Category: Liputan6.com Regional

  • Bencana Banjir Landa Sejumlah Wilayah Kalbar, Luka Ekologis Hulu Sungai Kapuas

    Bencana Banjir Landa Sejumlah Wilayah Kalbar, Luka Ekologis Hulu Sungai Kapuas

    Liputan6.com, Jakarta – Air selalu tiba tanpa salam. Datang dini hari. Mengetuk lantai rumah. Menyentuh kaki ranjang. Lalu merambat naik tanpa permisi.

    Rahmat Hidayat masih mengingat suara itu. Gemuruh lirih bercampur gelap. Ia tak pernah menyangka banjir kembali datang setinggi sepaha orang dewasa. Sekadau Hulu serta Nanga Taman berubah kubangan luas. Jalan desa lenyap. Dapur tenggelam. Sembako mendesak.

    “Ketinggian sepaha orang tua. Kebutuhan mendesak sembako,” tutur warga Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat ini kepada Liputan6.com, Jumat (9/1/2026).

    Bagi warga Sekadau, air bukan sekadar limpasan hujan. Air menjadi pesan keras alam. Pesan lama tersimpan rapat kini pecah. Hulu Kapuas menyimpan cerita panjang. Cerita kerusakan pelan namun pasti.

    Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Sekadau Heri Handoko Susilo mencatat waktu kejadian sejak Kamis dini hari. Hujan deras turun lama. Sungai Sekadau tak sanggup menahan debit. Air meluap memasuki permukiman.

    “Curah hujan lebat sampai sangat lebat berlangsung lama sejak Rabu malam,” kata Heri Handoko Susilo.

    Wilayah terdampak mencakup Kecamatan Nanga Taman serta Nanga Mahap. Ratusan desa berubah kolam raksasa. Data hingga Kamis petang menunjukkan dampak massif.

    Total terdampak mencapai 3.545 kepala keluarga. Jumlah jiwa mencapai 11.583 orang. Angka bukan sekadar statistik. Angka mewakili dapur terendam. Sekolah lumpuh. Aktivitas terhenti.

    Di Nanga Taman tercatat 2.882 kepala keluarga terdampak. Desa Sungai Lawak, Nanga Mongko, Senangak, hingga Semerawai menjadi saksi luapan air tak terkendali. Nanga Mahap menambah daftar panjang melalui Desa Lembah Beringin.

    “Kondisi terbaru sebagian desa alami penurunan. Desa lain justru meningkat akibat kiriman hulu,” kata Heri Handoko Susilo menjelaskan.

    Ketinggian air bervariasi. Rentang setengah meter hingga dua meter. Arus kiriman memperpanjang genangan. Warga bertahan di rumah panggung. Sebagian memilih mengungsi ke kerabat.

  • Di Medan, Ada Komplotan Spesialis Mencuri Kendaraan di Masjid

    Di Medan, Ada Komplotan Spesialis Mencuri Kendaraan di Masjid

    Berdasarkan hasil penyidikan, komplotan ini dipimpin tersangka Andi Sanjaya yang bertindak sebagai otak pelaku. Mirisnya, kelompok ini secara spesifik mengincar sepeda motor milik jemaah yang sedang beribadah.

    Salah satu aksi terakhir mereka dilakukan di Masjid Ar-Ridho, Desa SM Diski, pada Desember 2025. Dari pengakuan para tersangka, total sudah 11 kali mereka beraksi di wilayah hukum Polsek Sunggal.

    “Hasil pemeriksaan mendalam menunjukkan mereka sudah 11 kali beraksi. Khusus untuk rumah ibadah seperti masjid, mereka tercatat sudah 5 kali beraksi di wilayah Kecamatan Sunggal DS,” jelas Kapolsek.

  • Gara-gara Sampah, Sekolah di Bandar Lampung Terendam Banjir Setinggi 1 Meter

    Gara-gara Sampah, Sekolah di Bandar Lampung Terendam Banjir Setinggi 1 Meter

    Liputan6.com, Jakarta – Banjir terjadi di sejumlah tempat di Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung. Salah satu dampak terparah terjadi di lingkungan pendidikan, tepatnya di SD Negeri 1 Jagabaya III, Kecamatan Way Halim.

    Air bah setinggi sekitar satu meter menggenangi area sekolah, merendam halaman hingga ruang perpustakaan lantai bawah. Banjir datang secara tiba-tiba, memaksa pihak sekolah menghentikan sementara kegitan belajar mengajar (KBM) demi keselamatan siswa dan guru.

    Pantauan Liputan6.com di lokasi, Jumat (9/1/2026), bekas banjir masih tampak jelas. Lumpur cokelat menutupi lapangan sekolah, sementara sisa genangan air terlihat di sejumlah sudut bangunan.

    Perwakilan SDN 1 Jagabaya III, Erfan Syah, mengungkapkan banjir dipicu luapan sungai yang berada tepat di samping sekolah. Aliran air tersumbat akibat tumpukan sampah di bagian jembatan, sehingga air meluap dan berbalik masuk ke area sekolah.

    “Air besar datang setelah Magrib. Sungai meluap karena sampah menumpuk di jembatan, akhirnya air lari ke sekolah,” ujar Erfan.

    Ia menjelaskan, ketinggian air saat banjir mencapai kurang lebih satu meter. Beruntung, kondisi sekolah yang baru selesai direhabilitasi membuat dampak banjir tidak separah tahun-tahun sebelumnya.

    “Kalau sebelum direhab, bisa sampai dua meter. Sekarang yang terendam hanya ruang perpustakaan bawah,” katanya.

    Sejumlah berkas sekolah sempat terdampak banjir, meski sebagian besar berhasil diselamatkan. Sementara koleksi buku perpustakaan dipastikan aman karena telah dipindahkan ke lantai atas.

    Pascabanjir, pihak sekolah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandar Lampung melakukan pembersihan lumpur dan sampah yang terbawa arus.

    Meski siswa tetap datang ke sekolah, kegiatan belajar mengajar sempat terganggu karena kondisi lingkungan yang licin dan kotor.

    “Anak-anak malah banyak main air. Aktivitas belajar pagi agak terhambat karena bersih-bersih, tapi tidak sampai diliburkan,” jelas dia.

    Ia berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera melakukan normalisasi sungai dan perbaikan jembatan di sekitar sekolah untuk mencegah banjir berulang.

    “Harapan kami sungai dan jembatan bisa diperbaiki. Sampah selalu menumpuk di jembatan, itu sumber masalahnya. Kalau bisa dilakukan pengerukan sungai dan penataan aliran air,” tandasnya.

    Sebelumnya, hujan deras lebih dari dua jam, menyebabkan banjir di sejumlah kecamatan dan ruas jalan protokol di Kota Bandar Lampung, Kamis (8/1/2026). Berdasarkan pantauan Liputan6.com, curah hujan tinggi terjadi sejak pukul 17.00 WIB hingga sekitar 19.10 WIB.

    Genangan air meluas di sejumlah wilayah, di antaranya Kecamatan Kedamaian, Sukarame, Rajabasa, Teluk Betung, Antasari, Sukabumi, dan Pahoman. Ketinggian air bervariasi, mulai dari setinggi betis hingga mencapai pinggang orang dewasa.

    Salah satu wilayah terdampak cukup parah berada di Kecamatan Sukabumi. Warga setempat, Dedi Nofianto, mengatakan banjir mulai terjadi setelah air menggenang di Jalan Pangeran Tirtayasa sekitar pukul 17.00 WIB, sebelum akhirnya meluap ke permukiman warga.

    “Awalnya air menggenang di jalan, tapi karena hujan makin deras air masuk ke rumah-rumah. Di RT 12 Kelurahan Sukabumi ada puluhan rumah yang terendam,” ujar Dedi kepada Liputan6.com, Kamis (8/1/2026).

    Dedi menyebut, banjir kerap terjadi setiap hujan deras akibat buruknya sistem drainase. Saluran air yang sempit dan tersumbat membuat aliran air dari Jalan Pangeran Tirtayasa dan Jalan Legundi mengalir masuk ke gang-gang permukiman warga.

    “Drainase di belakang rumah kecil dan tidak lancar. Drainase di jalan utama juga banyak tersumbat sampah, jadi air malah masuk ke lingkungan warga,” ungkapnya.

    Hal serupa dirasakan warga Kecamatan Sukarame. Devi Yustika mengaku kontrakannya ikut terendam banjir hingga menyebabkan sejumlah perabotan basah.

    “Kasur sampai basah kena banjir. Sekarang mulai surut sedikit karena hujannya sudah berhenti,” katanya.

    Devi menuturkan, kawasan tempat tinggalnya memang kerap menjadi langganan banjir saat hujan deras, namun genangan kali ini disebutnya paling parah dibanding sebelumnya.

  • Cerita Penemuan Lubang Besar dan Dalam di Bawah Rumah Warga Gunungkidul

    Cerita Penemuan Lubang Besar dan Dalam di Bawah Rumah Warga Gunungkidul

    Liputan6.com, Jakarta – Nasib nahas dialami Sujanto, warga Padukuhan Bolang, Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Rumah yang selama ini ia tempati bersama keluarga terpaksa dibongkar, setelah diketahui berdiri di atas tanah yang ambles dan membentuk lubang besar serta dalam tepat di bawah lantai rumah.

    Peristiwa ini bermula dari kecurigaan warga sekitar yang melihat adanya retakan tidak wajar di bagian pondasi belakang rumah. Salah seorang tetangga kemudian berinisiatif melakukan pengecekan dengan memasukkan sebatang bambu ke dalam celah retakan tersebut.

    “Kami coba masukkan bambu, tapi tidak sampai ke dasar. Dari situ kami mulai curiga dan khawatir,” ujar salah satu warga setempat.

    Rasa penasaran warga akhirnya mendorong dilakukannya pembongkaran lantai rumah yang masih tertutup keramik. Saat keramik diangkat, terlihat sebuah lubang besar menganga tepat di bawah bangunan rumah. Kondisi itu sontak membuat warga dan pemilik rumah terkejut, mengingat lubang tersebut berada persis di area aktivitas keluarga sehari-hari.

    Sujanto mengaku tidak menyangka rumahnya mengalami kondisi yang sangat membahayakan. Ia pun langsung melaporkan kejadian tersebut ke perangkat desa.

    “Saya kaget sekali. Tidak pernah terpikir kalau di bawah rumah ada lubang sedalam itu. Setelah tahu, saya langsung lapor ke desa karena ini sangat berbahaya,” kata Sujanto.

    Cerita lebih dramatis datang dari istri Sujanto, Yusriati Fatimah. Ia mengungkapkan bahwa sebelum lubang itu ditemukan, dirinya sempat mendengar suara gemuruh lirih dari dalam rumah, mirip seperti getaran gempa kecil.

    “Beberapa hari sebelumnya saya dengar suara seperti gemuruh pelan dari bawah lantai. Seperti ada yang runtuh. Tapi saya pikir biasa saja, mungkin suara tanah atau rumah. Jadi saya tetap lanjut masak dan beres-beres rumah,” tutur Yusriati.

    Selain itu, Yusriati juga mengaku heran dengan fenomena banjir genangan yang sering terjadi di sekitar rumahnya dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, setiap hujan deras, air sempat menggenang namun kemudian hilang dengan cepat.

    “Kalau hujan, air sempat menggenang di halaman dan sekitar rumah. Tapi anehnya, tidak sampai lama. Dalam hitungan menit airnya hilang sendiri. Sekarang saya baru sadar, mungkin airnya masuk ke dalam tanah,” ungkapnya.Saat mengetahui ada lubang besar tepat di bawah lantai rumah, Yusriati mengaku syok dan diliputi rasa takut. Ia tak kuasa membayangkan risiko yang mungkin terjadi jika amblesan itu terjadi saat keluarganya berada di dalam rumah.

    “Saya langsung kepikiran anak-anak. Kalau amblesnya terjadi malam hari saat kami tidur, saya tidak berani membayangkan akibatnya,” ujarnya.

    Setelah dilakukan peninjauan oleh perangkat desa dan mempertimbangkan keselamatan penghuni, rumah tersebut akhirnya dibongkar atas persetujuan pemilik. Garis polisi juga dipasang di sekitar lokasi untuk mencegah warga mendekat.

    Akibat rumah yang sudah tidak layak huni, Sujanto bersama istri dan empat anggota keluarganya terpaksa mengungsi ke rumah orang tua mereka.

    “Kami sekarang mengungsi dulu. Yang penting keluarga selamat. Soal rumah, kami pasrah,” kata Sujanto.

    Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Gunungkidul saat ini telah melakukan koordinasi dengan pihak geologi untuk meneliti penyebab amblesnya tanah di lokasi tersebut. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tingkat kerawanan serta mencegah kejadian serupa di lingkungan sekitar.

    “BPBD sudah turun dan saat ini berkoordinasi dengan pihak geologi untuk melakukan kajian lebih lanjut. Kami ingin memastikan apakah amblesan ini berpotensi meluas atau tidak,” ujar sumardiyanti, Lurah Girikarto.

    Warga sekitar pun diimbau untuk tetap waspada, terutama terhadap tanda-tanda retakan bangunan, genangan air yang tidak wajar, serta suara-suara mencurigakan dari dalam tanah. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perubahan kecil pada lingkungan sekitar rumah bisa menjadi tanda awal bencana yang lebih besar.

  • Data Hutan Jambi Kian Kritis: Hilang 2,5 Juta Hektare

    Data Hutan Jambi Kian Kritis: Hilang 2,5 Juta Hektare

    Kerusakan hutan dan hilangnya biodiversity di alam terus bertalian dan meningkatkan risiko bencana ekologis. Air hujan yang turun dalam jumlah besar tak mampu ditampung lagi oleh tanah karena hilangnya pohon.

    Sungai-sungai pun turut rusak, airnya keruh berlumpur akibat dikoyak pertambangan emas ilegal. Sungai turut menjadi dangkal dan menyebabkan aliran air mudah meluap setelah tidak sanggup lagi menampung debit air. Kondisi ini membuat banjir dan longsor menjadi ancaman yang terus mengintai.

    “Bencana bukan lagi risiko musiman, tetapi sudah jadi ancaman permanen. Jambi berada di ambang bencana, tinggal menunggu waktu,” kata Adi Junedi. 

    KKI Warsi melakukan pemodelan potensi bencana ekologi. Secara khusus mereka menyoroti di wilayah gugusan bukit barisan, yakni Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Kedua daerah ini berada di dalam lembah atau “mangkuk besar” yang dikelilingi pegunungan dan bukit barisan.

    “Kami buat pemodelan khusus untuk sungai Batang Merao dan Batang Merangin, ternyata sungai tersier (kecil) banyak sekali dan semua masuk ke lembah Kerinci,” kata Senior Advisor KKI Warsi Rudisyaf.

    Hasil kajian lembaganya, Rudi bilang, terdapat 233 desa di wilayah Kabupaten Kerinci dan Sungai Penuh, yang potensial terdampak bencana hidrometeorologi. Wilayah topografi dua daerah ini memiliki kemiringan yang tinggi, sehingga jika berpotensi tersapu banjir.

    Dengan kondisi topografi kemiringan ditambah laju deforestasi semakin meningkatkan risiko bencana. Puncak-puncak bukit telah dieksploitasi menjadi perkebunan dan pertanian. Banjir parah pernah menerjang dua wilayah tersebut pada awal tahun 2024. Kondisi ini mengingatkan bahwa jika hutan dan alam terus dieksploitasi, maka bencana tak terhindarkan.

    “Tutupan hutan di daerah tersebut masih 50-60 persen, tapi ini tidak ideal karena topografinya. Kemiringan lereng 40 persen yang tadinya harus dilindungi, tapi kita lihat di peta sudah dieksploitasi,” ujar Rudi.

  • 9 Kecamatan di Bandar Lampung Terendam Banjir, 127 Jiwa Terdampak

    9 Kecamatan di Bandar Lampung Terendam Banjir, 127 Jiwa Terdampak

    Liputan6.com, Jakarta – Hujan deras yang mengguyur Kota Bandar Lampung selama hampir dua jam pada Kamis (8/1/2026) sore hingga malam memicu banjir di sembilan kecamatan. Genangan air merambah permukiman warga, ruas jalan utama, hingga sejumlah kafe, membuat aktivitas warga lumpuh dan memaksa petugas turun melakukan evakuasi.

    Humas BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat menyampaikan bahwa hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi sejak pukul 17.00 WIB menyebabkan air meluap ke jalan dan masuk ke rumah warga di berbagai titik.

    “Berdasarkan hasil pemantauan dan koordinasi dengan Pusdalops BPBD Kota Bandar Lampung, banjir terjadi di sembilan kecamatan dengan laporan masuk hingga dini hari,” ujar Wahyu, Jumat (9/1/2026).

    Sembilan kecamatan yang terdampak banjir tersebut meliputi Kedaton, Way Halim, Labuhan Ratu, Tanjungkarang Barat, Tanjungkarang Timur, Sukarame, Sukabumi, Kedamaian, dan Bumi Waras.

    “Di Kecamatan Kedaton, genangan air dilaporkan terjadi di sejumlah titik, di antaranya Jalan Teuku Umar tepat di depan Makam Pahlawan, Jalan Sultan Agung, serta kawasan permukiman di Kelurahan Penengahan,” sebutnya.

    Air bahkan masuk ke rumah warga dan mengganggu sedikitnya beberapa kepala keluarga.

    Sementara di Kecamatan Way Halim, banjir merendam wilayah padat penduduk seperti Way Halim Permai dan Jagabaya. Air menggenangi Jalan Kimaja, Jalan Sultan Agung, hingga Jalan Pajajaran.

    Sejumlah rumah warga terdampak, dengan beberapa keluarga terpaksa bertahan di dalam rumah saat air naik.

    “Genangan juga terjadi di Kecamatan Sukarame dan Sukabumi, termasuk di kawasan perumahan. Air dilaporkan masuk ke rumah warga, halaman permukiman, hingga mengganggu aktivitas warga yang sedang beristirahat pada malam hari,” lanjut Wahyu.

     

  • 364 Kasus Korupsi di NTT Berhasil Disikat, Selamatkan Uang Negara Rp 16,7 Miliar

    364 Kasus Korupsi di NTT Berhasil Disikat, Selamatkan Uang Negara Rp 16,7 Miliar

    Liputan6.com, Jakarta – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Timur (NTT) membongkar 364 kasus korupsi sepanjang tahun 2025. Selain menindak para koruptor, tercatat total nilai kerugian negara yang berhasil diselamatkan sebesar Rp 16,7 miliar.

    “Capaian ini menunjukkan konsistensi dan progresivitas kinerja jajaran Pidsus Kejati dan Kejari se-NTT dalam upaya penegakan hukum, khususnya pemberantasan tindak pidana korupsi,” kata Kepala Kejati NTT Roch Adi Wibowo, Jumat (9/1/2026).

    Dari total kasus yang berhasil disikat, terdiri dari tahapan penyelidikan berjumlah 106 perkara, dengan 12 ditangani Kejati NTT dan 94 oleh Kejaksaan Negeri.

    Sementara, pada tahap penyidikan, terdiri dari 89 perkara, 21 perkara ditangani Kejati NTT dan 68 perkara ditangani Kejari se-NTT.

    Berkaitan dengan tahap penuntutan, Kejati NTT menangani 86 perkara, yang bersumber dari 63 perkara hasil penyidikan kejaksaan, 22 perkara dari kepolisian, serta 1 perkara dari kepabeanan.

    “Adapun pada tahap eksekusi, sebanyak 83 perkara telah dilaksanakan,” tandas Roch Adi.

    Berdasarkan satuan kerja, Kejati NTT menjadi penyumbang terbesar dengan nilai penyelamatan sekitar Rp 4,1 miliar, disusul Kejaksaan Negeri Kabupaten Kupang Rp 2,6 miliar dan Kejaksaan Negeri Lembata Rp 2,1 miliar.

    Sementara itu, Kejaksaan Negeri Kota Kupang tercatat sebagai satuan kerja dengan jumlah penuntutan tertinggi, yakni 17 perkara, yang berasal dari hasil penyidikan kejaksaan maupun kepolisian.

    Menurutnya, tahun 2025, Pidsus Kejati NTT juga berhasil mengungkap sejumlah kasus strategis yang menyita perhatian publik. Salah satunya dugaan korupsi pada pekerjaan rehabilitasi dan renovasi prasarana sekolah di Kota dan Kabupaten Kupang yang bersumber dari APBN 2021 dan 2022 pada Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya, BPPW NTT.

    Dalam dua perkara tersebut, nilai penyimpangan mencapai lebih dari Rp 5,8 miliar, dengan penyidik Pidsus Kejati NTT berhasil menyelamatkan keuangan negara sebesar Rp 1,5 miliar.

    Sementara Kasus besar lainnya, dugaan tindak pidana korupsi pembelian Medium Term Notes (MTN) PT Sunprima Nusantara Pembiayaan oleh PT Bank NTT tahun 2018.

    “Dalam perkara ini, penyidik telah menetapkan lima orang tersangka, yakni Arif Efendi, Dadang Suryanto, Andri Irvandi, Leo Darwin dan Harry A Riwu Kaho,” jelasnya.

    Akibat perbuatan para tersangka, negara mengalami kerugian keuangan sebesar Rp 50 miliar. Penanganan perkara ini dinilai sebagai bukti keseriusan Kejati NTT dalam menindak praktik korupsi di sektor perbankan daerah.

  • Pencarian WNA Spanyol Korban KM Putri Sakinah di Labuan Bajo Ditutup, 1 Korban Dinyatakan Hilang

    Pencarian WNA Spanyol Korban KM Putri Sakinah di Labuan Bajo Ditutup, 1 Korban Dinyatakan Hilang

    Liputan6.com, Jakarta – Operasi SAR terhadap 1 WNA Spanyol yang menjadi korban KM Putri Sakinah resmi ditutup, Jumat 9 Januari 2026 pukul 15.00 Wita. Upacara penutupan dipimpin langsung Bupati Manggarai Barat Edi Stasius Endi di Pelabuhan Marina Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Bupati Manggarai Barat menyampaikan terima kasih atas jasa dan kerja Tim SAR Gabungan dalam pencarian korban KM Putri Sakinah.

    “Tentu pencarian korban tidaklah mudah dan harus berhadapan dengan gelombang serta arus di pulau-pulau Labuan Bajo, tetapi berhasil menemukan tiga korban,” ujarnya.

    “Untuk keluarga korban saya atas nama pribadi dari hati yang paling dalam turut berduka cita atas kejadian ini,” sambungnya.

    Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Maumere Fathur mengatakan Tim SAR Gabungan telah berjibaku selama 15 hari berturut-turut untuk melaksanakan operasi SAR, namun hingga hari ke-15, 1 WNA Spanyol belum bisa ditemukan dan dinyatakan hilang.

    Meski demikian, apabila di kemudian hari terdapat tanda-tanda penemuan korban maka operasi SAR dapat dibuka kembali.

    “Terima Kasih kepada Tim SAR Gabungan yang telah bersinergi dalam satu tujuan kemanusiaan ini,” katanya.

  • Kondisi Anak Tiri Korban Pemerkosaan di Lampung: Alami Infeksi Saluran Kemaluan

    Kondisi Anak Tiri Korban Pemerkosaan di Lampung: Alami Infeksi Saluran Kemaluan

    Sebelumnya diberitakan, aksi bejat CS (35) terhadap anak tirinya sendiri selama bertahun-tahun akhirnya terbongkar. CS menjadikan putri tirinya sebagai pelampiasan nafsu sejak korban masih duduk di bangku SD hingga SMA.

    Tersangka berinisial CS (35), warga Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu itu diamankan di kediamannya, Jumat (2/1/2026) sekitar pukul 14.30 WIB.

    Kapolres Pringsewu, AKBP M. Yunnus Saputra menjelaskan, pengungkapan kasus dilakukan oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Pringsewu, pada 26 Desember 2025.

    Saat itu, korban berinisial NSB mengeluhkan rasa sakit di bagian alat vitalnya. Ibu korban kemudian membawa anaknya ke puskesmas untuk menjalani pemeriksaan medis.

    “Hasil pemeriksaan dokter mengarah pada dugaan adanya tindakan persetubuhan yang dilakukan secara berulang,” ujar AKBP M. Yunnus, Jumat (9/1).

    Mendapatkan hasil tersebut, ibu korban menanyakan langsung kepada anaknya. Dari pengakuan korban, perbuatan keji itu diduga dilakukan oleh ayah tirinya sendiri, yakni CS. Tak terima atas kejadian yang menimpa anaknya, sang ibu langsung melaporkan kasus tersebut ke polisi.

    Menindaklanjuti laporan itu, Satreskrim Polres Pringsewu pun bergerak melakukan penyelidikan. Setelah alat bukti dinyatakan cukup, polisi akhirnya menangkap CS.

    “Dari hasil interogasi, tersangka mengakui perbuatannya. CS telah melakukan tindakan asusila terhadap korban secara berulang sejak korban duduk di bangku kelas 5 SD hingga kini menginjak kelas 2 SMA. Bahkan, tersangka mengaku terakhir kali melakukan perbuatannya pada dini hari dan siang hari, tidak lama sebelum tersangka ditangkap,” bebernya.

     

  • Polisi di Deli Serdang Nekat Curi Motor Rekan Sejawat Terparkir dalam Markas

    Polisi di Deli Serdang Nekat Curi Motor Rekan Sejawat Terparkir dalam Markas

    Liputan6.com, Jakarta – Polisi mengamankan personel Polri berinisial FE setelah diduga terlibat dalam tindak pidana pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Ironisnya, pelaku nekat menggasak sepeda motor milik rekannya sendiri di lingkungan markas kepolisian.

    Peristiwa bermula pada malam pergantian tahun, Rabu (31/12/2025). Korban, Alfreezy Angga Sembiring (22), memarkirkan sepeda motor Honda CRF bernomor polisi BK 5174 AKC miliknya di Barak Lajang Polresta Deli Serdang, Jalan Sudirman, Lubuk Pakam.

    Saat korban sedang melaksanakan ibadah salat di masjid terdekat, ia sempat melihat pelaku FE melintas mengendarai motor miliknya tersebut. Korban awalnya mencoba berprasangka baik dan menunggu pelaku kembali.

    Namun, hingga Jumat (2/1/2026), pelaku tak kunjung menampakkan batang hidungnya, sehingga korban memutuskan untuk melaporkan kejadian tersebut ke SPKT Polresta Deli Serdang.

    Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Sat Reskrim bergerak cepat dan berhasil mengamankan FE pada Senin (5/1/2026).

    Dalam proses interogasi, FE mengakui seluruh perbuatannya. Ia mengaku telah menjual motor sport tersebut kepada seorang pria berinisial T di daerah Tembung dengan harga Rp 9.500.000.