Category: Kompas.com Metropolitan

  • Pengelola Monas Pastikan Chairlift Gratis untuk Lansia dan Penyandang Disabilitas
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        9 Januari 2026

    Pengelola Monas Pastikan Chairlift Gratis untuk Lansia dan Penyandang Disabilitas Megapolitan 9 Januari 2026

    Pengelola Monas Pastikan Chairlift Gratis untuk Lansia dan Penyandang Disabilitas
    Tim Redaksi

    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Pengelola kawasan Monumen Nasional (Monas) memastikan fasilitas
    chairlift
    atau kursi angkat di dalam area Tugu Monas dapat digunakan secara gratis bagi pengunjung yang membutuhkan, khususnya lansia dan penyandang disabilitas.
    Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Monas, Muhammad Isa Sarnuri, menjelaskan bahwa fasilitas tersebut disediakan untuk membantu pengunjung dengan keterbatasan mobilitas agar tetap dapat menikmati seluruh area Monas, termasuk ruang diorama dan pelataran cawan.
    “(Bisa dimanfaatkan) Gratis,” ujar Isa saat dikonfirmasi
    Kompas.com
    pada Jumat (9/1/2025).
    Namun, Isa menegaskan, penggunaan
    chairlift
    diperuntukkan bagi lansia, penyandang disabilitas, serta pengunjung lain yang memiliki kendala fisik tertentu, bukan untuk penggunaan umum tanpa kebutuhan khusus.
    Isa menjelaskan, pengadaan
    chairlift
    di kawasan Monas telah dilakukan secara bertahap sejak 2020 dengan sumber anggaran dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf).
    Realisasi tahap awal dilakukan di dekat pintu masuk Museum Monas. Selanjutnya,
    chairlift
    dipasang pada rute dari ruang diorama menuju tangga tengah yang mengarah ke pelataran cawan Monas.
    Pada 2025, fasilitas serupa kembali ditambahkan di titik pintu keluar Museum Monas yang terhubung dengan ruang diorama.

    Chairlift
    digunakan untuk membantu lansia dan penyandang disabilitas untuk dapat berkunjung ke ruang diorama dan puncak Tugu Monas,” jelas Isa.
    Ke depan, pengelola Monas juga berencana menambah satu rute
    chairlift
    baru. Yakni dari ruang tengah ke pelataran Utara.
    “Insya Allah
    di anggaran tahun ini. Sehingga nanti bisa digunakan di dua sisi (dekat pelataran selatan dan utara),” lanjutnya.
    Di lapangan, masih banyak pengunjung lansia yang belum mengetahui bahwa fasilitas
    chairlift
    dapat digunakan secara gratis.
    Salah satunya adalah Eli Nursari (59), wisatawan asal Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, yang ditemui Kompas.com pada Jumat. Ia memanfaatkan
    chairlift
    karena kondisi kakinya sudah tidak lagi prima akibat faktor usia dan pernah mengalami kecelakaan.
    “Kalau naik tangga sebenarnya masih kuat. Asalkan pelan-pelan. Kalau turun tangga itu saya yang sulit. Kaki bagian bawah sakit jika tertekuk kan,” kata Eli.
    “Saat ditawari petugas buat naik ini saya langsung iyakan. Sekaligus mencoba. Jadi cepat naik-turun tangganya. Buat lansia kayak saya naik turun itu satu demi satu tangga lho,” jelasnya.
    Eli menilai, fasilitas tersebut perlu disosialisasikan lebih luas agar pengunjung memahami fungsi dan status gratisnya.
    “Tadi soalnya saya sempat bertanya ini gratis apa bayar? Karena kan kursinya bagus ya,” tuturnya.
    Hal serupa juga dirasakan Lukita (64), pengunjung Monas lainnya. Ia mengaku awalnya mengira
    chairlift
    merupakan fasilitas berbayar sehingga sempat ragu menggunakannya.
    “Kalau saya sebenarnya masih kuat naik dan turun tangga ya. Apalagi kalau bareng cucu-cucu begini, malu kalau naik itu kan. Tapi infonya saya mau kasih tahu ke teman-teman,” kata Lukita.
    Ia menilai keberadaan
    chairlift
    merupakan bentuk fasilitas publik yang penting di kawasan wisata.
    “Fasilitasnya bagus. Memang kalau tempat wisata sebaiknya ada fasilitas seperti ini untuk membantu yang kesulitan mobilitas,” tuturnya.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Usai Banyak Ban Mobil Bocor, Jalan Rusak Flyover Pesing Diperbaiki
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        9 Januari 2026

    Usai Banyak Ban Mobil Bocor, Jalan Rusak Flyover Pesing Diperbaiki Megapolitan 9 Januari 2026

    Usai Banyak Ban Mobil Bocor, Jalan Rusak Flyover Pesing Diperbaiki
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com – 
    Suku Dinas Bina Marga Jakarta Barat mulai memperbaiki sejumlah titik jalan rusak di Flyover Pesing, Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat.
    Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas
    Bina Marga DKI
    Jakarta, Siti Dinar Wenny, mengatakan penambalan sudah dimulai pada Jumat (9/1/2026) sore.
    “Sore ini Dinas Bina Marga melalui Suku Dinas Bina Marga
    Jakarta Barat
    telah melaksanakan perbaikan pada beberapa titik kerusakan jalan,” kata Wenny saat dikonfirmasi
    Kompas.com
    , Jumat.
    Perbaikan awal dilakukan di sisi kiri
    Jalan Daan Mogot
    arah Cengkareng, tepatnya di bawah Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Rumah Pompa Green Garden. Area berlubang tersebut telah ditutup aspal dengan ukuran sekitar 2×3 meter.
    Namun, Wenny mengakui proses penambalan sore hari terkendala kepadatan lalu lintas. Karena itu, perbaikan di titik lainnya akan dilanjutkan pada malam hari.
    “Namun mengingat lalu lintas cukup padat, maka perbaikan jalan tersebut akan kami lanjutkan nanti malam, termasuk yang di atas flyover,” ucap Wenny.
    Ia juga merespons keluhan warga terkait jalan yang kerap kembali rusak meski sudah diperbaiki. Menurutnya, pemantauan rutin terus dilakukan untuk mencegah kejadian serupa.
    “Pemantauan secara rutin memang sudah menjadi tugas dari Dinas Bina Marga. Adapun, saat ditemui masalah, kami berupaya secepat mungkin menindaklanjuti demi keamanan dan kenyamanan pengguna jalan,” ujarnya.
    Sebelumnya, jalan berlubang di
    Flyover Pesing
    dilaporkan menyebabkan sejumlah mobil mengalami pecah dan bocor ban. Dalam video yang diunggah akun Instagram @warga.jakbar, terlihat beberapa kendaraan berhenti di pinggir Jalan Daan Mogot pada Kamis (8/1/2026) malam.
    Pantauan
    Kompas.com
    pada Jumat pagi menunjukkan kerusakan terparah berada di jalur Grogol menuju Cengkareng, tepat di seberang Rusun Polri Pesing.
    Dua lubang besar terlihat menganga di sambungan beton jalan.
    Lubang terbesar berada di lajur kanan dengan diameter sekitar 35 sentimeter, berisi pecahan beton dan batu tajam.
    Sementara lubang di lajur kiri berukuran lebih kecil, sekitar 10 sentimeter, tetapi lebih dalam.
    Kondisi jalan tersebut memaksa pengendara melakukan manuver zig-zag yang berisiko membahayakan keselamatan.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Selundup Baby Lobster, Kurir Dijanjikan Rp 5 Juta per Pengiriman
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        9 Januari 2026

    Selundup Baby Lobster, Kurir Dijanjikan Rp 5 Juta per Pengiriman Megapolitan 9 Januari 2026

    Selundup Baby Lobster, Kurir Dijanjikan Rp 5 Juta per Pengiriman
    Tim Redaksi
    TANGERANG, KOMPAS.com
    – Seorang tersangka penyelundupan benih bening lobster (BBL) atau baby lobster dijanjikan upah Rp 5 juta untuk menjadi kurir ke luar negeri.
    Penyelundupan itu rencananya dilakukan melalui Terminal 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, dengan tujuan Kamboja dan Singapura.
    Salah satu tersangka berinisial DR diketahui mendapat tugas dari pelaku lain berinisial UH untuk membawa koper berisi puluhan ribu
    baby lobster
    .
    “Dari hasil wawancara singkat, DR ternyata diberi upah Rp 5 juta,” ujar Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama saat konferensi pers di KPU Bea dan Cukai Tipe C Soekarno-Hatta, Jumat (9/1/2026).
    Djaka menjelaskan, DR diminta membawa koper berisi 29.780 baby lobster menuju Kamboja.
    Upah tersebut dijanjikan jika DR berhasil mengeluarkan barang ilegal itu dari Indonesia.
    Setelah menetapkan UH sebagai target operasi,
    Bea Cukai
    kemudian melakukan pengembangan kasus.
    Pada 8 Januari 2026, petugas menangkap UH bersama rekannya, FD, saat hendak terbang ke Singapura.
    Pemeriksaan bagasi keduanya kembali menemukan koper berisi baby lobster dengan jumlah lebih besar dan modus serupa.
    “Mereka berupaya pembawaan BBL sejumlah 43.615 ekor jenis pasir dengan metode penyamaran yang bertujuan mengelabui petugas,” kata Djaka.
    Seluruh baby lobster yang berhasil diamankan kemudian disita dan dilepasliarkan di perairan Pandeglang, Banten.
    Sementara itu, para tersangka dijerat Undang-Undang Perikanan dan Kepabeanan dengan ancaman pidana maksimal 10 tahun penjara serta denda hingga Rp 1,5 miliar.
    “Kami akan terus memperkuat sinergi dan pengawasan untuk memastikan sumber daya alam Indonesia dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat, bukan untuk kepentingan segelintir pihak melalui praktik ilegal,” ucap Djaka.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Utang Rp 300.000 yang Berujung Pembunuhan di Depok
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        9 Januari 2026

    Utang Rp 300.000 yang Berujung Pembunuhan di Depok Megapolitan 9 Januari 2026

    Utang Rp 300.000 yang Berujung Pembunuhan di Depok
    Editor
    DEPOK, KOMPAS.com
    – Persoalan utang kecil berubah menjadi tragedi besar di Cilangkap, Tapos, Kota Depok.
    Seorang pria berinisial DS tewas setelah ditusuk temannya sendiri saat tertidur pulas.
    Polisi menyebut, amarah karena utang Rp 300.000 yang tak kunjung dibayar menjadi pemicu utama pembunuhan tersebut.
    Pelaku berinisial S (43) kini telah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka.
    Peristiwa berdarah itu terjadi pada Kamis (8/1/2026) malam di rumah korban.
    Kasat Reskrim
    Polres Metro Depok
    AKBP Made Gede Oka mengungkapkan, pelaku dan korban saling mengenal cukup dekat.
    Keduanya diketahui pernah bekerja sebagai juru parkir di satu lokasi yang sama.
    “Tersangka mencari korban karena diketahui korban ini memiliki utang kepada tersangka S dan sudah berkali-kali ditagih namun tidak dibayarkan,” kata Made dalam jumpa pers, Jumat (9/1/2026).
    Menurut Made, korban tercatat memiliki utang Rp 300.000 kepada pelaku yang telah menunggak sekitar satu bulan.
    Bahkan, korban sempat meminjam uang dengan nominal yang sama untuk kedua kalinya.
    “(Besaran uang yang dipinjam) Rp 300.000 namun dua kali pinjemnya, sudah sekitar satu bulanan (nunggak),” ujar Made.
    Rasa kesal itu terus menumpuk hingga akhirnya berubah menjadi kemarahan.
    “Motif dari tersangka S ini karena kesal. Kesal hutangnya tidak dikembalikan, sudah berulang kali diminta tapi tidak dianggap ataupun tidak diindahkan oleh korban,” kata Made.
    Pada malam kejadian, pelaku mendatangi rumah korban sambil membawa sebilah
    pisau
    .
    Setibanya di lokasi, S mendapati DS dalam kondisi tertidur lelap.
    “Memang dengan amarah, (pelaku) mencari sodara DS,” ujar Made.
    Tanpa perlawanan, korban langsung ditusuk dari arah punggung.
    Tusukan tersebut ternyata mengenai organ vital.
    “Ditusuknya satu kali namun cukup dalam dan memang mengenai hasil visum sementara dapat kami sampaikan (pisau) mengenai organ vitalnya,” jelas Made.
    Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong.
    “Seketika korban langsung tersungkur dan akhirnya dalam perjalanan ke rumah sakit meninggal dunia,” kata Made.
    Usai kejadian, polisi bergerak cepat melakukan penyelidikan.
    Pelaku akhirnya ditangkap kurang dari 24 jam setelah pembunuhan.
    S diamankan pada Jumat (9/1/2026) sekitar pukul 01.30 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah Bogor.
    Saat itu, ia tengah menemani atasannya yang sedang dirawat.
    Kini, pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
    Ia dijerat dengan Pasal 458 KUHP dan/atau Pasal 469 ayat (2) dan/atau Pasal 468 ayat (2) KUHP serta Pasal 468 KUHP, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.
    Kasus ini menambah daftar panjang kejahatan yang dipicu persoalan sepele, ketika emosi dan utang yang tak terselesaikan berujung pada hilangnya nyawa.
    (Reporter: Dinda Aulia Ramadhanty | Editor: Larissa Huda)
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Gapura Dukuh Zamrud Diusulkan lewat Reses DPRD, Agus Rohadi Bantah Anggaran Rp 1 Miliar
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        9 Januari 2026

    Gapura Dukuh Zamrud Diusulkan lewat Reses DPRD, Agus Rohadi Bantah Anggaran Rp 1 Miliar Megapolitan 9 Januari 2026

    Gapura Dukuh Zamrud Diusulkan lewat Reses DPRD, Agus Rohadi Bantah Anggaran Rp 1 Miliar
    Tim Redaksi

    BEKASI, KOMPAS.com
    – Pembangunan gapura utama Perumahan Dukuh Zamrud, Kelurahan Cimuning, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, yang menyedot anggaran hampir Rp 1 miliar dari APBD 2025, disebut berangkat dari aspirasi warga yang disampaikan melalui mekanisme reses dan pokok pikiran (pokir) DPRD Kota Bekasi.
    Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Kota Bekasi Agus Rohadi, yang juga merupakan warga Dukuh Zamrud, menjelaskan bahwa usulan pembangunan gapura muncul dalam forum reses DPRD tahun 2025.
    Dalam forum tersebut, seluruh perwakilan RW menyampaikan keluhan terkait minimnya pengembangan kawasan yang dinilai stagnan selama puluhan tahun.
    “Dari 1997, Dukuh Zamrud ya seperti itu saja. Tidak ada pintu gerbang, semua orang bisa masuk jam berapa pun. Akhirnya kejahatan di jalan utama sering terjadi,” kata Agus saat dikonfirmasi
    Kompas.com
    melalui sambungan telepon, Jumat (9/1/2026).
    Menurut Agus, warga menginginkan adanya ikon kawasan yang sekaligus berfungsi sebagai pintu masuk utama lingkungan. Aspirasi itu kemudian diteruskan kepada Pemerintah Kota Bekasi.
    “Masyarakat atau RW itu ingin adanya satu ikon gapura. Saya sebagai anggota dewan yang berasal dari Dukuh Zamrud tentunya merespons hal itu. Makanya kami usulkan ke Pemkot Bekasi,” ujarnya.
    Agus mengungkapkan, rencana pembangunan awalnya tidak hanya berupa gapura. Usulan juga mencakup pemasangan pagar di sekitar fasilitas sosial dan taman penghijauan dengan panjang sekitar 40 meter.
    Namun, rencana tersebut urung direalisasikan karena keterbatasan anggaran.
    “Hitung-hitungan ternyata tidak cukup dananya. Makanya akhirnya dijadikan cuma gapura,” ungkap Agus.
    Menanggapi sorotan publik soal besarnya anggaran pembangunan gapura, Agus menegaskan bahwa nilai hampir Rp 1 miliar merupakan pagu indikatif awal.
    Ia menyebut, nilai tersebut ditetapkan agar proyek dapat masuk dalam mekanisme lelang sesuai ketentuan.
    “Pagu indikatifnya memang 1 M kurang, tapi waktu dilelang sekitar Rp 877 juta lebih, tidak sampai Rp 900 juta. Jadi tidak benar kalau disebut gapura itu Rp 1 miliar,” tegasnya.
    Menurut Agus, besar kecilnya anggaran sangat bergantung pada spesifikasi material yang digunakan dalam pembangunan.
    Untuk memastikan kualitas pekerjaan, Yayasan Forum Komunikasi Warga Zamrud (FKWZ) membentuk tim pengawas internal.
    “Yayasan FKWZ dibentuk untuk mengawasi. Itu ada tim yang ngecek,” jelas Agus.
    Meski menjadi pihak pengusul, Agus menegaskan bahwa penilaian kesesuaian bangunan dengan anggaran bukan menjadi kewenangan DPRD, melainkan Inspektorat.
    “Kalau saya tidak bisa bilang itu sesuai atau tidak. Yang bisa itu nanti Inspektorat melakukan pengecekan,” ujarnya.
    Ia menyatakan mendukung penuh apabila dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap proyek tersebut, terlebih
    pembangunan gapura Dukuh Zamrud
    kini menjadi perhatian publik.
    “Saya sangat mendukung. Kalau ditemukan tidak sesuai dengan spek, harus ada penalti dari pihak pelaksana. Inspektorat wajib turun supaya masyarakat tidak dirugikan,” kata Agus.
    Agus juga menekankan bahwa peran DPRD terbatas pada fungsi pengusulan dan pengawasan.
    “Fungsi anggota dewan itu hanya menyampaikan aspirasi masyarakat. Setelah dikerjakan, kalau ada hal di luar ketentuan, fungsi pengawasan itu melekat pada kami,” ujarnya.
    Ia pun mengajak warga Dukuh Zamrud untuk turut mengawasi proses pembangunan.
    “Kalau memang ditemukan hal-hal yang tidak sesuai, silakan sampaikan langsung ke dinas maupun kepada kami selaku wakil masyarakat,” ujar Agus.
    Sementara itu, Koordinator Seksi Forum Komunikasi Warga Zamrud (FKWZ) Heru Rilano (52) mengatakan kawasan perumahan tersebut sudah lama tidak lagi dikelola pengembang.
    “Dukuh Zamrud ini sudah tidak ditangani
    developer
    . Sudah diserahkan ke Pemda. Warga merasa perlu ada ikon dan penataan agar kawasan ini lebih tertata dan indah,” ujar Heru.
    Sebelumnya, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menegaskan seluruh proyek pembangunan telah melalui proses perencanaan yang melibatkan masyarakat dan legislatif.
    “Jadi saya kira kalau soal urgensi dan sebagainya ditanyakan kepada yang mengusulkan,” ujar Tri saat ditemui
    Kompas.com
    di Plaza Pemerintah Kota Bekasi, Kamis (8/1/2026).
    Ia menyatakan pembangunan gapura Dukuh Zamrud telah disetujui sesuai ketentuan dan regulasi yang berlaku.
    “Pada intinya, kalau sudah menjadi kesepakatan di dalam yang kemudian ditetapkan melalui Perda kesepakatan bersama, kami pemerintah tentu akan melaksanakan,” ujar Tri.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Tiga Lampu Pedestrian Stasiun Sudirman–JPO Dukuh Atas Mati
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        9 Januari 2026

    Tiga Lampu Pedestrian Stasiun Sudirman–JPO Dukuh Atas Mati Megapolitan 9 Januari 2026

    Tiga Lampu Pedestrian Stasiun Sudirman–JPO Dukuh Atas Mati
    Tim Redaksi

    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Sejumlah lampu penerangan di trotoar yang menghubungkan Stasiun KRL Sudirman dengan tangga menuju
    JPO Dukuh Atas
    , Setiabudi, Jakarta Selatan, tampak tidak berfungsi pada Jumat (9/1/2026) malam.
    Kondisi ini membuat sebagian area trotoar terlihat redup dan kurang nyaman bagi pejalan kaki.
    Pantauan
    Kompas.com
    di lokasi menunjukkan, tiga lampu yang berada di sisi trotoar dekat
    Stasiun Sudirman
    dalam kondisi mati. Sementara itu, tiga lampu lainnya yang berada hingga area tangga JPO Dukuh Atas masih menyala normal.
    Tiang-tiang lampu tersebut memiliki tinggi yang relatif rendah, tidak lebih tinggi dari pepohonan di sekitarnya, dengan bentuk lampu melingkar di bagian atas.
    Selain itu, satu lampu jalan lain dengan posisi tiang lebih tinggi di jembatan menuju stasiun juga terlihat tidak menyala.
    Meski demikian, cahaya dari kendaraan yang melintas di Jalan Jenderal Sudirman serta pantulan lampu dari gedung-gedung perkantoran di sekitar kawasan tersebut masih membantu menerangi sebagian trotoar.
    Namun, pada bagian tepi trotoar yang cenderung lebih gelap, kondisi ini tetap menimbulkan ketidaknyamanan. Beberapa kali pejalan kaki terlihat terkejut ketika seekor anak kucing hitam tiba-tiba melompat keluar dari balik tanaman di pinggir jalur pejalan kaki.
    Para pejalan kaki mengaku tidak mengetahui sejak kapan lampu-lampu tersebut padam. Respons mereka pun beragam, mulai dari merasa terganggu hingga menganggap kondisi tersebut masih bisa ditoleransi.
    “Sebenarnya enggak masalah. Tapi kan lampunya dipasang di situ untuk menerangi jalannya pejalan kaki. Kalau malah berfungsi kayak seharusnya ya sayang dong,” ungkap Farah (27), salah seorang pejalan kaki yang baru keluar dari Stasiun Sudirman.
    Pejalan kaki lainnya, Caca (24), menyoroti potensi risiko saat trotoar dilalui pada malam hari ketika lalu lintas kendaraan mulai sepi.
    Caca mengaku belum pernah melintas di lokasi tersebut setelah pukul 20.00 WIB. Namun, ia menilai kondisi penerangan yang minim dapat membuat pejalan kaki merasa tidak aman.
    “Kalau makin malam kan yang lewat sedikit, penerangannya juga enggak terlalu terang, kasihan (pejalan kaki) yang lewat pasti enggak tenang. Jadi semoga cepat-cepat diperbaiki deh,” kata dia.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Gapura Dukuh Zamrud Diusulkan lewat Reses DPRD, Agus Rohadi Bantah Anggaran Rp 1 Miliar
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        9 Januari 2026

    Alasan Gapura Perumahan Dukuh Zamrud Bekasi Dibangun Pakai APBD Hampir Rp 1 Miliar Megapolitan 9 Januari 2026

    Alasan Gapura Perumahan Dukuh Zamrud Bekasi Dibangun Pakai APBD Hampir Rp 1 Miliar
    Tim Redaksi
    BEKASI, KOMPAS.com –
    Pembangunan Gapura Utama Perumahan Dukuh Zamrud di Kelurahan Cimuning, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Kota Bekasi senilai hampir Rp 1 miliar karena perumahan tersebut sudah tidak lagi dikelola oleh pengembang.
    Perumahan Dukuh Zamrud kini berada di bawah naungan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Disperkimtan) Kota Bekasi. Pengelola sebelumnya, PT Mitra Bening Lestari, menyerahkan pengelolaan kawasan kepada pemerintah daerah.
    Koordinator Seksi Forum Komunikasi Warga Zamrud (FKWZ) sekaligus warga yang turut mengawal pembangunan, Heru Rilano (52), mengatakan bahwa proyek pembangunan gapura berawal dari aspirasi warga. Warga menginginkan adanya penataan kawasan setelah perumahan tidak lagi ditangani oleh pengembang.
    “Dukuh Zamrud ini sudah tidak ditangani
    developer
    . Sudah diserahkan ke pemda. Warga merasa perlu ada ikon dan penataan agar kawasan ini lebih tertata dan indah,” ujar Heru saat ditemui
    Kompas.com
    di Mustikajaya, Jumat (9/1/2026).
    Aspirasi tersebut kemudian disampaikan kepada anggota DPRD Kota Bekasi, Agus Rohadi, untuk diperjuangkan melalui mekanisme pemerintahan daerah.
    “Lewat aspirasi warga, ini disampaikan ke Pak Agus Rohadi untuk dijadikan usulan ke Pemerintah Kota. Salah satunya ya pembangunan gapura ini,” kata Heru.
    Menanggapi pro dan kontra di tengah masyarakat, terutama soal prioritas pembangunan di saat sejumlah ruas jalan masih mengalami kerusakan, Heru menegaskan bahwa rencana pembangunan gapura telah melalui proses sosialisasi dan kesepakatan warga.
    “Dukuh Zamrud melalui RW setempat sudah dikumpulkan terlebih dahulu. Dari belasan RW yang hadir, 100 persen itu setuju. Mereka mendukung pembangunan gapura ini,” ujarnya.
    Heru juga menilai penggunaan APBD untuk pembangunan gapura merupakan hal yang wajar, mengingat dana tersebut bersumber dari pajak masyarakat.
    “APBD ini kan diperoleh dari pajak. Jadi harus dialokasikan secara tepat sasaran serta berguna bagi masyarakat. Salah satunya gapura yang jadi ikon di perumahan,” kata Heru.
    Ia menambahkan, pembangunan gapura bukan satu-satunya rencana penataan kawasan Dukuh Zamrud. Ke depan, warga juga berencana mengusulkan pembangunan fasilitas umum lainnya.
    “Nantinya juga ada penataan ulang Patung Kodok menjadi Patung Air Mancur dan juga akan dibuat
    jogging track
    di sepanjang jalur Zamrud Selatan,” ungkapnya.
    Sementara itu, Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Kota Bekasi, Agus Rohadi, menjelaskan bahwa pembangunan gapura berangkat dari aspirasi warga yang disampaikan dalam forum reses DPRD tahun 2025.
    Dalam forum tersebut, seluruh RW di Dukuh Zamrud mempertanyakan arah pengembangan kawasan yang dinilai tidak mengalami perubahan signifikan selama puluhan tahun.
    “Dari tahun 1997, Dukuh Zamrud ya seperti itu saja. Tidak ada pintu gerbang, semua orang bisa masuk jam berapa pun. Akhirnya kejahatan di jalan utama sering terjadi,” kata Agus.
    Menurut Agus, warga menginginkan adanya ikon kawasan berupa gapura sebagai pintu masuk utama lingkungan. Aspirasi itu kemudian ia sampaikan kepada Pemerintah Kota Bekasi.
    “Masyarakat atau RW itu ingin adanya satu ikon gapura. Saya sebagai anggota dewan yang berasal dari Dukuh Zamrud tentunya merespons hal itu. Makanya kami usulkan ke Pemkot Bekasi,” ujarnya.
    Awalnya, usulan pembangunan tidak hanya mencakup gapura, tetapi juga pemasangan pagar di sekitar fasilitas sosial dan taman penghijauan sepanjang sekitar 40 meter. Namun, rencana tersebut tidak dapat direalisasikan karena keterbatasan anggaran.
    “Hitung-hitungan ternyata tidak cukup dananya. Makanya akhirnya dijadikan cuma gapura,” ungkap Agus.
    Terkait besaran anggaran yang menjadi sorotan publik, Agus menegaskan bahwa pagu indikatif awal memang mendekati Rp 1 miliar karena proyek dengan nilai di atas Rp 400 juta wajib melalui proses lelang. Namun, nilai realisasi proyek berada di bawah pagu awal.
    “Pagu indikatifnya memang Rp 1 miliar kurang, tapi waktu dilelang sekitar Rp 877 juta lebih, tidak sampai Rp 900 juta. Jadi tidak benar kalau disebut gapura itu Rp 1 miliar,” tegasnya.
    Sebelumnya, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menyatakan bahwa setiap proyek pembangunan telah melalui proses perencanaan yang melibatkan masyarakat dan legislatif.
    “Jadi saya kira kalau soal urgensi dan sebagainya ditanyakan kepada yang mengusulkan,” ujar Tri saat ditemui
    Kompas.com
    di Plaza Pemerintah Kota Bekasi, Kamis (8/1/2026).
    Ia menegaskan bahwa proyek pembangunan gapura tersebut telah disetujui sesuai dengan ketentuan dan regulasi yang berlaku.
    “Pada intinya, kalau sudah menjadi kesepakatan di dalam yang kemudian ditetapkan melalui Perda kesepakatan bersama, kami pemerintah tentu akan melaksanakan,” kata Tri.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Pramono Tunjuk 3 Lokasi Pembangunan PLTSa di Jakarta
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        9 Januari 2026

    Pramono Tunjuk 3 Lokasi Pembangunan PLTSa di Jakarta Megapolitan 9 Januari 2026

    Pramono Tunjuk 3 Lokasi Pembangunan PLTSa di Jakarta
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah menunjuk sejumlah lokasi untuk pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
    Gubernur DKI Jakarta
    Pramono Anung
    mengatakan, ada tiga kawasan yang disiapkan sebagai lokasi pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi tersebut.
    “Jadi Jakarta yang pertama di Bantar Gebang itu rencananya ada dua, apa
    pembangkit listrik tenaga sampah
    . Sekarang sedang proses untuk itu. Kemudian di Sunter yang dulu sudah mendapatkan persetujuan akan dilanjutkan. Satu daerah kemungkinan besar akan diadakan di Jakarta Barat,” kata Pramono saat ditemui di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (9/1/2026).
    Meski demikian, Pramono menegaskan Pemprov DKI tidak ingin terburu-buru dalam merealisasikan pembangunan
    PLTSa
    .
    Ia menekankan seluruh proses harus dilakukan secara transparan dan sesuai aturan yang berlaku.
    “Memang Jakarta inikan mempunyai kekhususan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 yang membedakan dengan daerah lain sehingga dengan demikian kami sedang dalam proses itu. Karena saya juga ingin transparansi,” lanjut dia.
    Pramono juga menyoroti besarnya potensi sampah di Jakarta yang mencapai hampir 8.000 ton per hari, serta cadangan sampah di Bantar Gebang yang diperkirakan mencapai 55 juta ton.
    Kondisi ini, menurut dia, membuat banyak pihak berlomba-lomba ingin terlibat dalam proyek
    PLTSa di Jakarta
    .
    “Saya tidak ingin terburu-buru karena semua orang sekarang ini mintanya kontraktor itu bekerja di Jakarta karena apa? Pertama, sampahnya setiap hari hampir 8.000 ton. Kedua, kita punya cadangan di Bantar Gebang 55 juta ton. Ini menjadi harta karun bagi semua orang untuk memperebutkan itu,” lanjutnya.
    Saat ini, Pemprov DKI Jakarta masih menunggu hasil koordinasi dengan Danantara sebelum menetapkan keputusan final terkait lokasi dan pelaksanaan proyek PLTSa tersebut.
    “Maka untuk itu kami juga sedang menunggu koordinasi dengan Danantara untuk segera diputuskan,” ujar dia.
    Sebagai informasi, Pemprov DKI Jakarta berencana membangun empat PLTSa sebagai solusi pengelolaan sampah jangka panjang sekaligus penyediaan energi bersih.
    Listrik yang dihasilkan dari PLTSa ini nantinya akan dijual langsung ke PLN tanpa menggunakan skema
    tipping fee
    .
    “PLTSA ini akan dibangun sebagai tindak lanjut arahan Bapak Presiden. Apakah nanti jumlahnya empat atau lima, kami siap. Listrik yang dihasilkan nantinya akan disalurkan melalui PLN tanpa skema tipping fee, karena teknologinya kini sudah lebih efisien dan tidak lagi membutuhkan insentif seperti dulu,” kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Senin (16/6/2025).
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Latihan Akrobatik Anak di Gang Sempit Penjaringan, Dokter Ungkap Manfaat dan Risikonya
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        9 Januari 2026

    Latihan Akrobatik Anak di Gang Sempit Penjaringan, Dokter Ungkap Manfaat dan Risikonya Megapolitan 9 Januari 2026

    Latihan Akrobatik Anak di Gang Sempit Penjaringan, Dokter Ungkap Manfaat dan Risikonya
    Tim Redaksi

    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Setiap sore, sebuah gang sempit di RT 07 RW 08, Penjaringan, Jakarta Utara, berubah menjadi arena latihan akrobatik bagi anak-anak berusia lima hingga 15 tahun.
    Tanpa matras dan fasilitas memadai, mereka berlatih berbagai gerakan ekstrem di bawah bimbingan seorang pelatih profesional.
    Pelatih itu adalah
    Yoga Ardian
    (35), warga setempat yang sudah tiga tahun terakhir mendirikan komunitas akrobatik bernama Indosalto.
    Melalui komunitas ini, Yoga melatih anak-anak di lingkungan sekitar rumahnya secara gratis
    encouraging
    mereka menekuni akrobatik secara serius.
    Latihan rutin tersebut bahkan membuahkan hasil. Dari tujuh anak yang aktif berlatih, satu di antaranya telah menjadi atlet dan berhasil menjuarai Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Kick Boxing 2025.
    Capaian ini menjadi bukti bahwa keterbatasan fasilitas tidak selalu menjadi penghalang bagi anak-anak untuk berkembang dan berprestasi.
    Pria yang akrab disapa Kak Yow itu menyadari, keterbatasan tempat latihan menjadi tantangan utama dalam membina anak-anak. Ruang terbuka yang layak untuk berlatih berada cukup jauh dari rumah dan sulit dijangkau anak-anak.
    “Jadi, kalau ke taman mereka butuh ongkos, dan agak susah karena masih anak-anak takutnya nyebrangnya susah juga karena takut kena mobil atau motor,” kata Yoga saat diwawancarai
    Kompas.com
    di kediamannya, Kamis (8/1/2026).
    Yoga juga mengaku pernah mencoba meminjam kantor RW setempat sebagai lokasi latihan, namun tidak mendapatkan izin. Kondisi ini membuat gang sempit di lingkungan rumahnya menjadi satu-satunya alternatif.
    “Kalau harapan saya sih ruang terbuka masih kurang di Jakarta, sebenarnya sih ada pos-pos RW, kecamatan sebenarnya bisa digunakan untuk teman-teman bermain, anak-anak bermain, tapi enggak bisa,” jelas Yoga.
    Meski dilakukan dengan fasilitas terbatas, Yoga menilai latihan akrobatik memberikan banyak manfaat bagi anak-anak, baik secara fisik maupun mental.
    “Kalau manfaat untuk tubuh ketahuan lah ini kan olahraga ya semua bagian dapat, selain melatih kelenturan, fleksibilitas, yang paling penting itu disiplin,” tutur dia.
    Latihan ini juga membentuk kekuatan otot anak-anak, termasuk otot perut yang terlihat kekar meski usia mereka masih belia.
    Selain melatih fisik, Yoga turut mengarahkan pola makan anak-anak agar tetap sehat dan seimbang.
    Murid-muridnya sudah memahami jenis makanan yang baik dikonsumsi dan menghindari asupan tinggi gula.
    Dokter spesialis anak, Vicka Farah Diba menilai aktivitas akrobatik yang dilakukan anak-anak di Penjaringan merupakan kegiatan yang positif jika dilakukan dengan benar.
    “Secara prinsip, aktivitas fisik seperti akrobatik dapat menjadi kegiatan positif yang membantu anak melatih kekuatan, kelincahan, dan disiplin,” ungkap Vicka saat dihubungi
    Kompas.com
    , Kamis.
    Ia menjelaskan, anak usia lima hingga enam tahun sudah bisa diperkenalkan dengan gerakan akrobatik dasar seperti keseimbangan, fleksibilitas, dan koordinasi.
    Sedangkan teknik akrobatik yang lebih kompleks, seperti salto,
    handstand
    , atau gerakan-gerakan yang memberikan tekanan besar pada sendi lebih ideal mulai diperkenalkan sejak usia delapan hingga 10 tahun saat kontrol motorik dan kekuatan otot sudah lebih matang.
    Latihan akrobatik memberikan manfaat ganda bagi anak-anak. Secara fisik, olahraga ini dapat meningkatkan kekuatan otot dan tulang, fleksibilitas, keseimbangan, serta kebugaran tubuh.
    “Manfaat fisik di antaranya, meningkatkan kekuatan otot dan tulang, memperbaiki fleksibilitas dan keseimbangan tubuh, serta meningkatkan kebugaran,” ungkap dr. Vicka.
    Sementara dari sisi psikologis, akrobatik membantu meningkatkan kepercayaan diri, disiplin, fokus, regulasi emosi, serta kesehatan mental dan fungsi kognitif anak.
    Vicka mengatakan, apabila dilakukan secara benar dan aman, maka akrobatik dapat menjadi aktivitas yang memperkaya perkembangan anak baik secara fisik dan mental.
    Vicka menilai, terbentuknya otot perut atau
    six pac
    k pada anak menandakan kekuatan otot yang baik. Namun, hal tersebut tidak boleh dihasilkan dari latihan berlebihan atau paksaan.
    Latihan dengan intensitas yang tidak sesuai usia berisiko mengganggu keseimbangan hormon, cadangan lemak esensial, hingga siklus menstruasi pada anak perempuan di masa pubertas.
    Selain itu, latihan yang tidak aman juga berpotensi menimbulkan cedera sendi, tulang belakang, kelelahan ekstrem, tekanan mental, hingga gangguan pertumbuhan.
    Vicka menegaskan, akrobatik akan lebih aman jika dilakukan dengan pengawasan profesional, tempat latihan yang memadai, serta perlengkapan keselamatan yang lengkap.
    Tanpa adanya perlengkapan yang kumplit, berlatih akrobatik di gang sempit merupakan hal yang sangat berisiko untuk anak-anak.
    “Namun, berlatih di gang sempit tanpa perlengkapan keselamatan meningkatkan risiko cidera seperti keseleo, patah tulang, cidera kepala, dan gangguan tulang belakang,” ucap dia.
    Ia berharap pemerintah dapat hadir mendukung bakat anak-anak dengan menyediakan ruang latihan komunitas yang aman, perlengkapan keselamatan dasar, serta pembinaan dan pelatihan standar keselamatan bagi pelatih lokal.
    “Ruang latihan komunitas yang aman, peralatan keselamatan dasar,” kata dia.
    Di sisi lain, pemerintah juga bisa melakukan pembinaan agar anak-anak yang sudah menekuni akrobatik di gang sempit Penjaringan bisa semakin terasah bakatnya.
    Selain itu, pemerintah juga bisa memberikan pelatihan standar keselamatan untuk para pelatih lokal yang melakukan kegiatan serupa.
    Meski latihan dilakukan gratis dan diawasi pelatih profesional, Vicka mengingatkan peran orangtua tetap krusial.
    Orangtua disarankan hadir langsung untuk memastikan keamanan latihan, memantau kondisi fisik anak, membatasi intensitas latihan, serta menjaga asupan nutrisi.
    Dengan hadir langsung, orangtua juga bisa memantau tanda-tanda cidera atau kelelahan pada anak. Lalu, juga bisa membatasi intensitas latihan agar tidak berlebihan, sebab orangtua lah yang paling paham kondisi anak.
    Selain itu, orangtua juga perlu memastikan bahwa anak mendapatkan nutrisi yang baik, sehingga seimbang dengan latihan yang dilakukan.
    Kemudian, orangtua juga wajib menjalin komunikasi yang baik dengan pelatih agar tahu perkembangan kemampuan anak yang selama ini sudah melakukan latihan.
    “Tujuannya adalah agar akrobatik menjadi kegiatan yang aman, sehat, dan menyenangkan untuk anak,” jelas Vicka.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Ikon Baru Dukuh Zamrud di Balik Anggaran Gapura Rp 1 Miliar
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        9 Januari 2026

    Ikon Baru Dukuh Zamrud di Balik Anggaran Gapura Rp 1 Miliar Megapolitan 9 Januari 2026

    Ikon Baru Dukuh Zamrud di Balik Anggaran Gapura Rp 1 Miliar
    Editor
    BEKASI, KOMPAS.com
    – Pembangunan gapura utama Perumahan Dukuh Zamrud, Kelurahan Cimuning, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, mendadak jadi perbincangan publik.
    Proyek yang dibiayai hampir Rp 1 miliar dari APBD Kota
    Bekasi
    2025 itu memantik perdebatan antara kebutuhan penataan kawasan dan pertanyaan soal urgensi di tengah persoalan infrastruktur lain.
    Di balik sorotan tersebut, warga Dukuh Zamrud menyebut gapura bukan proyek dadakan, melainkan hasil aspirasi yang telah lama diperjuangkan sejak kawasan perumahan tak lagi dikelola pengembang.
    Koordinator Seksi Forum Komunikasi Warga Zamrud (FKWZ) sekaligus warga setempat, Heru Rilano (52), mengatakan gagasan pembangunan gapura muncul setelah pengelolaan perumahan diserahkan kepada pemerintah daerah.
    “Dukuh Zamrud ini sudah tidak ditangani developer. Sudah diserahkan ke pemda. Warga merasa perlu ada ikon dan penataan agar kawasan ini lebih tertata dan indah,” ujar Heru saat ditemui Kompas.com di Mustikajaya, Jumat (9/1/2026).
    Aspirasi tersebut kemudian disampaikan warga kepada anggota
    DPRD Kota Bekasi
    , Agus Rohadi, untuk diperjuangkan melalui mekanisme pemerintah daerah.
    “Lewat
    aspirasi warga
    , ini disampaikan ke Pak Agus Rohadi untuk dijadikan usulan ke Pemerintah Kota. Salah satunya ya pembangunan gapura ini,” kata Heru.
    Proyek gapura ini tercatat memiliki pagu anggaran Rp 997 juta, dengan nilai kontrak sekitar Rp 877 juta.
    Heru menyebut, besarnya anggaran berkaitan dengan spesifikasi bangunan yang dirancang tahan lama.
    “Yang bikin istimewa itu karena semuanya menggunakan struktur yang kokoh. Kemudian juga dari sisi arsitekturnya. Kami juga bikin pagar sebagai gerbang masuk bagi warga ataupun non-warga. Itu kenapa sampai sebesar itu nilainya,” ujarnya.
    Ia menambahkan, struktur gapura dirancang mengikuti standar nasional.
    “Untuk struktur, sesuai SNI dari Kementerian PUPR, harapannya bisa bertahan minimal 30 tahun. Tapi untuk cat dan eksterior tentu perlu perawatan berkala,” jelas Heru.
    Heru tidak menampik adanya kritik dari sebagian masyarakat, terutama yang mempertanyakan prioritas pembangunan gapura di tengah kondisi sejumlah jalan yang masih rusak.
    Namun, ia menegaskan proses sosialisasi telah dilakukan sebelum proyek berjalan.
    “Dukuh Zamrud melalui RW setempat sudah dikumpulkan terlebih dahulu. Dari belasan RW yang hadir, 100 persen itu setuju. Mereka mendukung pembangunan gapura ini,” ujarnya.
    Menurut Heru, pembahasan desain juga melibatkan perwakilan warga dari masing-masing RW di blok perumahan.
    Sebagai warga, ia mengaku puas dengan hasil fisik gapura, meski tetap menyimpan catatan kritis.
    “Secara fisiknya, puas karena kami jadi punya kebanggaan. Kalau secara kasat mata dari jauh, itu bagus hasil kerjanya. Tapi secara transparansi kerja tidak puas. Masih banyak hal-hal yang perlu direvisi atau dikoreksi,” ucap Heru.
    Menanggapi polemik tersebut, Wali Kota Bekasi
    Tri Adhianto
    menyebut setiap proyek
    pembangunan daerah
    melewati proses perencanaan yang melibatkan masyarakat dan legislatif.
    “Jadi saya kira kalau soal urgensi dan sebagainya ditanyakan kepada yang mengusulkan,” ujar Tri saat ditemui Kompas.com di Plaza Pemerintah Kota Bekasi, Kamis (8/1/2026).
    Tri menjelaskan, usulan pembangunan dapat masuk melalui musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang), pokok-pokok pikiran DPRD, hingga diajukan dengan pendekatan teknokratis.
    “Pada intinya, kalau sudah menjadi kesepakatan di dalam yang kemudian ditetapkan melalui Perda kesepakatan bersama, kami pemerintah tentu akan melaksanakan,” ujar Tri.
    Berdasarkan pantauan di lokasi,
    gapura Dukuh Zamrud
    memiliki lebar sekitar tiga meter dengan bentang sisi kiri dan kanan masing-masing lima meter.
    Pembangunan dimulai pertengahan Oktober 2025 dan rampung pada akhir Desember 2025.
    Di bagian tengah gapura disediakan ruang untuk petugas keamanan. Sementara di sisi kanan depan berdiri tembok setinggi sekitar dua meter bertuliskan “Dukuh Zamrud” berbahan aluminium.
    Area tengah juga dilengkapi pot besar dan tanaman sebagai elemen estetika.
    Kini, gapura tersebut bukan hanya menjadi penanda kawasan, tetapi juga simbol perdebatan tentang prioritas pembangunan kota dan bagaimana aspirasi warga diterjemahkan dalam kebijakan anggaran daerah.
    (Reporter: Nurpini Aulia Rapika | Editor: Ambaranie Nadia Kemala Movanita)
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.