Category: Liputan6.com Regional

  • Gunung Dukono Erupsi Lagi, Semburkan Abu Vulkanik Setinggi 1.500 Meter

    Gunung Dukono Erupsi Lagi, Semburkan Abu Vulkanik Setinggi 1.500 Meter

     

    Liputan6.com, Jakarta – Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, kembali erupsi pada Jumat pagi (30/5/2025), pukul 06.10 WIT. Laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan, tinggi kolom letusan Gunung Dukono teramati mencapai 1.500 meter di atas puncak, atau sekitar 2.587 meter di atas permukaan laut.

    Kolom abu erupsi Gunung Dukono teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat laut. Saat laporan ini dibuat, erupsi masih berlangsung.

    Petugas Pos Pantau Gunung Dukono Bambang Sugiono mengimbau, masyarakat dan wisawatan yang berada di sekitar Gunung Dukono dilarang beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 4 km.

    “Selalu sediakan masker atau penutup hidung dan mulut,” katanya.

    Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar Gunung Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernapasan.

    Sepanjang 2025, Gunung Dukono tercatat sudah meletus sebanyak 214 kali. Hingga hari ini, Jumat, 30 Mei 2025, pukul 05.51 WIB, Gunung Dukono masih berstatus Level II (Waspada).

  • Alasan Mengapa Suhu di Pagi Hari Lebih Dingin Dibanding Tengah Malam

    Alasan Mengapa Suhu di Pagi Hari Lebih Dingin Dibanding Tengah Malam

    Awan berperan sebagai insulator alami yang memperlambat pelepasan panas, sehingga malam yang berawan cenderung lebih hangat dibandingkan malam yang cerah. Kondisi angin, dimana angin yang tenang memungkinkan pendinginan berlangsung lebih efektif karena tidak terjadi pengadukan massa udara yang dapat mendistribusikan suhu.

    Kelembapan udara yang lembap mengandung lebih banyak molekul air yang mampu menyerap dan menahan panas. Selain itu, jenis permukaan tanah memiliki pengaruh material seperti beton dan aspal yang memiliki kapasitas penyimpanan panas yang berbeda dengan tanah atau area bervegetasi.

    Fenomena ini dapat diamati lebih jelas pada musim kemarau ketika langit cenderung bersih dari awan. Kondisi tersebut membuat pelepasan panas bumi berlangsung lebih optimal sehingga perbedaan suhu antara siang dan malam lebih ekstrem.

    Proses alam ini merupakan bagian dari siklus energi bumi yang menjaga keseimbangan termal planet. Radiasi matahari yang diterima siang hari akan dilepaskan kembali ke atmosfer pada malam hari dan menciptakan pola suhu yang dapat diprediksi.

    Penulis: Ade Yofi Faidzun

  • Warga Kampung Diajak Manfaatkan Pangan Lokal untuk Tingkatkan Gizi Keluarga dan Cegah Stunting

    Warga Kampung Diajak Manfaatkan Pangan Lokal untuk Tingkatkan Gizi Keluarga dan Cegah Stunting

    Liputan6.com, Kutai Barat – Di banyak daerah, nasi masih dianggap sebagai satu-satunya sumber karbohidrat utama dan simbol “belum makan kalau belum nasi”. Namun anggapan itu perlahan mulai diubah melalui sosialisasi pangan bergizi yang menjangkau kampung-kampung di pedalaman Kutai Barat.

    Masyarakat kini diajak untuk memahami bahwa makanan sehat, bergizi, dan seimbang bisa berasal dari bahan pangan lokal yang tumbuh di sekitar rumah, seperti ubi, jagung, hingga kacang-kacangan.

    Kampung Besiq dan Kampung Muara Bunyut menjadi dua dari beberapa lokasi pelaksanaan sosialisasi program Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA), hasil kerja sama Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kutai Barat dan PT Bharinto Ekatama (BEK).

    Sosialisasi ini menyasar kampung-kampung yang berada di area kerja PT BEK, diantaranya Kampung Muara Bunyut, Kampung Besiq dan kampung Bermai. Kegiatan digelar beberapa kali di beberapa tempat sepanjang Mei 2025 lalu. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperbaiki pola makan masyarakat sekaligus mendukung program pencegahan stunting di tingkat desa.

    “Bahwa makanan sehat itu tidak harus selalu nasi, tetapi ada makanan-makanan bergizi lain dari sekitar kita. Ini yang ingin kami sampaikan kepada masyarakat lewat kegiatan sosialisasi ini,” jelas Kristinawati, Community Development Head PT BEK, Selasa (28/5/2025).

    Menurutnya, masyarakat selama ini cenderung terpaku pada konsumsi nasi sebagai makanan pokok. Padahal, banyak alternatif lokal yang memiliki nilai gizi seimbang, bahkan dengan kandungan gula yang lebih rendah. Sosialisasi B2SA hadir untuk mengenalkan konsep itu secara langsung dan sederhana kepada warga.

    Sosialisasi di lapangan dilakukan oleh tim dari Dinas Ketahanan Pangan, dengan dukungan fasilitasi dari perusahaan.

    “Perusahaan menyiapkan warga dan tempatnya, sementara penyuluhan teknis dilakukan langsung oleh Dinas. Bahkan, di Muara Bunyut, Besiq dn Bermai Kepala Dinas Ketahanan Pangan sendiri ikut hadir,” kata Kristinawati.

    Program ini juga merupakan lanjutan dari inisiatif ketahanan pangan yang telah dijalankan PT BEK sejak 2023, seiring dengan penetapan program ketahanan pangan provinsi oleh Gubernur Kalimantan Timur. Dalam tahap sebelumnya, warga didorong untuk menanam pohon buah dan tanaman bermanfaat di sekitar rumah. Kini, fokusnya berlanjut ke pengolahan hasil panen tersebut menjadi makanan sehat yang mudah dijangkau.

    “Setelah masyarakat tahu sumber-sumber pangan sehat dari lingkungan sekitar, ke depan kami juga berencana mengadakan pelatihan pengolahan makanan berbasis tumbuhan lokal. Misalnya dari ubi-ubian, singkong, jagung, hingga kacang-kacangan. Tujuannya, selain untuk konsumsi keluarga, juga bisa menjadi produk bernilai jual,” ujarnya.

    Lebih jauh, Kristinawati menekankan program ini tidak hanya menyasar keluarga sebagai konsumen, tetapi juga kader-kader posyandu yang selama ini aktif dalam penyediaan makanan tambahan (PMT) bulanan. Dengan pengetahuan baru, kader diharapkan bisa memilih jenis makanan sehat dan tepat sasaran untuk balita.

    “Harapannya, kader posyandu bisa lebih bijak dalam memilih makanan PMT. Dengan begitu, bantuan yang kami berikan juga bisa benar-benar bermanfaat dan berdampak langsung pada peningkatan gizi anak-anak,” tambahnya.

  • Keutamaan Sepuluh Hari Awal Bulan Zulhijah dalam Perspektif Islam

    Keutamaan Sepuluh Hari Awal Bulan Zulhijah dalam Perspektif Islam

    Liputan6.com, Yogyakarta – Bulan Zulhijah merupakan salah satu bulan mulia dalam kalender Hijriah yang memiliki keistimewaan khusus, terutama pada sepuluh hari pertamanya. Periode ini dianggap sebagai waktu yang paling utama untuk beribadah setelah bulan Ramadan, dengan berbagai keutamaan yang telah ditetapkan dalam syariat Islam.

    Mengutip dari berbagai sumber, sepuluh hari pertama Zulhijah mengandung nilai ibadah yang sangat tinggi. Amalan saleh yang dilakukan pada hari-hari tersebut mendapatkan pahala berlipat ganda dibandingkan waktu lainnya.

    Setiap bentuk ketaatan, mulai dari salat wajib dan sunah, sedekah, hingga membaca Al-Qur’an, akan ditinggikan derajatnya menjadi amalan yang dicintai oleh Allah SWT. Salah satu keutamaan utama pada periode ini adalah terbukanya pintu ampunan seluas-luasnya.

    Sebagaimana dalam Surat Ali Imran ayat 31, hakikat cinta Allah kepada hamba-Nya tercermin melalui pengampunan dosa-dosa, bukan semata-mata melalui pemberian kekayaan atau kedudukan duniawi. Ibadah puasa menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan selama sepuluh hari awal Zulhijah.

    Puasa juga menjadi sarana peningkatan kualitas ibadah-ibadah lainnya. Secara khusus, puasa pada hari Arafah (9 Zulhijah) memiliki keutamaan dapat menghapus dosa satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang.

    Selain puasa, dianjurkan pula untuk memperbanyak istigfar dan evaluasi diri. Proses evaluasi diri ini membantu seorang muslim untuk menyadari kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat sekaligus memantapkan tekad untuk menjadi lebih baik.

     

  • Legenda Urban: Tete Momo, Sosok Kakek Menyeramkan di Maluku yang Ditakuti Anak-Anak

    Legenda Urban: Tete Momo, Sosok Kakek Menyeramkan di Maluku yang Ditakuti Anak-Anak

    Liputan6.com, Maluku – Masyarakat Maluku mengenal sosok legenda urban yang disebut tete momo. Sosok gaib ini konon berwujud kakek-kakek dengan postur dan tampilan menyeramkan.

    Mengutip dari Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, istilah tete momo berasal dari kata tete yang berarti kakek dan momo yang kerap digunakan untuk menggambarkan hal atau tindakan jahat. Konon, tete momo memiliki tampang menakutkan dan kerap mengincar anak-anak.

    Tete momo akan menculik anak-anak yang berlaku jahat dan nakal. Anak-anak yang tidak menuruti perintah orang tuanya menjadi incaran utama hantu ini.

    Kisah tete momo pun semakin menyebar ke penjuru Maluku karena kerap digunakan oleh para orang tua untuk menakut-nakuti anaknya. Saat sudah larut malam, mereka akan menggunakan sosok tete momo sebagai alat agar anak mereka segera tidur.

    Sosok tete momo kemudian dikenal sebagai suatu perwujudan dari sosok-sosok jahat, seperi jin, iblis, setan, dan roh jahat yang senang mengganggu. Bagi masyarakat Maluku, legenda tete momo telah hidup berdampingan dengan kehidupan masyarakat setempat selama bertahun-tahun.

    Dengan berbagai latar belakang negatif yang ada di pundak tete momo, sosok ini pun dipercaya memiliki sikap yang berlawanan dengan tete manis. Perkembangan Maluku yang mendapat pengaruh Kristen membuat tete manis menjadi suatu manifestasi dari Yesus Kristus.

     

  • Legenda Urban: Tete Momo, Sosok Kakek Menyeramkan di Maluku yang Ditakuti Anak-Anak

    Mengenal Urban Legend Teror Kolor Ijo, Kisah Misteri Tahun 2000-an

    Kolor Ijo merupakan salah satu urban legend yang sempat menggemparkan masyarakat Indonesia khususnya pada awal 2000-an. Sosok ini digambarkan sebagai pria bertubuh besar, berbulu lebat, dan hanya mengenakan celana dalam berwarna hijau.

    Kemudian digambarkan sebagai sosok makhluk menyeramkan yang suka memperkosa wanita. Konon dia merupakan pria yang tengah menyempurnakan ilmu hitam dan teror mengerikan tersebut diangkat ke layar kaca.

    Sementara itu, kisah Kolor Ijo  sendiri pertama kali mencuat setelah terjadi serangkaian kasus perampokan dan pemerkosaan di Desa Cijengkol, Kecamatan Setu, Bekasi, pada Oktober 2003.

    Pelaku masuk ke rumah korban pada malam hari dan menodongkan senjata tajam lalu melakukan aksi kejahatan sambil mengenakan celana dalam hijau. Fenomena ini dengan cepat menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Jakarta dan sekitarnya.

    Masyarakat menjadi resah dan mulai mengambil langkah-langkah preventif seperti memasang bambu kuning dan daun kelor di pintu rumah yang dipercaya dapat menangkal kehadiran Kolor Ijo.

    Media massa juga turut berperan pada masa itu dalam menyebarkan cerita ini sehingga ketakutan terhadap Kolor Ijo semakin meluas. Kisah Kolor Ijo menjadi contoh bagaimana urban legend dapat mempengaruhi perilaku dan psikologi masyarakat.

    Ketakutan yang ditimbulkan oleh cerita ini menyebabkan perubahan dalam kebiasaan sehari-hari seperti meningkatnya ronda malam dan penggunaan benda-benda tertentu sebagai penangkal.

    Hingga kini, Kolor Ijo tetap menjadi bagian dari cerita horor Indonesia yang dikenang oleh banyak orang. Meskipun kebenaran dari kisah ini masih diperdebatkan dampaknya terhadap masyarakat pada masanya sangat nyata.

  • Misteri Kemamang, Legenda Urban dari Cilacap yang Bertahan Puluhan Tahun

    Misteri Kemamang, Legenda Urban dari Cilacap yang Bertahan Puluhan Tahun

    Liputan6.com, Cilacap – Legenda tentang sosok perempuan bernama Kemamang telah menjadi bagian dari cerita rakyat di wilayah Cilacap selama beberapa dekade. Kisah tragis yang berawal dari kematian tidak wajar tersebut berkembang menjadi mitos urban dengan berbagai versi penampakan yang tetap dipercaya masyarakat hingga saat ini.

    Mengutip dari berbagai sumber, legenda Kemamang berawal dari kisah Nyai Kemamang. Ia adalah seorang perempuan muda yang dikabarkan mengakhiri hidupnya sendiri akibat tekanan psikologis yang berat.

    Terdapat pula versi yang menyatakan kematiannya berkaitan dengan perselingkuhan atau kekerasan dalam rumah tangga. Peristiwa tragis ini terjadi di sebuah desa terpencil dan menjadi dasar cerita tentang arwahnya yang diyakini tidak dapat beristirahat dengan tenang.

    Sosok Kemamang digambarkan sebagai perempuan berbusana putih dengan wajah pucat dan rambut panjang yang terurai. Beberapa laporan menyebutkan penampakannya sering terjadi di area tertentu pada malam hari, khususnya di sekitar pohon besar atau aliran sungai.

    Terdapat pula kesaksian yang menyatakan Kemamang muncul dalam wujud bola api yang bergerak cepat atau suara tangisan tanpa sumber yang jelas. Berbagai fenomena aneh sering dikaitkan dengan Kemamang, termasuk benda yang menghilang secara tiba-tiba, pintu yang bergerak sendiri, atau suara langkah kaki tanpa wujud.

     

  • Bukan Sekadar Timbang Balita, Kader Posyandu Juga Tekankan Edukasi dan Inovasi Gizi

    Bukan Sekadar Timbang Balita, Kader Posyandu Juga Tekankan Edukasi dan Inovasi Gizi

    Health, Safety, Environmental and Community Development (HSEC) Head PT BEK, Cipto Hadi Purnomo menjelaskan, posyandu merupakan titik krusial dalam rantai pemenuhan hak dasar masyarakat, khususnya kesehatan anak usia dini.

    “Kalau anak sehat, mereka bisa belajar dengan baik. Kalau ibunya teredukasi, maka keluarganya juga terangkat kualitas hidupnya. Itu sebabnya posyandu jadi pintu masuk utama dalam mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) yakni menghapus kelaparan, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan kesehatan,” terang Cipto.

    Ia menambahkan, BEK menempatkan dukungan terhadap posyandu sebagai bagian dari kontribusi langsung terhadap pencapaian SDGs.

    “Ini bukan sekadar bantuan. Ini upaya konkret untuk ikut mendukung target-target global. Karena kalau masyarakat sehat, mereka bisa belajar, bisa bekerja, dan itu memperkuat keluarga dan komunitasnya,” tambah Cipto.

    PT BEK juga mendorong kreativitas kader agar kegiatan posyandu lebih diminati. Salah satunya melalui pemberian hadiah kecil bagi warga dengan kehadiran rutin setiap bulan.

    “Kita bantu supaya warga makin rajin datang ke posyandu. Karena semakin banyak yang ikut, semakin besar dampaknya bagi pencegahan stunting dan edukasi kesehatan,” ujarnya.

    Posyandu di Besiq, Bermai, dan Muara Bunyut kini rutin mengadakan kegiatan tambahan seperti penyuluhan kebersihan lingkungan, pelatihan gizi keluarga, hingga promosi pemanfaatan lahan pekarangan. Kegiatan ini menjadi bagian dari arahan Menteri Dalam Negeri tentang revitalisasi posyandu sebagai layanan terpadu lintas sektor.

    “Dengan pelatihan dan pembinaan, kader sekarang juga tahu bagaimana menyusun laporan, merencanakan menu PMT, bahkan ikut menyosialisasikan pola makan sehat ke masyarakat. Ini bentuk pemberdayaan yang sangat berarti,” tambah Cipto.

    Seluruh kegiatan posyandu dilaporkan secara rutin setiap bulan, dan digunakan sebagai bahan evaluasi dan pengembangan program di tingkat kampung maupun lintas instansi. Ke depan, para kader juga direncanakan mendapatkan pelatihan lanjutan untuk memperdalam kemampuan komunikasi kesehatan dan pengelolaan program komunitas.

    “Semua upaya ini tujuannya satu, memperkuat posyandu sebagai pilar utama layanan dasar masyarakat. Karena dari sinilah generasi sehat dan kuat bisa dibentuk,” pungkas Cipto.

  • Candi Kadisoka, Situs Cagar Budaya di Kabupaten Sleman yang Ditemukan 25 Tahun Lalu

    Candi Kadisoka, Situs Cagar Budaya di Kabupaten Sleman yang Ditemukan 25 Tahun Lalu

    Liputan6.com, Yogyakarta – Candi Kadisoka berada di Dusun Kadisoka, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Situs cagar budaya ini ditemukan pertama kali pada 2000.

    Mengutip dari laman Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY, Candi Kadisoka memiliki denah segi empat dengan ukuran 6,9 x 6,49 meter. Bangunan candinya tersusun dari tiga bagian.

    Bagian pertama candi merupakan bagian pembingkai dinding batur. Bagian ini terdiri dari tiga lapisan. Selanjutnya, bagian kedua adalah pembingkai sisi genta (padma). Sementara bagian ketiga adalah setengah bulatan (half round) yang terletak di atas bangunan batur.

    Candi Kadisoka dibangun menghadap ke arah barat. Jika dilihat dari profil bangunan yang berupa perbingkaian sisi genta dan setengah lingkaran, bangunan ini berciri bangunan candi di Jawa Tengah.

    Umumnya, bangunan candi di Jawa Tengah dan DIY dibangun sekitar abad ke-7 hingga 10 Masehi. Berdasarkan data stratigrafi yang ada di lingkungan sekitar candi, menunjukkan bahwa Candi Kadisoka terpendam oleh endapan vulkanik.

    Endapan vulkanik adalah endapan sekunder yang merupakan luapan atau banjir lahar dari Sungai Kuning. Sungai ini berada di sebelah timur candi.

    Proses pengendapan tersebut merupakan akibat banjir lahar dingin yang terjadi melalui dua tahap dengan selang waktu yang cukup lama. Kemungkinan, pengendapan tahap pertama juga menggenangi Candi Sambisari yang berada tak jauh dari Candi Kadisoka.

    Pada banjir lahar dingin tahap pertama, Candi Kadisoka masih dalam proses pembangunan. Dengan demikian, Candi Kadisoka diperkirakan dibangun setelah Candi Sambisari.

    Pada tengah lantai bilik Candi Kadisoka terdapat sumuran (perigi). Bagian dalamnya terdapat peripih berupa lempengan emas segi empat bergambar bunga teratai dan batu-batu mulia. Dari berbagai hasil temuan pada Candi Kadisoka, diperkirakan bahwa candi ini berlatar belakang agama Hindu.

  • Kisah di Balik Penamaan Pasar Sesuai Nama Hari di Betawi

    Kisah di Balik Penamaan Pasar Sesuai Nama Hari di Betawi

    3. Pasar Rebo

    Nama Pasar Rabu sudah tidak ada di Jakarta, tetapi dahulu terdapat pasar tradisional yang bernama Pasar Rebo. Nama ini juga telah menjadi nama sebuah kecamatan di daerah Jakarta Timur.

    Nama pasar ini telah berganti menjadi Pasar Induk Kramat Jati. Perubahan nama dilakukan karena adanya pemindahan lokasi pasar oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin.

    Pasar Rabu dipindahkan ke Jalan Raya Bogor dan menjadi Pasar Induk Kramat Jati. Lokasi sebelumnya dianggap kurang cocok sebagai tempat untuk aktivitas jual beli, sehingga harus dipindah.

    Sejak dahulu, pasar ini dikenal sebagai pusat perbelanjaan sayur mayur. Pada masa penjajahan Belanda, pasar ini hanya aktif pada Senin, Selasa, dan Rabu.

    4. Pasar Kamis

    Konon, Pasar Kamis dahulu hanya melakukan aktivitas perdagangan setiap Kamis. Saat ini, namanya telah berganti menjadi Pasar Jatinegara yang berada di Jakarta Timur.

    Pada gapura menuju pasar terdapat tulisan Mester. Pada masa pemerintahan Belanda, pasar ini dikenal dengan nama Mesteer Passer atau Pasar Meester.

    Nama ini berasal dari nama seorang guru agama Kristen, Cornelis Senen, yang saat itu dipanggil dengan sebutan Meester (tuan guru). Pada pertengahan abad ke-17, Meester Cornelis diberikan izin oleh pemerintah Belanda untuk membuka lahan hutan jati yang jaraknya sekitar 15 kilometer dari Batavia.

    Saat ini, hutan yang dibuka oleh Meester Cornelis dikenal sebagai daerah padat penduduk Jatinegara. Selain di kawasan Jatinegara, penamaan Pasar Kemis juga ada di wilayah Tangerang Banten.

    5. Pasar Jumat

    Pada masa penjajahan Belanda, terdapat tiga pasar yang hanya buka segiap Jumat saja, yakni Pasar Jumat, Pasar Klender, dan Pasar Cimanggis. Namun, saat ini Pasar Jumat telah berganti nama menjadi Pasar Lebak Bulus yang ada di dekat Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

    Sekitar 1975, para pedagang di Pasar Jumat kerap berjualan dengan membawa dagangannya menggunakan pikulan. Mereka juga menggelar dagangannya dengan beralaskan kain.

    Para pedagang yang tadinya berjualan di Pasar Lebak Bulus kemudian dipindahkan ke dua pasar yang ada di dekat bekas Pasar Lebak Bulus. Dua pasar tersebut adalah Pasar Mede yang ada di Jalan Fatmawati Raya dan Pasar Bata Putih yang ada di Jalan Kramat Kebayoran Lama.

    Penulis: Resla