasi wirausahawan Indonesia yang tak hanya mampu bersaing, tapi juga berakar, berkarakter, dan berdaya cipta,” tegasnya.
     

     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (RUL)

  • Havaianas dan Lucas di Grassi Ajak Masyarakat Break The Rush

    Havaianas dan Lucas di Grassi Ajak Masyarakat Break The Rush

    Jakarta: Dua ikon global asal Brasil bertemu di Jakarta untuk menyampaikan pesan sederhana, namun relevan di era modern: melambat sejenak di tengah kehidupan yang serba cepat. Dalam semangat kampanye global Break The Rush, Havaianas menjalin kolaborasi spesial bersama pembalap Formula E dunia, Lucas di Grassi, selama ajang balap Jakarta E-Prix 2025.

    Kolaborasi ini menjadi pengingat bahwa bahkan di tengah lingkungan yang penuh adrenalin seperti Formula E, kita tetap bisa mengambil jeda dan menemukan ketenangan dalam keseharian.

    Dengan latar belakang kariernya sebagai juara dunia Formula E sekaligus duta besar United Nations Environment Programme yang aktif mempromosikan keberlanjutan lingkungan, Lucas di Grassi merepresentasikan harmoni antara semangat untuk menjadi yang tercepat, dan kesadaran akan pentingnya untuk melambat sejenak.

    Di sela jadwal balapnya di Jakarta, Lucas juga menyempatkan diri mengunjungi gerai Havaianas di Pondok Indah Mall 2 untuk mengenakan sandal favoritnya, bersantai, dan menikmati pengalaman menjadi dirinya sendiri di luar lintasan balap.

    “Saya dan Havaianas sama-sama berasal dari Brasil, di mana kami mementingkan kebebasan untuk menikmati hidup tanpa beban. Hidup saya penuh dengan kecepatan dan tekanan di sirkuit balap, di mana saya selalu ingin menjadi yang paling cepat,” kata Lucas di Grassi, pembalap Formula E.

    “Tapi justru karena itu, saya belajar pentingnya mengambil waktu untuk berhenti sejenak dan kembali ke diri sendiri. Waktu beristirahat yang bermakna membuat saya tetap fokus, dan membawa performa yang paling maksimal di sirkuit.”

    Kolaborasi ini memperkuat posisi Havaianas sebagai brand gaya hidup yang mengajak masyarakat untuk menikmati hidup tanpa terburu-buru. Tidak hanya hadir di pantai atau kota-kota tropis, semangat Havaianas juga hidup di tengah dunia motorsport. Kehadiran logo Havaianas di mobil balap Lucas menjadi simbol visual dari kolaborasi ini, yaitu kontras yang merepresentasikan harmoni dan keseimbangan antara kecepatan dan ketenangan.

    “Kolaborasi ini terasa sangat relevan karena menyatukan dua simbol kebanggaan Brasil, yaitu Havaianas dan Lucas di Grassi, dalam satu momen yang bermakna. Melalui kampanye ‘Break The Rush’, Havaianas berharap bahwa kerja sama kami dengan Lucas di Grassi dapat mengingatkan fans motorsport dan masyarakat umum untuk menemukan momen jeda dan kebahagiaan dalam hal-hal kecil, terutama di tengah gaya hidup yang sangat fast-paced,” ujar Lee Walker, VP Footwear & Active Kanmo Group.

    Dengan kolaborasi ini, Havaianas terus memperluas makna gaya hidup bebas dan ekspresif, tak hanya lewat sandal flip-flop yang ikonik, tetapi juga melalui kolaborasi dengan tokoh yang menginspirasi.

    Jakarta: Dua ikon global asal Brasil bertemu di Jakarta untuk menyampaikan pesan sederhana, namun relevan di era modern: melambat sejenak di tengah kehidupan yang serba cepat. Dalam semangat kampanye global Break The Rush, Havaianas menjalin kolaborasi spesial bersama pembalap Formula E dunia, Lucas di Grassi, selama ajang balap Jakarta E-Prix 2025.
     
    Kolaborasi ini menjadi pengingat bahwa bahkan di tengah lingkungan yang penuh adrenalin seperti Formula E, kita tetap bisa mengambil jeda dan menemukan ketenangan dalam keseharian.
     
    Dengan latar belakang kariernya sebagai juara dunia Formula E sekaligus duta besar United Nations Environment Programme yang aktif mempromosikan keberlanjutan lingkungan, Lucas di Grassi merepresentasikan harmoni antara semangat untuk menjadi yang tercepat, dan kesadaran akan pentingnya untuk melambat sejenak.

    Di sela jadwal balapnya di Jakarta, Lucas juga menyempatkan diri mengunjungi gerai Havaianas di Pondok Indah Mall 2 untuk mengenakan sandal favoritnya, bersantai, dan menikmati pengalaman menjadi dirinya sendiri di luar lintasan balap.
     
    “Saya dan Havaianas sama-sama berasal dari Brasil, di mana kami mementingkan kebebasan untuk menikmati hidup tanpa beban. Hidup saya penuh dengan kecepatan dan tekanan di sirkuit balap, di mana saya selalu ingin menjadi yang paling cepat,” kata Lucas di Grassi, pembalap Formula E.
     
    “Tapi justru karena itu, saya belajar pentingnya mengambil waktu untuk berhenti sejenak dan kembali ke diri sendiri. Waktu beristirahat yang bermakna membuat saya tetap fokus, dan membawa performa yang paling maksimal di sirkuit.”
     
    Kolaborasi ini memperkuat posisi Havaianas sebagai brand gaya hidup yang mengajak masyarakat untuk menikmati hidup tanpa terburu-buru. Tidak hanya hadir di pantai atau kota-kota tropis, semangat Havaianas juga hidup di tengah dunia motorsport. Kehadiran logo Havaianas di mobil balap Lucas menjadi simbol visual dari kolaborasi ini, yaitu kontras yang merepresentasikan harmoni dan keseimbangan antara kecepatan dan ketenangan.
     
    “Kolaborasi ini terasa sangat relevan karena menyatukan dua simbol kebanggaan Brasil, yaitu Havaianas dan Lucas di Grassi, dalam satu momen yang bermakna. Melalui kampanye ‘Break The Rush’, Havaianas berharap bahwa kerja sama kami dengan Lucas di Grassi dapat mengingatkan fans motorsport dan masyarakat umum untuk menemukan momen jeda dan kebahagiaan dalam hal-hal kecil, terutama di tengah gaya hidup yang sangat fast-paced,” ujar Lee Walker, VP Footwear & Active Kanmo Group.
     
    Dengan kolaborasi ini, Havaianas terus memperluas makna gaya hidup bebas dan ekspresif, tak hanya lewat sandal flip-flop yang ikonik, tetapi juga melalui kolaborasi dengan tokoh yang menginspirasi.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (MMI)

  • Toshiba Rayakan International Yoga Day di Candi Prambanan

    Toshiba Rayakan International Yoga Day di Candi Prambanan

    Jakarta: Dalam rangka memperingati International Yoga Day, Toshiba Lifestyle Indonesia menggelar kegiatan yoga bersama di kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta, pada Sabtu, 21 Juni 2025.

    Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 200 peserta dan dilaksanakan bekerja sama dengan Perkumpulan Praktisi Yoga Nasional Indonesia (PPYNI) dan Kunala Studio. Dengan latar megah warisan budaya dunia, acara ini menjadi simbol harmonis antara tradisi dan gaya hidup modern yang semakin menempatkan kesehatan fisik dan mental sebagai prioritas.

    Acara ini juga menjadi bagian dari rangkaian Toshiba Wellness Day, sebuah inisiatif tahunan Toshiba untuk menginspirasi masyarakat menjalani hidup sehat.

    Tahun ini menjadi tahun kedua penyelenggaraan Toshiba Wellness Day, setelah sebelumnya sukses diadakan dengan semangat yang sama: mengajak masyarakat untuk lebih peduli pada keseimbangan hidup melalui aktivitas fisik dan kebiasaan sehat di rumah.

    Tahun ini, kick-off Toshiba Wellness Day bertepatan dengan perayaan International Yoga Day, memperkuat pesan bahwa gaya hidup sehat dapat dimulai dari langkah kecil dan menyenangkan.

    Melalui partisipasinya dalam perayaan International Yoga Day 2025, Toshiba Lifestyle Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendukung gaya hidup sehat masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Tak hanya lewat kampanye dan aktivitas fisik seperti yoga, Toshiba juga menghadirkan rangkaian produk rumah tangga yang dirancang untuk membantu keluarga Indonesia menjalani pola hidup sehat dengan lebih mudah, praktis, dan konsisten di rumah.

    Dalam kesempatan ini, peserta diajak untuk mengikuti yoga pagi bersama yang kemudian dilanjutkan dengan sesi pengenalan produk-produk Toshiba yang mendukung pola makan sehat. Para peserta menikmati healthy snack dan minuman yang diolah langsung menggunakan perangkat Toshiba, antara lain air fryer Toshiba AF-74CS1TRID(H) yang mampu menggoreng tanpa minyak dengan hasil tetap garing dan lembut di dalam.

    Kemudian, rice cooker Toshiba RC-18IR1TID(S) yang dapat mengurangi kadar gula pada nasi hingga 41% dan disajikan dalam bentuk seaweed rice ball, serta water dispenser RWF-W1830UVBN (T) yang dilengkapi teknologi UV filter untuk menyajikan air minum higienis yang terbebas dari 99% bakteri.

    Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan berbagai permainan interaktif dan pembagian hadiah menarik, menjadikan momen perayaan ini tak hanya penuh manfaat, tetapi juga menyenangkan dan mendekatkan gaya hidup sehat dengan cara yang lebih membumi.

    “Perayaan International Yoga Day melalui Toshiba Wellness Day tahun ini menjadi cara kami untuk terhubung lebih dekat dengan masyarakat yang peduli akan hidup sehat. Toshiba memahami bahwa gaya hidup sehat tidak hanya dimulai dari olahraga, tetapi juga dari pilihan kecil sehari-hari di rumah. Lewat inovasi produk kami, kami ingin membantu masyarakat untuk hidup lebih sehat, praktis, dan nyaman,” ujar Hafizh Maulana, Head of Marketing Toshiba Lifestyle Indonesia.

    Melalui kolaborasi ini, Toshiba berharap dapat terus menjadi mitra masyarakat dalam perjalanan menuju gaya hidup yang lebih seimbang dan berkualitas. Tidak hanya dengan menghadirkan teknologi inovatif, tetapi juga melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan yang memperkuat kesadaran akan pentingnya kesehatan tubuh dan mental.

    International Yoga Day yang dirayakan setiap 21 Juni menjadi pengingat akan pentingnya yoga sebagai praktik yang mampu menciptakan keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Dalam beberapa tahun terakhir, yoga semakin diminati masyarakat urban Indonesia sebagai bentuk respons terhadap dinamika kehidupan modern yang padat dan penuh tekanan.

    “Tema international yoga day tahun ini adalah “Yoga for one Earth, one health” (yoga untuk satu bumi, satu kesehatan), menegaskan keterikatan erat antara kesehatan individu dengan kesehatan planet/bumi. Kami senang berkolaborasi dengan Toshiba, karena Toshiba juga peduli pada pentingnya gaya/pola hidup sehat,” ujar Dian Riana, Lead Teacher & ketua PPYNI Provinsi DIY.

    Jakarta: Dalam rangka memperingati International Yoga Day, Toshiba Lifestyle Indonesia menggelar kegiatan yoga bersama di kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta, pada Sabtu, 21 Juni 2025.
     
    Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 200 peserta dan dilaksanakan bekerja sama dengan Perkumpulan Praktisi Yoga Nasional Indonesia (PPYNI) dan Kunala Studio. Dengan latar megah warisan budaya dunia, acara ini menjadi simbol harmonis antara tradisi dan gaya hidup modern yang semakin menempatkan kesehatan fisik dan mental sebagai prioritas.
     
    Acara ini juga menjadi bagian dari rangkaian Toshiba Wellness Day, sebuah inisiatif tahunan Toshiba untuk menginspirasi masyarakat menjalani hidup sehat.

    Tahun ini menjadi tahun kedua penyelenggaraan Toshiba Wellness Day, setelah sebelumnya sukses diadakan dengan semangat yang sama: mengajak masyarakat untuk lebih peduli pada keseimbangan hidup melalui aktivitas fisik dan kebiasaan sehat di rumah.
     
    Tahun ini, kick-off Toshiba Wellness Day bertepatan dengan perayaan International Yoga Day, memperkuat pesan bahwa gaya hidup sehat dapat dimulai dari langkah kecil dan menyenangkan.
     
    Melalui partisipasinya dalam perayaan International Yoga Day 2025, Toshiba Lifestyle Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendukung gaya hidup sehat masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Tak hanya lewat kampanye dan aktivitas fisik seperti yoga, Toshiba juga menghadirkan rangkaian produk rumah tangga yang dirancang untuk membantu keluarga Indonesia menjalani pola hidup sehat dengan lebih mudah, praktis, dan konsisten di rumah.
     
    Dalam kesempatan ini, peserta diajak untuk mengikuti yoga pagi bersama yang kemudian dilanjutkan dengan sesi pengenalan produk-produk Toshiba yang mendukung pola makan sehat. Para peserta menikmati healthy snack dan minuman yang diolah langsung menggunakan perangkat Toshiba, antara lain air fryer Toshiba AF-74CS1TRID(H) yang mampu menggoreng tanpa minyak dengan hasil tetap garing dan lembut di dalam.
     
    Kemudian, rice cooker Toshiba RC-18IR1TID(S) yang dapat mengurangi kadar gula pada nasi hingga 41% dan disajikan dalam bentuk seaweed rice ball, serta water dispenser RWF-W1830UVBN (T) yang dilengkapi teknologi UV filter untuk menyajikan air minum higienis yang terbebas dari 99% bakteri.
     
    Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan berbagai permainan interaktif dan pembagian hadiah menarik, menjadikan momen perayaan ini tak hanya penuh manfaat, tetapi juga menyenangkan dan mendekatkan gaya hidup sehat dengan cara yang lebih membumi.
     
    “Perayaan International Yoga Day melalui Toshiba Wellness Day tahun ini menjadi cara kami untuk terhubung lebih dekat dengan masyarakat yang peduli akan hidup sehat. Toshiba memahami bahwa gaya hidup sehat tidak hanya dimulai dari olahraga, tetapi juga dari pilihan kecil sehari-hari di rumah. Lewat inovasi produk kami, kami ingin membantu masyarakat untuk hidup lebih sehat, praktis, dan nyaman,” ujar Hafizh Maulana, Head of Marketing Toshiba Lifestyle Indonesia.
     
    Melalui kolaborasi ini, Toshiba berharap dapat terus menjadi mitra masyarakat dalam perjalanan menuju gaya hidup yang lebih seimbang dan berkualitas. Tidak hanya dengan menghadirkan teknologi inovatif, tetapi juga melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan yang memperkuat kesadaran akan pentingnya kesehatan tubuh dan mental.
     
    International Yoga Day yang dirayakan setiap 21 Juni menjadi pengingat akan pentingnya yoga sebagai praktik yang mampu menciptakan keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Dalam beberapa tahun terakhir, yoga semakin diminati masyarakat urban Indonesia sebagai bentuk respons terhadap dinamika kehidupan modern yang padat dan penuh tekanan.
     
    “Tema international yoga day tahun ini adalah “Yoga for one Earth, one health” (yoga untuk satu bumi, satu kesehatan), menegaskan keterikatan erat antara kesehatan individu dengan kesehatan planet/bumi. Kami senang berkolaborasi dengan Toshiba, karena Toshiba juga peduli pada pentingnya gaya/pola hidup sehat,” ujar Dian Riana, Lead Teacher & ketua PPYNI Provinsi DIY.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (MMI)

  • Satu Orang Tewas, Ini Fakta-fakta Tawuran Antarremaja di Jatinegara

    Satu Orang Tewas, Ini Fakta-fakta Tawuran Antarremaja di Jatinegara

    Jakarta: Tawuran antarremaja terjadi di sekitar pintu Tol Kebon Nanas, Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu, 22 Juni 2025 dini hari. 

    Tawuran ini mengakibatkan seorang remaja berinisial A, 18 tewas akibat luka bacokan. Berikut ini fakta-fakta tawuran di Jatinegara:
    Korban sempat dilarikan di RS

    Kapolsek Jatinegara Kompol Samsono menjelaskan, korban terluka di beberapa bagian tubuh. Korban sempat dilarikan ke RS Premier Jatinegara namun nyawanya tak tertolong.

    “Korban dinyatakan meninggal dunia sekira pukul 02.35 WIB kemudian korban dibawa ke Rumah Sakit Polri pada pukul 06.00 WIB,” kata Samono.
     

     

    Luka bacokan di leher

    Korban mengalami luka bacokan di beberapa bagian tubuhnya. Selain itu, hasil pemeriksaan diketahui ada luka bacok di bagian leher sebelah kiri, luka bacok di tangan sebelah kiri, kemudian luka bacok di jari tangan dan kaki sebelah kiri. 

    Terkait kejadian ini, polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). 
     
    Polisi periksa saksi

    Selain itu, Samsono mengatakan pihaknya juga memeriksa beberapa orang saksi, di antaranya dua orang yang saat itu mengantar korban ke rumah RS Premier Jatinegara.

    “Anggota kami langsung amankan dua orang tersebut dan dibawa ke Polsek untuk dimintai keterangan,” ucapnya.

    Jakarta: Tawuran antarremaja terjadi di sekitar pintu Tol Kebon Nanas, Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu, 22 Juni 2025 dini hari. 
     
    Tawuran ini mengakibatkan seorang remaja berinisial A, 18 tewas akibat luka bacokan. Berikut ini fakta-fakta tawuran di Jatinegara:

    Korban sempat dilarikan di RS

    Kapolsek Jatinegara Kompol Samsono menjelaskan, korban terluka di beberapa bagian tubuh. Korban sempat dilarikan ke RS Premier Jatinegara namun nyawanya tak tertolong.
     
    “Korban dinyatakan meninggal dunia sekira pukul 02.35 WIB kemudian korban dibawa ke Rumah Sakit Polri pada pukul 06.00 WIB,” kata Samono.
     

     

    Luka bacokan di leher

    Korban mengalami luka bacokan di beberapa bagian tubuhnya. Selain itu, hasil pemeriksaan diketahui ada luka bacok di bagian leher sebelah kiri, luka bacok di tangan sebelah kiri, kemudian luka bacok di jari tangan dan kaki sebelah kiri. 

    Terkait kejadian ini, polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). 
     

    Polisi periksa saksi

    Selain itu, Samsono mengatakan pihaknya juga memeriksa beberapa orang saksi, di antaranya dua orang yang saat itu mengantar korban ke rumah RS Premier Jatinegara.
     
    “Anggota kami langsung amankan dua orang tersebut dan dibawa ke Polsek untuk dimintai keterangan,” ucapnya.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (PRI)

  • Di Tengah Tren Guppy hingga Glowfish, Koi Tetap Jadi Primadona

    Di Tengah Tren Guppy hingga Glowfish, Koi Tetap Jadi Primadona

    Jakarta:  Indonesia kian menegaskan posisinya sebagai salah satu sentra industri ikan hias dunia. Data Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) menunjukkan nilai ekspor ikan hias nasional pada 2023 menembus Rp624 miliar.  Angka ini tumbuh tujuh persen dibandingkan tahun sebelumnya.

    Di tengah tren guppy, molly, glowfish, hingga ikan predator, ikan koi tetap menjadi primadona berkat reputasinya sebagai simbol estetika dan kemakmuran. Para penghobi kini berlomba mempercepat pertumbuhan koi agar proporsional dan berpostur bulky demi kebutuhan kontes maupun koleksi pribadi. 

    Menjawab kebutuhan tersebut, PT Central Windu Sejati (CPPETINDO) resmi memperkenalkan SANKOI Growth, pakan inovatif yang diformulasikan untuk membantu koi tumbuh hingga 20 persen lebih cepat tanpa mengorbankan kejernihan air kolam.  Produk ini memadukan tepung ikan asal Peru sebagai sumber protein hewani berkualitas tinggi, lisin untuk pembentukan jaringan tubuh, wheat germ yang mempercepat penyerapan nutrisi sekaligus menjaga imunitas, serta probiotik yang menyehatkan saluran pencernaan dan menekan limbah amonia.

    Aroma dan rasa yang disesuaikan dengan preferensi koi membuat pakan ini sangat mudah diterima ikan, sehingga asupan gizi terserap optimal. Peluncuran SANKOI Growth melengkapi portofolio pakan koi CPPETINDO setelah SANKOI Spirulina yang berfokus pada perawatan warna.

    “Formulasi terbaru ini dirampungkan melalui masukan komunitas koi nasional, antara lain program “CPPETINDO Berdering” gathering bersama para breeder dan “CP Fishtival ajang kolaboratif pelaku pasar ikan hias.
     

    Kolaborasi tersebut memperkuat komitmen CPPETINDO dalam menyediakan alternatif pakan koi berkualitas buatan Indonesia dan mendukung rantai pasok lokal yang berkelanjutan. SANKOI Growth diperkenalkan untuk pertama kalinya kepada publik dalam ajang NUSATIC NUSAPET 2025, pameran ikan hias terbesar di Indonesia, yang berlangsung hari ini.

    Selama pameran, pengunjung dapat menyaksikan demonstrasi penggunaan pakan, memanfaatkan promo diskon peluncuran, dan berdiskusi langsung dengan sejumlah influencer hobi koi. “Peluncuran SANKOI Growth adalah wujud komitmen kami menyediakan solusi yang tepat bagi penghobi koi Tanah Air. Kami merancang produk ini agar koi mencapai pertumbuhan ideal dalam waktu optimal, sekaligus menjaga kualitas air kolam,” ujar Head of Marketing CPPETINDO, Hengky Jaya dalam siaran persnya, Senin, 23 Juni 2025.

    Setelah debut di NUSATIC 2025, SANKOI Growth akan tersedia di jaringan toko akuarium dan pakan ikan di seluruh Indonesia. Kehadirannya diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan koi secara sehat dan konsisten, mendukung industri ikan hias nasional, dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

    Jakarta:  Indonesia kian menegaskan posisinya sebagai salah satu sentra industri ikan hias dunia. Data Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) menunjukkan nilai ekspor ikan hias nasional pada 2023 menembus Rp624 miliar.  Angka ini tumbuh tujuh persen dibandingkan tahun sebelumnya.
     
    Di tengah tren guppy, molly, glowfish, hingga ikan predator, ikan koi tetap menjadi primadona berkat reputasinya sebagai simbol estetika dan kemakmuran. Para penghobi kini berlomba mempercepat pertumbuhan koi agar proporsional dan berpostur bulky demi kebutuhan kontes maupun koleksi pribadi. 
     
    Menjawab kebutuhan tersebut, PT Central Windu Sejati (CPPETINDO) resmi memperkenalkan SANKOI Growth, pakan inovatif yang diformulasikan untuk membantu koi tumbuh hingga 20 persen lebih cepat tanpa mengorbankan kejernihan air kolam.  Produk ini memadukan tepung ikan asal Peru sebagai sumber protein hewani berkualitas tinggi, lisin untuk pembentukan jaringan tubuh, wheat germ yang mempercepat penyerapan nutrisi sekaligus menjaga imunitas, serta probiotik yang menyehatkan saluran pencernaan dan menekan limbah amonia.

    Aroma dan rasa yang disesuaikan dengan preferensi koi membuat pakan ini sangat mudah diterima ikan, sehingga asupan gizi terserap optimal. Peluncuran SANKOI Growth melengkapi portofolio pakan koi CPPETINDO setelah SANKOI Spirulina yang berfokus pada perawatan warna.
     
    “Formulasi terbaru ini dirampungkan melalui masukan komunitas koi nasional, antara lain program “CPPETINDO Berdering” gathering bersama para breeder dan “CP Fishtival ajang kolaboratif pelaku pasar ikan hias.
     

    Kolaborasi tersebut memperkuat komitmen CPPETINDO dalam menyediakan alternatif pakan koi berkualitas buatan Indonesia dan mendukung rantai pasok lokal yang berkelanjutan. SANKOI Growth diperkenalkan untuk pertama kalinya kepada publik dalam ajang NUSATIC NUSAPET 2025, pameran ikan hias terbesar di Indonesia, yang berlangsung hari ini.
     
    Selama pameran, pengunjung dapat menyaksikan demonstrasi penggunaan pakan, memanfaatkan promo diskon peluncuran, dan berdiskusi langsung dengan sejumlah influencer hobi koi. “Peluncuran SANKOI Growth adalah wujud komitmen kami menyediakan solusi yang tepat bagi penghobi koi Tanah Air. Kami merancang produk ini agar koi mencapai pertumbuhan ideal dalam waktu optimal, sekaligus menjaga kualitas air kolam,” ujar Head of Marketing CPPETINDO, Hengky Jaya dalam siaran persnya, Senin, 23 Juni 2025.
     
    Setelah debut di NUSATIC 2025, SANKOI Growth akan tersedia di jaringan toko akuarium dan pakan ikan di seluruh Indonesia. Kehadirannya diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan koi secara sehat dan konsisten, mendukung industri ikan hias nasional, dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (CEU)

  • 9 Tahun Berturut-turut, BAT Indonesia Raih Best Companies to Work for in Asia 2025

    9 Tahun Berturut-turut, BAT Indonesia Raih Best Companies to Work for in Asia 2025

    Jakarta:  BAT Indonesia kembali meraih penghargaan Best Companies to Work for in Asia 2025. Tahun ini menjadi tahun kesembilan BAT Indonesia meraih penghargaan yang diselenggarakan oleh Business Media International (BMI).

    BAT Indonesia juga menjadi salah satu dari hanya 15 perusahaan yang berhasil meraih Golden Award, sebuah kategori khusus yang diberikan kepada perusahaan yang mampu mempertahankan pencapaian ini secara konsisten selama minimal lima tahun berturut-turut.

    HR Asia Award merupakan salah satu penghargaan paling bergengsi dalam bidang pengelolaan sumber daya manusia. Setiap perusahaan yang terpilih harus melalui serangkaian proses evaluasi ketat, mulai dari proses screening, survei internal kepada karyawan menggunakan Total Engagement Assessment Model (TEAM), proses audit independen, hingga sesi presentasi di hadapan dewan juri yang terdiri dari para profesional kredibel dari berbagai sektor industri.

    Direktur HR dan Inklusi BAT Indonesia, Jonathan Sembiring mengatakan, meraih penghargaan ini selama sembilan tahun berturut-turut tentu bukan sebuah pencapaian yang datang dengan sendirinya. Ini adalah pengakuan dari keseluruhan usaha yang dilakukan oleh bukan hanya tim HR BAT Indonesia tetapi seluruh karyawan di BAT Indonesia.

    ”BAT Indonesia memiliki komitmen yang kuat dalam menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan suportif bagi semua karyawan. Dalam pengelolaan sumber daya manusia kami konsisten untuk terus peduli, mengembangkan serta membangun budaya kerja yang positif, dan menyediakan ruang bagi setiap individu untuk bertumbuh dan berkembang,” ujarnya.

    Penghargaan ini bukan hanya menjadi bentuk pengakuan atas pencapaian organisasi, tetapi
    juga menjadi bukti nyata bahwa karyawan merupakan pusat dari setiap strategi dan inisiatif
    yang dijalankan oleh BAT Indonesia.

    Jakarta:  BAT Indonesia kembali meraih penghargaan Best Companies to Work for in Asia 2025. Tahun ini menjadi tahun kesembilan BAT Indonesia meraih penghargaan yang diselenggarakan oleh Business Media International (BMI).
     
    BAT Indonesia juga menjadi salah satu dari hanya 15 perusahaan yang berhasil meraih Golden Award, sebuah kategori khusus yang diberikan kepada perusahaan yang mampu mempertahankan pencapaian ini secara konsisten selama minimal lima tahun berturut-turut.
     
    HR Asia Award merupakan salah satu penghargaan paling bergengsi dalam bidang pengelolaan sumber daya manusia. Setiap perusahaan yang terpilih harus melalui serangkaian proses evaluasi ketat, mulai dari proses screening, survei internal kepada karyawan menggunakan Total Engagement Assessment Model (TEAM), proses audit independen, hingga sesi presentasi di hadapan dewan juri yang terdiri dari para profesional kredibel dari berbagai sektor industri.

    Direktur HR dan Inklusi BAT Indonesia, Jonathan Sembiring mengatakan, meraih penghargaan ini selama sembilan tahun berturut-turut tentu bukan sebuah pencapaian yang datang dengan sendirinya. Ini adalah pengakuan dari keseluruhan usaha yang dilakukan oleh bukan hanya tim HR BAT Indonesia tetapi seluruh karyawan di BAT Indonesia.
     
    ”BAT Indonesia memiliki komitmen yang kuat dalam menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan suportif bagi semua karyawan. Dalam pengelolaan sumber daya manusia kami konsisten untuk terus peduli, mengembangkan serta membangun budaya kerja yang positif, dan menyediakan ruang bagi setiap individu untuk bertumbuh dan berkembang,” ujarnya.
     
    Penghargaan ini bukan hanya menjadi bentuk pengakuan atas pencapaian organisasi, tetapi
    juga menjadi bukti nyata bahwa karyawan merupakan pusat dari setiap strategi dan inisiatif
    yang dijalankan oleh BAT Indonesia.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (CEU)

  • Apakah Talak Membutuhkan Saksi? Begini Penjelasannya

    Apakah Talak Membutuhkan Saksi? Begini Penjelasannya

    Jakarta: Pernikahan adalah salah satu ibadah yang dianjurkan dalam Islam. Namun tak sedikit pasangan yang harus mengakhiri pernikahan mereka dengan berbagai alasan. 

    Dalam Islam, talak atau perceraian adalah hal yang haram tanpa sebab. Rasulullah bersabda; “Perkara halal yang tidak disukai Allah adalah Talak,” demikian hadis riwayat Ibnu Majah, Abu Dawud, Baihaqi. 

    Talak sendiri memiliki definisi perceraian antara suami dan istri; lepasnya ikatan perkawinan. Lalu, pertanyaan yang muncul adalah apakah talak atau perceraian membutuhkan saksi? 

    Sebelum membahas hal tersebut ada baiknya kita mengenal rukun talak. Melansir NU Online, berikut ini rukun-rukun talak:

    Artinya: “Rukun-rukun talak ada lima, yakni orang yang mentalak (suami), sighat (redaksi talak), orang yang ditalak (istri), mempunyai otoritas, dan sengaja (tidak dipaksa).” (Syekh Khathib Asy-Syirbini, Mugnil Muhtaj, [Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah: 1415 H], jilid. 4, hlm. 455).

    Berdasarkan penjelasan Syekh Khathib Asy-Syirbini di atas, berikut adalah paparan lebih detail mengenai rukun-rukun talak:

    1. Orang yang menalak (suami)

    Talak bisa terjadi jika dilakukan oleh suami yang mukallaf, baligh, berakal, dan atas kemauan sendiri.   

    2. Sighat (redaksi talak)

    Talak bisa terjadi dengan menggunakan Bahasa Arab ataupun bahasa lainnya, baik yang disampaikan melalui lisan, tulisan, maupun isyarat.   

    3. Orang yang ditalak (istri)

    Talak bisa terjadi ketika yang ditalak tersebut adalah perempuan yang masih berstatus sebagai istri.

    4. Mempunyai otoritas

    Seseorang yang menjatuhkan talak harus memiliki otoritas atau kewenangan dalam menjatuhkan talak. Oleh karena itu, syarat mutlaknya adalah harus berstatus sebagai suami.   

    5. Tidak dipaksa

    Talak bisa terjadi ketika sang suami menggunakan kalimat talak memang bermaksud untuk mentalak, bukan untuk tujuan yang lain.  
     

     

    Apakah Talak Membutuhkan Saksi? 

    Berdasarkan keterangan mengenai rukun-rukun talak di atas, tidak ada satu pun rukun talak yang mewajibkan adanya saksi untuk talak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa talak tidak membutuhkan adanya saksi.

    Selain itu, Sayyid Sabiq dalam kitabnya, Fiqhus Sunnah mengatakan, sebagaimana pendapat mayoritas ulama, talak otomatis jatuh saat suami mengucapkannya, meski tanpa ada saksi. Berikut adalah kutipannya:

    Artinya: “Kebanyakan ulama salaf maupun khalaf  berpendapat bahwa talak jatuh meski tanpa saksi. Hal ini karena talak merupakan hak khusus bagi suami sehingga tidak butuh saksi saat melakukannya. Selain itu, tidak ada nash dari Nabi Saw. maupun sahabatnya tentang syariat mempersaksikan talak.”  (Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, [Beirut, Darul Kitab Al-‘Arabi: 1397 H], jilid 2, hlm. 257).

    Dari keterangan tersebut semakin jelas bahwa mayoritas ulama memang tidak mensyaratkan adanya saksi dalam talak ataupun cerai. Pasalnya, talak merupakan hak dari suami sehingga ketika ia mau menggunakan haknya tidak diharuskan adanya saksi. Begitu pula tidak ada dalil dari hadits Nabi saw maupun para sahabat yang mensyaratkan adanya saksi dalam talak.   

    Namun demikian, meskipun tidak diwajibkan adanya saksi, menurut Imam Fakhruddin ar-Razi, persaksian dalam talak hukumnya sunnah, agar tidak terjadi perselisihan nantinya antara suami dan istri. Selain itu, agar jangan sampai ketika suami telah meninggal ada perempuan yang mengaku masih menjadi istri sahnya, ataupun sebaliknya. 

    Berikut adalah paparan penjelasannya:

    Artinya: “Persaksian yang dimaksud dalam ayat ini hukumnya sunnah menurut madzhab Hanafi. Adapun menurut mazhab Syafi’i, persaksian hukumnya wajib dalam hal rujuk, dan hukumnya sunnah dalam hal talak (firqah). Ada yang berpendapat bahwa fungsi adanya saksi adalah agar di antara suami istri tidak ada perselisihan dan agar jangan sampai ketika suami telah meninggal ada perempuan yang mengaku masih menjadi istri sahnya, ataupun sebaliknya.” (Imam Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut, Daru Ihya’it Turats al-‘Arabi: 1420 H], jilid. 30, hlm. 562).

    Dari penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa menurut mayoritas ulama, talak tidaklah wajib mendatangkan saksi. Namun demikian, hukumnya sunnah mendatangkan saksi dalam proses talak, tujuannya agar di antara suami istri tidak ada perselisihan dan ketika suami telah meninggal dunia tidak ada perempuan yang mengaku masih menjadi istri sahnya, ataupun sebaliknya. 

    Jakarta: Pernikahan adalah salah satu ibadah yang dianjurkan dalam Islam. Namun tak sedikit pasangan yang harus mengakhiri pernikahan mereka dengan berbagai alasan. 
     
    Dalam Islam, talak atau perceraian adalah hal yang haram tanpa sebab. Rasulullah bersabda; “Perkara halal yang tidak disukai Allah adalah Talak,” demikian hadis riwayat Ibnu Majah, Abu Dawud, Baihaqi. 
     
    Talak sendiri memiliki definisi perceraian antara suami dan istri; lepasnya ikatan perkawinan. Lalu, pertanyaan yang muncul adalah apakah talak atau perceraian membutuhkan saksi? 

    Sebelum membahas hal tersebut ada baiknya kita mengenal rukun talak. Melansir NU Online, berikut ini rukun-rukun talak:
     

     
    Artinya: “Rukun-rukun talak ada lima, yakni orang yang mentalak (suami), sighat (redaksi talak), orang yang ditalak (istri), mempunyai otoritas, dan sengaja (tidak dipaksa).” (Syekh Khathib Asy-Syirbini, Mugnil Muhtaj, [Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah: 1415 H], jilid. 4, hlm. 455).
     
    Berdasarkan penjelasan Syekh Khathib Asy-Syirbini di atas, berikut adalah paparan lebih detail mengenai rukun-rukun talak:
     
    1. Orang yang menalak (suami)
     
    Talak bisa terjadi jika dilakukan oleh suami yang mukallaf, baligh, berakal, dan atas kemauan sendiri.   
     
    2. Sighat (redaksi talak)
     
    Talak bisa terjadi dengan menggunakan Bahasa Arab ataupun bahasa lainnya, baik yang disampaikan melalui lisan, tulisan, maupun isyarat.   
     
    3. Orang yang ditalak (istri)
     
    Talak bisa terjadi ketika yang ditalak tersebut adalah perempuan yang masih berstatus sebagai istri.
     
    4. Mempunyai otoritas
     
    Seseorang yang menjatuhkan talak harus memiliki otoritas atau kewenangan dalam menjatuhkan talak. Oleh karena itu, syarat mutlaknya adalah harus berstatus sebagai suami.   
     
    5. Tidak dipaksa
     
    Talak bisa terjadi ketika sang suami menggunakan kalimat talak memang bermaksud untuk mentalak, bukan untuk tujuan yang lain.  
     

     

    Apakah Talak Membutuhkan Saksi? 

    Berdasarkan keterangan mengenai rukun-rukun talak di atas, tidak ada satu pun rukun talak yang mewajibkan adanya saksi untuk talak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa talak tidak membutuhkan adanya saksi.
     
    Selain itu, Sayyid Sabiq dalam kitabnya, Fiqhus Sunnah mengatakan, sebagaimana pendapat mayoritas ulama, talak otomatis jatuh saat suami mengucapkannya, meski tanpa ada saksi. Berikut adalah kutipannya:
     

     
    Artinya: “Kebanyakan ulama salaf maupun khalaf  berpendapat bahwa talak jatuh meski tanpa saksi. Hal ini karena talak merupakan hak khusus bagi suami sehingga tidak butuh saksi saat melakukannya. Selain itu, tidak ada nash dari Nabi Saw. maupun sahabatnya tentang syariat mempersaksikan talak.”  (Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, [Beirut, Darul Kitab Al-‘Arabi: 1397 H], jilid 2, hlm. 257).
     
    Dari keterangan tersebut semakin jelas bahwa mayoritas ulama memang tidak mensyaratkan adanya saksi dalam talak ataupun cerai. Pasalnya, talak merupakan hak dari suami sehingga ketika ia mau menggunakan haknya tidak diharuskan adanya saksi. Begitu pula tidak ada dalil dari hadits Nabi saw maupun para sahabat yang mensyaratkan adanya saksi dalam talak.   
     
    Namun demikian, meskipun tidak diwajibkan adanya saksi, menurut Imam Fakhruddin ar-Razi, persaksian dalam talak hukumnya sunnah, agar tidak terjadi perselisihan nantinya antara suami dan istri. Selain itu, agar jangan sampai ketika suami telah meninggal ada perempuan yang mengaku masih menjadi istri sahnya, ataupun sebaliknya. 
     
    Berikut adalah paparan penjelasannya:
     

     
    Artinya: “Persaksian yang dimaksud dalam ayat ini hukumnya sunnah menurut madzhab Hanafi. Adapun menurut mazhab Syafi’i, persaksian hukumnya wajib dalam hal rujuk, dan hukumnya sunnah dalam hal talak (firqah). Ada yang berpendapat bahwa fungsi adanya saksi adalah agar di antara suami istri tidak ada perselisihan dan agar jangan sampai ketika suami telah meninggal ada perempuan yang mengaku masih menjadi istri sahnya, ataupun sebaliknya.” (Imam Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut, Daru Ihya’it Turats al-‘Arabi: 1420 H], jilid. 30, hlm. 562).
     
    Dari penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa menurut mayoritas ulama, talak tidaklah wajib mendatangkan saksi. Namun demikian, hukumnya sunnah mendatangkan saksi dalam proses talak, tujuannya agar di antara suami istri tidak ada perselisihan dan ketika suami telah meninggal dunia tidak ada perempuan yang mengaku masih menjadi istri sahnya, ataupun sebaliknya. 
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (PRI)

  • Daftar Negara Paling Malas Jalan Kaki, Indonesia Peringkat Pertama

    Daftar Negara Paling Malas Jalan Kaki, Indonesia Peringkat Pertama

    Jakarta: Indonesia menjadi negara yang masyarakatnya paling malas berjalan kaki di dunia. Merujuk pada data yang dirilis Stanford University, Indonesia bahkan menempati peringkat pertama negara yang paling malas berjalan kaki. 

    Data tersebut mengungkapkan jumlah langkah kaki orang Indonesia sangat rendah jika dibandingkan dengan negara lain, yakni hanya sekitar 3.531 langkah per hari. 

    Dibandingkan dengan warga Inggris misalnya, mereka berjalan 5.444 langkah setiap hari. Sedangkan warga Yunani yang menempati peringkat 10, mereka rata-rata berjalan sekitar 4.350 langkah per hari. 

     

    Selain Indonesia, adapun lima negara paling malas berjalan kaki antara lain Arab Saudi di peringkat kedua dengan 3,807 langkah per hari. Lalu Malaysia di peringkat ketiga dengan 3.963 per hari disusul Filipina (4.008 langkah per hari) di peringkat empat dan Afrika Selatan (4.105 langkah per hari) di posisi kelima. 

    Berjalan kaki sebenarnya sangat dianjurkan karena bisa meningkatkan mobilitas sendi, mencegah menurunnya masa tulang, bahkan mengurangi risiko keretakan. Berjalan kaki sedikitnya 30 menit per hari untuk mengurangi sakit pada sendi, juga kaku dan peradangan.

    Jakarta: Indonesia menjadi negara yang masyarakatnya paling malas berjalan kaki di dunia. Merujuk pada data yang dirilis Stanford University, Indonesia bahkan menempati peringkat pertama negara yang paling malas berjalan kaki. 
     
    Data tersebut mengungkapkan jumlah langkah kaki orang Indonesia sangat rendah jika dibandingkan dengan negara lain, yakni hanya sekitar 3.531 langkah per hari. 
     
    Dibandingkan dengan warga Inggris misalnya, mereka berjalan 5.444 langkah setiap hari. Sedangkan warga Yunani yang menempati peringkat 10, mereka rata-rata berjalan sekitar 4.350 langkah per hari. 

     

     
    Selain Indonesia, adapun lima negara paling malas berjalan kaki antara lain Arab Saudi di peringkat kedua dengan 3,807 langkah per hari. Lalu Malaysia di peringkat ketiga dengan 3.963 per hari disusul Filipina (4.008 langkah per hari) di peringkat empat dan Afrika Selatan (4.105 langkah per hari) di posisi kelima. 
     
    Berjalan kaki sebenarnya sangat dianjurkan karena bisa meningkatkan mobilitas sendi, mencegah menurunnya masa tulang, bahkan mengurangi risiko keretakan. Berjalan kaki sedikitnya 30 menit per hari untuk mengurangi sakit pada sendi, juga kaku dan peradangan.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (PRI)

  • Hindari Antrean di Rumah Sakit, Pria di Gresik Ini Manfaatkan Antrean Mobile JKN

    Hindari Antrean di Rumah Sakit, Pria di Gresik Ini Manfaatkan Antrean Mobile JKN

    Gresik: Seiring berkembangnya teknologi di bidang kesehatan, peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini tidak perlu mengantre lama di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL). Pasalnya, program yang yang dikelola oleh BPJS Kesehatan ini saat ini menyediakan inovasi antrean online melalui Aplikasi Mobile JKN. Kemudahan ini telah nyata dirasakan oleh peserta JKN asal Kabupaten Gresik.

    “Sebelum ada antrean online ini saya harus datang mulai 05.30 dini hari. Sudah datang pagi begitu area halaman rumah sakit telah dipadati oleh banyak pasien lainnya. Saya juga selalu khawatir jika datang sedikit terlambat karena pasti nomor antrean sudah penuh sehingga harus menunggu hari selanjutnya. Akan tetapi, semenjak ada antrean online melalui Aplikasi Mobile JKN ini tidak pernah saya hadapi lagi keadaan seperti itu, antrean di rumah sakit jauh lebih teratur,” ungkap Nelson, Jumat (13/6).

    Pria 38 tahun ini mengaku sangat terbantu dengan antrean online tersebut. Menurutnya, selain memangkas waktu cara pendaftarannya pun bisa dilakukan dimana saja.

    “Sangat praktis karena cukup dilakukan melalui smartphone kita masing-masing. Saya hanya perlu membuka Aplikasi Mobile JKN, kemudian masuk ke fitur Pendaftaran Pelayanan (antrean),” jelas Nelson. 

    Nelson mengatakan setelah memilih fitur dimaksud, peserta akan diberikan dua pilihan yakni FKTP atau FKRTL. Untuk antrean di rumah sakit, peserta memilih FKRTL. Ini berlaku untuk peserta yang telah melewati pemeriksaan awal di FKTP, dan mendapatkan rujukan ke FKRTL berdasarkan hasil pemeriksaan sehingga telah mengantongi nomor rujukan.  

    “Setelah kita memilih menu FKRTL, akan otomatis muncul nomor rujukan kita. Kita memilih kapan waktu mau berobat ke FKRTL. Untuk waktu akses layanan kesehatan dibuka 24 jam sebelum jam buka operasional faskes dan akan ditutup 1 jam sebelum jam tutup operasional,” kata Nelson.

    Lebih lanjut, Nelson menerangkan untuk peserta yang tidak memiliki rujukan, maka peserta wajib melakukan pemeriksaan ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) terlebih dahulu. Apabila dalam kondisi gawat darurat, peserta dapat langsung mengakses layanan Unit Gawat Darurat (UGD).

    “Kondisi gawat darurat nantinya akan ditentukan oleh Dokter Penanggung Jawab di UGD tersebut. Jika tidak dalam kondisi gawat darurat maka peserta akan diberikan edukasi untuk melakukan pemeriksaan ke FKTP,” bebernya.

    Antrean online ini dapat didaftarkan untuk hari ini dan keesokan harinya. Nelson kemudian menyebut hal ini dapat mengurangi penumpukan antrean peserta di rumah sakit.

    “Sistem antrean online ini berjalan berdasarkan jadwal kedatangan yang telah dipilih peserta melalui Aplikasi Mobile JKN. Dengan begini saya merasa lebih tenang, karena sudah bisa memperkirakan pukul berapa harus ke rumah sakit sehingga kita terhindar dari risiko penularan penyakit antar pasien,” ujarnya.

    Ia berharap layanan antrean online ini semakin banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Bukan hanya masyarakat di perkotaan, namun juga menjangkau hingga pedesaan.

    “Saya yakin mayoritas masyarakat baik di kota maupun di desa sudah melek teknologi. Sehingga Aplikasi Mobile JKN ini dapat menjadi andalan ketika peserta hendak mengakses layanan kesehatan dengan mudah dan cepat,” harap Nelson.

    Sebagai informasi, Aplikasi Mobile JKN dapat diunduh melalui App Storedan Play Store. Untuk peserta yang telah memiliki akun, maka bisa langsung masuk ke aplikasi dengan mengisi nomor kartu JKN dan password, sedangkan bagi peserta yang belum memiliki akun maka melakukan pendaftaran terlebih dahulu dengan mengisi data diri dan melakukan konfirmasi melalui nomor handphone atau email.

    Gresik: Seiring berkembangnya teknologi di bidang kesehatan, peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini tidak perlu mengantre lama di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL). Pasalnya, program yang yang dikelola oleh BPJS Kesehatan ini saat ini menyediakan inovasi antrean online melalui Aplikasi Mobile JKN. Kemudahan ini telah nyata dirasakan oleh peserta JKN asal Kabupaten Gresik.
     
    “Sebelum ada antrean online ini saya harus datang mulai 05.30 dini hari. Sudah datang pagi begitu area halaman rumah sakit telah dipadati oleh banyak pasien lainnya. Saya juga selalu khawatir jika datang sedikit terlambat karena pasti nomor antrean sudah penuh sehingga harus menunggu hari selanjutnya. Akan tetapi, semenjak ada antrean online melalui Aplikasi Mobile JKN ini tidak pernah saya hadapi lagi keadaan seperti itu, antrean di rumah sakit jauh lebih teratur,” ungkap Nelson, Jumat (13/6).
     
    Pria 38 tahun ini mengaku sangat terbantu dengan antrean online tersebut. Menurutnya, selain memangkas waktu cara pendaftarannya pun bisa dilakukan dimana saja.

    “Sangat praktis karena cukup dilakukan melalui smartphone kita masing-masing. Saya hanya perlu membuka Aplikasi Mobile JKN, kemudian masuk ke fitur Pendaftaran Pelayanan (antrean),” jelas Nelson. 
     
    Nelson mengatakan setelah memilih fitur dimaksud, peserta akan diberikan dua pilihan yakni FKTP atau FKRTL. Untuk antrean di rumah sakit, peserta memilih FKRTL. Ini berlaku untuk peserta yang telah melewati pemeriksaan awal di FKTP, dan mendapatkan rujukan ke FKRTL berdasarkan hasil pemeriksaan sehingga telah mengantongi nomor rujukan.  
     
    “Setelah kita memilih menu FKRTL, akan otomatis muncul nomor rujukan kita. Kita memilih kapan waktu mau berobat ke FKRTL. Untuk waktu akses layanan kesehatan dibuka 24 jam sebelum jam buka operasional faskes dan akan ditutup 1 jam sebelum jam tutup operasional,” kata Nelson.
     
    Lebih lanjut, Nelson menerangkan untuk peserta yang tidak memiliki rujukan, maka peserta wajib melakukan pemeriksaan ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) terlebih dahulu. Apabila dalam kondisi gawat darurat, peserta dapat langsung mengakses layanan Unit Gawat Darurat (UGD).
     
    “Kondisi gawat darurat nantinya akan ditentukan oleh Dokter Penanggung Jawab di UGD tersebut. Jika tidak dalam kondisi gawat darurat maka peserta akan diberikan edukasi untuk melakukan pemeriksaan ke FKTP,” bebernya.
     
    Antrean online ini dapat didaftarkan untuk hari ini dan keesokan harinya. Nelson kemudian menyebut hal ini dapat mengurangi penumpukan antrean peserta di rumah sakit.
     
    “Sistem antrean online ini berjalan berdasarkan jadwal kedatangan yang telah dipilih peserta melalui Aplikasi Mobile JKN. Dengan begini saya merasa lebih tenang, karena sudah bisa memperkirakan pukul berapa harus ke rumah sakit sehingga kita terhindar dari risiko penularan penyakit antar pasien,” ujarnya.
     
    Ia berharap layanan antrean online ini semakin banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Bukan hanya masyarakat di perkotaan, namun juga menjangkau hingga pedesaan.
     
    “Saya yakin mayoritas masyarakat baik di kota maupun di desa sudah melek teknologi. Sehingga Aplikasi Mobile JKN ini dapat menjadi andalan ketika peserta hendak mengakses layanan kesehatan dengan mudah dan cepat,” harap Nelson.
     
    Sebagai informasi, Aplikasi Mobile JKN dapat diunduh melalui App Storedan Play Store. Untuk peserta yang telah memiliki akun, maka bisa langsung masuk ke aplikasi dengan mengisi nomor kartu JKN dan password, sedangkan bagi peserta yang belum memiliki akun maka melakukan pendaftaran terlebih dahulu dengan mengisi data diri dan melakukan konfirmasi melalui nomor handphone atau email.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (MMI)

  • Program JKN Setia Menemani Wartasih Hadapi Gula Darah dan Tumor Ganas

    Program JKN Setia Menemani Wartasih Hadapi Gula Darah dan Tumor Ganas

    Pandeglang: Wartasih (50), warga Kampung Ciakar, Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang saat ini tengah menggantungkan harapannya kepada Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk menghadapi penyakit gula darah dan tumor ganas yang telah menjangkitnya. Ia berharap, perjuangannya bersama JKN dapat membuahkan hasil agar dapat sembuh dari penyakit yang dideritanya.

    Yuli, anak pertama Wartasih kepada media menceritakan, bahwa orang tunya telah mengidap penyakit gula darah sejak 12 tahun lalu. Ia menyebut, di tahun 2024 lalu, ibunya memiliki luka di tangan dan benjolan di leher.

    Saat itu, Yuli membawa ibunya untuk berobat ke RSUD Malingping, Kabupaten Lebak Banten. Setelah dilakukan pemeriksaan medis, ibunya disarankan melakukan salah satu tindakan operasi operasi baik pada tangan yang mengalami luka atau benjolan yang ada di lehernya.

    “Jadi waktu itu kata dokter yang rawat tidak bisa ditangani sekaligus, harus pilih salah satu, mau operasi tangan yang luka atau benjolan pada leher dulu. Karena saat itu yang parah kondisinyatangan, maka dilakukan operasi tangan tangan dahulu,” tuturnya, Jum’at (13/06).

    Yuli mengatakan, usai melakukan operasi pengangkatan daging pada tangan, ibunya harus menjalani pengobatan rutin hingga delapan bulan lamanya. Kemudian, setelah luka di tangannya membaik, lanjut Yuli, benjolan yang berada di leher ibunya itu semakin membesar. Saat ini benjolan yang didiagnosis sebagai tumor ganas itu sudah seukuran kepalan telapan tangan orang dewasa.

    “Pengobatannya selama delapan bulan untuk sembuh, karena ada gula darah. Jadi lama untuk sembuhnya. Terus diperiksa lagi untuk diobati ke RSUD Malingping, dokter menyarankan untuk segera dilakukan operasi di Rumah Sakit Dharmais. Tapi katanya untuk pemeriksaan CT scan di RSUD Malingping bisa. Kalau tumor ini sudah berjalan satu tahun,” ujarnya.

    Yuli berharap ibunya dapat kembali sembuh seperti sediakala. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada BPJS Kesehatan, karena berkat Program JKN ibunya dapat menjalani operasi dan pengobatan secara gratis. Menurutnya, kehadiran Program JKN di tengah keluarganya yang mengalami kesulitan ekonomi merupakan secercah harapan bagi orang tuanya bisa sembuh dari penyakitnya.

    “Kita lagi berusaha ngumpulin dana dulu, untuk operasional operasi di Rumah Sakit Dharmais, semoga nanti setelah operasi di sana ibu bisa sembuh seperti sediakala belum terpikirkan kalau harus mengeluarkan dana pribadi buat berobat semua ini,” tuturnya.

    Yuli mengaku, meskipun hanya terdaftar sebagai peserta JKN kelas tiga dari segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang dibiayai oleh pemerintah, namun ia tidak mendapatkan perlakuan berbeda dari rumah sakit.

    Selain itu, administrasi yang ditempuh untuk mendapatkan pelayanan JKN juga sangat mudah serta tidak ada Kendala yang berarti saat ia mengurus orangtuanya menjalani operasi maupun berobat jalan.

    “Alhamdulillah tidak bayar sepeserpun, untuk syarat-syarat administrasinya juga gampang. Selain itu juga kami dilayani dengan baik oleh pihak rumah sakit meskipun kami berobat ke rumah sakit di wilayah Lebak bukan di Pandeglang, alhamdulillah dilayani dengan baik, Program JKN sangat profesional melayani pesertanya,” sambungnya.

    Ia berharap, BPJS Kesehatan melalui Program JKN dapat terus berkesinambungan memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat khususnya bagi mereka tidak mampu seperti keluarganya. Menurutnya Program JKN merupakan program yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

    “Tidak bisa membayangkan jika tidak ada Program JKN, mungkin kami sudah menyerah dari dulu. Untuk biaya operasional merawatnya saja lumayan, apalagi harus bayar biaya operasi dan pengobatannya, pokoknya terima kasih banyak BPJS Kesehatan,” ucapnya lirih. (OO/mj)

    Pandeglang: Wartasih (50), warga Kampung Ciakar, Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang saat ini tengah menggantungkan harapannya kepada Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk menghadapi penyakit gula darah dan tumor ganas yang telah menjangkitnya. Ia berharap, perjuangannya bersama JKN dapat membuahkan hasil agar dapat sembuh dari penyakit yang dideritanya.
     
    Yuli, anak pertama Wartasih kepada media menceritakan, bahwa orang tunya telah mengidap penyakit gula darah sejak 12 tahun lalu. Ia menyebut, di tahun 2024 lalu, ibunya memiliki luka di tangan dan benjolan di leher.
     
    Saat itu, Yuli membawa ibunya untuk berobat ke RSUD Malingping, Kabupaten Lebak Banten. Setelah dilakukan pemeriksaan medis, ibunya disarankan melakukan salah satu tindakan operasi operasi baik pada tangan yang mengalami luka atau benjolan yang ada di lehernya.

    “Jadi waktu itu kata dokter yang rawat tidak bisa ditangani sekaligus, harus pilih salah satu, mau operasi tangan yang luka atau benjolan pada leher dulu. Karena saat itu yang parah kondisinyatangan, maka dilakukan operasi tangan tangan dahulu,” tuturnya, Jum’at (13/06).
     
    Yuli mengatakan, usai melakukan operasi pengangkatan daging pada tangan, ibunya harus menjalani pengobatan rutin hingga delapan bulan lamanya. Kemudian, setelah luka di tangannya membaik, lanjut Yuli, benjolan yang berada di leher ibunya itu semakin membesar. Saat ini benjolan yang didiagnosis sebagai tumor ganas itu sudah seukuran kepalan telapan tangan orang dewasa.
     
    “Pengobatannya selama delapan bulan untuk sembuh, karena ada gula darah. Jadi lama untuk sembuhnya. Terus diperiksa lagi untuk diobati ke RSUD Malingping, dokter menyarankan untuk segera dilakukan operasi di Rumah Sakit Dharmais. Tapi katanya untuk pemeriksaan CT scan di RSUD Malingping bisa. Kalau tumor ini sudah berjalan satu tahun,” ujarnya.
     
    Yuli berharap ibunya dapat kembali sembuh seperti sediakala. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada BPJS Kesehatan, karena berkat Program JKN ibunya dapat menjalani operasi dan pengobatan secara gratis. Menurutnya, kehadiran Program JKN di tengah keluarganya yang mengalami kesulitan ekonomi merupakan secercah harapan bagi orang tuanya bisa sembuh dari penyakitnya.
     
    “Kita lagi berusaha ngumpulin dana dulu, untuk operasional operasi di Rumah Sakit Dharmais, semoga nanti setelah operasi di sana ibu bisa sembuh seperti sediakala belum terpikirkan kalau harus mengeluarkan dana pribadi buat berobat semua ini,” tuturnya.
     
    Yuli mengaku, meskipun hanya terdaftar sebagai peserta JKN kelas tiga dari segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang dibiayai oleh pemerintah, namun ia tidak mendapatkan perlakuan berbeda dari rumah sakit.
     
    Selain itu, administrasi yang ditempuh untuk mendapatkan pelayanan JKN juga sangat mudah serta tidak ada Kendala yang berarti saat ia mengurus orangtuanya menjalani operasi maupun berobat jalan.
     
    “Alhamdulillah tidak bayar sepeserpun, untuk syarat-syarat administrasinya juga gampang. Selain itu juga kami dilayani dengan baik oleh pihak rumah sakit meskipun kami berobat ke rumah sakit di wilayah Lebak bukan di Pandeglang, alhamdulillah dilayani dengan baik, Program JKN sangat profesional melayani pesertanya,” sambungnya.
     
    Ia berharap, BPJS Kesehatan melalui Program JKN dapat terus berkesinambungan memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat khususnya bagi mereka tidak mampu seperti keluarganya. Menurutnya Program JKN merupakan program yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
     
    “Tidak bisa membayangkan jika tidak ada Program JKN, mungkin kami sudah menyerah dari dulu. Untuk biaya operasional merawatnya saja lumayan, apalagi harus bayar biaya operasi dan pengobatannya, pokoknya terima kasih banyak BPJS Kesehatan,” ucapnya lirih. (OO/mj)
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (MMI)