Category: Kompas.com Metropolitan

  • Polisi Imbau Wisatawan Tidak Pakai Kendaraan Matic Saat Berlibur ke Bromo
                
                    
                        
                            Surabaya
                        
                        25 Desember 2025

    Polisi Imbau Wisatawan Tidak Pakai Kendaraan Matic Saat Berlibur ke Bromo Surabaya 25 Desember 2025

    Polisi Imbau Wisatawan Tidak Pakai Kendaraan Matic Saat Berlibur ke Bromo
    Tim Redaksi
    MALANG, KOMPAS.com
    – Polres Malang mengimbau bagi wisatawan yang hendak berlibur ke kawasan Gunung Bromo via Malang, Jawa Timur agar tidak menggunakan kendaraan bertransmisi matic.
    Hal ini untuk menghindari potensi terjadinya kecelakaan karena jalur menuju
    Gunung Bromo
    banyak tanjakan dan turunan tajam.
    “Kalaupun terpaksa menggunakan
    kendaraan bertransmisi matic
    , tolong pastikan menggunakan gigi rendah, untuk menghindari potensi terjadinya malfungsi saat berada di jalur menanjak atau menurun,” kata Kasatlantas
    Polres Malang
    , AKP Muhammad Alif Chelvin Arliska saat ditemui, Jumat (25/12/2025).
    Sementara itu, bagi wisatawan yang menggunakan jasa transportasi jeep bromo, Chelvin menghimbau agar wisatawan menggunakan jeep yang sudah memiliki nomor punggung.
    Sebab, jeep yang sudah memiliki nomor punggung dipastikan sudah lolos ramp check dan telah terdaftar asuransi.
    “Saat ini sudah ada sekitar 400 jeep lebih yang sudah kami lakukan ramp check dan memiliki nomor punggung, yang artinya sudah terjamin asuransi,” ujarnya.
    Sementara itu, mengantisipasi kepadatan kendaraan ke arah Gunung Bromo, selama momen libur natal dan Tahun Baru 2026 ini, terutama pada high season, kepolisian juga telah menyiapkan skema pengaman lalu lintas untuk mengantisipasi kemacetan.
    Di antaranya, menurut Chelvin, pihaknya telah menyiapkan pemanfaatan rest area Gubukklakah sebagai tempat penampungan sementara kendaraan, apabila terjadi kemacetan.
    “Di rest area Gubukklakah kami dirikan pos pelayanan. Apabila terjadi kepadatan, maka kendaraan akan kami istirahatkan di sana, dalam rangka mengurai kemacetan,” jelasnya.
    Selain itu, kepolisian juga telah memasang sejumlah papan imbauan keselamatan di jalur rawan menuju Gunung Bromo.
    Chelvin menyebut pemasangan papan imbauan itu bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan pengguna jalan, khususnya wisatawan yang hendak melintas ke Gunung Bromo.
    “Seperti kita tahu, jalur kawasan Gunung Bromo via Malang ini memiliki karakteristik turunan panjang dan tikungan tajam. Dengan papan imbauan ini kami harap bisa menjadi peringatan dini agar pengendara lebih waspada dan mematuhi aturan keselamatan,” bebernya.
    Adapun beberapa titik rawan yang dipasangi papan imbauan di antaranya, di kawasan Blok Peteteh, Blok Wedi Ireng, Tanjakan Sinoman, Tanjakan Lanjing, Tanjakan Ijo, dan Tanjakan Jarak Ijo.
    “Kami mengimbau pengendara memastikan kondisi kendaraan prima, menggunakan gigi rendah saat turunan, serta tidak memaksakan kendaraan, terutama di jalur pegunungan,” pungkas Chelvin.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • GPIB Immanuel Jakarta Tanpa Dekorasi Mewah, Wujud Empati bagi Korban Bencana
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        25 Desember 2025

    GPIB Immanuel Jakarta Tanpa Dekorasi Mewah, Wujud Empati bagi Korban Bencana Megapolitan 25 Desember 2025

    GPIB Immanuel Jakarta Tanpa Dekorasi Mewah, Wujud Empati bagi Korban Bencana
    Tim Redaksi

    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel Jakarta memilih merayakan
    Natal 2025
    dengan nuansa sederhana.
    Alih-alih menghadirkan dekorasi meriah dan mewah, gereja yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Timur, Gambir, Jakarta Pusat, ini justru menampilkan ornamen Natal yang minimalis sebagai bentuk refleksi atas kondisi bangsa yang tengah dilanda berbagai bencana.
    Pantauan
    Kompas.com
    pada Kamis (25/12/2025), dari bagian luar gereja, dinding putih bangunan tampak polos seperti hari biasa. Tidak banyak hiasan yang dipasang, selain sebuah banner bertuliskan “Selamat Hari Natal” yang terpasang di balik pagar dekat gerbang masuk gereja.
    Di pintu masuk gereja, tepat di pojok kanan, terdapat sebuah pohon Natal setinggi sekitar 1,8 meter. Sementara itu, di pojok kiri pintu masuk terpasang banner besar berwarna biru dengan tulisan “Selamat Natal 2025”.
    Selain
    banner
    , terdapat pula sekitar delapan hiasan bintang berwarna emas yang digantung tepat di atas pintu masuk gereja. Di area dalam gereja, sebuah pohon Natal setinggi sekitar dua meter ditempatkan di sisi kiri mimbar pendeta.
    Sementara itu, banner berwarna pink bertuliskan “Ibadah dan Perayaan Natal Jemaat” terlihat terpasang di balkon lantai dua gereja, tepat di atas area mimbar.
    Ketua V Pelaksana Harian Majelis Jemaat (PHMJ)
    GPIB Immanuel Jakarta
    , Steve Loupatty, mengatakan Natal 2025 menjadi tahun kedua gerejanya tidak memasang dekorasi Natal secara berlebihan.
    “Dari tahun lalu juga seperti itu, apalagi di tahun ini dengan keadaan bangsa dan negara kita, rakyat lagi seperti itu, maka kami mengusung kesederhanaan, bahkan sederhana sekali,” ucap Steve saat diwawancarai di lokasi, Kamis.
    Adapun tema Natal yang diusung GPIB Jakarta tahun ini adalah “Allah Memulihkan Kehidupan Seluruh Ciptaan”.
    Steve menjelaskan, tema tersebut merupakan tema sentral GPIB dan dipilih karena selaras dengan kondisi bangsa yang dinilai sedang tidak baik-baik saja akibat berbagai bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah.
    Tema itu diharapkan dapat menjadi refleksi positif bagi para korban bencana agar tidak putus asa serta tetap percaya bahwa Tuhan akan memulihkan keadaan.
    “Ini bisa jadi refleksi kondisi bencana yang terjadi di Sumatera bukan Sumatera aja, di Jawa Timur juga ada,” tutur dia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Pasukan Oren Cianjur Siaga Satu, Sampah Melonjak di Momen Nataru
                
                    
                        
                            Bandung
                        
                        25 Desember 2025

    Pasukan Oren Cianjur Siaga Satu, Sampah Melonjak di Momen Nataru Bandung 25 Desember 2025

    Pasukan Oren Cianjur Siaga Satu, Sampah Melonjak di Momen Nataru
    Tim Redaksi
    CIANJUR, KOMPAS.com
    – Petugas kebersihan di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, siaga satu menghadapi momentum libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan volume sampah yang diprediksi meningkat drastis di pusat-pusat keramaian.
    “Sebagaimana instruksi pimpinan, sampai 2 Januari 2026 kita siaga satu.
    Pasukan oren
    kita siagakan untuk penanggulangan sampah pasca perayaan nanti,” ujar Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3)
    DLH Cianjur
    , Prihadi Wahyu Santosa, kepada
    Kompas.com
    , Kamis (25/12/2025).
    Prihadi menjelaskan, sebanyak 300 petugas kebersihan disiagakan terutama di titik-titik yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.
    Lokasi tersebut meliputi pusat kuliner di Jalan Siliwangi, Warujajar, pemukiman padat di Cikaret, hingga kawasan wisata
    Puncak Cipanas
    yang selalu menjadi pusat keramaian akhir tahun.
    Selain kesiapan personel, armada pengangkut juga diperkuat dengan penambahan dua unit truk
    arm roll
    , empat mobil pikap, dan empat unit cator. Penguatan ini dilakukan agar pengangkutan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tetap lancar meski beban kerja meningkat.
    “Semua armada yang ada kita optimalkan, termasuk penanganan sampah di tingkat TPA, juga diperkuat dan ditingkatkan aktivitasnya untuk mengimbangi lonjakan pengiriman,” ucapnya.
    Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, lonjakan volume sampah pada momentum Nataru diprediksi mencapai 30 persen.
    Dalam sehari, volume sampah yang masuk ke
    TPA Cianjur
    rata-rata mencapai 200 hingga 400 ton yang didominasi limbah organik dan rumah tangga.
    Ia pun meminta masyarakat menaati jadwal pembuangan sampah mulai pukul 20.00 hingga dini hari agar tidak terjadi penumpukan yang mengganggu lingkungan. Pengangkutan ke TPA sendiri dilakukan dua kali sehari, yakni pada pukul 21.00 dan 04.00.
    “Perilaku pilih dan pilah sampah di tingkat hulu juga tentunya akan sangat membantu meringankan tugas kami di lapangan dalam menangani sampah,” ujar Prihadi.
    Prihadi berharap masyarakat mulai membiasakan pengelolaan sampah di tingkat hulu. Hal ini sejalan dengan target pemerintah agar pada 2030 mendatang, TPA hanya menerima sampah residu yang sudah benar-benar tidak dapat diolah kembali.
    “Karenanya, pengelolaan sampah di tingkat hulu menjadi keniscayaan sekaligus tanggung jawab semua pihak. Sebagaimana amanat Perpres Nomor 12 tahun 2025 bahwa pada 2030, TPA hanya menerima sampah residu,” kata Prihadi.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kardinal Suharyo Soroti Peran Manusia yang Rusak Lingkungan di Balik Bencana Alam
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        25 Desember 2025

    Kardinal Suharyo Soroti Peran Manusia yang Rusak Lingkungan di Balik Bencana Alam Megapolitan 25 Desember 2025

    Kardinal Suharyo Soroti Peran Manusia yang Rusak Lingkungan di Balik Bencana Alam
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, menegaskan bahwa bencana yang terjadi tidak semata-mata disebabkan faktor alam, melainkan juga berkaitan erat dengan perilaku manusia terhadap lingkungan.
    Hal itu disampaikan
    Kardinal Suharyo
    usai Misa Pontifikal
    Natal 2025
    di Gedung Karya Pastoral, Paroki Katedral Jakarta, Kamis (25/12/2025).
    “Bencana-bencana yang kita alami ini tidak hanya karena faktor alam, tetapi juga karena peran manusia yang merusak lingkungan hidup,” ujar Suharyo.
    Menurut dia, Natal seharusnya menjadi momentum refleksi iman yang diwujudkan dalam tanggung jawab konkret terhadap sesama dan alam ciptaan.
    Ia menjelaskan, pesan Natal tahun ini menekankan bahwa makna keselamatan tidak berhenti pada perayaan liturgi, melainkan harus diterjemahkan dalam tindakan nyata untuk memulihkan dan menguatkan kehidupan bersama, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga bangsa.
    Kardinal menuturkan, kerusakan lingkungan merupakan persoalan global yang sangat kompleks, mulai dari konsumsi energi berlebihan hingga pemberian izin eksploitasi alam tanpa analisis dampak yang memadai.
    Mengutip ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus, Suharyo menyebut dunia sebagai “rumah bersama”, di mana kerusakan yang dilakukan kelompok kuat dan kaya sering kali ditanggung oleh mereka yang lemah dan miskin.
    “Pesan Gereja adalah pesan moral. Harapannya, para pemimpin yang memikul mandat rakyat bekerja sebaik-baiknya demi kesejahteraan dan kebaikan bersama,” ujar dia.
    Kardinal Suharyo melanjutkan, Keuskupan Agung Jakarta pada 2026 akan memberi perhatian khusus pada isu lingkungan hidup melalui konsep “
    pertobatan ekologis
    ”.
    Pertobatan ekologis, kata dia, tidak selalu berbentuk tindakan besar, melainkan bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari.
    Misalnya, mengurangi sampah makanan, membawa tas belanja sendiri untuk mengurangi plastik, hingga menyisihkan dana untuk memulihkan lingkungan sebagai kompensasi emisi karbon saat bepergian.
    “Hal-hal kecil seperti itu adalah bentuk pertobatan yang menyentuh seluruh wilayah kehidupan manusia,” ujar Suharyo.
    Kardinal juga menyerukan pertobatan nasional untuk mengembalikan cita-cita kemerdekaan sebagaimana tertuang dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945, yang berakar pada pertobatan batin dan tanggung jawab moral.
    Kardinal Suharyo menegaskan bahwa pertobatan bukan sekadar ritual sesaat, melainkan gaya hidup yang berlandaskan iman.
    “Dalam konsep Kristiani, manusia diciptakan untuk memuliakan dan berbakti kepada Allah. Memuliakan Allah itu diwujudkan dalam ibadah, tetapi harus diterjemahkan secara konkret dalam bakti kepada sesama,” kata dia.
    Menurut Suharyo, kegagalan manusia memuliakan Allah kerap muncul dalam bentuk memuliakan diri sendiri, termasuk penyalahgunaan kekuasaan dan jabatan.
    “Jabatan itu bukan untuk diduduki demi kepentingan pribadi, melainkan dipangku sebagai amanah untuk kebaikan bersama. Ketika jabatan digunakan untuk diri sendiri, di situlah akar banyak persoalan, termasuk korupsi,” ujar dia.
    Dalam kesempatan yang sama, Kardinal Suharyo menjelaskan mekanisme solidaritas Gereja Katolik dalam membantu korban
    bencana alam
    , khususnya di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
    Ia menyebut, melalui Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), seluruh keuskupan dan paroki di Indonesia menggalang dana lewat kolekte khusus.
    Dana tersebut kemudian dikelola dan disalurkan melalui Caritas Indonesia, lembaga gereja yang fokus pada penanganan kebencanaan.
    “Namun, karena kebutuhan sangat besar dan mendesak, beberapa keuskupan juga menyalurkan bantuan langsung ke keuskupan setempat, seperti Padang, Sibolga, dan wilayah Aceh,” kata dia.
    Menurut Suharyo, pemulihan pascabencana bukan proses singkat.
    Berdasarkan berbagai kajian, proses pemulihan sosial, ekonomi, hingga persoalan pertanahan dan trauma korban bisa memakan waktu 20 hingga 25 tahun.
    “Ini bukan soal satu atau dua bulan. Membayangkan rumah tertimbun longsor saja sudah sulit, apalagi mengembalikan kehidupan seperti semula,” ujar dia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Pemberian Remisi Natal di Rutan Cipinang, Keluarga Warga Binaan Antre Sejak Pagi
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        25 Desember 2025

    Pemberian Remisi Natal di Rutan Cipinang, Keluarga Warga Binaan Antre Sejak Pagi Megapolitan 25 Desember 2025

    Pemberian Remisi Natal di Rutan Cipinang, Keluarga Warga Binaan Antre Sejak Pagi
    Tim Redaksi

    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Cipinang menggelar pemberian remisi khusus Natal 2025 bagi
    warga binaan
    pada Kamis (25/12/2025).
    Kegiatan ini berlangsung di lapangan dalam
    Rutan Cipinang
    , Jatinegara, Jakarta Timur, dan dihadiri keluarga warga binaan sejak pagi hari.
    Pantauan 
    Kompas.com
    di lokasi, sejumlah keluarga warga binaan telah berdatangan sejak pagi dan menunggu giliran untuk diizinkan masuk oleh petugas rutan. Mereka tampak mengantre secara tertib sebelum memasuki area rutan.
    Mayoritas keluarga warga binaan mengenakan pakaian putih dengan celana hitam. Sebelum masuk ke dalam rutan, petugas memeriksa seluruh pengunjung untuk memastikan tidak ada barang terlarang yang dibawa masuk.
    Selain pemeriksaan, para pengunjung juga diwajibkan mengenakan kartu pengunjung yang dikalungkan dan digunakan selama berada di dalam area rutan.
    Di dalam rutan, panitia mendirikan tenda dengan dominasi warna putih dan biru muda yang menjadi lokasi utama pelaksanaan pemberian remisi bagi warga binaan.
    Nuansa Natal terasa kental dengan kehadiran pohon Natal di sekitar lokasi acara serta ornamen Santa Claus dan rusa yang terpasang di salah satu gereja di dalam Rutan Cipinang.
    Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjenpas) Mashudi mengatakan, pemberian
    remisi Natal
    diharapkan menjadi momentum awal bagi warga binaan untuk menapaki kehidupan yang lebih baik setelah menjalani masa pidana.
    “Kiranya momentum Natal tahun 2025 ini menjadikan awal baru untuk menapak perjalanan menuju hidup yang lebih baik, penuh kedamaian, dan bermakna bagi para narapidana dan anak binaan,” ucap Mashudi di Rutan Kelas 1 Cipinang, Kamis (25/12/2025).
    Mashudi menjelaskan, secara nasional terdapat sekitar 15.000 warga binaan yang memperoleh remisi Natal pada tahun ini.
    “Untuk remisi warga binaan kami, baik secara khusus dan umum, total semua itu ada 15.235 orang. Ini seluruh Indonesia. Untuk remisi ada 610 orang untuk warga binaan yang mendapatkan,” jelas Mashudi.
    Setelah pembacaan surat keputusan remisi, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pelaksanaan ibadah Natal bersama antara warga binaan dan petugas pemasyarakatan.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Rayakan Natal, GPIB Immanuel Jakarta Siapkan Tenda Tambahan untuk Jemaat
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        25 Desember 2025

    Rayakan Natal, GPIB Immanuel Jakarta Siapkan Tenda Tambahan untuk Jemaat Megapolitan 25 Desember 2025

    Rayakan Natal, GPIB Immanuel Jakarta Siapkan Tenda Tambahan untuk Jemaat
    Tim Redaksi

    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel Jakarta melakukan sejumlah persiapan untuk mengakomodasi lonjakan
    jemaat
    dalam
    perayaan Natal
    2025.
    Salah satu langkah yang dilakukan adalah menambah kapasitas tempat duduk dengan mendirikan tenda di sekitar area gereja.
    Gereja yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Timur, Gambir, Jakarta Pusat, ini pada hari biasa hanya mampu menampung sekitar 400 jemaat di dalam gedung utama.
    Namun, pada perayaan Natal, jumlah jemaat yang hadir meningkat signifikan sehingga diperlukan perluasan area ibadah.
    Ketua V Pelaksana Harian Majelis Jemaat (PHMJ)
    GPIB Immanuel Jakarta
    , Steve Loupatty, mengatakan pihak gereja membangun
    tenda tambahan
    untuk mengakomodasi jumlah jemaat yang membludak saat ibadah Natal.
    “Kouta kalau gereja kami 400, tapi kami bikin tenda seperti semalam Ibadah Natal banyak jemaatnya sekitar 1.300 – 1.400 makanya kita bangun tenda di kiri, kanan, dan depan gereja ini,” ucap Steve saat diwawancarai langsung di lokasi, Kamis (25/12/2025).
    Untuk ibadah Natal pada Kamis ini, tenda yang dibangun hanya ditempatkan di sisi samping gereja. Steve memperkirakan jumlah jemaat yang hadir pada ibadah pagi mencapai sekitar 500 hingga 600 orang.
    Sementara itu, pada sesi siang diperkirakan diikuti sekitar 300 hingga 400 jemaat, dan pada sesi terakhir pukul 18.00 WIB sekitar 400 hingga 500 jemaat.
    Berdasarkan pengamatan
    Kompas.com
    di lokasi, ibadah sesi pertama telah berlangsung sejak pukul 09.00 WIB. Jumlah jemaat yang hadir terlihat melampaui kapasitas gereja, sehingga sebagian tidak tertampung di dalam ruangan utama.
    Bagi jemaat yang tidak mendapatkan tempat di dalam gereja, panitia menyediakan bangku plastik di area depan pintu masuk, area parkir, hingga taman gereja agar tetap dapat mengikuti rangkaian ibadah.
    Meski tidak seluruh jemaat dapat beribadah di dalam gedung utama, suasana ibadah tetap berlangsung khidmat. Para jemaat tampak mengikuti rangkaian perayaan Natal dengan penuh kekhusyukan.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Rayakan Natal, GPIB Immanuel Jakarta Siapkan Tenda Tambahan untuk Jemaat
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        25 Desember 2025

    Tema Natal GPIB Immanuel Jakarta, Refleksi Positif bagi Korban Bencana Megapolitan 25 Desember 2025

    Tema Natal GPIB Immanuel Jakarta, Refleksi Positif bagi Korban Bencana
    Tim Redaksi

    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel Jakarta mengangkat tema
    Natal 2025
    “Allah Memulihkan Kehidupan Seluruh Ciptaan” sebagai refleksi atas berbagai
    bencana alam
    yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.
    Gereja yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Timur, Gambir, Jakarta Pusat, ini menilai tema tersebut relevan dengan kondisi bangsa yang tengah menghadapi banyak cobaan, mulai dari bencana di Sumatera hingga Jawa Timur.
    “Ini bisa jadi refleksi kondisi bencana yang terjadi di Sumatera, bukan Sumatera aja, di Jawa Timur juga ada,” tutur Ketua V Pelaksana Harian Majelis Jemaat (PHMJ)
    GPIB Immanuel
    Jakarta,
    Steve Loupatty
    , saat ditemui di lokasi, Kamis (25/12/2025).
    Steve menjelaskan, tema “Allah Memulihkan Kehidupan Seluruh Ciptaan” merupakan tema sentral yang ditetapkan oleh GPIB pusat dan digunakan secara nasional oleh seluruh jemaat GPIB.
    Menurut dia, tema tersebut dipilih karena selaras dengan situasi dan perkembangan bangsa yang dinilai sedang tidak baik-baik saja akibat maraknya bencana alam dalam beberapa waktu terakhir.
    Oleh karena itu, tema Natal 2025 diharapkan dapat menjadi refleksi sekaligus penguatan iman, terutama bagi para korban bencana agar tidak larut dalam keputusasaan.
    “Tema yang diusung menggambarkan Tuhan atau Allah akan memulihkan kehidupan semua orang tidak memandang suku, agama, ras, jadi sangat nasionalis dan sangat humanis,” sambung Steve.
    Sebagai wujud nyata kepedulian terhadap sesama, Steve mengatakan bahwa GPIB telah menggalang donasi bagi korban bencana sejak sekitar satu bulan terakhir.
    Tidak hanya mengumpulkan bantuan, GPIB juga telah turun langsung ke sejumlah lokasi terdampak bencana untuk menyalurkan bantuan yang berhasil dihimpun dari jemaat.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kardinal Suharyo Soroti Ketidakadilan hingga Korupsi dalam Pesan Natal 2025
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        25 Desember 2025

    Kardinal Suharyo Soroti Ketidakadilan hingga Korupsi dalam Pesan Natal 2025 Megapolitan 25 Desember 2025

    Kardinal Suharyo Soroti Ketidakadilan hingga Korupsi dalam Pesan Natal 2025
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo menyoroti persoalan ketidakadilan, korupsi, dan keserakahan yang dinilai kian menggerus nilai kemanusiaan dalam Pesan Natal 2025.
    Ia menegaskan, Gereja tidak boleh diam menghadapi berbagai persoalan sosial yang merugikan masyarakat luas.
    “Dalam konteks tata kelola kehidupan bersama yang tidak baik, Gereja harus berani menyuarakan suara kenabian tentang ketidakadilan, korupsi, dan berbagai bentuk penyimpangan,” ujar Kardinal Suharyo usai Misa Pontifikal Natal di Gedung Karya Pastoral, Kompleks Katedral Jakarta, Kamis (25/12/2025).
    Uskup Keuskupan Agung Jakarta itu menjelaskan, pesan Natal tahun ini memuat dua pokok utama.
    Pertama, Pesan Natal Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) bersama Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang mengangkat tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga.”
    Kedua, Pesan Natal khusus Keuskupan Agung Jakarta berjudul “Gereja Merawat Kemanusiaan, Keadilan, dan Kelestarian Alam.”
    Menurut Kardinal Suharyo, istilah “menyelamatkan” dalam perayaan Natal tidak semata dimaknai secara spiritual, melainkan juga sebagai proses pemulihan dan penguatan kehidupan manusia dalam berbagai aspek.
    “Yang diharapkan pulih dan kuat bukan hanya kehidupan rohani, tetapi juga kehidupan berkeluarga, komunitas, masyarakat, dan bangsa,” kata dia.
    Kardinal menilai, konteks perayaan
    Natal 2025
    tidak terlepas dari berbagai tantangan serius yang dihadapi Indonesia.
    Mulai dari bencana alam yang sebagian dipicu oleh kerusakan lingkungan akibat ulah manusia, hingga persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang semakin kompleks.
    Suharyo juga menyinggung situasi pemerintahan yang telah berjalan lebih dari satu tahun, tetapi masih dihadapkan pada tantangan besar terkait kesejahteraan rakyat, demokrasi, perlindungan hak asasi manusia, penegakan hukum yang adil, serta tata kelola pemerintahan yang bersih.
    “Setiap hari kita membaca berita-berita tentang persoalan ekonomi dan sosial yang sangat pelik. Inilah konteks kita hari ini,” ujar dia.
    Dalam situasi tersebut, Suharyo menyebutkan bahwa Gereja dipanggil untuk hadir sebagai jembatan di tengah masyarakat.
    Gereja tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga mendoakan para pemimpin dan pemegang mandat rakyat agar bekerja sungguh-sungguh demi kesejahteraan bersama.
    Mengutip Paus Fransiskus, Suharyo menyebut ada tiga persoalan besar ketidakadilan yang perlu mendapat perhatian serius, yakni ketidakadilan struktural, korupsi, dan apa yang disebut sebagai “berhala” zaman modern.
    “Berhala hari ini bukan lagi batu atau pohon, melainkan uang dan keserakahan,” ujar dia.
    Ia menegaskan, jika Gereja berbicara tentang korupsi dan keadilan, Gereja juga harus memastikan dirinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang disuarakan.
    Demikian pula dalam isu lingkungan hidup, diperlukan langkah konkret untuk ikut merawat dan melestarikan alam.
    Suharyo mencontohkan, salah satu bentuk nyata kepedulian Gereja terhadap kemanusiaan terlihat dari solidaritas lintas keuskupan dalam membantu korban bencana alam.
    Tahun ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah Gereja Katolik di Indonesia, seluruh keuskupan dan paroki secara serentak mengumpulkan dana bagi korban bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan sejumlah wilayah Asia Tenggara.
    “Dalam 75 tahun hidup saya, belum pernah ada gerakan solidaritas seperti ini. Ini menunjukkan kepedulian tanpa pamrih,” katanya.
    Dalam sesi tanya jawab, Suharyo juga menyinggung makna pertobatan di akhir tahun.
    Menurut dia, pertobatan bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan gaya hidup yang diwujudkan dalam bakti kepada sesama.
    “Dalam kehidupan sosial, pertobatan berarti memahami jabatan sebagai amanah, bukan sekadar posisi. Ketika jabatan digunakan untuk kepentingan pribadi, itulah yang sering kita lihat dalam berbagai kasus korupsi,” ujarnya.
    Karena itu, Suharyo menilai bangsa Indonesia membutuhkan apa yang ia sebut sebagai “
    pertobatan nasional
    ”, yakni kembali pada cita-cita kemerdekaan sebagaimana tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Misa Pontifikal Natal di Katedral Jakarta Dihadiri Hingga 3.500 Jemaat
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        25 Desember 2025

    Misa Pontifikal Natal di Katedral Jakarta Dihadiri Hingga 3.500 Jemaat Megapolitan 25 Desember 2025

    Misa Pontifikal Natal di Katedral Jakarta Dihadiri Hingga 3.500 Jemaat
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Gereja Katedral Jakarta memperkirakan sekitar 3.000 hingga 3.500 jemaat akan mengikuti Misa Pontifikal Natal hari kedua yang digelar pada Kamis (25/12/2025).
    Misa ini menjadi puncak perayaan Natal sekaligus satu-satunya misa yang dipimpin langsung oleh
    Kardinal Ignatius Suharyo
    .
    Perkiraan jumlah jemaat tersebut disampaikan oleh Humas Gereja Katedral Jakarta, Susyana Suwadie, saat ditemui di area tenda luar Katedral, tepat sebelum pintu masuk gedung utama.
    “Untuk Misa Pontifikal hari ini, kami memperkirakan umat yang hadir sekitar 3.000 sampai 3.500 orang,” ujar Susyana.
    Pada hari kedua perayaan Natal, Gereja Katedral Jakarta menggelar empat kali misa. Misa pertama adalah Misa Pontifikal yang dilaksanakan pukul 08.30 WIB.
    Misa ini dipimpin oleh Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup Keuskupan Agung Jakarta, dengan konselebran para kuria Keuskupan Agung Jakarta.
    “Misa Pontifikal ini memang secara khusus hanya dipimpin oleh Kardinal dan dilaksanakan setiap perayaan Natal dan Paskah. Di akhir misa, umat akan menerima indulgensi atau pelepasan dosa,” kata Susyana.
    Misa kedua merupakan Misa Keluarga yang digelar pukul 11.00 WIB dan dipimpin oleh Romo Yohanes Deodatus, SJ.
    Misa ini banyak dihadiri keluarga yang membawa anak-anak, dengan homili yang disampaikan menggunakan bahasa sederhana agar mudah dipahami.
    “Biasanya anak-anak juga menerima berkat khusus dan membawa tabungan mereka untuk dimasukkan ke dalam celengan ayam di depan altar,” ujar Susyana.
    Selanjutnya, misa ketiga dilaksanakan pukul 16.00 WIB sebagai Misa Khusus Lansia. Misa ini menjadi yang pertama kali digelar di Gereja Katedral Jakarta dan dipersembahkan oleh Romo Macarius Maharsono Probho, SJ.
    Adapun misa keempat sekaligus penutup rangkaian Misa Natal digelar pukul 18.00 WIB. Misa ini dipimpin oleh Romo Albertus Hani Rudi Hartoko, SJ, selaku Pastor Kepala Gereja Katedral Jakarta.
    Terkait sistem pendaftaran, Susyana menjelaskan bahwa registrasi hanya diberlakukan untuk Misa Pontifikal. Pendaftaran dilakukan di dalam gereja serta di Graha Pemuda lantai 1 dan saat ini kuotanya telah penuh.
    “Untuk Misa Keluarga dan misa-misa berikutnya, tidak lagi diberlakukan sistem registrasi,” ujar dia.
    Sebagai perbandingan, pada Misa Malam Natal Rabu (24/12/2025), misa pukul 17.00 WIB dihadiri lebih dari 5.500 umat, sementara misa kedua pukul 20.30 WIB diikuti sekitar 5.000 umat.
    Selain rangkaian misa, Gereja Katedral Jakarta juga menampilkan
    dekorasi Natal ramah lingkungan
    .
    Tahun ini, dekorasi dibuat dari bahan daur ulang seperti karung beras yang diolah dan diberi warna, serta batok kelapa bekas yang dijadikan ornamen, dengan dominasi warna-warna natural.
    “Ini sejalan dengan komitmen Katedral sejak beberapa tahun terakhir untuk menggunakan bahan daur ulang, memanfaatkan kembali patung-patung yang sudah ada, serta mengangkat wastra nusantara sebagai wujud cinta tanah air,” kata Susyana.
    Di area Patung Kristus Raja, ditampilkan pula dekorasi berupa simbol dan ikon Tahun Suci Yubelium 2025, termasuk tokoh Luce dan kawan-kawannya yang merupakan maskot resmi yang dikeluarkan Vatikan.
    “Tahun Yubelium 2025 akan ditutup pada 3 Januari, bersamaan dengan misa pembukaan Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta 2026, yang mengajak umat untuk melakukan pertobatan ekologis dan merawat bumi sebagai rumah bersama,” ujar Susyana.
    Terkait pesan Natal, Susyana menyebutkan bahwa pesan utama akan disampaikan oleh Kardinal Ignatius Suharyo dalam Misa Pontifikal.
    Pesan tersebut sejalan dengan tema Natal bersama Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), yakni “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”.
    Tema tersebut menegaskan keluarga sebagai pusat kehidupan. Kardinal juga kerap menyampaikan keprihatinan atas bencana alam yang terjadi di sejumlah daerah serta mengajak umat untuk membantu sesama.
    Keuskupan Agung Jakarta, lanjut Susyana, telah menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak bencana melalui kolekte kedua yang dilakukan pada 13 dan 14 Desember 2025.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 5
                    
                        ICW Sindir Kejagung Pamer Uang Rp 6,6 Triliun: Pencitraan Belaka 
                        Nasional

    5 ICW Sindir Kejagung Pamer Uang Rp 6,6 Triliun: Pencitraan Belaka Nasional

    ICW Sindir Kejagung Pamer Uang Rp 6,6 Triliun: Pencitraan Belaka
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Indonesia Corruption Watch (ICW) mengkritik Kejaksaan Agung (Kejagung) yang memamerkan tumpukan uang senilai Rp6,6 triliun, hasil dari penyelamatan keuangan negara.
    Kepala Divisi Hukum dan Investigasi ICW, Wana Alamsyah, mengatakan hal tersebut tidak substansial dan hanya pencitraan semata.
    “Upaya memamerkan uang hasil rampasan merupakan langkah yang tidak substansial dan hanya bersifat pencitraan belaka,” kata Wana dalam keterangan tertulis, Kamis (25/12/2025).
    Wana mengatakan, laporan ICW pada Desember 204 mencatat nilai kerugian keuangan negara akibat tindak pidana korupsi sekitar Rp 300 triliun.
    Namun, pengembalian kerugian keuangan negara hanya 4,8 persen.
    “Artinya, kinerja penegak hukum untuk merampas aset dan mengembalikan kerugian keuangan negara tidak berhasil,” ujar dia.
    Berdasarkan hal tersebut, ICW mendesak agar pemerintah berfokus pada hal yang substansial, yakni memaksimalkan pengembalian kerugian keuangan negara.
    Sebelumnya, Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) menyerahkan uang senilai Rp 6,6 triliun, tepatnya Rp6.625.294.190.469,74, hasil penyelamatan keuangan negara kepada pemerintah pada Rabu (24/12/2025) sore.
    Pantauan Kompas.com di Gedung Bundar Kejaksaan Agung (Kejagung) pukul 13.00 WIB, tumpukan uang pecahan Rp100.000 disusun memenuhi lobi gedung.
    Uang yang dikemas dalam plastik itu disusun membentuk lorong dari lobi hingga ke dalam Gedung Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejagung.
    Tumpukan uang tersebut diturunkan dari mobil boks dan dipindahkan menggunakan troli oleh anggota TNI.
    Presiden Prabowo Subianto pun menghadiri penyerahan uang triliunan tersebut.
    Selain itu, sejumlah menteri Kabinet Merah Putih turut hadir dalam acara tersebut.
    Mereka adalah Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BPKM sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani, dan Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni.
    Kemudian, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Kepala BPKP Yusuf Ateh, dan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.
    Sebagai informasi, penyerahan ini merupakan bagian dari hasil penguasaan kembali kawasan hutan tahap V dengan total luasan 896.969,143 hektar.
    Tercatat dalam kurun waktu 10 bulan, Satgas PKH telah menguasai kembali lahan perkebunan seluas 4.081.560,58 hektar atau mencapai lebih dari 400 persen dari target yang ditetapkan, dengan nilai indikasi lahan yang telah dikuasai kembali mencapai lebih dari Rp 150 triliun.
    Satgas juga telah menyerahkan lahan kawasan hutan hasil Penguasaan Kembali kepada kementerian terkait seluas 2.482.220,343 hektar, dengan rincian sebagai berikut:
    Diserahkan pengelolaan kepada PT Agrinas Palma Nusantara, seluas 1.708.033,583 Ha, lahan perkebunan kelapa sawit;
    Diserahkan kepada kementerian terkait untuk dilakukan pemulihan kembali, seluas 688.427 Ha yang merupakan lahan kawasan hutan konservasi;
    Diserahkan kepada kementerian terkait untuk dihutankan 81.793,00 yang merupakan lahan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.