Pengelola Monas Pastikan Chairlift Gratis untuk Lansia dan Penyandang Disabilitas
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Pengelola kawasan Monumen Nasional (Monas) memastikan fasilitas
chairlift
atau kursi angkat di dalam area Tugu Monas dapat digunakan secara gratis bagi pengunjung yang membutuhkan, khususnya lansia dan penyandang disabilitas.
Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Monas, Muhammad Isa Sarnuri, menjelaskan bahwa fasilitas tersebut disediakan untuk membantu pengunjung dengan keterbatasan mobilitas agar tetap dapat menikmati seluruh area Monas, termasuk ruang diorama dan pelataran cawan.
“(Bisa dimanfaatkan) Gratis,” ujar Isa saat dikonfirmasi
Kompas.com
pada Jumat (9/1/2025).
Namun, Isa menegaskan, penggunaan
chairlift
diperuntukkan bagi lansia, penyandang disabilitas, serta pengunjung lain yang memiliki kendala fisik tertentu, bukan untuk penggunaan umum tanpa kebutuhan khusus.
Isa menjelaskan, pengadaan
chairlift
di kawasan Monas telah dilakukan secara bertahap sejak 2020 dengan sumber anggaran dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf).
Realisasi tahap awal dilakukan di dekat pintu masuk Museum Monas. Selanjutnya,
chairlift
dipasang pada rute dari ruang diorama menuju tangga tengah yang mengarah ke pelataran cawan Monas.
Pada 2025, fasilitas serupa kembali ditambahkan di titik pintu keluar Museum Monas yang terhubung dengan ruang diorama.
“
Chairlift
digunakan untuk membantu lansia dan penyandang disabilitas untuk dapat berkunjung ke ruang diorama dan puncak Tugu Monas,” jelas Isa.
Ke depan, pengelola Monas juga berencana menambah satu rute
chairlift
baru. Yakni dari ruang tengah ke pelataran Utara.
“Insya Allah
di anggaran tahun ini. Sehingga nanti bisa digunakan di dua sisi (dekat pelataran selatan dan utara),” lanjutnya.
Di lapangan, masih banyak pengunjung lansia yang belum mengetahui bahwa fasilitas
chairlift
dapat digunakan secara gratis.
Salah satunya adalah Eli Nursari (59), wisatawan asal Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, yang ditemui Kompas.com pada Jumat. Ia memanfaatkan
chairlift
karena kondisi kakinya sudah tidak lagi prima akibat faktor usia dan pernah mengalami kecelakaan.
“Kalau naik tangga sebenarnya masih kuat. Asalkan pelan-pelan. Kalau turun tangga itu saya yang sulit. Kaki bagian bawah sakit jika tertekuk kan,” kata Eli.
“Saat ditawari petugas buat naik ini saya langsung iyakan. Sekaligus mencoba. Jadi cepat naik-turun tangganya. Buat lansia kayak saya naik turun itu satu demi satu tangga lho,” jelasnya.
Eli menilai, fasilitas tersebut perlu disosialisasikan lebih luas agar pengunjung memahami fungsi dan status gratisnya.
“Tadi soalnya saya sempat bertanya ini gratis apa bayar? Karena kan kursinya bagus ya,” tuturnya.
Hal serupa juga dirasakan Lukita (64), pengunjung Monas lainnya. Ia mengaku awalnya mengira
chairlift
merupakan fasilitas berbayar sehingga sempat ragu menggunakannya.
“Kalau saya sebenarnya masih kuat naik dan turun tangga ya. Apalagi kalau bareng cucu-cucu begini, malu kalau naik itu kan. Tapi infonya saya mau kasih tahu ke teman-teman,” kata Lukita.
Ia menilai keberadaan
chairlift
merupakan bentuk fasilitas publik yang penting di kawasan wisata.
“Fasilitasnya bagus. Memang kalau tempat wisata sebaiknya ada fasilitas seperti ini untuk membantu yang kesulitan mobilitas,” tuturnya.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Category: Kompas.com Metropolitan
-
/data/photo/2026/01/09/69609f3822273.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Pengelola Monas Pastikan Chairlift Gratis untuk Lansia dan Penyandang Disabilitas Megapolitan 9 Januari 2026
-
/data/photo/2026/01/09/6960882460f6d.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Usai Banyak Ban Mobil Bocor, Jalan Rusak Flyover Pesing Diperbaiki Megapolitan 9 Januari 2026
Usai Banyak Ban Mobil Bocor, Jalan Rusak Flyover Pesing Diperbaiki
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Suku Dinas Bina Marga Jakarta Barat mulai memperbaiki sejumlah titik jalan rusak di Flyover Pesing, Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat.
Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas
Bina Marga DKI
Jakarta, Siti Dinar Wenny, mengatakan penambalan sudah dimulai pada Jumat (9/1/2026) sore.
“Sore ini Dinas Bina Marga melalui Suku Dinas Bina Marga
Jakarta Barat
telah melaksanakan perbaikan pada beberapa titik kerusakan jalan,” kata Wenny saat dikonfirmasi
Kompas.com
, Jumat.
Perbaikan awal dilakukan di sisi kiri
Jalan Daan Mogot
arah Cengkareng, tepatnya di bawah Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Rumah Pompa Green Garden. Area berlubang tersebut telah ditutup aspal dengan ukuran sekitar 2×3 meter.
Namun, Wenny mengakui proses penambalan sore hari terkendala kepadatan lalu lintas. Karena itu, perbaikan di titik lainnya akan dilanjutkan pada malam hari.
“Namun mengingat lalu lintas cukup padat, maka perbaikan jalan tersebut akan kami lanjutkan nanti malam, termasuk yang di atas flyover,” ucap Wenny.
Ia juga merespons keluhan warga terkait jalan yang kerap kembali rusak meski sudah diperbaiki. Menurutnya, pemantauan rutin terus dilakukan untuk mencegah kejadian serupa.
“Pemantauan secara rutin memang sudah menjadi tugas dari Dinas Bina Marga. Adapun, saat ditemui masalah, kami berupaya secepat mungkin menindaklanjuti demi keamanan dan kenyamanan pengguna jalan,” ujarnya.
Sebelumnya, jalan berlubang di
Flyover Pesing
dilaporkan menyebabkan sejumlah mobil mengalami pecah dan bocor ban. Dalam video yang diunggah akun Instagram @warga.jakbar, terlihat beberapa kendaraan berhenti di pinggir Jalan Daan Mogot pada Kamis (8/1/2026) malam.
Pantauan
Kompas.com
pada Jumat pagi menunjukkan kerusakan terparah berada di jalur Grogol menuju Cengkareng, tepat di seberang Rusun Polri Pesing.
Dua lubang besar terlihat menganga di sambungan beton jalan.
Lubang terbesar berada di lajur kanan dengan diameter sekitar 35 sentimeter, berisi pecahan beton dan batu tajam.
Sementara lubang di lajur kiri berukuran lebih kecil, sekitar 10 sentimeter, tetapi lebih dalam.
Kondisi jalan tersebut memaksa pengendara melakukan manuver zig-zag yang berisiko membahayakan keselamatan.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/09/6960fbf4172fb.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Selundup Baby Lobster, Kurir Dijanjikan Rp 5 Juta per Pengiriman Megapolitan 9 Januari 2026
Selundup Baby Lobster, Kurir Dijanjikan Rp 5 Juta per Pengiriman
Tim Redaksi
TANGERANG, KOMPAS.com
– Seorang tersangka penyelundupan benih bening lobster (BBL) atau baby lobster dijanjikan upah Rp 5 juta untuk menjadi kurir ke luar negeri.
Penyelundupan itu rencananya dilakukan melalui Terminal 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, dengan tujuan Kamboja dan Singapura.
Salah satu tersangka berinisial DR diketahui mendapat tugas dari pelaku lain berinisial UH untuk membawa koper berisi puluhan ribu
baby lobster
.
“Dari hasil wawancara singkat, DR ternyata diberi upah Rp 5 juta,” ujar Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama saat konferensi pers di KPU Bea dan Cukai Tipe C Soekarno-Hatta, Jumat (9/1/2026).
Djaka menjelaskan, DR diminta membawa koper berisi 29.780 baby lobster menuju Kamboja.
Upah tersebut dijanjikan jika DR berhasil mengeluarkan barang ilegal itu dari Indonesia.
Setelah menetapkan UH sebagai target operasi,
Bea Cukai
kemudian melakukan pengembangan kasus.
Pada 8 Januari 2026, petugas menangkap UH bersama rekannya, FD, saat hendak terbang ke Singapura.
Pemeriksaan bagasi keduanya kembali menemukan koper berisi baby lobster dengan jumlah lebih besar dan modus serupa.
“Mereka berupaya pembawaan BBL sejumlah 43.615 ekor jenis pasir dengan metode penyamaran yang bertujuan mengelabui petugas,” kata Djaka.
Seluruh baby lobster yang berhasil diamankan kemudian disita dan dilepasliarkan di perairan Pandeglang, Banten.
Sementara itu, para tersangka dijerat Undang-Undang Perikanan dan Kepabeanan dengan ancaman pidana maksimal 10 tahun penjara serta denda hingga Rp 1,5 miliar.
“Kami akan terus memperkuat sinergi dan pengawasan untuk memastikan sumber daya alam Indonesia dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat, bukan untuk kepentingan segelintir pihak melalui praktik ilegal,” ucap Djaka.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/09/6960f487c5b39.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Tiga Lampu Pedestrian Stasiun Sudirman–JPO Dukuh Atas Mati Megapolitan 9 Januari 2026
Tiga Lampu Pedestrian Stasiun Sudirman–JPO Dukuh Atas Mati
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Sejumlah lampu penerangan di trotoar yang menghubungkan Stasiun KRL Sudirman dengan tangga menuju
JPO Dukuh Atas
, Setiabudi, Jakarta Selatan, tampak tidak berfungsi pada Jumat (9/1/2026) malam.
Kondisi ini membuat sebagian area trotoar terlihat redup dan kurang nyaman bagi pejalan kaki.
Pantauan
Kompas.com
di lokasi menunjukkan, tiga lampu yang berada di sisi trotoar dekat
Stasiun Sudirman
dalam kondisi mati. Sementara itu, tiga lampu lainnya yang berada hingga area tangga JPO Dukuh Atas masih menyala normal.
Tiang-tiang lampu tersebut memiliki tinggi yang relatif rendah, tidak lebih tinggi dari pepohonan di sekitarnya, dengan bentuk lampu melingkar di bagian atas.
Selain itu, satu lampu jalan lain dengan posisi tiang lebih tinggi di jembatan menuju stasiun juga terlihat tidak menyala.
Meski demikian, cahaya dari kendaraan yang melintas di Jalan Jenderal Sudirman serta pantulan lampu dari gedung-gedung perkantoran di sekitar kawasan tersebut masih membantu menerangi sebagian trotoar.
Namun, pada bagian tepi trotoar yang cenderung lebih gelap, kondisi ini tetap menimbulkan ketidaknyamanan. Beberapa kali pejalan kaki terlihat terkejut ketika seekor anak kucing hitam tiba-tiba melompat keluar dari balik tanaman di pinggir jalur pejalan kaki.
Para pejalan kaki mengaku tidak mengetahui sejak kapan lampu-lampu tersebut padam. Respons mereka pun beragam, mulai dari merasa terganggu hingga menganggap kondisi tersebut masih bisa ditoleransi.
“Sebenarnya enggak masalah. Tapi kan lampunya dipasang di situ untuk menerangi jalannya pejalan kaki. Kalau malah berfungsi kayak seharusnya ya sayang dong,” ungkap Farah (27), salah seorang pejalan kaki yang baru keluar dari Stasiun Sudirman.
Pejalan kaki lainnya, Caca (24), menyoroti potensi risiko saat trotoar dilalui pada malam hari ketika lalu lintas kendaraan mulai sepi.
Caca mengaku belum pernah melintas di lokasi tersebut setelah pukul 20.00 WIB. Namun, ia menilai kondisi penerangan yang minim dapat membuat pejalan kaki merasa tidak aman.
“Kalau makin malam kan yang lewat sedikit, penerangannya juga enggak terlalu terang, kasihan (pejalan kaki) yang lewat pasti enggak tenang. Jadi semoga cepat-cepat diperbaiki deh,” kata dia.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/09/69605ca2a7687.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Latihan Akrobatik Anak di Gang Sempit Penjaringan, Dokter Ungkap Manfaat dan Risikonya Megapolitan 9 Januari 2026
Latihan Akrobatik Anak di Gang Sempit Penjaringan, Dokter Ungkap Manfaat dan Risikonya
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Setiap sore, sebuah gang sempit di RT 07 RW 08, Penjaringan, Jakarta Utara, berubah menjadi arena latihan akrobatik bagi anak-anak berusia lima hingga 15 tahun.
Tanpa matras dan fasilitas memadai, mereka berlatih berbagai gerakan ekstrem di bawah bimbingan seorang pelatih profesional.
Pelatih itu adalah
Yoga Ardian
(35), warga setempat yang sudah tiga tahun terakhir mendirikan komunitas akrobatik bernama Indosalto.
Melalui komunitas ini, Yoga melatih anak-anak di lingkungan sekitar rumahnya secara gratis
encouraging
mereka menekuni akrobatik secara serius.
Latihan rutin tersebut bahkan membuahkan hasil. Dari tujuh anak yang aktif berlatih, satu di antaranya telah menjadi atlet dan berhasil menjuarai Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Kick Boxing 2025.
Capaian ini menjadi bukti bahwa keterbatasan fasilitas tidak selalu menjadi penghalang bagi anak-anak untuk berkembang dan berprestasi.
Pria yang akrab disapa Kak Yow itu menyadari, keterbatasan tempat latihan menjadi tantangan utama dalam membina anak-anak. Ruang terbuka yang layak untuk berlatih berada cukup jauh dari rumah dan sulit dijangkau anak-anak.
“Jadi, kalau ke taman mereka butuh ongkos, dan agak susah karena masih anak-anak takutnya nyebrangnya susah juga karena takut kena mobil atau motor,” kata Yoga saat diwawancarai
Kompas.com
di kediamannya, Kamis (8/1/2026).
Yoga juga mengaku pernah mencoba meminjam kantor RW setempat sebagai lokasi latihan, namun tidak mendapatkan izin. Kondisi ini membuat gang sempit di lingkungan rumahnya menjadi satu-satunya alternatif.
“Kalau harapan saya sih ruang terbuka masih kurang di Jakarta, sebenarnya sih ada pos-pos RW, kecamatan sebenarnya bisa digunakan untuk teman-teman bermain, anak-anak bermain, tapi enggak bisa,” jelas Yoga.
Meski dilakukan dengan fasilitas terbatas, Yoga menilai latihan akrobatik memberikan banyak manfaat bagi anak-anak, baik secara fisik maupun mental.
“Kalau manfaat untuk tubuh ketahuan lah ini kan olahraga ya semua bagian dapat, selain melatih kelenturan, fleksibilitas, yang paling penting itu disiplin,” tutur dia.
Latihan ini juga membentuk kekuatan otot anak-anak, termasuk otot perut yang terlihat kekar meski usia mereka masih belia.
Selain melatih fisik, Yoga turut mengarahkan pola makan anak-anak agar tetap sehat dan seimbang.
Murid-muridnya sudah memahami jenis makanan yang baik dikonsumsi dan menghindari asupan tinggi gula.
Dokter spesialis anak, Vicka Farah Diba menilai aktivitas akrobatik yang dilakukan anak-anak di Penjaringan merupakan kegiatan yang positif jika dilakukan dengan benar.
“Secara prinsip, aktivitas fisik seperti akrobatik dapat menjadi kegiatan positif yang membantu anak melatih kekuatan, kelincahan, dan disiplin,” ungkap Vicka saat dihubungi
Kompas.com
, Kamis.
Ia menjelaskan, anak usia lima hingga enam tahun sudah bisa diperkenalkan dengan gerakan akrobatik dasar seperti keseimbangan, fleksibilitas, dan koordinasi.
Sedangkan teknik akrobatik yang lebih kompleks, seperti salto,
handstand
, atau gerakan-gerakan yang memberikan tekanan besar pada sendi lebih ideal mulai diperkenalkan sejak usia delapan hingga 10 tahun saat kontrol motorik dan kekuatan otot sudah lebih matang.
Latihan akrobatik memberikan manfaat ganda bagi anak-anak. Secara fisik, olahraga ini dapat meningkatkan kekuatan otot dan tulang, fleksibilitas, keseimbangan, serta kebugaran tubuh.
“Manfaat fisik di antaranya, meningkatkan kekuatan otot dan tulang, memperbaiki fleksibilitas dan keseimbangan tubuh, serta meningkatkan kebugaran,” ungkap dr. Vicka.
Sementara dari sisi psikologis, akrobatik membantu meningkatkan kepercayaan diri, disiplin, fokus, regulasi emosi, serta kesehatan mental dan fungsi kognitif anak.
Vicka mengatakan, apabila dilakukan secara benar dan aman, maka akrobatik dapat menjadi aktivitas yang memperkaya perkembangan anak baik secara fisik dan mental.
Vicka menilai, terbentuknya otot perut atau
six pac
k pada anak menandakan kekuatan otot yang baik. Namun, hal tersebut tidak boleh dihasilkan dari latihan berlebihan atau paksaan.
Latihan dengan intensitas yang tidak sesuai usia berisiko mengganggu keseimbangan hormon, cadangan lemak esensial, hingga siklus menstruasi pada anak perempuan di masa pubertas.
Selain itu, latihan yang tidak aman juga berpotensi menimbulkan cedera sendi, tulang belakang, kelelahan ekstrem, tekanan mental, hingga gangguan pertumbuhan.
Vicka menegaskan, akrobatik akan lebih aman jika dilakukan dengan pengawasan profesional, tempat latihan yang memadai, serta perlengkapan keselamatan yang lengkap.
Tanpa adanya perlengkapan yang kumplit, berlatih akrobatik di gang sempit merupakan hal yang sangat berisiko untuk anak-anak.
“Namun, berlatih di gang sempit tanpa perlengkapan keselamatan meningkatkan risiko cidera seperti keseleo, patah tulang, cidera kepala, dan gangguan tulang belakang,” ucap dia.
Ia berharap pemerintah dapat hadir mendukung bakat anak-anak dengan menyediakan ruang latihan komunitas yang aman, perlengkapan keselamatan dasar, serta pembinaan dan pelatihan standar keselamatan bagi pelatih lokal.
“Ruang latihan komunitas yang aman, peralatan keselamatan dasar,” kata dia.
Di sisi lain, pemerintah juga bisa melakukan pembinaan agar anak-anak yang sudah menekuni akrobatik di gang sempit Penjaringan bisa semakin terasah bakatnya.
Selain itu, pemerintah juga bisa memberikan pelatihan standar keselamatan untuk para pelatih lokal yang melakukan kegiatan serupa.
Meski latihan dilakukan gratis dan diawasi pelatih profesional, Vicka mengingatkan peran orangtua tetap krusial.
Orangtua disarankan hadir langsung untuk memastikan keamanan latihan, memantau kondisi fisik anak, membatasi intensitas latihan, serta menjaga asupan nutrisi.
Dengan hadir langsung, orangtua juga bisa memantau tanda-tanda cidera atau kelelahan pada anak. Lalu, juga bisa membatasi intensitas latihan agar tidak berlebihan, sebab orangtua lah yang paling paham kondisi anak.
Selain itu, orangtua juga perlu memastikan bahwa anak mendapatkan nutrisi yang baik, sehingga seimbang dengan latihan yang dilakukan.
Kemudian, orangtua juga wajib menjalin komunikasi yang baik dengan pelatih agar tahu perkembangan kemampuan anak yang selama ini sudah melakukan latihan.
“Tujuannya adalah agar akrobatik menjadi kegiatan yang aman, sehat, dan menyenangkan untuk anak,” jelas Vicka.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
/data/photo/2026/01/09/6960c9a80f74c.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2026/01/09/6960fa6906199.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2026/01/07/695e1141e02f0.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2026/01/09/69609e1d9a51c.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)