Category: Kompas.com Metropolitan

  • 5
                    
                        Dipulangkan dari Kamboja, 1 WNI Korban TPPO dalam Kondisi Hamil 6 Bulan
                        Nasional

    5 Dipulangkan dari Kamboja, 1 WNI Korban TPPO dalam Kondisi Hamil 6 Bulan Nasional

    Dipulangkan dari Kamboja, 1 WNI Korban TPPO dalam Kondisi Hamil 6 Bulan
    Editor
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri mengungkap kondisi 9 pekerja migran Indonesia (PMI) yang dipulangkan setelah menjadi korban dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Kamboja.
    Direktur Tindak Pidana Tertentu (Dir Tipidter) Bareskrim Polri Brigjen Pol Moh Irhamni mengatakan, semuanya sehat dan salah satunya dalam kondisi hamil. 
    “Alhamdulillah saat ditemukan oleh penyelidik, kesembilan korban dalam keadaan sehat dan salah satu korban bernama saudari A dalam keadaan mengandung dengan usia kandungan enam bulan,” ujar Irhamni dalam konferensi pers di Aula Bareskrim Polri, Jumat (26/12/2025).
    Irhamni mengatakan, para korban saling bertemu saat melaporkan diri ke KBRI Kamboja pada akhir 2025. Mereka memutuskan tinggal bersama karena takut kembali ke tempat kerja.
    “Para korban saling bertemu pada saat melaporkan diri di KBRI Kamboja pada akhir bulan November 2025 dan selanjutnya memutuskan untuk tinggal bersama karena mereka ketakutan dan tidak mau kembali ke tempat mereka bekerja,” tutur Irhamni.
    Selama menunggu proses pemulangan ke Indonesia, penyelidik berkoordinasi dengan otoritas Kamboja untuk memastikan perlindungan korban, termasuk penyediaan tempat tinggal, makanan, dan perawatan medis.
    “Penyelidik memberikan bantuan tempat tinggal, makanan kepada seluruh korban dan perawatan medis khususnya bagi saudari A yang sedang mengandung tersebut,” kata Irhamni.
    Pengungkapan kasus tersebut bermula dari aduan orang tua korban yang diterima Desk Ketenagakerjaan Bareskrim Polri pada 8 Desember 2025.
    “Bahwa berdasarkan aduan laporan masyarakat dalam hal ini orangtua korban yang diterima oleh Desk Ketenagakerjaan Bareskrim Polri pada tanggal 8 Desember 2025 serta informasi dari media sosial tentang adanya dugaan tindak pidana perdagangan orang terhadap warga negara Indonesia,” ujar Irhamni.
    Para korban ternyata dipaksa bekerja sebagai admin judi daring atau scammer, serta mengalami kekerasan fisik selama berada di luar negeri.
    Kasus tersebut kemudian semakin mendapat perhatian setelah para korban mengunggah video permohonan bantuan yang viral di media sosial.
    “Para korban juga sempat membuat video viral di media sosial terkait unggahan para korban yang memohon bantuan agar bisa dipulangkan ke Indonesia. Saya kira rekan-rekan media paham dan ingat adanya video yang viral di media sosial tersebut,” ujarnya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 2
                    
                        Bendera GAM dan Romantisme Luka Lama di Tengah Bencana
                        Nasional

    2 Bendera GAM dan Romantisme Luka Lama di Tengah Bencana Nasional

    Bendera GAM dan Romantisme Luka Lama di Tengah Bencana
    Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.
    Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
    DARI
    kejauhan, di antara deretan bangunan tua dan sengatan musim dingin yang mulai menggigit di desa pegunungan di Eropa, pandangan saya tetap tak bisa jauh dari Tanah Air.
    Secara fisik saya memang sedang berada di jantung Eropa, tapi radar akademik dan batin saya sebagai seorang pengamat sosiologi politik nyatanya tidak bisa berpaling dari kabar-kabar yang datang dari Tanah Air. Dan kali ini, kabar tersebut datang dari Serambi Mekkah.
    Kabar tersebut bukan sekadar tentang air yang merendam pemukiman di Aceh Tamiang atau korban-korbannya yang sebagian tidak terlalu tersentuh oleh bantuan Jakarta, tapi tentang kemunculan kembali simbol yang seharusnya sudah masuk ke dalam kotak sejarah, yakni bendera Bulan Bintang atau bendera
    GAM
    .
    Munculnya bendera ini di tengah situasi bencana banjir Aceh baru-baru ini, bukan hanya menarik perhatian saya sebagai peneliti, tetapi juga memicu kegelisahan mendalam saya sebagai warga negara Indonesia mengenai masa depan integrasi nasional.
    Hari ini, Aceh bukan sekadar sedang dirundung duka akibat terjangan banjir besar, tapi juga sedang dibalut badai kekecewaan yang sangat dalam.
    Di balik laporan-laporan birokrasi yang mencoba menenangkan suasana, realitas di lapangan menunjukkan pemandangan yang kurang mengenakkan.
    Ribuan warga masih bertahan di pengungsian dengan logistik yang kian menipis, anak-anak ada yang terserang penyakit kulit dan pernapasan, serta infrastruktur sebagian besar masih lumpuh.
    Namun hari ini, kekhawatiran tersebut menjadi berlipat karena kembalinya simbol-simbol perlawanan masa lalu di tengah keputusasaan warga korban bencana dan saudara-saudara sedaerahnya yang merasa miris melihat situasi di Aceh.
    Sangat jelas bahwa fenomena ini bukanlah sekadar gangguan ketertiban umum yang bisa diselesaikan dengan tindakan represif ala aparat, melainkan sinyal sosio-politik yang sangat serius, merepresentasikan potensi kembalinya keretakan relasi antara Jakarta dan Aceh pasca-perjanjian Helsinki.
    Penanganan bencana banjir di Aceh ternyata ikut membuka kotak pandora yang selama dua dekade terakhir terus diperjuangankan sekuat tenaga untuk tetap tertutup.
    Sejatinya, ketika air mulai menenggelamkan, bahkan memorakmorandakan pemukiman, yang dinantikan oleh rakyat Aceh adalah uluran tangan negara yang responsif dan super-sigap.
    Namun, yang mereka dapatkan justru retorika ketangguhan dan kemandirian yang kurang “pas” disampaikan di saat perut mereka sedang lapar.
    Diakui atau tidak, berbagai masalah dalam penanganan bencana juga berakar pada keengganan pemerintah pusat untuk menetapkan bencana Sumatera sebagai Bencana Nasional. Padahal, skala kerusakan sudah melampaui kemampuan fiskal dan logistik daerah.
    Walhasil, narasi bahwa “pemerintah masih mampu” yang terkesan terlalu pede justru menjadi tembok penghalang bagi bantuan kemanusiaan global yang dikabarkan sudah mengantre untuk masuk, tapi terhalang oleh gengsi politik berlebihan.
    Sehingga hal tersebut mau tak mau melahirkan ironi tersendiri berupa penolakan terhadap skema bantuan
    Government to Government.
    Lihat saja bagaimana niat baik dari negara tetangga seperti Malaysia yang ingin mengirimkan tim medis terganjal ego birokrasi yang menganggap bantuan tersebut sebagai ancaman terhadap kedaulatan Nasional.
    Padahal, bagi warga yang kehilangan tempat tinggal di pedalaman Aceh Utara, harga diri bangsa bukanlah pada penolakan bantuan, melainkan pada kemampuan negara di dalam memastikan keselamatan warganya.
    Ketika bantuan dari Uni Emirat Arab atau pasokan medis dari organisasi internasional harus masuk melalui jalur non-pemerintah, bahkan boleh jadi secara sembunyi-sembunyi, yang kita saksikan kemudian dari sisi lain adalah kesan negara yang lebih mencintai citra nasionalisme ketimbang nyawa rakyatnya sendiri.
    Situasi ini juga semakin pelik jika kita melihat realitas Otonomi Khusus (Otsus), misalnya. Jakarta boleh saja merasa telah memberikan “segalanya” melalui dana Otsus berjumlah triliunan rupiah. Namun secara sosiologis, kebijakan tersebut masih jauh dari adil dan memuaskan.
    Secara ekonomi, Aceh masih tertinggal jauh dibandingkan provinsi-provinsi lain di Sumatera, seperti Sumatera Utara atau Riau.
    Angka kemiskinan yang tetap tinggi di Aceh, meskipun Dana Otsus mengalir deras, menunjukkan adanya distorsi dalam distribusi kesejahteraan.
    Tak pelak, ketimpangan seperti ini akan terus menciptakan api dalam sekam di Aceh.
    Ketika bencana datang dan bantuan negara dirasa tidak cepat, ketimpangan itu akan menjelma menjadi kemarahan politik yang kemudian mencari saluran melalui simbol-simbol lama seperti arak-arakan bendera GAM itu.
    Secara sosiologis, pengibaran bendera GAM yang kembali muncul, bahkan dilakukan oleh warga dari kalangan menengah ke bawah, dalam hemat saya, adalah komunikasi politik “putus asa” terhadap Jakarta.
    Tentunya bendera tersebut tidak berkibar dalam ruang hampa, tapi lahir dari memori kolektif luka yang telah tersimpan lama di alam bawah sadar rakyat Aceh.
    Ketika rakyat Aceh merasa diabaikan oleh Jakarta, yang terlihat cukup jelas di saat bencana kali ini, naluri publik di Aceh tak pelak akan kembali ke pelukan identitas lama yang dianggap jauh lebih menjanjikan penghormatan atas harga diri rakyat Aceh sendiri.
    Dengan kata lain, tindakan TNI membubarkan massa yang mengarak bendera GAM boleh jadi berhasil secara fisik untuk menjaga simbol kedaulatan Indonesia.
    Namun secara psikopolitik, pembubaran tersebut justru mempertegas narasi bahwa Jakarta masih menggunakan pendekatan keamanan (
    security approach
    ), alih-alih pendekatan kemanusiaan yang lebih empatik.
    Memang, kita sebagai negara bangsa juga tidak boleh menutup mata atas potensi keterlibatan aktor-aktor asing yang mungkin memanfaatkan situasi bencana kali ini.
    Dalam perspektif sosiologi politik internasional, misalnya, wilayah atau daerah yang sedang bergejolak akibat bencana dan ketidakpuasan domestik, memang sering kali menjadi sasaran empuk kepentingan luar yang ingin mendorong disintegrasi demi melemahkan posisi tawar Indonesia di kawasan.
    Namun, menyalahkan pihak asing sepenuhnya juga kurang tepat, justru terlihat sebagai sikap yang naif. Karena pada dasarnya, pihak asing hanya bisa masuk jika ada celah kekecewaan yang dibuka terlebih dahulu oleh pemerintah kita sendiri.
    Artinya, jika Jakarta hadir secara nyata dan adil, didasari ketulusan dan rasa persaudaraan, maka sekuat apapun provokasi asing tidak akan mempan di hadapan rakyat yang merasa dicintai oleh negaranya.
    Bagaimanapun, harus diakui bahwa kekecewaan ini memiliki akar sejarah yang sangat panjang. Aceh bukan “anak baru” dalam peta perlawanan terhadap Jakarta.
    Sejarah mencatat bagaimana eksploitasi sumber daya alam, terutama gas alam dan minyak selama puluhan tahun, hanya menyisakan kemiskinan bagi rakyat lokal, sementara keuntungannya mengalir ke pusat.
    Ketidakadilan ini kemudian diperparah oleh kebijakan Daerah Operasi Militer (DOM) di masa lalu, yang menyisakan trauma mendalam atas berbagai bentuk kekerasan militer.
    Bagi orang Aceh, peristiwa hari ini, seperti pengulangan pola lama: Aceh hanya diingat saat sumber dayanya dibutuhkan, tapi dilupakan di saat air mata rakyatnya menetes menuntut keadilan.
    Munculnya narasi pengabaian penderitaan rakyat Aceh oleh Jakarta kali ini, seolah mengonfirmasi kekhawatiran lama kita bahwa integrasi kembali ke pangkuan Indonesia setelah tsunami 2004, hanyalah janji yang manis di atas kertas.
    Oleh karena itu, jika penanganan bencana tidak dipercepat, maka romantisme perlawanan dikhawatirkan akan kembali tumbuh subur.
    Dengan kata lain, bendera GAM yang berkibar bukan sekadar kain, melainkan simbol bahwa kontrak sosial antara rakyat Aceh dan Republik Indonesia sedang mengalami krisis kepercayaan yang hebat.
    Saya sangat yakin, bahkan super-yakin, rakyat Aceh tidak sedang berhasrat untuk berperang kembali. Mereka hanya ingin negara hadir tanpa banyak alasan birokratis bertele-tele. Sesederhana itu saja.
    Pernyataan ini akan semakin krusial jika melihat situasi Aceh bukan dalam kacamata tunggal. Gejala serupa sebenarnya juga terus berdenyut di Papua Barat dan Sulawesi, misalnya.
    Di Papua, isu sumber daya alam dan identitas lokal terus berseteru. Bahkan di daerah seperti Riau yang selama ini tenang, potensi kekecewaan akibat ketimpangan distribusi kekayaan alam masih sangat mungkin meledak jika pemerintah terus memelihara sikap sentralistik.
    Mengapa? Karena dalam pandangan rakyat di daerah, Indonesia adalah imajinasi kolektif yang akan tetap bersatu selama semua anggotanya merasa dilindungi di satu sisi dan merasakan kenikmatan yang relatif seimbang di sisi lain.
    Jika rasa memiliki itu hilang akibat pengabaian bencana, misalnya, maka fondasi kebangsaan sejatinya sedang dipertaruhkan.
    Dalam hemat saya, Jakarta seharusnya arif dan bijak untuk mulai belajar bahwa stabilitas nasional tidak bisa dipaksakan dengan moncong senjata.
    Stabilitas yang hakiki lahir dari keadilan distributif dan empati yang tulus. Saat bencana melanda, negara harus siap menanggalkan egonya, membuka pintu bagi bantuan internasional, dan hadir secara fisik bukan untuk menertibkan, melainkan melayani.
    Penolakan bantuan luar negeri atas nama gengsi politik di saat rakyat korban bencana harus meminum air banjir, adalah kegagalan etika yang cukup fundamental.
    Bagaimana mungkin negara besar merasa terancam hanya karena menerima obat-obatan dari pihak lain saat rakyatnya justru menangis, bahkan sedang meregang nyawa di pengungsian?
    Pesannya sangat jelas kali ini. Jangan biarkan rakyat Aceh merasa bahwa pemisahan diri adalah satu-satunya jalan keluar. Jangan biarkan memori tentang perdamaian tertutup oleh lumpur pasca-banjir yang tidak kunjung dibersihkan.
    Dan mari mulailah membangun relasi Jakarta-Aceh di atas landasan keadilan dan rasa saling menghargai.
    Jika tuntutan penetapan Bencana Nasional saja terus diabaikan hanya karena alasan administratif, maka jangan salahkan jika di masa depan, narasi perlawanan kembali menjadi pembicaraan utama di kedai-kedai kupi dari Banda Aceh hingga Meulaboh. Keadilan bukan hanya soal uang, tapi soal kehadiran dan pengakuan.
    Masa depan keutuhan bangsa bergantung pada sejauh mana pusat mampu mendengarkan detak jantung daerah yang sedang kesakitan.
    Tak ada yang bisa membantah bahwa Aceh telah memberikan segalanya untuk republik ini, mulai dari emas untuk pesawat pertama Indonesia sampai kesabaran dalam merawat perdamaian selama 20 tahun terakhir.
    Kini, saat mereka sedang tenggelam, negara tidak boleh hanya berdiri di pinggir. Jika Jakarta terus bersikap kurang responsif, maka setiap jengkal air yang merendam Aceh akan menjadi pupuk bagi kembalinya bibit-bibit separatisme lama.
    Jika gagal menangani bencana di Aceh, bagaimana pun, maka akan memberikan preseden buruk bagi daerah lain.
    Daerah-daerah kaya sumber daya akan mulai bertanya, “Untuk apa kami menyerahkan kekayaan kami kepada Jakarta jika saat bencana kami dibiarkan sendiri?”
    Bunyi pertanyaannya boleh jadi terdengar sederhana, tapi substansinya sebenarnya adalah ancaman nyata bagi NKRI.
    Karena itu, kita sebagai negara bangsa harus memahami dengan arif bahwa nasionalisme tumbuh dari rasa aman dan sejahtera. 
    Pendeknya, peristiwa pengibaran bendera GAM ini harus dibaca sebagai “peringatan dini”. Karena itu, Indonesia sebaiknya tidak terjebak pada pedebatan tentang kain dan bendera, sementara akarnya adalah perut yang lapar dan hati tersakiti.
    Mari belajar dari sejarah. Sejarah adalah guru terbaik, kendati sering kali memberikan ujian berat. Aceh adalah ujian bagi kematangan demokrasi Indonesia. Jika pemerintah lalai di Aceh, maka pemerintah sejatinya sedang mempertaruhkan seluruh masa depan Indonesia.
    Dari desa di Eropa ini, saya hanya bisa berharap agar kearifan segera kembali ke kursi-kursi kekuasaan di Jakarta sebelum luka Aceh kembali membusuk dan merusak seluruh tubuh bangsa Indonesia.
    Mulai hari ini dan selanjutnya, mari kita membayangkan Indonesia di mana setiap daerahnya merasa dihargai bukan karena apa yang bisa mereka berikan kepada Jakarta, tapi karena apa yang bisa diberikan oleh Jakarta di saat mereka jatuh dan lumpuh. Semoga!
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Talud Sungai Plumbon Jebol, 800 KK di Semarang Terendam Banjir
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        26 Desember 2025

    Talud Sungai Plumbon Jebol, 800 KK di Semarang Terendam Banjir Regional 26 Desember 2025

    Talud Sungai Plumbon Jebol, 800 KK di Semarang Terendam Banjir
    Tim Redaksi
    SEMARANG, KOMPAS.com
    – Sebanyak 800 kartu keluarga (KK) di Kecamatan Ngaliyan dan Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Jawa Tengah terendam banjir pada Jumat (26/12/2025).
    Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto, mengatakan bahwa ada tiga lokasi yang terdampak.
    “Perumahan Mangkang Indah 500 KK, Mangkang Kulon 15 KK dan Mangunharjo 300 KK,” kata Endro kepada kompas.com.
    Hujan deras dengan intensitas sedang hingga tinggi membuat sistem Draine tak mampu menampung debit air hujan sehingga meluap ke area pemukiman.
    “Wonosari ketinggian air mencapai 1 meter dan Mangkang Kulon 50 sentimeter,” ungkap dia.
    Hujan deras juga menyebabkan tiga titik Talud
    Sungai Plumbon
    yang berada di Mangunharjo RT 01,05 dan 06. Untuk panjang tanggul yang jebol di Mangkang Kulon mencapai 7 meter.
    “Banyak lumpur terbawa limpasan air yang mengakibatkan area jalan dan rumah perlu dilakukan pembersihan,” lanjut dia.
    Saat ini petugas gabungan dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan
    BPBD Kota Semarang
    sedang melakukan penanganan.
    “Ditambal sementara dengan sandbag (karung pasir),” ungkap Endro.
    Sebanyak 22 Early Warning System (EWS) atau alat peringatan dini bencana di Kota Semarang, yelah disiagakan untuk antisipasi banjir. Alat tersebut ditaruh di lokasi rawan bencana.
    “Untuk 2026 ini akan ada pengadaan EWS lagi,’ ungkapnya.
    Dia menyebut EWS dipasang di kawasan sungai yang rawan meluap serta daerah rawan longsor. Salah satu unit yang hilang berada di aliran Sungai Pudak Payung.
    “Ketika ketinggian air naik, sensor langsung membaca debit air dan berbunyi keras. Warga bisa segera mengevakuasi diri,” ujarnya.
    Selain itu, BPBD Kota Semarang juga telah melakukan perencanaan jangka pendek dan menengah untuk mengatasi banjir, terutama di wilayah Kaligawe yang menjadi salah satu titik rawan genangan.
    “Beberapa hari ke depan kami fokus memperkuat sodetan Unissula untuk memperlancar aliran air dan menanggulangi banjir di kawasan Kaligawe,” ujar Endro.
    Menurutnya, strategi mitigasi jangka pendek yang dijalankan dalam kurun 1 hingga 3 bulan ke depan mencakup lima fokus utama.
    “Mulai percepatan dan penguatan sodetan Unissula Kaligawe, optimalisasi drainase dan pompa melalui normalisasi harian, penambahan pompa besar, serta penyediaan pompa cadangan,” lanjutnya.
    Sebanyak 800 kartu keluarga (KK) di Kecamatan Ngaliyan dan Kecamatan Tugu terendam banjir pada Jumat (26/12/2025).
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • New Wisata Wendit Malang, Liburan Edukatif dengan Habitat Monyet dan Mata Air Alami
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        26 Desember 2025

    New Wisata Wendit Malang, Liburan Edukatif dengan Habitat Monyet dan Mata Air Alami Regional 26 Desember 2025

    New Wisata Wendit Malang, Liburan Edukatif dengan Habitat Monyet dan Mata Air Alami
    Tim Redaksi
    MALANG, KOMPAS.com
    – New Wisata Wendit bisa menjadi salah satu pilihan jika berkunjung ke Malang, Jawa Timur.
    Wisata yang berada di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis ini menawarkan konsep rekreasi berpadu dengan pembelajaran lingkungan.
    Di sini, ada
    habitat monyet
    ekor panjang hingga
    mata air alami
    yang berusia ratusan tahun.
    Salah satu daya tarik
    New Wisata Wendit
    terletak pada Monkey Kingdom, kawasan habitat alami ribuan monyet ekor panjang yang hidup bebas.
    Pengunjung dapat menyaksikan aktivitas satwa secara langsung dalam lingkungan yang dirancang mendekati kondisi alaminya.
    Interaksi yang ditampilkan bukan sekadar tontonan, tetapi juga sarana edukasi mengenai perilaku satwa dan pentingnya konservasi.
    “Di sini kami tidak hanya menampilkan satwa, tapi menjaga ekosistem dan kesejahteraan habitatnya,” ujar Elvi Dwi Yunitasari, dokter hewan New Wisata Wendit kepada wartawan, Kamis (25/12/2025) siang.
    Selain monyet, kawasan Family Zoo juga menyuguhkan beragam satwa.
    Pengunjung dapat menjumpai domba merino, kambing kerdil Nigeria, musang, otter, tarantula, hingga berbagai jenis burung seperti burung paruh bengkok dan burung macaw.
    Perawatan meliputi pemberian vitamin secara rutin, pemeriksaan medis berkala, hingga karantina adaptasi bagi satwa yang baru didatangkan.
    Sebab kesejahteraan satwa menjadi prioritas utama pengelola.
    “Pertama, tindakan preventif: semua satwa diberikan vitamin dan obat cacing secara rutin untuk mencegah penyakit. Kedua, tindakan kuratif: jika satwa mengalami sakit, mereka akan langsung diperiksa dan diobati oleh dokter hewan tanpa menunda,” tutur dokter yang biasa disapa Elvi itu.
    Selain itu, setiap jenis satwa mendapatkan menu pakan yang disesuaikan dengan kebutuhan gizinya.
    Proses karantina juga diterapkan agar satwa baru dapat beradaptasi dengan lingkungan dan iklim
    Malang
    .
    “Kita memperlakukan setiap satwa sebagai makhluk yang berharga, jadi perawatan mereka harus sesempurna mungkin,” imbuhnya.
    New Wisata Wendit juga dikenal dengan sumber air alaminya yang telah ada sejak ratusan tahun lalu.
    Mata air ini menjadi sumber utama berbagai kolam di sini, seperti Taman Dewa, kolam arus, kiddy pool, dan fantasy pool.
    Kejernihan dan kesegaran air masih terjaga.
    Selain dimanfaatkan sebagai sarana rekreasi, kawasan ini juga digunakan sebagai media edukasi tentang pentingnya menjaga sumber daya air dan lingkungan.
    Pengunjung dikenalkan pada sejarah mata air, cara pelestariannya, serta risiko kerusakan lingkungan akibat penebangan liar dan pencemaran.
    Untuk melengkapi pengalaman berwisata, pengelola menyediakan berbagai wahana permainan.
    Mulai dari wahana air ramah anak hingga permainan modern seperti Starzip, UFO Party, dan sepeda udara tersedia bagi pengunjung yang mencari tantangan.
    Selain itu area foto tematik juga disiapkan untuk mengabadikan momen liburan bersama keluarga.
    Mulai 20 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 mendatang New Wisata Wendit menghadirkan promo tiket masuk seharga Rp20.000 per orang.
    Sedangkan tiket all wahana seharga Rp100.000 ditujukan bagi pengunjung yang ingin menikmati seluruh permainan tanpa batas.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Warga Jakarta Tenggelam Saat Menunggu Sesi Foto di Umbul Ponggok Klaten
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        26 Desember 2025

    Warga Jakarta Tenggelam Saat Menunggu Sesi Foto di Umbul Ponggok Klaten Regional 26 Desember 2025

    Warga Jakarta Tenggelam Saat Menunggu Sesi Foto di Umbul Ponggok Klaten
    Editor
    KLATEN, KOMPAS.com
    – Seorang wisatawan asal Jakarta Selatan meninggal dunia setelah tenggelam di Umbul Ponggok, Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Kamis (25/12/2025).
    Korban berinisial SH (17) tenggelam saat sedang menunggu giliran sesi foto bawah air.
    Kasi Humas
    Polres Klaten
    , AKP Suwoto, membenarkan insiden tersebut.
    Dia menjelaskan kronologi awal bermula ketika korban bersama orangtua dan adiknya berkunjung ke obyek wisata
    Umbul Ponggok
    , Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, sekitar pukul 10.00 WIB.
    “Awalnya korban dan keluarganya berenang di area Umbul Ponggok. Kemudian sekitar pukul 13.00 WIB, orangtua korban mendaftar untuk foto bawah air dengan properti sepeda motor,” ungkap Suwoto, Jumat (26/12/2025).
    Saat itu dikatakan ada 3 orang yang mau melakukan pemotretan di bawah air.
    Orangtua korban mendapatkan giliran pertama dan korban giliran kedua, sedangkan adiknya yang paling terakhir.
    “Saat sesi pemotretan dengan orangtua korban, tiba-tiba ada pengunjung yang berteriak bahwa terdapat orang tenggelam di dasar umbul. Setelah itu tim rescue Umbul Ponggok bergegas menolong korban dari dasar umbul,” paparnya.
    Ketika diangkat ke permukaan, korban dalam kondisi lemas namun masih ada denyut nadi dan jantung.
    Lantas korban pun dibawa ke RS Islam Klaten untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.
    “Sampai di RS Islam Klaten korban sempat mendapatkan pertolongan medis. Namun sekitar pukul 13.50 WIB, korban dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis karena gagal napas. Tim medis juga tidak menemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban,” katanya.
    Suwoto menuturkan berdasarkan keterangan saksi, sebelum kejadian, korban diketahui sudah berenang cukup lama sejak pagi hari dengan bolak-balik dari ujung utara ke selatan Umbul Ponggok.
    Terkait kejadian itu, pihak keluarga dijelaskan sudah ikhlas menerima kematian korban sebagai takdir Allah SWT.
    Sehingga pihak keluarga korban tidak bersedia dilakukan otopsi maupun tak akan menuntut pihak manapun.
    Adapun terkait peristiwa tersebut, Polres Klaten mengeluarkan himbauan keselamatan wisata air.
    Kepala para pengelola wisata air, Polres Klaten mengimbau untuk wajib menyediakan petugas lifeguard, pengeras suara untuk intruksi, pelampung darurat, dan
    life jacket
    sesuai jumlah penumpang.
    Sedangkan kepada pengunjung, Polres meminta untuk selalu memperhatikan kedalaman kolam, mengikuti intruksi keselamatan dari pengelola, dan melakukan pengawasan serta pendampingan terhadap aktivitas rombongannya, terutama anak-anak.
    Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul
    Seorang Wisatawan Asal Jakarta Meninggal Dunia Usai Tenggelam di Umbul Ponggok Klaten
    .
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Polres Karawang Catat 1.330 Kasus Kejahatan Sepanjang 2025, Narkoba Melonjak 60 Persen
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        26 Desember 2025

    Polres Karawang Catat 1.330 Kasus Kejahatan Sepanjang 2025, Narkoba Melonjak 60 Persen Regional 26 Desember 2025

    Polres Karawang Catat 1.330 Kasus Kejahatan Sepanjang 2025, Narkoba Melonjak 60 Persen
    Tim Redaksi

    KARAWANG, KOMPAS.com
    – Polres Karawang mengungkap ada ribuan kasus kejahatan yang terjadi pada 2025. Kasus Narkoba mengalami kenaikan signifikan.
    Kapolres Karawang AKBP Fiki Novian Ardiansyah mengatakan, jumlah
    tindak pidana
    sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 1.330 kasus.
    Jumlah ini menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 1.640 kasus atau turun 310 kasus.
    Jumlah penyelesaian tindak pidana (JPTP) juga mengalami penurunan. Pada 2024, penyelesaian perkara mencapai 1.333 kasus, sedangkan pada 2025 tercatat 740 kasus.
    Meski demikian, kata Fiki, secara umum kamtibmas dalam keadaan terkendali dan kondusif, meski masih terdapat sejumlah gangguan yang menonjol.
    “Secara umum situasi kamtibmas di wilayah hukum
    Polres Karawang
    masih terkendali. Setiap potensi gangguan dapat kami antisipasi dan tangani dengan baik,” Fiki saat menyampaikan
    rilis akhir tahun
    di Mapolres Karawang, Jumat (26/12/2025).
    Sepanjang tahun 2025, Satresnarkoba menangani 251 perkara narkoba.
    Jumlah tersebut naik jika dibandingkan pada tahun 2024 yang tercatat ada 156 perkara. Jika di persentase, peningkatan mencapai 60,9 persen.
    Dari jumlah tersebut, polisi mengamankan 309 orang tersangka, terdiri dari 203 pengedar dan 106 pengguna yang telah menjalani rehabilitasi.
    “Peningkatan ini menunjukkan komitmen kami dalam memberantas peredaran narkoba di Karawang. Kami tidak hanya menindak pengedar, tetapi juga melakukan rehabilitasi terhadap pengguna,” kata Fiki.
    Kemudian untuk barang bukti yang berhasil disita antara lain 3,6 kilogram sabu, 4,8 kilogram ganja, 15 butir ekstasi, 850,55 gram tembakau sintetis, serta 44.464 butir obat keras tertentu (OKT).
    Polres Karawang juga membeberkan angka kasus kecelakaan sepanjang tahun 2025.
    Fiki menjelaskan, jumlah kecelakaan pada 2025 tercatat sebanyak 648 kasus, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 580 kasus atau naik sekitar 12 persen.
    Sementara, jumlah korban meninggal dunia mengalami penurunan dari 228 orang pada 2024 menjadi 147 orang pada 2025 atau turun sekitar 36 persen.
    “Penurunan korban meninggal dunia ini menjadi evaluasi positif, meski kami tetap prihatin karena angka kecelakaan dan korban luka masih meningkat,” ujarnya.
    Korban luka berat tercatat naik dari 47 orang menjadi 105 orang, sementara korban luka ringan meningkat dari 655 orang menjadi 762 orang.
    Untuk pelanggaran lalu lintas, penindakan juga mengalami penurunan dari 4.579 perkara pada 2024 menjadi 3.516 perkara pada 2025.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Tahun 2025 DBD di Kota Pasuruan Capai 492 Kasus, Ini Penyebabnya
                
                    
                        
                            Surabaya
                        
                        26 Desember 2025

    Tahun 2025 DBD di Kota Pasuruan Capai 492 Kasus, Ini Penyebabnya Surabaya 26 Desember 2025

    Tahun 2025 DBD di Kota Pasuruan Capai 492 Kasus, Ini Penyebabnya
    Tim Redaksi
    PASURUAN, KOMPAS.com
    – Jumlah kasus Demam Berdarah (DBD) di Kota Pasuruan Jawa Timur mencapai 492 kasus DBD.
    Jumlah tersebut naik tajam jika dibanding Tahun 2024 yang jumlahnya sebanyak 210 kasus.
    Naiknya jumlah penderita DBD salah satu dipengaruhi perubahan cuaca yang menyebabkan ketahanan tubuh tidak stabil dan siklus pertumbuhan nyamuk semakin cepat.
    “Memang temuan kami tahun ini lebih tinggi dibanding tahun lalu. Namun tidak ada yang sampai meninggal, semua mendapat penanganan dengan baik,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, Shierly Marlena, Jumat (26/12/2025).
    Dia menjelaskan ada sejumlah faktor yang menyebabkan peningkatan
    kasus DBD
    yang paling dominan karena perubahan cuaca yang tidak menentu.
    Intensitas hujan tinggi yang kerap menimbulkan genangan air kemudian menjadi sarang nyamuk.
    Kemudian disusul dengan cuaca hangat dan lembap yang mempercepat reproduksi nyamuk.
    “Perubahan iklim global yang mempercepat siklus hidup nyamuk. Kemudian ditambah mobilitas manusia menyebarkan virus. Hampir se-Indonesia peningkatan kasus yang sama,” ujarnya.
    Selain cuaca, tidak pedulinya seseorang pada lingkungan sekitar.
    Misalnya membiarkan sanitasi yang buruk di lingkungan tang padat penduduk, membiarkan genangan air di tempat atau barang. Serta perilaku 3M juga masih minim.
    “Menguras, Menutup penampungan air atau mengubur atau memanfaatkan barang bekas yang berpotensi jadi tempat berkembang biak jentik nyamuk,” jelasnya.
    Untuk itu, pihaknya mengimbau pemberantasan sarang nyamuk harus terus dilakukan secara bersama-sama.
    Misalnya memperhatikan lingkungan rumah dan membiasakan hidup bersih di dalam rumah sehingga dapat menekan penyebaran nyamuk aedes aegypti.
    “Selain itu juga bisa menaburkan larvasida ke penampungan air atau menggunak lotion anti nyamuk atau memakai pakaian lengan panjang dan celana panjang. Tak lupa pula merawat tanaman yang bisa menjadi tempat perindukan jentik nyamuk,” pungkasnya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Jalan Tol Pekanbaru-Dumai Bergelombang, Hutama Karya: Imbas Kendaraan Overload
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        26 Desember 2025

    Jalan Tol Pekanbaru-Dumai Bergelombang, Hutama Karya: Imbas Kendaraan Overload Regional 26 Desember 2025

    Jalan Tol Pekanbaru-Dumai Bergelombang, Hutama Karya: Imbas Kendaraan Overload
    Tim Redaksi
    PEKANBARU, KOMPAS.com
    – Para pengendara mengeluhkan bergelombangnya Jalan Tol Pekanbaru-Dumai. Mereka khawatir karena hal tersebut berpotensi mengancam keselamatan.
    Kepala Regional Sumatra Bagian Tengah PT
    Hutama Karya
    (Persero), Bromo Waluko Utomo menyatakan, pihaknya senantiasa melakukan pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) di Jalan Tol
    Pekanbaru
    –Dumai.
    Hal ini mencakup kegiatan pemeliharaan rutin dan berkala, termasuk perbaikan setempat pada titik-titik yang teridentifikasi, serta penyiapan rambu-rambu dan perangkat keselamatan jalan.
    “Salah satu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kondisi
    jalan bergelombang
    , adalah kendaraan dengan muatan berlebih (overload) yang dapat mempercepat penurunan kinerja perkerasan,” kata Bromo kepada Kompas.com melalui pesan WhatsApp, Jumat (26/12/2025).
    Untuk itu, pihaknya mengimbau pengguna jalan, khususnya kendaraan angkutan, untuk memastikan kendaraan tidak mengalami
    over dimension
    dan
    overload
    (ODOL), mematuhi batas kecepatan, menjaga jarak aman, serta mengikuti rambu dan arahan petugas.
    “Apabila menemukan kondisi yang perlu penanganan segera, pengguna dapat melaporkan melalui
    call center
    Tol Pekanbaru–Dumai di 082177088880 atau melalui akun resmi jalan tol kelolaan Hutama Karya di @HutamaKaryaTollroad,” tutup Bromo.
    Sebelumnya, ruas Jalan
    Tol Pekanbaru-Dumai
    di
    Riau
    dilaporkan memiliki banyak gelombang yang mengancam keselamatan pengguna.
    Jalan tol sepanjang 131,48 kilometer ini merupakan bagian dari Jalan Tol Trans-Sumatra dan menjadi jalur strategis di Provinsi Riau.
    Saat melintasi jalan tol tersebut, kelengkapan sarana dan prasarana tampak memadai, mulai dari rambu lalu lintas hingga
    rest area
    .
    Jalan tol yang telah beroperasi penuh sejak 25 September 2020 ini berperan penting dalam mendukung konektivitas wilayah Sumatera.
    Namun, saat melintas, teridentifikasi banyak kondisi jalan yang bergelombang, miring, serta ketidaknyamanan di beberapa titik sambungan jembatan, bahkan saat cuaca cerah.
    Meski terlihat ada pekerja yang melakukan perbaikan, kenyamanan berkendara secara keseluruhan masih dirasakan kurang optimal.
    Kondisi jalan yang tidak rata pada kecepatan tinggi berpotensi membahayakan, terutama bagi pengendara yang kurang fokus atau belum mengenal karakteristik ruas jalan.
    Permukaan jalan yang tidak stabil diketahui dapat meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, sehingga diperlukan perhatian serius dari pengelola untuk perbaikan menyeluruh dan berkelanjutan.
    Jalan tol Pekanbaru-Dumai diharapkan tidak hanya mengedepankan kecepatan dan konektivitas, tetapi juga standar keselamatan dan kualitas infrastruktur yang optimal.
    Salah seorang pengguna tol, Wino (48), mengaku merasakan banyak gelombang di jalan tol tersebut.
    “Lumayan banyak gelombang. Kalau tidak hati-hati berkendara, ya bisa celaka,” kata Wino saat diwawancarai Kompas.com di Pekanbaru, Kamis (25/12/2025).
    Wino menuturkan, pihak pengelola jalan tol semestinya lebih serius memperhatikan kondisi jalan yang bergelombang agar segera diperbaiki mengingat banyaknya kendaraan yang melintas, terutama saat volume kendaraan meningkat selama libur Natal dan Tahun Baru.
    “Harapan kita ya diperbaiki atau diratakan jalan yang bergelombang itu. Soalnya kan jalan ini berbayar. Tarifnya lumayan mahal. Jangan ambil untung saja, kualitas jalan harus diperhatikan,” kata Wino.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Hujan Lebat Picu Tebing Longsor di Sempor Kebumen, Dua Rumah Terdampak
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        26 Desember 2025

    Hujan Lebat Picu Tebing Longsor di Sempor Kebumen, Dua Rumah Terdampak Regional 26 Desember 2025

    Hujan Lebat Picu Tebing Longsor di Sempor Kebumen, Dua Rumah Terdampak
    Tim Redaksi

    KEBUMEN, KOMPAS.com
    — Hujan lebat yang mengguyur wilayah Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, Kamis malam (25/12/2025), menyebabkan tebing longsor di Desa Donorojo.
    Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 20.30 WIB itu berdampak pada dua
    rumah warga
    di Dukuh Ketileng, RT 003/RW 001.
    Petugas dari Polsek
    Sempor
    langsung mendatangi lokasi begitu menerima laporan dari perangkat Desa Donorojo.
    Kapolres
    Kebumen
    AKBP Eka Baasith Syamsuri melalui Wakapolres Kompol Faris Budiman menjelaskan, longsor terjadi akibat tingginya intensitas hujan yang disertai angin kencang sejak sore hingga malam hari.
    Pihaknya memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
    “Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Longsor dipicu oleh curah hujan yang tinggi sehingga tanah menjadi labil,” ujar Kompol Faris Budiman, Jumat (26/12/2025).
    Ia menyebutkan, tebing di belakang rumah warga itu memiliki panjang sekitar 15 meter dan tinggi kurang lebih 10 meter.
    Akibat hujan deras, tebing tersebut tidak mampu menahan resapan air hujan hingga akhirnya longsor.
    Material longsor berasal dari tebing di belakang rumah Suwandi (70) itu kemudian menimpa bagian rumah Santari Sardin (82) yang berada di bawahnya.
    Akibatnya jendela rumah pecah karena tertimpa material longsor.
    “Akibat kejadian itu, kaca jendela rumah milik Santari pecah karena tertimpa material longsor,” tambahnya.
    Kapolsek Sempor AKP Wiyono bersama anggota, perangkat Desa Donorojo, relawan Desa Tangguh Bencana (Destana), serta warga setempat telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan koordinasi lanjutan.
    Petugas juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, mengingat wilayah Kecamatan Sempor termasuk daerah rawan longsor.
    Sebagai langkah mitigasi awal, terpal telah dipasang di atas titik longsoran untuk mencegah terjadinya longsor susulan.
    Aparat kepolisian bersama pemerintah desa dan warga setempat juga berencana menggelar kerja bakti pada Sabtu (27/12/2025) guna membersihkan material longsor serta memperkuat area yang terdampak.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Rumah di Toraja Utara Dibobol Saat Ibadah Natal, Korban Rugi Rp 70 Juta
                
                    
                        
                            Makassar
                        
                        26 Desember 2025

    Rumah di Toraja Utara Dibobol Saat Ibadah Natal, Korban Rugi Rp 70 Juta Makassar 26 Desember 2025

    Rumah di Toraja Utara Dibobol Saat Ibadah Natal, Korban Rugi Rp 70 Juta
    Tim Redaksi
    TORAJA UTARA, KOMPAS.com
    – Aksi pencurian terjadi di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, saat perayaan Natal 2025. Rumah milik Yohanis Andri (42), warga Kecamatan Tondon, dibobol maling ketika pemilik rumah sedang mengikuti ibadah Natal di gereja.
    Akibat kejadian tersebut, korban mengalami kerugian materi yang ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. Aksi pelaku diketahui terekam kamera pengawas atau
    closed circuit television
    (
    CCTV
    ) yang terpasang di sekitar rumah korban.
    “Benar, telah terjadi pencurian pada tanggal 25 Desember di Kecamatan Tondon, saat pemilik rumah melaksanakan ibadah Natal,” kata Kasat Reskrim Polres
    Toraja Utara
    , Iptu Ruxon Pasabuan, Jumat (26/12/2025).
    Berdasarkan rekaman CCTV, pelaku terlihat datang seorang diri dengan mengenakan helm, baju batik, celana panjang hitam, serta sepatu. Pelaku masuk ke dalam rumah dengan cara merusak pintu menggunakan alat yang diduga berupa linggis.
    “Proses pembobolan berlangsung relatif cepat sebelum pelaku menggasak barang-barang berharga di dalam rumah,” ucap Ruxon.
    Korban baru mengetahui rumahnya dibobol pencuri menjelang sore hari. Saat itu, anak korban pulang lebih dulu untuk memberi makan ternak dan mendapati kondisi rumah sudah acak-acakan. Dua kamar di dalam rumah terlihat bekas congkelan benda tajam pada bagian pintunya.
    Setelah melakukan pemeriksaan, korban mendapati sejumlah aset berharganya telah raib. Barang-barang yang hilang meliputi uang tunai sebesar Rp 11 juta, perhiasan emas senilai Rp 30 juta, satu unit kamera Sony SCLR seharga Rp 30 juta, serta satu unit proyektor senilai Rp 5 juta.
    “Total kerugian yang dialami korban ditaksir mencapai lebih dari Rp 70 juta. Selain kerugian materi, peristiwa ini juga meninggalkan trauma bagi keluarga karena terjadi saat momen sakral perayaan Natal,” tutur Ruxon.
    Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengamankan rekaman CCTV sebagai barang bukti utama. Saat ini, identitas pelaku masih dalam proses penyelidikan mendalam oleh Satreskrim
    Polres Toraja Utara
    .
    Kasus
    pencurian rumah kosong
    saat ibadah Natal bukan kali pertama terjadi di Toraja Utara. Rentetan kejadian serupa tercatat pernah terjadi pada tahun 2022 di Tallunglipu dan Rantepao, serta terulang kembali pada tahun 2024 di Jalan Poros Tallunglipu.
    Polisi kembali mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan memastikan keamanan rumah, seperti mengunci ganda pintu atau menitipkan rumah ke tetangga, sebelum meninggalkannya untuk beribadah dalam waktu lama.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.